
Sign up to save your podcasts
Or


Algoritma Kurasi, Globalisasi, dan Moderasi di Era Post-Truth
Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Dari masa ke masa, perkembangan dunia seakan tak ada ujungnya. Apa yang terdengar utopis satu dekade yang lalu, justru menjadi hal yang mungkin tidak bisa dihindari saat ini. Komputer yang dahulu membutuhkan ruang sebesar kamar tidur, kini bahkan bisa dijinjing dan dibawa ke mana pun. Berita yang dulu membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan untuk tersebar, kini hanya perlu hitungan detik, maka apa yang terjadi di sisi barat dunia sudah dapat diketahui oleh manusia di sisi timur dunia.
Perkembangan teknologi yang demikian adalah dampak langsung dari fenomena globalisasi yang melingkupi dunia hari ini. Meskipun bertajuk “globalisasi” yang bermakna sangat luas, namun pada faktanya dunia menjadi semakin sempit, batas-batas yang semula ditetapkan oleh manusia kini bisa diterobos oleh kecepatan internet. Sayangnya, masifnya perkembangan teknologi dalam agenda globalisasi ini berjalan di bawah payung sekularisme, yang saat ini memang dominan menjadi ideologi yang dipegang oleh banyak negara di dunia.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/07/algoritma-kurasi-globalisasi-dan-moderasi-di-era-post-truth/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Toxic Femininity Bikin Galau? Yuk, Halau dengan Ngaji Islam Kaffah!
Oleh. Renita
Voice Over Talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Guys, pernah nggak sih dengar ungkapan kalau perempuan tuh harus pintar dandan dan pintar masak? Atau kalau usia udah matang tuh harus cepat-cepat nikah, wanita tuh harus bisa begini, begitu dan lainnya. Hmm.. kalau pernah, bisa jadi orang yang mengatakan hal tersebut udah punya gejala toxic femininity nih, Guys! Katanya sih, itu tuh standar-standar yang harus melekat sama makhluk bernama ‘perempuan’.
Ternyata fenomena ini dekat banget ya, Guys sama lingkungan kita. Makanya, penting banget nih Guys buat kita-kita para perempuan kenal istilah toxic femininity ini. Supaya kita semua bisa mematahkan standar toxic femininity ini dan memilih standar yang benar sesuai dengan apa yang Allah turunkan. Apalagi sebagai seorang muslim, kita nggak boleh dong asal-asalan buat standar dalam perbuatan atau apa pun di dunia ini. Nah, sebenarnya apa sih toxic femininity itu? Ada nggak ya bahayanya buat para perempuan?
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/15/toxic-femininity-bikin-galau-yuk-halau-dengan-ngaji-islam-kaffah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Maskapai Garuda Terpuruk, Utangnya Menumpuk
Oleh. Ummi Nissa
Voice Over Talent: Dewi N
NarasiPost.Com-Maskapai nasional Garuda kini berada di ujung tanduk. Dulu perusahaan milik negara ini merupakan industri penerbangan yang sangat bergengsi dengan tarif pesawat yang cukup tinggi. Tapi siapa sangka kini justru keadaannya menjadi terpuruk, bahkan terpaksa harus menelan pil pahit kebangkrutan. Utang yang menumpuk menjadi salah satu indikasi perusahaan ini tengah mengalami krisis.
Sebagai pemegang saham mayoritas, kementerian BUMN pun mengambil langkah penyelamatan, salah satunya melalui pola restrukturisasi dengan para kreditur lessor. Namun demikian, belum diketahui secara pasti hasil negoisasi tersebut.
Terkait hal ini Menteri BUMN, Erick Thohir, berpendapat ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utang Garuda Indonesia menumpuk. Selain efek pandemi yang telah melumpuhkan sektor ekonomi termasuk penerbangan, juga adanya indikasi korupsi yang terjadi di internal perusahaan. Hal ini diakuinya menjadi salah satu faktor krisis yang menimpa Garuda Indonesia.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/12/maskapai-garuda-terpuruk-utangnya-menumpuk/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Apresiasi Tinggi bagi Kaum Pelangi, Ironi!
Oleh. Ummu Muti’ah Aisyah
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Beberapa waktu lalu telah terjadi perhelatan bagi seorang trangender ysng diberi nama Miss Quenn. Beberapa kontestan pun ikut meramaikannya. Akhirnya sang ratu pun terpilih. Riuh gempita menyambut sang juara. Dialah sang primadona yang menuai pro dan kontra. Pasalnya ajang ini untuk para waria. Akan tetapi, mereka diterima dengan suka cita dengan alasan hak asasi manusia. Mereka tetap berkarya, bahkan negara ikut mengapresiasi keberadaanya.
Sangat disayangkan di negara yang mayoritas muslim terbesar di dunia ini, kaum transgender eksis dan menyuarakan hak-hak mereka. Bahkan negara ikut mengapresiasi dengan membiarkan keberadaan mereka yang mengadakan ajang Miss Queen ini. Begitu juga masyarakat yang sudah mulai terbuka menerima mereka, sehingga kaum transgender ini bebas berkarya tanpa merasa berdosa. Apakah kita sudah lupa dengan azab yang ditimpakan kepada kaum Nabi Luth di dunia karena menyukai sesama jenis?
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/30/apresiasi-tinggi-bagi-kaum-pelangi-ironi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Sistem Peradilan Rusak, Adakah Penggantinya?
Dia Dwi Arista
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Berbicara tentang sistem peradilan di Indonesia, tentu khalayak akan setuju jika sistem peradilan saat ini sedang rusak. Keadilan bagai fatamorgana apalagi bagi kaum papa. Hingga tebersit selintas pemikiran bahwa peradilan hanya diperuntukkan bagi yang terpandang. Jika seperti ini, layakkah hukum rusak dipertahankan? Lantas, adakah sistem peradilan yang layak menggantikannya?
Pandangan rusaknya sistem peradilan tentu datang dengan fakta lapangan. Kasus kebakaran Lapas Kelas 1 Tangerang September lalu, menyisakan bara sengketa. Buntut dari tewasnya puluhan narapidana, muncul surat pernyataan yang dibuat Menkumham untuk ditandatangani keluarga korban. Yang menjadi sorotan, negara seolah tak mau disalahkan. Surat pernyataan pun diberikan di bawah ‘tekanan’, meminta keluarga korban tak melayangkan tuntutan kepada pihak-pihak terkait, termasuk Kemenkumham sendiri. (cnnindonesia.com, 1/11/2021)
Sorotan tak hanya berhenti di sana, kebobrokan sistem peradilan lainnya pun ditunjukkan oleh aparat. Dilansir dari cnnindonesia.com (Senin 1/11/2021), mantan narapidana Lapas Narkotika Kelas IIA Yogyakarta, mengaku jika ia beserta puluhan tahanan lainnya kerap dianiaya oleh petugas Lapas. Siksaan mulai dari yang ringan hingga berat, bahkan sampai pada pelecehan seksual pernah diterima.
Sistem peradilan yang seharusnya memberi keadilan, juga sebagai lembaga kepercayaan masyarakat dalam menyolusi persoalan malah terkesan arogan. Ketimpangan juga kerap dipertontonkan tatkala rakyat miskin dan oposisi yang duduk di kursi pesakitan. Lantas, apakah sistem peradilan semacam ini yang hendak dipertahankan?
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/07/sistem-peradilan-rusak-adakah-penggantinya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Islam, Riwayatmu Kini
Oleh. Maftucha S. Pd.
Voice Over Talent: Armina A
NarasiPost.Com-A : “Kerudung itu budaya Arab, nggak usah ikut-ikutan budaya luar.”
B : “Agama kita memang turunnya di Arab, tapi bedakan dong antara budaya dan syari’at.”
A : “Sudah deh, pokoknya jangan bawa-bawa budaya negara lain ke negeri kita.”
Ternyata di momen yang lain, si B melihat si A memakai kostum Hallowen, yang semua orang juga tahu perayaan Hallowen itu dari mana? “Kalau Hallowen boleh, kenapa kalau pakai kerudung harus dilarang?”, gerutunya.
Aneh memang, ada orang yang mengaku muslim tapi ketika disodorkan berbagai aturan yang bersumber dari Islam dia tidak mau. Kerudung katanya mengekang hak asasi manusia, pakai cadar katanya seperti teroris, syariat Islam dianggap intoleran, tidak pacaran katanya kuno, tidak seks bebas, tidak nge-drug, tidak korupsi dibilang sok suci.
Lebih aneh lagi dia muslim, tetapi memuja demokrasi yang jelas-jelas bukan pandangan hidup dari Islam, menyebarkan berbagai ide yang justru bertentangan dengan Islam, seperti sekularisme, Islam moderat, moderasi beragama, kesetaraan gender, dan lain sebagainya. Kini semua lini telah disasar agar menyuarakan ide moderasi beragama, bahkan pesantren yang tujuannya mencetak ulama diberi berbagai bantuan supaya akhirnya juga menyuarakan ide bahwa Islam merupakan agama yang netral sesuai arahan pegiat ide-ide Barat.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/07/islam-riwayatmu-kini/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Hari Santri dan Kapitalisasi
Oleh. Aina Syahidah
Voice Over Talent: Giriyani
NarasiPost.Com-Terhitung sejak tahun 2015, 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional oleh pemerintah melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015. Peringatan ini didasarkan oleh sebuah peristiwa monumental yang terjadi pada 22 Oktober 1945 dimana KH.Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad dalam merespons kesewenang-wenangan Belanda yang coba mengoyak keutuhan bangsa yang kala itu sudah beberapa bulan memproklamisasikan kemerdekaan.
Resolusi Jihad yang difatwakan tersebut pun bertujuan untuk membangkitkan semangat juang rakyat dalam bingkai jihad fiisabillah melawan penjajah, yang sebagian besarnya didominasi oleh para ulama dan santrinya. Atas dasar inilah pemerintah kemudian menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Tujuannya tentu untuk mengenang segala jerih payah dan pengorbanan para santri dan ulama yang kala itu yang berjuang sampai titik darah penghabisan.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/10/hari-santri-dan-kapitalisasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Hilangnya Muruah Islam di Negeri Mayoritas Muslim
Oleh. Rahmiani. Tiflen, Skep
Voice Over Talent: Armina A
NarasiPost.Com-Bagai buah simalakama nasib menjadi umat Islam di dunia ini. Jika mayoritas, ia dipaksa untuk toleransi pada minoritas, sampai-sampai terkesan hilang wibawa. Namun, ketika menjadi minoritas, maka itu lebih parah lagi. Ia malah akan ditindas hingga ke akar-akarnya, bahkan bisa berujung pada kehilangan nyawa.
Sama hal yang dialami umat Islam di Indonesia. Negara dengan jumlah kaum muslim terbesar di dunia, akan tetapi kini kaum muslim justru ditindas hingga hilang muruahnya. Seperti dilansir oleh PosKota.co.id, dalam lamanya diberitakan bahwa berbagai media asing beberapa waktu lalu sedang menyoal terkait suara azan yang dianggap menciptakan kegaduhan di kota Jakarta (15/10/21).
Begitu pun yang dijelaskan oleh Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, beliau sangat menyayangkan pemberitaan tersebut. Menurutnya, sudah ada aturan yang mengatur terkait pengeras suara khususnya masjid. Hal itu kemudian diperkuat oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI).
Bahkan tak tanggung-tanggung, media asing asal Perancis pun turut memberikan komentarnya. Seperti yang dilakukan oleh Agence France Presse (AFP) yang juga memberitakan bahwa ada salah seorang muslimah yang mengalami gangguan kecemasan (anxiety disorder) dan setiap harinya merasa terganggu pada pukul 03.00 pagi ketika mendengar suara azan dari masjid di sekitaran kota Jakarta.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/10/26/hilangnya-muruah-islam-di-negeri-mayoritas-muslim/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Kubenci Namamu dan Ide di Balik Perangaimu
Oleh. Uqie Nai
Voice Over Talent: Dewi F
NarasiPost.Com-Kehancuran peradaban Islam sejak tahun 1924 M telah menorehkan luka di hati kaum muslim hingga hampir 100 tahun lamanya. Tahun tersebut adalah babak awal berjuta penderitaan dan beribu nestapa menghampiri nasib umat Islam di pelosok dunia yang sebelumnya aman sentosa. Pembunuhan, pembantaian, perampasan harta dan kehormatan, terlepasnya ukhuwah islamiyyah telah mencerai-beraikan umat menjadi kepingan kecil negara ashabiyah dan menjadi santapan lezat serigala imperialis.
Kepedihan itu kini kembali mencuat saat sosok pembunuh dan pembantai ibu kaum muslim, Mustafa Kemal Attaturk, dipilih menjadi nama jalan di Jakarta. Wacana ini datang dari Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, yang berjanji menamakan salah satu jalan di Jakarta dengan ‘Attaturk’ sebagai perwujudan kerja sama Indonesia dan Turki.
Pandangan Sekuler Membutakan Fakta Sejarah
Keinginan Indonesia dan Turki mengukuhkan negaranya memiliki nama jalan dari tokoh sejarah, bermula dari kunjungan Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi, ke Turki pada 12 Oktober 2021. Hasil kunjungan tersebut melahirkan kesepakatan pemberian nama jalan dari tokoh negara Indonesia atau Turki. Pemerintah Turki sebagaimana diberitakan telah memberikan nama Jalan Ahmet Soekarno di Ankara.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/05/kubenci-namamu-dan-ide-di-balik-perangaimu/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
Heels (Sepatu Hak Tinggi ) Ditinjau dari Medis dan Agama
Oleh : Andrea Ausie
Voice Over Talent: Dewi N & Armina A
NarasiPost.Com-“Hai kamu!”
“Akh… Masa?”
“Aku serius! Mau kujelasin secara rinci?”
“Oke. Jadi gini, pemakaian heels dalam Islam termasuk tabarruj dan hukumnya haram. Memakai heels itu bisa menimbulkan perhatian kaum Adam. Lebih-lebih jika haknya terlalu runcing maka suaranya akan makin keras dan perilaku itu bisa merangsang syahwat pria.
Naskah Selengkapnya: https://narasipost.com/2021/11/01/heels-sepatu-hak-tinggi-ditinjau-dari-medis-dan-agama/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on:
instagram: http://instagram.com/narasipost
Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter: Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed