Kita sering merasa puas dengan diri sendiri, dan merasa sanggup dan mampu untuk berbuat sesuka hatinya. Tetapi ada satu hal yang dilupakan banyak orang, yaitu kefanaan diri sendiri. Ucapan :”Jika Tuhan menghendakinya, ucapan ini bukanlah hanya di kalangan orang Kristen saja pada waktu itu, melainkan juga terdapat pada filsuf-filsuf Yunani kuno seperti Plato. Apa yang akan terjadi besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan, tak seorangpun ada yang tahu. Itu makanya jangan memuji diri sendiri, karena hari esok yang terjadi kita tidak tahu. Kehidupan ini tidak selurus dan semulus yang kita bayangkan, terkadang ada kejutan-kejutan yang tidak kita harapkan terjadi, sementara di dalam kehidupan ini kita hanya bisa menduga-duga atau mengira-mengira. Orang yang melupakan Tuhan di dalam setiap rencananya adalah sama artinya meremehkan Tuhan, mengabaikan kehadiranNya, menganggap seolah-olah Tuhan tidak ada dan tidak punya kuasa. Yang menjadi akar persoalan adalah kesombongan. Itu makanya kita diingatkan melalui nats renungan hari ini dengan mengatakan : Sebenarnya kamu harus berkata : “ Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Semuanya akan baik- baik dengan turut campur tangan Tuhan dalam setiap rencana, karena kita yang merencanakan, tapi semua akan terjadi kalau Tuhan menghendakiNya