
Sign up to save your podcasts
Or


Agar Perselingkuhan Tidak Menyapa
Oleh : Novida Sari, S.Kom
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Kalau ditanya, ibadah apakah yang terlama dan membutuhkan komitmen kuat? Maka jawabannya tentu menikah. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral, agung, dan mulia dalam ajaran Islam. Melalui pernikahan, Allah Swt. telah menutup pintu perzinahan yang sangat dimurkai-Nya. Ada begitu banyak ujian pernikahan, mulai persoalan keturunan, visi misi keluarga, dan yang paling berat adalah perselingkuhan.
Perselingkuhan dapat mengakibatkan rumah tangga hancur berkeping-keping. Zaman sekarang, umat Islam kian melepaskan ikatan demi ikatan, helai demi helai bahkan simpul demi simpul agamanya, hingga hidup dalam peradaban batil bernama sekularisme yang mengagung-agungkan kebebasan dalam pergaulan. Umat Islam bebas berinteraksi dengan lawan jenis, bukan hanya yang single, tetapi juga yang sudah berumah tangga.
Saat ini, selingkuh dianggap sesuatu yang lumrah. Karena itu, timbul kekhwatiran untuk memberikan komitmen dalam ikatan pernikahan. Asas kebebasan dalam berinteraksi telah menggiring manusia untuk “Tinggal Bersama” tanpa ikatan pernikahan. Hubungan ini sering kali diikuti dengan perselingkuhan.
Dalam rentang waktu antara Januari hingga September 2020, sudah ada 5.464 kasus perceraian yang masuk ke pengadilan agama di Kota Malang. Menurut Informasi, perceraian didominasi oleh kasus suami di dalam negeri yang menghabiskan hasil jerih payah istri yang menjadi TKW, sekaligus melakukan perselingkuhan, seperti yang dilansir dari detiknews (17/11/2020). Perselingkuhan memang menjadi tren penyebab perceraian setelah faktor ekonomi.
Alasan Umum Perselingkuhan
Perselingkuhan tidak mungkin terjadi begitu saja. Menurut Data yang dikeluarkan oleh The Journal of Sex Research, ada beberapa faktor penyebab perselingkuhan. Dari 495 orang dewasa, 77% partisipan mengaku berselingkuh karena berkurangnya rasa cinta. Rasa cinta yang mulai luntur bisa terjadi karena tidak ada lagi keharmonisan, kurangnya perhatian, sehingga membuat langkah pintas untuk mencari Pria Idaman Lain (PIL) ataupun Wanita Idaman Lain (WIL).
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/21/agar-perselingkuhan-tidak-menyapa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Rindu Setengah Mati
Oleh: Aya Ummu Najwa
Voice Over Talent : Dewi F
NarasiPost.Com-Menerawang jauh mata ini memandang. Menahan rindu setengah mati tak tertahankan. Pada sistem Ilahi yang menyejahterakan. Yang membentang dari Maroko hingga Merauke. Yang menaungi dua pertiga dunia dalam ketentraman. Namun, kembali diri ini tersadar, di depan mata kini negeri ini kian hari kian tak bertaji. Karena diterapkannya hukum warisan kompeni. Kerusakan melanda kian parah, seakan penyakit kanker yang telah menjalar ke seluruh tubuh, tiada memungkinkan diatasi melainkan diamputasi.
Saat Islam masih jaya dengan Khilafahnya, semua urusan begitu mudahnya. Rakyat aman sentosa, rukun, damai, penguasa yang mengayomi rakyatnya. Mengatur semua urusan dengan aturan Sang Pencipta. Rakyat diajarkan dan diajak taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sangat berbeda dengan kondisi sekarang ini. Keterpurukan di semua lini membuat hidup kian sulit. Liberalisme diberikan ruang sebebas-bebasnya, agama sedikit demi sedikit dibabat dan dikebiri. Generasi rusak, ekonomi pailit. Negeriku kian nestapa rakyat pun menjerit.
Ketika Khalifah Umar memimpin kekhilafahan Islam, pernah terjadi pandemi thaun di Syam. Gubernur Syam waktu itu adalah sahabat Abu Ubaidah bin Al Jarrah, setelah mendengarkan tentang hadis Rasulullah terkait wabah, khalifah langsung memerintahkan untuk lockdown untuk menghentikan penyebaran. Yang sudah terpapar tidak boleh keluar, yang belum tidak boleh masuk Syam. Dampaknya luar biasa, pandemi bisa segera diatasi, dan korban jiwa bisa diminimalisir. Pemimpinnya peduli rakyat, mengatur urusan dikembalikan dengan merujuk dalil Al-Qur’an dan as-Sunah. Namun berbeda di negeriku sekarang, seakan belum juga cukup dengan semua kenestapaan ini. Pandemi yang melanda semakin hari semakin menjalar ke semua arah. Korban yang terus berjatuhan sudah tak berjumlah, ekonomi pun ambruk kian parah. Masalahnya rakyat yang disuruh di rumah saja, bukanlah boneka yang tak butuh makan. Kebutuhan hidup yang semua serba mahal menambah kesengsaraan.
Ini semua karena pemerintah seolah tak serius melihat masalah. Ketika pandemi ini masih dicegah para penyelenggara negara malah banyak mengeluarkan kelakar. Seolah-olah mereka memang sengaja mengundang pandemi untuk mengurangi jumlah warga negara. Dari promo wisata, polemik insentif nakes yang mandeg, juga vaksin yang berbayar, pajak sembako, menteri yang tak berempati, ini adalah akibat dari sistem kapitalis yang digunakan untuk mengatur negeri.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/24/rindu-setengah-mati/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Sengkarut Harga Tes PCR, Bukti Kuatnya Aroma Bisnis dalam Sistem Kapitalis
Oleh.Renita
Voice Over Talent : Dewi N
NarasiPost.Com-Karut-marut negeri ini dalam penanganan pandemi telah menyebabkan permasalahan umat semakin pelik. Kebijakan plin-plan dan implementasi yang compang-camping nyatanya membuat umat semakin menderita. Kini, permasalahan kembali mencuat terkait mahalnya harga tes PCR. Sebelumnya, media sosial sempat dihebohkan dengan cuitan warganet yang membandingkan harga tes PCR di Indonesia dengan negara lain. Hingga akhirnya presiden memerintahkan Kemenkes untuk menurunkan harga tes PCR.
Dilansir dari kompas.com (15/8/2021), Presiden Joko Widodo menginstruksikan kepada Budi Gunadi Sadikin selaku Menteri Kesehatan untuk menurunkan harga tes polimerase rantai ganda (PCR). Beliau mengatakan bahwa hal ini merupakan cara untuk meningkatkan testing kasus Covid-19. Presiden meminta agar harga PCR berada di kisaran Rp450.000-Rp550.000. Presiden juga mengimbau agar hasil tes PCR bisa keluar dalam waktu 1×24 jam. Sebab menurutnya, penyelesaian pandemi membutuhkan upaya percepatan.
Setelah berbagai desakan dari masyarakat, akhirnya pemerintah resmi menurunkan harga tes PCR di kisaran Rp450.000-Rp550.000 per tanggal 16 Agustus 2021. Meskipun terkesan terlambat, keputusan pemerintah untuk menurunkan harga tes PCR ini patut diapresiasi, setidaknya dengan harga yang lebih terjangkau banyak pihak berharap upaya testing bisa berjalan dengan lebih baik. Walaupun ada pula yang mempertanyakan, mengapa harga tes PCR baru diturunkan sekarang? Apakah penurunan harga tes PCR bisa mempercepat penanganan pandemi?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/22/sengkarut-harga-tes-pcr-bukti-kuatnya-aroma-bisnis-dalam-sistem-kapitalis/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Bahagianya Menjadi Seorang Ibu
Oleh: Ismawati
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Ibu adalah status khusus yang disematkan kepada perempuan yang memiliki anak. Menjadi seorang ibu adalah impian beberapa wanita. Sebab, seorang wanita diberi karunia oleh Sang Pencipta memiliki rahim sebagai jalan baginya untuk melestarikan keturunan. Lebih dari itu, sejatinya semua manusia diberi oleh Yang Maha Pengatur hidup, tiga naluri. Salah satu di antaranya adalah naluri nau’, yakni naluri melestarikan keturunan melalui ikatan suci pernikahan. Setiap pernikahan tentu mendamba hadirnya buah hati sebagai pelengkap kebahagiaan.
Namun, belakangan ini muncul fenomena childfree yang marak dilakukan oleh para artis dan selebritis. Apa itu chilfree? Childfree adalah kondisi di mana seseorang memutuskan untuk tidak memiliki anak, atau tempat dan situasi tanpa anak. Sebenarnya pilihan seseorang untuk childfree adalah bentuk kebebasan seseorang dalam menentukan pendapat dan jalan hidupnya. Apalagi saat ini negara menganut sistem demokrasi liberal yang memberikan hak dan kebebasan termasuk kebebasan berpendapat dan bertingkah laku.
Sebenarnya ada banyak alasan seseorang memilih untuk childfree, seperti dilansir dari klikdokter.com (17/8) menurut seorang Psikolog, Ikhsan Bella Persada, M.Psi. menjelaskan setidaknya ada beberapa alasan yang mungkin membuat seseorang tidak punya anak, diantaranya. Pertama, masalah finansial. Sebab, memiliki anak pasti akan memerlukan banyak biaya. Kedua, hanya ingin hidup berdua dengan pasangan. Ada sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa pasangan yang tidak memiliki anak pernikahannya akan bahagia.
Ketiga, adanya masalah kesehatan. Keempat, wanita tidak ingin bentuk tubuhnya berubah setelah melahirkan dan memiliki anak. Sebab, seorang wanita akan melalui fase kehamilan, persalinan dan menyusui yang dapat mengubah bentuk tubuh wanita. Tak bisa dimungkiri, mempertahankan bentuk tubuh ideal pasca melahirkan tidaklah mudah. Keempat merasa tidak dapat menjadi orang tua yang baik. Ada beberapa wanita dan pria yang beranggapan tidak dapat menjadi orang tua yang baik untuk anak mereka nanti. Terakhir ingin lebih fokus pada karir.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/05/bahagianya-menjadi-seorang-ibu/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Bela Baha’i, Bukti Toleransi Berbalut Moderasi
Oleh. Isty Da’iyah
Voice Over Talent : Mels
NarasiPost.Com-Islam adalah agama yang sempurna, penyempurna agama samawi sebelumnya, yang berakidah lurus sebagai aturan hidup manusia di dunia. Namun, karena kebebasan dan sistem sekuler yang telah berkembang di dunia, maka bermunculan agama baru yang menafikan kebenaran dari zat yang Mahakuasa.
Seperti yang terjadi baru-baru ini, Menteri Agama (Menag), Yaqut Cholil Qoumas, menjadi sorotan publik karena mengucapkan selamat hari raya kepada komunitas Baha’i yakni agama sesat yang menyeleweng dari koridor Islam. Hal ini kemudian menuai kecaman dan dinilai melakukan offside.
Setelah Menteri Agama menuai kecaman karena ucapan hari raya pada aliran sesat Baha’i, kini pemerintah juga terus melakukan pembelaan dengan menyatakan tidak ada aturan yang dilanggar dari pemberian ucapan tersebut. Pembelaan itu disampaikan oleh Staf Khusus Menteri Agama, Ishfah Abidal Aziz, yang menyebutkan bahwa langkah Menag selama ini berjalan sesuai perintah peraturan perundang-undangan yang berlaku, yakni mengajak umat untuk kembali pada regulasi undang-undang yang ada sehingga bisa memahaminya secara utuh. (CNNIndonesia 29/7/21).
Sementara itu detikNews (30/7/21) mewartakan koalisi yang terdiri YLBHI, Paritas Institute, LBH Jakarta, Yayasan Inklusif, HRWG, CRCS UGM, Ulil Abshar Abdalla, dan Ahmad Suaedy, menilai adanya kontroversi perihal komunitas Baha’i ini, mengharapkan agar pemerintah dapat melindungi dan memenuhi hak-hak kelompok minoritas sebagai warga negara yang sama. Bahkan Penrad Siagian menilai seharusnya Menag tidak hanya cukup mengucapkan selamat, namun harus diteruskan kepada perlindungan, pelayanan publik terhadap semua kelompok yang selama ini mengalami diskriminasi.
Dari berbagai pembelaan dan alasan yang dikemukakan banyak pihak di atas, menunjukan bahwa arus kebebasan beragama yang terjadi di negeri ini semakin kuat. Upaya moderasi beragama yang dianggap sebagai kunci terciptanya sebuah toleransi beragama masif dilakukan, padahal toleransi yang kebablasan akan menyebabkan lunturnya akidah umat Islam.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/06/bela-bahai-bukti-toleransi-berbalut-moderasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Menggenggam Ayat Cinta-Mu
Oleh: Choirin Fitri
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Tak pernah terbayang dalam benak ini jika diri terlahir menjadi orang yang tuli. Tak bisa mendengar suara. Tak mampu menikmati alunan bacaan Al-Qur’an. Pun tak mampu mengerti percakapan tiap orang.
Tak pernah pula membayangkan jika lisan ini tak dapat bicara. Tak mampu berkata-kata. Tak bisa meramalkan ayat Al-Qur’an. Tak juga bisa menyenandungkan nada-nada shalawat.
Syukur Alhamdulillah. Allah telah menciptakan diri ini menjadi manusia sempurna. Dari ujung rambut hingga kaki tak kekurangan suatu apa pun. Telinga memiliki kemampuan dengar yang baik. Mulut pun masih bisa mengecap berbagai rasa dan mampu bicara.
Nikmat lain yang sangat pantas disyukuri adalah mata. Mata yang mampu melihat berbagai karya Allah di alam semesta, manusia, serta kehidupannya. Mata yang bisa digunakan untuk memandang setiap ayat Al-Qur’an yang terpampang dalam lembaran-lembaran mushaf. Mata yang tak lelah diajak berkarya untuk kebaikan umat.
Sungguh, dengan mata inilah sebuah ayat Al-Qur’an tampak indah saat berbincang tentang rahmat dan cinta Allah. Tapi, mata langsung mendelik hingga terkadang basah ketika ayat Allah yang dipandang berisi tentang azab atau murka Allah pada mereka yang tak ada iman.
Salah satu ayat yang membuat diri melakukan muhasabah adalah surat Al-An’am ayat 39. Berbunyi,
وَالَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِنَا صُمٌّ وَّبُكْمٌ فِى الظُّلُمٰتِۗ مَنْ يَّشَاِ اللّٰهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَّشَأْ يَجْعَلْهُ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu dan berada dalam gelap gulita. Barang siapa dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.”
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/13/menggenggam-ayat-cinta-mu/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Menikmati Segala Rasa
Oleh: Afiyah Rasyad
Voice Over Talent : Fani R
NarasiPost.Com-Seorang perempuan sudah lazim diketahui lekat dengan perasaannya. Berbagai ekspresi diproduksi tatkala perasaan seorang perempuan sedang beraksi. Sejatinya perasaan adalah ekspresi dari penampakan naluri-naluri yang ada pada manusia, serta kebutuhan hidup secara mendasar. Sebut saja rasa senang saat mendapat hadiah, sedih saat kehilangan, lapar saat tak makan, kecewa saat tak sesuai harapan, dan seterusnya.
Apakah laki-laki tidak mempunyai perasaan? Tentu saja mereka punya. Sebagian besar laki-laki diketahui tak begitu larut dalam gugusan perasaan. Batas yang ditampakkan laki-laki akan perasaannya sangat wajar dan masuk akal. Namun, hal itu berbalik dengan kondisi perempuan. Padahal, perasaan ini tak boleh menjadi acuan dalam seluruh aktivitas kehidupan. Perasaan hanyalah penampakan dari emosi jiwa saja. Sementara aktivitas seorang muslim, laki-laki ataupun perempuan wajib terikat dengan hukum syara’.
Sumber hukum syara’ itu ada empat; Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ sahabat, dan qiyas. Tak ada perasaan dalam sandaran itu. Setiap rasa yang muncul, harus dikelola dan dinikmati agar berpotensi sebagai pahala jariyah kelak. Rasa marah sekalipun, perlu dikelola agar bernilai pahala. Marah saat melihat kemaksiatan dan kemungkaran, tentu akan mendatangkan pahala.
Kaum hawa akan begitu ekspresif sesuai dengan apa yang dirasakan. Gasture tubuh dan raut wajahnya akan mengikuti sumber perasaannya. Dentuman ekspresi rasa diolah dengan total oleh makhluk lembut yang bernama perempuan. Rasa ingin diistimewakan sering menyembul begitu saja. Terkadang, rasa iri bersemayam dalam hati tatkala ia merasa dinomorduakan.
Perasaan marah seorang perempuan begitu mudah meledak ketika sedikit saja jiwanya tersinggung atau tersakiti. Celaan dan hinaan akan semakin mudah membuatnya murka, tanpa bisa mengendalikan diri. Goncangan hidup terkadang sampai membawa perempuan dalam ombak stress yang dahsyat.
Perempuan memang identik dengan segala ekspresi rasa yang menyatu di jiwa dan akalnya. Maka, tak heran jika perempuan sering dicap sebagai makhluk yang perasa atau sensitif.
Terkadang, kaum muslimin keliru dalam menikmati rasa. Misal, ketika saudara seakidah Palestina dianiaya, rasa marah dan kasihan datang bersamaan. Namun, rasa kasihan lebih dominan dengan memberikan uluran tangan berupa bantuan dan doa. Padahal, rasa marah layak diberi tempat, yakni dengan mengingatkan Israel agar hengkang dari Palestina atau dengan mengingatkan penguasa muslim untuk mengirimkan militer ke sana.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/04/menikmati-segala-rasa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Guyangan, Air Terjun Sejuta Kenangan
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Kabupaten Probolinggo terletak di wilayah pantura. Probolinggo kaya destinasi wisata bahari. Sepanjang pantura, Wisata Pantai Mangroove terbentang. Namun demikian, Probolinggo juga kaya destinasi wisata alam dataran tinggi. Gunung, air terjun, danau, kebun teh, dan pemandian air panas alami. Keindahan alam Probolinggo yang Allah ciptakan akan memanjakan travellers untuk menikmati pemandangan alam yang terhampar. Salah satu pemandangan alam yang memesona adalah air terjun Guyangan.
Air terjun Guyangan terletak di lereng Gunung Argopuro, tepatnya di Desa Guyangan, Kecamatan Krucil. Akses ke air terjun penuh kenangan ini begitu mudah. Dari pusat Kota Kraksaan berjarak 35 kilometer perjalanan sekitar dua jam. Dari tempat parkir, para wisatawan cukup berjalan kaki ke arah air terjun dengan jarak 400 meter. Jalan ke air terjun sudah dibeton dengan kontur alam yang sepadan, jalan yang tak begitu meliuk tajam mudah untuk dijangkau anak-anak sekalipun.
Wajah asri alam terpampang di sepanjang jalan. Rimbunnya daun durian dan alpukat menghiasi setiap rumah penduduk. Hingga sampai ke tempat parkir, langkah kaki diiringi bunga matahari yang berjejer dan pohon kopi yang siap panen. Kanan kiri jalan ke arah air terjun diapit dinding tinggi pegunungan dan lembah yang begitu indah. Di mana lumut dan pohon palu bersarang dengan gagah. Duhai Jiwa, nikmat Allah yang manakah yang harus didustakan? Destinasi wisata air terjun Guyangan atau juga dikenal air terjun Jaran Goyang menunjukkan kemegahan alam dan Zat Penciptanya.
Bagaimana tidak, air terjun dengan dinding tebing yang cukup lebar pada kedua sisinya itu tampak elok. Adanya tambahan wahana dua buah taman kolam bermain pada bagian kanan aliran sungainya menegaskan keindahan alami air terjun tersebut, membuat betah para pengunjung berendam di sana. Sepanjang mata memandang, hanya keindahan yang memanjakan penglihatan. Suara air terjun yang deras mengalun dalam irama napas yang berharap segera sampai di bawah kaki air terjun itu.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/25/guyangan-air-terjun-sejuta-kenangan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
ASO : antara Urgensi dan Kepentingan Korporasi
Oleh. Nay Beiskara
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Bagi dunia yang tengah memasuki era revolusi industri 4.0 ini, proses digitalisasi di berbagai lini merupakan sebuah keniscayaan. Kompas.com (19/12/2019) menekankan bahwa revolusi industri 4.0 yang berbasis komputerisasi ini akan mengubah banyak sektor dan aspek kehidupan manusia secara sistemik. Salah satu sektor yang dituntut untuk segera beralih adalah sektor penyiaran.
Kominfo melalui siaran persnya pada Minggu (6/6/2021) mewartakan bahwa Indonesia secara bertahap akan memberlakukan ASO (Analog Switch Off) atau penghentian penyiaran melalui televisi analog. Dengan kata lain, negeri berkembang ini akan memulai proses digitalisasi penyiarannya. Hal ini telah diatur melalui Peraturan Menteri Kominfo Nomor 6 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penyiaran.
Tentu banyak pihak yang mempertanyakan mengapa kebijakan ini diambil pemerintah, apa manfaat dan urgensinya bagi masyarakat? Melihat saat ini kondisi negeri ini masih diselimuti wabah yang tidak tahu kapan akan lenyap dan secara ekonomi tak jua membaik, tapi sebaliknya justru kian terpuruk.
Manfaat dan Urgensitas ASO
Dalam lensa pemerintah, kebijakan ini diambil berdasarkan beberapa faktor yang telah dikaji. Pertama, ASO telah menjadi praktik umum secara global di dunia. Kedua, sebagai bentuk penerimaan usulan atau masukan dari lembaga penyiaran sendiri. Ketiga, pertimbangan kesiapan industri dalam negeri memasuki era revolusi industri 4.0. Keempat, adanya keterbatasan dari spektrum frekuensi radio.
Rencananya pemerintah akan melakukan digitalisasi televisi analog ini dalam lima tahap.Tahapan dimulai dari Agustus 2021 hingga paling lambat November 2022.(Kominfo.go.id, 16/6/2021)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/29/aso-antara-urgensi-dan-kepentingan-korporasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed