Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Ibu, Peluhmu Berbalas Sembilu

    Ibu, Peluhmu Berbalas Sembilu

    Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

    Voice Over Talent: Arien S

    NarasiPost.Com-Seorang ibu hanya bisa meratap, tatkala ia sudah sangat jarang dikunjungi oleh anak-anaknya. Kelima anaknya telah berkeluarga dan tinggal di berbagai kota yang berbeda. Bahkan sang ibu sudah sangat lama tak mendengar suara anak-anaknya kandungnya, meski hanya lewat sambungan telepon. Wajah tuanya memperlihatkan sebuah kesedihan yang amat nyata tatkala beliau bercerita kepadaku waktu itu. Aku hanya mampu mendengarkannya, menampung segala perih yang mengalir lewat deret kata yang keluar dari lisannya. Ada rindu yang menyeruak ketika beliau menyebut nama anak-anaknya. Kasihan, si ibu hanya tinggal bersama seorang asisten rumah tangga saja di rumahnya yang cukup besar.

    Tentu saja ketidakhadiran anak-anaknya di sisinya, membuat kesepian menyergap hari-harinya. Lebih-lebih setelah suaminya berpulang kepada Sang Maha Pencipta hampir dua tahun silam, kesepian kian terasa. Akhirnya si ibu berusaha mengikuti setiap pengajian yang diadakan di wilayah tempat tinggalnya, termasuk undangan pengajian umum dariku. Kutahu beliau ingin membunuh kesepiannya dengan aktif ikut pengajian di mana-mana.

    Namun, aku tak habis pikir dengan kisahnya. Ke mana naluri kasih sayang yang telah Allah karuniakan di dalam diri anak-anaknya terhadap ibunya sendiri? Menguapkah semuanya bersama sederet kesibukan dan kebahagiaan dengan keluarga mereka masing-masing?

    Aku sungguh terenyuh, benar-benar sistem kapitalisme mengikis birrul walidain seorang anak. Si ibu kenalanku tadi masih beruntung karena memiliki harta yang berlimpah, sehingga yang ia butuhkan dari anak-anaknya sebetulnya hanyalah limpahan kasih sayang dan perhatian. Bagaimana dengan para ibu di luar sana yang kesulitan ekonomi, namun diabaikan oleh anak-anaknya? Jangankan bantuan materi, perhatian dan kasih sayang saja kerap diabaikan. Ini realita pahit yang memang terpampang nyata dalam kehidupan hari ini. Miris! Bahkan yang lebih menyedihkan banyak orang tua yang dianggap beban oleh anak-anaknya sendiri, sehingga banyak lansia yang ‘dibuang’ oleh anak-anaknya sendiri ke panti jompo. Ya Allah….memprihatinkan!


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/21/ibu-peluhmu-berbalas-sembilu/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Musibah Kembali Datang, Nasib Rakyat Siapa yang Memperjuangkan?

    Musibah Kembali Datang, Nasib Rakyat Siapa yang Memperjuangkan?

    Oleh. Uqie Nai

    (AMK4)

    Voice Over Talent: Titis U

    NarasiPost.Com-Air hujan merupakan salah satu berkah dari Allah Swt untuk makhluknya di muka bumi. Begitu pula keragaman hayati, flora dan fauna yang beraneka menjadi anugerah terindah yang tiada tara. Akan tetapi karena faktor keserakahan serta tata kelola sumber daya alam yang salah, keberkahan yang dirasakan seseorang atau oleh suatu wilayah, bisa menjadi bencana bagi orang lain di wilayahnya. Bahkan ada beberapa wilayah tercatat sebagai daerah langganan banjir dan rawan longsor. Di Kabupaten Bandung, Jawa Barat contohnya. Tercatat 24 kecamatan berpotensi menghadapi bencana longsor pada musih hujan akhir tahun 2021 ini.

    Di antara 24 kecamatan, sebagaimana yang dipaparkan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Hendra Hidayat adalah Arjasari, Baleendah, Banjaran, Cangkuang, Cicalengka, Cikancung, Cilengkrang, Cileunyi, Cimaung, Cimenyan, Ciparay Ciwidey, Ibun, Kertasari, Kutawaringin, dan Margaasih. Kemudian, kecamatan Nagreg, Pacet, Pamengpeuk, Pangalengan, Paseh, Pasirjambu, Rancabali dan Soreang. Karena kondisi tersebut, pihak BPBD Kabupaten Bandung mengimbau masyarakat di kecamatan dan desa untuk selalu waspada. Tak hanya longsor, menurut Hendra banjir bandang juga perlu diantisipasi pada musim hujan ini, terutama masyarakat yang berada di bantaran sungai harus berhati-hati. (Potensibisnis.com, Rabu, 27/10/2021)


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/13/musibah-kembali-datang-nasib-rakyat-siapa-yang-memperjuangkan/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Kemiskinan Pupus dengan Sistem yang Serius

    Kemiskinan Pupus dengan Sistem yang Serius

    Oleh. Dewi Fitratul Hasanah

    (Pegiat Literasi)

    Voice Over Talent: Arien S

    NarasiPost.Com-Diberitakan KompasTV, (8/10/2021), bahwasannya pemerintah menargetkan angka kemiskinan ekstrem di Indonesia menjadi 0% pada tahun 2024. Untuk merealisasikan target tersebut, pemerintah telah menunjuk tujuh provinsi yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Maluku, Papua Barat dan Papua, sebagai penerima bantuan anggaran dalam target penanggulangan kemiskinan pada tahap awalnya.

    Mendapati berita tersebut, tentu menghadirkan suka cita. Karena penanggulangan kemiskinan merupakan perbuatan mulia dan bijaksana. Namun di sisi lain, hadir pula rasa pesimis dan keraguan sekaligus tanda tanya besar. Mungkinkah target zero persen angka kemiskinan dapat tercapai pada tahun 2024 mendatang?

    Pasalnya sebuah target akbar dalam memberangus kemiskinan ekstrem akan sulit berhasil bila hanya dilakukan dengan menambah bantuan anggaran, melainkan perlu adanya mekanisme yang tegas tersistem dan tepat sasaran. Berkaca pada yang telah dialami, bantuan-bantuan sosial dengan berbagai istilah selama ini sering tak menyentuh sasaran. Sebab bantuan-bantuan tersebut, dalam perjalanannya telah dicomoti oleh para tikus berseragam yang bertampang bijak namun sejatinya sangatlah tamak. Bantuan dengan nominal Rp600.000 per orang dari pusat bisa-bisa hanya Rp60.000 per orang saja yang sampai ke tangan rakyat. Rakyat kerap mendapatkan kabar adanya bantuan tersebut, namun hanya di layar kaca saja, sedangkan di tangan mereka tetap hampa.

    Kategori kemiskinan dengan standar Bank Dunia adalah kemiskinan yang penduduknya hanya mengantongi pendapatan kurang dari US$1,9 per hari atau sekitar Rp27.075 per hari (asumsi kurs Rp14.250 per dolar AS). Sementara, kemiskinan ekstrem di Indonesia berada pada jumlah 9,92 juta jiwa atau sekitar 3,4 persen dari total penduduk. Dari sini saja untuk memastikan angka kemiskinan ekstrem berada di titik nol pada 2024, jelaslah bukan hal yang mudah. Semudah mendebah.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/07/kemiskinan-pupus-dengan-sistem-yang-serius/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Ikhlas

    Ikhlas

    Oleh: dinlestari

    Voice Over Talent: Mels

    NarasiPost.Com-Aku tak tahu kapan benar-benar ikhlas

    Saat ujian runtuh menimpa
    Mulutku berucap sekilas
    Aku ikhlas atas apa yang ada

    Namun benarkah begitu?

    Sungguhkah hatiku setuju?
    Tak ada yang tahu
    Hanya Tuhan saja dan aku

    Ujian itu datang setiap hari

    Aku tengok jendela media tak terjeda waktu
    Lalu kulihat rekanku sibuk bersolek diri
    Tanpa sadar hatimu mengumpat tanya

    Bagaimana bisa?

    Dia yang kubagi jasa
    Tiba-tiba mengumbar potret suka cita


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/03/ikhlas/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    4 min
  • Matinya Persepsi terhadap Rezeki

    Matinya Persepsi terhadap Rezeki

    Oleh. Dyah Rini

    (Aktivis dakwah & founder Rumah Qur’an Al-Ummah)

    Voice Over Talent: Dewi F

    NarasiPost.Com-Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.” Peribahasa ini memang benar. Sampai kapan pun kasih sayang anak kepada ibunya tidak akan mampu menandingi kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Air susu yang membuatnya tumbuh menjadi manusia dewasa tidak tergantikan dengan makanan apa pun, dan tidak akan terbalas harta sebesar apa pun.

    Berita tentang pengabaian anak terhadap orang tuanya menguatkan perbedaan persepsi tentang kasih sayang antara seorang anak dengan seorang ibu. Sebagaimana di wartakan dari viva.co.id. Trimah 85 tahun warga Magelang Jawa Tengah dititipkan di Panti Jompo Griya Lansia Husnul Khatimah Malang oleh ketiga anaknya karena alasan ekonomi. Mereka beralasan tidak mampu menanggung beban untuk merawatnya.

    Sungguh malang nasib ibu Trimah. Di usia senjanya seharusnya bisa hidup tenang di samping putra-putrinya. Bisa menimang cucu dan mendoakannya agar menjadi anak yang saleh, salihah. Hidup dalam keridaan Allah. Namun, kini hidup yang dilaluinya harus jauh dari anak dan keturunannya.

    Anak yang dulu dikandung, disusui, dan dibesarkannya tidak memperlakukannya serupa dengan apa yang telah ia lakukan dulu. Hari-harinya dilalui tanpa belaian lembut tangan anaknya. Walau saat diwawancarai wartawan Trimah mengatakan kerasan di panti jompo, tetapi suara hati seorang ibu secara fitrah tidak dapat disembunyikan.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/18/matinya-persepsi-terhadap-rezeki/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Lansia Dibuang, Salah Siapa?

    Lansia Dibuang, Salah Siapa?

    Oleh. Ummu Wildan

    Voice Over Talent: Armina A

    NarasiPost.Com-Negeri ini akrab dengan cerita Malin Kundang. Harapan pendongeng tentu saja agar anak-anak berbuat baik kepada orang tua mereka. Sayangnya kutukan menjadi batu bukanlah sesuatu yang menakutkan bagi orang-orang yang hidup di zaman ini. Cerita tinggallah cerita, kenyataan menunjukkan sebaliknya.

    Ibu Trimah, perempuan berusia 65 tahun asal Magelang diserahkan ke panti jompo di Malang oleh tiga anaknya karena merasa tak sanggup merawat. Bahkan dalam surat keterangan yang beredar di media sosial, ketiganya sepakat bahwa ketika sang ibu meninggal mereka menyerahkan seluruh prosesi jenazah beliau untuk diurus oleh pihak panti.

    Sementara itu, pada tahun 2020, di Kecamatan Meuraxa, Aceh, seorang pria lansia meregang nyawa sendirian, jauh dari rumahnya. Sebelum meninggal beliau menyebutkan bahwa dia telah dibuang oleh anak-anaknya.

    Dalam kehidupan kapitalis sekuler, hubungan anak dengan orang tua seperti ini sangat dimungkinkan terjadi. Hubungan dibangun dengan asas pemisahan agama dari kehidupan. Agamanya hanya berkaitan dengan ibadah ritual semata. Kebahagiaan pun dipandang dari segi materi. Ketika suatu hal dipandang menguntungkan, maka akan diperjuangkan. Namun ketika hal tersebut dipandang tak menghasilkan keuntungan, bahkan menjadi beban maka wajar saja dilepaskan.

    Merawat orang tua lansia memerlukan pengorbanan. Kekuatan tubuh mereka melemah, bahkan mungkin memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan berbagai aktivitas harian seperti makan, mandi, hingga buang hajat. Lansia pun sudah tidak bisa lagi bekerja, bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Kurva kehidupan kembali menurun menuju titik terendah setelah sebelumnya menanjak dari bayi hingga dewasa. Sebagaimana firman Allah Swt, “Dan barangsiapa kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian. Maka mengapa mereka tidak mengerti?” (QS. Yazin:68)


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/15/lansia-dibuang-salah-siapa/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Aturan Miras Dilonggarkan, Aturan Islam Ditinggalkan

    Aturan Miras Dilonggarkan, Aturan Islam Ditinggalkan

    Oleh. Atien

    Voice Over Talent: Giriyani

    NarasiPost.Com-Generasi muda adalah harapan bangsa. Masa depan bangsa ada di pundak generasi muda.

    Bangsa ini sangat membutuhkan pemuda-pemuda tangguh dan mumpuni. Pemuda-pemuda hebat pembawa perubahan yang hakiki. Namun, untuk mendapatkan sosok pemuda pembawa perubahan ke arah yang lebih baik bagaikan pungguk merindukan bulan. Sosok pemuda demikian sepertinya sangat jauh dari jangkauan.

    Wajar saja jika siapa pun merasa pesimis. Apalagi ketika para pemangku kekuasaan justru mengeluarkan kebijakan yang bikin miris. Kebijakan yang sangat merugikan, terutama bagi para generasi muda. Kebijakan tersebut berisi aturan yang dikeluarkan oleh Kemendag dalam Permendag RI No. 20 tahun 2021 tentang Kebijakan dan Pengaturan Impor, yang salah satunya adalah impor miras.

    Aturan impor miras ini mendapat kritik dari Majelis Ulama Indonesia (MUI).

    Menurut Ketua MUI, Cholil Nafis, kebijakan tersebut memihak kepentingan wisatawan asing yang datang ke Indonesia. Namun, di sisi lain justru merugikan anak bangsa dan pendapatan negara. Hal tersebut disampaikan Cholil Nafis pada Minggu, (7/11/2021, kumparannews).

    Kerugian yang dimaksud terlihat dari perubahan pasal 27 Permendag tahun 2014 yang memberikan batas minuman beralkohol di bawah 1000 ml, menjadi 2500 ml dalam Permendag yang baru tersebut. Pelonggaran ini tentu akan berpengaruh kepada perilaku masyarakat serta dampak buruk yang diakibatkan dari kebijakan tentang minuman keras ini.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/19/aturan-miras-dilonggarkan-aturan-islam-ditinggalkan/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Mendamba Keluarga Sakinah Mawadah Warahmah

    Mendamba Keluarga Sakinah Mawadah Warahmah

    Oleh. Aya Ummu Najwa

    (Kontributor Tetap Narasipost.Com)

    Voice Over Talent: Armina A

    NarasiPost.Com-Tujuan pertama membangun keluarga adalah untuk meraih sakinah mawadah warahmah dalam kehidupan di dunia. Sakinah mawadah warahmah sendiri diartikan sebagai kedamaian, ketenteraman, di dalam keluarga yang didasari dengan rasa kasih sayang suami istri dan anggota keluarga. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 21.

    “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah diciptakan-Nya untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) padanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang (mawaddah wa rahmah). Sungguh pada yang demikian itu adalah tanda-tanda (kemahaan-Nya) bagi kaum yang berfikir”

    Sakinah berasal dari kata litaskunu, yang diambil dari ayat di atas. Arti sakinah menurut bahasa adalah kedamaian, ketenteraman, ketenangan, dan kebahagiaan. Pengertian sakinah dalam sebuah pernikahan adalah membina sebuah rumah tangga yang penuh dengan ketenteraman, kedamaian, ketenangan, dan selalu berbahagia, saling melindungi, serta suami-istri saling menjadi peneduh jiwa.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/15/mendamba-keluarga-sakinah-mawadah-warahmah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    12 min
  • Kampus Darurat Pelecehan Seksual dan Wacana Hegemoni Global di Balik Ambigu Regulasi Liberal

    Kampus Darurat Pelecehan Seksual dan Wacana Hegemoni Global di Balik Ambigu Regulasi Liberal

    Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si

    (Kontributor Tetap NarasiPost)

    Voice Over Talent: Dewi F

    NarasiPost.Com-Kampus adalah rumah bagi para intelektual dalam menimba ilmu, mengasah kemampuan berpikir serta nalar kritisnya. Dari kampuslah lahir banyak calon pemimpin negeri serta mereka yang dapat memberikan kontribusi besar bagi masyarakat. Sudah selayaknya kampus menjadi tempat yang aman bagi semua pihak, demi ketercapaian Tridarma perguruan tinggi. Namun, realitas berkata lain. Kampus justru menjadi tempat yang tidak aman, karena adanya pelecehan seksual yang melibatkan civitas academica kampus. Jika menyebut pelaku sebagai oknum, nyatanya pelakunya berjumlah banyak jika ditotal dari berbagai kampus yang ada. Dan sayangnya, karena melihat sistem peradilan hari ini, kejadian serupa mungkin bukan yang terakhir.

    Pada tahun 2019 saja, laman Tirto pernah menggali data kekerasan seksual di lingkungan kampus dengan menyebarkan kuisioner melalui media sosial. Hasilnya, terdapat 174 kasus kekerasan seksual yang melibatkan civitas academica kampus yang terjadi di 29 kota di Indonesia, dan tersebar di 79 perguruan tinggi. Sebagaimana yang diwartakan CNN Indonesia, data tersebut kemungkinan terus bertambah, mengingat baru-baru ini terjadi pelecehan seksual yang dilakukan dosen terhadap mahasiswanya di Riau. Tak lupa kasus serupa di kampus UIN Kediri juga sempat viral, karena seorang mahasiswa melaporkan dosennya yang disebut melecehkannya secara seksual.

    Semua pihak berpotensi menjadi korban, laki-laki ataupun perempuan, baik ia adalah mahasiswa, dosen, termasuk tenaga kependidikan lain di perguruan tinggi. Selama ini, para korban pelecehan seksual, tidak banyak yang mendapatkan penanganan serius, karena tak jarang, jika mereka melaporkan kasus, mereka bisa dilaporkan balik oleh terlapor dengan delik pencemaran nama baik, atau bahkan mendapat ancaman yang tak pantas lainnya. Dari sini muncullah pernyataan bahwasanya hukum yang berlaku tidak memihak korban. Akan tetapi, benarkah hukum yang tidak prokorban atau semuanya karena hukum yang ada memang kacau dari akarnya?


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/20/kampus-darurat-pelecehan-seksual-dan-wacana-hegemoni-global-di-balik-ambigu-regulasi-liberal/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Pujian yang Membawa Petaka

    Pujian yang Membawa Petaka

    Oleh. Ira Rahmatia

    Voice Over Talent: Dewi F

    NarasiPost.Com-Saya ingin berbagi cerita mengenai penyakit “Ain.

    Salah satu junior saya, sebut saja Zara. Ia adalah anak yang ceria dan suka membagikan aktivitasnya di media sosial. Zara adalah salah satu mahasiswi teknik kimia yang baru saja lulus kuliah. Ia berasal dari salah satu daerah di Sulawesi Selatan. Setelah kuliah, ia kemudian magang di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Perusahaannya berlantai tiga puluh.

    Pada suatu hari, ia bertemu dengan teman sekampungnya di Jakarta. Lalu temannya itu mengantarnya pergi bekerja dan timbullah decak kagum pada Zara saat melihat tempat kerjanya semegah itu. Ditambah lagi dengan story-story keseharian Zara bekerja atau training yang dapat membuat iri teman sebayanya. Juga aktivitas-aktivitas lainnya yang tidak banyak dirasakan oleh teman seangkatannya.

    Tak berapa lama, Zara kembali ke kampung halamannya. Ia pun menceritakan bagaimana tempat kerjanya di Jakarta kepada orang-orang sekampungnya. Walhasil, pada suatu hari, tepatnya tanggal 16 Oktober 2019, Zara pergi makan bersama kawan-kawannya di warung yang ada di Jakarta, pada saat itu ia memakan ikan tongkol. Di sinilah ia tiba-tiba tersedak tulang ikan.

    Setelah beberapa hari, tenggorokannya timbul peradangan. Ia pun pergi berkonsultasi dengan dokter yang ada di Depok. Dokter menyarankan untuk mengangkat amandelnya agar tulang ikan yang tersangkut juga bisa ikut dikeluarkan. Beberapa hari meminum obat yang diberikan dokter, ia tak merasa ada perubahan bahkan sakit terus berlanjut. Ia pun sering batuk berdahakkan darah. Tak tahan dengan kondisi itu, ia pun meminta izin pulang kampung ke pengawas lapangannya. Akhirnya ia pulang untuk berobat di kampungnya.


    Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/30/pujian-yang-membawa-petaka/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    9 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com