
Sign up to save your podcasts
Or


RUU KUHP Marital Rape dalam Timbangan Hukum Syariah
Oleh: Nurmia Yasin Limpo,S.S
Voice Over Talent : Dewi F
NarasiPost.Com-Sepertinya para kaum feminis liberalis dan pendukungnya tidak pernah lelah mempropagandakan ide-ide mereka. Baru-baru ini, pengusung feminis memperkenalkan istilah yang masih asing di telinga masyarakat. Namun, hal ini erat kaitannya dengan hukum-hukum pernikahan. Seperti biasa, kelihatannya sesuatu yang baru, tetapi sejatinya ini merupakan wajah lama yang dipoles sedemikian rupa.
Marital rape merupakan istilah yang terus digaungkan dan diperkenalkan kaum feminis dan gender. Marital rape dimaknai ‘pemerkosaan suami terhadap istri’, yang diperjuangkan agar mempunyai kekuatan hukum oleh negara. Ancaman 12 tahun penjara sebab ‘memerkosa istri’ diatur di dalamnya, sungguh aneh dan ngawur.
Dilansir dari Detiknews (14/6/2021)
Lebih lanjut, komisioner Komnas Perempuan, Theresia Iswarini, turut berkomentar terkait catatan tahunan 2021 tentang jumlah laporan mengenai pemerkosaan istri, yakni sebanyak 100 kasus untuk 2020, tahun 2019 mencapai 192 kasus. Masih menurut Theresia, banyaknya kasus pelaporan pemerkosaan terhadap istri membuktikan meningkatnya kesadaran para istri terkait kekerasan seksual yang didapatkan dari suami. (Detiknews, 15/6/2021)
Makna ‘memerkosa’ istri oleh suami sepertinya tidak tepat. Sebab, ikatan pernikahan telah mengikat pasangan suami istri secara sah menurut agama dan negara.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/02/ruu-kuhp-marital-rape-dalam-timbangan-hukum-syariah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Hijrah Tak Sekadar Jargon
Oleh: Niwatun, S.Pd.I.
Voice Over Talent : Dewi N
NarasiPost.Com-Hijrah identik dengan perubahan. Momen inilah yang biasanya ditunggu kaum muslim di seluruh dunia termasuk Indonesia. Begitu pun pada tahun ini. Berakhirnya tahun 1442 H diharapkan berakhir pula duka dan persoalan-persoalan yang melanda negeri sepanjang tahun 1442 H. Persoalan yang ramai dibicarakan seperti penistaan ajaran Islam yang masih selalu muncul, korupsi yang menggurita, krisis ekonomi yang belum kunjung usai, dan juga pandemi Covid-19 masih melanda negeri. Keadaan-keadaan tersebut butuh penyelesaian tuntas agar negeri ini menjadi lebih baik. Momen hijrah diharapkan bisa menjadi momen untuk perubahan tersebut (Buletin Dakwah Kaffah No.205).
Hijrah secara definisi dalam KBBI artinya: 1) Perpindahan Nabi Muhammad saw. bersama sebagian pengikutnya dari Makkah ke Madinah untuk menyelamatkan diri dan sebagainya dari tekanan kaum kafir Quraisy. 2) Berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya). 3) Perubahan (sikap, tingkah laku, dan sebagainya) ke arah yang lebih baik (KBBI V).
Merujuk pada definisi pertama, yaitu peristiwa hijrahnya Rasulullah saw. dan para pengikutnya (sahabat) yang membawa perubahan besar bagi kaum muslim, tak berlebihan rasanya jika kaum muslim di tanah air juga berharap perubahan yang lebih baik. Namun, perubahan ke arah yang lebih baik tidak cukup dengan memaknai hijrah sebatas pada tataran individu saja yang berubah. Hijrah haruslah dimaknai secara luas dan menyeluruh. Hijrah harus dilakukan dengan perubahan pada diri individu, masyarakat, dan perubahan aturan secara totalitas.
