
Sign up to save your podcasts
Or


Kapitalisme Suburkan Miras, Akal Kian Tak Waras
Oleh. Afiyah Rasyad
Voice Over Talent: Dewi N
NarasiPost.Com-“Minuman keras (miras)
Penggalan lirik lagu Bang Haji Rhoma Irama ini sudah hits di tahu 90-an. Amanat lagu ini jelas mengajak siapa pun untuk meninggalkan miras. Sayang sejuta sayang, ajakan kebaikan menghilang di antara rimbunnya kebijakan.
Aturan miras terus bergulir deras. Setelah kontroversi UU Omnibus Law tentang pelonggaran miras mereda, kini muncul lagi isu baru. Kementerian Perdagangan (Kemendag) menambah kuota masyarakat untuk membawa miras dari luar negeri untuk konsumsi secara pribadi yang awalnya boleh membawa 1 liter menjadi 2.250 mililiter atau 2,25 liter per orang. Tambahan kuota ini termaktub dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) RI Nomor 20 Tahun 2021 tentang Kebijakan Pengaturan Impor. (CNNIndonesia.com, 8/11/2021).
Negeri dengan mayoritas penduduk muslim kembali terbelalak. Jelas miras adalah minuman yang nirmanfaat, justru merusak akal sehat. Masih dari laman CNNIndonesia.com, Muhammad Cholil Nafis selaku Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak Kemendag untuk membatalkan aturan penambahan minuman beralkohol (minol) alias miras. Lebih jauh, beliau menilai bahwa Permendag ini cenderung memihak wisatawan asing, merugikan anak bangsa, dan pendapatan negara.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/17/kapitalisme-suburkan-miras-akal-kian-tak-waras/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Pembajakan Potensi Santri demi Penyelamatan Ekonomi Patut Diwaspadai!
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.SSantri
Voice Over Talent: Yeni M
NarasiPost.Com-“Saat ini kita telah merdeka
Begitulah penggalan lirik lagu Hari Santri Nasional pada 22 Oktober kemarin. Menggelorakan semangat juang dan bakti kepada negara. Begitulah hakikatnya santri, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya orang yang mendalami agama Islam, orang yang beribadah sungguh-sungguh dan orang yang salih. Maka, sudah menjadi tugasnyalah membangun negara dengan segala potesi yang dimilikinya. Tentu saja hal tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang agung yang memerintahkan untuk umatnya berjuang melakukan amal salih dalam kehidupan, termasuk menjadi penegak kebenaran di tengah umat.
Ya, jika dalam lirik lagu tersebut ada seruan untuk melanjutkan perjuangan para ulama, itu artinya santri diharapkan mampu menjadi corong-corong penyeru syariat Islam di tengah umat, serta pion-pion perubahan yang akan senantiasa menjadikan akidah Islamiah sebagai napas geraknya. Namun sayangnya, esensi peran santri tergerus ambisi sistem kapitalisme yang saat ini diterapkan. Potensi kaum Santri dibajak demi penyelamatan ekonomi kapitalisme. Sebagaimana diberitakan oleh Viva.co.id (22-10-2021) bahwa pada peringatan hari Santri kemarin yang digelar secara virtual, Presiden Jokowi memberikan sambutan yang berisi harapannya agar lebih banyak bermunculan para wirausahawan dari kalangan santri untuk menggerakkan perekonomian yang inklusif. Dalam sambutannya juga,Presiden Jokowi mengulas terkait pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia yang kian merangkak naik. Beliau mengutip data dari The States of Global Islamic Economy Indicator Report yang menyebutkan bahwa peringkat ekonomi syariat pada tahun 2020, berada di peringkat ke-empat dunia. Dengan alasan itulah, pada akhirnya di momen hari Santri, pemerintah menggelorakan semangat santri untuk menghidupkan perekonomian
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/02/pembajakan-potensi-santri-demi-penyelamatan-ekonomi-patut-diwaspadai/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Thalab An Nushrah
Oleh. Aya Ummu Najwa
Voice Over Talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Thalabun nushrah merupakan aktivitas mendakwahi serta meminta pertolongan, dilakukan oleh mereka yang memiliki kewenangan, kepada pemilik kekuasaan. Tujuannya untuk menyerahkan kekuasaan dan penegakan Khilafah. Serta tujuan lain yang berkaitan dengan dukungan terhadap dakwah, seperti: melindungi para pengemban dakwah, sehingga mereka dapat menyampaikan maksud dan tujuan dakwah mereka kepada masyarakat, juga untuk menghilangkan berbagai keburukan bagi pengemban dakwah.
Thalabun nushrah hanyalah aktivitas dakwah dalam suatu tahapan dakwah, namun sejatinya ia bukanlah suatu tahapan dakwah. Aktivitas ini dilakukan manakala para pemimpin dan juga masyarakat menolak dan menentang diterapkannya Islam dalam kehidupan bernegara, menyeru mereka agar mau menjadi penolong agama Allah, serta mencegah terjadinya penganiayaan terhadap para pengemban dakwah Islam politik untuk menegakkan Khilafah. Metode ini merupakan aktivitas politik, berbeda dengan kudeta yang merupakan aktivitas militer.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/18/thalab-an-nushrah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Genjot Pajak di tengah Melimpahnya SDA, Ada Apa?
Oleh. Qisti Pristiwani
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Sah! Pemerintah bersama DPR RI telah mengesahkan Undang-Undang Harmonisasi Pengaturan Perpajakan (UU HPP). Dalam pengaturannya, pemerintah akan menggunakan Nomor Induk Kepemilikkan (NIK) di KTP sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) orang pribadi. (Merdeka.com 12 Okt 2021)
Penggunaan NIK sebagai NPWP meniscayakan seorang warga negara tak akan terlepas dari pengenaan pajak. Dengan menyatukan data ini, semakin meringankan kerja pemerintah dalam memungut pajak. Meski Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menegaskan bahwa setiap masyarakat yang memiliki NIK tidak serta-merta langsung dikenakan pajak, namun seharusnya kebijakan penarikkan pajak ini bukanlah menjadi prioritas yang paling diutamakan pemerintah untuk mengisi kas negara dan menyampingkan sumber pendapatan lain seperti kekayaan SDA yang melimpah ruah seantero negeri.
Patut dipertanyakan! Mengapa pemerintah begitu getol dalam memungut pajak rakyat dan seakan buntu mencari sumber pendapatan negara lainnya? Sementara negara memiliki kekayaan SDA yang sangat banyak yang pengelolaannya diserahkan kepada pihak asing dan aseng. Apakah pemerintah tak punya kuasa untuk melirik kekayaan negerinya sendiri?
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/12/genjot-pajak-di-tengah-melimpahnya-sda-ada-apa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Open Marriage, Konsep Pernikahan Jahiliah
Asyifa’un Nisa
Voice Over Talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Istilah “open marriage” kembali diperbincangkan oleh masyarakat sejak September lalu karena pernyataan salah satu aktor terkenal Will Smith ketika diwawancarai oleh GQmagazine. Pernyataan tersebut tentu membawa kontroversi di tengah masyarakat, Will Smith mengungkapkan bahwa pernikahannya dengan Jada Pinkett Smith bukanlah hubungan monogami. Dilansir dari The Sun, Will Smith menyampaikan “Kami telah memberi kepercayaan dan kebebasan satu sama lain, dengan keyakinan bahwa masing-masing orang harus menemukan jalan mereka sendiri, dan pernikahan bagi kita tidak bisa menjadi penjara”.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/10/open-marriage-konsep-pernikahan-jahiliah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Mafia Karantina: Jasa Ilegal di Masa Pandemi untuk Keuntungan Pribadi
Oleh. Neneng Sri Wahyuningsih
Voice Over Talent: Yeni M
“NarasiPost.Com-Untung itu penting, berkah lebih penting”, (Dewa Eka Prayoga).
Setiap orang yang melakukan bisnis baik itu berupa barang maupun jasa, pastilah tujuan utamanya adalah meraih keuntungan. Hanya saja, untung bukanlah segala-galanya. Terlebih kita sebagai seorang muslim. Ada yang lebih penting dari sebatas mengeruk keuntungan, yakni keberkahan dari Sang Pencipta. Tanpanya, bisnis menjadi sia-sia meski harta berlimpah.
Jamak diketahui, saat ini seluruh dunia dilanda badai pandemi. Berbagai aturan protokol kesehatan pun dibuat guna menekan laju penambahan kasus. Sayangnya, demi meraup keuntungan pribadi, jasa ilegal dilakoni. Tak segan-segan aturan yang telah dibuat pun berani dilanggar dan tak peduli apakah tindakannya tersebut akan menimbulkan bahaya bagi negeri ini ataupun tidak.
Viral di media sosial kasus mangkirnya seorang selebgram berinisial RV dari kewajiban karantina. Seharusnya sekembalinya dari New York, ia menjalani masa karantina selama delapan hari. Akan tetapi, ia hanya melewatinya tiga hari saja. Tentu ia bisa lolos karena ada oknum yang membantunya (Kompas.com, 18/10/2021).
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/01/mafia-karantina-jasa-ilegal-di-masa-pandemi-untuk-keuntungan-pribadi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Makan Kuaci di Bawah Pohon Trembesi
Oleh. Deena Noor
Voice Over Talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Pernah makan kuaci? Itu lho camilan dari biji-bijian kecil yang dikeringkan dan diasinkan. Kuaci biasanya dibuat dari biji bunga matahari, biji labu, dan biji semangka. Selain tiga jenis itu, ternyata kuaci bisa juga dari biji pohon trembesi, lho! Wah, seperti apa tuh?
Pohon trembesi atau “samanea saman” sering disebut pula Rain Tree atau Pohon Hujan. Sebutan ini karena pohon trembesi sering mengeluarkan air dari tajuknya lantaran begitu kuatnya ia dalam menyerap air tanah. Karena itu, tak usah kaget bila tiba-tiba ada air menetes kala kamu duduk-duduk di bawah pohon trembesi. Rain Tree bukan tengah menangis, tetapi ia sedang memberimu tanda kasih. Eaa…
Berada di bawah pohon trembesi terasa sangat menyejukkan. Pohonnya yang besar dan dedaunannya yang rindang sangat tepat sekali dijadikan peneduh di tempat-tempat publik. Trembesi biasanya ditanam di taman-taman, halaman sekolah atau kampus, perkebunan atau area luas lainnya. Pohon yang berasal dari Amerika Selatan ini bisa tumbuh hingga mencapai ketinggian 25 meter dan diameter 30 meter.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/15/makan-kuaci-di-bawah-pohon-trembesi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Rekontekstualisasi Fikih, Maksudnya?
Oleh. Miladiah al-Qibthiyah
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Hello, anak milenial. Lagi ngapain nih? Hidupmu jangan gitu-gitu aja dong, yang seharian hanya main gadget, tik-tokan, stalking artis yang lagi viral atau pelototin VIU semaleman buat nonton drakor. Jadi anak milenial itu harus beda dong. Saatnya upgrade kapasitas dirimu dengan meng-update berbagai fenomena yang terjadi di negeri tercinta kita ini. Mengapa? Karena anak milenial zaman now-lah yang akan memajukan bangsa. Saatnya kita berada di garda terdepan untuk mengusung perubahan yang hakiki.
Sini deh aku bisikin lewat tulisan ini. Hehehe. Pada tau kan siapa Menteri Agama kita sekarang? Yup. Benar banget. Bapak Yaqut Cholil Qoumas. Tau nggak belum lama ini beliau mencetuskan gagasan rekontekstualisasi fikih pada pembukaan AICIS di Surakarta. Kira-kira ada apa ya? Kok pake rekontekstualisasi fikih segala. Jangan-jangan mau mengajak segenap bangsa Indonesia buat menghidupkan dan menggiatkan kembali penerapan syariat Islam di bumi pertiwi?
Eittss.. Tunggu dulu! Kayaknya nggak deh. Kan beliau sangat menentang ide syariat Islam untuk diterapkan di negeri ini. Beliau juga menolak ide Khilafah karena disangkanya menyebarkan ajaran sesat dan radikalisme. Mirisnya lagi Guys, beliau begitu masif menderaskan ide moderasi beragama di setiap lini kehidupan. Duh… Orang yang dianggap paham agama kok justru alergi ya dengan Islam kaffah. Yang ada kesannya malah berbalik menyerang ide Islam kaffah dengan racun moderasi bin sekularisasi agama Islam ini.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/10/rekontekstualisasi-fikih-maksudnya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Zona Merah Dekadensi Moral: Rupiah Dikejar, Orang Tua “Dibuang”
Oleh. Sartinah
Voice Over Talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Terenyuh rasanya menyaksikan banyak fenomena anak yang membuang orang tuanya. Rasa hormat dan sayang dari si buah hati kian pudar, bahkan hilang tergerus beratnya tekanan hidup. Wajah memelas ayah dan ibu yang terbuang, tidak lagi menyentuh sanubari sang anak. Pada akhirnya orang tua dianggap seperti benalu yang menggerogoti kehidupan sang anak dan harus disingkirkan.
Seperti yang baru-baru ini viral di media sosial. Seorang wanita bernama Trimah dibuang oleh anak-anaknya. Dia dititipkan oleh ketiga anaknya di panti jompo Griya Lansia Husnul Khotimah di Jawa Timur sejak 27 Oktober 2021. Alasannya, karena anak-anaknya sudah tidak mampu lagi mengurus sang ibu. (kompas.com, 3/11/2021)
Kasus pembuangan orang tua juga pernah terjadi di Banda Aceh pada 2020 lalu. Seorang lansia yang tengah sakit ditemukan di pinggiran Jalan Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh. Menurut Koordinator Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKSK) Dinsos Aceh, Misra Yana, sebelum meninggal pria lansia tersebut mengaku telah dibuang oleh anak-anaknya. (tribunnews.com, 3/4/2020)
Miris. Pembuangan orang tua masih terus terjadi hingga kini. Bahkan, diprediksi akan tetap ada sebagai hasil dari penerapan sistem kapitalisme-sekuler. Orang tua yang seharusnya dimuliakan dan dirawat, kini tak lebih berharga dari lembaran rupiah bergambar pahlawan.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/11/zona-merah-dekadensi-moral-rupiah-dikejar-orang-tua-dibuang/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Meneruskan Risalah Agung
Oleh. Miladiah al-Qibthiyah
Voice Over Talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Istilah dakwah di sebagian benak orang adalah sebuah amal yang hanya dikerjakan oleh mereka yang bergelar ulama, ustaz, dai, dan kiai. Mereka lupa bahwa kewajiban dakwah telah Allah perintahkan kepada seluruh umat muslim baik laki-laki maupun perempuan untuk mengemban amanah dakwah. Di dalam surah Ali-Imran ayat 104, dengan jelas Allah memerintahkan kita berdakwah. Dakwah yang dimaksud adalah perintah amar ma’ruf nahi mungkar.
Amal dakwah tidak hanya berada pada kewajiban mentauhidkan Allah Swt. Lebih dari itu, dakwah meminta kontribusi umat Islam untuk menegakkan kembali perisai yang telah terkubur dalam kungkungan sistem thagut. Agar tidak hanya tauhid yang sempurna di dakwahkan oleh umat melainkan juga syariat yang mengatur seluruh aktivitas kehidupan manusia juga wajib di dakwahkan.
Perisai itu adalah Al-Khilafah Ar-Rasyidah. Sebuah amal (perjuangan) wajib dilakukan oleh umat Rasulullah saw. akhir zaman demi kembalinya bisyarah mulia. Maka, mendakwahkan tegaknya Khilafah adalah wajib (fardu) sampai ia benar-benar tegak di muka bumi. Umat Muhammad harus punya visi yang tegas untuk melanjutkan kehidupan Islam. Melanjutkan kehidupan Islam tidak bisa dilakukan seorang diri. Maka, keberadaan kelompok atau jemaah dakwah adalah perkara wajib (fardu) sampai kehidupan Islam menyelimuti alam.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/02/meneruskan-risalah-agung/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed