Jurnal Maria

Jurnal Maria

By Maria Sukamto, RtiSociety & CultureGovernment
Download on the App Store

Jurnal Maria episodes

  • Jurnal Maria 週記Baca Buku讀書會7 Menit Menulis untuk Jiwa yang Lebih Kaya

    讀書會Baca Buku

    7分鐘豐盛心靈寫作

    7 Menit Menulis untuk Jiwa yang Lebih Kaya

     

    Hai, selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.

    Pekan lalu Jurnal ini telah membahas tentang gaya hidup manusia modern sekarang termasuk kita semuanya, yaitu butuh sesuatu yang bukan kepercayaan agama, melainkan mencari penyaluran dengan salah satu cara yaitu therapeutic writing alias menulis untuk terapi, cara baru untuk merawat diri — bukan untuk menghasilkan tulisan yang indah, tapi untuk merapikan pikiran, melepas tekanan, dan mengobrol jujur dengan diri sendiri lewat tulisan.

    Tujuannya untuk menyalurkan emosi yang terpendam.

     

    Mengapa manusia zaman sekarang begitu rentan, sampai perlu Therapeutic Writing (menulis sebagai terapi) tidak ada jalan lain?

     

    Pasti saja ada jalan lain, tetapi menulis adalah cara yang paling tidak butuh modal, dan bisa sangat membantu — tentu saja dengan beberapa catatan.

    Buku-buku seperti 7 Menit Menulis untuk Jiwa yang Lebih Kaya ini biasanya bukan hanya memberi kita "ilmu" dalam arti informasi baru, tapi lebih ke alat atau proses untuk berhubungan lebih dalam dengan diri sendiri.

    Buat banyak orang, membaca sambil melakukan latihan menulis reflektif seperti ini bisa:

    • Membantu mengenali emosi yang mungkin selama ini diabaikan.
    • Membuka kesadaran diri, menyadari pola pikir dan keyakinan bawah sadar yang selama ini membatasi.
    • Memberikan ruang tenang di tengah hidup yang serba cepat, sehingga bisa lebih mendengar suara hati sendiri.
    • Mendorong perubahan kecil yang nyata, karena saat kita memahami apa yang sebenarnya kita rasakan dan pikirkan, kita lebih mudah mengambil langkah baru.
    • Tapi ada juga batasannya:

      Kalau hanya dibaca tanpa benar-benar praktik (tanpa duduk menulis, tanpa refleksi jujur), maka efeknya mungkin tidak terlalu terasa. Buku seperti ini lebih ke "teman perjalanan", bukan solusi instan.
      Membaca memberi inspirasi, tapi melakukan latihan-latihan di dalamnya lah yang benar-benar membuka perubahan.

      Nah teman teman, yuk kita simak buku yang merujuk ke topik tadi yaitu berjudul7 Menit Menulis untuk Jiwa yang Lebih Kaya 7分鐘豐盛心靈寫作

      Nama penulis: Liu Cangshuo 劉滄碩

      Buku ini mengajak pembaca untuk Belajar dalam 33 Hari: Mengenal Diri, Membebaskan Batas Bawah Sadar, dan Melangkah ke Jalan Kelimpahan dan Kehidupan yang Lebih Penuh

      Lewat lima aspek penting — mengenal diri, kesehatan tubuh, hubungan intim, energi keuangan, dan kehidupan batin —kita diajak untuk menulis dan berdialog dengan diri sendiri.

      Melalui proses ini, kita akan menggali akar dari berbagai masalah hidup, mengubah cara berpikir dan pola keyakinan di alam bawah sadar, lalu perlahan-lahan menulis ulang cerita hidup kita, dan melangkah menuju kehidupan yang lebih berkelimpahan.

      0 min
    • Jurnal Maria 週記Baca Buku讀書會 Menemukan Diri Sendiri Lewat Kata-Kata

      Baca Buku Menemukan Diri Sendiri Lewat Kata-Kata

      書寫的療癒力量:在文字中看見自己

      Jurnal Maria Sukamto瑪麗亞週記 

      Di masa-masa sekarang, banyak hal yang tak terduga bisa saja terjadi, baik itu disengaja oleh manusia atau berupa bencana alam. Untuk itu banyak sekali pakar memberikan advis bagaimana mengantisipasi keadaan-keadaan sulit. Dan ada salah satu cara untuk menyembuhkannya adalah menulis. Dan bahkan lewat menulis manusia bisa menemukan diri sendiri.

      Tema hari ini adalah : Kekuatan Menyembuhkan dari Menulis: Menemukan Diri Sendiri Lewat Kata-Kata

      Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh dengan banjir informasi, kita terbiasa mengolah emosi dengan cara instan — sekadar lewat, tanpa benar-benar merasakan apa yang terjadi di dalam diri. Interaksi di media sosial yang serba potong-potong membuat kita gampang berbagi cerita, tapi seringkali malah menjauhkan kita dari pemahaman yang lebih dalam tentang diri sendiri. Karena itu, therapeutic writing alias menulis untuk terapi, kini mulai dikenal sebagai cara baru untuk merawat diri — bukan untuk menghasilkan tulisan yang indah, tapi untuk merapikan pikiran, melepas tekanan, dan mengobrol jujur dengan diri sendiri lewat tulisan.

      Menulis: Menyalurkan Emosi yang Terpendam

      Sejak dulu, banyak penyair dan novelis yang menjadikan luka dan pengalaman pahit mereka sebagai bahan bakar dalam menulis. Karya-karya mereka pun ikut menjadi sarana penyembuhan bagi para pembaca. Penelitian juga menunjukkan, menulis tentang perasaan, pikiran, atau pengalaman pribadi dengan sudut pandang orang pertama bisa membantu kita melewati trauma, membangun pemahaman diri, meningkatkan kesehatan mental, bahkan mencegah masalah yang lebih besar.

      15 min
    • Jurnal Maria 週記Baca Buku讀書會 di usia 60 tahun pulang Taiwan jualan tabung gas

      讀書會 : 60歲從歐洲返台到羅東賣瓦斯

      Baca Buku : dalam usia 60 tahun pulang Taiwan jualan tabung gas

      Dalam Usia 60 tahun dari Eropa Pulang ke Taiwan Mengelola Bisnis Jualan Tabung Gas di kota kecil Luodong.


      Hari ini, saya akan mengajak Anda ke Taiwan—ke sebuah kota kecil bernama Luodong.
      Tapi ini bukan cerita biasa. Ini tentang keberanian memulai kembali, bahkan saat usia memasuk angka 6.

      Hari ini saya ingin bercerita tentang seorang perempuan yang kisah hidupnya luar biasa. Namanya Wang Yalun. Di usia 60 tahun, saat kebanyakan orang mungkin mulai berpikir untuk pensiun, dia justru memulai babak baru — dan bukan sembarang babak.

      Bayangkan: lulusan SMA Putri Taipei, kuliah di Universitas Nasional Taiwan, lanjut ke Sciences Po Paris — sekolah elite di Prancis yang melahirkan banyak tokoh penting. Ia pernah jadi penulis untuk acara "Global Weekly with Sisy Chen".

      Lama tinggal di Eropa. Tapi… setelah ayahnya meninggal, Wang Yalun pulang ke kampung halamannya di Luodong, Taiwan — dan mengambil alih pabrik pengemasan gas milik keluarga.

      Iya, dari dunia akademik dan budaya Eropa, ia tiba-tiba jadi bos pabrik gas di pedesaan. Umur 60, mulai belajar dari nol.

      Teman-teman yang pernah berada di Taiwan mungkin sudah tidak asing lagi dengan tabung gas yang dipakai untuk memasak di dapur. Nah, ini lah tabung gas yang dijual bisnis keluarga Wang Yalun. Kalau di Taiwan, gasnya habis, segera angkat telpon memesan ke toko gas yang biasanya dekat rumah, dan sepuluh menit sebuah tabung gas baru sudah tiba.

      Setelah usia 60 tahun, hidupnya berubah drastis. Ia kembali ke Luodong, Yilan, dan mengambil alih pabrik gas mendiang ayahnya. Dari kehidupan di lingkungan budaya Eropa, ia tiba-tiba menjadi pemilik pabrik di pedesaan Taiwan — pengalaman yang menjadi semacam "pendidikan lintas dunia" yang mengejutkan.

      Pernah ada karyawan yang gajinya dipotong paksa oleh pengadilan karena terlilit utang, tetapi tetap setiap hari meminjam uang darinya, hanya untuk mentraktir orang lain makan pinang. Ia juga menghadapi pelanggan yang berutang dan tidak hanya tidak membayar, tapi masih terus mengambil barang secara kredit seolah-olah itu hal yang wajar.

      “Semua hal yang dulu kamu anggap sudah semestinya — seperti orang berutang harus membayar, atau pekerjaan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh — sekarang sama sekali tidak berlaku lagi!” kata Wang Yalun.

      Putri Sulung yang Sejak Kecil Sering Dimarahi, Namun Mengambil Alih Pabrik Gas Setelah Ayah Meninggal

      Ayah Wang Yalun dulunya adalah seorang tentara. Setelah pensiun, ia sempat menjadi sopir taksi, bus, dan truk tangki minyak, bahkan pernah menjalankan perusahaan transportasi. Akhirnya, ia mengambil alih sebuah pabrik pengemasan gas yang berlokasi di Luodong.

       

      15 min
    • Jurnal Maria 週記Baca Buku讀書會Kau Menjagaku dalam Diam 你在暗中守護我

      Baca Buku Kau Menjagaku dalam Diam

      讀書會 你在暗中守護我讀書會

       

      Hari ini kita tidak terlibat lagi dengan gurita yang pintar, tapi saya ingin mengajak teman-teman menyimak sebuah cerita. Bukan tentang pahlawan besar, bukan tentang kemenangan luar biasa. Tapi tentang seorang manusia biasa, yang memilih untuk peduli—meskipun ia bisa saja tidak.

      Ini adalah kisah tentang Weng Zhenyi, seorang hakim muda dari Taiwan, yang tidak hanya menjalani pekerjaannya, tapi juga merekam jejaknya dalam tulisan. Ia tidak berbicara lantang, tapi justru lewat keheningan dan ketulusan, ia menyampaikan sesuatu yang dalam—tentang hukum, tentang hidup, tentang rasa kemanusiaan.

      Dan di balik kisah ini, mungkin kita bisa melihat cermin untuk diri kita sendiri—tentang apa arti menjaga, mengenang, dan menjadi terang… dalam diam.

      Siapa pengarangnya:

      Nama Pengarang : 翁禎翊Weng Zhenyi

      Judul Buku: 你在暗中守護我Kau Menjagaku dalam Diam

      KAU MENJAGAKU DALAM DIAM

      Berdasarkan karya Weng Zhenyi (翁禎翊)

      Pada suatu masa, ada seorang anak muda yang lahir di Taipei, Taiwan, tahun 1995. Namanya Weng Zhenyi. Seperti banyak anak lainnya, ia tumbuh besar di tengah perpindahan: pernah tinggal di Miaoli, menyelesaikan wajib militer di Chiayi, menjalani magang di Tainan, dan menulis tentang Kaohsiung. Kini ia tinggal di Taoyuan dan bekerja di Hsinchu. Tapi bukan itu yang membuat hidupnya istimewa.

      Yang membuatnya berbeda adalah bagaimana ia melihat dunia. Bagaimana ia mendengarkan. Bagaimana ia meresapi kehidupan yang tak banyak orang sempat perhatikan.

      Ia pernah menjadi mahasiswa hukum, lalu lulus dan menjadi seorang hakim. Tapi jauh sebelum itu, ia hanya seorang anak muda biasa yang menyimpan satu pertanyaan di hatinya:

      "Seberapa pedulikah aku terhadap kehidupan orang lain?"

       

      Pertanyaan itu bukan basa-basi. Pertanyaan itu terus membayanginya—bahkan setelah ia duduk di kursi kehakiman, memegang palu sidang, dan mengenakan toga hitam yang kaku. Di balik kewenangan yang diberikan negara, ia tetap seorang manusia yang merasa harus memikirkan manusia lainnya.

      Zhenyi menyadari satu hal: sebagian orang dihormati karena jabatan yang mereka miliki. Tapi yang lebih berharga, adalah mereka yang tetap layak dihormati setelah jabatannya dilepas. Mereka yang, walaupun bisa menutup mata, tetap memilih untuk melihat.

      Dalam buku ini, Zhenyi tidak hanya menuliskan perjalanannya dari kampus ke ruang sidang. Ia menulis tentang setiap orang yang datang padanya—orang-orang yang hanya berbicara sebentar, sepuluh menit, dua puluh menit, tapi dalam waktu yang singkat itu membawa seluruh hidup mereka masuk ke ruang kecil itu. Ruang di mana nasib dipertaruhkan, keputusan dibuat, dan hati sering kali diuji.

      "Kalian telah bertukar kehidupan denganku," tulisnya.

      "Ingatlah setiap orang yang melangkah ke ruang sidangmu."

      Karena bagi Zhenyi, setiap perkara bukan sekadar dokumen hukum. Di balik setiap kasus, ada luka, ada cinta, ada kegagalan, harapan, penyesalan. Ada sisi kemanusiaan yang tidak bisa dinilai dengan angka atau pasal-pasal.

      Ia tahu, menjadi hakim bukanlah tentang menjadi sempurna. Ini bukan drama televisi. Dalam kehidupan nyata, sidang tidak selalu berakhir dengan keadilan mutlak. Kadang justru berakhir dengan hati yang berat.

      Dan di situlah, ia memilih untuk tetap peduli.

      Zhenyi tidak menulis dengan nada tinggi. Ia menulis dengan kejujuran. Ia tidak menjual cerita sensasional. Ia justru membuka dirinya—ia yang diam-diam pernah merasa iri pada orang lain, yang sering menangis tengah malam, yang merasa takut dan rapuh di balik toga yang tampak tegas.

      Ia pernah merasa seperti planet kecil yang hanya memantulkan cahaya dari orang lain. Tapi kini, ia mulai belajar untuk bersinar sendiri—dengan caranya sendiri. Bukan cahaya yang menyilaukan, tapi cahaya yang hangat. Seperti bintang sejati di langit malam.

       

      15 min
    • Jurnal Maria 週記Baca Buku讀書會 章魚 vs 人類Gurita vs Manusia

      Baca Buku 讀書會 章魚 vs 人類 Gurita vs Manusia

       Masih ingat tidak dengan topik Jurnal pekan lalu tentang Gurita yang pandai yang saya baca dari sebuah buku yang salah satu babnya berjudul Gurita, Alien dari Laut Dalam? Teman-teman, di hari ini saya menyambungnya dengan tema jurnal Gurita vs Manusia: Siapa Penguasa Bumi yang Sebenarnya?

       

      Gurita vs Manusia: Siapa Penguasa Bumi yang Sebenarnya?

       

      Manusia sering merasa dirinya penguasa bumi—punya peradaban, teknologi, bisa menulis buku, bahkan pergi ke luar angkasa.

      Tapi gurita cuma tertawa sinis: “Semua itu nggak perlu, gue cukup punya delapan tangan buat beresin semuanya.”

      Otak manusia terpusat di kepala. Otak gurita tersebar di delapan tangannya. Setiap tangan bisa mikir sendiri. Ini namanya: kecerdasan terdistribusi.

      Bisa dibilang, manusia itu prosesor single-core. Gurita? Prosesor 8-core super canggih.


      Manusia butuh kunci buat buka pintu. Gurita pakai batu buat buka kerang. Manusia bangun rumah. Gurita bikin rumah dari cangkang. Manusia punya mata-mata. Gurita? Dia sendiri bisa nyamar jadi apapun!
      Manusia butuh HP buat ngobrol. Gurita cukup semprot tinta, ganti warna kulit—langsung buka chatroom ala laut dalam.


      Keliatannya gurita menang telak ya? Tapi sayangnya… kalah di satu hal: umur pendek banget.
      Manusia bisa jatuh cinta berkali-kali. Gurita? Cuma sekali… dan itu akhir hidupnya.

      Jadi, manusia bisa bertahan karena umur panjang dan kerja sama. Gurita bertahan karena skill gila dan kemampuan tempur solo.

      Kesimpulannya: manusia penguasa peradaban. Gurita? Jenius penyendiri.

       

       

      4 min
    • Jurnal Maria 週記Baca Buku讀書會 Nasib Gurita 章魚的一生

      Baca Buku 這周讀書會 Nasib Gurita 章魚的一生

      Beberapa hari yang lalu, saya membaca sekilas sebuah buku yang salah satu babnya berjudul Gurita, Alien dari Laut Dalam? Membuat saya ingin memperkenalkan kepada teman-teman Jmers. Maka topik Jurnal hari ini adalah Nasib Gurita seumur hidupnya.

      Apakah teman-teman pernah memperhatikan bahwa banyak alien di film-film sebenarnya mirip sekali dengan gurita.

      Contohnya di film Prometheus dan Arrival, alien-nya punya banyak tentakel, bisa semprot tinta untuk berkomunikasi—persis kayak gurita laut dalam!

      Kenapa ya, kita suka membayangkan alien seperti gurita? Alasannya sederhana: karena gurita itu... bener-bener beda dari makhluk bumi lainnya!

      Pertama, IQ-nya tinggi banget. Siput biasa cuma punya 10 ribu sel saraf, tapi gurita? 500 juta! Dan delapan tentakelnya bisa "berpikir" sendiri. Kasih perintah sekali, tiap tangan langsung kerja sendiri—kayak punya delapan asisten pribadi. Multitasking sejati!

      Gurita juga bisa pakai alat. Mau buka kerang, dia taruh batu dulu biar stabil. Takut cangkangnya nutup dan kejepit? Disumpel lagi pakai batu. Makanannya? Kulitnya disimpan buat bikin rumah! Hidupnya rapi banget ya!

      15 min
    • Jurnal Maria 週記Baca Buku讀書會老了的跡象Tanda-Tanda Menua

      2023年3月獲獎微小說《人老了的跡象》

       

      Baca Buku讀書會獲獎微小說人老了的跡象

      Cerita Pendek Pemenang PenghargaanTanda-Tanda Menua

      Hari ini saya ingin mengajak Anda baca buku lagi, tetapi tidak hanya sebuah buku melainkan berupa beberapa cerita pendek. Dan akan saya mulai dari sebuah Cerita Pendek Pemenang Penghargaan Lomba Menulis Cepen mini tahun 2023. Judulnya

      “Tanda-Tanda Menua”

      Baca Buku 讀書會:獲獎微小說"人老了的跡象" Cerita Pendek Pemenang PenghargaanTanda-Tanda Menua

       

      Suatu hari, setelah rapat selesai, saya berjalan cepat menuju tempat parkir sambil dengan panik merogoh saku untuk mencari kunci mobil saya. Namun, kunci itu tidak ada di saku saya!

      Tidak juga di dalam tas kerja!

      Dengan panik, saya segera kembali ke ruang rapat untuk mencarinya, tetapi sia-sia... hilang tanpa jejak.

      Tiba-tiba, saya teringat—pasti saya telah meninggalkan kunci di dalam mobil!

      Suami saya sudah berkali-kali memperingatkan saya untuk berhati-hati agar tidak meninggalkan kunci tergantung di pintu mobil...

       

      Saya segera berlari kembali ke tempat parkir, tetapi sesuatu yang mengerikan terjadi—mobil saya tidak ada di sana!

      Tanpa membuang waktu, saya langsung menelepon polisi dan memberi tahu mereka lokasi saya, warna dan nomor plat mobil, serta tempat saya memarkirkannya...

      Di akhir percakapan, saya mengakui keteledoran saya: saya memang meninggalkan kunci di dalam mobil, dan kini mobil saya telah dicuri.

      Dengan pasrah, saya pun menelepon suami saya dan memberitahunya, “Aku benar-benar meninggalkan kunci di dalam mobil... dan mobil kita sudah dicuri!”

      Suasana menjadi hening.

      Suami saya tidak merespons untuk waktu yang cukup lama…

      Saya mengira telepon terputus.

      Kemudian, tiba-tiba, saya mendengar suaranya yang penuh amarah:

      “Dasar bodoh!” bentaknya, “Aku yang mengantar kamu tadi!”

      Kini, giliran saya yang terdiam...

      Saya merasa sangat malu, tetapi sekaligus lega karena ternyata mobil kami tidak dicuri.

      Dengan sedikit tertawa, saya berkata, “Baiklah, kalau begitu jemput aku sekarang, ya?”

      Suami saya membalas dengan suara keras, “Aku pasti akan menjemputmu! Tapi kamu harus meyakinkan polisi dulu bahwa aku bukan pencuri dan tidak mencuri mobilmu. Saat ini

      aku sedang ditahan di kantor polisi!

      Gimana caranya aku jemput kamu?!”

      Teman teman, “Pernah ngalamin kejadian kocak kayak begini? Yuk, share cerita kalian di FB saya atau ke email [email protected]

       “Tanda-tanda menua tuh emang suka datang tiba-tiba, ya… kalian setuju nggak?”

       

      Yuk kita lanjut mendengarkan cerita-cerita pendek lainnya.

      Mi Instan Paling Lezat di Dunia

      Pintu yang Tak Pernah Terkunci

      Tukang Pos yang Menanam Bunga

      15 min
    • Jurnal Maria 週記Baca Buku讀書會爸爸的衣服好臭Baju Ayah Bau

      Hari ini saya ingin mengajak Anda baca buku lagi, 爸爸的衣服好臭Baju Ayah Bau!

      Seorang ibu sedang memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci ketika putrinya

      berkata:

      Mama, jangan campur baju Ayah ya?

      Sang ibu terkejut dan bertanya,

      Kenapa tidak boleh dicuci bersama, sayang?

      Anak itu menjawab dengan raut wajah tidak suka,

      Baju Ayah bau… Aku tidak mau bajuku dicuci bersama baju Ayah.

      Ibu tidak langsung menjawab. Ia mengambil baju suaminya dan mengajak anaknya duduk di ruang tamu. Kemudian, ia meletakkan baju itu di atas meja, lalu pergi ke dapur.

       

      Tak lama kemudian, ibu kembali dengan sepiring pisang goreng kesukaan anaknya. Ia juga mengeluarkan selembar uang seribu dari sakunya dan meletakkannya di meja.

      Ibu mengambil baju ayah dan menyerahkannya kepada anaknya.

       

      Coba cium baunya, bagaimana? Kamu suka?

      Anak itu bingung, tapi tetap menurut. Ia mendekatkan hidungnya ke baju ayah, lalu buru-buru menjauh sambil mengernyitkan hidung.

      Ih… bau! Aku tidak suka!

      Ibu tersenyum, mengambil garpu, dan menusuk satu potong pisang goreng.

      Kalau ini? Coba cium dan makan. Bagaimana rasanya? Suka?

      Anak itu menggigit pisang goreng, lalu tersenyum senang.

      Wangi, enak sekali! Aku suka!

      Ibu kemudian mengambil uang seribu dan memberikannya kepada anaknya.

      Kalau ini? Coba pegang, cium baunya. Suka?

      Anak itu menerima uang dengan mata berbinar.

      Ini uang jajan buatku? Baunya seperti tinta… Tidak enak, tapi aku suka!

      Ibu tersenyum dan bertanya,

      Kenapa suka, padahal baunya tidak enak?

      Anak itu menjawab polos,

      Karena dengan uang ini, aku bisa beli makanan enak dan barang-barang yang aku suka!

      Ibu lalu mengambil kembali baju ayah dan berkata,

      Jadi, baju ayah bau, kamu tidak suka. Tapi pisang goreng enak, uang bisa membeli barang kesukaanmu, jadi kamu suka. Begitu?

       

      Anak itu mengangguk tanpa berpikir panjang.

      Ibu kemudian menatap anaknya dalam-dalam dan berkata dengan suara lembut, Sayang, kalau kamu tidak suka baju ayah yang bau ini, maka kamu juga tidak pantas menikmati pisang goreng lezat dan uang jajan ini.

      Anak itu terkejut.

      Ibu melanjutkan,

      Semua ini—makanan yang kamu makan, uang yang kamu belanjakan, pakaian bersih yang kamu kenakan—semuanya berasal dari kerja keras ayah. Bau yang kamu cium di bajunya

      adalah keringat perjuangannya. Itu adalah tanda betapa kerasnya ia bekerja setiap hari demi keluarganya.

       Jika kamu hanya mengeluh karena baunya, tapi tidak bisa melihat usaha di baliknya, bagaimana kamu bisa menikmati hasil kerja keras ayah?

      Anak itu mulai terdiam, menunduk.

      Ibu tersenyum dan mengelus kepala anaknya.

      Sayang, hidup ini bukan hanya soal menerima. Kamu harus belajar untuk menghargai dan berkontribusi. Jika kamu tidak suka mencuci baju ayah, mulai sekarang kamu cuci sendiri

      bajumu. Karena dengan begitu, kamu akan tahu bahwa di balik pakaian bersih, ada kerja keras seseorang yang mencucinya. Di balik makanan lezat, ada orang yang bekerja keras untuk membelinya. Di balik uang yang kamu belanjakan, ada orang yang mengorbankan waktunya untuk mencarinya.

      15 min
    • Jurnal Maria 週記Baca Buku讀書會 窮中談吃Berbicara tentang Makanan dalam Kemiskinan

      Hari ini membaca buku dengan Judul Buku: 窮中談吃Berbicara tentang Makanan dalam Kemiskinan

      Nama Penulis: Shu Guozhi舒國治

      Buku Berbicara tentang Makanan dalam Kemiskinan ini mencerminkan pandangan Shu Guozhi sanga penulis, ketika kondisi ekonomi memburuk dan sulit menemukan jalan keluar, pilihan pertama yang sering muncul adalah membuka warung makan kecil. Tanpa mengejar kemewahan atau kehalusan cita rasa, makanan yang lezat tetap dapat disajikan dengan menggunakan bahan-bahan sederhana yang tersedia sehari-hari, dipadukan dengan teknik memasak khas serta tambahan minyak, garam, gula, dan cuka.

      Oleh karena itu, semakin miskin seseorang, terkadang justru semakin baik makanan yang dinikmatinya. Kesederhanaan, harga terjangkau, dan cita rasa yang nikmat merupakan ciri khas makanan jalanan di Taiwan serta inti dari filosofi makan dalam keterbatasan ekonomi.

       

      Setelah sukses dengan Catatan Kuliner Taipei, Shu Guozhi kembali mengangkat pengalaman kulinernya dalam buku terbaru ini. Meskipun membahas kuliner Taiwan secara luas, fokus utama tetap tertuju pada makanan jalanan Taipei, menjadikannya seolah-olah sebagai versi lanjutan dari buku sebelumnya.

       Jika Catatan Kuliner Taipei merinci berbagai warung makan di kota tersebut, maka Berbicara tentang Makanan dalam Kemiskinan menyajikan gambaran umum tentang hidangan rakyat Taiwan, termasuk nasi, mi, pangsit, bento, hingga prasmanan. Dengan deskripsi yang detail dan menggugah selera, buku ini menjadi bacaan yang sulit ditahan untuk dibuka saat larut malam.

       

      Selain menggambarkan keunikan kuliner jalanan Taiwan secara keseluruhan, Shu Guozhi juga mengulas teknik memasak dan cara menikmati berbagai makanan, seperti nasi goreng.

      Menurutnya, nasi goreng sudah mengandung semua cita rasa terbaik dalam satu piring sehingga sebaiknya tidak disantap bersama lauk tambahan, karena hal itu justru mengaburkan rasa asli nasi goreng tersebut. Pemilihan beras pun menjadi faktor penting; nasi untuk nasi goreng sebaiknya tidak terlalu kenyal agar mudah disantap dalam suapan besar. Oleh karena itu, beras ketan atau varietas seperti Koshihikari dan beras Chihshang kurang cocok digunakan. Bahkan untuk menu yang sesederhana telur goreng nasi, teknik memasaknya harus diperhatikan, misalnya dengan menggoreng telur terlebih dahulu menggunakan api kecil hingga berbentuk seperti bubur kental sebelum dicampur dengan nasi dingin untuk menghasilkan efek "emas membungkus perak." Ada pula teknik lain, yaitu menumis nasi terlebih dahulu sebelum menggesernya ke tepi wajan, lalu menambahkan minyak di tengah dan menggoreng telur secara singkat sebelum mencampurnya dengan nasi. Menu sederhana ini ternyata menyimpan begitu banyak kebijaksanaan di baliknya.

      Selain itu, prasmanan dan bento juga menjadi bagian dari tradisi kuliner Taiwan. Shu Guozhi mengulas kriteria lauk bento yang ideal: tidak boleh terlalu berair, tidak boleh berupa makanan yang terlalu renyah, lebih cocok jika berbentuk potongan atau hasil fermentasi, serta harus memiliki warna pekat yang tahan disimpan dalam suhu ruangan. "Porsi bento yang pas, dengan nasi dan beberapa lauk dalam jumlah kecil, membuatnya ideal untuk masyarakat urban—praktis dan sehat," ujarnya. Buku ini juga mencantumkan sepuluh makanan yang paling merepresentasikan karakter kuliner Taipei, yaitu:

      1. Mi daging sapi
      2. Warung mi dan makanan dimasak kecap (luwei) seperti semur
      3. Warung susu kedelai
      4. Prasmanan
      5. Bubur dan lauk kecil
      6. Mi kering Fuzhou
      7. Roti isi daging, sup usus, sup soun, dan bacang
      8. Nasi khas Sichuan
      9. Misoa
      10. Bento
      11. Ditambah dengan daftar lebih dari tiga puluh warung makan ikonik yang paling berkesan, buku ini menggambarkan kekayaan kuliner Taipei secara mendalam.

        Dimanapun di Taiwan, hidangan lezat selalu dapat ditemukan. Melalui tulisan Shu Guozhi, pembaca tidak hanya merasa lapar tetapi juga semakin menyadari betapa beruntungnya bisa tinggal di pulau ini.

        Gaya penulisan Shu Guozhi tentang makanan jalanan sangat khas. Ia sangat menyukai pangsit dan memberikan pujian tinggi pada mi daging sapi di restoran Din Tai Fung. Meskipun memiliki kecintaan mendalam terhadap makanan, ia juga cukup selektif, menolak menyantap makanan dengan nama yang terlalu berlebihan seperti "Naga, Harimau, dan Phoenix" atau "Merak Membuka Sayap." Ia juga menghindari beberapa bahan seperti ikan kering (katsuobushi), udang kering, MSG, telur pitan, bacon, ham, jamur shiitake, dan kerang kering. Alasannya? Ia memiliki prinsip tersendiri dalam memilih makanan, yang mungkin membuat pembaca tersenyum saat membacanya.

        15 min
      12. Jurnal Maria 週記Baca Buku好好休息 2 Istirahat yang Baik 2

         Baca Buku讀書會 好好休息2 Istirahat yang Baik2

        Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.

        Hari ini saya ingin melanjutkan baca buku di pekan lalu yaitu sebuah buku tentang bagaimana caranya beristirahat yang baik.

        Nama buku: 好好休息:Istirahat yang Berkualitas: Praktik Hidup dengan Tidur Nyenyak untuk Pikiran yang Segar, Tubuh yang Bertenaga, dan Otak yang Optimal心不累、身體不疲憊、大腦不報廢的好眠人生實踐法

        Nama Penulis : Dr. Tsai Yu-Che & Tsai Chia-Hsuan, Psikolog Klinis蔡宇哲博士、蔡佳璇臨床心理師

        Pekan lalu kita sudah menjajaki bagaimana isi hati penulis dari kata pengantarnya. Dan sekarang Mari kita simak cuplikan bukunya:

        Mengelola Energi Seperti Menabung untuk Keadaan Darurat

        Menjaga keseimbangan energi dalam kehidupan sangatlah penting. Ini berarti kita tidak boleh menghabiskan seluruh tenaga yang dimiliki atau menunggu hingga kelelahan mencapai puncaknya sebelum beristirahat. Kita tidak pernah tahu kapan akan menghadapi situasi yang tidak terduga, sama seperti kita selalu menyisihkan sebagian tabungan untuk keadaan darurat. Jika semua tenaga dan energi kita habis, lalu tiba-tiba menghadapi situasi mendesak, kita tidak akan mampu mengatasinya.

        Oleh karena itu, mengelola energi dengan baik sama pentingnya dengan mengatur keuangan. Cara terbaik adalah dengan menyisakan cadangan energi dan tidak menghabiskannya sepenuhnya untuk pekerjaan. Dengan begitu, kita dapat menghadapi berbagai tantangan hidup dengan lebih siap.

        Banyak orang menganggap istirahat sebagai sesuatu yang dilakukan setelah menyelesaikan pekerjaan atau sekadar menunggu sebelum tugas berikutnya. Pandangan ini mencerminkan anggapan bahwa istirahat adalah sesuatu yang pasif, tidak memiliki fungsi, dan tidak perlu direncanakan secara aktif dalam kehidupan.

        Namun, penelitian di bidang ilmu saraf telah menunjukkan bahwa istirahat memiliki fungsi yang sangat penting. Selain memulihkan tenaga fisik, mental, dan emosional, sistem saraf di otak juga melakukan restrukturisasi dan penguatan saat kita beristirahat. Bahkan, otak mulai mempersiapkan diri untuk tugas-tugas yang akan datang. Proses ini sering terjadi tanpa kita sadari, dan penelitian ilmiah telah membuktikan betapa besar manfaat istirahat bagi tubuh dan pikiran. Oleh karena itu, istirahat seharusnya menjadi aktivitas yang direncanakan dan dilakukan secara sadar oleh setiap individu.

         

        15 min

      About Jurnal Maria

      From the publisher's feed

      Dari mata Maria melihat: