Jurnal Maria

Jurnal Maria

By Maria Sukamto, RtiSociety & CultureGovernment
Download on the App Store

Jurnal Maria episodes

  • Jurnal Maria 週記 Musim Dingin 立冬

    Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. hari Kamis pekan lalu, adalah hari Lidong dalam kalender imlek, mengartikan hari dimulainya musim dingin secara resmi. Ini berlaku untuk kawasan Asia timur saja. Karena banyak negara di atas bumi ini sudah mengalami musim dingin.

    Hari Lidong membawa arti yang cukup besar bagi masyarakat Taiwan khususnya, misalnya begitu memasuki bulan ke 10, masyarakat mulai melakukan kegiatan ritual berterima kasih atas keselamatan yang diberikan YMK selama ini, selain bersyukur kepada Tuhan, juga menyembahyangi para leluhur dan roh-roh yang masih tidak menemukan jalannya, maka ada tradisi memasang lentera, lampion, memasang lampion air dan lain sebagainya. Seperti memberikan sedekah dan sesajen sebagai sikap terima kasih.

     

    Para seniman, penulis pun akan menyampaikan rasa syukurnya melalui syair, dan goresan penanya. Seperti seniman蔣勳

    Chiang Shun yang juga seorang penulis, dosen, pelukis, sastrawan menuliskan:

    Pada hari xiao xue, siang hari masih terasakan sinar mentari yang sayup-sayup, tetapi ketika menjelang senja, mulai bertiup angin yang bersisipkan rasa dingin, temanku dari utara memberikan pesan padaku “Sudah turun salju di sini”. Aku juga teringat aku berada di Jepang yaitu saat xiao xue menyaksikan hari pertama salju turun.

    Bagi masyarakat yang bermukim di daerah subtropis, tidak terlalu merasakan perubahan dan perbedaan 4 musim dalam setahun, “Xiau Xue” hampir mengartikan musim dingin, padahal masih berjarak waktu 1 bulan dari Dongci.

    Sedangkan Lidong masih berada dalam suasana musim gugur bagian akhir, dan Lidong ibarat suatu sinyal suatu isyarat, yang mengingatkan kita bahwa musim dingin sudah berada di ambang pintu. Demikian pula dengan 「立春」Lichuen mengartikan musim dingin sudah hampir berakhir, tetapi kehadiran musim semi secara benar-benar harus menunggu saat 「春分」Chunfen.

    Lalu「立夏」 lixia juga suatu tanda canang akan segera tibanya musim panas, dan benar-benar memasuki panas setelah melewati hari 「夏至」Xiaci. Bersamaan dengan itu, 「立秋」 lichiu juga masih panas udaranya, dan harus menantikan kedatangan Chiufen「秋分」 baru terasa sejuk dan udara panas mengundurkan diri.

    Saya menyukai 4 jieqi posisi matahari yang mudah disalahartikan yaitu「立春」「立夏」「立秋」「立冬」 lichun, lixia, lichiu dan lidong. Semuanya adalah ekor dari musim sebelumnya, dan merupakan hari menjelang musim yang baru akan tiba nantinya. Jieqi adalah lambang kecerdasan waktu, lik adalah tanda yang dibuat oleh waktu itu sendiri dalam ketiadataraan waktu, dengan lik sebagai tanda memberitahukan kepada diri sendiri bahwa musim yang sebelumnya sudah mau usai, dan musim berikutnya sudah hampir tiba.

    Waktu akan bergulir dengan leluasa tanpa batas, biar kita rela ikhlas atau tidak, waktu tidak akan berhenti. Seperti xiaoxue hari ini begitu kelabu, aku duduk sendirian di pinggir sungai menikmati pemandangan musim gugur.

    Apa saja kebiasaan masyarakat Taiwan di hari Lidong yang ditahun 2024 ini jatuh pada tgl 7 nov yaitu hari kamis lalu, biasanya ada tradisi ciakpo istilah di Indonesia yang mengartikan makan makanan yang menyehatkan, meningkatkan stamina tubuh, ada pepatah kuno mengatakan, ciaopo di musim dingin agar kuat mengalahkan macan, maka di hari Lidong diperkuat ciakponya, untuk mengisi bensin stamina tubuh, agar bisa menangkal terpaan udara dingin di musim dingin.

     

    Lalu bagi masyarakat petani, hari Lidong adalah hari beristirahat setelah mereka membanting tulang bekerja selama 1 tahun berladang, dan di hari Lidong, petani bersama keluarga akan menikmati makanan enak sebagai tanda terima kasih atas jerih payah diri sendiri selama setahun ini.

     

    Ada pula yang mengatakan hari Lidong adalah masa yang tepat untuk memakan makanan menyehatkan ginjal, maka akan memilih makanan berwarna hitam, sehingga ada yang menyarankan di musim dingin kita banyak mengasup makanan berwarna hitam, sepreti beras hitam yang melancarkan pencernaan. Makanan hitam ini adalah jamur kuping hitam yang bisa meningkatkan daya imun. Demikian pula nori, rumput laut bisa menangkal udara dingin, maka tidak ada salahnya kita banyak makan nori, rumput laut di musim dingin, dan kurangi makanan dingin. Memang masuk akal bukan? Di udara dingin, kita mengasup masakan yang berkuah panas, akan memperhangat tubuh. Kalau sebaliknya, maka akan mudah kedinginan kalau kita makan salada melulu.

     

    Di hari Lidong, ada tradisi Taiwan memakan tebu, memang di musim gugur, adalah masa panen tebu di Taiwan, maka saat Lidong menyantap tebu menambah energi, dan kalau sedang flu, meneguk secangkir jus tebu panas akan sangat membantu penyembuhannya.

    Sembahyang leluhur juga tradisi di Taiwan, setelah kesibukan di sawah selesai, di hari Lidong, seluruh keluarga berkumpul, dan bersembahyang kepada leluhur, melaporkan hasil kerja sepanjang tahun ini. Selain itu, juga dianjurkan untuk menambah energi Yang, karena musim gugur dan dingin energi Yin akan meningkat, jadi dianjurkan untuk sering bepergian ke luar untuk berjemur matahari, baju-baju juga hendaknya memilih warna terang dan pastel, lampu ruangan juga digantikan dengan lampu warna kuning untuk menambah suasana bersinar matahari, memperhangat rumah kita.

    Di hari Lidong, masyarakat Taiwan makan apa ya? Biasanya kata masyarakat Tionghoa di Indonesia mau ciakpo, arti mau menyantap makanan bergizi menyehatkan penambah stamina. Lalu makanan apa saja yang cocok ?  Dengarkan di cara Jelajah Kuliner 11 Nov 2024. Sampai jumpa!

     

     

    15 min
  • Jurnal Maria 週記 Sosok Guo Ci 郭子

     Jurnal Maria Sukamto 瑪麗亞週記 Sosok Guo Ci 郭子 郭蘅祈 Kuo Heng Chi 

    Apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.

    Setelah beberapa pekan membaca buku, mari kita membaca kehidupan seorang pekerja seni, bernama Guo Ci dan sekarang ia mengubah namanya menjadi Guo Heng Chi. 郭蘅祈 Kuo Heng Chi 

    Pria bertalenta Taiwan ini dilahirkan pada tgl 8 Okt 1966, ia seorang penyanyi, seorang komposer, produser teater dan sutradara. Ia juga seorang penganut agama Buddha. Banyak predikatnya, saat ini ia juga seorang guru yoga, produser acara manggung konser, ia sudah menjadi produser dari banyak penyanyi beken. Sebelum tahun 2011, ia dikenal dengan nama Guo Ci. Di era tahun 1990 an, ia sering berkolaborasi dengan penyanyi beken seperti Chang Xue You, Amei, Wang Fei, Shu Ru Yun dan juga Wubai.

    Guo Heng Chi selain bernyanyi sendiri, juga menulis lirik dan melody lagu.

    Kita dengarkan lagu yang dinyanyi dirinya sendiri.

    關於離別 When We Part

    作词:陈世杰 作曲:郭子

    Guo adalah seorang musikus yang sangat bertalenta, asalkan kita menyebut namanya di hadapan orang-orang Taiwan, sebagian besar yang mengenalnya, pasti akan segera mengatakan bahwa Guo adalah seorang seniman yang sangat bertalenta. Seorang yang begitu piawai, apakah perjalanan hidupnya akan semulus talentanya, ternyata tidak, menurut pengakuannya sendiri, Guo mengatakan Akhirnya setelah saya menghabiskan begitu banyak waktu untuk bergelut dalam kehidupan, di usia ku sekarang ini aku mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat penting yaitu kita harus menyoroti langsung sisi gelap kita sendiri.

    Memang banyak orang yang berusaha untuk menutup-nutupi, atau berpura-pura menjadi orang yang normal di mata masyarakat. Tetapi banyak pula yang terbuka sekali, mencanangkan segera bahwa dirinya adalah LGBT atau agak berbeda dari manusia awam. Guo akhirnya berhasil mencabut dirinya keluar dari sisi gelap kehidupannya, dan tampil kembali ke publik, ia tidak lagi melarikan diri dari penderitaan emosionalnya.

     

    Guo sejak kecil sudah suka bernyanyi dan menari, sehingga sering ditertawakan oleh teman kelasnya “tidak normal”, pengalaman di masa kecilnya ini menciptakan trauma yang mendalam baginya. Ia pernah dirundung oleh sekelompok murid laki-laki di kelas, ia hampir dilucuti celananya di hadapan umum oleh para pembully. Tetapi ketika ia mengadukan hal ini kepada orang tuanya, sang ibu malah mengecamnya, bukan menyayanginya karena telah dirundung di sekolah, malah memarahinya, keadaan ini membuat Guo selalu terbenam dalam penderitaan batin. Sepotong memori masa kecil ini membuat perjalanan hidupnya selalu diliputi perasaan rasa bersalah, selalu merasa dirinya kurang baik, dan juga terbiasa menyembunyikan diri sendiri, dan berakting menjadi sosok yang diinginkan orang lain.

     

    Guo setelah berkiprah dalam dunia musik, dan menjadi terkenal. Suatu hari ia menghadiri reuni teman kelas se SD, dan ia menceritakan kembali peristiwa perundungan atas dirinya, tetapi ternyata tidak ada teman kelasnya yang ingat hal ini. Keadaan ini membuat Guo tersadar, ternyata yang mencengkeram dirinya tidak bisa mengentaskan diri keluar dari masa gelap masa lalu adalah dirinya sendiri. Sudah berapa tahun lamanya, ia menggendong seorang anak yang trauma ini, membuatnya tidak bisa melanjutkan perjalanan hidup dengan baik-baik. Guo mengakui, meskipun ia sudah menjadi seorang penyanyi terkenal dan seorang musikus piawai, dan berhasil menciptakan begitu banyak lagu yang ngehit, tetapi ia tetap merasa dirinya masih belum mencapai puncak sukses, dalam hati kecilnya, suara bahwa ia adalah anak yang kurang baik, selalu berkumandang dalam benaknya, suara ini menjadi kendala baginya untuk maju ke jenjang sukses.

     

    Apakah ada titik terang kemudian? Benar, setelah Guo menjadi produser dari konser nyanyi Liu Ruo Ying dan Chang Ching Fang, Guo baru benar-benar mulai memupuk kepercayaan diri. Ketika ia duduk di kursi penonton, menyaksikan para penonton konser di bawah sorotan lampu warna warni bersorak sorai penuh kegembiraan, membuatnya mengerti bahwa penderitaan dan kegagalan yang pernah dialaminya dulu sangat tidak berarti, dan itu sebenarnya adalah nutrisi bagi jalan keberhasilannya di masa depan.

     

    Guo juga mulai mengerti isi hati orang tuanya. Dan merasakan cinta kasih mereka kepadanya. Dulu ia merasa tidak diperhatikan, sudah dirundung malah dimarahi, tetapi ia sekarang tidak lagi berpikir seperti itu. Ia menemukan, ayahnya membuat kenangan masa kecil-anak-anaknya dengan mengfoto masa kecilnya, begitu banyak koleksi foto-foto masa kecil yang dibidik sang ayah, ini adalah pernyataan cinta-kasih orang tua, yang baru disadari oleh Guo setelah ia dewasa dan penuh luka. Meskipun orang tuanya jarang berkomunikasi dengannya, tetapi koleksi foto di album adalah bukti begitu besarnya cinta kasih orang tua.

     

    Maka Guo mencatat kehidupan masa tua orang tuanya dengan mengfoto mereka juga, ia sering pulang berdebat mulut dengan sang ibu. Debat mulut ini menjadi tanda komunikasi cinta kasih yang unik antara Guo dengan sang ibu. Dengan adanya perubahan sikap, maka hubungan Guo dengan keluarga semakin intim.

     

    Sekarang, Guo sudah sangat santai menikmati derap hidupnya, ia belajar menerima dirinya sendiri, baik sisi terang maupun gelapnya. Ia juga mendorong orang-orang sepertinya untuk memandang secara positif kekurangan diri sendiri, karena ini adalah PR dari YMK kepada setiap insan di dunia ini. Menurut Guo, di galeri, lukisan yang tergantung di dinding, ada atau tidak pengunjung yang menikmatinya, setiap karya adalah karya unik tak tergantikan, lukisan itu tidak akan berubah nilainya hanya karena belum ada orang yang menyukai atau menikmati keindahannya.

    Lagu penutup lagu yang dinyanyikan Amei berjudul 張惠妹譜曲〈原來你什麼都不要

    “Ternyata Kau Ikhlaskan Semuanya” 作詞:鄔裕康/作曲:郭子

    Terima kasih, sampai jumpa!

    15 min
  • Jurnal Maria Menikmati kesendirian 享受獨處

    2024-10-28Jurnal Maria Sukamto 瑪麗亞週記

    Apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.

    teman-teman Jmers pasti pernah makan di restoran, di depot, di warung bukan? Dan apakah Anda pernah makan sendirian di tempat-tempat penjualan makanan umum? Tampaknya di zaman sekarang, makan sendiri di sebuah restoran besar atau kecil sudah tidak menciptakan pemandangan aneh lagi. Apalagi sekarang banyak orang menuliskan me time di laman status media sosialnya. Atau mengatakan dengan sengaja, ia sedang menikmati me time nya. Yaitu waktu kesendiriannya. Tetapi beberapa tahun lalu kalau makan sendirian terutama makan daging bakar di restoran BBQ di Jepang ternyata akan mengundang ketidaknyaman, beberapa hari yang lalu saya membaca artikel dari seorang penulis yang menceritakan pengalaman buruknya beberapa waktu lalu ketika makan daging bakar di restoran sendirian.

     

    Ia mendapatkan perlakuan tidak enak. Ia bertanya “Apa kesalahan orang yang makan sendirian?” karena ia mendapatkan pandangan benci, penuh cemooh dari para pelayan restoran, meskipun ia tidak ditolak, dan tetap mengizinkannya makan sendirian, dan kebetulan ia adalah seorang YouTuber, maka ketika ia makan sambil menayangkan live di YouTube, dan para followernya juga turut senang melihatnya makan daging bakar, ketika ia berhenti makan sambil menunggu kudapan sebagai penutup mulut datang, ia pergi ke toilet, tetapi apa yang ia lihat ketika kembali ke tempat duduknya? Meja sudah bersih, barang seperti sebungkus rokok dan benda pribadinya yang tadi ditaruh di meja, ternyata dibuang pelayan resto ke tong sampah, sebagai tanda protes dan ketidaksenangan resto terhadap orang yang makan sendirian di restonya, seperti menyatakan kalau makan sendiri tidak wellcome di sana, dan sekaligus mengisyaratkan bahwa makan sendiri adalah hal yang dibenci masyarakat.

     

    Memang, sejak dulu saya sudah tahu keadaan ini di Jepang, tapi kemudian semakin bisa diterima, karena semakin banyak orang Jepang yang hidup sendirian, tanpa teman, jadi mana mungkin mereka bisa ada teman untuk makan bareng. Memang tahun-tahun belakangan ini, masyarakat Jepang mengalami perubahan dalam gaya hidup, semakin menonjolkan kesendirian, dari peralatan listrik juga sangat berdampak, misalnya mulai dijual mesin cuci piring untuk jatah 1-2 orang, karena biasanya mesin cuci piring itu paling minim untuk 9 orang, dan yang umum adalah kapasitas untuk 13-15 orang, kalau dari ukuran, yang paling minim lebar 45 cm, itupun tidak semua manufaktur membuatnya, dan semua menjual ukuran lebar 60 cm untuk kapasitas keluarga. Dan 5 tahun belakangan mulai muncul meskin cuci piring yang bisa ditaruh di atas meja dapur, ukuran kecil, yang bisa mencuci piring kapasitas 4-6 orang, dan bahkan sekarang di Jepang tahun lalu mulai dijual untuk 1-2 orang saja, jadi kecil mungil.

    Untuk oven sebenarnya sudah banyak yang berukuran kecil, demikian pula rice cooker untuk satu orang juga sudah mudah dibeli.

     

    Sekarang sudah zamannya Me Time, dan menjadi arus utama malah. Jadi kalau sekarang makan daging bakar sendiri di restoran BBQ, tidak lagi dicemooh dengan pandangan mata kebencian dari pelayan maupun konsumen lainnya. Sekarang kita bisa dengan leluasa dan tanpa banyak pikir untuk makan sendirian di restoran apa saja.

     

    Khusus untuk tema ini saya bertanya kepada beberapa teman dekat, misalnya seorang gadis kawula muda yang bekerja sebagai akuntan di sebuah perusahaan logistik mengatakan : Dulu saya punya persepsi kalau mau makan-makan di luar di restoran misalnya, harus ramai-ramai dengan banyak teman atau kerabat, dan ini baru namanya makan di restoran dan baru menyenangkan. Maka saya selalu mengajak 3-5 orang teman untuk mabar yaitu makan bareng, kalau mau bersenang-senang maka harus dinikmati bersama oleh banyak orang daripada dinikmati sendirian dan dengan banyak orang makan bersama, saya baru tidak merasa kesepian dan tidak takut. Tetapi, saya juga ingin menikmati waktu kesendirian Me Time kalau saya ingin menenangkan batin dan pikiran, tetapi ini hanya terjadi di rumah. Karena saya memang hidup sendirian, jadi selalu merasa kalau makan sendirian di luar kayaknya akan dipandang aneh oleh orang lain, sehingga saya tidak pernah makan sendirian di restoran.

    Hingga beberapa waktu belakangan ini, saya mulai menyadari kenikmati dari bepergian seorang diri, makan sendirian di luar, karena ternyata setelah saya memberanikan diri melakukannya, saya menemukan kenikmatannya, ternyata tidak ada sorotan mata aneh dari orang lain, ternyata kekhawatiran saya dulu tidak ada sama sekali, dan mulailah saya menyukai pengalaman melakukan kegiatan sendirian. Dan bahkan penuh nikmat.

    Malah dengan berwisata sendirian, saya malah bisa berkenalan dengan banyak orang. Mendapatkan kenalan baru aneka ragam.

     

    Lalu bagaimana dengan teman saya dari Macao ini yang sekarang sudah hidup mejanda dengan 2 orang putera yang sudah dewasa dan berdikari. Ia mengatakan ia sangat menikmati waktu Me Time, hatinya malah menjadi tenang dan santai kalau melakukan kegiatan sendirian, tidak ada kekangan, bisa melakukan apa saja mengikuti kata hati, tidak ada ganjalan atau mempertimbangkan perasaan orang lain, suka apa langsung dilakoni, tidak pernah menyesuaikan diri dengan keinginan orang lain. Pokoknya asyik sekali. Memang, teman saya ini hampir setiap hari berwisata di luar, ia bisa naik sepeda dari tempat tinggalnya di daerah Wenshan, hingga ke daerah Tamshui, menikmati suasana matahari terbenam, dan ia kalau capai, sepeda sewaan itu dikembalikan di sana, tidak perlu ditunggangi pulang ke tempat asal. Maka ia bisa pulang dengan naik MRT. Jadi kalau saya ingin mencari dia di Taipei, sering tidak bisa bertemu, karena ia pasti ada di sebuah tempat di Taiwan. Jadi kalau mau ngobrol harus janjian dulu. Begitu pula, kalau ia sedang rindu, ia akan datang ke kota saya. Kita makan dan ngopi bersama, bercerita sana sini. Dan barusan, ia menyelesaikan wisata jalan suci di Spanyol. Ia bilang, mahal sekali biaya tur ini mencapai US$9500,- tetapi itu adalah impiannya, jadi ia sekarang melakukan realisasi impian masa mudanya. Dan saat saya bercerita kepada teman-teman, ia sedang berada di Shanghai, menikmati hidangan vegan karena ia sedang menginap di airBnB dekat sebuah kuil.

     

    Berbeda dengan Lydia, teman satu ini, ia yang mengesankan sangat ramah dan baik hati, suka membantu orang, ternyata tidak menyukai makan sendirian atau sendirian saja. Ia merasa kalau ada makanan enak, maka harus berbagi dengan teman, karena berbagi barulah membahagiakan hatinya. Bagaikan hubungan suami istri, katanya karena sudah lama hidup bersama, maka gerak gerik kecil dari pasangan hidup kita sudah langsung memberikan isyarat kepada kita, dan kita sudah langsung tahu apa yang dipikirkannya, dan sudah menjadi sebuah ikatan batin yang tidak perlu kata-kata. Wow, tampaknya isu makan sendirian, bisa membuat perespon pertanyaan saya ini menjadi berpikir luas ke hubungan suami istri, memang Lydia sangat harmonis sekali dengan suaminya, mereka jarang melakukan kegiatan secara terpisah. Selalu berdua, kalau malam tidak bisa tidur, suaminya akan mengajaknya ke pantai, menantikan matahari terbit. Bahkan ada suatu kali, mereka yang tinggal di Taipei, sampai mencapai Alishan dan naik kereta ke puncak gunung, menyaksikan matahari terbit. Bayangkan berapa jam mereka harus mengendarai mobil di tengah malam. Katanya, ia sampai ketiduran sepanjang jalan. Padahal tadinya sudah janjian untuk nyetir gantian.  Begitu pula, suaminya yang juga supir bis umum, sering berwisata bersama keluarganya ke LN, misalnya ke AS, karena suaminya bisa menyetir bus, maka mereka menyewa mobil camping besar. Dan adalah suatu kenikmatan bepergian dengan mobil camping di Amerika yang luas dan berpemandangan indah.

     

    Bagaimana dengan wanita lajang Frances yang menjawab pertanyaan saya dengan langung mengatakan Saya sebagian besar selalu sendirian karena saya single tidak berpasangan, jadi saya merasa sangat nyaman kalau berwisata sendirian, karena tidak perlu menyesuaikan diri dengan orang lain, demikian pula kalau kita ingin makan makanan tertentu, langsung saja saya memastikan dan segera berangkat, tidak perlu mendapatkan persetujuan dari orang lain. Kalau kita punya pasangan, mungkin harus meminta persetujuannya, atau setidaknya berunding dulu dengannya apakah ia juga mau makan ke sana, mungkin ia sedang malas keluar, jadi menyebabkan kita tidak bisa keluar juga karena mempertimbangkan keadaan orang lain. Tapi kalau kita lajang, kita bisa berbuat apa dan kapan saja. Saya sangat menikmati kehidupan lajang ini. Memang Frances sangat menikmati hidup senggangnya, ia pandai mengatur waktunya. Ia mendaki gunung dengan teman yang berhobi sama. Ia bepergian ke LN dengan ayahnya dan ia bisa ke mana saja, sejauh itu kesukaannya. Ada suatu kali, ia berwisata ke LN dengan teman kantornya. Sepulang dari perjalanan panjang itu, ia bercerita kepada saya. Bahwa ia tidak pernah berpengalaman seperti itu, rasanya ia ingin pulang segera mengakhiri perjalanan itu. Dan ia merasa sangat tertekan karena harus mempertimbangkan pendapat teman yang berwisata bareng itu. Meskipun mereka tidak berselisih pendapat, tetapi baginya sangat tertekan kerena tidak bisa leluasa, karena mungkin teman itu punya pendapat lain jadi bisa batal keinginannya itu. Ia mengatakan, sangat berbeda sekali, pengalaman berwisata dengan anggota keluarga daripada dengan teman. Kalau dengan anggota keluarga, semua OK saja dengan rencananya. Tetapi kalau dengan teman, ia harus meminta pendapat dan persetujuan bersama baru bisa merealisasikan rencana tsb.

    Teman-teman mungkin bisa mengatakan, ini adalah dampak dari terlalu sering melakukan hal sendirian. Tetapi mengapa tidak?

     

    Lalu bagaimana dengan ibu satu ini, yang memberikan kesan kepada saya, ia adalah orang yang suka rame-rame. Ternyata ia suka sendirian, sekarang ia menikmati kesendiriannya karena anak anaknya sudah berdikari maka ia suka berdiam di rumah. Kalau sudah ia suka keluar karena untuk refreshing, tetapi skr sudah tidak perlu lagi.

     

    Apa saja yang bisa dilakukan sendirian saja? Makan di restoran, nonton sendirian, bahkan menurut statistik ada pula yang operasi sendirian di RS tanpa ditemani keluarga, ada yang merahasiakannya karena takut merepotkan. Ia tinggal menyewa pendamping dan suster saja untuk merawatnya di RS.

     

    15 min
  • Jurnal Maria 週記Bacabuku Kalau Kau Mau, Hidup akan Menjadi Berarti. 讀書會;你願意人生就會值得蔡康永的情商課3

    Bacabuku Kalau Kau Mau, Hidup akan Menjadi Berarti.

    讀書會;你願意人生就會值得蔡康永的情商課3

     

     Mari bacabuku kembali, baca buku menurut saya seperti membaca kehidupan seseorang. Tidakkah kita masing-masing adalah sebuah buku yang hidup, yang berubah-ubah isinya dengan berlalunya waktu? Semakin bertambah usia dan pengalaman kita, maka semakin tebal dan menarik buku kehidupan kita. Hari ini saya mengajak Anda mengenal Chai Kang Yong, seorang selebriti, seorang pembaca acara, seorang sutradara, seorang penulis, begitu banyak predikat profesinya, dan selama ini, saya seperti belum pernah mendengar Chai Kang Yong berbicara tidak pada tempatnya. Ia selalu dengan EQ tinggi mengatasi semua keadaan, selalu dengan jitu membuat situasi wawancara yang kering, menjadi hidup kembali. Membuat orang yang sulit diwawancarai, sulit omong, menjadi penuh humor dan banyak cerita. Itulah dia Chai Kang Yong. Seorang cowok yang sudah memasuki usia paruh baya dan menerbitkan banyak buku dengan tema bagaimana menjadi manusia ber EQ tinggi. Baru saja ia menerbitkan buku barunya berjudul

    Nama buku : 你願意,人生就會值得 Kalau Kau Mau, Hidup akan Menjadi Berarti.

     

    menurut saya isi buku kadang kalah menarik daripada tulisan penulis di halaman depan sebagai prakata, karena tulisannya itu adalah suara hati penulis yang mendekatkan pembaca dengan maksud buku yang akan kita baca. Kadang tulisan dua halaman telah memuaskan pembaca yang belum memulai membaca isi cerita buku. Kalau Anda membaca buku di lain waktu, coba saja mencoba baca surat pengantar penulis di halaman depan buku. Kebiasaan ini saya galang sejak saya sendiri mulai menulis.

     

    Surat prakata yang unik, dituliskan: Kapan kau tertawa karena hati merasa senang? Masih ingatkah kapan itu? Tapi kau tertawa senang bukan karena melihat ada orang terpeleset jatuh dengan posisi lucu, atau menonton film humor, dan juga bukan karena mendengar cerita lelucon teman, tetapi melainkan tertawa karena hati Anda senang? Tertawa bukan karena ada hal lain yang memicu kita untuk tertawa.

     

    Sudah berapa lama tidak terpikirkan, pekerjaan apa yang bisa membuat kita senang, apa yang kita lakukan bisa membuat hati kita senang, yang membuat kita sadar bahwa saat ini kita sedang menikmati hidup.

     

    Kalau saja Anda baru saja tertawa senang karena hal yang saya sebutkan tadi, dan Anda baru saja merasa yakin bahwa kehidupan Anda sekarang ini sangat berarti, maka saya mengucapkan selamat kepada Anda, karena Anda sudah berbuat baik terhadap diri sendiri.

     

    Kau tidak merasakan telah mencemooh diri sendiri, kau juga tidak melupakan hatimu sendiri.

     

    Seseorang hidup di atas dunia ini bukan tidak bisa bersandar pada orang lain saja, tetapi karena orang lain itu sering tidak bisa diandalkan.

    Saya merasa, mengelola keperluan diri sendiri, akan lebih andal dan patut kita lakukan. Banyak orang hidup penuh kesaratan, saya ingin mencarikan sebuah cara untuk Anda, dan juga untuk saya sendiri, sebuah cara yang lebih praktis, agar hidup lebih nyaman dan puas. Untuk itu saya menulis buku ini. Saya menulis, dan sambil menulis saya membacanya, dan saya merasakan, derap kehidupan seperti ini sangatlah memuaskan.

     

    Teman-teman Jmers, ini adalah prakata surat pengantar dari penulisnya, yang dari awal sudah mengatakan kepada kita, memberikan kabar kepada pembaca, bahwa hidup dengan nyaman itu adalah pilihan kita sendiri, janganlah kita tergantung pada orang lain, janganlah hidup melihat perubahan emosi orang lain, janganlah sampai orang lain senang, kita ikut senang, lalu kalau orang lain sedang marah, kita menjadi ketakutan.... jangan peduli pada perubahan emosi orang. Utamakan diri kita sendiri.

     

    Buku ini bermaksud untuk menyadarkan pembaca untuk lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri, mencintai diri sendiri, bagi penulis EQ bagaikan sinar mentari, angin semilir dan tetesan air embun. Sinar mentari mengartikan pengertian, menjadi tahu keberadaan diri sendiri yang sangat penting dari segalanya, dan angin semilir adalah sesuatu yang pas cocok untuk diri sendiri agar sosok diri kita yang tidak ada duanya di atas dunia ini hidup lebih santai dan nyaman. Buku yang berjudul 你願意,人生就會值得 Kalau Kau Mau, Hidup akan Menjadi Berarti. Mengupas EQ itu seperti tetesan air yang menumpuk satu persatu, dan bukanlah seperti air kran yang mengucur deras keluar. Legenda indah yang dalam cerita, memang bisa saja terjadi pada diri seseorang, tetapi cerita indah seperti itu sering ada banyak hal yang terselubung tak diketahui orang lain, dan yang diketahui orang luar hanyalah kesuksesannya saja yang seperti begitu mudah dicapai. Chai Kang Yong mengatakan dalam bukunya meniti selangkah demi selangkah, tambal sulam di sana sini, geser sedikit untuk mencari suatu ketepatan akan lebih praktis dan nyata. Maka mulailah dengan menolak tuntutan orang yang tidak logis, kurangi tuntutan yang berlebihan terhadap diri sendiri.

     

    Mari kita simak salah satu cuplikan isi buku: Kalau kau belum pernah melakukannya, maka kau tidak tahu apa rasanya. Tertawalah dulu, baru kita rasakan kebahagiaan. Kita pindahkan dulu barang berat itu, lalu barulah kita merasakan adanya suatu kekuatan tenaga. Kita hidup dengan sepenuh hati dulu, lalu baru kita mulai mencintai kehidupan kita ini. Ketika kita sedang menikmati pemandangan alam di tepi danau yang indah, tiba-tiba turun hujan. Beruntung sekali ada seorang mengulurkan tangannya yang berpayung, mengayomi diriku agar terhindari dari basah kuyub karena hujan. Dan ketika aku menoleh melihat siapa dia, ternyata ia adalah Bai Su Cen, tokoh cerita dalam Legenda Ular putih.

    Aku bertanya kepadanya “Mbok Bai, mengapa kau menjadi ujud manusia?”

    “Kang Yong, sebelum kau makan hot pot malak, apakah kau tahu bagaimana rasa dari kuliner hotpot malak?” mbok Bai kembali bertanya padaku. Aku berpikir sejenak, jangankan hotpot malak yang pedas, sebelum mencicipi apa itu tiram segar, aku tidak tahu bagaimana rasanya, sebelum mencoba telur pitan, aku juga tidak tahu rasanya, setiap makanan sebelum disantap, kita semua tidak tahu bagaimana rasanya. Aku tidak mungkin merekayasa bagaimana rasa hotpot malak, bagaimana rasa pedas itu, bagaimana rasa hotpotnya. Aku berkata “Mbok Bai, sebelum makan hotpot malak, tidak ada yang tahu bagaimana rasanya.”

    “Kang Yong, kalau aku tidak menjelma jadi manusia, bagaimana mungkin aku bisa tahu rasa jadi manusia.” Tukas mbok Bai lagi. Manusia itu suka kehidupan yang beralasan. Sebab dengan adanya alasan maka bisa melaksanakan tugas-tugasnya, untuk menjamin bisa hidup dengan baik terus. Tetapi binatang tidak akan berimajinasi hidupnya penuh logika alasan, karena sebenarnya tidak ada apa itu logika atau alasan. Tawon pekerja sejak dilahirkan sudah langsung bekerja terus, demikian pula siput yang berjalan dengan baik-baik, pun juga bisa mati diinjak gajah, maka bagaimana ada alasan dan logikanya. Tetapi manusia selalu butuh logika dan alasan, kalau tidak sulit untuk hidup damai bersama, dia bilang rumahmu ini milik dia, kau berkata suaminya adalah suamimu. Bagaimana mungkin bisa hidup bersama dengan baik kalau begitu, jadi jalan terbaik adalah mencoba cari alasan dan logikanya. Di antara semua alasan dan logika, yang paling disukai orang adalah “Karena begini, maka bisa begitu.” “Karena kau tidak rajin belajar, maka ujianmu mendapat angka nol.” “Karena kau tidak cinta aku, maka aku selingkuh.” Tentu saja logika dan alasan seperti ini tidak benar, ujian dapat angka nol tentu banyak penyebabnya, selingkuh juga kompleks penyebabnya, tetapi bodoh amat, mengeluarkan alasan adalah sebuah cara agar hidup lebih tenteram, hati ini baru bisa melanjutkan kehidupan. Tampaknya, perkataan mbok Bai itu lebih logis, kau belum pernah melakukannya, bagaimana mungkin tahu rasanya. Banyak orang suka mempercayai “Karena, maka” dan berharap EQ nya juga berjalan seiring derap langkah ini. “Karena di masa kecil ia mengalami hal itu, maka ketika dewasa ia selalu tidak bahagia.” Karena ia dibesarkan di keluarga single parent, maka ia sendiri tidak berani menikah. Karena sedih, maka menangis. Semua alasan “Karena, maka” itu sering ada yang sesungguhnya, tetapi banyak juga yang tidak.

    Emosi pasti akan mencetuskan tindakan, tapi sebaliknya, tindakan juga bisa menimbulkan emosi.

     

    Lakukanlah dulu, baru nanti merasakannya. Seperti, tertawa dulu, baru nanti merasakan kebahagiaannya. Aku dengar kabar ular putih mbok Bai kemudian kalah melawan ilmu sihir, ia dipaksa kembali ke kurunganya di pagoda Lei Feng, ia kemudian berhasil keluar karena ditolong puteranya lulus ujian kerajaan. Tapi mbok Bai sudah menang, karena ia menuruti kata hati, menjadi manusia, mencoba hubungan cinta dan pengkhianatan dalam dunia manusia, ia berjuang sampai mati demi cinta. Sehebat apapun kehidupan seseorang, ya hanya begitu saja. Masa mbok Bai dalam kurungan, tentu pernah menangis, dan juga tertawa, juga pernah berdesah. Karena ingin sukses, maka membulatkan tekad dan upaya dalam bekerja, ini adalah cerita wejangan yang klise. Karena sepenuh hati melakukan suatu hal, dan merasakan keberhasilannya, ini saya yakini. Kalau Kau Mau, Hidup akan Menjadi Berarti.

     

    Terima kasih telah bersama-sama saya di Jurnal Maria. Sampai jumpa.

       

       

    14 min
  • Jurnal Maria 週記 Usia Jelang Senja Seorang Pengacara 讀書會中年好秋

    Bacabuku Usia Jelang Senja Seorang Pengacara 讀書會中年好秋

    Bacabuku 讀書會

    Mari bacabuku kembali, Buku yang ditulis oleh seorang pengacara bernama Lu Chiu Yuan, dan 2 orang pengacara lainnya lagi. dengan judul buku: 中年好秋:人生如騎行,不論面對上坡或下坡,我們都要好好的把路走下去

    Menuliskan cerita kehidupan manusia yang memasuki usia paruh baya, mendorong para pembaca yang mungkin mulai siap-siap menjadi manula, pensiun, menerima kehidupan periode berikutnya, ia mengatakan kehidupan ini seperti bersepeda, baik sedang menanjak atau menuruni jalan yang curam, jadi ibarat nasib yang jatuh bangun, kita semua hendaknya melakoni sampai tuntas.

     

    Pernahkan Anda membaca sebuah buku yang ditulis oleh 3 serangkai tapi hubungan mereka sebenarnya adalah bos dan 2 karyawan. Perusahaannya adalah sebuah kantor pengacara. Di zaman sekarang, masih begitu kental tali persahabatan yang terjalin di sebuah medan kerja, dan citra bos malah menjadi sahabat, dewa penolong saat karyawan sedang galau. Nah.... ini buku cerita fiksi, melainkan kenyataan. Hubungan intim antar bos dengan karyawan, walaupun semua berprofesi sebagai pengacara, telah membuat citra dunia hukum yang kejam dan tidak bersahabat, menjadi nyaman dan hangat. Seperti yang ditulis mereka masing-masing dalam buku ini. Dan yang lebih menarik adalah, bagaimana mereka bisa tercetus ide menulis buku ini. Dan bagaimana perasaan mereka? Dan siapa mereka? Mari simak dalam acara baca buku baca kehidupan manusia ini.

     

    Pengacara sekaligus penulis buku ini yaitu Lu Chiu Yuan, mempunyai laman FB yang banyak fans, di mana mereka suka berkomentar atas artikel tentang kasus-kasus di laman FB, bahkan ada yang berkonsultasi langsung karena kasusnya mirip. Pengacara Lu selalu berurusan dengan masalah sulit yang sebagian besar tidak mau dihadapi secara langsung oleh masyarakat, sehingga ia suka menulis, yang ia pakai sebagai pelipur atas dirinya sendiri, dan sekaligus juga menjadi dorongan untuk netizen yang sedang dirundung masalah. Mereka ini terdiri dari usia 10 hingga 70 tahun lebih, dan ada yang menginboxnya untuk berkonsultasi hukum. Dan yang menarik adalah, fansnya tidak hanya sangat mempercayai pengetahuan hukumnya, juga malah sangat tergantung pada pengacara Lu yang dianggap seperti mentor psikologi, tempat curhat. Penulis Lu Chiu Yuan mengakui, walau ia kelihatan berwatak keras, tetapi hatinya lembut, ia tidak tega melihat orang menangis. Ia selalu menggaris bawahi “Ketegaran yang benar-benar, selalu terselubung dalam kelembutan.”

     

    Dan 2 penulis lainnya yaitu 曾學立Ceng Xue Lik dan 劉孟哲

    Liu Meng Ce kedua-duanya juga sama berprofesi pengacara seperti Lu Chiu Yuan. Menulis buku ini dikarenakan pengacara Lu Chiu Yuan merasa sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menyelesaikan urusan norang lain, hingga ia mencapai usia 50 tahun, ia merasa berada di sebuah persimpangan, ia ibaratkan inilah masa ia memasuki tahap usia yang matang, dan untuk itu ia harus mempertimbangkan rencana perjalanan hidupnya di masa yang akan datang. Gagasan ini bukan terjadi tiba-tiba saja, melainkan sudah terada di benaknya lama sekali, yaitu sejak ia mulai berpraktik sebagai pengacara, jadi sudah berapa lama ide tersebut dipikirkan. Lu Chiu Yuan mengatakan, ia sangat menyukai profesinya ini, karena ia bisa mengembangkan keakhliannya setiap hari. Tetapi tidak bisa dipungkiri, bidang pekerjaannya ini sangat kejam, nasib manusia selalu dipertaruhkan di meja pengadilan, dan bukan hanya semata, mengalahkan lawan saja di pengadilan, sebab faktor yang paling pelik yang dihadapi pengacara setiap hari adalah apakah kliennya berbohong, apakah akan mengkhianatinya. Pekerjaan sebagai pengacara adalah pekerjaan yang mengikis tenaga, meskipun berbakat, ada persiapan penuh, pun belum tentu bisa menerima proses dengan tenang, maka ia terkadang ingin melarikan diri dari kantor pengadilan di mana ia setiap hari bekerja bersidang demi kliennya. Ada sebuah kejutan bagi Lu yaitu dalam proses komunikasi dengan para kliennya, ia menyadari semua orang ternyata sama saja akan mempertanyakan kehidupanya sekarang ini, apakah benar-benar diinginkan, orang-orang baik dalam proses hubungan relasi suatu perkawinan, hubungan dengan anak dan orang tua, ketika mencapai sebuah tahap, semua akan menghadapi dilema, mempertanyakan kembali apa yang kita maui, dan ingin tahu apakah ada kesempatan lainnya lagi. Ada yang ingin menggapai sesuatu di saat ia mulai menua, ia ingin meraih sisa masa muda baik dengan uang, atau berselingkuh, semuanya adalah buah dari kebimbangan manusia. Lalu apakah kalau memang ada suatu jalan baru, pengacara Lu beranggapan ia akan berusaha menggembangkan hobi nya, agar bisa diteruskan dalam perjalanan masa tuanya. Dan kebetulan sekali ia menaruh minat untuk menjelajahi jalan tua yang menghubungkan Tokyo dengan Tokyo. Maka mereka bertiga yaitu ketiga pengarang buku ini bersama-sama menapaki jalan tua di Jepang ini. Bagi beberapa amatir, perjalanan ini sangat mudah, tetapi bagi saya kata pengacara Lu, ini mungkin adalah sebuah titik balik, yang menuntun diriku di persimpangan kebimbangan seorang paruh baya, untuk mengetahui kembali apa yang dilakukan di masa menjelang tuanya. Lalu bagaimana dengan 2 pengarang lain di buku ini曾學立

    Ceng Xue Lik dan 劉孟哲Liu Meng Ce yang merupakan pengacara di kantor Lu.

     

    Ceng Xue Lik bercerita, beberapa waktu lalu ketika aku pulang ke rumah ibu, beliau bercerita, aku di masa kecil sudah mahir bercerita, bakan bisa mengulas keseluruhan buku Sun Go Kong Si You Ci Penjelajahan ke Barat yang dipinjam dari perpustakaan, ibu tadinya berharap aku bisa berlomba cerita di Taman kanak-kanak, dengan bercerita tentang Sun Go Kong. Tetapi ternyata aku malah bercerita atas cerita karangan aku sendiri, yaitu cerita tentang seorang dewa menangkap manusia, separuh seluruh hadirin tidak mengerti akan ceritaku. Dan tampaknya sejak saat itu, aku beranggapan menceritakan apa yang aku pikirkan adalah sebuah hal yang privat sekali, dan aku terus dibayangi oleh kontradiksi semacam ini, aku dengan penuh kebimbangan menuntaskan naskah yang aku pertanggungjawabkan. Meskipun aku hanya menuliskan apa yang kami alami saat bersepeda menjelajahi jalan tua Kyoto ke Tokyo, tetapi sebenrnya aku sedang menuliskan isi hati, kadang karena tersentuh oleh sebuah nuansa di perjalanan, kadang karena berinteraksi dengan dua kawan perjalanan, sehingga membuat perjalanan ini seperti sebuah miniatur sebuah kehidupan. Sehingga banyak bab aku tulis seperti aku sedang menulis surat cinta untuk orang lain, kata-kata atau isi hati yang belum sempat atau sulit aku utarakan langsung di hari-hari biasa, termasuk ucapan terima kasih dan perhatian, yang paling banyak kutujukan adalah untuk Pak Lu walaupun aku tidak yakin apakah beliau membacanya tidak, dan juga kepada partner kerja ku Meng Ce, kolega lainnya, orang tuaku, pacarku dan nenekku walaupun nenek sudah tidak bisa membaca buku ini lagi. Kalau Pak Lu berharap melalui perjalanan kali ini bisa memberitahu kepada orang-orang sebayanya untuk segera merealisasikan impiannya, tapi bagiku, malah ingin berbagi dengan semua orang, perasaanku saat menjelajahi perjalanan ini, meskipun bukan menulis cerita fiksi, atau bercerita dewa menangkap manusia, tapi aku berharap pembaca menyukainya.

     

    Bagi penulis ketiga yaitu Liu Meng Ce, ia menuliskan tentang keberanian, persahabatan dan kepercayaan. Sebelum berangkat, aku sempat berkelakar dengan pak Lu, mengapa tidak kita bertiga menulis buku tentang perjalanan kali ini saja. Karena pak Lu yaitu bos saya dan Ceng Xue Lik sangat gemar menulis, sedangkan aku suka fotografi, maka mengapa tidak kalian berdua bertugas menulis naskahnya, dan aku bertugas menjadi fotografernya, di dunia hukum masih belum ada yang menerbitkan buku seperti ini lho. Perjalanan kami bertiga ini bisa dikupas dari banyak sisi, Anda bisa melihatnya dari visi seorang paruh baya sedang bertamasya, dan mendorong orang-orang sebayanya untuk berani melakukan tantangan hidup, bisa juga dari visi hubungan persaudaraan kental, saling bahu membahu saling percaya, dan juga bisa dari visi perjalanan sebuah tamasya, menikmati petualangan yang penuh risiko sepanjang perjalanan. Aku sudah lama mengenal Xue Lik, ia adalah orang yang suka fasien, yang modern, estetik, kuliner dan wine, ia adalah orang yang punya selera tinggi, tetapi ia juga suka membaca, ia juga punya sertifikat pramusuguh anggur atau Sommelier, ia tidak hanya tampil rapi juga mempunyai jiwa yang menarik. Xue lik adalah orang yang membimbingku ke jalan kemujuran, ia merekomendasikan diriku untuk bekerja di kantor pengacara, mengabdi kepada bos pak Lu ini. Xue Lik adalah orang yang patut dipercayai dan diandalkan. Dan bos pak Lu, aku sangat bahagia bisa bekerja di kantornya, selama beberapa tahun mengabdikan diri, adalah masa paling bahagia bagiku sejak terjun ke masyarakat. Perhatian yang penuh dari bos, seperti ketika aku membutuhkan bantuan, beliau segera tampil membantu, membuatku sangat nyaman di hati, aku kira inilah penyebabnya mengapa begitu banyak orang yang suka curhat kepada beliau dan memohon bantuannya. Semua aku dan Xue Lik ingin melakukan sesuatu sebagai hadiah ulang tahun ke 50 beliau, maka kami berdua mendampinginya menyelesaikan perjalanan ini, keberanian, persahabatan dan kepercayaan antara kami bertiga, semua tertuang dalam buku ini, aku harap para pembaca bisa turut berpetualang bersama kami melalui buku ini.

     

     

     

     

     

    15 min
  • Jurnal Maria - 2024-10-07Bacabuku Usia di luar prakiraan 讀書會超預期壽命

    Bacabuku Usia di luar prakiraan 讀書會超預期壽命

    Bacabuku 讀書會

    Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto 歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. hari ini saya berbagi cerita dari buku yang saya baca, judulnya adalah Outlive The Science And Art of Longevity

    2 buku dijual sekaligus, tidak boleh beli terpisah.

    Buku tentang bagaimana mengantisipasi, memperlambat dan memutarbalikkan penyakit kronis dan penuaan. Juga berisi tulisan ilmiah dan seni hidup berumur panjang, demi menciptakan hari-hari yang sehat.

     

    Buku yang super tebal karena terdiri dari dua buku.

     Dan, mari kita mengenal penulisnya yaitu Peter Attia dari tulisan di bab kata pengantar. Karena dari tulisan pengantarnya kita mengetahui seluk beluk kemunculan buku ini dan bagaimana perjuangan penulis yang juga seorang dokter akhli bedah dari RS kondang John Hopskin.

     

    Sebuah kalimat mengawali : Jangan menunggu telur sudah jatuh kita baru bertindak, dalam alam mimpiku, aku berusaha keras untuk meraih telur yang sedang jatuh itu.

     

    Aku berdiri di trotoar, sebuah kota besar yang kumuh seperti Baltimore. Tanganku membawa sebuah kerancang beralas kain, aku menengadah melihat ke atas. Setiap beberapa detik, akan ada sebuah telur jatuh dari atas, satu persatu jatuh ke arah diriku, aku bergegas lari mendekati berusaha menadah telur-telur itu dengan keranjangku. Telur-telur dengan penuh kecepatan menimpa diriku, sementara aku berusaha keras ingin meraihnya, tetapi aku sama sekali gagal. Ada beberapa dan pasti banyak juga yang berjatuhan ke atas tanah dan pecah, sepatu dan jubah bedah yang kupakai berlumuran kuning telur, aku berusaha untuk menghentikan semua ini. Dari mana datangnya telur-telur ini? Pasti ada orang yang melemparkan telur-telur ini dari balkon atau puncak gedung. Tetapi aku tidak melihatnya, lagipula aku tidak bisa melakukan begitu banyak hal, aku sama sekali tidak ada waktu untuk berpikir. Aku hanya bisa berupaya dengan gigih, untuk menadah lebih banyak telur yang berjatuhan, tetapi akibatnya malah semakin semrawut. Ketika aku menyadari, sebesar apapun perjuanganku untuk menadah telur-telur itu, tidak mungkin bisa menyelamatkan semua telur, perasaanku menjadi bercampur aduk. Aku menjadi tak berdaya.

     

    Lalu, aku pun terbangun dari mimpi, begitu pula tidurku kandas.

     

    Waktu berlalu 20 tahun, tetapi aku tidak bisa terlepas dari mimpi ini. Ketika aku menerima pelatihan menjadi dokter bedah kanker di RS John Hobskin, mimpi ini berkali-kali mengusikku di malam hari. Walaupun kadang aku merasa hampir gila dibuatnya, tetapi itu adalah salah satu masa terindah dalam hidupku. Bagi diriku dan kolegaku yang lain, bekerja nonstop selama 24 jam adalah hal lumrah. Maka aku mendambakan waktu untuk tidur, tetapi mimpi itu selalu menghancurkan waktu tidurku.

     

    Dokter bedah di RS John Hopskin adalah para dokter khusus untuk menangani penyakit berat seperti kanker pankreas, ini menandakan bahwa kami adalah satu-satunya penjaga gawang yang berdiri di antara pasien dan kematian. Kanker pankreas bertumbuh tanpa gejala, dan ketika ketahuan, biasanya sudah di fase terakhir. Kesempatan sembuh melalui operasi hanya 20-30% saja. Dan kami adalah harapan terakhir bagi pasien. Dan senjata yang kami pakai adalah pola terapi Whipple Procedure yang  merupakan pengangkatan bagian kepala pankreas dan usus 12 jari yaitu bagian depan dari usus kecil. Operasi seperti ini sangat sulit, berbahaya, di awal mula hampir tidak pernah berhasil. Meskipun demikian, dokter bedah selalu berupaya untuk mencobanya, kanker pankreas benar-benar membuat orang menjadi putus asa. Ketika sampai waktu aku menerima pelatihan ini, sudah ada 99% pasien yang pasca operasi bisa bertahan hidup sampai 30 hari. Teknik kami meraih telur semakin lihai.  Di masa-masa itu, aku membuat sebuah tekad, yaitu menjadi seorang dokter bedah kanker yang terbaik. Aku bekerja dengan sepenuh hati, barulah berhasil mencapai level seperti sekarang. Guru SMA ku bahkan orang tuaku, tidak terpikir kalau aku bisa masuk perguruan tinggi, jangankan lulus dari fakultas kedokteran Stanford. Tetapi aku menyadari diriku semakin runyam. Di satu sisi, aku menyukai kerumitan proses bedah seperti ini, setiap kami berhasil menunaikan operasi, aku merasa sangat damai dan bersyukur. Kami berhasil mengeluarkan tumor, dengan selamat menadah telur yang jatuh, setidaknya kami beranggapan demikian.

    Di sisi lain, aku mulai mempertanyakan makna suatu “keberhasilan”. Kenyataannya, hampir semua para pasien ini akan mati dalam waktu beberapa tahun mendatang. Tanpa bisa dihindari, telur-telur pasti akan jatuh ke tanah. Lalu apa yang sebenarnya yang kami capai? Ketika aku mulai menyadari bahwa semua ini adalah kosong belaka, aku menjadi frustrasi, sampai meninggalkan ilmu kedokteran, dan beralih ke profesi yang berbeda sama sekali. Namun, kemudian terjadi serangkaian peristiwa yang mengubah total pandanganku tentang kesehatan dan penyakit. Maka, aku pun kembali ke dunia kedokteran dengan bekal pola dan harapan baru. Karena apa? Semua ini berawal dari mimpi telur-telur yang berjatuhan. Pada hakekatnya, aku mulai menyadari bahwa cara satu-satunya untuk menyelesaikan masalah, bukan harus semakin lihai dalam menangkap telur yang jatuh, melainkan berusaha untuk mencegah orang itu melemparkan telur ke bawah. Kami harus berusaha naik ke atas gedung, mencari pelakunya.

     

    Meskipun dalam kehidupan sehari-hari, aku menyukai sekali pekerjaan ini, yaitu menjadi seorang petinju muda, dengan jab kiri yang dahyat. Tetapi dunia medis jauh lebih kompleks. Dan akhirnya aku menemukan bahwa kami membutuhkan visi yang total berbeda, menggunakan peralatan yang berbeda sama sekali, menerapkan pola yang berbeda sekali untuk menangani krisis. Telur-telur dalam mimpi penulis, adalah penyakit, dan buku ini mengajarkan kepada pembaca, kita jangan berusaha menyelamatkan telur yang berjatuhan, tetapi haruslah mengatasinya dari bagian ujung awalnya. Yaitu menangkap orang yang melempari telur. Artinya, kita membentuk badan dan hidup yang sehat daripada mengobati badan yang sakit.

     

    Peter Attia adalah pakar usia panjang lulusan fakultas kedokteran Univ. Stanford dan menerima pelatihan khusus untuk terapi kanker di RS kondang John Hopskin. Peter juga merupakan seorang petinju, perenang marathon, ia yang menganggap jantungnya sangat kuat dan sehat, di usia 36 tahun, ia mendapati dirinya mengalami penolakan insulin, dan ini mempunyai risiko mati muda karena penyakit jantung. Gejala penolakan insulin atas dirinya itu membuatnya mulai menjelajahi setapak usia panjang, ia meneliti bagaimana melakukan prefensi, memperlamat, bahkan memutarbalikkan penyakit kronis penuaan yang membawa kematian bagi banyak orang seperti : penyakit jantung, kanker, penyakit neurodegeneratif, diabetes tipe 2, dan disfungsi metabolisme. Penulis menyebut 4 penyakit penuaan kronis sebagai “4 Penunggang”, mengandalkan ilmu ilmiah kedokteran 3.0 dan nutrisi 3.0 terbaru, mengajukan 3 stragegi besar dan 5 taktik perang besar. Guna membantu para pembaca, tidak hanya bisa lebih panjang umur, tetapi akan lebih sehat jiwa dan raga yaitu secara badaniah, ilmu pengetahuan dan emosial semua tercakup. Buku ini seperti sebuah buku pedoman hidup sehat dan panjang umur, yang menantang visi ilmu kedokteran konvensional, dan juga menyuguhkan pola baru untuk mengantisipasi penyakit kronis dan memperpanjang usia dengan tubuh yang sehat.

     

    Seseorang dalam usia 50 tahun kalau lebih sehat dari orang yang berusaia 30 tahun, maka siapa yang lebih tua kalau begitu?

    Penyakit kronis tidak akan dimulai saat memasuki usia paruh baya, melainkan sejak berusia 20 tahun, 30 tahun, bahkan belasan tahun mungkin sudah dimulai. Meskipun hasil laporan chek up badan Anda selalu normal, dan Anda beranggapan pola hidup selalu sehat, mengasup makanan sehat, tetapi Anda tetap berkemungkinan tidak sehat, karena mencapai standar aman, bukan berarti Anda dalam kondisi prima, dan sama sekali tidak menjamin Anda terhindar dari penyakit. Ketika orang menua dengan cepat, tapi Anda semakin muda, karena Anda mengetahui terlebih dulu bahwa sehat itu bisa digalang, kita kelola baik-baik metabolisme hidup sehat, maka penyakit kronis dan penuaan bisa dihindari.

      

    15 min
  • Jurnal Maria 週記 Bacabuku 渺小一生 A Little Life II

    Bacabuku 讀書會 渺小一生 A Little Life II


    A Little Life
    作者:柳原漢雅(Hanya Yanagihara)

    Bacabuku 讀書會

    Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, Mari bacabuku kembali, masih ingatkah dua pekan lalu saya telah memperkenalkan episode pertama dari sebuah buku yang super tebal, ditulis oleh Hanya Yanagihara. Judul bukunya A little life, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa mandarin. Buku novel tentang kehidupan yang penuh suka dan duka.

     

    Banyak netizen mengatakan seumur hidupmu jangan lewatkan membaca buku novel yang ditulis warga AS Hanya Yanagihara keturunan Jepang pada Maret 2015. Mengapa? Dan bagi siapa saja? Itu adalah faktor penyangga viralnya buku ini dan mungkin kita terutama para Jmers sendiri juga ingin tahu. Tetapi mungkin juga jawabannya ada di buku ini dan perlu dikaji oleh masing-masing pembaca. Dan untuk yang satu ini saya tidak bisa memberikan kesimpulan pribadi.

     

    Nah, hari ini kita lanjutkan membaca buku ini. Seperti bagian di halaman 136.

     

    Di halaman 136 buku ini dituliskan  “Kita bisa menjalin hubungan yang paling dekat atau intim, tetapi apakah bisa tanpa perlu mengetahui masa lalu satu sama lain?” “Justru harus memanfaatkan saat masalah ini masih hangat, jika tidak selamanya tidak bisa didiskusikan. Saya pasti akan mengajarimu bagaimana caranya membicarakan hal ini, sebab semakin kau ulur-ulur waktunya, semakin lama akan semakin sulit kau buka pembicaraannya, dan hal-hal tersebut akan membusuk di dalam dasar hatimu, dan kau akan selalu menyalahkan diri sendiri. Tentu ini adalah tindakan yang tidak benar, tetapi kau akan terus berpikir ke arah itu.

     

    Banyak orang menangis membaca buku ini, buku A Little Life yang diterbitkan pada tahun 2015, ditulis oleh pengarang Hanya Yanagihara warga AS keturunan Jepang, buku ini adalah buku cerita panjang ke dua yang ditulisnya.

    nah mari kita Simak hasil dialog editor majalah Vogue Megan O’Grady dengan penulisnya Hanya Yanagihara, mereka memberitahu mengapa harus pernah membaca buku ini.

    Hanya Yanagihara dibesarkan di Hawaii, pada tahun 90 an ia kuliah di

    Smith College dan kemudian pindah ke New York.

    Ia mengatakan : Salah satu sisi dari kedewasaan adalah mencari orang yang mengerti diri kita. Persahabatan adalah salah satu hubungan relasi yang paling berharga, tetapi relasi ini jarang dipandang serius atau bahkan dirayakan, dan tidak pernah dirayakan dalam suatu pesta. Seperti teman akrab saya sendiri, saya tidak menikah, tidak punya anak. Saya menulis buku ini dikarenakan oleh keinginan saya untuk menghormati gaya hidup kita di zaman sekarang, ketika kehidupan sudah tidak lagi menuruti aturan main konvensional, maka akan berubah menjadi seperti apa?

    Seperti tokoh dalam buku Jude, tokoh tragis dalam buku yang sangat berkarisma ketika menjadi sorotan utama, cerita ini menjadi seperti selembar kain yang dicelup ke pewarna yang makin lama makin kelam warnanya, dan memberikan gambaran warna yang padat. Jude sebagai pengacara yang sangat bertalenta, bagi teman akrab nya, ia masih tetap seperti sebuah misteri, seperti halnya dengan penyebab mengapa ia pincang. Satu persatu misteri terkuak, membuat pembaca berdebar-debar.

    Salah satu nuansa lain, di mana Jude sangat sedih karena tidak sengaja memecahkan barang sangat berharga dari dosennya. Untuk itu dosennya memberikan secara kertas melipur kesedihannya. Kertas itu menuliskan “ Barang apapun kalau sudah rusak, kehidupan kita akan membimbing kta mencari suatu solusi untuk mengantisipasi kerugian itu, kadang bahkan dengan cara yang mengejutkan tapi menyenangkan.” Apakah frasa ini benar terjadi atas diri Jude, menjadi suatu sumber pahit tapi indah dalam cerita buku ini. Dan buku ini dengan lembut dan indah membantah tradisi budaya yang sudah ada. Dengan bertambahnya usia, hal-hal tentang isu rasial, gender, profesi atau pun uang, semua mulai pudar. Tapi masalahnya yang tertinggal itu apa saja?” apa titik maksimal dari swa-kreasi? Apakah sahabat akan menolong kita? Hanya Yanagihara memikirkan karakter tokoh bukunya sampai bertahun-tahun, dan hasilnya adalah munculnya sebuah ikatan keintiman persahabatan yang luar biasa. Sifat yang paling kentara ada pada tokoh JB, ambisi keseniannya telah menciptakan perilaku penghianat atas diri JB. Hanya Yanagihara mengakui ia telah mengabaikan beberapa kali hubungan percintaan, karena ia terlalu terobses pada status politik. Tetapi dengan bertambahnya usia, bagaimana kita mematokkan perbedaan atas diri kita, baik itu hal-hal tentang isu rasial, gender, profesi atau pun uang, semua benar-benar mulai pudar. Dan tinggal sebuah masalah, apa yang tersisa dalam dirimu? 

     

    Penulis wanita yang mulai mempunyai tempat dalam dunia sastra seperti Eleanor Catton dengan bukunya The Luminaries, dan juga Donnna Tartt dengan bukunya The Goldfinch, sempat merajai dunia penerbitan, dan begitu pula dengan penulis wanita dari buku ini, Hanya Yanagiraha di awal mula, diminta oleh penerbit mengurangi sepertiga dari isi bukunya yang dianggap terlalu tebal, tetapi ditolak. Hanya Yanagihara menyadarkan kita semua, tidak semua hal itu selalu harus begitu, dan tidak bisa didobrak, demikian pula bukan semua luka bisa sembuh. Ia mengutip frasa dari penulis sajak Louise Glück “Di masa kecil kita melihat dunia ini sekali saja, dan sisanya adalah memori.” Hanya Yanagihara mengatakan kita semua di masa kanak-kanak bisa bertahan hidup di atas dunia ini, dan sisanya hanya tinggal cara mengantisipasi saja.

     

    Cerita di Jurnal Maria 2 pekan lalu: Di mulai dari kisah 4 mahasiswa setelah lulus mengadu nasib ke New York, William yang tampan dan berhati baik berniat menjadi seorang aktor, sedangkan JB sang pelukis bersifat cerdik, terkadang kejam, berusaha keras untuk mendapatkan nama dalam dunia seni, lalu Malcolm yang sering ragu-raju bekerja di sebuah perusahaan bangunan yang ternama, dan tokoh utama dalam buku A Little Life yang bersifat pendiam, tertutup tapi sangat bertalenta yaitu Jude mempunyai citra penuh misteri. Ke 4 lulusan universitas ini tidak punya uang, menghadapi masa depan dengan penuh kebimbangan, mereka bertahan mengandalkan jalinan persahabatan dan juga ambisi sebagai cita-cita.

     

    Puluhan tahun berlalu sudah, ke 4 sahabat ini dari pemuda memasuki masa paruh baya, mereka sudah mempunyai status sosial dalam bidang masing-masing. Tetapi misteri tentang Jude masih belum terkuak, pada saat jalinan persahabatan ke 4 orang ini semakin stabil dan juga rentan, misteri ini mulai terkuak perlahan-lahan. Jude adalah orang yang paling berkarakter, bertalenta dari ke 4 sahabat, meskipun tidak ada yang tahu asal usulnya, dan mengapa ia pincang, masa lalu sebelum masa kuliah, sungguh sebuah kertas kosong, tidak ada yang tahu. Dan mulai terkuak secara jitu oleh tarian pena sang penulis.

     

    Tampaknya Jude selalu dirundung trauma dan pengalaman masa kecil, apa yang telah terjadi dan orang-orang yang muncul di masa lalunya telah memengaruhi karakternya, begitu pula bagaimana ia melihat dan berperan dalam dunia ini. Secara permukaan, Jude adalah seorang pengacara yang lihai, meskipun tampak damai sejahtera, tetapi setiap malam, ketika ia masuk ke kamar mandi, ia mengeluarkan kantung plastik yang direkatkan di dasar tabung air toilet, ia mengambil ke luar kapas, silet dan kapas beralkohol dan perban. Di antara perasaan terbius dan sakit, ia tidak pernah bercerita atau mendiskusikannya. Menyebabkan sahabatnya William, JB, Malcolm, dan pasangan Harold dan Julia yang kemudian mengadopsinya, juga termasuk dokter Andy semua tidak bisa berbuat apa-apa.

    “Kalau kau terbangun di tengah malam, dan ingin melukai diri sendiri, aku ingin kau ganti tindakan itu dengan menelpon aku, aku tidak peduli itu jam berapa, pokoknya kau harus menelpon ku ok?”

    “Maafkan, aku selalu ingin menceritakannya padamu suatu saat, akan kubeberkan semua, tetapi tidak berkesempatan, karena aku takut kau akan menutup diri dan tidak mau bicara denganku lagi.” Ketika awan hitam mulai menyelubunginya, ketika ia dikepung oleh binatang buas yang berdiam di benaknya, suara-suara negatif ini mulai menyerangnya, semakin ribut, semakin membuatnya tidak bisa keluar dari trauma masa lalu, walau ia bersikeras untuk menjadi orang yang lebih baik, lebih bersih, tetapi ia tidak bisa melawan itu semua. Dan hanya dengan menyakiti diri sendiri, ia baru merasa mendapatkan pengampunan, dan begitulah sayatan luka itu menjadi garis batas dan kendala antara Jude dengan sahabat karibnya. Apakah cinta itu bersyarat? Bagaimana baru bisa jadi orang yang patut dicintai?

    Di halaman 858 : “Ia berjanji kepada dirinya sendiri, setiap hari mencari sebuah alasan baru untuk hidup terus. Ada alasan yang begitu sepele, seperti aroma yang dia sukai, musik yang ia sukai, lukisan yang dia sukai, bangunan, opera dan buku-buku yang ia sukai, tempat yang ingin dikunjungi, baik itu kunjungan kesekian kali atau pertama kalinya. Ada alasan yang memang dipaksakan untuk menjadi tanggung jawab agar ia bisa tetap hidup terus. Karena William mengharapkannya hidup terus. Maka ia tetap hidup terus.

    A Little Life mungkin sesuai dengan pandangan Jude atas hidupnya, juga mungkin kehidupan kita semua, manusia itu begitu kecil, rentan, begitu disentuh bisa saja pecah, tetapi kehidupan itu tidak rentan, walau penuh suka duka,walau ketika hidup ini menghilang, menjadi debu, tetapi kalau mengetahui bahwa cinta itu sederhana, dan tidak lagi takut kehilangan.

    Buku ini sangat sarat dengan cinta kasih, tidak hanya merasakan persahabatan ke 4 tokoh itu, dewasa ini buku yang menceritakan persahabatan antara sesama lelaki tidak banyak, bahkan sedikit sekali. Itulah mungkin buku a Little Life menjadi viral dan disukai. Karena zaman sudah berubah....

     

    Terima kasih telah bersama-sama saya di Jurnal Maria. Sampai jumpa!

    15 min
  • Jurnal Maria 週記Bacabuku Huang Shan Liau讀書會 黃山料的書

    Bacabuku Huang Shan Liau讀書會 黃山料的書

     

    Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto 歡迎收聽瑪麗亞週記

    Mari bacabuku, saya membaca Anda mendengarkannya. Buku yang saya baca hari ini berjudul 《心很小 裝喜歡的事就好》 “Hati ini kecil, jadi cukup untuk menyimpan yang menyenangkan saja.” Sebenarnya, buku ini dijual bersamaan dengan buku lainnya, jadi kalau membeli sekaligus dua buku. Tetapi hari ini saya baca buku satu saja yaitu yang berjudul “Hati ini kecil, jadi cukup untuk menyimpan yang menyenangkan saja.”

    Beberapa pembaca memberikan komentar seperti ini setelah membaca buku Huang shan Liau: Saya sungguh kagum dan iri dengan kepiawaian gaya diksi Huang Shan Liau. Sebuah buku yang membahas hubungan antara anggota keluarga, bisa ditulis dengan diksi yang mengusik hati. Buku ini tidak hanya menjadi buku pelipur, juga sekaligus menjadi cacatan isi hati penulis, yang menautkan hati para pembacanya untuk terbenam dalam nuansa plot cerita.

    Pembaca yang sekaligus adalah seorang psikolog ini tergugah oleh sebuah frasa dalam buku ini: “Gaya hidup yang terbaik adalah seseorang bisa menikmati kesendiriannya dengan nyaman, dan lugas ketika berada dalam dunia kehidupan orang lain.” Nuansa hati seperti ini sangat didambakan orang banyak.

     

    Bagaimana isi cerita buku ini? Alur cerita kehidupan ini mengulas nasib seorang anak gadis bernama Xiao En, yang dibesarkan dalam keluarga yang pilih kasih, mementingkan anak laki-laki dan mengabaikan anak perempuan,. Xiao En bertumbuh dalam keluarga seperti ini, meskipun prestasinya di sekolah sangat bagus, ia tetap tidak memperoleh perhatian orang tuanya, betapa ia berupaya keras, tetap tidak pernah mendapatkan perhatian dari ayah dan ibunya.

     

    Sampai suatu hari, pabrik kimia yang dikelola keluarganya terbakar, dan kakak laki-laki nya tewas dalam ledakan kebakaran pabrik tsb. demikian pula, dalam sehari, usaha keluarganya hangus menjadi arang. Sejak saat itu, ayahnya meninggalkan rumah, tidak pernah pulang, sedangkan ibunya bergelut dengan gangguan mental bipolar. Setiap kali penyakit ibunya kambuh, ibunya akan menusuk nusuk punggung Xiao En dengan jarum, sambil menusuk sambil berkata “Kalau seandainya aku tidak melahirkanmu, alangkah baiknya.”

     

    Hingga Xiao En menginjak usia 18 tahun, di hari ulang tahunya ia meninggalkan rumah dengan hati kecewa, benci dan tidak rela. Ia bersekolah ke Taipei. Tetapi Xiao En tidak bisa menikmati masa kuliahnya dengan baik-baik, karena dalam hatinya selalu terngiang-ngiang tekad untuk mencari uang. Ia bercita-cita, kalau ia sudah mencapai tabungan uang yang cukup, maka akan diberikan kepada orang tuannya, membayar biaya menghidupinya selama 18 tahun. Ia bertekad asalkan ia melunasi biaya hidupnya itu, maka ia bisa memisahkan diri secara tuntas dengan keluarganya. Dan sejak saat pelunasan terjadi, maka mereka sudah saling tidak berutang lagi.

     

    Akhirnya, Xiao En setelah berjuang dengan gigih begitu lama, depot minuman yang dikelolanya semakin laris. Tetapi ia pun menyadari masalahnya, yaitu ia terlalu menginginkan perhatian dan pengakuan orang lain, sedangkan dalam hati kecilnya, ia sangat tidak percaya diri, dan ini menjadi kendala besar baginya menjalin hubungan relasi dengan orang lain. Ia tidak tahu harus bagaimana bergaul dengan orang lain, karena dalam hatinya ada sebuah lubang. Dan setiap ia menghadapi isu ini, punggungnya akan nyeri sakit. Luka di hati, semua diingat oleh tubuhnya. Setelah meninggalkan rumah selama 7 tahun, Xiao En akhirnya sudah mengumpulkan tabungan yang cukup, tetapi malang sekali, ibunya malah menyudahi hidupnya. Kepergian ibunya ini barulah membuat Xiao En berkesempatan mengenal kembali dirinya lagi, selama 7 tahun apa saja yang dialami orang tuanya dan bagaimana perasaan mereka. Ternyata, apa yang diduga selama ini, tidak sama dengan kenyataan, ketika ia berkesempatan untuk menjajaki lagi, maka ia kembali merasakan cinta kasih dalam keluarganya. Karena ternyata selama ini, semua anggota keluarganya hidup sengsara, tetapi masing-masing memilih sebuah cara terbaik untuk berhadapan sama sama lain.

     

    Buku ini seperti hendak mengisyaratkan kepada pembaca untuk menerima dan menyayangi orang-orang yang dekat dengan kita, tetapi dalam plot ceritanya, mengandung nilai penjajakan atas garis batas relasi antar manusia. Pada saat kita mendambakan hubungan intim yang akrab dengan orang lain, tetapi kita tidak ingin terikat oleh hubungan ini. Kita berharap bisa mendapatkan cinta kasih dari hubungan itu, dan bukan sesuatu hambatan yang menyesakkan hati. Maka bagaimana kita menimbang rasa, agar bisa tetap bebas dalam hubungan cinta kasih ini, kita harus pandai mengelola garis batas ini, kita menjaga baik-baik garis batas itu, sementara tidak lupa untuk menghormati garis batas orang lain pula. Tentu saja, untuk begini tidaklah mudah. Alias sulit.

     

    Antar sesama kita bisa saja saling berpelukan ketika kita meminta maaf atas kesalahan yang kita perbuat. Meskipun sudah klise, karena terlalu sering dilakukan setiap bersalah, tetapi tetap mempan cara ini. Karena kita saling menghargai dan memperhatikan satu sama lain, maka tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi dengan sebuah pelukan, kalau ada maka mari berpelukan sekali lagi. Buku ini mengatakan, kalau kita menekan perasaan kita untuk membahagiakan orang lain, maka ini adalah tindakan salah, merugikan, sebab kalau kita gagal menyenangkan orang lain, kita tidak punya siapa-siapa lagi. Kita kehilangan orang itu, juga diri kita sendiri.

    Maka kita menjadi diri kita sendiri adalah hal yang terbaik, sebab meskipun kita dibenci nantinya, paling tidak kita masih punya diri kita sendiri.

     

    Tidak kontak lagi, bukan tidak cinta lagi, melainkan kita saling menyadari, tidak lagi berjumpa, tidak ada lagi rasa sakit, dan ini adalah rasa cinta terbaik.

     

    Buku yang ditulis berdasarkan cerita sesungguhnya ini, melukiskan Xiao En yang dibully dalam ikatan kekeluargan, ia meninggalkan rumah dengan segerobak rasa sedih dan marah, dan dalam proses perjuangan hidup di perantauan, bermunculan hal-hal baik dan buruk, yang membuatnya bertumbuh dewasa tapi juga membunuh kehangatan hatinya. Dan sebelum ia ditelan oleh ambisi metropolitan, Xiao En berhsil menguak luka di hati nya, ia melihat sebuah rahasia yang terselubung dalam luka yang membusuk.

     

    Rasa sedih tidak patut dibanding-bandingkan, karena kau tidak pernah tahu, kenyamanan yang kau alami, mungkin adalah kesengsaraan bagi orang lain.

    Penulis mengatakan “Kita tidak perlu harus merasakan setiap hal, tidak perlu mempunyai reaksi atas setiap emosi, karena waktu kita tidak banyak, rasa lembut di hati juga sangat terbatas, maka berikan 10% kesedikitan itu untuk orang yang tepat, dan sisanya 90% untuk diri kita sendiri.

    Huang menggiring pembaca untuk menyadari potensi manusia, ketika bersedih jangan melupakan rasa bahagia, kita menengadah ke atas melihat langit ketika kita di titik nadir. Dan kita harus yakin bahwa hal yang buruk akan berlalu walau perlahan, dan yang baik sedang mendekati kita secara perlahan-lahan.

     

    Hati ini kecil, maka isilah dengan hal yang menyenangkan saja, dengan berbekal harapan dan tekad, maka kau akan melaju ke kehidupan yang lebih baik. Penulis menyapa pembaca di akhir cerita, sebagai penutup. Hai pembaca apa kabar, saya Huang Shan Liau. Terima kasih telah selesai membaca cerita Saya dan Xiao En. Kita memang tidak bisa memilih siapa saja yang akan kita temui dalam hidup ini, sebab itu takdir, tetapi kita bisa memilih orang yang bagaimana yang bisa berada dalam kehidupan kita. Banyak orang mengeluh hidup ini susah, mengecewakan, banyak kendala, tidak ada cinta, tetapi hidup kita tidak sepatutnya menunggu vonis orang lain, kitalah yang menentukan, kehidupan yang bagaimana yang kita butuhkan.

     

    Skenario kehidupan kita, bukanlah cerita bersambung dari orang tua kita, mereka bukan cerita jilid pertama kita, kita bukan pemeran pembantu, terlebih-lebih bukan figuran dalam lingkungan pertemanan. Sebab setiap orang adalah pemain utama dalam kehidupan masing-masing.

     

    15 min
  • Jurnal Maria 週記 Bacabuku 讀書會 渺小一生 A Little Life I

    Bacabuku 讀書會 渺小一生 A Little Life I

    《渺小一生》的童話世界,以及其中的美麗與哀愁

    渺小一生(上、下)

    A Little Life
    作者:柳原漢雅(Hanya Yanagihara)

    Bacabuku 讀書會

    Mari bacabuku kembali, sebuah buku yang super tebal, terbagi menjadi buku kesatu dan kedua ditulis oleh Hanya Yanagihara. Judul bukunya A little life, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa mandarin. Buku novel tentang kehidupan yang penuh suka dan duka.

    Buku ini unik sekali, ketika kita membuka lembaran kedua, terlihat sebuah judul dengan sebuah tempelan kertas notes berisikan pesan: “Hai, aku harap sampai detik ini kau lancar-lancar saja. Buku ini tebal sekali, menakutkan bukan, dan juga berat, tetapi kau kan sudah membaca sampai di lembaran ini, maka kau pasti bisa menyelesaikan baca buku ini. Dan hasilnya akan sangat memuaskan dan sungguh patut kau baca, saya jamin deh.”

     

    Banyak orang mengatakan seumur hidupmu jangan lewatkan membaca buku ini. Maka saya turuti dan saya baca. Ini adalah sebuah buku novel yang ditulis warga AS keturunan Jepang pada Maret 2015, penulisnya bernama Hanya Yanagihara.

    Sebetulnya buku ini tidak dipandang oleh penerbitnya, karena terlalu tebal mencapai 700 an halaman, dan setelah diterjemahkan ke mandarin malah tambah tebal mencapi 932 halaman. Hanya Yanagihara sendiri juga semula tidak menduga bukunya menjadi best seller. Tetapi siapa mengira, buku A Little Life kemudian diwartakan Washington Post sebagai buku best seller yang melejit di luar dugaan. Mengapa penulis dan penerbit tidak menaruh harapan terhadap buku ini, karena beberapa faktor, pertama karena bukan buku pertama dari penulis, dan penulisnya sudah tidak muda lagi, dan juga tidak mempunyai latar belakang pendidikan menulis secara akademisi tingkat pasca sarjana. Mereka memberikan waktu 6 pekan untuk hidup mati buku ini, dan lewat batas waktu ini, penulis dan penerbit akan lepas tangan dan tidak mempromosikan buku ini lagi, alias kandas. Jadi Hanya Yanagihara mengenang kembali perasaanya di masa lalu, ia dan penerbit berharap ada segelintir orang membaca bukunya, tidak terlalu banyak cukup 5000 buku saja semoga bisa terjual. Maka tidak ada promosi besar-besaran dan komentar media atas buku ini juga terbatas. Tetapi tidak diduga sama sekali, pembaca sendiri memperkenalkan buku ini, mereka merekomendasikan kepada masyarakat, maka toko buku pun juga memajang buku di tempat yang ideal agar terlihat pengunjung, apalagi buku ini menjadi sangat viral setelah ada yang mengedarkan buku ini di twitter. Jadi pembaca sendiri yang menyukai buku ini dan diviralnya di twitter. Dan lucu sekali, penulis buku Hanya Yanagihara hanya punya Instagram, sama sekali tidak punya twitter, dan malah Hanya Yanagihara mencanangkan bahwa akun Facebook dan Twitter atas namanya itu semua akun palsu.

     

    Tampaknya buku ini secara diam-diam memupuk energi sendiri, dan mendobrak segala rintangan dan menjadi best seller, luar biasa bukan? Pembaca sendiri yang memviralkan dan membuat buku ini menjadi best seller. Penulis dan penerbit sama sekali tidak menduganya. Karena mereka tidak menaruh harapan pada buku A Little Life ini. Komentar positif atas buku ini semakin banyak dan bergulir terus, dan resmi masuk ke barisan buku terlaris di Inggris.

     

    Mari kita membaca secuplik isi buku ini, mengapa begitu menarik pembaca sampai dipromosikan sendiri oleh pembaca di twitter.

    Diceritakan...... Ada 4 mahasiswa yang bertemanan akrab sekali, setelah lulus mereka mengadu nasib ke kota New York, tentu mereka mengalami banyak suka dan duka歐

     

    Dalam apartemen no. 11 hanya ada sebuah lemari pakaian, dan sebuah pintu kaca dorong yang menghubungkan ruangan ke teras kecil. Dari teras ini Willem melihat seorang lelaki di seberang sedang merokok, meskipun sekarang sudah memasuki bulan ke sepuluh, orang itu hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek saja. Willem melambaikan tangannya menyapa orang itu, tetapi tidak ada respon dari lelaki seberang.( Jude, William, JB, Malcolm.)

    Di dalam kamar tidur, Jude membuka dan menutup pintu lemari pakaian, pada saat ini Willem masuk ke kamar. “Hanya ada sebuah lemari pakaian saja.” Kata Jude. “Tidak mengapa.” Jawab Willem “Aku juga tidak punya barang untuk disimpan di sana.” “Aku juga.” Kedua nya saling melihat dan tersenyum. Manager apartemen masuk ke kamar melihat kedua calon penyewa ini. “Kami mau menyewanya.” Jude berkata kepada manager wanita itu. Tetapi ketika mereka kembali ke kantor manager apartemen, mereka diberitahu bahwa mereka tidak bisa menyewanya. “Kenapa tidak boleh?” tanya Jude. “Pendapatan kalian tidak cukup untuk melunasi uang sewa selama 6 bulan, lagipula pula deposito kalian terlalu sedikit.” Begitu jawab manager yang tiba-tiba berkata-kata dengan kalimat singkat. Rupanya ia sudah memeriksa kondisi kredibilitas dan akun bank mereka, dan terjawab sudah mengapa sejak awal manager merasakan ada keanehan dari diri 2 lelaki ini, yang hanya berusia 20 an, dan bukan berupa pasangan, tetapi ingin menyewa apartemen berkamar satu di jalan no. 25 yang sepi tapi mahal. “Apakah kalian ada orang yang bisa menjadi penjamin? Atasan? Atau orang tua?” “Orang tua kami sudah meninggal” jawab Willem dengan cepat. Manager dengan putus asa mengatakan “Kalau begitu saya sarankan kalian menurunkan persyaratan saja, dengan kondisi keuangan seperti ini, apartemen yang bagus tidak mungkin akan disewakan kepada kalian.” Manager kemudian berdiri dan dengan pandangan mata tegas melihat ke arah pintu.

     

    Willem dan dan Jude ketika menceritakan hal ini kepada Malcolm, diubah menjadi cerita lelucon : “Lantai apartemen itu penuh dengan kotoran tikus, dan lelaki di seberang rumah berpakai sedikit sekali, sampai hampir terlihat bagian tubuhnya yang terlarang, dan juga manager apartemen tidak senang karena naksir Willem tapi tidak digubris Willem.” “ Jadi kesimpulannya, siapa yang mau tinggal di apartemen jalan no.25 seperti itu.” Begitu tanya JB. Mereka sedang berada di sebuah restoran Vietnam di Chinatown, ini adalah tempat mereka berempat berkumpul makan malam sebulan dua kali. Restoran Vietnam itu tidak begitu nyaman, karena Pho nya terlalu manis, jus lemonnya seperti bau sabun, dan setiap usai makan di sana, salah satu diantara mereka berempat pasti ada seorang yang sakit, tetapi mereka tetap berlangganan berkumpul di sana. Mungkin karena sudah terbiasa atau terpaksa. Karena tarif menu di restoran vietnam itu murah sekali, dan porsinya besar, maka setengah porsi yang tidak habis dimakan bisa mereka bawa pulang untuk dimakan keesokan harinya, jadi irit sekali kalau makan di sana. Hanya saja Malcolm tidak pernah menghabiskan makanannya dan juga tidak pernah dibungkus sisanya, setiap ia sudah merasa kenyang, ia akan meletakkan piringnya yang sisa separuh ke tengah meja, dan dihabiskan oleh Willem dan JB yang selalu merasa kelaparan.

     

    Dengan sabar Willem menjelaskan “Kami tentu tidak mau tinggal di area persimpangan jalan no. 25.” “Tapi JB, kami sebenarnya juga tidak ada jalan lain lagi. Jangan lupa ya, kami kan tidak punya uang.” Malcolm menimpali “Aku heran, kenapa kalian tidak tinggal sana di tempat semula.” Saat ini ia meminggirkan jamur dan tahu ke sisi piring, walaupun menu ini selalu ia pesan setiap makan di sana, tahu dan jamur yang dimasak merah dengan saus pekat. Willem dan JB memelototi piring Malcolm, “Ya, tidak ada jalan lain sih.” Willem berkata “Kau lupa apa?” sebab selama 3 bulan ini ia sudah menjelaskan puluhan kali kepada Malcolm. “Kan pacar Meridith mau pindah masuk, jadi aku harus pindah keluar.” “Tapi kenapa kau yang harus pindah?” “Karena yang menandatangani surat kontrak sewa adalah Meridith!” jelas JB. “Oh” Malcom menjawab. Ia selalu lupa akan hal yang menurutnya tidak penting. Dan Malcolm juga tidak tersinggung ketika orang lain kesal atas kelupaannya. “Ohya,” sambil menyodorkan piring yang masih berisi jamur dan tahu ke tengah meja. “Tapi kau Jude” “Aku tidak mungkin selamanya tinggal di tempatmu Malcolm, ayah ibumu pasti akan mengusirku suatu saat.” “Orang tuaku menyukaimu.” “terima kasih atas kebaikanmu, tetapi kalau aku tidak cepat pindah, mereka akan menjadi tidak suka lagi padaku.” Malcolm adalah satu-satunya dari mereka berempat yang masih tinggal di rumah orang tua. Dan seperti yang sering dikatakan JB, kalau saja ia punya rumah seperti rumah orang tua Malcolm, ia juga pasti betah tinggal bersama orang tua. Sebenrnya rumah Malcolm tidak terlalu mewah, malah sudah tua, tidak begitu terawat, pernah suatu kali Willem hanya bersandar pada pagar tangga, tanganya tertusuk kayunya. Tetapi rumah itu besar sekali. Kakak perempuan Malcolm yang lebih tua 3 tahun darinya Flora baru saja pindah keluar dari ke lantai dasar rumahnya, itulah sebabnya Jude tinggal di rumah Malcolm, menjadi tempat tinggal sementaranya. Tapi suatu hari, orang tua Malcolm pasti akan menarik kembali basement tsb.

     

    Begitulah cuplikan cerita buku yang diviralkan pembaca, berisi cerita keseharian dari 4 mahasiswa yang bersahabat, sampai mereka lulus dan terjun ke dunia masyarakat.

    15 min
  • Jurnal Maria 週記RAW Taipei

    The Last Dance kalau Anda mendengar frasa ini, apa yang segera Anda terka dalam benak? Sebuah nama lagukah? Nama film kah? Dan mungkin tidak ada yang berhasil menebaknya bahwa itu nama menu makanan. Teman-teman pencinta JM hari ini saya akan mengajak Anda mengenal sosok Chef Andre Chiang, yang menamai menu babak terakhirnya sebagai The Last Dance.

     

    Dan satu lagi, sebuah kata RAW kalau dalam bahasa Inggris artinya mentah. Nah.... itu adalah nama restoran dari Chef Andre Chiang di Taipei. Restoran Raw adalah lanjutan dari restoran Andre yang dibukanya di Singapura. Yang juga menjadi langganan penghargaan Michelin. begitupun restoran Raw yang akan tutup selamanya pada tgl 31 Des 2024, juga meraih penghargaan Michelin bintang 2 sebelum tutup. Sungguh luar biasa bukan? Dan banyak yang bertanya-tanya dan menyayangkan, mengapa restoran ini dalam keadaan berpamor puncak ditutup? Tidak sayangkah? Sebenarnya restoran Andre di Singapura juga ditutup saat berada di puncak kegemilangannya, di mana setiap tahun mendapatkan penghargaan Michelin. Tampaknya filosofi hidup chef Andre Chiang adalah, puas dan berterima kasih kepada segala kesuksesannya, dan merasa itulah saat untuk mengundurkan diri dari arena restoran.

    Menu masakan yang disajikan setiap musim selalu berbeda, dan setiap menu akan dicomot selama-lamanya dari daftar bukan karena tidak laku, tidak ada pemesan, melainkan malah sebaliknya yaitu itu selalu merupakan menu paling disukai. Ia mengatakan, karena sudah sangat disukai, maka sudah saatnya tamat masa tugasnya. Dan memulai lagi dengan eksperimen menu baru. Jadi mungkin itu adalah salah satu kiat bisnisnya, agar semua yang terbaik menjadi kenangan indah dalam ingatan para langganan. Restoran ketika berada di puncak popularitas ditutup. Dan memulai sebuah perjalanan baru. Kali ini setelah dua kali membuka dan menutup restoran di Singapura dan Taipei, apakah akan ada restoran baru? Tampaknya teman-teman juga bisa membuat jawabannya. Apa ya debut barunya?

     

    Andre Chiang tidak akan mencomot nama Raw, dan lokasi restoran masih tetap di situ, hanya saja restoran itu diubah menjadi akademi kuliner, dan juga akan menerima pesanan khusus bagi langganan yang ingin makan private. Jadi semacam private kitchen. Mendapatkan jamuan khusus dengan menu khusus dari Chef Andre Chiang.

    Selama ini, Andre Chiang setelah balik dari Singapura, dan mengelola Raw, ia juga mengajar di sekolah kuliner di Taiwan. Dan seperti jawabannya dalam wawancara 15 tahun lalu, ketika ia ditanya, apakah suatu saat Raw juga mengalami nasib ditutup seperti restoran Andre di Singapura, Ia dengan tegas mengatakan, kemungkinan bisa terjadi saat saya memasuki usia 50 an. Dan tampaknya tahun ini terwujud apa yang dikatakannya, yaitu Raw ditutup total dan menu terakhirnya bernama The Last Dance.

     

    Menu bernama The Last Dance, klasik unik dan menawan. Karena Chef yang bekerja di dapur mempersiapkan makanan, bisa seperti seorang pelukis, bahan-bahan masakan seperti cat lukis, dan kanvasnya adalah wajan. Maka the last dance, menurut interpretasi saya pribadi adalah tarian terakhir bumbu dan bahan masakan untuk para langganan.

    Memasak adalah sebuah kenikmatan, di dapur saya merasa bahagia sekali. Ketika mengiris mencincang, menumis menggoreng, seperti sedang berdansa. Dengan irama yang berbeda-beda. Kalau Anda juga mempunyai rasa yang sama, maka hidangan Anda pasti sedap sekali.

    Kalau hati yang tukang masak sedang bahagia, maka masakan akan menjadi enak walau dalam keterbatasan bahan. Pengalaman ini pernah saya alami, ketika diminta memasak menu khusus untuk seorang tamu penting di sebuah asosiasi, saya hanya diberi informasi terbatas, yaitu tamunya diabetes, itu saja. Betapa bingung saat menerima tawaran itu, segera saya mempelajari bahan makanan yang cocok untuknya. Dan karena tidak mendapatkan informasi lengkap, saya mengira hanya memasak untuk 1 orang saja. Tapi ternyata sesampai di sana, saya harus memasak untuk 16 orang termasuk orang-orang pendampingnya. Waduh..... bagaimana ini? Tampaknya Tuhan memberkati, karena saat saya sedang memasak dengan bahan sederhana itu, saya berkata terus kepada makanan yang sedang saya masak, kalian harus enak ya.... ya semacam itulah.... ternyata, betul enak sekali. Dan saya merasa sangat terkejut dengan rasa hasil akhirnya. Jadi kalau Anda sedang marah-marah, jangan memasak ya. Nanti pasti tidak enak dan yang makan sakit perut.

     

    Siapa Andre Chiang, yang melemparkan pengumumkan seperti bom dalam rangka jumpa press Internasional 10 tahunnya restoran RAW, ia mengumumkan tgl 31 Des 2024, RAW akan tutup total. Dan ia akan bertransformasi membuka Culinary Academy, targetnya akan melahirkan 10-20 chef kaliber Michelin. Sungguh luar biasa bukan?

    Mengabdikan masa menjelang tua untuk generasi baru.

    André Chiang juga sekaligus mengundurkan diri ke belakang layar, tidak lagi menjadi chef restoran menggarap pesanan langganan. RAW mulai tahun depan bukan lagi sebuah restoran melainkan adalah akademi kuliner yang akan melahirkan chef kaliber michelin untuk Asia. Dalam wawancara Andre mengatakan, selama ini syarat mengikuti akademi kuliner di LN sangat tinggi, harus chef sebuah restoran besar, dan harus bisa berbahasa Inggirs setidaknya, dan ini menjadi kendala besar bagi para koki Taiwan yang mempunyai talenta tetapi bukan chef dan tidak bisa berbahasa asing. Maka Andre akan memperkenalkan informasi perkembangan dunia kuliner Internasional kepada para koki Taiwan, agar mereka tidak ketinggalan zaman dan bisa terus berkembang dan tahu akan dunia luar. Dalam 10 tahun restoran RAW dikelola, sudah meraih 7 kali michelin, di tahun pertama mendapatkan michelin bintang 1, lalu sejak 2019 setiap tahun mendapatkan michelin bintang 2, hingga tahun terakhir ini. Dan mulai tahun depan, dalam buku pedoman michelin star restoran tidak ada lagi nama RAW di sana. Dan RAW akan berkiprah menjadi akademi kuliner yang melahirkan chef kaliber michelin.

    Andre Chiang nama mandarinnya 中文:江振誠;拼音:Jiāng Zhènchéng dilahirkan pada tgl 27 April 1976, ia adalah chef Taiwan dan juga pemilik 5 restoran. Sebelum kembali ke Asia, Andre Chiang menjadi chef dari restoran perancis michelin bintang 3 Le Jardin Des Sens. Ia populer dengan kreasi menunya yang mengandung 8 elemen. Namanya

    "Octo-philosophy" 8 elemen. Ia kembali ke Asia, tapi tidak di Taiwan, pada 2017 ia membuka restoran Andre di Singapura menjadi restoran terbaik di Singapura dan terbaik no.2 se Asia. Restoran Andre nya juga meraih Michelin bintang 2.

    Andre Chiang dilahirkan di Taiwan, tetapi di masa remajanya ia menetap di Jepang dan belajar memasak dari sang ibu. Semula ia diharapkan akan mengelola bisnis keluarganya tetapi mengingat ambisinya sangat luas ingin mempelajari kuliner-kuliner lain negara, terutama saat itu ia ingin mempelajari masakan Perancis yang menurutnya sungguh sulit untuk dijangkau. Maka ia pindah ke Perancis dengan sebuah rencana jangka pendek saja di sana dan akan segera kembali ke Asia. Tetapi garisan nasibnya berbeda, ia bahkan menetap selama 15 tahun di Perancis, dan sulit dibayangkan bukan Andre yang tidak bisa bahasa Perancis akhirnya bisa menjadi Chef Le Jardin des Sens. Kesuksesan ini diraih setelah ia belajar selama 9 tahun, bayangkan ia bercerita mengupas kentang saja 2 tahun. Sungguh membutuhkan ketekunan luar biasa bagi seseorang untuk sukses. Beberapa restoran yang pernah ditempatinya adalah La Maison Troigros, L’Atelier de Joel Robuchon dan Restaurant Pierre Gagnaire. Talentanya mencuat kepermukaan ketika bertugas di Maia Luxury Resort in the Seychelles, yang mengizinkannya untuk berkreasi dan disitulah ia menemukan gaya masak ala Chef Andre. Dan terciptalah "Octo-philosophy" dalam mempersiapkan menunya, apa saja 8 elemen itu menurut Andre Chiang adalah :"pure/purity, salt, artisan, south, texture, uniqueness, memory dan terroir.

    Pure: menyuguhkan hidangan tanpa seasoning, bumbu penyedap, tetapi setiap bahan makanan dalam hidangannya berbaur secara natural menciptakan cita rasa aslinya yaitu pure.

    Restoran RAW dibuka pada 2014 di Taipei, dan beruntung sekali saya pernah makan sekali saja di sana. Beramai-ramai dengan teman kuliah dulu yang juga suka kuliner enak, susah sekali memesan reservasi di RAW, harus jauh-jauh hari dan bayar dulu. Dan berkat ketelatenan kami semua, maka saya bisa merasakan apa yang menjadi keunggulan RAW. Dan memang beda dengan menu restoran konvensional, penampakan selalu berbeda dengan rasa yang kita bayangkan. Sungguh sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Kami mendapatkan tempat duduk dekat dapur, kami melihat para chef muda dengan sigap mempersiapkan makanan. Dan entah kenapa tidak ada satu pun rasa tertinggal dalam memory. Saya tidak bisa mengingat-ngingat apa rasa hidangan itu ketika saya melihat foto yang saya ambil saat makan. Dan begitu pula teman lain yang pernah makan di RAW, mereka juga punya pengalaman yang sama dengan saya. Yaitu tidak ada rasa yang tertinggal. Tapi kepiawaian dalam berkreasi memang tidak ada yang menandinginya. Dan mungkin itulah target dari Michelin. Bukan enak gurih saja, mungkin juga kreativitas yang bukan ukuran talenta saya.

     

    Terima kasih telah bersama-sama saya. Sampai jumpa.

    15 min

About Jurnal Maria

From the publisher's feed

Dari mata Maria melihat: