Dalam berinteraksi dengan sesama manusia, kita pasti pernah mengalami konflik. Saat itu terjadi, biasanya kita akan berusaha untuk memenangkannya. Kita tidak mau kalah, apalagi jika merasa berada pada posisi yang benar. Konflik ini biasanya berujung pada tindakan yang saling memusuhi, menyakiti, dan melukai. Bahkan tindakan yang paling ekstrim bisa terjadi jika sudah terjadi konflik. Hal ini bisa kita katakan sebagai "manusiawi". Pasalnya, kita memang sudah terbiasa berpikir bahwa musuh harus dikalahkan dengan cara apa pun. Namun, Yesus menawarkan cara lain dalam menghadapi konflik. Sebuah alternatif agar kita menang tanpa ada yang merasa kalah. Caranya dengan mengasihi musuh. Hukum Taurat mengatakan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki (Kel. 21:23-24). Kepada pendengar-Nya, Yesus berkata, "Kasihilah musuhmu!" Dia memerintahkan agar kita berbuat baik dan berdoa bagi mereka. Mengasihi berarti membalas kejahatan dengan kebaikan. Cara ini akan memutus lingkaran setan akan keinginan balas dendam. Yesus juga menegaskan bahwa berbuat baik tidak boleh hanya dilakukan kepada orang baik. Akan tetapi, kita juga harus melakukannya kepada orang yang berbuat jahat kepada kita. Jika telah melakukannya, Allah akan membalasnya dengan kebaikan kepada kita. Dengan begitu, orang-orang akan melihat bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dengan kata lain, Yesus mengatakan kita harus melakukannya karena Allah, sebagai Bapa kita, juga melakukannya