Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Tamu Tak Diundang

    Tamu Tak Diundang

    Oleh: Messy Ikhsan

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Tellent : Mels

    NarasiPost.Com-Engkau datang tiba-tiba tanpa diundang

    Diminta untuk segera pergi dan pulang
    Tetap saja masih berlalu-lalang
    Bebas untuk menetap dan terbang

    Menjelajah alam semesta secara senang

    Tanpa memikirkan hati dan perasaan orang
    Bukankah engkau tidak diterima semua orang?
    Dari beragam kalangan dan sudut pandang

    Lantas, kenapa engkau masih tertawa riang?

    Setelah mengundang sakit hati yang meradang
    Jiwa ini masih pilu dan gamang
    Tatkala kau tiba-tiba datang

    Tidakkah engkau tahu wahai si biang?

    Jutaan nyawa manusia sudah meregang
    Tumpukan harta dan tahta sudah melayang
    Kehidupan berubah sempit dan serba kurang

    Semuanya sirna dalam sekejap dan hilang

    Menyisakan luka yang bergelayut terang
    Tapi, kau masih bisa tertawa riang?
    Tak paham dengan bahasa hati orang


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/22/tamu-tak-diundang/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    5 min
  • Sabar dalam Bermetamorfosis

    Sabar dalam Bermetamorfosis

    Oleh : Novida Sari, S.Kom.

    Voice Over Talent : Maya R

    NarasiPost.Com-Manusia adalah makhluk terbaik yang telah diciptakan Allah Swt. Allah Swt. berikan padanya akal yang mampu menimbang kebaikan dan keburukan. Dengan akalnya ini, manusia bisa mendapatkan apa yang mereka harapkan dan impikan. Anak, harta, tahta, pangkat, tempat tinggal, kendaraan dan hal-hal lain yang bersifat duniawi.

    Ada juga manusia yang menginginkan kebaikan akhirat sebagaimana generasi sahabat. Bersusah payah mengkaji dan menelaah perjalanan mereka. Berjuang memperbaiki diri walau hidup di tengah gempuran sulitnya kehidupan akibat penerapan sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan.

    Meskipun sebagai ciptaan terbaik, bagaimanapun manusia tetaplah makhluk yang bisa berbuat kesalahan. Apalagi sejak kelahirannya, manusia hadir dengan tidak mengetahui apa-apa dan tidak bisa berbuat apa-apa.

    Banyak yang mempengaruhi syakhsiyah (kepribadian) manusia. Tatkala berada di lingkungan yang baik, tidak menjadi jaminan seseorang pasti menjadi baik. Terkadang dalam perkembangannya terdapat cacat. Sehingga di dalam membentuk syakhsiyah seorang manusia, diperlukan kesabaran demi kesabaran. Sebagaimana firman Allah Swt.:

    وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

    Artinya : “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. ” (TQS.Al-Baqarah [2] : 45)

    Telah berkata Ibnu Abu Hatim, dari Umar bin Al-Khattab, ia berkata, “Sabar itu ada dua, yakni: sabar menghadapi musibah, ini adalah baik. Namun yang lebih baik lagi adalah sabar terhadap semua perkara yang Allah Swt. haramkan.” Sehingga jelas sabar adalah menahan diri terhadap perbuatan-perbuatan maksiat. Karena itu, ayat ini dibarengi dengan menunaikan amal-amal ibadah dan amal ibadah yang paling tinggi ialah salat.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/21/sabar-dalam-bermetamorfosis/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • No Bigos Online

    No Bigos Online

    Oleh : Afiyah Rasyad

    (Kontributor Tetap NarasiPost.com)

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Hehem, sejak pandemi melanda dunia, kehidupan maya menjadi primadona. Segala interaksi sosial dan pendidikan dominan virtual demi mencegah dan membatasi ruang penyebaran virus korona. Ruang virtual dan grup WA dipenuhi berbagai informasi dan ragam berita. Mulai hal remeh-temeh sampai perkara serius, begitu mudah berpindah dari satu grup ke grup yang lain. Kabar yang benar dan hoax pun begitu mudah tersebar di seluruh jagad maya.

    Kalau para cewek sedang berkumpul dalam satu grup, alamat jumlah chat menumpuk sampai ribuan. Rimbun banget, pokoknya. Ada saja yang dijadikan bahan obrolan online. Tema obrolannya bisa sewaktu-waktu berubah, mulai tetek-bengek kehidupan artis, cowok idaman, keluarga yang tak asyik, sampai guru kiler pun jadi bahan obrolan. Duh … cewek, pinter nyerocos. Walhasil, cewek diidentikkan sebagai bigos alias biang gosip.

    Rasa penasaran kadang menyeruak dalam benak, kenapa para cewek suka sekali bergosip. Bisa jadi, hal itu dianggap seru dan hiburan saja. Obrolannya mengandung nyinyir dan julid yang tak ada matinya, mulai dari komentar penampilan orang, pacar orang, entah orang yang dikomentari itu dikenal ataupun tidak sama sekali. Dih … mengerikan betul gosip online yang merebak di kalangan para cewek.

    Ada yang bilang, mereka itu bukan bigos, kok. Cuma kasih info doang kalau si fulanah udah punya gebetan baru lewat facebook, itu lho cowoknya kayak oppa, tetapi ternyata tukang tipu. Ya Salam, itu sebenarnya sama saja gosip alias menggunjing binti ‘ngerasani’.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/19/no-bigos-online/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Taliban dan sang Negara Adidaya

    Taliban dan sang Negara Adidaya

    Oleh. Novida Sari, S.Kom

    Voice Over Talent : Yeni M

    NarasiPost.Com-Mujahidin Afghanistan yang telah berhasil memutus pengaruh Uni Soviet yang telah lama bercokol di Afghanistan, akhirnya keok di tangan Taliban. Taliban yang menggunakan nama Imarah Islamiyah dilaporkan telah menduduki istana Kepresidenan dan menduduki ibukota Kabul.

    Dilansir dari arrahmah.id (15/08/2021), para pejabat pemerintah Afghanistan dan Taliban sedang dalam negosiasi untuk transfer kekuasaan secara damai setelah para pejuang mengepung ibu kota Kabul. Dan selama negosiasi, pasukan Taliban berjanji untuk tidak menyerang. Kelompok ini mengatakan bahwa mereka telah menginstruksikan para pejuangnya untuk menahan diri dari kekerasan serta menawarkan jalan yang aman bagi siapa saja yang menginginkan untuk meninggalkan Kabul.

    Dan ternyata Ashraf Ghani selaku Presiden Afghanistan, pergi meninggalkan negara itu sehingga membuat banyak orang di Afghanistan marah dan bingung setelah Taliban berusaha merebut kembali kekuasaan seperti 20 tahun lalu, namun kekuasaan ini berakhir dilibas oleh Amerika beserta pasukan koalisinya setelah peristiwa 11/9/2001.

    Pasca Invasi Militer Amerika, sang Negara Adidaya

    Pada bulan-bulan setelah serangan 11/9/2001 di Amerika, Kelompok Mujahidin Afghanistan yang setia kepada Aliansi Utara Afgan mengadakan kerja sama politik dengan Amerika untuk menggulingkan Taliban. Kelompok ini juga mengumpulkan dukungan untuk pembentukan pemerintahan yang baru.

    Kemudian di bawah Kesepakatan Bonn pada tanggal 5 Desember 2001 di Jerman, dibentuk Pemerintahan transisi sementara dan mengangkat Hamid Karzai sebagai pejabat sementara presiden dari pemerintahan transisi Afgan, bersama dengan Karzai, Hedayat Amin Arsala pun ditunjuk menjadi salah satu wakil presiden.

    Pada tanggal 9 Oktober 2004, terjadi pemilu di Afghanistan. Karzai termasuk yang mencalonkan diri. Meskipun dianggap tidak memiliki dukungan kuat secara nasional, ia menang di 21 dari 34 provinsi. Karzai pun resmi mengakhiri pemerintahan Taliban, meskipun sebenarnya ia adalah “mantan” Taliban yang akhirnya “memutuskan” hubungan karena alasan ketidakpercayaan yang terkait dengan Pakistan.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/19/taliban-dan-sang-negara-adidaya/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Agar Al-Qur’an Memihak Kita

    Agar Al-Qur’an Memihak Kita

    Oleh: Ana Nazahah

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Mels

    NarasiPost.Com-Dewasa ini, keadaan mayoritas muslim memang sangat memprihatinkan, terlebih dalam hal mengenal syariat agama sendiri. Masih banyak muslim yang menganggap Al-Qur’an hanya sekadar bacaan, yang sewaktu-waktu bisa diperlombakan. Terkait sebagai petunjuk hidup, masih sedikit yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman. Fakta ini diperparah dengan tingkat kesadaran yang rendah untuk belajar Islam. Alhasil, kaum muslim semakin jauh dari solusi hakiki, yakni Islam dan Al-Qur’an.

    Ya, bagaimana bisa kaum muslim mengambil Islam sebagai solusi kehidupan, jika perintah Al-Qur’an saja tidak paham. Bagaimana bisa paham, menjadikannya sebagai solusi saja tidak tertarik. Logikanya, jika kita tidak kenal seseorang, tidak dekat dengannya, mana mungkin kita bisa percayakan urusan paling penting dalam hidup kepada orang asing tersebut?

    Tanpa Al-Qur’an Hidup adalah Masalah

    Sebenarnya, manusia hidup jauh dari tuntunan Al-Qur’an adalah masalah yang besar. Saat kaum muslim tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuknya, maka hukum lain yang bertentangan dengan Islamlah yang akan menjadi solusi dalam kehidupan. Akibatnya, masalah yang seharusnya Al-Qur’an mampu selesaikan, tidak terselesaikan. Malah menimbulkan masalah baru akibat diterapkannya solusi lain yang bertentangan dengan Islam. Semakin membuat runyam persoalan.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/21/agar-al-quran-memihak-kita/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Ingin Surga, Jangan Hobi Marah!

    Ingin Surga, Jangan Hobi Marah!

    Oleh : Messy Ikhsan

    ( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Arien S

    Narasipost.com-Guys, bagaimana rasanya kalau ada orang yang terus terang membicarakan keburukan kita di depan khalayak ramai? Ingin marah, kesal, sakit hati, sedih, benci, cuek, atau masa bodoh karena sudah acapkali diperlakukan demikian?

    Setiap orang pasti memiliki tanggapan yang berbeda-beda dan tidak bisa dipukul rata, ya. Sebab, kita punya hati dan perasaan yang harus dijaga dan tidak suka disakiti oleh siapa pun.

    Sebagian orang menganggap wajar hingga mau marah dan ingin balas dendam. Dengan maksud agar orang yang bersangkutan merasakan luka yang sama, bahkan wajib lebih menderita daripada kita. Lantas, jika benar balas dendam itu dilakukan, apakah hal itu bisa membuat kita seketika mendekap bahagia dan mengobati luka yang mendera?

    Guys, jika orang lain menabur luka di hati kita, lalu kita membalas dengan hal yang serupa, bahkan lebih parah dari perbuatan mereka, lantas apa bedanya kita dengan mereka? Toh, sama-sama hobi marah dan doyan balas dendam?

    Jangan karena orang lain melakukan kesalahan kepada kita, lalu kita merasa lebih suci daripada mereka sehingga dengan gampang mulut ini mencaci dan memberikan stempel yang buruk terhadap orang lain. Apa pun alasannya, kita tak punya hak untuk menghakimi siapa pun. Sebab, kita juga manusia biasa yang punya segunung kesalahan dan dosa. Lantas, kenapa kita sombong dan membanggakan diri?


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/04/ingin-surga-jangan-hobi-marah/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    5 min
  • Kuatkan Doa, Maksimalkan Ikhtiar Agar Wabah Segera Berakhir

    Kuatkan Doa, Maksimalkan Ikhtiar Agar Wabah Segera Berakhir

    Oleh.Nina Marlina, A.Md

    (Muslimah Peduli Umat)

    Voice Over Talent : Dewi F

    NarasiPost.Com-Wabah Covid-19 belum kunjung mereda. Semakin hari, justru semakin bertambah jumlah penderita dan korban meninggal dunia. Kondisi semakin parah dan mencekam. Terlebih keadaan di rumah sakit, kondisinya sudah penuh. Bahkan ada sebagian rumah sakit yang tidak menerima pasien lagi. Hal ini dikarenakan rumah sakit sudah sulit menerima pasokan obat-obatan dan oksigen. Sedihnya, sudah banyak dokter dan nakes yang gugur.

    Hal ini tentu membuat masyarakat resah dan gelisah. Apalagi jika sakit menimpa mereka. Fisik dan mental pun semakin drop karena ketakutan terpapar virus.

    Dikutip dari detikNews.com (3 Juli 2021) Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Abdul Halim Iskandar, mengirimkan surat resmi kepada kepala desa, pendamping desa dan warga desa untuk menggelar doa bersama.

    Surat tersebut berisi imbauan agar seluruh pihak melakukan doa bersama sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Adapun doa ini dilakukan guna menyikapi kondisi melonjaknya angka Covid-19 di Indonesia.

    Imbauan agar setiap keluarga melakukan doa bersama adalah sesuatu yang baik. Setiap orang memang harus berusaha meningkatkan keimanan dan taqarub kepada Allah Swt, terlebih dalam menghadapi bencana wabah seperti saat ini. Namun, tentu sebagai seorang yang beriman kita pun diwajibkan untuk melakukan upaya atau ikhtiar dalam menyelesaikan bencana pandemi Covid-19 ini. Selain itu, imbauan bukan ditujukan kepada rakyat saja, namun juga para penguasa dan pembuat kebijakan.

    Ikhtiar yang dilakukan adalah dengan kepatuhan seluruh pihak terhadap protokol kesehatan. Selain itu, negara harus melakukan penanganan pandemi secara benar, serius, optimal, dan maksimal. Negara harus mengutamakan keselamatan rakyat dan tidak mementingkan kepentingan ekonomi.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/17/kuatkan-doa-maksimalkan-ikhtiar-agar-wabah-segera-berakhir/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Gadget adalah Sarana Komunikasi, Benarkah?

    Gadget adalah Sarana Komunikasi, Benarkah?

    Oleh : Nurlaili

    Voice Over Talent : Ummu Fahri

    NarasiPost.Com-Di tahun 2020 lalu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melakukan sebuah survei tentang pemenuhan hak dan perlindungan anak pada masa pandemi Covid-19. Hasilnya, sebanyak 79% anak sudah diizinkan menggunakan gadget, tidak lain untuk kepentingan belajar (pembelajaran daring). Bahkan, 71,3% anak sudah memiliki gadget sendiri. Mirisnya, sebagian besar mereka, tidak dibentengi dengan aturan penggunaan gadget dari orang tuanya. Selama pandemi ini, pada umumnya, tidak ada pendampingan dari orang tua saat anak sedang asyik dengan gadget-nya.

    Mengapa hal-hal itu bisa terjadi? Mengapa sebagai orang tua membiarkan ini terjadi? Apa karena tidak mau anaknya dikatakan “gaptek” atau “ketinggalan zaman”? Apa sebagai reward karena anaknya berprestasi? Silakan tanya pada diri sendiri.

    Hal itu juga bisa terjadi karena karakter orang tua dalam mendidik anaknya. Sebagaimana banyak hasil penelitian yang mengatakan setidaknya ada 4 dasar karakter orang tua yang memiliki pola asuh otoriter, cuek, permisif dan demokratis.

    Misalnya ada orang tua otoriter yang melarang keras anaknya memegang gadget selain untuk kepentingan pembelajaran daring. Sebaliknya, ada pula orang tua cuek, yang tak peduli seberapa lama anaknya bermain gadget. Mereka tak peduli laman apa saja yang diakses oleh anaknya karena kesibukannya bekerja.

    Betapa miris saat melihat berita di media yang isinya kasus kriminal yang dilakukan oleh anak, pelecehan seksual yang korbannya adalah anak-anak, gangguan kesehatan karena pemakaian yang tidak sesuai aturan dan kasus penyalahgunaan gadget lainnya. Lalu, apa yang dilakukan? “Tuh, Nak, lihat! Makanya, kalau main HP jangan terlalu dekat sama mata.” Atau “Tuh, Nak. Makanya hati-hati kalau main facebook!”


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/29/gadget-adalah-sarana-komunikasi-benarkah/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Mantan Koruptor Jadi Pejabat, Bukti Sistem yang Cacat

    Mantan Koruptor Jadi Pejabat, Bukti Sistem yang Cacat

    Oleh. Deena Noor

    ( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Fani R

    Narasipost.Com-Penunjukan Emir Moeis menjadi Komisaris PT Pupuk Iskandar Muda menuai sorotan publik. Pasalnya, mantan anggota DPR dari fraksi PDI-P itu terbukti melakukan tindakan korupsi dalam proyek pembangunan PLTU di Lampung pada 2004 lalu. Pengadilan pun telah menjatuhkan vonis tiga tahun dan denda 150 juta rupiah padanya di tahun 2014 karena terbukti menerima suap sebesar 375.000 US dolar. Dengan jeratan kasus korupsi seperti itu, nyatanya Emir Moeis telah diangkat menjadi komisaris PT PIM sejak 18 Februari 2021 lalu. (kompas.com, 06/08/2021)

    Publik patut mempersoalkan bagaimana seorang yang dulunya pernah menerima suap dan melakukan korupsi kemudian bisa dipilih menjadi pejabat BUMN. Seolah tidak ada orang lain yang lebih pantas menduduki kursi komisaris tersebut. Bagaimana rakyat bisa menaruh kepercayaan bila yang diserahi amanah mengurusi harta rakyat adalah mantan napi koruptor?

    Inikah hasil nyata dari sistem demokrasi yang dijalankan selama ini? Tak mengapa mengangkat pejabat meski bekas penjahat. Bukankah ini justru menunjukkan kecacatan dari sistem itu sendiri?

    Cacat Bawaan

    Demokrasi yang merupakan sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat telah lahir dalam kecacatan. Dengan kedaulatan rakyatnya, sistem ini menempatkan suara rakyat di atas segalanya, termasuk aturan agama.

    Pada faktanya, suara rakyat juga tak terlalu didengar. Kedaulatan rakyat tak benar-benar terwujud. Segelintir elit politik telah menguasai kekuasaan. Aspirasi rakyat tak bisa diakomodasi oleh wakil-wakilnya di kursi pemerintahan. Beragam kebijakan dan aturan yang dibuat malah tak pro rakyat sama sekali.

    Aristoteles menyebut sistem ini sebagai mobocracy atau pemerintahan segerombolan orang (rule of the mob). Negara yang menerapkanya sebagai sebuah bad state atau negara yang buruk. Model keterwakilan dengan segelintir orang mewakili mayoritas, akan sangat mudah berubah menjadi pemerintahan yang anarkis, rentan dengan berbagai konflik kepentingan dan pertarungan elit politik. Kalau Plato menyebutkan bahwa demokrasi melahirkan pemerintahan tirani. Ini yang kita rasakan sekarang.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/19/mantan-koruptor-jadi-pejabat-bukti-sistem-yang-cacat/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Intervensi Asing dalam Kerangka Program Penanganan Pandemi Berkedok Kerjasama

    Intervensi Asing dalam Kerangka Program Penanganan Pandemi Berkedok Kerjasama

    Oleh. Witta Saptarini, S.E

    Voice Over Talent : Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Indonesia kini tengah menjadi sorotan dunia sebagai episentrum baru Covid-19. Beberapa media asing mengulas situasi wabah di tanah air, di antaranya seperti dilansir surat kabar Amerika Serikat, dalam artikel berjudul “The Pandemic Has a New Epicenter : Indonesia.” The New York Times. (17/7/2021)

    Situasi kegetiran lain dalam negeri pun menjadi sorotan, seperti dilansir BBC.com, (16/7/2021), Dying Alone in Indonesia’s Grim Battle with Covid-19. Bagaimana tidak, situasi ini tentu berhasil mengalihkan perhatian dunia. Pasalnya, media asing ini membandingkan Indonesia dengan negara berpenduduk padat di belahan dunia, seperti Brasil dan India, yang notabene menjadi bagian dari negara pemegang tongkat estafet episentrum. Kini, Indonesia berhasil menggeser posisi dan menggaet tongkat estafet episentrum Covid-19 di dunia. Lonjakan tajam infeksi Covid-19 dan kematian harian Indonesia telah melebihi India dan Brasil.

    Kolapsnya fasilitas kesehatan, kenaikan angka kematian nakes dan dokter, krisis pasokan oksigen, hilangnya sense of crisis dari para pemangku kebijakan serta merebaknya konflik horizontal di tanah air tak lepas dari sumbangsih intervensi asing atas nama program penanganan pandemi. Semakin menohoknya, intervensi asing ini dikuatkan dengan fakta terbaru bahwa RI dan USA akan menggelar latihan militer bersama di tengah pandemi dan pemberlakuan PPKM.

    Seperti dilansir detik.com, (24/7/2021). Ratusan tentara AS tiba di Palembang untuk latihan Garuda Shield, dimana tujuan kedatangannya diklaim untuk meningkatkan kerjasama dan kemampuan TNI AD dengan AD Amerika Serikat dengan materi latihan Staff Exercise, Field Training Exercise, Live Fire Exercise, Medical Exercise dan Aviation. Latihan ini disebut menjadi latihan terbesar dalam sejarah kerjasama keduanya.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/04/intervensi-asing-dalam-kerangka-program-penanganan-pandemi-berkedok-kerjasama/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com