Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Pulang ke Kota Penuh Makna

    Pulang ke Kota Penuh Makna

    Oleh : Desi Wulan Sari,M.Si.

    Voice Over Talent : Dewi F

    Kampuang nan jauh di mato

    Gunung Sansai baku liliang
    Takana jo kawan, kawan nan lamo
    Sangkek basu liang suliang …

    NarasiPost.Com-Sahabat, lagu ceria di atas mengingatkanku pada Sumatera Barat dengan ibu kotanya Padang, menjadi kota yang menakjubkan bagiku. Kota Padang menjadi bagian history yang tidak akan pernah kulupakan. Awal menginjakkan kaki ke kota Padang saat aku melangsungkan pesta pernikahan di rumah orang tua suamiku. Setelah sebelumnya kami melangsungkan akad pernikahan di Sukabumi, Jawa Barat.

    Tahun 2002 pesta baralek kami langsungkan. Beberapa hari sebelum acara aku dibawa keluarga suamiku berkeliling kota Padang, MasyaAllah indah nian budaya orang Minang ini. Rasanya aku ingin membeli segala oleh-oleh yang berkaitan dengan design Minang. Hingga dari tahun ke tahun akhirnya kota Padang menjadi tempat kami berkumpul setiap tahun saat lebaran Idul Fitri tiba. Semua sisi kota yang kusinggahi selalu berbekas dalam hati ini, semakin aku mencintai suamiku yang asal Minang, semakin aku menyukai kota Padang yang unik dan indah dipandang.

    Dengan segala macam keunikannya, mari aku perkenalkan satu per satu tempat-tempat favorit saat aku berkunjung ke sana, bersiap yah!

    Pertama, Pasar Raya Padang.

    Pasar inilah tempat aku pertama kali diajak keluarga belanja ke pasar. Pasar tradisional terbesar yang ada di kota Padang. Pasar ini terletak di kampung Jao (kampung Jawa), Padang Barat. Pasar Raya Padang sudah cukup tua, di mana didirikan sejak zaman kolonial Belanda. Pendiri pasar raya ini adalah seorang kapitan Cina bernama Lie Saay. Di sana harga-harga miring dan bersaing selalu menjadi ciri ramainya pasar itu. Bagiku, sungguh excited belanja di sana saat mereka bicara dan tawar-menawar dengan bahasa minang yang aku sendiri belum bisa mengucapkannya.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/29/pulang-ke-kota-penuh-maknaoleh-desi-wulan-sari-m-si/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Hijrah Diri dan Negeri Menuju Perubahan Hakiki

    Hijrah Diri dan Negeri Menuju Perubahan Hakiki

    Oleh. Nina Marlina, A.Md

    (Muslimah Peduli Umat)

    Voice Over Talent : Ummu Fahri

    NarasiPost.Com-Dikutip dari CNN Indonesia (4 Agustus 2021), Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 harus mencapai 6 persen agar bisa lepas dari jebakan negara pendapatan kelas menengah (middle income trap). Bila itu bisa dicapai, ia yakin Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju pada 2045. Menurutnya pandemi Covid-19 berdampak pada perencanaan pembangunan nasional, sehingga target Indonesia maju pada 2036 harus bergeser menjadi tahun 2045.

    Setiap individu atau negara pasti menginginkan perubahan yang lebih baik. Ingin maju, tak mau berdiam diri atau bahkan terpuruk. Namun, perubahan seperti apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan? Jangan sampai salah memahami dan salah mengambil langkah.

    Tak cukup hanya maju dalam bidang ekonomi, sementara bidang atau aspek lainnya buruk. Maju mundurnya sebuah bangsa tentu dipengaruhi berbagai aspek. Jangan pula terpedaya dengan perubahan atau kebangkitan yang semu.

    Momen hijrah adalah momen perubahan. Momen ini menginspirasi kita untuk selalu berupaya berubah lebih baik dan dapat istikamah menjalaninya. Sebagaimana kita ketahui, banyak individu yang sadar akan pentingnya hijrah dan mereka pun melakukannya. Khususnya para selebriti dan kaum milenial. Tentu hal ini patut disyukuri dan terus didukung. Namun, hijrah tak boleh berhenti pada tataran individu saja. Hijrah pun harus dilakukan oleh negara dengan perubahan sistemnya.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/19/hijrah-diri-dan-negeri-menuju-perubahan-hakiki/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Wabah Kapitalisme

    Wabah Kapitalisme

    Oleh: Deena Noor

    ( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Mels

    NarasiPost.Com-Virus mematikan mewabah

    Menjangkiti jiwa lemah
    Menggerogoti akidah
    Meluruhkan kulit marwah

    Hidup bagaikan benalu

    Berhias moral palsu
    Melenggang tanpa malu
    Menabrak semua tabu

    Mengisap darah kehidupan

    Membunuh secara perlahan
    Korban bergelimpangan
    Setiap jalan menuju kehancuran

    Cela merundung seluruh perangkat

    Amanah menjadi khianat
    Melumpuhkan akal sehat
    Hasrat bejat menggeliat

    Kala iman melengah

    Titah-Nya tak lagi bertuah
    Melanggar fitrah, mudah
    Dengan segala kilah

    Materi dipuja bagai Sang Agung

    Pesonanya tak terbendung
    Bersenandung menyanjung
    Hati yang limbung


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/27/wabah-kapitalisme/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    5 min
  • Event ke-12 NarasiPost.com: Mengubah Dunia Lewat Aksara

    Event ke-12 NarasiPost.com: Mengubah Dunia Lewat Aksara

    Voice Over Talent : Arien S

    NarasiPost.com – Alhamdulillah telah berlangsung dengan sukses agenda Event ke-12 NarasiPost.com yang dihadiri oleh kurang lebih 80 peserta. Sabtu, 31 Juli 2021 dengan tema “Mengubah Dunia Lewat Aksara”.

    Pada event ini, NarasiPost.com menghadirkan 2 pemateri istimewa yakni Kanti Rahmillah M.Si dan Rindyanti Septiana. Peserta sangat antusias dalam mengikuti acara. Walaupun peserta ada yang terlempar dari ruang zoom karena jaringan, mereka tetap semangat untuk menghadiri di live Youtube NarasiPost. Masya Allah. Karena yakin ilmu itu sangat penting. Sangat disayangkan jika dilewatkan.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/07/event-ke-12-narasipost-com-mengubah-dunia-lewat-aksara/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    4 min
  • Mendamba Pemimpin Ideal di Sistem Abnormal, Mungkinkah?

    Mendamba Pemimpin Ideal di Sistem Abnormal, Mungkinkah?

    Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

    (Redaktur Pelaksana NarasiPost.com)

    Voice Over Talent : Maya R

    NarasiPost.Com-Putaran waktu terus bergulir, pesta demokrasi 5 tahunan akan kembali digelar. Aroma pertarungan politik mulai tercium dengan maraknya baliho para tokoh politik yang terpasang di beberapa lokasi. Namun demikian, tak sedikit rakyat negeri ini yang apatis dengan fenomena demikian. Mereka tak peduli dengan pergantian pemimpin, karena yang mereka pikirkan adalah bagaimana cara mereka menyambung hidup esok hari di saat tak ada yang bisa diharapkan hari ini. Di sisi lain masih ada sebagian rakyat yang justru menaruh harapan besar pada pesta demokrasi yang digelar mendatang. Pergantian pemimpin dianggap angin segar bagi perubahan negeri ini menjadi lebih baik. Namun benarkah demikian?

    Ganti Nahkoda untuk Kapal Usang, Tepatkah?

    Pemimpin hakikatnya adalah nahkoda bagi sebuah negeri. Dialah yang akan menjalankan roda pemerintahan. Maka, kapabilitas seorang pemimpin akan menentukan baik buruknya wajah sebuah negeri. Namun demikian, tak cukup itu saja, sistem yang dijalankannya pun harus teruji kebenarannya. Jika hanya fokus ganti pemimpin, sementara sistem yang diterapkan di negeri ini masih kapitalis sekuler, tentu saja perubahan yang diharapkan hanyalah ilusi.

    Jika diumpamakan seperti ganti nahkoda, sementara kapalnya tidak diganti, tetap kapal usang penuh tambalan, maka cepat atau lambat pasti akan tenggelam dan mencelakakan seluruh penumpangnya. Siapkah kita dengan risiko demikian jika saat ini kita hanya berfokus pada pergantian pemimpin, sementara sistem yang ddigunakan tak pernah dievaluasi? Atau malah kita tutup mata akan segala kecacatan yang melekat di sistem ini?

    Sudah begitu banyak bukti-bukti terhampar bahwasannya sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan di negeri ini telah gagal menciptakan kesejahteraan dan kebaikan bagi negeri ini. Sebaliknya, berbagai kerusakan bermunculan bertubi-tubi, seiring dengan penerapan aturan ala kapitalisme yang melandaskan kebijakan berdasarkan hitung-hitungan untung rugi.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/23/mendamba-pemimpin-ideal-di-sistem-abnormal-mungkinkah/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Terjajah dalam Kapitalisme, Merdeka dengan lslam

    Terjajah dalam Kapitalisme, Merdeka dengan lslam

    Oleh. Umi Hanifah

    Voice Over Talent : Yeni M

    NarasiPost.Com-Setiap 17 Agustus negeri kita tercinta selalu memperingati hari kemerdekaan. Karena pada 17 Agustus 1945 lah negeri ini menyatakan diri merdeka, setelah kurang lebih tiga ratus lima puluh tahun lamanya terjajah oleh bangsa lain. Waktu yang tidak sebentar, terkungkung dalam dominasi mereka. Namun timbul pertanyaan, benarkah lndonesia sudah benar-benar merdeka?

    Jika merdeka adalah terbebasnya dari pengaruh serta campur tangan penjajah, mandiri yaitu berdaulat atas diri dan miliknya, jelas bumi pertiwi ini belum merdeka. Secara fisik penjajah sudah hengkang, namun cengkeraman mereka masih cukup kuat dalam banyak aspek.

    Mereka melepas pengaruh militer, namun mempertahankan status quo ekonomi terutama yang menyangkut sektor keuangan (perbankan) yaitu jerat ribawi, pasar bebas, utang dan pasar saham. Inilah yang disebut buble ekonomi, yaitu ekonomi yang bergerak di sektor tidak real dan senantiasa mudah terjerumus ke jurang resesi.

    Perampokan sumber daya alam pun dilegalkan lewat UU, seperti UU Migas, UU Penanaman Modal Asing, UU Privatisasi dan lain-lain. Walhasil, melimpahnya kekayaan yang ada dikuasai para pemodal besar seperti Caltex, Freeport, dan yang lain. Rakyat sebagai pemilik hanya bisa menelan ludah, hidup tak beranjak membaik justru semakin terpuruk.

    Dalam peradilan, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Perdata (KUHPerdata) nyaris sepenuhnya masih diambil dari peninggalan Belanda. Hukum yang dihasilkan fleksibel, bisa ditarik ulur sesuai kepentingan. Sudah bukan rahasia, jika hukum tajam ke bawah/rakyat, namun tumpul kepada pejabat dan pemodal.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/21/terjajah-dalam-kapitalisme-merdeka-dengan-lslam/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Rakyat Berduka, Pejabat Pesta Pora, Wajah Kepemimpinan ala Demokrasi

    Rakyat Berduka, Pejabat Pesta Pora, Wajah Kepemimpinan ala Demokrasi

    Oleh. Ana Nazahah

    ( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Sejatinya pemimpin adalah sosok yang layak dijadikan panutan. Karena itu, orang yang padanya diberikan amanah memimpin wajib memberi contoh yang baik. Namun, apa jadinya jika pemimpin justru melakukan perbuatan yang tidak layak? Seperti yang terjadi pada 5 anggota DPRD Labuhanbatu Utara. Dikutip dari CNNIndonesia (8/8/2021), sebanyak 5 anggota DPRD Labuhanbatu Utara (Labura) ditangkap aparat Polres Asahan, pada Sabtu (7/8) malam saat sedang dugem dengan sejumlah wanita dan mereka dinyatakan positif mengonsumsi narkoba.

    Sungguh Ironis! Bagaimana bisa di tengah kondisi rakyat yang tengah kesusahan, ada pejabat yang justru pesta pora? Melanggar aturan PPKM dan mengonsumsi barang haram. Inikah wajah pemimpin hasil demokrasi? Mampukah pemimpin seperti ini membawa negeri menjadi lebih baik?

    Fenomena Public Distrust

    Kepercayaan adalah modal utama bagi pemimpin dipilih oleh rakyat. Atas sebab itu, rakyat meletakkan berbagai amanah kepemimpinan kepadanya. Mereka dipilih oleh rakyat, digaji dari uang rakyat, dengan harapan agar menjalankan mandat dan amanah demi terwujudnya kehidupan negara yang lebih baik. Maka, pemimpin yang baik itu, mereka wajib memiliki hubungan yang baik dengan rakyat. Membangun rasa percaya, sehingga rakyat merasa tenang dengan kepemimpinannya.

    Namun, masalah klasik yang kita temui dewasa ini, justru sosok pemimpin tidak bisa dipercaya. Para pemimpin kerap berdusta, mengingkari janji, tidak adil, serta gagal memberi rasa aman dan ketenangan bagi rakyatnya. Hal ini kian diperparah dengan berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan pejabat. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi penyakit serius, menggerogoti tubuh pejabat bangsa.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/19/rakyat-berduka-pejabat-pesta-pora-wajah-kepemimpinan-ala-demokrasi/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Kelam

    Kelam

    Oleh: Bedoon Essem

    Voice Over Talent : Mels

    NarasiPost.Com-Kelam

    Suram
    Muram
    Dunia segelap malam

    Dipenuhi kabut

    Cahaya tercerabut
    Keserakahan menghasut
    Dunia dipimpin badut

    Nyawa tak lagi berharga

    Kebodohan semakin meraja
    Kerusakan kian merata
    Nestapa lagu dunia

    Bumi gersang

    Merintih jua mengerang
    Menahan pilu tak kepalang
    Terus disayat, dicabik tanpa sayang

    Hukum Tuhan dicaci

    Bangga jauh illahi
    Sibuk oligarki
    Matilah hati nurani

    Manusia semakin pongah

    Kesesatan dipandang indah
    Semakin jauh berbelok arah
    Menjauhi berkah


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/20/kelam/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    3 min
  • Mural dan Potret Antikritik Penguasa
    Mural dan Potret Antikritik Penguasa
    Oleh. Ismawati
    (Penulis dan Aktivis Dakwah)
    Voice Over Talent : Arien S
    NarasiPost.Com-Baru-baru ini media sosial ramai memperbincangkan mural bergambar mirip Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang bertuliskan “404 Not Found”. Pembahasan atau cuitan tentang mural itu menjadi trending topik di Twitter dengan tagar #Jokowi404NotFound, Sabtu (14/8/2021). Dilansir dari kompas.com (15/8/2021), mural dengan visualisasi wajah mirip Presiden Jokowi itu terletak di daerah Batu Ceper, Kota Tangerang. Kini mural itu telah dihapus oleh petugas kepolisian. Sebab, polisi menilai mural tersebut melecehkan lambang negara yang sekaligus merupakan pemimpin tertinggi Polri.
    Namun, meski mural telah dihapus dengan cat berwarna hitam pada bagian wajah mirip Jokowi, polisi mengaku akan terus melakukan penyidikan untuk mencari sang pembuat mural tersebut. Hingga kini seperti yang telah dikonfirmasi Kapolsek Batuceper KP David Purba, polisi telah memeriksa dua orang saksi untuk mengusut pembuat mural ini. (CNN Indonesia. 15/8/2021)
    Terlepas dari hal itu, pemerintah harus melihat sisi lain dari mural tersebut. Setidaknya, mural itu adalah bagian dari kritik rakyat terhadap penguasa. Bahkan, arsitek dan Ahli Tata Kota, Bambang Eryudhawan, mengatakan pemerintah harus hati-hati dalam memperlakukan mural, grafiti atau seni jalanan. Bambang Eryudhawan menilai hal ini justru dapat menjadi bumerang bagi pemerintah. Terutama kaitannya dengan penilaian masyarakat terhadap penguasa. (Kompas.com 15/8/2021) 
    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/22/mural-dan-potret-antikritik-penguasa/
    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
    Follow us on :
    instagram : http://instagram.com/narasipost
    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
    Twitter : Http://twitter.com/narasipost
    6 min
  • Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

    Witing Tresno Jalaran Soko Kulino

    Oleh: Deena Noor

    ( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Maya R

    NarasiPost.Com-“Witing tresno jalaran soko kulino” adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang memiliki arti “Cinta tumbuh karena terbiasa.”

    Witing berarti permulaan, tresno artinya cinta, jalaran adalah karena atau sebab, soko berarti dari, dan kulino artinya terbiasa.

    Ada juga yang memelesetkan menjadi “Witing tresno jalaran ora ono sing liyo,” yang berarti “Cinta tumbuh karena tidak ada yang lainnya.” Pertemuan yang menjadi lantaran cinta hanya dengan orang yang itu-itu saja. Mungkin bisa dibilang sebagai cinlok alias cinta lokasi.

    Memang benar, cinta bisa muncul dikarenakan sering bertemu, bersama, berinteraksi, menjalani waktu demi waktu dalam ruang yang sama. Entah karena terpaksa, kewajiban, sukarela, atau sekadar mengisi hari tanpa tujuan tertentu di awalnya. Bermula dari iseng dan tak sengaja, tak menargetkan apa pun, muncullah rasa terbiasa dan akhirnya suka.

    Bukan hanya pada manusia atau makhluk hidup lainnya, seperti hewan peliharaan, tetapi rasa cinta juga bisa tumbuh pada suatu aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan. Berawal dari paksaan karena ada kewajiban yang ditanggungkan, bila dijalani terus-menerus akan menjadikannya sebagai kebiasaan, kemudian akan merasa ada yang kurang bila sesuatu itu tiada. Tak lengkap hidup bila tanpa kehadirannya. Apalagi jika sesuatu itu akhirnya disadari sebagai hal yang penting dan amat dibutuhkan dalam kehidupannya.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/24/witing-tresno-jalaran-soko-kulino/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    11 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com