Jurnal Maria

Jurnal Maria

By Maria Sukamto, RtiSociety & CultureGovernment
Download on the App Store

Jurnal Maria episodes

  • Jurnal Maria 週記Baca Buku好好休息 1 Istirahat yang Baik 1

    Baca Buku 讀書會

    好好休息 1 Istirahat yang Baik 1

    Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.

    Hari ini saya ingin mengajak Anda baca buku: sebuah buku tentang bagaimana caranya beristirahat yang baik. Judul yang mengundang protes sebagian orang, tapi kalau kita simak baik-baik, tampaknya tidak banyak orang yang dengan mudah beristirahat dengan baik alias berkualitas. Terkadang, badan sangat lelah, malah tidak bisa tidur, tidak bisa menenangkan hati agar bisa beristirahat dengan rileks. nah... teman-teman mari kita simak buku ini.

    Nama buku: 好好休息:Istirahat yang Berkualitas: Praktik Hidup dengan Tidur Nyenyak untuk Pikiran yang Segar, Tubuh yang Bertenaga, dan Otak yang Optimal心不累、身體不疲憊、大腦不報廢的好眠人生實踐法

    Nama Penulis : Dr. Tsai Yu-Che蔡宇哲博士 & Tsai Chia-Hsuan, Psikolog Klinis蔡佳璇臨床心理師

    Intisari

    Psikologi Ilmu Saraf Tidur dituangkan dalam buku yang didedikasikan untuk orang-orang yang bekerja keras dan menjalani hidup dengan penuh semangat— Bebaskan diri dari kelelahan fisik dan mental, perbaiki pola hidup, serta bersihkan "sampah" dalam otak, agar kembali menemukan keseimbangan, energi, dan kesegaran setiap hari.

    Setiap hari, izinkan diri Anda untuk beristirahat dengan baik. Istirahat dan tidur bukanlah sekadar pelengkap setelah pekerjaan selesai, melainkan proses utama untuk memulihkan tubuh dan pikiran.

    Kita sering melihat orang-orang seperti ini: Mereka cerdas dan rajin, sejak muda telah mencurahkan seluruh energi untuk bekerja demi mencapai kesuksesan. Ketekunan dan dedikasi mereka mengantarkan pada promosi karier yang cepat, tetapi juga menjadikan hidup semakin sibuk. Lembur dan begadang sudah menjadi kebiasaan, sementara relaksasi, istirahat, atau tidur nyenyak... hanya dipertimbangkan setelah target tercapai dan waktu memungkinkan.

    Namun, seiring bertambahnya usia, mereka mulai menyadari bahwa:

    • Tubuh tidak sekuat dulu; begadang tidak lagi bisa diatasi hanya dengan tidur tambahan.
    • Siang hari merasa lelah tanpa alasan, tetapi sulit tidur di malam hari, atau bahkan tetap merasa lelah meski sudah tidur lama.
    • Buku ini ditujukan bagi Anda yang selalu merasa lelah, tetapi tidak tahu pasti apa penyebabnya. Sebenarnya, Anda tidak benar-benar lelah! Anda hanya terkuras oleh ritme hidup modern yang cepat, hubungan sosial yang penuh tekanan, serta emosi yang tertekan... Semua ini menyebabkan kelelahan mental yang luar biasa. Yang Anda butuhkan sekarang adalah belajar untuk benar-benar beristirahat.

      Dr. Tsai Yu-Che dan Tsai Chia-Hsuan蔡宇哲博士、蔡佳璇, yang juga seorang pembawa acara podcast populer Wah Sai Psychology, menggunakan pendekatan yang rasional namun hangat, serta kaya akan ilmu pengetahuan. Dengan dukungan penelitian ilmu saraf dan latihan praktis, mereka akan membantu Anda memahami:

      • Istirahat total dimulai dari micro-break di siang hari, ditambah dengan tidur gelombang lambat di malam hari.
      • Tidur bukan hanya sekadar istirahat mendalam, tetapi juga proses "pembersihan" otak dari sampah metabolik setiap hari.
      • Apakah benar susu hangat dan anggur merah dapat membantu tidur? Ilmu saraf akan menjelaskan fakta di balik mitos umum seputar tidur.
      • Analisis berbagai kasus tidur dari pekerja kantoran, night owl, individu dengan sensitivitas tinggi, hingga orang dewasa usia 50+.
      • Latihan Praktis

        • Sleep Nine-Grid untuk mengidentifikasi penyebab insomnia.
        • Dua metode untuk mengambil kembali kendali atas tidur Anda.
        • Panduan audio dan video dari penulis untuk mengurangi stres sebelum tidur.
        • Lakukan reset pada otak Anda setiap hari, pulihkan energi fisik, mental, dan kognitif, serta temukan kembali keseimbangan dalam hidup.
        • Apa keistimewaan dari buku ini?

          Keunggulan Buku Ini

          • Menjelaskan ilmu saraf dan psikologi dengan cara yang mudah dipahami, mengupas penyebab kelelahan fisik dan mental, serta solusi berbasis penelitian ilmiah.
          • Dilengkapi latihan praktis dan panduan mindfulness dalam bentuk audio serta video yang direkam langsung oleh penulis untuk membantu menemukan cara istirahat yang paling cocok bagi Anda.
          • Analisis kasus dari berbagai kelompok, seperti pekerja dengan tekanan tinggi, orang dengan pola tidur terbalik, serta individu usia 50+ pascamenopause, dengan solusi efektif yang dapat diterapkan.
          •  

            14 min
          • Jurnal Maria 週記Baca Buku貧困危機2 Krisis Kemiskinan2

            Baca Buku 讀書會 貧困危機2 Krisis Kemiskinan2

            Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto瑪麗亞週記, hari ini saya melanjutkan baca buku yang telah saya bacakan di Jurnal Maria pekan lalu, buku tentang Krisis Kemiskinan yang ditulis pengarang Jepang Fujita Takanori

            judul buku Krisis Kemiskinan—Lapisan Terbawah Masyarakat Jepang

            Buku ini saya baca karena fenomena kemiskinan yang dibahas dalam buku ini mirip dengan fenomena yang tengah dihadapi Taiwan. Dan banyak negara di atas dunia ini tengah mengalami fenomena yang sama pula. Jadi mengapa tidak, kita simak baik-baik buku ini dan sekarang mari kita lanjutkan baca buku bagian kedua.


            《貧困危機—日本最底層社會》

            Judul Buku: Kemiskinan—Lapisan Terbawah Masyarakat Jepang

             Penulis: Fujita Takanori

             

            Beberapa orang berpendapat bahwa di negara-negara Asia Tenggara masih ada anak-anak yang hidup di kawasan kumuh, tidur di jalanan, dan jika dibandingkan dengan kondisi di tempat-tempat tersebut, Jepang masih bisa dikatakan sebagai negara yang makmur. Tampaknya di bagian prakata, penulis tidak setuju dengan pandangan sebagian orang Jepang bahwa mereka masih tergolong makmur karena masih banyak negara yang jauh lebih miskin.

             

            Fujita Takanori mengatakan : Saya menentang pandangan seperti itu. Dalam buku ini, saya akan menjelaskan secara mendalam bahwa kemiskinan memiliki dua jenis: kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Kondisi di mana seseorang benar-benar terpaksa hidup di jalanan dalam keadaan yang sangat menyedihkan disebut sebagai kemiskinan absolut. Berbeda dengan itu, kehidupan yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia seperti kesehatan, martabat, dan kesejahteraan sosial disebut sebagai kemiskinan relatif.

            Di Jepang, kemiskinan relatif terus menyebar dengan cepat, mempengaruhi berbagai kelompok usia—mulai dari anak muda, orang dewasa yang seharusnya berada dalam masa produktif, hingga para lansia, tanpa memandang gender. Sebuah masyarakat yang kehilangan harapan, di mana keyakinan seperti "Meskipun hidup saya belum makmur sekarang, selama saya bekerja keras, saya akan memiliki masa tua yang bahagia" sudah tidak lagi berlaku, mungkin belum mencapai titik kemiskinan absolut, tetapi tetap berada dalam krisis kemiskinan yang mengkhawatirkan dan penuh tekanan.

             

            Teman-teman, sebelum melanjutkan kata pengantar sang penulis, mari kita dengarkan bagaimana ulasan dan kesan Jurnalis Taiwan tentang isi buku ini.

             

            Teman-teman Jmers, berikut ini adalah kesan dan ulasan seorang JurnalisTaiwan setelah membaca buku ini. Ia mengatakan:

            Setelah membaca buku Krisis Kemiskinan—Lapisan Masyarakat Terbawah di Jepang karya Fujita Takanori, saya merasa sangat terkejut sekaligus terenyuh.

            Buku ini tidak terlalu tebal dalam hal jumlah kata, tetapi memiliki "bobot" yang sangat besar. Meskipun latar belakangnya adalah kondisi sosial di Jepang, kenyataan yang diungkap dalam buku ini juga mencerminkan situasi serupa yang terjadi saat ini atau dalam waktu dekat di Taiwan.

            Fujita, yang merupakan lulusan program magister Antropologi Manusia dari Universitas Luther Gakuin dan profesor tamu di Universitas Seigakuin, sekaligus direktur organisasi nirlaba Hotplus, telah lama berkecimpung dalam pekerjaan sosial dan memiliki pemahaman mendalam mengenai berbagai aspek kemiskinan.

            Sejak awal, buku ini langsung menyoroti permasalahan utama dengan tajam:

            "Kemiskinan di Jepang terus menyebar dengan kecepatan yang mencengangkan. Ia mendekat selangkah demi selangkah, dan saat Anda menyadarinya, mungkin Anda sudah tidak bisa bergerak lagi."

            Pernyataan ini bukanlah berlebihan atau menakut-nakuti, melainkan gambaran nyata dari kondisi yang terjadi.

            Biasanya, ketika berbicara tentang kemiskinan, orang cenderung membayangkan seseorang yang tidak memiliki tempat tinggal dan kesulitan mendapatkan makanan. Namun, di negara yang dianggap makmur, kemiskinan jenis baru tidak hanya sebatas "kemiskinan absolut"—yaitu mereka yang benar-benar tidak memiliki tempat tinggal dan kesulitan bertahan hidup—tetapi juga mencakup "kemiskinan relatif". Kemiskinan relatif adalah kondisi di mana seseorang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya dengan cara yang sehat dan bermartabat.

            Banyak kondisi kemiskinan yang nyata tetapi kurang mendapat perhatian atau diabaikan begitu saja, sehingga mereka yang mengalaminya harus bertahan dalam kondisi yang terus menghancurkan kehidupan mereka secara perlahan.

            Misalnya:

            • Anak-anak yang seharusnya mengenyam pendidikan formal tetapi tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah;
            • Mereka yang telah menerima pendidikan dasar tetapi tidak dapat menikmati masa kanak-kanak seperti teman-teman sebayanya;
            • Orang-orang yang memiliki rumah tetapi tidak bisa menjalani kehidupan yang layak dan cukup makan;
            • Lingkungan kerja yang buruk dengan jam kerja panjang dan gaji rendah, di mana para pekerja dieksploitasi oleh perusahaan tanpa perlindungan hak yang memadai;
            • Orang-orang yang harus berhenti bekerja demi merawat orang tua mereka, sehingga akhirnya kehabisan tabungan dan jatuh ke dalam kemiskinan;
            • Mereka yang karena rasa malu atau kurangnya informasi, tidak berani mencari bantuan sosial yang sebenarnya tersedia;
            • Kurangnya keterampilan khusus yang membuat seseorang sulit mendapatkan pekerjaan baru setelah kehilangan pekerjaannya;
            • Perempuan muda yang, karena kesulitan ekonomi, terpaksa masuk ke industri hiburan malam atau pekerjaan yang tidak layak.
            • Dari masa kecil yang penuh kesulitan, mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang penuh keputusasaan, hingga akhirnya menjalani masa tua yang menyedihkan—sebuah siklus buruk yang terus berulang.

              Bagi mereka yang belum pernah mengalami kondisi ini, sulit memahami mengapa seseorang bisa jatuh ke dalam jurang kemiskinan seperti ini. Bahkan, banyak yang menganggap orang miskin sebagai orang yang malas atau gagal karena kesalahan mereka sendiri. Tentu saja ada beberapa kasus seperti itu, tetapi tidak semua orang mengalami kemiskinan karena kesalahan pribadi.

              Perubahan besar dalam struktur sosial dan keluarga, kondisi ketenagakerjaan yang memburuk dengan cepat, serta ketidakstabilan ekonomi dan inflasi yang melonjak adalah faktor-faktor utama. Namun, mereka yang masih memiliki kondisi ekonomi stabil sering kali sulit memahami atau berempati dengan situasi ini, termasuk para orang tua atau anggota keluarga mereka sendiri. Banyak masyarakat kelas menengah yang membayar pajak bahkan merasa tidak puas dengan bantuan sosial yang diberikan pemerintah kepada mereka yang membutuhkan.

              Mengatasi masalah ini tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi tetap merupakan tanggung jawab negara yang tidak bisa dihindari. Di era yang disebut sebagai "abad perpecahan" ini, di mana setiap kelompok masyarakat saling bersaing untuk mempertahankan kepentingannya masing-masing, ketakutan akan kehilangan membuat kemiskinan semakin memburuk.

              Untuk menemukan solusi, kita harus mulai dengan menjembatani kesenjangan sosial. Diskusi harus melibatkan orang-orang dari berbagai kelompok usia dan latar belakang ekonomi, karena kemiskinan adalah masalah yang dapat berdampak pada semua generasi dan bahkan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Selain mencari strategi untuk mencegah kemiskinan di masa depan, yang lebih mendesak saat ini adalah segera membantu mereka yang sudah berada dalam kondisi sulit.

              Jangan hanya memikirkan keamanan dan kenyamanan diri sendiri, karena kebahagiaan yang berlandaskan kepedulian terhadap sesama justru dapat memberikan harapan yang lebih besar bagi banyak orang!

              Bagi siapa saja yang tertarik atau peduli terhadap dinamika sosial, saya sangat merekomendasikan buku ini.

              Buku ini terdiri dari lima bab utama:

              • Bab 1: Kemiskinan di kalangan anak muda (usia 10–20 tahun) – Mengapa banyak anak muda sulit mempertahankan pekerjaan? Mengapa mereka tidak berani menikah? Apakah mereka benar-benar malas?
              • Bab 2: Kemiskinan di kalangan orang paruh baya (usia 40-an) – Ketika sistem kerja seumur hidup mulai runtuh, mereka yang menjadi tulang punggung keluarga menghadapi tekanan yang semakin besar. Ada juga fenomena hikikomori (orang yang mengurung diri) dan mereka yang masih bergantung pada orang tua.
              • Bab 3: Kemiskinan perempuan – Kesenjangan gender di dunia kerja, upah yang lebih rendah dibanding laki-laki, serta perjuangan para ibu tunggal yang menjadi kelompok paling rentan dalam kemiskinan.
              • Bab 4: Kemiskinan lansia – Mereka yang tidak memiliki tabungan, tempat tinggal, atau menderita penyakit, bahkan masih harus menanggung anak-anak mereka yang belum mandiri secara finansial.
              •  

                Lanjutan kata pengantar sang penulis buku:

                Bersama rekan-rekan di organisasi nirlaba hotplus, saya telah lama berupaya menyelenggarakan serta berpartisipasi dalam berbagai kegiatan bantuan bagi kelompok masyarakat miskin, dengan berbasis di Kota Saitama, Prefektur Saitama. Dalam 15 tahun terakhir, kelompok masyarakat miskin yang tampak jelas—seperti mereka yang mengalami kelelahan fisik akibat kerja berlebihan hingga terpaksa meninggalkan apartemen mereka dan akhirnya hidup di jalanan—perlahan mulai menghilang. Hal ini juga berkaitan dengan keberadaan lembaga sosial yang menyediakan tempat tinggal sementara serta meningkatnya jumlah kafe internet (net cafés) yang tersebar di seluruh Jepang.

                Namun, yang semakin mengkhawatirkan adalah bertambahnya jumlah orang yang tidak dapat melihat atau mengakui betapa buruknya kondisi kehidupan mereka. Mereka menutup diri, tidak meminta bantuan kepada siapa pun, dan akhirnya terjebak dalam jalan buntu. Kesadaran "Saya tidak ingin mengakui bahwa saya miskin" justru membuat kemiskinan semakin sulit untuk terlihat.

                Untungnya, hotplus menangani lebih dari 500 kasus konsultasi setiap tahunnya, memungkinkan kami sebagai pemberi bantuan untuk melihat kemiskinan dengan jelas. Saya berharap dapat menyampaikan realitas kemiskinan ini kepada masyarakat, meskipun hanya sebagian kecil, agar semakin banyak orang yang menyadari adanya krisis kemiskinan serta memperoleh kemampuan untuk menghadapi dan mengatasinya sejak dini.

                15 min
              • Jurnal Maria 週記Baca Buku貧困危機1 Krisis Kemiskinan1

                 Baca Buku讀書會 貧困危機1 Krisis Kemiskinan1

                 

                Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto瑪麗亞週記, hari ini saya mengajak Anda baca buku yang ditulis pengarang Jepang Fujita Takanori berjudul Krisis Kemiskinan—Lapisan Terbawah Masyarakat Jepang

                Topik ini terbagi menjadi 2 bagian tayangan di Jurnal Maria hari ini dan pekan mendatang.

                Isu kemiskinan tidak bisa diabaikan, fenomena yang dipaparkan dalam buku ini, sebenarnya mirip dengan apa yang sedang dihadapi Taiwan. Dan mungkin juga Indonesia, meskipun berbeda. Nah. Teman-teman, mari kita simak buku ini.


                《貧困危機—日本最底層社會》

                Judul Buku: Kemiskinan—Lapisan Terbawah Masyarakat Jepang

                 Penulis: Fujita Takanori

                Dengan mengandalkan studi kasus yang mendetail dan data yang akurat, penulis Fujita Takanori menganalisis kenyataan pahit bahwa masyarakat Jepang kini telah sepenuhnya terjerumus ke dalam krisis kemiskinan.

                Kemiskinan di Jepang terus menyebar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Ia semakin mendekat dan mengepung, hingga saat seseorang menyadarinya, mungkin sudah terlambat untuk bergerak. — Fujita Takanori

                Era di mana Jepang dikenal sebagai negara dengan "satu miliar penduduk kelas menengah" telah lama berlalu. Kini, yang muncul adalah zaman "seluruh rakyat berada di lapisan terbawah." Buku ini mengungkap bagaimana kemiskinan terus menyusup dan menyebar ke setiap generasi—mulai dari orang tua, anak muda, hingga anak-anak, tanpa memandang gender. Semua generasi kini berjuang dalam jerat kemiskinan, sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

                Berdasarkan pengalamannya yang luas dalam menangani bantuan sosial, serta didukung oleh data dan studi kasus yang komprehensif, Fujita Takanori mengungkap kenyataan pahit bahwa Jepang sedang menghadapi krisis kemiskinan secara menyeluruh—sebuah isu yang selama ini sering diabaikan. Ia memperingatkan masyarakat agar tidak menutup mata terhadap permasalahan ini dan selalu bersiap untuk menghadapinya. Selain itu, buku ini juga mengkritisi kekurangan dalam kebijakan kesejahteraan yang ada, serta mencari solusi konkret guna membangun masyarakat yang mampu memberikan bantuan bagi siapa pun yang membutuhkan.

                 

                Mari kita mengenal latar belakang penulisnya.

                Fujita Takanori

                Lahir pada tahun 1982, saat ini tinggal di Kota Koshigaya, Prefektur Saitama, Jepang. Meraih gelar magister dari Program Studi Antropologi Manusia, Luther Gakuin University, serta menjabat sebagai Asisten Profesor Tamu di Seigakuin University, khusus dalam bidang Kebijakan Bantuan Publik. Pada tahun 2013, ia menjadi anggota komite khusus dalam Dewan Jaminan Sosial Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang.

                Sebagai Ketua Perwakilan dari organisasi nirlaba Hotplus, Fujita juga aktif sebagai pekerja sosial, Perwakilan Prefektur Saitama untuk Jaringan Gotong Royong Anti-Kemiskinan, serta salah satu pemimpin proyek kontra-perusahaan eksploitasi (black company). Ia berfokus pada pemberian bantuan bagi masyarakat miskin di kawasan metropolitan Jepang, mengorganisir berbagai kegiatan terkait sistem jaminan sosial, serta mengajukan rekomendasi kebijakan.

                Karya-karyanya meliputi:

                • Lansia Kelas Bawah: Dampak Runtuhnya Kehidupan Lansia Satu Miliar Penduduk
                • Lansia Kelas Bawah: Datangnya Masyarakat yang Semakin Letih
                • Generasi Kemiskinan: Anak Muda yang Terperangkap dalam Sistem Sosial
                • Mengenal isi sebuah buku, jalan tercepat adalah membaca Prakata sang penulis.

                  Kemiskinan di Jepang terus menyebar dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Ia semakin mendekat dan mengepung, hingga saat seseorang menyadarinya, mungkin sudah terlambat untuk bergerak. Hingga saat ini, saya telah membunyikan alarm melalui buku-buku saya sebelumnya dengan istilah seperti Lansia Kelas Bawah (Downstream Elderly) dan Era Kemiskinan (Era of Poverty).

                  Buku ini membahas bagaimana kemiskinan terus menyusup dan menyebar ke setiap generasi. Orang tua, anak muda, anak-anak—tanpa memandang gender—semuanya tengah berjuang dalam kemiskinan. Zaman seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Sesuai dengan judul buku ini, masyarakat saat ini sedang berada dalam kondisi yang dapat disebut sebagai krisis kemiskinan yang sangat serius.

                  Sebagai contoh, kemiskinan anak sering kali tidak terlihat secara kasatmata. Mereka memiliki perlengkapan sekolah, mendapatkan bantuan pembebasan biaya buku dari pemerintah, bahkan memiliki ponsel dan pakaian yang tampak layak. Namun, di balik itu, ada anak-anak yang tertinggal dalam pelajaran karena tidak mampu mengikuti kelas tambahan berbayar. Ketika mereka merasa terisolasi dari pergaulan teman-temannya, mereka pun kehilangan tempat di sekolah. Tidak mampu mengikuti ritme kelas, mereka akhirnya menghabiskan waktu di rumah, mencari teman bicara di dunia maya. Saat malam tiba, mereka hanya bisa mengganjal perut dengan makanan sisa dari supermarket atau nasi kotak dari toko serba ada.

                  Sementara itu, ibu mereka masih bekerja paruh waktu dan baru pulang larut malam. Pada masa lalu, di jam seperti itu, anak-anak seharusnya sudah terlelap dalam tidur. Penghasilan ibu yang minim sulit untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, sehingga mereka sangat bergantung pada diskon makanan di supermarket setelah jam kerja. Karena terlalu sibuk bekerja, ibu tidak tahu apa yang dilakukan anaknya ketika ia tidak di rumah. Akibatnya, anak-anak yang bernasib serupa mulai berkumpul dan bermain hingga larut malam tanpa ada yang peduli. Lama-kelamaan, mereka mulai merasa seolah-olah tidak ada seorang pun yang peduli terhadap mereka, seakan mereka tidak pernah ada.

                  Anak-anak seperti ini hidup di berbagai penjuru Jepang, dalam keheningan yang nyaris tak terlihat.

                  Untuk keluar dari kemiskinan, para remaja yang baru lulus SMA memilih melanjutkan ke perguruan tinggi. Setelah lulus, mereka berusaha mendapatkan pekerjaan yang stabil dengan gaji yang layak. Namun, untuk membiayai kuliah dan kehidupan mereka selama di kampus, mereka harus bekerja paruh waktu di beberapa tempat sekaligus, dari pagi hingga larut malam, hampir tanpa waktu untuk tidur ataupun bersenang-senang.

                  Begitu mereka lulus dan melangkah keluar dari gerbang universitas, bahkan sebelum sempat merayakan kelulusan, mereka sudah terbebani oleh utang yang secara eufemistis disebut sebagai “beasiswa.” Karena terjerat utang, mereka tidak punya pilihan selain menerima pekerjaan di perusahaan eksploitasi (black company), menghadapi tekanan besar dari atasan, serta menjalani kehidupan kerja yang penuh ketakutan dan penderitaan.

                  Para senior mereka di perusahaan, yang telah lama kelelahan secara fisik dan mental akibat jam kerja berlebihan serta tekanan dari atasan, satu per satu mulai mengundurkan diri. Bisa jadi, sebentar lagi giliran mereka. Saat mencoba mencari pekerjaan lain dengan harapan mendapatkan kondisi yang lebih baik, mereka menyadari bahwa di mana pun mereka bekerja, situasinya tetap sama. Tidak ada jalan keluar.

                  Di seluruh Jepang, ada banyak anak muda yang hampir hancur karena tekanan hidup dan kecemasan yang tiada henti.

                   

                   

                  15 min
                • Jurnal Maria 週記Baca Buku垃圾屋Rumah Sampah

                   Baca Buku讀書會垃圾屋Rumah Sampah

                   

                  Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto瑪麗亞週記, hari ini saya mengajak Anda baca buku cerita kehidupan nyata seorang nenek berusia 71 tahun yang mengembara di kawasan Simending suatu kawasan yang sangat digandrungi wisatawan nah judul dari cerita ini adalah 垃圾屋Rumah Sampah.

                   

                  Mobil Reyot Seperti "Rumah Sampah": itu adalah mobil milik seorang nenek 71 Tahun, ia Hidup di Mobil Selama 10 Tahun, Mengembara di Ximending Taipei Mencari "Dia". Siapa dia ini? Yuk simak terus.

                  Di jalanan Ximending yang ramai, terlihat sebuah mobil tua yang sangat mencolok karena kondisinya yang rusak parah. Catnya sudah mengelupas dan berubah warna, tepi jendelanya pun rusak parah hingga harus diperbaiki dengan lakban. Bagian dalam mobil dipenuhi barang-barang bekas dan sampah, menyerupai sebuah "rumah sampah" kecil.

                  Di pusat kota Taipei, tepatnya di Ximending, mobil tua yang seharusnya dulunya adalah taksi ini kini tampak seperti bangkai kendaraan. Cat kuningnya sudah pudar hingga nyaris menjadi abu-abu keperakan. Tepi jendelanya rusak berat dan tertutup lakban, sementara bagian dalamnya penuh dengan berbagai sampah dan barang-barang bekas, membuat sinar matahari hampir tidak bisa masuk. Bahkan, sesekali terlihat serangga merayap di dalamnya. Mobil reyot ini menciptakan kontras yang mencolok dengan pemandangan kota yang megah, justru membuatnya semakin menarik perhatian.

                  Pemilik mobil ini adalah seorang wanita berusia 71 tahun bermarga Huang yang berasal dari Yunlin. Ia mengungkapkan bahwa 10 tahun lalu dirinya mengalami kecelakaan mobil yang sangat parah, nyaris merenggut nyawanya dan menyebabkan dampak besar pada kondisi fisik dan mentalnya. Sejak saat itu, ia hanya merasa aman saat tidur di dalam mobil kecilnya. Kini, ia hidup sebagai seniman jalanan, mengembara dari satu tempat ke tempat lain dengan mobilnya, semua demi mencari suaminya yang hilang kontak sejak pertengkaran hebat mereka bertahun-tahun lalu.

                  Menurut laporan China Times News Network, mobil tua ini pertama kali menarik perhatian karena kondisinya yang sangat buruk. Catnya mengelupas, jendelanya rusak parah dan hanya bisa diperbaiki dengan lakban. Di dalamnya, barang-barang bekas dan sampah menumpuk hingga hampir tidak ada celah untuk cahaya masuk. Sesekali, serangga terlihat merayap di dalamnya, menciptakan pemandangan yang sangat kontras dengan suasana mewah Ximending.

                  Huang menjelaskan bahwa ia pernah bekerja sebagai sopir taksi selama bertahun-tahun, bepergian ke seluruh Taiwan dari utara ke selatan. Karena sering tidur di dalam mobil, ia hanya berani parkir di tempat yang memiliki kamera pengawas demi keamanan. Kecelakaan yang terjadi 10 tahun lalu nyaris merenggut nyawanya dan berdampak besar pada fisik serta mentalnya. Sejak saat itu, ia merasa bahwa hanya di dalam mobil kecilnya ia bisa mendapatkan rasa aman.

                  Sejak kecil, Huang sudah menekuni musik secara akademis, memiliki kepekaan tinggi terhadap melodi dan ritme. Meskipun pernah bekerja sebagai sopir taksi demi menopang hidup, ia tidak pernah meninggalkan kecintaannya pada musik. Ia mengklaim telah mendapatkan sertifikat sebagai guru piano dan lisensi seniman jalanan. Bahkan, ia pernah mengajar di sekolah musik. Kini, di usia 71 tahun, ia masih membawa keyboard elektroniknya dan berkeliling sebagai seniman jalanan.

                  Saat berbicara tentang impian bermusiknya, matanya tampak berbinar penuh semangat. Tanpa ragu, ia langsung memainkan keyboardnya di hadapan reporter dan menyanyikan beberapa lagu lawas dengan penuh perasaan, menarik perhatian banyak pejalan kaki yang lewat.

                  Namun, di balik kehidupannya yang berpindah-pindah dengan mobil tua ini, ada alasan yang menyayat hati. Huang mengaku bahwa dulu ia memiliki temperamen buruk dan sering bertengkar dengan suaminya. Beberapa tahun lalu, mereka bertengkar hebat hingga akhirnya berpisah dan kehilangan kontak satu sama lain. Kini, ia menjalani kehidupan mengembara dengan harapan kecil untuk bisa bertemu kembali dengan suaminya.

                  Dengan ekspresi malu-malu di depan kamera, ia mengungkapkan bahwa suaminya adalah orang yang pendiam dan tidak pandai berbicara. Bahkan saat dimarahi, ia hanya diam dan tidak membalas. Suatu hari, Huang mengetahui bahwa suaminya berselingkuh. Ia pun kehilangan kendali dan memakinya dengan kata-kata kasar. Sejak saat itu, mereka tidak pernah berkomunikasi lagi. Saat mengenang kejadian itu, matanya mulai berkaca-kaca, suara nenek bergetar, dan ia pun menyampaikan pesan kepada suaminya melalui kamera:

                  "Aku tidak membencimu, hanya saja aku punya temperamen buruk..."

                  Setelah ragu sejenak, ia akhirnya menambahkan dengan suara lirih:

                  "Aku berharap kamu bisa memaafkanku."

                  Teman teman Jmers mungkin bertanya : Kalau bisa kembali ke masa lalu, apakah ibu ini akan mengubah niat?

                  Melihat bagaimana Ibu Huang kini menjalani hidupnya dengan penuh penyesalan dan harapan untuk bertemu kembali dengan suaminya, kemungkinan besar jika ia bisa kembali ke masa lalu, ia akan berusaha mengendalikan emosinya dan tidak mengucapkan kata-kata yang memutus hubungan mereka.

                  Namun, mengingat sifatnya yang berapi-api dan keras, bisa jadi butuh pengalaman pahit seperti ini untuk menyadarkannya akan pentingnya menjaga hubungan dan memahami orang lain. Dari kisahnya, tampaknya ia tidak hanya menyesali perpisahan mereka, tetapi juga menyadari bahwa amarahnya telah membawa dampak besar dalam hidupnya.

                  Mungkin jika diberi kesempatan kedua, ia akan lebih bersabar, mencoba berdialog dengan suaminya daripada langsung marah, atau mungkin mencari cara lain untuk menghadapi perselingkuhan tanpa kehilangan orang yang tetap ia cintai hingga saat ini. Tapi hidup tidak bisa diulang, dan kini ia hanya bisa berharap suaminya masih bersedia memaafkannya.

                   

                  15 min
                • Jurnal Maria 週記Baca Buku讀書會 :寬心慈悲

                  Baca Buku讀書會 :寬心慈悲 

                  awal yang sulit bukanlah penentu akhir dari kehidupan seseorang

                  Hari ini saya mengajak Anda baca buku, sebuah buku cerita kehidupan, cerita nyata yang terjadi di Taiwan. Memang banyak cerita nyata yang sangat menyentuh hati terjadi hampir setiap hari di Taiwan, hanya saja tidak semua diangkat menjadi cerita, ada sebuah cerita yang ingin saya bagikan kepada teman-teman Jmers di hari ini. Cerita yang mengajarkan bahwa awal yang sulit bukanlah penentu akhir dari kehidupan seseorang. Dengan perawatan, kasih sayang, dan ketekunan, seseorang bisa berkembang jauh melampaui ekspektasi.

                  Secara keseluruhan, cerita ini menggambarkan harapan, ketekunan, keajaiban, dan pentingnya sikap memaafkan dalam menjalani kehidupan. Nah bagaimana cerita ini.

                   Mari kita simak bersama.

                   

                  "Kamu bekerja di Rumah Sakit Joseph?! Tahukah kamu? Aku benar-benar berterima kasih kepada Rumah Sakit Joseph. Nyawa putraku diselamatkan oleh Dr. Yeh Hsiu-Chen dari departemen pediatri di Rumah Sakit Joseph! Dia benar-benar menariknya kembali dari gerbang maut!"

                  Di dalam bus yang hampir kosong dengan hanya dua penumpang, seorang wanita asing tiba-tiba mengajak saya mengobrol. Tanpa diduga, saya pun mendengar kisah yang menyentuh hati sekaligus mengharukan tentang Rumah Sakit Joseph ini…

                  Kembali ke masa 25 Tahun Lalu

                  Saat itu, Ny. Li yang berusia 38 tahun sedang mengandung. Dokter kandungan di sebuah klinik di Kota Huwei sudah memperingatkannya bahwa kehamilan di usia lanjut memiliki risiko tinggi, baik bagi ibu maupun bayi. Dan benar saja, baru memasuki bulan keenam kehamilannya, bayi laki-lakinya sudah tidak sabar untuk lahir. Saat dilahirkan secara prematur, bayi tersebut hanya memiliki berat 1.100 gram. Organ tubuhnya belum berkembang sempurna, napasnya begitu lemah hingga hampir tak terasa, dan seluruh tubuhnya tampak kehitaman.

                  Dini hari itu, setelah melahirkan, dokter klinik memberitahu Ny. Li bahwa anaknya tidak bisa diselamatkan… Dalam keadaan kelelahan dan lemas, ia hanya bisa menangis, menatap kosong ke arah kotak kardus di pojok ruangan tempat bayinya yang sudah dianggap tidak memiliki harapan lagi diletakkan.

                  Keajaiban yang Tak Terduga

                  Keesokan paginya, seorang petugas kebersihan masuk ke ruangan. Melihat bayi dalam kotak kardus itu, ia langsung berteriak kepada Ny. Li, "Astaga! Anakmu masih bernapas! Cepat, cepat, bawa dia ke Rumah Sakit Joseph!"

                  Tanpa membuang waktu, bayi itu segera dilarikan ke Rumah Sakit Joseph. Di sana, di bawah perawatan penuh kasih dari Dr. Yeh dan tim medisnya, bayi tersebut ditempatkan di inkubator selama 57 hari. Baru setelah berat badannya mencapai 2.200 gram, ia diperbolehkan pulang untuk dirawat oleh keluarganya. Bahkan setelah itu, mereka masih sering kembali ke rumah sakit untuk kontrol. Hubungan mereka dengan para dokter dan perawat sudah seperti keluarga sendiri.

                  Pada masa itu, belum ada jaminan kesehatan yang memadai. Beruntung, keluarga Li memiliki kondisi finansial yang cukup baik. Meskipun biaya perawatan sangat besar, mereka tidak mempermasalahkannya. "Asalkan anak kami bisa hidup, berapa pun biayanya tetap sepadan," kata mereka.

                  Wanita yang menceritakan kisah ini kemudian bercanda kepada saya yang mendengarkannya dengan penuh perhatian, "Kalau dihitung-hitung, salah satu pilar Rumah Sakit Joseph itu pasti dibangun dari sumbangan keluarga kami!"

                  Dari Bayi Prematur Menjadi Prajurit Gagah

                  Hari ini, bayi itu telah tumbuh menjadi pria dewasa yang gagah dan sehat. Dengan penuh kebanggaan, wanita itu—Ny. Li—mengatakan, "Siapa bilang bayi prematur tidak bisa tumbuh besar dan sehat?! Saat putraku masih SMA, dia menemui Dr. Yeh, dan saat itu dokter malah menyuruhnya menurunkan berat badan! Sekarang dia sudah berusia 25 tahun, tingginya lebih dari 180 cm, beratnya hampir 90 kg, dan saat wajib militer, dia bahkan terpilih masuk Korps Marinir!"

                  Memaafkan dan Melangkah ke Depan

                  Banyak teman dan kerabat yang menyarankan Ny. Li untuk menuntut dokter klinik yang dulu hampir menyerah pada anaknya. Namun, dengan penuh ketenangan ia berkata, "Melihat anakku bisa hidup sehat dan bahagia seperti sekarang sudah merupakan anugerah terbesar. Yang penting dia selamat, tak perlu menyalahkan siapa pun. Aku hanya berharap dengan sedikit kebaikan hati yang kutunjukkan, aku bisa mendapatkan berkah, sehingga orang-orang yang kucintai dapat menjalani hidup dengan bahagia."

                   

                  Apa makna dari cerita di atas?

                   

                  Cerita di atas memiliki beberapa makna mendalam yang menyentuh berbagai aspek kehidupan:

                  1. Keajaiban dan Harapan dalam Keputusasaan

                  Meskipun bayi itu telah divonis tidak bisa diselamatkan, keajaiban terjadi saat petugas kebersihan menemukan bahwa ia masih bernapas. Ini mengajarkan bahwa selama masih ada harapan, keajaiban bisa terjadi, bahkan di saat yang paling gelap.

                  2. Perjuangan Seorang Ibu

                  Ny. Li mewakili sosok seorang ibu yang penuh kasih dan keteguhan. Meskipun awalnya ia hampir kehilangan harapan, ia tetap berusaha semaksimal mungkin demi keselamatan anaknya. Ini menggambarkan bagaimana seorang ibu rela melakukan apa saja untuk anaknya.

                  3. Dedikasi Tenaga Medis

                  Dr. Yeh dan tim medis di Rumah Sakit Joseph menunjukkan pentingnya profesionalisme, dedikasi, dan kepedulian dalam dunia medis. Mereka tidak hanya menyelamatkan nyawa tetapi juga memberikan harapan baru bagi keluarga yang hampir putus asa.

                  4. Nilai Kemanusiaan dan Kebaikan

                  Ketika banyak orang menyarankan Ny. Li untuk menuntut dokter yang dulu menyerah pada anaknya, ia memilih untuk memaafkan. Ini menunjukkan bahwa kebesaran hati dan sikap penuh kasih bisa membawa ketenangan dan kebahagiaan yang lebih besar dalam hidup.

                  5. Kesuksesan yang Tidak Ditentukan oleh Awal yang Sulit

                  Bayi prematur yang dulu dianggap tidak akan bertahan hidup ternyata tumbuh menjadi pria sehat, gagah, bahkan menjadi anggota Korps Marinir. Cerita yang mengajarkan bahwa awal yang sulit bukanlah penentu akhir dari kehidupan seseorang. Dengan perawatan, kasih sayang, dan ketekunan, seseorang bisa berkembang jauh melampaui ekspektasi.

                  Secara keseluruhan, cerita ini menggambarkan harapan, ketekunan, keajaiban, dan pentingnya sikap memaafkan dalam menjalani kehidupan.

                  15 min
                • Jurnal Maria 週記一輩子太長了Seumur hidup itu terlalu panjang

                   Baca Buku 讀書會

                  一輩子太長了Seumur hidup itu terlalu panjang

                   

                  Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. hari ini saya mengajak Anda baca buku, sebuah buku kehidupan, artikel yang saya baca di laman FB seorang penulis, Berjudul 「一輩子太長了」"Seumur hidup itu terlalu panjang." Yang sangat penginspirasi. Dan cocok sekali dengan keadaan zaman sekarang. Mari kita simak.

                   

                  Saat bercerai, ibu berkata satu kalimat, "Seumur hidup itu terlalu panjang."

                  Orang tua saya bercerai hanya karena ayah sering membuang abu rokok ke pot anggrek yang dirawat ibu.

                  Ibu saya adalah tipe wanita yang bahkan saat turun ke bawah untuk membuang sampah pun harus berpakaian rapi.

                  Ketika saya berusia 12 tahun, ibu dan ayah bercerai,
                  hanya karena ayah terus-menerus membuang abu dan puntung rokok ke pot anggrek ibu, meskipun sudah berkali-kali diperingatkan.

                  Saat keluarga dan teman mencoba menasihati ibu,

                  dia hanya menjawab, "Dia orang yang baik, hanya saja kami tidak cocok."
                  Nenek saya dengan marah memarahi ibu,
                  "Kamu terlalu banyak membaca buku, makanya terlalu banyak maunya."

                  Di mata nenek, menantunya tinggi, tampan, pandai mencari uang, berbakti, dan peduli keluarga.

                  Sebaliknya, nenek menganggap putrinya egois dan tidak memikirkan perasaan anak maupun orang tua.
                  Nenek tidak bisa memahami keluhan ibu tentang kebiasaan ayah yang jarang mandi,
                  membuang pakaian dan kaus kaki sembarangan, makan dengan tergesa-gesa,
                  tidak punya waktu untuk ibu, lupa hari ulang tahun atau hari peringatan.
                  "Bukankah semua laki-laki seperti itu?" kata nenek.

                  Saya masih ingat saat ibu membawa saya meninggalkan rumah kami,

                  air mata mengalir di pipinya, dan dia berkata,
                  "Aku harap kamu bisa mengerti, hidup itu terlalu panjang."

                  Ketika saya berusia 16 tahun, seorang ayah tiri muncul dalam hidup kami.

                  Dia tidak tinggi, wajahnya biasa saja,
                  tetapi dia selalu terlihat bersih dan segar, dengan senyum yang lembut.
                  Anehnya, saya tidak merasa menolaknya.

                  Dia membantu ibu mengganti pot bunga dengan yang lebih indah,

                  membeli piring dan sendok baru untuk dipadankan dengan taplak meja hijau pastel ibu,
                  memilihkan sepatu kulit warna krem untuk gaun merah ibu,
                  dan mengganti gantungan kunci saya dengan yang lebih cantik.

                  Dia menggandeng tangan ibu berjalan di tepi sungai,

                  menikmati matahari terbenam dan terbit bersama, pergi ke taman lahan basah untuk memotret bunga dan burung,
                  memberitahu ibu nama dan cerita setiap tanaman,
                  bahkan membawa pulang beberapa ranting pohon yang jatuh,
                  dan menatanya di vas antik di meja belajar saya.

                  Ibu sangat suka mencoba resep baru.

                  Setiap kali ibu dengan bangga memperkenalkan hidangan baru,
                  ayah tiri saya akan mengajak saya mencuci mulut, berpakaian rapi,
                  dan duduk dengan sopan di meja makan.
                  Dengan gaya seorang kritikus kuliner,
                  dia mulai memberikan komentar dari aspek warna, aroma, dan rasa,
                  membuat ibu tertawa terbahak-bahak.

                  Ayah tiri juga seorang pecinta perayaan.

                  Dia berkata, "Hidup harus ada hari-hari istimewa, sehingga waktu terasa berlapis-lapis."
                  Setiap perayaan punya hadiah dan cara perayaan berbeda.
                  Dia sering membawa saya dan ibu ke alam untuk merasakan pergantian musim.

                  Suatu kali, ketika ibu sakit dan dirawat di rumah sakit,

                  saya melihat di meja samping tempat tidur ibu ada seikat bunga lili,
                  buah-buahan yang sudah dipotong kecil-kecil dan disimpan dalam mangkuk keramik hijau pastel.
                  Ayah tiri duduk di samping tempat tidur,
                  membacakan buku untuk ibu tanpa peduli pada orang-orang di sekitarnya.

                  Bibi di ranjang sebelah melirik mereka dengan rasa iri.

                  Saat itu, hidung saya terasa perih, dan saya tiba-tiba mengerti apa maksud ibu saat berkata,
                  "Hidup itu terlalu panjang."

                  Memang benar, hidup terlalu panjang untuk dijalani dengan terpaksa.

                  Jika seseorang bersama orang lain hanya untuk bertahan hidup,
                  tanpa perayaan, tanpa kejutan, tanpa kebahagiaan, tanpa romantisme,
                  bukankah itu hanya sekadar hidup bersama?

                  Sungguh cerita yang mengharukan.

                  Hidup memang panjang, dan membutuhkan saling dukung, perhatian, serta menciptakan kebahagiaan untuk melewati segalanya.

                  Kesimpulan:

                  Cerita ini menggambarkan perjalanan hidup seorang wanita yang memilih untuk mengakhiri pernikahannya karena merasa tidak cocok dengan suaminya, meskipun dianggap egois oleh keluarganya. Keputusan itu didasarkan pada keyakinannya bahwa hidup terlalu panjang untuk dijalani dengan terpaksa. Dalam perjalanannya, ia menemukan pasangan baru yang mampu memahami, menghargai, dan menciptakan kebahagiaan kecil dalam hidup sehari-hari. Kehadiran ayah tiri ini membawa makna baru bagi kehidupan ibu dan anaknya, menunjukkan bahwa hubungan yang harmonis memerlukan perhatian, pengertian, dan usaha untuk menciptakan momen-momen istimewa.

                  Makna:

                  1. Hidup Terlalu Berharga untuk Bertahan dalam Ketidakbahagiaan:
                  2. Cerita ini mengajarkan bahwa hidup yang panjang seharusnya diisi dengan kebahagiaan dan kepedulian, bukan keterpaksaan atau kompromi tanpa akhir.
                  3. Kebahagiaan Ada di Hal-Hal Kecil:
                  4. Melalui perhatian sederhana seperti mengganti pot bunga atau menciptakan perayaan kecil, pasangan baru menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak harus datang dari hal besar, melainkan dari tindakan kecil yang penuh cinta.
                  5. Pengertian dan Keharmonisan adalah Kunci Hubungan:
                  6. Perbedaan kebiasaan dan kurangnya perhatian dalam hubungan pertama menjadi pelajaran bahwa pengertian, perhatian, dan usaha untuk saling membahagiakan adalah fondasi hubungan yang baik.
                  7. Berani Memilih Kebahagiaan:
                  8. Keputusan ibu untuk meninggalkan hubungan yang tidak membuatnya bahagia menunjukkan keberanian untuk mengejar kehidupan yang lebih baik, meskipun harus menghadapi penilaian negatif dari orang lain.
                  9. Romantisme dan Kebersamaan Memberikan Arti dalam Hidup:
                  10. Kehadiran ayah tiri membawa warna baru dalam hidup ibu dan anaknya, menekankan pentingnya romantisme, perayaan, dan kebersamaan untuk menikmati perjalanan hidup.

                    Cerita ini menginspirasi kita untuk tidak takut membuat keputusan sulit demi kebahagiaan, serta pentingnya menciptakan kehidupan yang bermakna bersama orang-orang yang kita cintai.

                    14 min
                  11. Jurnal Maria 週記Sindrom Bakti Dadakan Anak Perantauan

                     Baca Buku讀書會 天邊孝子症候群Sindrom Bakti Dadakan Anak Perantauan

                     

                    Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Liburan tahun baru imlek sudah berlalu, aktivitas kembali normal dan ternyata dalam 9 hari liburan, muncul suatu fenomena lucu dan memusingkan kepala para dokter jaga, dan mereka mengatakan telah muncul sebuah sindrom di masa liburan nah, namanya apa, mari kita simak bersama.

                    hari ini saya mengajak Anda baca buku kehidupan yang saya beri judul 天邊孝子症候群“Sindrom Bakti Dadakan Anak Perantauan”"Distant Filial Syndrome" atau "Remote Filial Piety Syndrome"

                     

                    Istilah ini menggambarkan bagaimana anak-anak yang merantau dan jarang pulang tiba-tiba menunjukkan kepedulian secara mendadak saat kembali ke rumah. Mereka merasa perlu "menebus" waktu yang hilang dengan membawa orang tua ke dokter atau rumah sakit, meskipun kondisi mereka tidak darurat.

                    Fenomena ini terjadi karena:

                    ✅ Rasa bersalah karena jarang merawat orang tua secara langsung.
                    ✅ Tekanan sosial dan budaya untuk menunjukkan bahwa mereka masih berbakti.
                    ✅ Kurangnya pemahaman tentang kondisi kesehatan orang tua yang sebenarnya.
                    ✅ Keterbatasan waktu, sehingga mereka ingin menyelesaikan semuanya dalam kunjungan singkat.

                    Namun, bakti tidak seharusnya hanya ditunjukkan saat mudik, tetapi melalui perhatian yang konsisten, seperti komunikasi rutin, membantu kebutuhan orang tua dari jauh, dan memastikan mereka mendapat perawatan yang diperlukan sebelum kondisi memburuk.

                     

                     

                    Anak-anak orang Taiwan yang tinggal jauh dari orang tua yang merantau di LN tiba-tiba menunjukkan kepedulian berlebihan saat pulang ke rumah, sering kali dengan menyalahkan anggota keluarga yang merawat orang tua sehari-hari dan membawa mereka ke rumah sakit, meskipun kondisi mereka tidak darurat.

                     

                    Libur Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama sembilan hari yang baru saja berlalu di Taiwan, menyebabkan ruang gawat darurat (UGD) di berbagai rumah sakit penuh sesak. Mayoritas pasien mengalami gejala mirip flu dan gangguan pencernaan.

