
Sign up to save your podcasts
Or


Pengujian Penegakan Hukum dalam Sistem Kapitalisme
NarasiPost.Com-Indonesia merupakan salah satu negara yang subur terhadap peredaran narkoba. Hal tersebut terlihat dari tingginya tingkat prevalensi narkoba setiap tahunnya. Tak hanya sampai di situ, United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) merilis fakta bahwa Indonesia termasuk dalam jajaran segitiga emas perdagangan narkoba, khususnya metafetamin, bersama dengan Jepang, Australia, Selandia Baru, dan Malaysia. Sungguh suatu fakta yang memprihatinkan.
Sebagaimana keterangan yang disampaikan oleh kuasa hukum keduanya, yakni Wa Ode Nur Zainab. Menurutnya, Nia dan Ardi adalah korban dari penggunaan narkoba. Dan merujuk pada UU Nomor 35 Tahun 2009, maka rehabilitasi wajib diberikan kepada korban penyalahgunaan narkoba. (Kompas.com, 10/07/21)
Sementara itu, Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Hengki Haryadi, ikut menegaskan hal tersebut. Katanya, penyidik tetap akan memproses hukum terhadap Nia Ramadhani dan Ardie. Meski begitu undang-undang pengguna narkotika mewajibkan mereka untuk menjalani rehabilitasi.
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Apakah Kemenangan Taliban Merupakan Kemenangan Islam?
NarasiPost.Com-Dikutip dari Sindonews.com(20 Agustus 2021), akhirnya kelompok milisi Taliban secara resmi mendeklarasikan nama negara baru Afghanistan dengan nama “Imarah Islam Afghanistan” atau “Islamic Emirate of Afghanistan” pada hari Kamis, 19 Agustus 2021. Deklarasi ini bertepatan dengan Hari Kemerdekaan Afghanistan.
Dengan deklarasi tersebut akan memperkuat kekuasaan Taliban di negara itu, beberapa hari setelah merebut ibu kota nasional Kabul, tepatnya pada 15 Agustus 2021. Selain itu, mereka menggulingkan pemerintah Afghanistan atas dukungan Amerika Serikat (AS). Atas kemenangan Taliban menguasai kembali Afghanistan, Amerika Serikat (AS) pun menarik pasukan militernya setelah sekian lama menduduki wilayah tersebut. Selama 20 tahun AS berperang melawan Taliban, yakni sejak tahun 2001 tatkala AS berhasil meruntuhkan kekuasaan kelompok militan ini. Adapun alasan bercokolnya pasukan AS ini dikatakan untuk mengawal proses demokratisasi dan menghalangi penguasaan oleh Taliban.
Taliban adalah kelompok militan Afghanistan yang terbentuk pada September tahun 1994. Tujuan kelompok ini adalah menegakkan negara yang akan menerapkan syariat Islam. Pada September 1996, Taliban berhasil menduduki pemerintahan dan menerapkan hukum Islam di sana. Namun, sayangnya rakyat Afghanistan merasa keberatan dengan penerapan hukum yang dianggap terlalu keras pada saat itu. Begitu pun dengan sekarang, rakyat banyak yang ingin mengungsi atau meninggalkan negaranya. Ribuan warga berebut naik pesawat di bandara. Hal ini menunjukkan begitu besarnya pengaruh dan intervensi AS selama bercokol di sana. Selama 20 tahun pendudukan, AS telah mampu mengubah pola pikir dan pola sikap kaum muslim Afghan terhadap agamanya.
Selain itu, kelompok Taliban belum mau menyatukan negeri-negeri Islam yang terpecah-belah. Mereka berprinsip menegakkan negara imarah, namun masih mengakui nation state. Mereka juga masih mau berkompromi atau bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Padahal seharusnya mereka tak perlu terikat pada berbagai negoisasi.
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Tuan, Oh Tuan!
Ada tuan yang meramu bahasa
Ada tuan yang merangkai kata
Semua itu teruntai dari mulut tuan
Kalau tuan berkenan membuka mata
Dalam sistem wakanda manusia yang berkuasa
Hanya saja, tuan segan membongkar fakta
Atau jangan-jangan mulut tuan tak berguna
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Keadilan Hanya Ada Dalam Islam
NarasiPost.Com-Hari ini kita seakan sedang melihat drama ketidakadilan yang begitu nyata di depan mata. Seakan keadilan adalah hal yang mewah serta langka di negeri ini. Para pembuat keputusan seakan buta mata dan nurani ketika berhadapan dengan kasus rakyat jelata, namun akan begitu luluh dan berprikemanusiaan ketika berhadapan dengan para pejabat dan pemilik harta.
Ketika seorang ulama didakwa melakukan kerumunan ia divonis tak manusiawi, namun di lain pihak, banyak pejabat negara melakukan dan mengadakan hal yang sama, namun mereka aman sentosa. Begitupun kasus yang menjerat penegak hukum perempuan, begitu mudahnya ia mendapatkan potongan penahanan, padahal ia telah melakukan kejahatan besar dengan menerima suap dari koruptor kakap, begitu timpang jika dibandingkan dengan para ibu yang melakukan kesalahan hanya karena dituduh merusak sebuah pabrik, yang bahkan mereka langsung ditahan padahal mereka sama-sama mempunyai balita. Bahkan kasus narkoba yang baru-baru ini kembali meresahkan, karena tersangka adalah para pemilik uang, maka rakyat pun seakan sudah bisa membaca dengan mudah ke mana arah putusannya, tentu ini akan berbanding terbalik jika ada seorang jelata melakukan hal yang sama.
Inilah fakta yang terjadi sekarang ini. Pada kasus yang sama bisa berbeda vonis dan keputusan, hanya karena terdakwa antara yang disenangi atau dibenci, yang punya uang atau hanya rakyat bawahan, atau mungkin karena para hakim mudah untuk dipesan. Begitulah sejatinya pengadilan dunia di negeri ini. Sebuah pengadilan palsu nan semu. Ia hanya sebuah alat yang sering digunakan untuk menghukum rakyat kecil atau musuh politik. Sedang bagi para pejabat negara yang korupsi ia seakan kehilangan fungsinya. Padahal kadang begitu jelas para koruptor yang telah melakukan penggelapan dana milyaran bahkan triliunan, seolah mereka kebal hukum dan tak tersentuh. Inilah pengadilan dunia, ia laksana pisau yang tajam ke bawah namun begitu bebal dan tumpul ke atas.
Keadaan para penegak hukum dalam sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini pun bermental rendah. Mereka mudah disuap, dan mudah takluk para rayuan kenikmatan dunia. Mereka mudah dibeli dengan harga yang murah. Sungguh tidak ada rasa takut kepada Allah dalam diri mereka. Merasa jumawa dunia dalam genggaman, lupa bahwa kelak mereka akan merasakan hukuman pada pengadilan Allah yang sebenarnya.
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Menikmati Segala Rasa
Oleh: Afiyah Rasyad
NarasiPost.Com-Seorang perempuan sudah lazim diketahui lekat dengan perasaannya. Berbagai ekspresi diproduksi tatkala perasaan seorang perempuan sedang beraksi. Sejatinya perasaan adalah ekspresi dari penampakan naluri-naluri yang ada pada manusia, serta kebutuhan hidup secara mendasar. Sebut saja rasa senang saat mendapat hadiah, sedih saat kehilangan, lapar saat tak makan, kecewa saat tak sesuai harapan, dan seterusnya.
Apakah laki-laki tidak mempunyai perasaan? Tentu saja mereka punya. Sebagian besar laki-laki diketahui tak begitu larut dalam gugusan perasaan. Batas yang ditampakkan laki-laki akan perasaannya sangat wajar dan masuk akal. Namun, hal itu berbalik dengan kondisi perempuan. Padahal, perasaan ini tak boleh menjadi acuan dalam seluruh aktivitas kehidupan. Perasaan hanyalah penampakan dari emosi jiwa saja. Sementara aktivitas seorang muslim, laki-laki ataupun perempuan wajib terikat dengan hukum syara’.
Sumber hukum syara’ itu ada empat; Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ sahabat, dan qiyas. Tak ada perasaan dalam sandaran itu. Setiap rasa yang muncul, harus dikelola dan dinikmati agar berpotensi sebagai pahala jariyah kelak. Rasa marah sekalipun, perlu dikelola agar bernilai pahala. Marah saat melihat kemaksiatan dan kemungkaran, tentu akan mendatangkan pahala.
Kaum hawa akan begitu ekspresif sesuai dengan apa yang dirasakan. Gasture tubuh dan raut wajahnya akan mengikuti sumber perasaannya. Dentuman ekspresi rasa diolah dengan total oleh makhluk lembut yang bernama perempuan. Rasa ingin diistimewakan sering menyembul begitu saja. Terkadang, rasa iri bersemayam dalam hati tatkala ia merasa dinomorduakan.
Perasaan marah seorang perempuan begitu mudah meledak ketika sedikit saja jiwanya tersinggung atau tersakiti. Celaan dan hinaan akan semakin mudah membuatnya murka, tanpa bisa mengendalikan diri. Goncangan hidup terkadang sampai membawa perempuan dalam ombak stress yang dahsyat.
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pandemi Membawa Demokrasi ke Persimpangan Jalan?
NarasiPost.Com-Kekhawatiran diungkapkan oleh sejumlah pihak atas eksistensi demokrasi selama gejolak pandemi Covid-19. Peneliti LIPI, Tri Nuke Pudjiastuti, mengatakan bahwa pandemi adalah tantangan bagi demokrasi. Belum lagi, beberapa keputusan dan kebijakan yang diambil oleh penguasa di masa ini tidak jarang dianggap bertentangan dengan nilai- nilai demokrasi itu sendiri. Pihaknya juga mengingatkan bahwa Covid-19 telah mengubah kebiasaan dan perilaku masyarakat. Dari segi politik, pandemi mengharuskan pemerintah untuk melahirkan regulasi-regulasi baru, berikut cara pikir dari level lokal sampai global. Di samping itu, pandemi juga mengubah wajah demokrasi parlemen, parpol, elektrol, dan lainnya. (lipi.go.id, 12/01/2021)
Itulah mengapa dibutuhkan kehati-hatian dari pemerintah dalam mengambil kebijakan terkait pandemi, jangan sampai, justru menjadi bumerang bagi kelangsungan nilai-nilai demokrasi. Senada dengan itu, Sekjen PBB Antonio Guttrenes juga mengingatkan, agar pandemi Covid-19 jangan sampai merusak nilai demokrasi, mengancam HAM, serta membatasi ruang publik (10/12/2020)
Dari paparan di atas secara tidak langsung menginformasikan kepada kita, betapa hari ini para pakar dan pendukung sistem demokrasi mulai was-was. Eksistensi sistem ini selama wabah pun begitu dikhawatirkan, akankah ia berhasil bertahan dan membawa dunia keluar dari kungkungan wabah dengan selamat tanpa menimbulkan kerugian besar?
Sebagaimana diketahui, beberapa negara di dunia saat ini telah mengalami kondisi buruk di tengah pandemi. Tentu bukan karena semata ulah pandemi, melainkan karena kerusakan sistem yang sebenarnya sudah lama berlangsung. Pandemi hanya sebagai pemantik yang membawa fakta itu muncul ke permukaan. Sayangnya, para kapitalis berasumsi ini efek pandemi, padahal kerusakan ini sejatinya sudah terjadi sejak diterapkannya sistem ini.
Sebut saja Tunisia, negara ini sampai harus merombak kabinet pemerintahannya akibat dari buruknya sistem dan ketahanan politik serta ekonomi negaranya yang semakin parah selama pandemi Covid-19 menyerang. Presiden, Kais Saied, berupaya untuk menyelamatkan pemerintahan sekaligus mempertahankan citra demokrasi di negeri itu agar tidak kolaps dan rusak. Saking terancamnya, AS melalui penasihat keamanan nasionalnya, Jake Sullivan, mendesak agar Kais segera membawa Tunisia kembali ke jalur demokrasi. (Republika.co.id, 01/08/2021)
Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/08/31/pandemi-membawa-demokrasi-ke-persimpangan-jalan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Memelihara Kewarasan “Emak Rempong”
Oleh: Novida Sari, S.Kom
NarasiPost.Com-Apa kabarmu, para ibu hari ini? Apakah visi misi parenting yang dulu dikhayalkan masih berada di jalur tujuan? Ataukah mungkin mulai luntur seiring dengan kesibukan harian yang tak pernah habis?
Tidak dapat dimungkiri memang, betapa sulitnya menjaga tujuan untuk memiliki anak yang saleh, sukses dunia akhirat tetap on the track. Pasalnya, kesibukan harian di dapur, sumur, dan kasur begitu menyita waktu, tenaga dan pikiran. Belum lagi bagi emak berdaster yang memiliki anak rapat, masih belum mandiri, dan bisa jadi punya bayi lagi karena suami lebih sering di rumah sebagai efek dari pandemi.
Ya, pandemi telah mengubah tatanan kerempongan ibu-ibu di rumah. Anak yang tadinya sekolah luring, sekarang malah daring. Yang tadinya bisa bertempur dengan pekerjaan rumah dengan leluasa setelah anak berangkat sekolah, malah tambah profesi sebagai guru dadakan. Mana sekolah tidak pernah tatap muka, belajar hanya via aplikasi yang menggunakan pulsa, emak pun harus menjadi guru yang serba bisa. Akhirnya kerempongan emak semakin luar biasa, apalagi jika tidak bisa menghadirkan guru dengan mengeluarkan uang jasa. Hal ini tentu semakin menambah lunturnya kewarasan dalam menghadapi realita kehidupan di depan mata.
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Debat Ala Nabi SAW
NarasiPost.Com-“Rasulullah Saw. telah memberikan tiga cara dalam menyampaikan Islam, yaitu argumentatif (hikmah), nasihat yang baik (maw’izhah hasanah), dan debat dengan cara yang baik (jidaal billati hiya ahsan).”
Kata “debat” biasanya bermakna negatif di benak sebagian orang. Banyak dari kalangan aktivis, politikus, hingga ibu rumah tangga sering melakukan debat yang tak berujung. Makna debat tak berujung ini diartikan sebagai sebuah debat kusir dan Rasulullah Saw. menganjurkan umatnya untuk menghindari yang namanya debat kusir.
Makna debat dalam Islam bukan untuk mendongkrak popularitas diri atau hanya sekadar pemuasan intelektual semata. Lebih dari itu, debat adalah salah satu uslub untuk merobohkan berbagai propaganda batil sekaligus menunjukkan kebenaran (Islam). Maka penting bagi setiap Muslim, khususnya para pengemban dakwah terlebih dahulu memiliki kedalaman pemahaman Islam sebelum berdiskusi atau bahkan berdebat dengan pihak lain.
Buku ini mengupas tentang debat menurut Al-Qur’an, menjelaskan cara debat Nabi Saw. hingga mengajarkan cara-cara debat yang elegan, yang tidak melanggar syariat, bahkan mengalahkan kebatilan. Buku ini bukan berarti mendorong seseorang supaya suka berdebat, akan tetapi lebih mengajarkan hal-hal yang patut diperhatikan saat berdebat agar tetap berada pada koridor syariat Islam.
Allah Swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an ada dua jenis debat, yakni debat tercela dan terpuji. Debat tercela adalah debat untuk menentang kebenaran, sedangkan debat terpuji adalah debat yang menunjukkan kebenaran di hadapan para penentangnya. Sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Kahfi ayat 54 yang artinya, “Sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al-Qur’an ini bermacam-macam perumpamaan. Manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah/mendebat.”
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Misteri di Balik Kasus Koruptor Istimewa, Akankah Segera Terkuak ?
Oleh. Witta Saptarini, S.E
NarasiPost.Com-Sejenak kita flashback secuil fakta lawas koruptor istimewa di tanah air. Masih ingat Chen Zihuang ? Ya, itulah nama Mandarin dari seorang Eddy Tanzil, buron sepanjang masa di era pertengahan 90-an, dengan kasus melarikan uang negara triliunan rupiah atas dakwaan penggelapan kredit Bank Bukopin. Ia menjadi legenda pembobol bank di Indonesia, julukan koruptor legendaris melekat pada dirinya. Ditambah keberhasilannya meninggalkan jejak dari LP Cipinang pada tahun 1996 hingga sekarang.
Cina adalah salah satu negara favorit bagi para koruptor dan buron koruptor kelas kakap. Mereka dapat bermukim serta memasukan aset di sana. Tepatnya, di Putian yang notabene kampung halaman sang ayah menjadi tempat petualangan sang legend. Banyaknya uang, afiliasi bisnis di berbagai lini menjadikannya pengusaha yang patut diperhitungkan. Memiliki jaringan dengan orang-orang berpengaruh, termasuk kuatnya relasi dengan orang nomor satu Xi Jinping, menjadikan rekam jejaknya sulit ditelusuri. Bagaimana tidak, sang legend banyak memberikan keuntungan bagi negara dimana ia bersembunyi. (Youtube Channel Narasinewsroom, 2/7/2020)
Predikatnya sebagai buron secara normatif membatasi ruang geraknya, wujud konsekuensi hukum yang menjeratnya. Namun, vonis jeruji tak lantas menghentikan keonarannya menggelapkan dana perbankan. Eddy Tanzil tidak hanya rusuh di Indonesia, tapi kisruh di Cina. Dengan status buronan, ia tetap punya posisi terhormat. Keberhasilannya membentuk sebuah potret kolektif bahwa Eddy Tanzil berasal dari keluarga perantauan yang sukses, kaya, patriotik juga dermawan. Reputasi manis inilah membuatnya terselamatkan di sana. Tak dimungkiri, kuatnya dominasi otoritas negeri Tirai Bambu dalam hubungan diplomatik dengan Indonesia saat ini semakin melemahkan upaya penangkapannya, sekaligus mengonfirmasi 24 tahun kegagalan Indonesia menaklukkannya.
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Memutus Rantai Gajah Pengemban Dakwah
NarasiPost.Com-Pernahkah mendengar istilah rantai gajah? Konon dikisahkan seekor gajah yang ditambatkan oleh pemiliknya dengan mengikat kaki gajah tersebut dengan rantai baja yang kokoh. Awalnya gajah tersebut meronta untuk melepaskan diri, namun tidak berhasil. Setiap kali gajah tersebut berlari, namun ikatan tidak kunjung terlepas dan membuat gajah tersebut tersungkur.
Suatu hari si pemilik melonggarkan ikatan pada gajah tersebut. Namun, gajah yang malang itu sudah terlanjur tertanam dibenaknya bahwa dia tidak akan berhasil kabur. Akhirnya dia tidak bergerak untuk kabur meskipun rantainya sudah dilonggarkan.
Persepsi seperti ini yang sering kita alami khususnya pengemban dakwah. Kebiasaan yang terbentuk lama membuat kita seolah tidak bisa berubah mengikuti perkembangan zaman. Mindset yang tertanam dalam pikiran menghalangi kita untuk maju.
Padahal tidak ada yang tidak mungkin selama kita berusaha. Harusnya bukan berkata “Saya tidak bisa” tapi katakan “Orang lain bisa, kenapa saya tidak?” Dengan ini, maka kita akan terpacu untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Lalu kiat apa saja agar kita bisa memutus rantai gajah tersebut.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/28/memutus-rantai-gajah-pengemban-dakwah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed