
Sign up to save your podcasts
Or


Bacabuku 讀書會 深夜食堂台客故事 Shin’ya Shokudo Midnight diner
Mari bacabuku kembali, seingat saya, beberapa tahun lalu, saya sudah memperkenalkan serial manga Jepang Shin'ya Shokudō (深夜食堂, terj. har. "Midnight Diner" kalau terjemahan versi saya sendiri, akan cocok bernama Kedai Larut Malam), adalah serial manga Jepang yang ditulis dan diilustrasikan oleh Yarō Abe.
Bercerita tentang kedai, yang mulai buka sejak tengah malam, dengan berbagai cerita pelanggan yang eksentrik. Anda tentu sudah tidak asing lagi sehingga tidak usah terlalu banyak disebutkan lagi di jurnal. Buku komik jepang yang ditulis oleh Yaro Abe ini, yang sekaligus diilustrasikan oleh penulisnya sendiri, selalu ditunggu-tunggu penerbitannya oleh para fansnya. Saya pun juga mengoleksi beberapa buku di awal, kemudian semua berupa E-book. Walaupun lebih nikmat membaca komik dengan memegangi bukunya. Tetapi apa daya, rak buku sudah penuh. Dan mencoba hidup minimalis.
Dalam salah satu episode komiknya, yang nomor ke berapa saya lupa. Ada sebuah cerita, kedai larut malam nya dikunjungi oleh orang Taiwan. Mungkin Yaro Abe ingin mendekatkan dan menyenangkan pembacanya yang sebagian besar ada di Taiwan, dan juga memang kenyataannya banyak orang Taiwan berkunjung ke Jepang. Apalagi di masa lalu. Cerita dalam komik, seorang anak perempuan Taiwan masuk ke kedai untuk makan, dan dalam obrolan ternyata gadis itu datang mencari bapaknya. Dan kebetulan saat itu di kedai ada beberapa tamu langganan. Sehingga mereka mengobrol bersama dan mendengarkan kisah sang gadis Taiwan yang hendak mencari ayah Jepangnya. Dan kebetulan sekali, dari gambaran yang diberikan gadis Taiwan itu, maka sang ayah berada di dalam kedai malam itu. Tetapi sang ayah jepang ini tidak memperkenalkan dirinya dan tidak mau memberitahu bahwa ia kenal dengan ibunya.
Hari ini dalam jurnal saya ingin bercerita berangkat dari cerita komik anak gadis Taiwan mencari ayah ke Jepang.
Kedengarannya seperti lucu bukan, tetapi kalau ditelusuri sejarahnya, maka memang di zaman tahun 70 an, 80 an bahkan 90 an, banyak orang Taiwan bekerja di Jepang. Kalau sekarang, WNI juga banyak yang bekerja di Jepang bukan? Jadi WNI selain bekerja di Taiwan, mereka juga ada yang memilih ke Jepang, karena memang bayaran di Jepang pasti lebih tinggi dari bayaran yang diterima di Taiwan.
Dulu banyak wanita Taiwan bekerja di Jepang. Ada yang kena tipu, diminta bekerja di kantoran, tetapi sesampai di Jepang, ternyata ia harus bekerja di ginza atau klab malam menemari lelaki Jepang meminum arak. Dan ada pula yang sengaja bekerja seperti itu demi uang. Biasanya wanita Taiwan yang berangkat ke Jepang, disebabkan keluarga mereka membutuhkan uang, maka mau tak mau, mereka bekerja di Jepang. Saat itu, kondisi perekonomian Taiwan masih sangat terbelakang, sehingga lowongan kerja tidak banyak, apalagi kalau ingin mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat.
Jadi banyak yang bekerja di Jepang. Artis, penyanyi pun juga begitu. Seperti Teresa Teng juga pernah memupuk debutnya di sana. Dan Vivi Yang Ou Yang Fei Fei, bahkan menikah dengan orang Jepang dan menetap di sana. Memang ada yang secara terbuka, ada yang tertutup, bersembunyi dalam kegelapan malam Jepang.
Nah, anak gadis Taiwan yang mencari ayah ke Jepang ini, adalah anak hasil sang ibu yang waktu itu bekerja di Jepang dan berpacaran dengan orang Jepang yang bekerja di ginza di jalan kedai larut malam berada. Makanya sang anak gadis mencari ke jalan tsb. mengingat ibunya sudah meninggal, maka anak gadis hanya spekulasi saja dan tidak berharap menemukan sang ayah. Setelah sang anak gadis Taiwan itu meninggalkan kedai, barulah sang ayah itu bercerita kepada awak kedai, bahwa ibu anak gadis itu dulu bekerja di ginza tempat ia bekerja juga. Mereka berpacaran dan hidup bersama, tetapi entah apa sebabnya, wanita Taiwan itu tiba-tiba pulang ke Taiwan dan tidak kembali ke Jepang lagi. Sehingga mereka putus tidak ada berita kelanjutannya. Dan setelah 20 tahun berlalu, tiba-tiba ada anak gadis Taiwan yang mencari ayah di jalan tsb. tampaknya ibunya pulang karena mengandung dan memang tidak bersedia memberitahukan kepada ayah Jepangnya. Memang cerita-cerita yang berlangsung semalam saja dalam kedai larut malam singkat dan terkadang bersambung terus, dan menjadi kenikmatan dalam membacanya.
Cerita ini membuat saya teringat cerita seorang teman. Ibunya sudah pensiun dan balik ke Taiwan dari Jepang. Ternyata ibunya juga bekerja di Jepang, maka ia pun tinggal bersama nenek. Dan ibunya pulang setiap tahun dengan memberikan janji kosong kepada teman saya yang saya namai Yuri nama samaran. Yuri setiap tahun dengan penuh harap menantikan kepulangan ibu, yang selalu menjanjikan Yuri akan diajak ke Jepang. Bagi anak kecil, bisa ikut ibu adalah suatu anugerah. Tetapi mana mungkin sang ibu yang bekerja di ginza, bisa memelihara anak gadis. Tentu selalu memberikan janji kosong. Sampai Yuri menjadi dewasa dan lulus SMA ia nekad mendatangi ibunya di Jepang. Jadi tentu sang ibu sangat kaget dibuatnya. Mengingat Yuri sudah lulus SMA dan sudah menjadi gadis remaja yang cantik. Dan juga saat itu ibunya sudah cukup mapan, bekerja sama dengan orang Jepang membuka ginza sendiri. Jadi ibunya menjadi bos ginza. Oleh ibunya Yuri dibawa ke ginza setiap malam, ia disuruh belajar melayani tamu-tamu Jepang yang sudah setengah umur. Yuri tidak mau karena merasa jijik, ia sering dipegang oleh om om Jepang, dan ia pun pernah mencemooh pekerjaan ibunya itu, sampai ia ditampar. Ibunya memaksanya untuk bekerja di ginza menjadi wanita peneman minum. Yuri tidak mau. Dan ibunya mengancam, kalau kau bisa lulus ujian masuk perguruan tinggi di Jepang, maka kau boleh bebas tidak perlu bekerja di ginza.
Yuri teman saya itu melukiskan kepada saya perasaannya waktu itu. Ia belajar bahasa Jepang mati-matian. Karena kalau gagal ujian masuk, ia harus bekerja di ginza, dan ia tidak mau hidup seperti itu.
Syukurlah Yuri masih dicintai yang maha kuasa, ia tidak perlu bekerja di ginza. Ia diterima di perguruan tinggi Jepang. Bayangkan betapa gigihnya Yuri belajar bahasa Jepang.
Terus terang, saya yang mendengarkan cerita Yuri, menjadi keras debaran jantung saya. Karena bercampur aduk perasaan, pertama adalah saya shok, mengapa ada ibu kandung yang menyuruh putrinya bekerja menemani om om jepang minum di ginzanya. Menurut persepsi saya, ibu akan melarang anaknya muncul di ginza walau itu miliknya. Pasti ingin melindunginya dari tangan-tangan jahil. Tetapi kenapa malah sebaliknya, anak gadis lulusan SMA cantik dan ranum, malah disuruh bekerja di ginza. Hati ini menjadi menangis dibuatnya. Kalau saja Yuri putri saya, akan saya sayang sayang.
Sang ibu ini sangat dicintai Yuri, Yuri mengatakan seumur hidupnya sejak kecil ia selalu mendambakan cinta kasih ibu, ia mendambakan bisa hidup bersama ibunya. Maka ia pun sangat gembira ketika ibunya pensiun dan berencana pulang kembali ke Taiwan. Karena Otosang, yaitu suami Jepang ibunya juga meninggal dunia karena sakit.
Apakah cerita Yuri berakhir dengan kebahagiaan sekarang? Tampaknya tidak. Yuri sering curhat, ibunya yang ia ajak tinggal bersama di rumah, bersama suaminya yang sangat mencintai Yuri sehingga rela menerima kehadiran mertua perempuan di rumah mereka. Sebab kebiasaan di Taiwan, jarang ada menantu lelaki yang mau hidup serumah dengan mertua perempuan. Yuri yang haus cinta kasih ibu, merasa akan segera hidup dalam suasana kekeluargaan yang harmonis. Karena akhirnya impiannya terwujud. Ia bisa hidup bersama ibu setiap hari.
Tampaknya sang ibu karena mungkin sudah terbiasa hidup mandiri di Jepang. Menjadi agak aneh. Ia sama sekali tidak mau memasak sekali pun untuk putri dan menantunya yang sibuk bekerja di kantor. Biasanya orang tua akan memasak sesekali untuk anaknya itu sangat lumrah. Tetapi ibunya Yuri sangat berbeda. Ia menunggu Yuri dan suaminya pulang dengan membawakan makanan. Semalam apapun, ia tetap menunggu, tanpa pernah memasak untuk diri sendiri atau berbelanja ke pasar. Juga suka mengatur kehidupan Yuri dan suaminya, dan tampaknya suami Yuri dalam keadaan stres terus. Setelah keadaan ini berlangsung beberapa tahun, akhirnya suami Yuri jatuh sakit. Tumbuh tumor di dekat jantung. Dan setelah pontang panting berobat akhirnya diangat dan sekarang sudah sembuh kembali. Tetapi masalah ibu Yuri masih tetap mengganjal di situ.
Tidak ada orang yang bisa memberikan jalan keluar. Apakah Anda bisa?
林郁婷 Petinju Putri No.1 Taiwan Lin Yu-ting
Hari ini saya akan berbagi perasaan saya tentang suatu hal yang menjadi berita heboh di seluruh dunia, setidaknya dalam dunia olah raga olimpiade tinju putri. Kalau Anda rutin memantau siaran RTISI atau mengikuti laman FB atau IG RTISI, maka nama petinju putri Taiwan 林郁婷Lin Yu-ting sudah tidak asing lagi bagi Anda. Hari ini saya akan memperkenalkan siapa dia?
Semula, saya tidak begitu mengamati setiap atlit Taiwan yang bisa bertanding di pesta Olimpiade, biasanya saya hanya menunggu hasil final, yaitu siapa yang berhasil menang, dan kalau kalah, mengapa bisa kalah? Apalagi tinju, yang bukan olah raga yang saya sukai, sehingga tentu perhatian tidak besar. Malah perhatian terfokus pada pemain ganda putra bulu tangkis Taiwan yang meraih medali emas. Karena kedua pemain putra ini memang sudah cemerlang sejak beberapa tahun lalu.
Lalu petinju putri Taiwan yang bernama Lin Yu-Ting ini kemudian menyita semua perhatian saya, karena tiba-tiba penulis wanita Inggris bernama JK Rowling menyinggungnya dengan menuduh Lin adalah seorang lelaki, dan mengatakan tidak adil kalau lelaki berkedok wanita bertanding dengan petinju putri. Selain Lin ia juga menyinggung petinju putri negara lain. Ya..... jurnal hari ini bukan mencerca siapa-siapa tetapi mengajak teman-teman Jmers mengenal lebih dekat siapa petinju putri Taiwan Lin Yu-ting ini, dan mengapa ia begitu dibela mati-matian dan dicintai oleh warga Taiwan?
Kalau dikatakan seberapa heboh, maka sangat amat sangat heboh berita ini. Dari Lin belum bertanding sudah marak. Bahkan saya sempat terbawa juga, dengan hanya melihat foto yang dipasang media-media di seluruh dunia. Di mana Lin tampak seperti seorang cowok, berotot dan wajah tirus karena kurus, memang harus kurus karena dengan tinggi badan 175 cm ia harus bertahan pada berat badan 57 kg, agar bisa memenuhi syarat. Netizen ada yang mengatakan, ia itu kayak cowok, tapi sebenarnya bukan Lin sendirian yang seperti cowok, karena hampir semua atlit putri dari semua negara, tampil sangat maskulin, karena otot tubuh dan gemblengan berat.
Jadi adalah absrud kalau mengklaim seseorang dari bentuk luarnya saja. Kalau hendak begitu, maka banyak cowok di zaman sekarang yang feminin sekali. Bahkan banyak aktor muda yang gemulai sekali, tidak berotot kekar, malah lemah lembut, dan kalau memakai busana wanita mungkin tidak ada yang tahu kalau itu lelaki.
Di zaman sekarang, manusia bebas berbusana, di Taiwan sudah banyak cowok yang menggunakan make-up tipis, juga rutin melakukan facial perawatan wajah dan melakukan perawatan seperti seorang wanita melakukan perawatan. Jadi zaman sekarang, cowok juga sama, ingin cantik tampilannya. Dan malah tidak malu-malu memakai bedak, atau lipstik tipis. Dan mempertebal alis. Maka ada beberapa kosmetik sudah menyediakan kosmetik untuk pria juga.
Ciutan JK Rowling di tweeter membuat Lin Yu-ting menjadi tenar seketika, dan beruntung sekali, Lin karena hendak bertanding di olimpiade, maka ia menutup semua akun media sosialnya. Sehingga ia tidak tahu bahwa ia sudah menjadi gunjingan dunia. Sampai-sampai seorang youtuber Rusia yang bermukim di Taiwan, tidak tahan lagi juga ikut bersuara mendukung Lin. Ia mengatakan akun youtubenya sebenarnya tabu politik, tetapi kali ini ia harus bersuara demi nama baik Lin Yu-ting, ia memakai bahasa Inggris menjelaskan siapa Lin ini. Ternyata Lin Yu-ting yang mulai belajar tinju di usia 13 tahun, dengan masuk tim tinju di SMP nya. Menjadi satu-satunya pelajar putri yang belajar tinju. Nah.... Dalam sebuah wawancara ketika Lin dalam usia 13 tahunm ditanya mengapa memilih tinju. Karena sebagai seorang pelajar putri sangat jarang bisa memilih tinju yang bisa membuat kita babak beluk, setidaknya mimisan. Lin yang masih gadis kurus kecil itu mengatakan ia memilih olah raga tinju, karena ia ingin belajar menjadi kuat, agar bisa melindungi ibunya. Ia dengan terang-terangan mengatakan, ayahnya sering memukuli ibunya. Sehingga ia yang dibesarkan dalam keluarga KDRT merasa ia harus belajar tinju agar bisa melindungi sang ibu. Memilukan hati bukan? Anak gadis kecil yang seharusnya masih lugu dan menikmati masa kecil dan remajanya, sudah harus hidup tertekan karena KDRT. Anak mana yang tidak sayang kepada ibunya bukan? Maka masuk akal kalau ia bersitegas memilih tinju, walau sering babak belur. Sampai-sampai pelatihnya memberinya uang untuk membeli susu agar berbadan kuat.
Memang Lin Yu-ting kemudian tinggal bersama nenek dan pamannya. Mungkin ibunya sudah berpisah dan harus bekerja, sehingga tidak bisa mengurusinya dengan baik, maka dititipkan ke rumah nenek.
Kampung halaman Lin Yu-ting berada di Yingge distrik, sebuah daerah khusus terkenal dengan kerajinan porselin, Yingge adalah tempat yang saya sukai. Kalau hendak mencari poci atau kuali porselin atau tanah liat, atau ingin mencari pecah belah nyeni, saya pasti berkunjung ke Yingge. Harganya murah, dan bisa membeli langsung ke pengrajinnya. Dan ibu Lin Yu-ting adalah pekerja wanita membuat barang-barang porselin di sana.
Perjalanan meniti karier sebagai petinju putri cukup susah bagi Lin Yu-ting, karena di awal mula, pelatih tinju di SMP nya bernama Ceng Cejiang ogah menerima murid putri, di waktu itu Lin sangat mungil dan kelihatan pendiam tapi keras kepala. Karena ia diusir halus pun tetap berdiri terus di arena latihan tinju, tidak mau pergi. Pelatih Ceng berkata, ia merasa repot kalau ada 1 petinju putri dalam timnya, karena kalau bertanding ke kota lain, maka ia harus menyewa kamar khusus untuk Lin Yu-ting karena ia satu-satunya putri dari murid-murid putra di SMP nya. Tetapi tekad bulat Lin Yu-ting sangat kuat, ia lengket terus ke pelatih Ceng, dicomot pun tidak bisa. Seperti permen karet melengket terus.
Lin Yu-ting adalah sosok atlit yang berwelas asih, ia sangat perhatian kepada setiap orang. Saat menunggu pembagian medali, ia secara spontan membenahi kerah baju atlit di sampingnya, dan sama sekali tidak dendam kepada atlit tersebut yang menyindirnya di IG. Tampaknya Lin Yu-ting seperti pelatihnya, sama-sama berhati lapang dan baik. Mereka berdua tidak merasa marah karena dipertanyakan lelaki atau tidak, malah sang pelatih saat ditanya wartawan usai Lin Yu-ting meraih medali emas untuk tinju putri kelas 57 kg, apa kesannya terhadap kecaman JK Rowling yang viral, membangkitkan banyak prasangka dari seluruh dunia, bahkan yang tidak tahu menahu juga ikut-ikutan menghujat Lin. Seolah-olah Lin Yu-ting adalah seorang momok. Di luar dugaan, sang pelatih Ceng mengatakan ia mengambil kesempatan ini hendak berterima kasih kepada JK Rowling, karena dialah, Lin Yu-ting menjadi viral dan dikenal seluruh dunia. Benar-benar pengarang tukang sihir, berkat sihirannya maka Lin Yu-ting berhasil menang terus dan akhirnya meraih medali emas.
Lin Yu-ting sendiri juga cuek saja, ia mengatakan ia tidak bisa dan tidak mau mengubah penampilannya hanya menuruti kehendak netizen. Ia bilang, ia tidak mau berambut panjang, karena waktu untuk mengurusi rambut panjang sudah cukup buatnya untuk beristirahat karena setiap hari ia sibuk berlatih. Dan juga sejak jauh-jauh hari, ketika pada tahun 2023, ketika ia merah medali emas dalam Asian Games, ia sudah pernah mengatakan, msyarakat janganlah melecehkan perjuangan dia dan sang pelatih hanya karena mengurusi penampilannya yang seperti cowok. Ia mengatakan netizen punya hak bersuara, tetapi ia sendiri juga punya hak berpenampilan sesuai dengan kehendak hatinya.
Lin Yu-ting adalah anak gadis yang suka kuliner enak, ia bahkan di waktu senggangnya memperkenalkan kuliner enak di kampung halamannya. Yang ia santap sejak ia kecil. Sebuah depot puluhan tahun, tetap menjadi langganannya sampai sekarang.
Lin bercita-cita untuk terjun dalam dunia sosial, membantu aksi anti bully, membantu orang-orang yang dirundung. Mungkin ia sangat menghayati bagaimana perasaan orang yang dirundung dan ia tak berdaya. Dan tahun lalu, Lin sudah mengatakan targetnya adalah menutupi sebuah kekurangan dalam perjalanan hidupnya yaitu medali emas di pesta olimpiade tahun 2024. Dan tampaknya ia berhasil mencapai harapannya.
Seluruh netizen Taiwan selama 2-3 pekan lamannya berperang mulut di dunia maya, semua warga Taiwan baik di Taiwan maupun yang berada di LN semua kompak melawan semua suara negatif yang menyudutkan Lin Yu-ting.... ada netizen mengatakan dunia mungkin kaget, netizen dunia pasti tidak menduga bahwa kalau hendak merundung orang Taiwan tampaknya harus berpikir panjang dulu.
Terima kasih, sekian jurnal Maria Sukamto. Sampai jumpa.
Bacabuku讀書會人生難免會有傷 Swapulih Untuk Diri yang terbaik
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.
Masih ingatkah dengan buku di jurnal Maria pekan lalu, berjudul The Mountain is you, dan itu adalah salah satu buku yang direkomendasikan teman. Katanya bagus dan cocok untuk diceritakan kepada pendengar saya. Rupanya, teman-teman saya juga sangat antusias dengan isi acara saya, dan kalau ada buku bagus, mereka akan segera teringat pada saya dan mengirim judulnya. Ya, sejauh ini belum ada yang mengirim buku untuk saya. Hm, tidak juga karena sudah ada satu teman, teman grup baca buku beberapa tahun lalu. Ia selesai membaca, bukunya dihadiahkan ke saya. Atau ia meminjam buku ke perpustakaan, agar rumahnya tidak sarat dengan buku.
Berbicara tentang buku, terutama koleksi buku-buku yang semakin menumpuk dari tahun ke tahun, sudah ada sebagian yang saya sumbangkan, tetapi masih tetap saja ada banyak di rak dan sampai ada yang bertumpukkan di lantai, karena tidak muat. Dan di rak virtual, koleksi buku di perpustakaan elektronik saya sudah ada seratus lebih. Bayangkan kalau tidak ada e-book, maka bagaimana rupa studio baca saya. Sekarang pun sudah berantakan sekali. Penuh dengan buku-buku, tetapi bagi saya yang duduk mengamati mereka, mendapatkan semacam ketenangan hati, buku-buku itu adalah teman karib yang begitu setia menemani saya membaca, menulis, melulis, bahkan menonton video. Bahkan berdoa pun mereka ikut nimbrung dalam kebisuannya.
Nah, buku apa hari ini untuk teman-teman? Judulnya Manusia sulit untuk tidak terluka hatinya, tetapi ada 6 kiat untuk mengantisipasi. Atau bisa saya buatkan judul Indonesianya yaitu : Swapulih Untuk Diri yang terbaik. Nama penulisnya Huang Shuwen. Diterbitkan 4 tahun yang lalu, jadi bukan buku baru lagi tetapi isinya sangat bermanfaat bagi kita dengarkan. Beberapa tahun belakangan ini, semakin banyak buku-buku yang berbau psikolog bermunculan, mungkin masyarakat dunia semakin membutuhkan pedoman yang bisa memenuhi kekurangan batin mereka. Buku ini mengatakan, dalam kehidupan kita tak luput dari luka baru dan lawas, dan semua ini patut kita sadari, kita terima, kita lepaskan dan kita mengobati diri kita agar pulih. Setelah itu kita menjadi sosok yang lebih kuat lagi. Jadi setiap orang yang jiwa nya penuh luka lama dan baru, asalkan menemukan kiat dan keberanian untuk menjajakinya, maka kehidupan kita menjadi lebih cemerlang.
Bagaimana dengan teman-teman? Kalau bagi saya, pasti ada luka lama dan luka baru, dikatakan, kalau kita sering kehilangan arah, dan mudah putus asa, maka kita akan menjadi terpuruk. Karena luka-luka lama dan baru ini jika ditumpuk maka akan berdampak bagi jiwa kita, dan bahkan akan menyerempet orang-orang yang berada di sekitar yang kita cintai. Maka bagaimana caranya memutar balikkan fakta dari penderita menjadi orang yang mendapatkan berkah? Bagaimana kita swa healing untuk membentuk kepribadian baru? Maka mari kita melangkah maju melakukannya bersama-sama.
Cerita penulisnya juga sangat menarik, ia pada usia 20 tahun sudah mulai sering galau, kalut dan kedua faktor ini sering melandanya. Sehingga di masa kuliahnya ia harus berkonsultasi rutin ke seksi pembimbing yang disediakan sekolah, Huang Shuwen sang penulis kemudian menyadari bahwa kegalauan yang sering melandanya itu adalah ungkapan dari suara hatinya sendiri, hingga usia 35 tahun, ia mulai melepaskan belenggu berupa harapan orang lain atas dirinya, ia mulai mengejar impiannya, barulah rasa galau dan kalut menghilang dari kehidupannya. Begitu pula dengan penyakit kulit seperti alergi yang sudah diidapnya selama 30 tahun, juga menghilang karena ia mulai menggali keluar kasus yang membuatnya trauma di masa kecil, dan ia mengobati jiwanya dengan cara yang ditemukan sendiri. Jadi buku ini adalah rangkuman intisari pengalamannyaa dalam mengantisipasi trauma di masa lalu dan berhasil keluar menjadi sosok yang lebih kuat.
Buku ini selain memberitahu kepada pembaca, melalui gambar lukisannya bercerita akan pengalamannya. Juga telah membenahi beberapa kiat untuk mengantisipasi traumanya. Ada enam :
Ketika menghadapi pukulan atau ketidaknyamanan, berhentilah dan mencoba merenung.
Belajar menerima, kembali ke masa lalu ketika kita sedang bersedih, mengakui perasaan di saat itu, dan menerima bentuk asli dari kita sendiri.
Belajar melepaskan, kita keluarkan emosi yang kita pendam
Belajar menghapus, mengatur kembali konsep tentang kehidupan
Karena mengantisipasi trauma adalah tanggung jawab kita sendiri. Hendak kita memberikan dorongan dan instrospeksi terhadap diri sendiri. Kita belajar untuk menggambar momen saat itu, lalu kita hapus, mencoretnya.... merobeknya. Kita mencintai diri kita sendiri, dengan cara yang berbeda dari masa lalu, kita menyambut kehidupan ini. Kalau tidak bisa kita hapus, maka bagian itu untuk sementara kita simpan saja. Belajar memaafkan, bertobat, membersihkan batin kita dan melepaskan diri dari kungkungan emosi. Dan percaya bahwa semuanya akan ada solusi terbaik.
Berpikiran positif dan memulai hidup dengan skenario baru. Dan sewaktu-waktu kita mencatat untuk mengingatkan diri sendiri. Kita belajar bertanya kepada diri sendiri, melalui menggambar, mengamati dan meditasi, kita menunggu jawabannya. Berimajinasi kita akan segera menjadi baik, sinar imajinasi dan kata-kata positif dan kita yang sehat jiwa dan raga, menjadi sebuah motor mendorong perubahan dalam diri kita.
Buku ini sangat cocok untuk orang yang sudah siap menghealing dirinya sendiri. Untuk menjadi lebih baik. Semoga teman-teman menjadi lebih baik dengan bertemu dengan saya setiap pekan di acara ini. Salam sehat selalu
Bacabuku讀書會 你就是困住自己的那座山
Manusia itu unik sekali bukan? Pernahkah teman-teman merasa lucu melihat diri sendiri yang kadang mempunyai hobi aneh, atau tiba-tiba menyukai sesuatu yang lain dari biasanya, demikian pula selera baca buku, kadang bisa condong ke suatu tema, atau teman yang menyukai tema itu dulu, kemudian kita sendiri juga ikut tertarik. Jadi seperti kita bareng-bareng shopping di mall, kadang membeli baju kembar. Nah... penyebab saya membaca buku hari ini juga sama alasannya yaitu karena judulnya yang unik.
Bacabuku讀書會 你就是困住自己的那座山
Judul buku menarik bukan? The Mountain is you. Kau sendiri adalah gunung yang menghalang-halangi dirimu. Bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri ternyata yang menjadi penghalangnya.
Terkadang kita memang perlu membaca buku-buku sejenis ini, seperti istilah keren sekarang untuk healing jiwa kita. Dan otomatis raga akan menjadi segar kembali nantinya.
Buku berjudul The Mountain is you ditulis oleh Brianna Wiest, pengarang tulisan yang dibagikan di internet, ia memuat artikel bagaimana caranya healing dan mendapatkan pencerahan dari terapi ini di situs pribadinya. Buku ini sekarang sudah diterjemahkan ke 14 macam bahasa. Di buku ini penulis bertanya kepada pembaca:
Apa atau siapa yang membuat kamu begitu menderita?
Kata penulis, rasa takut tidak akan melindungi kita, berani bertindak yang akan menolong kita keluar dari rasa takut itu. Bagitu pula rasa galau hanya bisa diantisipasi dengan persiapan, terlalu banyak pertimbangan tidak akan menolong kita, justru penjajakan yang jelas baru bisa. Yang patut kau taklukkan bukan gunung yang jauh itu, melainkan dirimu sendiri. Keyakinanmu akan gaya hidup seperti apa yang ingin kau lalui, maka kau pasti akan membuat hidupnya menjadi seperti itu. Cara yang terbaik untuk mencintai diri sendiri adalah berhenti menerima kehidupan yang tidak memuaskan ini. Dan kalau sudah bisa melakukannya maka kau akan bisa menjawab pertanyaan di atas dengan cepat dan tegas yaitu di mana duduk masalahnya.
Buku ini mengatakan, kita sering menolak uluran perhatian orang lain, tetapi sebenarnya kau sangat berharap orang lain mencintai kita dan menerima kita. Seperti halnya, kita sebenarnya tidak mau mengasup makanan yang tidak sehat, tetapi malah setiap hari kita makan makanan yang memburukkan kesehatan. Sering rasa haus akan perhatian, dicukupi dengan kepuasan makan makanan yang tidak sehat. Begitu pula, bekerja berlebihan, sebenarnya kamu tidak butuh pengakuan dari cara ini. Kita pun sering menghamburkan uang beli ini dan itu, padahal kita tahu suka berbelanja tidaklah membuat kita lebih percaya diri. Seperti halnya kau masih terbenam dalam hubungan cinta yang sudah putus, kau terus memonitor keadaan mantan, karena putusnya hubungan ini menciptakan dampak yang sangat buruk bagimu, jauh lebih dahsyat dari yang kau bisa akui.
Kita mempelajari cara mengamati diri sendiri melalui kebiasaan yang paling berdampak self destruktif, untuk mengenal otak dan tubuh kita sendiri, guna mengembangkan kecerdasan emosional kita sendiri. Memanfaatkan tingkat kesadaran yang kita punyai untuk melepaskan dampak negatif akumulasi dari masa lalu, dan sekaligus mempelajari bagaimana menjadi sosok kita yang baru untuk hari kedepannya di mana kita berpotensi untuk membuka jalan baru yang cemerlang. Dan suatu saat nanti, gunung yang sempat menjadi penghadang di depan kita itu, akan terlempar jauh ke belakang kita, begitu jauh sampai tidak kelihatan mata kita lagi. Tetapi dalam proses mempelajari bagaimana mendaki gunung tersebut, kita akan menjadi sosok baru dan ini akan menyertai kita selamanya. Karena gunung yang menghadang dalam perjalanan hidup kita itu sebenarnya adalah hadiah dan bukan kendala.
Kedengarannya begitu mendalam dan kurang bisa dimengerti, sebenarnya apa kelebihan dari buku ini ?
Mengusir hal-hal yang tidak perlu agar kita mendapatkan sebuah jalan lancar yang terang di masa depan. Dan caranya bisa kita mulai dengan :
Membuat rencana, karena rancangan rencana yang kita buat bisa mengantisipasi masalah.
Kita mempertahankan sikap rendah diri, karena dunia ini bukan berputar mengitari kita saja.
Mencari bantuan, karena memang pada hakekatnya kita tidak semestinya tahu segala.
Kita menyadari bahwa kita tidak tahu hal itu, maka hentikan segera prasangka yang kita rekayasa.
Hentikan segera harapan bisa meramal masa depan, karena ini adalah hal yang absurd. Belajar bertanggung jawab atas apa yang terjadi dalam kehidupan kita, semuanya.
Belajar mengatasi emosi yang kompleks, agar kita menjadi lebih baik.
Lupakan apa yang telah terjadi, fokus pada bagaimana caranya memperbaikinya.
Utarakan masalah kita, karena kalau terus kita simpan dalam otak kita, akan bertambah runyam.
Jangan tergesa-gesa, karena kita tidak perlu sekarang juga menyelesaikan semua masalah.
Kita menganggap emosi yang keluar adalah sebuah sinyal, karena luka dalam hati kita perlu perhatian.
Kita belajar menghormati ketidaknyaman hati, sebab itu berarti ia sedang mengabari kita.
Bab pertama buku ini berjudul Kau Adalah Gunung Itu.
Orang yang menciptakan kendala terbesar dalam kehidupan kita, sebenarnya bukan orang lain, melainkan diri kita sendiri.
Kalau Anda sekarang dalam kondisi yang masih jauh dari keadaan yang Anda inginkan, dan ini berlangsung terus, dan Anda masih terus berupaya memperpendek jarak ini, tetapi selalu saja mendapatkan kontradiksi dari dalam diri, mengakibatkan Anda sangat terpukul, maka itu menandakan Anda setiap saat melakukan self destruktif.
Secara literasi, self destruktif frasa ini sering memberikan konotasi dianiaya. Mengibaratkan seperti hasil dari membenci diri, kurang percaya diri atau tidak ada semangat. Tetapi kenyataannya, self destruktif ini hanyalah sebuah penampakan dari kebutuhan tanpa sadar, kebutuhan seperti ini terpenuhi oleh perilaku self destruktif.
Kalau ingin mengatasinya, kita harus mengalami suatu proses penggalian ke dalam dasar hati. Kita harus menemukan kasus yang menyebabkan trauma, mengeluarkan emosi yang belum teratasi, dan sekaligus mencari sebuah cara yang lebih sehat untuk memenuhi kebutuhan kita, dan membangun citra baru kita, dan meningkatkan EQ kita dan berbagai kemampuan lainnya dan juga membangun beberapa prinsip baru. Tugas ini cukup sulit, tetapi merupakan sebuah PR wajib dalam perjalanan hidup setiap orang.
Bacabuku讀書會 回首一笑七十年Biografi Cheng Peipei
歌曲 : 再見 Goodbye 詞曲 張震嶽 滾石
Tgl 17 July 2024 yang lalu, mungkin bagi sebagian orang adalah hari berkabung, banyak orang sedih karena srikandi, seorang pendekar silat wanita bernama Cheng Peipei, idola banyak orang telah meninggalkan kita selama-lamanya. Nah teman teman hari ini saya mengajak Anda mengenalnya lebih dekat.
Hari ini kita baca buku kehidupan seorang aktris legendaris Cheng Peipei, ia adalah pendekar silat wanita yang disukai tua muda. Di usianya 70 tahun, ia menulis buku biografinya. Buku ini sudah lama saya koleksi, dan belakangan ini kembali saya buka dan baca lagi karena idola pendekar silat ini telah berpulang ke rumah Yang Maka Kuasa. Selamat jalan, selamat melanjutkan perjalanan baru lagi. Terima kasih telah menghibur kami dan beristirahatlah dengan tenang.
Rasa rindu jauh lebih melekat daripada rasa cinta. Begitulah sebuah kalimat yang muncul dalam salah satu film yang dimainkan oleh aktris Hongkong masa lalu Cheng Peipei.
Percaya atau tidak 信與不信
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga. Kalau ada rasa tidak sehat, hendaklah cepat-cepat berobat, jangan sampai ditunda-tunda ya.
Selama sepekan, masyarakat Taiwan dirundung rasa kepanasan, di mana-mana panas, tapi juga sering diguyur hujan dan petir, seperti ada pelampiasan rasa tidak senang dari alam semesta ini. Burung burung pun banyak yang basah kuyup dan cedera tak berdaya, menunggu uluran tangan manusia untuk membantunya pulih. Beruntung sekali di Taiwan adalah lembaga yang bisa menangani satwa liar yang tertimpa kemalangan. Tetapi kita sendiri kadang harus mengantarnya ke suatu tempat agar bisa diambil oleh petugasnya. Nah, bagaimana dengan manusia?
Tak bisa dipungkiri lagi, karena banyak video yang beredar, bahwa di Taiwan terutama di arena TMS banyak gelandangan, homeless, tingkat usia dari muda hingga tua dengan berbagai penyebab. Ada yang bangkrut perusahaannya, ada yang malu pulang, ada yang hilang ingatan sehingga tidak tahu pulang dan tidak tahu siapa namanya sendiri.
Nah, baru-baru ini ada sebuah cerita yang mengharukan, cerita seorang bapak tua yang dinilai setengah gila yang menjadi gelandangan di daerah Taoyuan. Selama 2 tahun ia menjadi gelandangan, dan ia sering berkata kepada kawan-kawan gelandangan dan juga kepada relawan yang sering mengunjungi mereka, bahwa ia punya tabungan berjangka sebanyak NT$.600.000. di bank kantor pos. Karena ia selalu bercerita demikian, maka dianggap angin lalu saja oleh orang yang mengenalnya. Karena siapa percaya. Lagipula ia sendiri tidak ada kartu indentitas sama sekali.
Tetapi ada seorang relawan mendengar kata-katanya itu dan masuk ke hati. Relawan tersebut mempercayai omongan bapak tua yang dianggap tidak waras. Relawan mengajak bapak tua itu mengurus kembali kartu identitasnya dan juga percaya bahwa ia punya tabungan di bank kantor pos, maka setelah punya KTP ia mengurus kembali buku tabungan di bank kantor pos, apa yang terjadi teman-teman?
Pak tua duduk lama sekali mengamati buku tabungannya, sang relawan pun juga menjadi ingin tahu, apakah benar pak tua punya tabungan 600 ribu seperti yang selalu diceritakan selama 2 tahun ini? Ternyata tertera nominal 1,8 juta dolar Taiwan bukan 600 ribu.
Beruntung sekali pak tua yang kehilangan memori, dalam 2 tahun ini kembali teringat akan namanya, sehingga memudahkan relawan menguruskan kartu identitasnya kembali di kantor pemerintahan. Termasuk membuat yang baru buku tabungannya di bank kantor pos.
Ternyata 2 tahun lalu, pak tua ini kehilangan tas yang berisi kartu identitas dan uang 600 ribu. Karena terpukul sekali oleh malapetaka ini, pak tua seketika menjadi linglung dan hilang ingatan. Menyebabkan ia tidak tahu siapa dirinya, dan tidak tahu di mana ia berada dan menjadi gelandangan berkeliaran di daerah stasiun Taoyuan.
Berkat rasa walas asih seorang relawan, maka pak tua tertolong menemukan keluarganya kembali, bahkan ia tidak perlu menjadi gelandangan lagi karena selain punya tabungan uang 1.8 juta dolar Taiwan, juga ternyata ia masih mempunyai seorang ayah yang berusia 86 tahun yang selalu menantikan kepulangan puteranya yang hilang selama 2 tahun ini. Alangkah mengharukan bukan?
Kita sering terpengaruh oleh persepsi umum, kalau gelandangan, maka omongannya pasti tidak bisa dipercaya, apa lagi orang tua yang dinilai gila tidak waras, mengarang saja cerita yang muluk-muluk. Kalau saja tidak muncul seorang relawan berhati malaikat seperti itu, yang mau mempercayai omongan pak tua dan bahkan rela menghabiskan waktu mengajaknya mengurus kartu identitasnya lagi. Maka pak tua itu akan mati dengan predikat gila yang berangan-angan punya uang di bank kantor pos. Maka mengapa tidak kita mencoba untuk mendengarkan kata-kata orang di sekitar kita, masukkan ke dalam hati. Setidaknya membantunya membuat kartu identitas, agar memudahkannya berobat atau melakukan sesuatu. Uluran tangan kita yang sebenarnya sepele saja bagi kita, mungkin bisa menjadi bantuan malaikat bagi orang yang sedang sengsara. Uluran tangan yang tidak membuat kita capai ini bisa memutarbalikkan nasib seseorang, mengapa tidak kita menjadi pemerhati yang sesungguhnya daripada hanya sekedar melakukan pekerjaan rutin seorang relawan yang hanya mendatangi dan menyapa basa basi setelah itu pulang dan meninggalkan orang-orang yang patut ditolong?
Cerita ini semoga menginspirasi teman-teman Jmers di mana saja.
Mata yang berharga 寶貴的眼睛
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.
Selamat sepekan, apa aja yang terjadi pada diri saya? Mungkin sebagian pendengar ingin tahu, seperti halnya saya sendiri, terkadang ingin sekali mengunjungi teman-teman, mengobrol, menyapa, terutama pendengar lama yang mendengar sejak ia di SMP hingga sekarang. Dan ada yang sudah tidak mendengarkan radio, tetapi menemukan saya di media sosial, bahkan mengkonfirmasi dengan bertanya Apakah ini Maria Sukamto dari RTI? Sungguh senang mendapatkan pesan seperti ini. Senang karena belum dilupakan, dan bahagia karena kita semua masih bertahan di bumi ini setelah mengalami begitu banyak hujan dan badai.
Namun sedih sekali jika ada berita duka, seperti Aloysius HM yang baru saja menghadap kepada Tuhan yang maha Kuasa. Beliau adalah seorang pendengar yang sangat lugu, setia. Meskipun tidak aktif di media sosial tetapi beliau berkomunikasi dengan surat. Menceritakan kehidupannya. Terima kasih kepada bapak Alyosius HM telah sempat menjadi pendengar kami, dan semoga sudah tenang dan damai di sisi Tuhan Allah.
Baiklah sekarang mari kita mendengarkan cerita dari sang penulis kita, ya siapa lagi kalau bukan saudara Rudy Hartono yang sudah semakin banyak predikatnya. Senang sekali mendapatkan emailnya yang mengartikan Rudy aktif lagi bercerita.... nah ada apa dengan Rudy belakangan ini. Yuk mari kita simak.
Surel Rudy kali ini berjudul MINUS 225
Hallo Kak Maria, apa kabar ? Semoga sehat selalu jiwa dan raya ya…
Lama sekali tidak menulis padahal banyak sekali yang akan diutarakan hehe.
Kali ini saya kirim dulu tulisan berjudul Minus 225, pasti pendengar akan penasaran kok tulisan bisa
berjudul Minus 225 ? Namanya juga ide yah ditulis aja sesantainya, sehepinya dan seikhlasnya haha.
Di usia 52 tahun adalah memasuki batas usia menuju penuaan karena usia pensiun rata-rata di
pekerjaan adalah 56 tahun. Walau di profesi tertentu akan pensiun di usia tertentu juga bisa sampai
70 tahun. Bahkan di Perusahaan tertentu juga mematok untuk profesi Sopir dan Satpam di usia 50
tahun, masih muda juga ya. Namanya aturan manusia yang buat ya mungkin dilihat dari
produktivitas kerja.
Lalu, apa hubungan dengan judul Minus 225 ya ?
Ya, di usiaku ini aku diberi kacamata minus 225. Tetapi ukuran itu terkendala di mataku,
penglihatanku menjadi dua. Untuk menulis cerita ini saja harus menggunakan mata satu alias
matanya jaja miharja di kuisnya “Apaaan tuh” mata satunya ditutup haha.
Menggunakan kacamata telah kulakoni sejak usia 40 tahun, saat itu aku membaca koran setiap pagi
yang tiba-tiba penglihatanku kabur. Pakai jurus simple saja pergi ke dokter mata dan minta
kacamata, karena keseharianku di depan computer ditambah lagi saat ini rutin melihat gadget.
Komplit deh! Zaman dulu computer diberi kaca antiradiasi, begitu pula si pemakai disediakan
kacamata anti radiasi juga. Namun kini sudah tidak ada lagi.
Di usia 40 tahun telah dimulai menggunakan kacamata minus 50, terus meningkat di posisi terakhir
di minus 175. Nah, di posisi minus 225 ini mata tak menerima kacamata itu dengan normal akhirnya
untuk bekerja terutama menulis atau bekerja di computer supaya focus menggunakan mata satu.
Begitu pula membalas whatsapp atau menonton youtube dan bermedia sosial dengan mata satu.
Sehingga mata mudah Lelah karena berat ke mata kanan yang digunakan.
Akhirnya kerjaku tidak focus dan tidak maksimal. Begitu juga bermedia sosial tidak maksimal.
Lalu, apa yang harus kulakukan ?
Ikhtiar. Lucunya aku telah pergi ke empat dokter mata untuk meyakinkan penglihatanku ini benar-
benar tidak normal haha. Setelah mata dicek kemudian diberi ukuran minus dan pergi ke optic mata.
Awalnya kupikir mata lagi menyesuaikan eh ternyata pandangan kembar atau menjadi dua tetap
terjadi. Aku pergi lagi ke dokter mata yang lain dicek dan ukuran minus berbeda sedikit tapi tetap
saja pandanganku tak focus. Kacamata diganti lagi untuk kedua kalinya.
Pertanyaan dokter cukup dua. Apakah aku menderita hipertensi kolesterol atau kencing manis gula
darah tinggi ? kujawab aku memiliki hipertensi atau kolesterol tinggi. Maka oleh dokter mata
disarankan untuk mengobati dulu hipertensi atau menurunkan kolesterol.
Wah ternyata penyakit di usia tua bertambah hehe.
Sekarang ikhtiar menurunkan kolesterol dengan berbagai cara. Minum obat dokter rutin. Dibarengi
dengan herbal. Ada yang cuka apel campur madu diminum dengan air hangat. Ada nenas. Ada jus
timun. Dan terpenting jaga pola makan, walaupun di hutan rada sulit yah aha.
Setelah ikhtiar, ya berdoa. Anggap ini adalah ujian dari Tuhan atas dosa-dosa masa lalu. Atas pola
hidup yang tak sehat, dan sebagainya. Diberi ujian penyakit harus lebih dekat lagi dengan Sang
Pencipta. Menganggap ujian ini tak sebanding dengan nikmat yang telah diberikan Tuhan.
Itu dulu kak Maria cerita untuk Jurnal Maria, acara favorit pendengar se Indonesia Raya.
Bagi pendengar yang masih sehat matanya agar sering cek Kesehatan mata, kata dokter setiap tahun
harus dicek menghindari penyakit mata seperti katarak, rabun, infeksi mata dan lain-lain.
Mari jaga diri sebelum sakit itu datang. Salam sehat.
Rudy Hartono
2024-07-15
Bacabuku讀書會把孩子種回來
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記, apa kabar para JM lovers para Jmers? Semoga sehat sejahtera selalu jiwa dan raga.
Mari baca buku lagi, hari ini judul bukunya juga menarik, belakangan ini saya suka tertarik pada judul yang wah. Seperti judul buku lalu Suami kenapa tidak mati-mati sih. Dan kali ini judul bukunya “Saya menanam kembali anak-anak” sebenarnya maksudnya adalah Saya mencurahkan perhatian berupa pendidikan kepada anak-anak. Jadi seperti kita menanam sebuah benih, karena benih itu akan bertumbuh berkat ketelatenan kita menjaganya agar tumbuh besar.
Buku ini ditulis oleh杜守正 Du Shou Jeng yang baru saja terbit pada 1 July 2024. Buku dengan judul unik itu adalah buku yang dipersembahkan untuk para remaja, untuk untuk semua orang, penulis menjadi guru bagi setiap orang, setiap anak dan juga kepada dirinya sendiri. Sebenarnya lika liku penulis juga sebuah cerita, sebuah film berjudul《魯冰花》Lu Bing Hua Bunga Lupinus atau Turmus, cerita film ini memberikan inspirasi kepada penulis, membuatnya membulatkan tekad untuk berkiprah dalam medan pendidikan, mengabdikan diri untuk anak-anak di daerah terpencil, daerah pedesaan yang sangat kurang akan materi pendidikan.
Penulis menjadi guru SD Shuiyuan水源國小 di kaki gunung 淡水大屯山Taduen Tamsui, anak-anak didiknya bagai benih yang unik bertumbuh sesuai dengan sifat dasar masing-masing. Mereka bertumbuh menjadi sosok yang menjadi ikon yang tak tertandingi, karena mereka adalah terbaik dan tidak ada duanya di atas dunia ini. Apa yang dikerjakan penulis, ia bersama-sama muridnya menggambar, bernyanyi, bersajak tentang kehidupan. Sebab penulis menyadari kita harus memulai dari menghayati alam, hubungan relasi dengan manusia, merasakan budaya dan semua penghayatan ini dituangkan ke dalam sanubari yang tergugah. Dan ini akan menjadi sumber nutrisi kehidupan seseorang dalam sepanjang hidupnya, dengan bekal seperti ini ia mengajak para muridnya mencari kembali identitas yang tersembunyi dalam hati masing-masing. Setiap orang setiap murid bertumbuh sesuatu dengan sifat asalnya. dan ini adalah seperti dogma. Dogma hati.
Mengapa menulis buku ini?
Mari kita santai sejenak mendengarkan sebuah lagu dari film yang menginspirasi penulis The Dull-ice flower 《魯冰花》演唱:原唱: 曾淑勤 作詞:姚謙 作曲:陳陽 編曲:陳揚
Dalam kesempatan menonton film gratis di kampus yang diputar setiap sabtu sore, penulis Tu Shou Jeng yang kuliah di Univ. Chengkung pada 1987, memanfaatkan hiburan dari sekolah. Asal menunjukkan kartu mahasiswa, semua bisa menonton gratis. Dan ia tergugah oleh film Bunga Lupinus ketika ia di tingkat 3, ia tergugah dan bertekad untuk mengajar di daerah pendesaan terpencil.
guru Kuo ditugaskan mengajar ketrampilan seni, khusus membentuk kader berbakat seni untuk berlomba dengan sekolah lagi. Ibu guru Kuo merasa Ku A Ming adalah seorang murid berbakat, maka ia menggemblengnya, tapi upayanya ini mendapatkan boikot dari guru-guru lainya, sehingga Ku A Ming tidak bisa mewakili sekolah bertanding dengan sekolah lain, melainkan anak kepala desa yang tidak berbakat seni diajukan untuk mewakili sekolah bertanding dengan sekolah lain. Ibu guru Kuo sangat marah dan meninggalkan SD tsb. sebelum meninggalkan desa perkebunan teh, ibu guru Kuo mengunjungi rumah Gu A Ming berpamitan. Dan membawa pulang sebuah lukisannya berjudul Ulat Tehh sebagai kenang-kenangan. Ibu guru mengirim karya Ku A Ming berjudul Ulat Teh ini untuk berkompetisi dengan anak-anak sedunia, dan terpilih sebagai pemenang medali emas dalam lomba melukis kategori anak-anak sedunia. Ibu guru Kuo dengan hati senang membawa piagam penghargaan ini ke desa Ku A Ming. Tetapi sangat disayangkan, Ku A Ming telah meninggal dunia akibat kekurangan gizi terlalu lama sehingga terjadi komplikasi peradangan hati.
Penulis masih teringat waktu itu Sabtu sore, ia menonton film Bunga Lupinus bersama seorang teman grup harmonika, penulis menonton sambil menangis sedih, air mata berlinangan, ia takut kepergok orang lain kalau ia sedang menangis, tapi ternyata orang yang duduk di pinggirnya juga menangis. Usai menonton film sedih ini, ia disongsong oleh udara cerah dengan sinar mentari senja yang indah, suasana kampus seperti biasanya, tetapi ada sesuatu yang lain dalam dirinya, ia seperti kena setrum saja, dengan diam-diam ia berjalan melintasi kampus.
Ku A Ming sambil mengemasi tas sekolah berkata dengan perlahan “Pak Guru, saya tidak terpilih bukan?” Guru Kuo tetap membisu, memunggunginya, tanpa menoleh sedikit pun, melanjutkan isapan rokoknya. Selang beberapa saat, Ku A Ming berkata lagi “Tak mengapa kok! Tahun lalu juga begitu hasilnya!” lalu ia mengangkat tas sekolahnya beranjak keluar kelas, saat itu langit sudah mulai gelap, hanya tinggal pak guru Kuo yang tetap membisu menatapi lukisannya.
Penulis belajar ilmu Managemen Teknik Industri, ini dalah bidang yang bermasa depan cemerlang kalau lulus terjun ke masyarakat. Maka banyak teman kelasnya sudah sukses kariernya bahkan sebelum lulus pun mereka sudah mulai cuan uang banyak dari pasar bursa sham.
2024-07-08
回應&恐懼Tanggapan dan Takut
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記,
Bagaimana kesan para Jm Lovers terhadap topik JM 1 July yang lalu? Bagi yang ingin mengetahui secara detail, Anda bisa ke pedoman acara di situs RTISI mendengarkan kembali ini acara 1 July. Maksud hati hanya ingin mengundang seorang aktris legendaris Brigitte Lin atau Lin Qing Shia berpidato dalam upacara wisuda di Univ. Tsing Hua Taiwan. Isi pidatonya menceritakan pengalaman hidupnya, bagaimana ia berjuang dalam dunia perfilman dan Brigitte ingin mendorong para lulusan yang akan segera terjun ke dunia masyarakat dengan berbagi cerita pengalaman hidup dan juga filsafat kebahagiaannya. Dan tak di sangka undangan berpidato di upacara wisuda mengundang reaksi keras dari netizen. Separuh sangat setuju dan separuh lagi mencacinya. Ada yang mengatakan, mana ada mahasiswa yang mengenalnya lagi, dan mengatakan pasti ada pihak yang lebih berhak daripada Brigitte Lin.
Memang di dunia ini pasti ada pro dan kontra. Lalu bagaimana reaksi dari Brigitte Lin? Tampaknya Brigitte yang setelah menikah pada tahun 1994, mulai mengundurkan diri dari dunia perfilman, tetapi sebelumnya ia sudah memerankan seratus lebih film, dan pernah meraih gelar aktris terbaik untuk festival film Asia periode ke 22. Dan menjadi aktris terbaik piala Golden Horse yang ke 27. Dan di tahun lalu 2023, ia mendapatkan anugerah penghargaan permanen dari Golden Horse ke 60. Brigitte yang sekarang lebih dikenal sebagai pengarang, di tahun 2023 mendapatkan gelar doktor honoris causa ilmu sosial dari Univ. Hongkong. Sehingga ia mengenakan kembali jubah doktornya ketika berpidato di hadapan para wisudawan wisudawati 15 Juni 2024 di univ Tsing Hua. Ia memberikan dorongan kepada para pelajar “Bahagiakanlah dirimu sendiri, sebelum membahagiakan orang lain.” Dan mendapatkan sambutan meriah dari para hadirin. Memang bagi Brigitte Lin yang sekarang sudah berusia 69 tahun, sudah tidak dikenali oleh para pelajar yang lulus hari itu, mereka berbeda usia 47 tahun. Betul kata netizen, siapa yang mengenalnya lagi, meskipun tahu namanya, tapi belum pernah menonton filmnya. Beda sekali dengan generasi kami.
Brigitte Lin menuliskan reaksinya setelah pidatonya membuat heboh. Ia mengatakan “Saya hanya memedulikan apakah para pelajar yang hadir saat itu menerima maksud hati saya, apakah isi pidato saya bisa memberikan sedikit inspirasi bagi mereka, apakah bisa memberikan dampak positif, dan ini lah tujuan saya yang paling utama. Yang saya pedulikan adalah apakah saya sudah mengoptimalkan upaya, apakah sudah berbuat yang terbaik, apakah membantu para pelajar, saya hanya ingin menyampaikan perasaan dari dasar lubuk hati, agar bisa memotivasi mereka. Hanya itu saja. Begitu reaksi singkat Brigitte yang dinilai ber EQ tinggi.
Pidato Seorang Aktris Brigitte Lin Lin Ching-Hsia 青霞演講 bahagiakan diri sendiri dulu sebelum membahagiakan orang lain.
Selamat datang di acara Jurnal Maria Sukamto歡迎收聽瑪麗亞週記,
Media Taiwan belakangan ini marak memuat berita tentang Aktris Brigitte Lin Lin Ching-Hsia 青霞. Ada yang bertanya siapa dia? Apa masih ada orang yang mengenalnya? Bahkan ada cemoohan atau pujian. Artis ini sudah hampir berusia 70 tahun. Bagi penggemar film atau cerita roman penulis Qiung Yau dan juga film-film yang mengangkat cerita dari novelnya seperti Chuang Wai, maka Anda pasti menjadi penggemar aktris Brigitte Lin. Ia mulai ditemukan pada usia 19 tahun, saat selesai tamat SMA. Ia ditemukan saat sedang berjalan-jalan dan terbukalah perjalanannya menjadi aktris dan memainkan 100 lebih film. Nah. Aktris yang kemudian bermukim di Hongkong karena menikah dengan konglomerat Hongkong ini tidak lagi bermain film, tetapi ia mengembangkan hobi melukis dan menulis, ia telah menerbitkan beberapa buku yang ditulis sendiri, Anda tentu heran mengapa menandaskan “ditulis sendiri”, karena banyak celebriti atau tokoh politik pun tidak menulis sendiri, ada orang yang menuliskannya. Tetapi Brigitte Lin, menulis sendiri, karena ia menjadi penulis, maka ia banyak membaca.... sampai tahun lalu 2023, tepatnya pada tgl 3 April 2023 ia mendapatkan penghargaan dari Hongkong Univ yaitu gelar doktor honoris causa Ilmu Sosial. Dan pada tgl 15 Juni 2024, Ia diundang National Tsing Hua University untuk menyampaikan pidato dalam acara wisuda di univ.
Mari kita menyimak isi pidatonya.
Kalau ingin membahagiakan orang lain, maka kita sendiri harus berbahagia terlebih dulu. Sekarang saya memberikan semua cinta dan rasa bahagia saya kepada kalian semua, karena kalian setiap individu adalah paling penting di atas dunia ini, semua mempunyai misi tersendiri dan Anda semua adalah yang paling istimewa tidak ada duanya.
Inilah satu satu isi pidatonya yang sangat mengharukan. Karena para pelajar yang baru lulus memang patut mendapatkan dorongan semangat seperti itu.
Brigitte Lin sudah melewati usia 6 dasawarsa, tapi tampak tambah bersemangat dan berjiwa muda. Menurut Lin, resepnya adalah belajar menerima ketidaksempurnaan, ia tidak lagi peduli dengan pandangan dan omongan orang lain.
Memang sebagai aktris, walaupun sudah pensiun, ia tetap menjadi sorotan. Menurutnya dulu ia tidak bisa tidak memedulikan omongan orang. Ia pasti terpengaruh. Tetapi ia sekarang sudah bisa menerima ketidaksempurnaan dan tidak lagi terpengaruh oleh omongan orang. Ia hidup menuruti kata hatinya.
Univ Tsing Hua mengundangnya untuk berpidato dalam upacara wisuda 15 Juni lalu. Ia berbagi filsafat hidupnya, ia sebenarnya takut berbicara di hadapan orang banyak, untuk mengatasinya ia belajar menerima kekurangan atas dirinya, ia menyadari bahwa di atas dunia ini tidak ada yang sempurna, setiap orang adalah yang paling penting, dan masing-masing mempunyai misi tersendiri di atas dunia, dan tidak ada duanya.
Mengapa saya bisa berdiri di sini? Karena saya ingin mengenakan sekali lagi baju wisuda doktor saya, karena saya ingin seperti kalian meramaikan upacara wisuda ini.
Anda sekalian pada hari ini tentu sangat bahagia, saya yakin kebahagiaan ini akan terpatri terus dalam hati sanubari.
Filsafat hidup saya adalah, kita sendiri harus berbahagia dulu, barulah kita bisa berbagi kebahagiaan dengan orang lain. Maka sekarang saya ingin berbagi cerita kebahagiaan hidup saya kepada kalin semua.
Usai lulus SMA saya gagal masuk perguruan tinggi, pada saat dirundung kebimbangan, kesempatan datang mengunjungi saya, karena saya mendapatkan kesempatan memainkan peranan utama dalam film Chuang Wai yang diangkat dari cerita novel penulis kenamaan Qiung Yau. Bayangkan saya yang ditemukan di jalan, dan kurus pemalu, ternyata diberi kesempatan untuk menjadi pemeran utama dari film Qiung Yau, bermimpi pun saya tidak pernah. Maka setiap hari saya dengan hati riang gembira ke tempat shooting film, dan dengan senang pulang ke rumah, bagaikan seekor burung yang penuh kebahagiaan, kadang para petugas sibuk mengemasi barang di lokasi shuting, saya masih mondar mandir di sana, belum rela pulang, karena saya dipenuhi oleh rasa bahagia, dan rasa bahagia itu sampai sekarang masih belum terlupakan.
Film Chuang Wai 「窗外」ketika diputar di Hongkong berhasil menerobos box office 650 ribu dolar HK, dan film pertama yang diputar di Taiwan 「雲飄飄」Yun Piao Piao mencetak box office sejuta dolar Taiwan, angka ini di masa 50 tahun lalu adalah nominal yang sangat besar sekali. Dan saya menjadi terkenal dalam sekejap.
Setelah menjadi terkenal, saya jadi rebutan untuk diwawancarai oleh media cetak dan televisi, acara promosi untuk film tidak pernah berhenti. Tiba-tiba, saya dari seorang siswi yang tak bernama, meloncat masuk ke dunia film yang sangat kompleks. Meskipun penulis Chang Ai Ling pernah mengatakan kalau mau populer harus lebih dini, tetapi kalau terlalu dini benar-benar tidak tertanggulangi arus ini.
Saya dalam usia seperti kalian sekarang ini, saya siang malam terbenam dalam pekerjaan shuting fil, setiap hari seperti berperang. Sampai-sampai berdiri pun saya bisa tertidur karena kecapaian.
Ketika saya ada waktu beristirahat, saya melihat seorang asing di depan kaca, saya melihat sebuah wajah yang sangat tidak bahagia. Banyak orang mengira saya sangat muda, cantik, terkenal, honor bermain film sangat tinggi, maka seharusnyalah berbahagia sekali, tetapi justru masa-masa itu saya sangat tidak percaya diri, malah saat paling minder.
Saya berkarakter keras, selalu ingin melakukan hal sebaik mungkin bahkan terbaik, tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya menjadi terbaik. Sehingga saya sangat penakut, minder, karena saya merasa saya kurang berpengetahuan, kurang bertalenta, tapi sebaliknya karena tuntutan pekerjaan, saya harus sering berhadapan dengan media dan berbicara dihadapan orang banyak. Di awal mula saya menjadi pemain film, saya mengharapkan saya ini bisu, sehingga tidak perlu diwawancarai. Karena shuting film Chuang Wai, maka kami sekeluarga pindah ke jalan Yongkang di Taipei, disebuah aparteman bertingkat 4, kami tinggal di lantai 2, sedangkan dosen 張佛千Chang Fo Chien tinggal di lantai 4. Saya memberanikan diri menekan bel pintu rumah beliau memohonnya mengajari saya bagaimana berbicara dengan baik, ia menghadiahi saya buku “Seni Berbicara”.
Dalam hidup saya, untuk pertama kali saya berjumpa dengan orang pintar seperti beliau. Memang sekarang saya sudah punya banyak kawan yang hebat hebat, seperti kepala sekolah dan istrinya, para doktor, para profesor, para penuling, seniman tokoh film. Di masa muda saya berangan-angan menjadi budayawan, dan sekarang saya sudah ada satu kaki menginjak dunia budaya, dan hal ini membuat saya sangat bangga. Sebenarnya saya adalah orang yang suka bekerja, sekeras apapun medan kerjanya tidaklah membuat saya takut, saya hanya takut berbicara, terutama berpidato, tapi sekarang saya sudah tidak begitu takut lagi, karena saya sudah menerima ketidaksempurnaan diri saya, dan malah menyadari bahwa di atas dunia ini tidak ada yang sempurna, asalkan kita sepenuh hati melakukannya, saya yakin orang lain akan memaafkan ketidaksempurnaan kita ini, dan akan menerim,=a kita. Kalian setuju bukan? Tanya Brigitte Lin kepada para hadirin.
20 tahun lalu saya mulai menulis, menuliskan pikiran saya, karena menulis maka saya banyak membaca, karena menulis maka saya mulai banyak mengamati dan memperhatikan orang-orang dan hal-hal di sekeling. Demikian pula ketika saya belajar melukis, saya mulai memperhatikan lekukan indah benda-benda di sekeliling, saya sendiri sering melihat pameran. Saya membuka panca indera saya untuk menyerap semua hal-hal yang menarik di alam ini, saya mulai memandang serius semua hal yang saya sukai. Maka saya belajar nyanyi opera, tidak usah harus sangat baik, itu pun saya sudah berani manggung. Saya menjajaki kenikmatan dalam proses belajar, saya bukan berperan menjadi Brigitte Lin untuk ditonton orang lain, melainkan saya menggali diri saya sendiri, melakukan apa yang saya sukai, kebahagiaan yang timbul dari lubuk hati sungguh sulit dilukiskan dengan kata-kata. Dalam waktu 3 tahun saya menerbitkan 2 buku, buku pertama「鏡前鏡後」 di depan dan di belakang kamera mendapatkan penghargaan dalam dunia sastra Hongkong. Dan buku kedua 「青霞小品」berisi tulisan pendek. Saya usai lulus SMA memang ingin masuk univ, semula mengira usai shuting Chuang wai, akan kembali ikut ujian. Tetapi begitu banyak film sampai seratus pun, saya belum terwujud impian ini. Beruntung sekali saya berperan sebagai mahasiswa beberapa kali dalam film, dan malah pernah jadi mahasiswi Univ Tsing Hua ini. Pada tahun 2023, univ Hongkong menganugerahkan gelar doktor honoris causa ilmu sosial kepada saya. Jika ibu saya bisa menyangsikannya alangkah baiknya, karena ibu saya sangat mengagumi orang-orang yang bertalenta.
Teman-teman, sekarang saya berikan cinta dan kebahagiaan saya kepada Anda sekalian. Karena kalian adalah satu-satunya yang paling penting dan bermisi di atas dunia ini. Saya harap kalian bisa menjadi yang terbaik, bersinar mencerahkan diri sendiri dan orang lain. Saya doakan impian kalian segera terwujud. Dan menjadi orang yang bahagia, dan bisa menyebarkan benih kebahagiaan kepada orang lain. Agar dunia menjadi indah karena kalian. Selamat dan terima kasih!
From the publisher's feed
Dari mata Maria melihat:
Serba Serbi Kehidupan, Baca Buku, Seni Budaya, Q&A