
Sign up to save your podcasts
Or


Pulang ke Kota Penuh Makna
Oleh : Desi Wulan Sari,M.Si.
Voice Over Talent : Dewi F
Kampuang nan jauh di mato
NarasiPost.Com-Sahabat, lagu ceria di atas mengingatkanku pada Sumatera Barat dengan ibu kotanya Padang, menjadi kota yang menakjubkan bagiku. Kota Padang menjadi bagian history yang tidak akan pernah kulupakan. Awal menginjakkan kaki ke kota Padang saat aku melangsungkan pesta pernikahan di rumah orang tua suamiku. Setelah sebelumnya kami melangsungkan akad pernikahan di Sukabumi, Jawa Barat.
Tahun 2002 pesta baralek kami langsungkan. Beberapa hari sebelum acara aku dibawa keluarga suamiku berkeliling kota Padang, MasyaAllah indah nian budaya orang Minang ini. Rasanya aku ingin membeli segala oleh-oleh yang berkaitan dengan design Minang. Hingga dari tahun ke tahun akhirnya kota Padang menjadi tempat kami berkumpul setiap tahun saat lebaran Idul Fitri tiba. Semua sisi kota yang kusinggahi selalu berbekas dalam hati ini, semakin aku mencintai suamiku yang asal Minang, semakin aku menyukai kota Padang yang unik dan indah dipandang.
Dengan segala macam keunikannya, mari aku perkenalkan satu per satu tempat-tempat favorit saat aku berkunjung ke sana, bersiap yah!
Pertama, Pasar Raya Padang.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/29/pulang-ke-kota-penuh-maknaoleh-desi-wulan-sari-m-si/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Hijrah Diri dan Negeri Menuju Perubahan Hakiki
Oleh. Nina Marlina, A.Md
Voice Over Talent : Ummu Fahri
NarasiPost.Com-Dikutip dari CNN Indonesia (4 Agustus 2021), Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 harus mencapai 6 persen agar bisa lepas dari jebakan negara pendapatan kelas menengah (middle income trap). Bila itu bisa dicapai, ia yakin Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju pada 2045. Menurutnya pandemi Covid-19 berdampak pada perencanaan pembangunan nasional, sehingga target Indonesia maju pada 2036 harus bergeser menjadi tahun 2045.
Setiap individu atau negara pasti menginginkan perubahan yang lebih baik. Ingin maju, tak mau berdiam diri atau bahkan terpuruk. Namun, perubahan seperti apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan? Jangan sampai salah memahami dan salah mengambil langkah.
Tak cukup hanya maju dalam bidang ekonomi, sementara bidang atau aspek lainnya buruk. Maju mundurnya sebuah bangsa tentu dipengaruhi berbagai aspek. Jangan pula terpedaya dengan perubahan atau kebangkitan yang semu.
Momen hijrah adalah momen perubahan. Momen ini menginspirasi kita untuk selalu berupaya berubah lebih baik dan dapat istikamah menjalaninya. Sebagaimana kita ketahui, banyak individu yang sadar akan pentingnya hijrah dan mereka pun melakukannya. Khususnya para selebriti dan kaum milenial. Tentu hal ini patut disyukuri dan terus didukung. Namun, hijrah tak boleh berhenti pada tataran individu saja. Hijrah pun harus dilakukan oleh negara dengan perubahan sistemnya.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/19/hijrah-diri-dan-negeri-menuju-perubahan-hakiki/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Wabah Kapitalisme
Oleh: Deena Noor
Voice Over Talent : Mels
NarasiPost.Com-Virus mematikan mewabah
Hidup bagaikan benalu
Mengisap darah kehidupan
Cela merundung seluruh perangkat
Kala iman melengah
Materi dipuja bagai Sang Agung
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/27/wabah-kapitalisme/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Event ke-12 NarasiPost.com: Mengubah Dunia Lewat Aksara
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.com – Alhamdulillah telah berlangsung dengan sukses agenda Event ke-12 NarasiPost.com yang dihadiri oleh kurang lebih 80 peserta. Sabtu, 31 Juli 2021 dengan tema “Mengubah Dunia Lewat Aksara”.
Pada event ini, NarasiPost.com menghadirkan 2 pemateri istimewa yakni Kanti Rahmillah M.Si dan Rindyanti Septiana. Peserta sangat antusias dalam mengikuti acara. Walaupun peserta ada yang terlempar dari ruang zoom karena jaringan, mereka tetap semangat untuk menghadiri di live Youtube NarasiPost. Masya Allah. Karena yakin ilmu itu sangat penting. Sangat disayangkan jika dilewatkan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/07/event-ke-12-narasipost-com-mengubah-dunia-lewat-aksara/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Mendamba Pemimpin Ideal di Sistem Abnormal, Mungkinkah?
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Putaran waktu terus bergulir, pesta demokrasi 5 tahunan akan kembali digelar. Aroma pertarungan politik mulai tercium dengan maraknya baliho para tokoh politik yang terpasang di beberapa lokasi. Namun demikian, tak sedikit rakyat negeri ini yang apatis dengan fenomena demikian. Mereka tak peduli dengan pergantian pemimpin, karena yang mereka pikirkan adalah bagaimana cara mereka menyambung hidup esok hari di saat tak ada yang bisa diharapkan hari ini. Di sisi lain masih ada sebagian rakyat yang justru menaruh harapan besar pada pesta demokrasi yang digelar mendatang. Pergantian pemimpin dianggap angin segar bagi perubahan negeri ini menjadi lebih baik. Namun benarkah demikian?
Ganti Nahkoda untuk Kapal Usang, Tepatkah?
Pemimpin hakikatnya adalah nahkoda bagi sebuah negeri. Dialah yang akan menjalankan roda pemerintahan. Maka, kapabilitas seorang pemimpin akan menentukan baik buruknya wajah sebuah negeri. Namun demikian, tak cukup itu saja, sistem yang dijalankannya pun harus teruji kebenarannya. Jika hanya fokus ganti pemimpin, sementara sistem yang diterapkan di negeri ini masih kapitalis sekuler, tentu saja perubahan yang diharapkan hanyalah ilusi.
Jika diumpamakan seperti ganti nahkoda, sementara kapalnya tidak diganti, tetap kapal usang penuh tambalan, maka cepat atau lambat pasti akan tenggelam dan mencelakakan seluruh penumpangnya. Siapkah kita dengan risiko demikian jika saat ini kita hanya berfokus pada pergantian pemimpin, sementara sistem yang ddigunakan tak pernah dievaluasi? Atau malah kita tutup mata akan segala kecacatan yang melekat di sistem ini?
Sudah begitu banyak bukti-bukti terhampar bahwasannya sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan di negeri ini telah gagal menciptakan kesejahteraan dan kebaikan bagi negeri ini. Sebaliknya, berbagai kerusakan bermunculan bertubi-tubi, seiring dengan penerapan aturan ala kapitalisme yang melandaskan kebijakan berdasarkan hitung-hitungan untung rugi.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/23/mendamba-pemimpin-ideal-di-sistem-abnormal-mungkinkah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Terjajah dalam Kapitalisme, Merdeka dengan lslam
Oleh. Umi Hanifah
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Setiap 17 Agustus negeri kita tercinta selalu memperingati hari kemerdekaan. Karena pada 17 Agustus 1945 lah negeri ini menyatakan diri merdeka, setelah kurang lebih tiga ratus lima puluh tahun lamanya terjajah oleh bangsa lain. Waktu yang tidak sebentar, terkungkung dalam dominasi mereka. Namun timbul pertanyaan, benarkah lndonesia sudah benar-benar merdeka?
Jika merdeka adalah terbebasnya dari pengaruh serta campur tangan penjajah, mandiri yaitu berdaulat atas diri dan miliknya, jelas bumi pertiwi ini belum merdeka. Secara fisik penjajah sudah hengkang, namun cengkeraman mereka masih cukup kuat dalam banyak aspek.
Mereka melepas pengaruh militer, namun mempertahankan status quo ekonomi terutama yang menyangkut sektor keuangan (perbankan) yaitu jerat ribawi, pasar bebas, utang dan pasar saham. Inilah yang disebut buble ekonomi, yaitu ekonomi yang bergerak di sektor tidak real dan senantiasa mudah terjerumus ke jurang resesi.
Perampokan sumber daya alam pun dilegalkan lewat UU, seperti UU Migas, UU Penanaman Modal Asing, UU Privatisasi dan lain-lain. Walhasil, melimpahnya kekayaan yang ada dikuasai para pemodal besar seperti Caltex, Freeport, dan yang lain. Rakyat sebagai pemilik hanya bisa menelan ludah, hidup tak beranjak membaik justru semakin terpuruk.
Dalam peradilan, Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Perdata (KUHPerdata) nyaris sepenuhnya masih diambil dari peninggalan Belanda. Hukum yang dihasilkan fleksibel, bisa ditarik ulur sesuai kepentingan. Sudah bukan rahasia, jika hukum tajam ke bawah/rakyat, namun tumpul kepada pejabat dan pemodal.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/21/terjajah-dalam-kapitalisme-merdeka-dengan-lslam/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Rakyat Berduka, Pejabat Pesta Pora, Wajah Kepemimpinan ala Demokrasi
Oleh. Ana Nazahah
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Sejatinya pemimpin adalah sosok yang layak dijadikan panutan. Karena itu, orang yang padanya diberikan amanah memimpin wajib memberi contoh yang baik. Namun, apa jadinya jika pemimpin justru melakukan perbuatan yang tidak layak? Seperti yang terjadi pada 5 anggota DPRD Labuhanbatu Utara. Dikutip dari CNNIndonesia (8/8/2021), sebanyak 5 anggota DPRD Labuhanbatu Utara (Labura) ditangkap aparat Polres Asahan, pada Sabtu (7/8) malam saat sedang dugem dengan sejumlah wanita dan mereka dinyatakan positif mengonsumsi narkoba.
Sungguh Ironis! Bagaimana bisa di tengah kondisi rakyat yang tengah kesusahan, ada pejabat yang justru pesta pora? Melanggar aturan PPKM dan mengonsumsi barang haram. Inikah wajah pemimpin hasil demokrasi? Mampukah pemimpin seperti ini membawa negeri menjadi lebih baik?
Fenomena Public Distrust
Kepercayaan adalah modal utama bagi pemimpin dipilih oleh rakyat. Atas sebab itu, rakyat meletakkan berbagai amanah kepemimpinan kepadanya. Mereka dipilih oleh rakyat, digaji dari uang rakyat, dengan harapan agar menjalankan mandat dan amanah demi terwujudnya kehidupan negara yang lebih baik. Maka, pemimpin yang baik itu, mereka wajib memiliki hubungan yang baik dengan rakyat. Membangun rasa percaya, sehingga rakyat merasa tenang dengan kepemimpinannya.
Namun, masalah klasik yang kita temui dewasa ini, justru sosok pemimpin tidak bisa dipercaya. Para pemimpin kerap berdusta, mengingkari janji, tidak adil, serta gagal memberi rasa aman dan ketenangan bagi rakyatnya. Hal ini kian diperparah dengan berbagai pelanggaran hukum yang dilakukan pejabat. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi penyakit serius, menggerogoti tubuh pejabat bangsa.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/19/rakyat-berduka-pejabat-pesta-pora-wajah-kepemimpinan-ala-demokrasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Kelam
Oleh: Bedoon Essem
Voice Over Talent : Mels
NarasiPost.Com-Kelam
Dipenuhi kabut
Nyawa tak lagi berharga
Bumi gersang
Hukum Tuhan dicaci
Manusia semakin pongah
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/20/kelam/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Witing Tresno Jalaran Soko Kulino
Oleh: Deena Noor
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-“Witing tresno jalaran soko kulino” adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang memiliki arti “Cinta tumbuh karena terbiasa.”
Witing berarti permulaan, tresno artinya cinta, jalaran adalah karena atau sebab, soko berarti dari, dan kulino artinya terbiasa.
Ada juga yang memelesetkan menjadi “Witing tresno jalaran ora ono sing liyo,” yang berarti “Cinta tumbuh karena tidak ada yang lainnya.” Pertemuan yang menjadi lantaran cinta hanya dengan orang yang itu-itu saja. Mungkin bisa dibilang sebagai cinlok alias cinta lokasi.
Memang benar, cinta bisa muncul dikarenakan sering bertemu, bersama, berinteraksi, menjalani waktu demi waktu dalam ruang yang sama. Entah karena terpaksa, kewajiban, sukarela, atau sekadar mengisi hari tanpa tujuan tertentu di awalnya. Bermula dari iseng dan tak sengaja, tak menargetkan apa pun, muncullah rasa terbiasa dan akhirnya suka.
Bukan hanya pada manusia atau makhluk hidup lainnya, seperti hewan peliharaan, tetapi rasa cinta juga bisa tumbuh pada suatu aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan. Berawal dari paksaan karena ada kewajiban yang ditanggungkan, bila dijalani terus-menerus akan menjadikannya sebagai kebiasaan, kemudian akan merasa ada yang kurang bila sesuatu itu tiada. Tak lengkap hidup bila tanpa kehadirannya. Apalagi jika sesuatu itu akhirnya disadari sebagai hal yang penting dan amat dibutuhkan dalam kehidupannya.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/24/witing-tresno-jalaran-soko-kulino/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed