
Sign up to save your podcasts
Or


Pekerjaan tampaknya sudah menyita diriku terlalu jauh. Di waktu kosong seperti ini saja, aku masih memikirkan pekerjaan. Aku jadi lupa membersihkan sampah yang berserakan di lantai. Aku jadi lupa memasukkan baju ke lemari, padahal sudah rapi terlipat dari beberapa hari lalu. Ini adalah waktunya untuk aku mengurai, apakah yang kulakukan ini benar-benar sehat untukku?
Aku cuma ingin bilang: tidak ada yang salah dengan berpura-pura baik-baik saja di hadapan orang lain. Aku tau, kamu melakukannya dengan alasan yang jelas. Kamu pasti punya alasan kenapa luka-luka itu belum juga mengering. Dan, kalau kamu tidak mengetahui alasannya, tidak apa-apa juga. Kita masih punya waktu untuk menyadarinya. Ke mana pun itu, semoga kita mengarah pada tujuan yang baik, ya.
Aku merasa hidup menuntutku untuk terus bergerak. Tak peduli ia membawaku pada ketinggian yang sunyi, atau ke jurang penyesalan yang dalam. Yang pasti kuketahui, aku tak bisa diam di tempat. Bagai mesin, kini tiap usaha diukur dengan deadline dan waktu dipadankan dengan timeline.
Napas kita masih berembus, jantung ini masih berdegup. Setiap kita sedang belajar untuk menjadi manusia yang paling manusia. Ialah perjalanan yang amat panjang. Berhenti menghakimi bahkan menghukum diri sendiri karena merasa tidak berhasil sebagai manusia.
Semua orang bisa menjadi racun. Kadang kala keluarga bukan rumah untuk setiap luka dan sahabat tidak akan selalu mendengar segala keluh kesah. Namun, perlu diingat bahwa kita selalu punya kesempatan untuk memilih obat terbaik bagi diri sendiri. Mencari tempat lain yang mampu membahagiakan kita bukan berarti berhenti mencintai orang-orang terdekat.
Sadarkah kamu? Sedari kecil, ayah dan ibu, sering mengatakan bahwa dunia mungkin akan mendidik kita dengan lebih keras. Jauh lebih keras dari apa yang mereka lakukan sebagai orang tua terhadap kita. Kegagalan, ketakutan, kekacauan, selalu saja menjadi nasihat yang malah memaksa kita untuk kian waspada dalam menghadapi hari-hari.
Untuk diriku sendiri, terima kasih karena sudah menjadi teman baik yang tak pernah lelah menemani. Terima kasih sudah sampai sejauh ini. Terima kasih sudah tetap waras walau keadaan sering membuat hilang akal.
Garis akhir memang tak terlihat. Garis akhir pun belum kunjung kutemukan. Garis akhir menjadi acuan hidup sampai aku pun tak sempat menepi meskipun hanya sedetik. Sampai pada akhirnya, kaki-kaki ini tak lagi sanggup untuk mumpuni dan aku kembali tersesat.
Dibalik hancur dan porak-porandanya perjalanan hidup, ternyata jawabannya karena aku selalu memilih hidup. Kalau sebelumnya aku memilih untuk berteman dengan rasa takut dan khawatir terus-menerus, kali ini aku belajar untuk berani merelakan.
Aku yang menyukaimu lebih dari sekadar teman adalah hal di luar dari daftar kegiatan yang ingin aku lakukan tahun ini. Manusia memang tidak bisa memilih, kepada siapa dia akan terjatuh. Semua terjadi begitu saja.
From the publisher's feed

358 Listeners

3 Listeners

16 Listeners

1 Listeners

19 Listeners

4 Listeners

1 Listeners

3 Listeners

0 Listeners

0 Listeners

1 Listeners

1 Listeners

1 Listeners

0 Listeners

25 Listeners