                     

                    Ruang Gawat Darurat Penuh saat Imlek, Dokter Ungkap Fenomena “Sindrom Anak Berbakti di Perantauan” “Sindrom Bakti Dadakan Anak Perantauan”

                    Libur Tahun Baru Imlek yang berlangsung selama sembilan hari menyebabkan ruang gawat darurat (UGD) di berbagai rumah sakit penuh sesak. Mayoritas pasien mengalami gejala mirip flu dan gangguan pencernaan.

                     

                    Dokter jaga di masa tahun baru imlek menjelaskan bahwa di antara pasien yang datang ke UGD, ada fenomena yang disebut “Sindrom Anak Berbakti di Perantauan.” “Sindrom Bakti Dadakan Anak Perantauan” Fenomena ini terjadi ketika seseorang yang bekerja jauh dari rumah baru kembali saat tahun baru, lalu menyalahkan anggota keluarga yang merawat orang tua sehari-hari karena dianggap tidak merawat dengan baik. Untuk menunjukkan rasa bakti, mereka membawa orang tua mereka ke UGD, meskipun kondisi mereka tidak darurat.

                    Dr. Li yang mengungkapkan kemunculan sindrom ini menambahkan bahwa setelah kembali ke rumah, anak-anak ini menemukan bahwa orang tua mereka telah mengalami nyeri pinggang selama dua hingga tiga bulan atau bahwa penyakit kronis mereka tidak membaik. Mereka pun bersikeras membawa orang tua ke UGD selama liburan Imlek, meskipun kondisi tersebut telah berlangsung lama dan tidak memerlukan penanganan darurat.

                    Selain itu, UGD menerapkan sistem triase, di mana pasien dengan kondisi lebih serius akan diprioritaskan. Ini berarti pasien dengan keluhan ringan harus menunggu lebih lama, sehingga meningkatkan risiko paparan infeksi di rumah sakit.

                    15 min
                  12. Jurnal Maria 週記 Baca Buku為花換新水Changer l’eau des fleurs

                    讀書會 為花換新水Changer l’eau des fleurs

                     Jurnal Maria Sukamto瑪麗亞週記 Hari ini saya mengajak Anda baca buku, sebuah buku yang tidak baru lagi, karena sudah terbit pada 2018 lalu. Tetapi sampai sekarang masih heboh dibahas.

                    Buku ini Karya Valérie Perrin 《為花換新水》Changer l’eau des fleurs

                    Mengganti air bunga, menyembuhkan hati manusia.

                    Valérie Perrin adalah penulis yang paling menyentuh hati dan memengaruhi dunia sastra Prancis modern.

                    Siapa dia? Valérie Perrin, setelah kesuksesan Les oubliés du dimanche (Orang-Orang yang Dilupakan pada Hari Minggu), menghadirkan karya terbarunya Changer l’eau des fleurs

                    Mengganti air bunga, menyembuhkan hati manusia.

                     

                    14 min
                  13. Jurnal Maria 週記 Baca Buku 元子習慣 2 Baca Buku Atomic Habit 2

                    讀書會 元子習慣 2 Baca Buku  Atomic Habit 2

                    Jurnal Maria Sukamto 瑪麗亞週記 hari ini saya mengajak Anda baca buku, melanjutkan baca buku di pekan lalu, buku ini berjudul元子習慣 Atomic Habit.

                    Kebiasaan Kecil dengan Hasil Besar

                    Orang-orang sering mengatakan bahwa jika Anda ingin mengubah hidup, Anda perlu berpikir besar: mengganti pekerjaan, pindah rumah, atau mengganti pasangan. Tapi itu salah.

                    Ahli kebiasaan terkenal dunia, juga penulis buku Atomic Habits James Clear, telah menemukan cara yang sama sekali berbeda untuk mengubah perilaku Anda. Dia tahu bahwa perubahan yang bertahan lama berasal dari efek gabungan dari ratusan keputusan kecil – seperti melakukan dua push-up setiap hari, bangun lima menit lebih awal, atau melakukan satu panggilan telepon singkat. Dia menyebutnya kebiasaan atomik.

                    Dalam buku Atomic Habits, Clear mendalami psikologi mutakhir untuk menjelaskan mengapa otak Anda dapat memperbesar perubahan kecil ini menjadi dampak yang besar. Dia mengungkap sejumlah trik hidup sederhana (seni yang terlupakan dari Habit Stacking atau kekuatan tak terduga dari Two Minute Rule) untuk menunjukkan bagaimana Anda juga dapat mengubah pergeseran kecil dalam perilaku menjadi hasil yang mengubah hidup. Dan dia mengungkapkan metode sederhana empat langkah yang memungkinkan Anda membangun kebiasaan atomik ke dalam rutinitas harian Anda, mulai sekarang.

                    Perubahan "nuklir" ini akan memberikan dampak eksplosif pada karier Anda, hubungan Anda, dan kehidupan Anda.

                    15 min
                  14. Jurnal Maria 週記元子習慣 1 Baca Buku Atomic Habit 1

                    JM 27 Jan 2025讀書會 元子習慣 1 Baca Buku  Atomic Habit 1

                    Jurnal Maria Sukamto瑪麗亞週記 hari ini saya mengajak Anda baca buku, salah satu buku yang berada di tangga urutan teratas yang saya perkenalkan tangga buku di pekan lalu. Buku ini berjudul 元子習慣 Atomic Habit.

                    Judul Lengkapnya : Atomic Habits : An easy and proven way to build good habits and break bad ones. Cara Mudah dan Terbukti untuk Membangun Kebiasaan Baik dan Menghentikan Kebiasaan Buruk

                    Nama Penulis: James Clear

                    Mari mengenal buku ini lebih dekat!

                     

                    Jika Anda meningkat 1% setiap hari, dalam setahun Anda akan menjadi 37 kali lebih baik. Namun, jika Anda menurun 1% setiap hari, dalam setahun Anda akan melemah hingga hampir nol!

                    Sedikit perubahan kecil, satu kebiasaan baik, dapat menghasilkan efek berlipat ganda seperti bola salju, membawa kesuksesan besar dalam hidup Anda!

                     

                    Sejak pertama kali diterbitkan, buku ini langsung menjadi panduan praktik kebiasaan yang populer di dunia bisnis, olahraga, pendidikan, dan kesehatan.

                    Penulis James Clear pernah mengalami kecelakaan serius ketika ia dipukul oleh tongkat baseball di wajahnya saat masih di sekolah menengah. Luka parah tersebut memaksanya menjalani perawatan panjang. Meskipun akhirnya pulih dan kembali ke lapangan, ia hanya menjadi pemain cadangan dalam tim baseball universitasnya.

                    Namun, enam tahun setelah cedera tersebut, ia terpilih sebagai Atlet Pria Terbaik di universitasnya dan masuk dalam ESPN Academic All-America Team—sebuah penghargaan prestisius yang hanya diberikan kepada 33 orang di seluruh Amerika Serikat.

                    Dari nyaris mengakhiri karier olahraga hingga meraih penghargaan bergengsi, bahkan memenangkan Medali Presiden atas prestasi akademik, bagaimana ia melakukannya? Semua itu berkat pemahamannya tentang kekuatan “Atomic Habits”!

                    Empat Hukum Perubahan Perilaku untuk Membentuk Kebiasaan Baik Secara Permanen

                    14 min

                  About Jurnal Maria

                  From the publisher's feed

                  Dari mata Maria melihat: