
Sign up to save your podcasts
Or


Momen takbir selalu bisa mengoyak-ngoyak hati dan kepala. Kenangan terbaik seolah dihadirkan kembali supaya aku ingat bahwa mereka tidak akan bisa terulang; bahwa di tengah takbir dan di hadapan langit yang luhur, manusia akan selalu kecil dan tidak berdaya.
Tapi mungkin, melakukan kebaikan memang bukanlah perihal ukuran. Mungkin, kebaikan tak selalu dibalas dengan apa yang kau pahami sebagai kebahagiaan. Dengan ragam bentuknya, berbuat baik adalah yang membuatmu terus berjalan.
Di jalan pulang, aku bersatu dengan segala profesi yang ada. Di sini, tak ada pangkat, peringkat dan jabatan. Di jalan pulang, yang aku lihat hanya satu, yakni kumpulan manusia yang berkorban untuk kehidupan.
Pesan Suara kali ini mengisahkan seseorang yang merasa dipermainkan oleh hidup. Terkadang, tidak ada gunanya untuk melawan. Mungkin saja, jika hidup mempermainkan, kita hanya perlu menerima dan ikut bermain dengannya.
Asal mau menantang diri sendiri dan terbentur lagi dengan kenyataan-kenyataan pahit lainnya, kamu mungkin akan bergerak lagi; seperti menceburkan diri ke dalam kolam permasalahan untuk berenang dan mencari tepi-tepi kehidupan.
Manusia belum jadi manusia jika tujuan hidup belum bisa diukur, katanya.
Apakah itu arti dari menjadi manusia yang kita cita-citakan sedari kecil?
Pesan Suara kali ini mengisahkan ketidakpercayaan diri dan kegagalan. Pada akhirnya, kegagalan bukanlah aib. Tidak apa-apa untuk mengalami kegagalan. Toh, suatu saat nanti, kita semua akan menertawakannya sebagai lelucon.
Sekarang, kembalilah tanya pada sanubari, Mengapa diri ini selalu berusaha mencari tentu pada sesuatu yang tak patut ditunggu? Bukankah yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri?
From the publisher's feed

358 Listeners

3 Listeners

16 Listeners

1 Listeners

19 Listeners

4 Listeners

1 Listeners

3 Listeners

0 Listeners

0 Listeners

1 Listeners

1 Listeners

1 Listeners

0 Listeners

25 Listeners