Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Jagalah Malu!

    Jagalah Malu!

    Oleh: Deena Noor

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Ummu Fahri

    NarasiPost.Com-Di masa sekarang, pergaulan telah teramat bebas dalam sistem kehidupan yang liberal hingga membuat rasa malu kian terkikis. Di dunia nyata maupun dunia maya, bisa kita saksikan tingkah polah manusia yang seolah tipis malunya. Di media sosial banyak kita lihat orang-orang yang berjoget-joget tak karuan, mengumbar aib, melakukan prank, bergaya norak hingga memamerkan auratnya.

    Di dunia nyata pun juga banyak kita temui manusia-manusia yang menanggalkan pakaian malunya. Pacaran, free sex, pornoaksi, penyalahgunaan narkoba, berutang untuk memenuhi gaya hidup, makan riba, suap-menyuap, korupsi, dan banyak lagi yang lainnya. Semakin ke sini, semakin mengenaskan kondisinya.

    Menipisnya rasa malu bisa melanda siapa pun. Mau itu masyarakat biasa, artis, aparat, pejabat maupun pemimpin. Ada pejabat yang pernah tersangkut kasus hukum, kemudian menjabat lagi. Ada yang tertangkap karena kasus korupsi, tapi masih bisa cengar-cengir, menikmati fasilitas mewah di penjara, bahkan plesiran. Ada pejabat yang tak tahu malu mengorupsi duit bansos dan minta keringanan hukum. Ada artis yang berzina, tapi masih berani muncul di publik dan tetap eksis hingga sekarang.

    Sungguh, bila rasa malu itu dibiarkan akan bisa menghancurkan kehidupan. Perbuatan melanggar aturan seperti dimaklumkan hingga ditiru oleh rakyat kebanyakan. Kesalahan yang dibiarkan berulang-ulang menjadi kebiasaan dan dianggap sebagai kebenaran. Akan ke mana arah kehidupan bila rasa malu melakukan kemaksiatan kian pudar? Kehancuran pastilah menanti.

    Penting bagi muslim untuk menjaga rasa malu tetap di tempatnya. Malu menjadi bagian dari iman, sebagaimana sabda Rasulullah dalam hadis riwayat Bukhari: “Keimanan itu memiliki enam puluh cabang. Salah satu cabangnya adalah rasa malu.”


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/22/jagalah-malu/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Menemukan Kemerdekaan Hakiki dalam Islam

    Menemukan Kemerdekaan Hakiki dalam Islam

    Oleh. Ema Darmawaty

    Voice Over Talent : Mels

    NarasiPost.Com-Bangsa ini telah merayakan kemerdekaannya. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan darah para pahlawan. Mengusir penjajah lenyap dari bumi pertiwi. Era telah berganti, kemerdekaan diperingati namun terasa hilang esensi. Diisi keriuhan berbagai lomba, berbagai seremonial peringatan, setelahnya usai. Menjadi tanda tanya yang mendasar, apa makna merdeka? Sudahkah kita benar-benar merdeka dan menikmati kemerdekaan?

    Apakah Kita Sudah Merdeka?

    Merdeka identik kebebasan. Bebas menjalani kehidupan tanpa ada tekanan dari pihak mana pun. Bebas tanpa intervensi siapa pun dan tidak dijajah oleh apa pun. Pertanyaannya, sudahkah kita demikian? Pada faktanya, belum semua rakyat bisa merasakan makna dari kemerdekaan. Masih banyak rakyat yang belum merasakan kebebasan, bebas mendapatkan penghidupan layak, bebas menikmati fasilitas pendidikan, kesehatan bahkan keamanan pun tidak mudah didapatkan secara gratis. Begitu juga dengan kehidupan rakyat yang tak lepas dari berbagai tekanan. Tekanan kebijakan penguasa yang tak berpihak pada mereka. Tekanan pajak ini itu yang membebani rakyat. Tekanan para kapitalis yang menyengsarakan rakyat, namun penguasa seolah tak peduli. Belum lagi investasi asing yang seolah mendapat tiket gratis untuk menjarah kekayaan alam yang ujung-ujungnya mengintervensi kebijakan negeri ini. Ya, itu semua terjadi karena negeri kita masih terjajah oleh Barat. Negara tertawan dengan cengkeraman kapitalisme Barat atas nama perjanjian, investasi, bantuan dan pinjaman yang di balik semua itu ada kepentingan Barat terhadap negeri ini. Sehingga mau tidak mau pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan yang mendukung proyek Barat, namun di sisi lain menyengsarakan rakyat.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/25/menemukan-kemerdekaan-hakiki-dalam-islam/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Bila sang Arsitek Peradaban Terpapar Insecure Akut

    Bila sang Arsitek Peradaban Terpapar Insecure Akut

    Oleh : Nurjamilah,S.Pd.I

    ( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Yeni M

    “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (TQS. Al-Hujurat: 13)

    Hidup ini tak selamanya diliputi kebahagiaan. Bumbu-bumbu kehidupan berjuta warna dan rasa mengiringi perjalanan kita. Kadang kita berdiri tegak, atau bahkan merunduk nyaris tersungkur. Terlebih hawa sekularisme-kapitalisme yang menyelimuti bumi ini, menambah perihnya nestapa yang merundung kita.

    Bunda, pernahkah mendengar istilah insecure? Istilah ini kini tak asing lagi di telinga kita, bahkan kerap kali mendera manusia masa kini. Siapa pun bisa terjeratnya, tak pandang usia. Insecure ini semacam upaya dari dorongan emosi yang memosisikan diri sendiri inferior dibandingkan orang lain sehingga muncul rasa bersalah, tidak percaya diri alias minder yang menjangkiti seseorang. Ada yang timbul sewaktu-waktu atau bahkan setiap saat.

    Nah, apakah bunda pernah mengalami insecure? Setangguh-tangguhnya kita, tetap saja kita hanya manusia biasa yang juga rentan terserang penyakit ini. Jangankan orang biasa, bahkan seseorang yang telah berhijrah total dan biasa bergelut pada dunia dakwah pun tak luput dari penyakit ini.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/29/bila-sang-arsitek-peradaban-terpapar-insecure-akut/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    12 min
  • Nobody’s Perfect

    Nobody’s Perfect

    Oleh: Deena Noor

    Voice Over Talent : Arien S

    NarasiPost.Com-Tak ada manusia

    Yang terlahir sempurna
    Jangan kau sesali
    Segala yang telah terjadi

    Syukuri apa yang ada

    Hidup adalah anugrah
    Tetap jalani hidup ini
    Melakukan yang terbaik

    Bait-bait di atas adalah penggalan lirik lagu “Jangan Menyerah” milik D’Masiv yang sangat populer di masanya. Dirilis tahun 2009, lagu ini amat booming. Pesannya positif, yakni menyebarkan semangat untuk tidak menyerah, walau apa pun yang terjadi.

    Lagu ini juga mengajak untuk selalu bersyukur kepada Sang Kuasa terhadap apa yang dimiliki. Karena dianggap menebarkan semangat dan harapan, maka tak heran bila lagu ini diputar di TV pasca bencana alam terjadi.

    Anak-anak ‘jaman now’ mungkin tidak familiar dengan lagu yang diciptakan oleh Rian D’masiv. Lagu ini ternyata berdasarkan kisah nyata, lho! Menurut penulisnya, inspirasi lagu ini berasal dari sang sahabat yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir. Kagum pada semangat sang sahabat yang tak menyerah dan selalu semangat, maka terciptalah lagu yang sarat makna ini.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/26/nobodys-perfect/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Korupsi dalam Lingkaran Setan Demokrasi

    Korupsi dalam Lingkaran Setan Demokrasi

    Oleh. Heni Rohmawati, S.E.I

    Voice Over Talent : Maya R

    NarasiPost.Com-Korupsi kian menggurita di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Lembaga Survei Indonesia (LSI), 60 persen responden nasional dari total 1200 responden menyatakan bahwa kasus korupsi di Indonesia melonjak khususnya dua tahun terakhir ini. Ini tanggapan publik atas pengelolaan dan potensi korupsi sektor sumber daya alam. (detiknews, 8/8/2021).

    Fakta yang tak kalah mencengangkan adalah diangkatnya mantan koruptor, Emir Moeis, menjadi komisaris BUMN. Tentu hal ini melukai rasa keadilan dan bertentangan dengan syarat-syarat untuk menjadi komisaris BUMN. Mengingat syarat materiil yakni dalam hal integritas dan moral yaitu perbuatan rekayasa dan praktik-praktik menyimpang dalam pengurusan perusahaan (berbuat tidak jujur). Namun, tetap saja aturan terus ditabrak. (kompas.com, 6/8/2021)

    Fakta-fakta demikian menegaskan bahwa kasus korupsi masih menjadi ‘PR’ besar bangsa ini. Seolah kasus korupsi ini makin menggurita dan berada dalam lingkaran setan yang tidak ada ujungnya. Meskipun telah ada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tapi nyatanya makin hari kasus korupsi makin menggila.

    Akar Masalah Korupsi

    Korupsi yang terus meninggi disebabkan oleh sistem politik berbayar mahal di negeri ini. Sistem politik transaksional yang menjadi penyokong para pejabat bisa duduk di jabatan tinggi. Karena mahalnya luar biasa, maka dana dikocek sendiri tak mencukupi. Dari sinilah para kapitalis dibutuhkan untuk menggenapkan berbagai sarana pelicin politik untuk meraup suara rakyat meski biayanya over capacity.

    Akibat praktik politik tidak sehat inilah akhirnya menghasilkan politik balas budi. Para pejabat yang duduk di berbagai bidang strategis tak lagi dinilai dari ilmu dan skillnya yang mumpuni. Bahkan mantan koruptor saja bisa duduk menjadi dewan komisaris BUMN. Sungguh keblinger.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/20/korupsi-dalam-lingkaran-setan-demokrasi/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Muslimah Pejuang Kebangkitan

    Muslimah Pejuang Kebangkitan

    Oleh.Miladiah al-Qitbhiyah

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Dewi F

    NarasiPost.Com-Beragam persepsi dan pandangan orang-orang terhadap seorang muslimah, yang paling sering terlintas di benak mereka adalah muslimah itu seorang perempuan yang beragama Islam, saleha, taat, memakai jilbab dan khimar serta memiliki akhlak yang santun. Hampir terdengar sempurna. Namun, tahukah kita bahwa kita sedang memijakkan kaki di bumi mayoritas muslim, yang bahkan di mata dunia negeri kita sangat kental dengan adab ketimuran? Rupanya hal tersebut jauh panggang dari api. Tidak semua muslimah yang ada di negeri ini mengindahkan nilai-nilai Islam.

    Diyakini atau tidak, terjadi distorsi ajaran Islam di kalangan muslimah. Ide-ide dari Barat berhasil diembuskan di benak para muslimah. Yang paling mahsyur adalah serangan Barat melalui 4F, yakni Fun, Food, Fashion dan Faith. Para muslimah telah tergadaikan iffah dan izzah mereka demi nilai-nilai semu atau nilai materialistik, sehingga mereka tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah ditetapkan Allah untuk mereka.

    Ada banyak cara yang dilakukan oleh para muslimah untuk menciptakan fun atau kesenangan diri mereka sendiri. Dari mulai memerhatikan penampilan, sehingga mereka tidak segan-segan merogoh kocek demi tampil cantik dan menawan di hadapan publik. Ada juga yang mengikuti tren Barat dalam aktivitas khalwat dan ikhtilat, seperti berpacaran ala gaya suami istri atau nongkrong di diskotik hingga mabuk-mabukan. Menurut mereka yang termakan dengan ide Barat, inilah fun atau kesenangan dunia yang sesungguhnya.

    Tren kaum oriental pun tak kalah melesat di kalangan muslimah. Yang paling digemari saat ini selain K-Pop dan K-Drama adalah korean food-nya. Padahal, makanan jenis Korea yang banyak tersaji, baik di restoran, mall ataupun dalam kemasan instan belum tentu halal dan thayyib. Apalagi jika makanan itu adalah makanan cepat saji. Selain diragukan kehalalannya, juga membawa mudarat bagi kesehatan. Ini adalah salah satu penyakit yang menggerogoti muslimah saat ini. Mereka begitu fanatik dengan idola mereka yang notabene nonmuslim.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/17/muslimah-pejuang-kebangkitan/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Pare, si Pahit Berkhasiat Menakjubkan!

    Pare, si Pahit Berkhasiat Menakjubkan!

    Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

    ( RedPel NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Ummu Fahri

    NarasiPost.Com-Siapa pun pasti tahu bahwa mengonsumsi sayur-mayur merupakan suatu hal yang wajib demi kesehatan tubuh. Sebab, di dalam sayur-mayur terkandung aneka nutrisi penting yang dibutuhkan oleh tubuh. Di antara begitu banyak ragam sayuran di dunia ini, ada satu sayuran yang mungkin tidak banyak orang yang menyukainya, sebab rasanya yang pahit. Ya, dialah pare atau nama latinnya Momordica charantia. Pare merupakan jenis sayuran berkulit bergerigi, berbentuk memanjang, dan berwarna hijau. Jenis tanamannya merambat. Tanaman pare dapat tumbuh di semua jenis tanah dan tidak membutuhkan banyak sinar matahari untuk tumbuh, sehingga pare dapat tumbuh di tempat yang teduh. Di Indonesia ini, penyebutan pare beragam. Ada yang menyebutnya paria, papare, pepareh.

    Rasa pahitnya pare yang cukup kuat, membuat tidak semua orang ‘meliriknya’. Namun, siapa sangka di balik pahitnya pare, ada segudang manfaat bagi kesehatan tubuh kita. Ya, karena pare mengandung sejumlah nutrisi dan zat yang dibutuhkan oleh tubuh. Misalnya, bagi penderita diabetes tipe 2 yang notabenenya dikaitkan dengan kekurangan magnesium, maka mengonsumsi pare mampu membantu menambah magnesium dalam tubuh, sehingga dengannya kerja hormon insulin dapat berfungsi maksimal. Adapun hormon insulin dapat membantu mengatur kadar gula dalam darah.

    Selain itu, pare juga mengandung banyak antioksidan, salah satunya vitamin C. Dengan antioksidan itulah, radikal bebas yang masuk ke dalam tubuh dapat ditangkal. Kita bisa memperoleh sekitar 58 miligram vitamin C dalam 100 gram pare. Artinya, pare dapat memenuhi lebih dari setengah kebutuhan vitamin C harian orang dewasa, yakni 90 miligram untuk laki-laki dan 75 gram untuk perempuan.

    Dalam pengobatan tradisional India yang disebut Ayurweda, yakni pengobatan yang sudah dipraktikkan sejak ribuan tahun lalu, pare sering dijadikan sebagai salah satu bahan dalam pengobatannya. Selain itu, dalam pengobatan tradisional Tiongkok, pare juga sering dijadikan jus yang dipercaya mampu mengobati penyakit yang berkaitan dengan sistem pernapasan, seperti batuk, asma, bronkitis, dan lain-lain.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/24/pare-si-pahit-berkhasiat-menakjubkan/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Menghakimi Seremonial Pekik ‘Merdeka’

    Menghakimi Seremonial Pekik ‘Merdeka’

    Oleh. Atik Hermawati

    Voice Over Talent : Yeni M

    Merdeka! Dengan bangga, pekik jargon tersebut selalu digaungkan di setiap seremonial HUT RI 17 Agustus. Walaupun di tengah pandemi seperti sekarang, upacara yang disakralkan itu tetap dilaksanakan. Pun tidak sedikit masyarakat yang antusias menghias berbagai jalan dengan polesan cat dan pernak-pernik merah-putih, serta mengadakan perlombaan seperti biasanya. Namun ‘merdeka’ yang sudah menginjak 76 tahun ini apakah sudah sesuai dengan maknanya?

    “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh”, begitulah tema yang diusung tahun ini. Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono mengungkapkan bahwa ada pesan optimisme di balik itu. Ketangguhan dan semangat pantang menyerah atas krisis wabah yang terjadi, diharapkan mampu untuk Indonesia tumbuh dan bangkit. (Detiknews.com, 17/06/2021)

    Namun, benarkah peringatan kemerdekaan itu sedangkan saat wabah ini saja dipenuhi krisis di segala bidang? Apakah setiap tahunnya mengalami kemajuan dan peningkatan? Ataukah sebelumnya pun sama, merdeka ialah formalitas dan ilusi belaka?

    Mari cermati dengan seksama, arti merdeka dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah bebas (dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya); tidak terkena atau lepas dari tuntutan; dan tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu. Jika merujuk pada arti tersebut, Indonesia belum layak dikatakan ‘merdeka’ secara faktanya. Walaupun secara resmi telah diproklamisasikan dengan hitam di atas putih, tetap saja penjajahan gaya baru (neoimperialisme) atau nonfisik masih ada bahkan semakin parah.

    Banyak sekali visi-misi tak serasi yang mengorbankan masyarakat juga negeri gemah ripah loh jinawi ini. Indonesia dikenal sebagai negeri indah dan kaya akan sumber daya alamnya, namun asing-aseng yang memegang kendali pengelolaan SDA. Eksploitasi besar-besaran terjadi selama puluhan tahun hingga kini. Belum lagi bahan pangan atau produk lainnya, bahkan tenaga kerja bergantung pada asing. Semuanya bukan tanpa alasan, melainkan terikat perjanjian dan hegemoni.

    Utang negara yang semakin menggunung menjadi alat ampuh negara adidaya untuk semakin mencengkeram dan mendikte negeri mayoritas muslim ini. Segala kebijakan bersumber berdasarkan kepentingannya. Akhirnya rupiah yang selalu melemah, kesenjangan sosial yang kian kentara, kemiskinan yang semakin bertambah, harga-harga yang selalu merangkak naik, semakin tingginya korupsi dan kriminalitas, hingga pajak yang kian memalak rakyat. Semua disaksikan dengan nyata. Kemakmuran dan kemerdekaan tak ada wujudnya bagi masyarakat, hanya lingkaran penguasa dan para kapital yang menikmati tanpa ada rasa iba.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/25/menghakimi-seremonial-pekik-merdeka/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    14 min
  • Bayarlah Utangmu

    Bayarlah Utangmu

    Oleh: Aya Ummu Najwa

    (Kontributor Tetap NarasiPost.com)

    Voice Over Talent : Mels

    NarasiPost.Com-Siapa manusia di dunia ini yang tidak pernah berutang. Semua orang pasti pernah berutang, kecil besar, materi maupun jasa atau budi, semua orang pernah berutang. Utang piutang sendiri hukumnya boleh dalam Islam, walaupun terkadang dan bahkan seringnya dengan dalih kebolehan ini orang malah menjadi gemar berutang alias hobi utang.

    Sayangnya hobi utang ini tidak hanya dilakukan oleh individu saja, namun mirisnya juga negara. Negara kita dengan segala kekayaannya yang senantiasa membuat iri orang luar, malah seakan tak cukup menghidupi rakyatnya. Dikarenakan sistem yang diterapkan dalam mengelola kekayaan alam itu tak sesuai dengan hukum Islam, sehingga malah kesenjangan ekonomi, dan ketidakmerataan kesejahteraan bagi rakyat, atau malah dikangkangi oleh pihak asing yang terjadi, sehingga bagaikan tikus mati di lumbung padi, demikianlah yang terjadi di negeri ini.

    Dalam Islam memang utang hukumnya mubah, namun kemubahan ini sejatinya diiringi dengan beban hukum yang harus ditunaikan yaitu kewajiban untuk membayar. Di masa semua serba diukur dengan materi seperti sekarang ini, manusia seakan gelap mata terhadap hukum-hukum Islam. Semua dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan hawa nafsunya, tidak peduli lagi halal haram, milik orang lain atau bukan, zalim atau tidak, yang penting mereka senang.

    Salah satu kezaliman yang sudah lazim terjadi dan kadang tanpa disadari adalah abai dalam membayar utang. Ketika datang meminta pinjaman ia begitu memelas, janji-janji manis pun dilontarkan untuk meyakinkan, semua syarat dan ketentuan disepakati asal pinjaman itu cair. Namun tak jarang janji tinggal janji, sering kali manusia lupa dan bahkan terkesan pamer kemewahan dengan liburan dan wisata mewah, ia tak memikirkan membayar utangnya, ketika ditagih selalu menghindar dan bahkan kadang yang berutang lebih ganas dari yang memberi piutang.

    Ingatlah utang harus dibayar, bahkan Rasulullah pernah menunda mensalati jenazah hanya karena si mayit masih mempunyai hutang. Ada beberapa dampak yang sangat mengerikan dari pengabaian usaha melunasi utang kelak di akhirat, di antaranya adalah:

    Pertama, jika ia meninggal dalam membawa utang yang belum dilunasi, maka ia akan terhalang masuk surga meskipun ia mati syahid. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda dalam hadis riwayat Imam Ahmad No. 22546, Imam An Nasa’i No. 4684, Imam Ath Thabarani dalam Al Kabir No. 556


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/08/06/bayarlah-utangmu/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Hijrahku Bukan Hijrah Biasa

    Hijrahku Bukan Hijrah Biasa

    Oleh. Dia Dwi Arista

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Arien S

    NarasiPost.Com-Mendengar kata hijrah, pasti tak asing di telinga. Beberapa tahun belakangan, kata hijrah menjadi booming. Tersebab gelombang hijrah yang menyapa para artis ibu kota. Bahkan mereka membuat acara gathering mengajak para pemuda untuk hijrah bersama-sama. Hasilnya, banyak dari kalangan artis mengikuti langkah mereka, berhenti tampil di layar kaca, penampilan pun sudah tak terbuka.

    Itu adalah kisah hijrah meriah mereka, beruntung Allah karuniakan kepopuleran hingga bisa mengajak khalayak bergabung dalam gelombang hijrah. Berbeda denganku, di sinilah kisah hijrahku. Hijrah yang menguras tenaga dan air mata. Tapi semua itu worth it. Aku mendapat hal yang lebih berharga daripada air mata dan tenaga yang tercurah.

    Dahulu, hari Jumat adalah hari yang paling membuatku malas, bukan apa-apa, namun dihari itu aku harus berangkat sekolah lebih awal dari biasanya. Ya, sekolahku membagi kelasnya menjadi pagi dan siang. Aku yang kelas X, harus rela bermandikan peluh, mengayuh sepeda hampir satu kilo menuju pangkalan bus ke sekolah. Meski tak jarang kaki menjadi andalan ketika sepeda tak bisa dipakai.

    Pada hari biasa, zuhur adalah alarm untuk segera mengayuh sepeda setelah menunaikan salat. Namun jika Jumat tiba, roda sepeda akan berputar satu jam menjelang zuhur. Perjalanan dari rumah ke sekolah jika normal adalah 45 menit. Jika molor, alamat harus mendekam di perpustakaan untuk merangkum tiga buku sekaligus sebagai hukuman.

    Aku terlahir bukan dari orangtua kaya maupun berpendidikan, ibuku tak pernah mengenal huruf dan angka, sedangkan bapak sempat bersekolah hingga tingkat lima, namun terpaksa mengundurkan diri ketika ekonomi dirasa semakin sulit. Kehidupan kedua orangtuaku berputar hanya untuk mendapat secuil materi.

    Tak jarang, karena ekonomi pula pertengkaran tersulut. Dan hal ini sering terjadi di depan kami, anak-anaknya. Ya, sering! dan kami menyaksikannya. Pertengkaran biasanya diakhiri dengan drama perginya ibu dari rumah. Rumah terasa mencekam, dingin tanpa tawa. Broken, but not broken.

    Memasuki usia remaja, pertengkaran masih sering terjadi. Namun frekuensi berkurang. Hingga pada suatu Jumat, aku sudah lelah, sangat lelah dengan semua cekcok dan perang dingin yang mereka lemparkan. Keputusan berangkat lebih awal, tiga jam sebelum zuhur, menjadi titik tolak perubahan besar dalam hidupku.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/17/hijrahku-bukan-hijrah-biasa/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com