Dalam sukacita Hana memuji dan mengagungkan Allah yang telah mengubah keadaan hidupnya. Mulai dari ejekan penghina yang merendahkannya dibungkam oleh Allah (ay. 3-5). Penderitaan dan rasa malu berganti dengan kehidupan yang penuh semangat karena kebaikan Allah. Perkara yang mustahil menjadi fakta nyata, maka Hana menyatakan bahwa Allahlah yang berdaulat atas segala sesuatu: hidup dan matinya manusia, berkuasa atas pemimpin, mengubahkan perempuan mandul, perbedaan status, berkuasa atas hidup orang jahat, dan semua raja (ay.7-10). Bagaimana dengan kita?. Kita dapat belajar dari pengalaman Hana, (mungkin) kita mengalami masalah dalam hal keuangan, usaha yang bangkrut, sakit penyakit yang sulit disembuhkan, persoalan keluarga, kemandulan, anak yang bermasalah, jodoh, dan lain-lain. Namun sama seperti Hana yang ditolong Tuhan, orang percaya juga bisa mengalami pertolongan Tuhan. Kita dapat belajar bahwa apa pun yang menjadi masalah kita dan seberat apa pun pergumulan kita, mari kita berharap dan bergantung kepada Allah. Hiduplah dalam displin rohani, berdoa sungguh-sungguh dengan tetap memuliakan Allah yang berdaulat atas seluruh hidup manusia. Karena Tuhan sanggup dan dapat mengubah ratapan menjadi tarian, duka menjadi suka yang selaras dengan kehendak-Nya.