Hijrah tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah jika menginginkan perubahan yang signifikan. Misalnya ketika menginginkan kasus penistaan terhadap ajaran Islam tidak terulang kembali dan pelaku jera, maka harus ada aturan tegas untuk memberi efek jera pada penista tersebut. Untuk melakukan ini, butuh peran negara di dalamnya. Ialah negara yang memiliki sistem aturan yang tegas dan mampu menyelesaiakan permaslahan warga negaranya dengan tuntas. Aturan ini pula dapat menjadikan warga negaranya bisa melakukan hijrah secara totalitas. Seperti yang Rasulullah saw. lakukan setelah hijrah ke Madinah. Beliau membuat fondasi yang baik dan kuat dengan aturan bermasyarakat yang baik sesuai ajaran Islam. Akhirnya, Madinah menjadi negara yang kuat dan dakwah Islam berkembang dengan pesat di sana. Semua terjadi karena perubahan yang mendasar dan secara totalitas. Hijrah tidak sekadar jargon untuk berubah menjadi baik yang parsial saja, tetapi perubahan yang ingin diciptakan adalah perubahan secara total. Terbukti dengan kondisi yang terjadi di Madinah berbeda dengan tempat pertama Rasulullah berdakwah, yaitu Makkah.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/09/hijrah-tak-sekadar-jargon/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Setetes Nikmat
Oleh. Novida Sari
Voice Over Talent : Mels
NarasiPost.Com-Aduhai ramai di kalangan umat,
Aduhai ramai pada manusia
Ada yang menanggalkan mantel kemuliaan
Ada juga yang menjual kata Sang Pemilik Kalam
Nikmat yang dikejar dan dipertuhankan
Wahai manusia
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/06/setetes-nikmat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Nasib si Pedas Lokal dalam Bayang-Bayang Impor
Oleh. Dia Dwi Arista
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Siapa yang tak kenal cabai? masyarakat Indonesia memiliki masakan khas yang banyak menggunakan cabai. Bahkan, rasa pedas juga semakin digandrungi oleh milenials. Harga cabai yang turun drastis, pasti membuat masyarakat gembira. Namun, apakah petani mempunyai perasaan yang sama?
Diwartakan oleh m.kumparan.com pada 29/8/2021, harga cabai anjlok hingga Rp4000 per kilogram. Anjloknya harga tak hanya pada cabai rawit, namun semua jenis cabai mengalami penurunan drastis. Hal ini membuat para petani merasa putus asa, hingga banyak lahan yang dibiarkan tak terurus. Bahkan anjloknya harga cabai juga memengaruhi psikologis petani, mereka takut untuk menanam kembali jika terus merugi.
Penyebab Harga Cabai Anjlok
Anjloknya harga cabai dilansir dari data produksi aneka cabai nasional, disebabkan adanya surplus atau kelebihan produksi. Pada bulan Juli, cabai yang diproduksi sebanyak 163.293 ton, sedangkan kebutuhan masyarakat sebesar 158.855 ton, maka surplus cabai sebanyak 4.439 ton.
PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang terus berlanjut, juga dituding sebagai dalang turunnya harga cabai. Restoran, rumah makan, dan usaha kecil, yang biasanya menjadi tujuan pemasokan cabai, harus tersendat karena adanya PPKM. Pemberlakuan aturan yang tidak tepat mengakibatkan efek domino, dan lagi rakyat jua yang harus kena imbas.
Surplus produksi, nyatanya bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi lengsernya harga cabai. Namun, pemerintah juga masih doyan mengimpor saat nasib petani cabai di ujung tanduk kerugian.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/08/nasib-si-pedas-lokal-dalam-bayang-bayang-impor/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Musibah Membawa Hikmah
Oleh: Misnawati
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Allah Swt. berfirman,
Kehidupan dunia fana hanyalah sementara, di dalamnya berbagai ujian akan ditemui. Termasuk saat ini, pandemi wabah Covid-19 yang melanda hampir di seluruh dunia, tidak ada yang tidak disinggahinya, termasuk negeri ini. Indonesia.
Sejak masuk ke Indonesia, pandemi Covid-19 menelan korban yang jumlahnya tidak sedikit, ada yang sakit lalu sembuh, namun tidak sedikit yang menjadi syahid, ada orang tua kehilangan anaknya, anak kehilangan orang tua, suami kehilangan istri, istri kehilangan suami. Sungguh pilu memang menyaksikan kondisi hari ini, orang-orang yang kita sayangi telah menjadi korban ganasnya pandemi.
Namun, meratapi keadaan tak akan mengembalikan mereka yang telah tiada. Bersedihlah sewajarnya, itu manusiawi, menyadari sepenuhnya kelak kita pun akan berpulang menyusul mereka, namun kita tak tahu kapan, di mana, atau dengan cara apa Allah memanggil kita, tentu kita berharap diberikan kematian husnul khatimah.
Sebagai orang yang beriman, kita harus meyakini musibah apa pun yang terjadi merupakan sunnatullah setiap manusia akan mengalaminya.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/31/musibah-membawa-hikmah-2/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pandemi Datang, Pendidikan Melayang
Oleh. Ima Khusi
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Hampir dua tahun pandemi Covid-19 ini datang meruntuhkan segala hal yang ada, menggagalkan segala rencana dan menghilangkan mimpi serta harapan anak bangsa. Pandemi tak hanya berimbas pada dunia kesehatan dan ekonomi, tapi juga dunia pendidikan.
Dilansir dari jawapos.com pada 16 agustus 2021 bahwa di masa pandemi ini hampir setengah juta mahasiswa putus kuliah disebabkan kesulitan ekonomi. Kepala Lembaga Beasiswa Baznas, Sri Nurhidayah, menyampaikan angka putus kuliah di Indonesia mencapai 602.208 orang sepanjang tahun lalu, data ini beliau kutip dari Kemendikbudristek, beliau juga mengatakan kondisi saat ini sebagaimana diketahui bahwa krisis pandemi Covid-19 telah menyebabkan angka putus kuliah naik tajam.
Tidak adanya pengurangan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan bertambahnya penduduk miskin akibat dampak ekonomi, sosial, dan kesehatan dari pandemi Covid-19 menimbulkan banyak mahasiswa yang putus kuliah. Sehingga angka putus kuliah yang sebelumnya sekitar 18 persen naik mencapai 50 persen pada masa pandemi.
Pusat Layanan Pembiayaan Pendidikan Kemendikburistek juga mengiformasikan rata-rata angka putus kuliah paling banyak ada di perguruan tinggi swasta (PTS). Oleh karenanya, Baznas tahun ini membuka beasiswa Cendekia Baznas yang diperuntukkan bagi mahasiswa yang terdampak pandemi, sehingga tidak sampai mengalami putus kuliah. Ini merupakan bukti ternyata kebijakan pemerintah terkait penanganan pandemi tidak mencakup pembebasan biaya sekolah ataupun kuliah.
Sejak dulu, pendidikan tinggi memang masih sulit dijangkau oleh anak muda Indonesia, terutama bagi mereka yang berekonomi rendah. Ditambah di masa pandemi, ekonomi rakyat jatuh merosot. Maka, sudah pasti mahasiswa yang kurang mampu terancam putus kuliah atau bahkan tidak akan kuliah. Hal ini jelas menimbulkan keprihatinan, anak muda yang seharusnya mendapatkan pendidikan, terpaksa harus mengubur dan menghentikan proses pendidikan karena ketiadaan biaya. Sehingga jelas ancaman kehilangan potensi intelektual generasi ada di depan mata.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/05/pandemi-datang-pendidikan-melayang/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Muda Membaca, Muda Mendunia
Oleh: Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
Voice Over Talent : Fani R
NarasiPost.Com-“Not all readers are leaders, but all leaders are readers.” –Harry S. Truman (Presiden ke-33 Amerika Serikat)
Kutipan tersebut boleh jadi singkat dan begitu ringkas, tetapi maknanya sungguh mendalam.
“Tidak semua pembaca adalah pemimpin, tetapi semua pemimpin adalah pembaca.”
Dari kutipan tersebut, mantan Presiden AS yang namanya dicatat oleh dunia sebagai pemimpin yang memencet tombol bom atom untuk dijatuhkan di atas kota Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 dahulu, seakan-akan ingin menyampaikan bahwa membaca adalah aktivitasnya para pemimpin dunia, dan tidak ada satu pun pemimpin di dunia yang meninggalkan bacaannya hanya teronggok di pojokan dengan diselimuti debu.
Sebagai umat dari diin yang begitu memuliakan ilmu, para ulama sebagai ahli waris para nabi pun ternyata mencontohkan hal itu, bahkan jauh sebelum pemimpin barat tersebut menyampaikan pernyataan demikian. Salah satu contoh yang cukup nyata adalah kebiasaan seorang pemikir muslim, Syaikh Taqiyuddin an Nabhani, yang kini dikenal namanya oleh dunia sebagai ulama dan mujtahid yang konsisten memperjuangkan Islam hingga akhir hayatnya.
Menurut sebuah buku yang ditulis oleh Reza Pankhurst yang berjudul, “Hizb ut-Tahrir: The Untold History of the Liberation Party”, dicatat bahwa Syaikh Taqiyuddin menamatkan 25.000 bacaan dalam kurun waktu enam tahun. Hal itu sama dengan 4.166 bacaan dalam setahun dan sekitar 340an bacaan dalam sebulan. Masyaallah! Fakta lainnya adalah bahwa itu hanya satu ulama, sedangkan umat ini memiliki ribuan, bahkan puluhan ribu ulama yang tentu memiliki kebiasaan membaca yang tak kalah luar biasa.
Bagi generasi muda muslim, aktivitas tersebut sepatutnya bukanlah hal yang tak mungkin untuk diteladani, mengingat kita memiliki waktu yang sama dalam sehari. Bahkan, para ulama tersebut dapat dipastikan juga aktif mendakwahkan ilmu yang beliau miliki, yang tentu itu menyita waktu sehari-harinya.
Bila direfleksikan pada hidup hari ini, sesibuk apa sih para pemuda muslim dalam satu hari? Apakah sebegitu sibuknya hingga untuk meluangkan waktu membaca saja kian susah? Astaghfirullahal ‘azim!
Jika benar umat ini merindukan kebangkitan dan kejayaan, serta kembali memimpin dunia sebagaimana yang sudah dilalui di masa lampau, maka layakkah para pemuda yang merupakan tonggak peradaban dunia itu ada di tangannya, masih memiliki 1001 alasan untuk membaca? Sungguh ini adalah sebuah pertanyaan yang seharusnya mengajak kita untuk merenungkannya secara serius, bahwa seberapa besar ikhtiar yang sudah kita usahakan demi tegaknya kemuliaan Islam di kancah dunia?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/29/muda-membaca-muda-mendunia/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Dengan Islam Kehidupan Menjadi Tumbuh dan Tangguh
Oleh. Eli Ermawati
Voice Over Talent : Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Dengan kalimat Takbir “Allahu Akbar” berabad-abad Indonesia berjuang mengusir para penjajah (Belanda, Inggris, Portugis, dan Jepang), akan tetapi setelah meraih kemerdekaan malah membesarkan paham kapitalisme, sekularisme, individulisme, hedonisme, serta pergaulan bebas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak heran setelah hidup di alam kemerdekaan (76 tahun) justru bangsa ini semakin terpuruk. Ketidakadilan, dominasi kekayaan alam oleh negara lain, jeratan utang dengan (riba) yang semakin menggunung, gempuran tenaga kerja asing, kemiskinan, pengangguran, tingkat kriminal, ketimpangan sosial, kemaksiatan merajalela, kerusakan moral, kebodohan dan lain-lain adalah fenomena yang masih kita rasakan hingga saat ini.
Di dalam pembukaan UUD 45 pada paragraf pertama,
Pada faktanya, penjajahan itu terus berlangsung hingga saat ini, artinya kita belum merdeka. Kita memang tidak terjajah secara fisik, namun kita terjajah secara nonfisik, padahal definisi merdeka itu sendiri adalah bebas. Bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya, berdiri sendiri, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, dari tuntutan penjara seumur hidup, tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa (Lihat KBBI ; Merdeka).
Negara kita masih terbelenggu dan terikat dalam ideologi kapitalisme, baik secara politik maupun ekonominya, terjajah oleh budaya dan moral produk pemikiran asing, seperti sekularisme, liberalisme, hedonisme, dan budaya permisif yang kian menggerus jati diri bangsa.
Bagaimana mungkin slogan kemerdekaan dengan “76 Tahun Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh” bisa digunakan , sedangkan negaranya masih terjajah? sebab negara bisa dikatakan tumbuh jika diiringi dengan kesejahteraan yang meningkat. Dalam Islam kesejahteraan diukur dari individu ke individu lainnya. Mereka bisa memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan dengan cara baik. Karena sejahtera itu menunjuk pada keadaan yang baik, yakni kondisi orang-orangnya dalam keadaan makmur, sehat, dan damai. Akan tetapi kondisi saat ini justru kebalikannya.
Dilansir dari TribunNews.Com, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah orang miskin di Indonesia pada Maret 2021 sudah mencapai 27,54 juta orang. Jumlah itu membuat tingkat kemiskinan mencapai 10,14 persen dari total populasi nasional. Dan masih banyak kita jumpai orang-orang yang hidupnya serba kekurangan bahkan untuk makan saja susah, karena kebutuhan hidup yang serba mahal, dengan tempat tinggal yang kurang layak, mencari pekerjaan sulit, biaya pendidikan dan kesehatan mahal.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/04/dengan-islam-kehidupan-menjadi-tumbuh-dan-tangguh/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Anakku Muara Bahagiaku
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S (Redaktur Pelaksana NarasiPost.com)
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Belasan tahun lalu, saat aku masih duduk di bangku kuliah, aku bercita-cita ingin memiliki anak banyak kelak ketika sudah menikah. Kecintaanku pada dunia anak-anak mendorongku bercita-cita demikian. Selain itu, aku juga teringat akan sabda Rasulullah Saw bahwa kelak di hari akhir beliau akan membanggakan jumlah umatnya yang banyak.
Maka setelah menikah pun tiap ditanya, “Mau punya anak berapa?”
“ Insya Allah. Mau 11 anak.” Begitulah jawabku.
Namun, ternyata cita-citaku harus kandas tatkala aku harus melahirkan anak pertamaku lewat operasi ceasar. Betapa tidak, seseorang yang melahirkan secara ceasar secara medis tidak boleh melahirkan lagi lebih dari 3 kali. Apalagi jika prosesnya ceasar semua.
Benar saja, anak ke dua dan ke empatku pun terpaksa harus dilahirkan lewat operasi ceasar, karena kasusnya sama dengan anak pertama: sudah lebih beberapa hari dari tanggal Hari Perkiraan Lahir (HPL), kontraksi tak kunjung datang, sedangkan air ketuban sudah berubah warna. Ya, akhirnya tiga kali aku melahirkan secara ceasar, dan satu kali normal saat melahirkan anak nomor dua.
Kehadiran anak-anak dalam hidupku adalah anugerah terindah yang tak dapat digantikan dengan apa pun. Mereka adalah guru kehidupanku. Dari merekalah aku belajar tentang kesabaran, pengorbanan, dan ketulusan. Betapa tidak, membersamai mereka menuntutku menjadi pribadi yang jauh lebih baik, karena kelak mereka akan merekam apa yang mereka lihat dan dengar dariku. Maka tentu saja, aku harus selalu belajar mengontrol diriku agar tidak menjadi pribadi negatif di hadapan mereka. Sebaliknya, aku belajar untuk menjadi teladan. Membersamai mereka juga menuntutku menjadi seseorang yang mampu meresapi makna sebuah pengorbanan. Tak masalah diri lelah, asal mereka terjaga.
Anak-anakku jugalah yang menjadikanku belajar banyak hal. Selain mensalehkan diri, karena kutahu bahwa mustahil menuntut anak saleh dan salehah, sementara diri berlumur dosa dan maksiat, aku pun berupaya belajar banyak hal. Belajar masak dengan menu yang variatif, agar bisa meracik makanan dengan tanganku sendiri demi memenuhi gizi mereka, sebab kuingin tubuh anak-anakku sehat dan kuat, terhindar dari zat-zat haram dan berbahaya.
Sungguh, anakku adalah muara bahagiaku. Mereka menjadi penyejuk mata tatkala aku dilanda lelah, mereka juga menjadi pelipur lara tatkala hati disergap gulana. Ah, sungguh tak mampu melukiskan dengan kata-kata betapa berharganya kehadiran seorang anak dalam sebuah pernikahan. Maka tak heran, banyak orang di luar sana yang mati-matian melakukan banyak hal demi memperoleh keturunan. Menjalani terapi ke sana ke mari, minum obat ini itu, makan makanan ini itu, hingga mengamalkan doa ini itu. Ya, sebab kehadiran buah hati merupakan dambaan setiap pasangan suami istri secara fitrahnya.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/27/anakku-muara-bahagiaku/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Tes Covid Gratis?“No Free Lunch” dalam Demokrasi
Oleh: Rindyanti Septiana S.H.I
Voice Over Talent : Fani R
NarasiPost.Com-Apakah rakyat patut bersyukur atau tidak dengan instruksi Presiden Jokowi kepada Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, untuk menurukan harga tes PCR? Sebab sebelumnya media nasional masif memberitakan harga PCR di Indonesia lebih mahal dibandingkan dengan beberapa negara lain. Hal yang biasa dalam negeri demokrasi, akan lebih mudah mengubah kebijakan jika ada suara “berisik” dari para netizen yang masif.
Jokowi pun meminta Menkes menurukan harga tes PCR pada kisaran harga Rp450.000- Rp550.000. (cnbcindonesia.com, 15/8/2021)
Senangkah rakyat dengan kebijakan menurunkan harga tes Covid? Ternyata perubahan harga tes Covid tak memberi dampak positif yang signifikan di tengah masyarakat. Karena pada kenyataanya, masih banyak lembaga kesehatan yang melakukan tes Covid dengan harga di atas Rp900.000 melebih tarif batas yang ditetapkan pemerintah. Sementara itu, Tjandra Yoga, mantan Direktur WHO Asia Tenggara menilai pemerintah jangan buru-buru menetapkan tarif batas tertinggi tes PCR. Harus dilihat terlebih dahulu berapa ongkos pajaknya, berapa modal, dan besaran keuntungannya. (cnbcindonesia.com, 15/8/2021)
Beginilah cara berpikir kapitalis dalam menentukan kebijakan, harus dilihat dulu untung dan ruginya. Bukan memastikan apakah kebijakan tersebut, memudahkan atau menyulitkan rakyatnya.
Sepertinya penguasa dalam demokrasi sedang memainkan perasaan rakyat dengan mencoba menurunkan harga tes Covid di tengah pandemi. Menurunkan harga bukanlah solusi untuk memudahkan rakyat memastikan kondisi kesehatan mereka. Seharusnya menggratiskannya, sebab telah menjadi tanggung jawab penuh bagi negara menjamin kesehatan rakyat.
Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/08/28/tes-covid-gratisno-free-lunch-dalam-demokrasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed