Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Apa Pentingnya Migrasi TV ? Kebijakan Nirempati di Tengah Pandemi

    Apa Pentingnya Migrasi TV ? Kebijakan Nirempati di Tengah Pandemi

    Oleh. Qaulan Karima

    Voice Over Talent : Ummu Fahri

    NarasiPost.Com-Digitalisasi penyiaran yang ditandai dengan migrasi televisi analog ke televisi digital merupakan amanat dari Undang-Undang No.11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Migrasi tersebut secara khusus diatur dalam pasal tambahan pada Undang-Undang Penyiaran, pasal 60A ayat 2 yang menyatakan bahwa migrasi televisi dari analog menjadi digital dilakukan selambat-lambatnya 2 tahun setelah Undang-Undang Cipta Kerja diberlakukan. Artinya, proses migrasi tersebut harus sudah dilakukan pada November 2022.

    Transformasi Teknologi Penyiaran Televisi Digital

    Pemerintah mengeluarkan kebijakan ini dalam rangka transformasi teknologi untuk menyusul ketertinggalan Indonesia dibanding negara-negara Asia lainnya dalam hal penyiaran televisi digital. Migrasi televisi analog menjadi televisi digital diharapkan dapat menciptakan efisiensi penggunaan pita frekuensi sehingga dapat dialokasikan untuk keperluan lain seperti percepatan teknologi 5G di Indonesia. Kelebihan utama yang ditawarkan televisi digital di antaranya terkait dengan kualitas audio visual yang lebih jernih dibanding kualitas pada televisi analog. Kelebihan lainnya dari televisi digital adalah penonton dapat menyaksikan jenis tayangan program yang lebih beragam.

    Namun, untuk merasakan kelebihan-kelebihan televisi digital tersebut, masyarakat harus melakukan penyesuaian pada perangkat televisi. Masyarakat yang selama ini masih menggunakan televisi analog harus menambahkan perangkat yang disebut set top box (STB) atau mengganti dengan televisi baru yang dilengkapi perangkat penerima sinyal digital, Digital Video Broadcasting – Terrestrial second generation (DVB-T2).


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/23/apa-pentingnya-migrasi-tv-kebijakan-nirempati-di-tengah-pandemi/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Taat Syariat, Bukti Iman Membawa Perubahan

    Taat Syariat, Bukti Iman Membawa Perubahan

    Oleh: Hesty Noviastuty

    NarasiPost.Com-Hidup dalam sistem kehidupan yang jauh dari Islam, terasa sulit menjaga keimanan. Keyakinan terhadap Allah sebagai Sang Pencipta dan Pengatur mulai terkikis. Banyak di kalangan kaum muslimin hidup dengan aturannya sendiri. Tanpa disadari aturan yang dibuatnya bukan memberikan solusi yang hakiki, melainkan permasalahan yang semakin menjadi-jadi.

    Permasalahan kehidupan seperti tidak berakhir. Terlebih di masa pandemi seperti saat ini. Beban hidup semakin mendesak, sulit untuk sekadar mencukupinya. Berharap pada pelindung rakyat, tapi semua hanya tergantung tanpa kenyataan yang diharapkan. Umat yang dulu pernah membawa peradaban dunia, menjadi umat yang tertinggal. Mengapa umat yang terbaik dapat menjadi umat yang terbelakang?

    Kondisi saat ini harusnya membuat umat mawas diri. Apa yang menyebabkan kehidupan terasa semakin sulit. Padahal jika berpikir jernih, meyakini Allah sebagai Al Khalik, tentu ada keyakinan tidak mungkin Sang Pencipta tidak peduli dengan ciptaan-Nya. Keyakinan inilah dasar dari keimanan yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Firman Allah yang artinya:

    “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya. Dan mereka berkata, Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 285)


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/10/taat-syariat-bukti-iman-membawa-perubahan/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Tiang yang Diabaikan

    Tiang yang Diabaikan

    Oleh: Messy Ikhsan

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent: Maya R

    NarasiPost.Com-Bagaimana jadinya sebuah rumah bisa berdiri kokoh tanpa ada tiang yang kuat? Tentu rumah itu akan mudah rapuh saat diterpa badai kencang atau bisa hancur berkeping-keping saat diguncang gempa besar. Bagaimana pula nasib penghuni rumah itu kalau hal buruk benar-benar terjadi di dalamnya? Meninggal secara sadis dan mengerikan atau bisa selamat oleh keajiban takdir Allah ta’ala? Sungguh, kondisi menakutkan yang siapa pun tak ingin membayangkan, dan tak ingin pula terjadi di dalam kehidupan.

    Namun, ada hal yang jauh lebih mengerikan dan lebih menakutkan lagi. Tatkala seseorang yang ingin membangun sebuah rumah, tapi tak ada persiapan tiang penyangga sama sekali. Jangankan rumah itu mampu menahan terpaan badai dan guncangan gempa, untuk berdiri saja tak bisa karena tak memiliki tiang penyangga. Tentu, rumah itu hanya berbentuk kerangka saja karena tak memenuhi syarat dalam membangun sebuah rumah.

    Begitulah gambaran kondisi seorang muslim saat lalai menjalankan perintah Allah atau secara sengaja mengabaikan semua syariat-Nya. Dalam hal ini secara sengaja meninggalkan salat tanpa rasa bersalah sedikit pun. Padahal, salat tidak boleh ditinggalkan walaupun dalam kondisi dan situasi apa pun. Hal itu menandakan betapa esensi salat sebagai sarana berhubungan dengan Pencipta. Sebab, Allah pun menyediakan beragam kemudahan bagi manusia dalam melaksanakannya. Jika tak mampu melaksanakan salat dengan berdiri tegak, boleh secara duduk. Jika tak mampu dengan duduk, boleh secara tidur. Sungguh, Maha Pengasih Allah kepada setiap hambanya. Lantas, kenapa kita masih keras kepala dalam menjalankan salat?


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/17/tiang-yang-diabaikan/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost 

    8 min
  • Mimpi Ketahanan Pangan, Akankah Terwujud dalam Genggaman Kapitalisme?

    Mimpi Ketahanan Pangan, Akankah Terwujud dalam Genggaman Kapitalisme?

    Oleh. Renita

    ( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Yeni M

    Narasipost.Com-Lonjakan harga pangan rupanya selalu menghantui rakyat di negeri agraris ini. Di tengah pemberlakuan PPKM Darurat, harga pangan kembali bergejolak. Sengkarut distribusi pangan pun kerap dijadikan kambing hitam ketika harga pangan mulai menanjak. Demikian pula, rakyat seolah diminta untuk selalu ‘memaklumi’ terkait adanya fenomena yang meresahkan ini. Padahal, melejitnya harga pangan akan semakin membebani hidup rakyat. Apalagi, adanya pandemi ini membuat daya beli menurun, rakyat semakin terjepit, hidup makin terhimpit, ibarat kata ‘Sudah jatuh tertimpa tangga’.

    Dilansir dari www.cnnindonesia.com (2/8/2021), pada Senin (2/8/2021) sebagian besar harga pangan dilaporkan mulai mengalami kenaikan. Bawang merah dan bawang putih merupakan komoditas yang mengalami kenaikan tertinggi. Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) melaporkan data terkait kenaikan komoditas bawang merah ukuran sedang mencapai Rp38.500 per kilogram atau naik sebesar 7,69 persen. Kemudian, komoditas bawang putih dengan ukuran sedang mengalami kenaikan mencapai Rp32.750 per kilogram atau naik sebesar 6,85 persen. Komoditas lain yang turut mengalami kenaikan, yaitu jenis cabai-cabaian. Harga cabai rawit merah mengalami kenaikan sebesar 4,52 persen, berada pada kisaran Rp60.100 per kilogram dan harga cabai rawit hijau mengalami kenaikan Rp43.350 per kilogram, naik sebesar 2 persen. Selanjutnya, harga cabai merah besar Rp36.500 per kilogram, merangkak sebesar 1.98 persen dan harga cabai merah berada pada kisaran Rp35.150 per kilogram, terangkat sebesar 1,59 persen. Berikutnya, komoditas gula pasir juga mengalami kenaikan harga sebesar 1,9 persen, daging sapi naik sebesar 1,29 persen, beras naik sebesar 1,98 persen, telur ayam naik sebsar 3,05 persen dan minyak goreng naik sebesar 3,4 persen. Sementara itu, penurunan harga hanya tercatat pada daging ayam ras segar yang turun sebesar 1,7 persen menjadi Rp31.750 per kilogram.

    Adanya PPKM darurat tenyata tak hanya membuat rakyat kesulitan untuk mengais rezeki tersebab pembatasan aktivitas. Lebih dari itu, PPKM Darurat ini juga menyulitkan masyarakat untuk mendapatkan makanan pokok akibat harga pangan yang kian melejit. Padahal, pangan merupakan kebutuhan utama masyarakat. Seharusnya masyarakat diberikan kemudahan untuk mendapatkan bahan pangan. Sayangnya, kebijakan yang dikeluarkan nyatanya belum mampu untuk menjaga kestabilan harga pangan. Pertanyaannya, mengapa lonjakan harga pangan selalu berulang?


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/08/mimpi-ketahanan-pangan-akankah-terwujud-dalam-genggaman-kapitalisme/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Agar Ukhuwah Berbuah Jannah

    Agar Ukhuwah Berbuah Jannah

    Oleh : Messy Ikhsan

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Manusia merupakan mahkluk sosial yang tidak mampu berdiri sendiri dan membutuhkan bantuan dari manusia yang lain untuk bertahan hidup. Sehingga harus terjadi interaksi dan komunikasi antarsesama manusia dalam menenuhi tuntutan aktivitas sehari-hari. Semakin lama kita menjalin interaksi dengan seseorang, tentu menyisakan jejak kesan dan membentuk hubungan yang kian erat. Maka, terbentuklah hubungan yang bernama persahabatan.

    Dalam hubungan persahabatan, rasa kasih sayang dan cinta menjadi alasnya. Sementara agama dan akhlak menjadi tiangnya. Semua ornamen itu harus ada dan saling berkaitan. Jika tidak ada bumbu cinta dan bumbu agama. Maka, hubungan persahabatan terasa hambar dan ambyar atau hanya sebagai ajang mencari manfaat semata.

    Maksudnya adalah kalau seseorang berada dalam hubungan persahabatan karena ada sesuatu yang ingin dicari dan didapatkan. Setelah keinginan itu terpenuhi, ia akan pergi tanpa meninggalkan jejak. Bahkan, meskipun keinginan itu belum terpenuhi dan ia merasa tidak mendapatkan manfaat dari suatu hubungan tersebut. Maka, seseorang itu segera menghancurkan keutuhan persahabatan.

    Maka berdasarkan hal itu, kita perlu selektif mencari sahabat yang benar-benar baik dan ingin bersama-sama memperbaiki diri, saling mengingatkan dalam kebaikan, kesabaran, dan ketaatan. Ada untuk kita setiap saat dalam beragam kondisi, baik kondisi suka maupun duka, baik kondisi bahagia maupun sengsara.

    Namun, bukan berarti juga kita harus meninggalkan sahabat yang masih dalam kubangan jahiliah. Kita punya kewajiban untuk terus mengingatkan mereka dalam kebaikan terlepas nanti mau diterima atau ditolak. Setidaknya, kita tidak diam dalam melihat kemaksiatan.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/25/agar-ukhuwah-berbuah-jannah/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Taliban dan Arah Perubahan

    Taliban dan Arah Perubahan

    Oleh. Maman El Hakiem

    Voice Over Talent : Fani R

    NarasiPost.Com-Sudah menjadi topik utama berita dunia. Taliban akhirnya mengambilalih kekuasaan di Afghanistan. Presiden resminya, Ashraf Ghani, kabur dari singgasananya di Kabul, Afghanistan. Terjadi ketakutan masyarakat saat Taliban kembali menguasai pemerintahan, setelah dua puluh tahun lamanya hidup dalam rezim boneka buatan Amerika pasca tragedi WTC (11/9/2001) Afghanistan menjadi sasaran serangan Amerika dengan isu Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Dalih perang melawan terorisme (war on terorism) menjadi alasan pembenaran tindakan brutal Amerika dan sekutunya menghabisi para pejuang mujahidin yang ada di Afghanistan.

    Afghanistan adalah negeri kaum muslim yang terjajah, selain masih banyaknya pertikaian antarsuku, seperti Tajik dan Pashtun. Pasthun, suku mayoritas di Afghnistan yang mendapat dukungan Pakistan dari segi moril dan materil, tidak lain merupakan pion Amerika. Taliban dibentuk untuk menggantikan kekuasaan Gulbuddin Hekmatiyar karena kelemahannya dalam peseteruannya dengan kekuataan bersenjata pimpinan Ahmad Shah Masud dari suku Tajik pada tahun 1994. (Buku “Negeri-Negeri Kaum Muslim Yang Terjajah”, hal: 96)

    Taliban berasal dari bahasa Pastho, artinya “murid”, kelompok milisi ini telah berhasil meraih tampuk kekuasaan, namun karena adanya pergeseran arah politik yang tidak dikehendaki tuannya dengan isu “Imarah Islamiyah” nya dan perlindungan terhadap Osama Bin Laden, menjadi alasan Amerika untuk menghabisinya. Namun, inilah perjalanan politik yang tidak lepas dari intrik dan kelicikan. Setelah dua puluh tahun Amerika melancarkan misi politik kerasnya, ternyata tidak membuahkan hasil, malah mengalami kerugian dengan banyak korban, setidaknya 2.400 prajurit AS tewas. (BBC News, 29/2/2020)


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/24/taliban-dan-arah-perubahan/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Sekeping Emas dari Negeri Sakura

    Sekeping Emas dari Negeri Sakura

    Oleh : Deena Noor

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over  Talent : Arien S

    NarasiPost.Com-Sorak sorai kemenangan membahana

    Di sebuah gelanggang di Negeri Sakura
    Kala sang pahlawan menundukkan lawannya
    Bangga dan haru memenuhi dada

    Beritanya menghiasi layar kaca

    Seluruh rakyat menyambut penuh suka cita
    Sontak euforia menyelimuti bumi nusantara
    Melupakan sejenak wabah yang melanda

    Sang pahlawan tak hanya mendapat medali

    Banjir bonus telah menanti
    Uang, tanah, rumah dijanjikan akan diberi
    Berbagai fasilitas siap dinikmati

    Seketika aku tersadarkan

    Ada sebuah ironi kenyataan
    Sekeping emas yang diperebutkan
    Tambang emas yang telah dilepaskan

    Sungguh inilah tipu muslihat

    Yang disajikan sistem Barat
    Permainan yang menjerat
    Dalam mantra kapitalisme sesat


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/08/sekeping-emas-dari-negeri-sakura/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    5 min
  • Menyoal Sistem Kesehatan Agar Pandemi Dapat Terkendali

    Menyoal Sistem Kesehatan Agar Pandemi Dapat Terkendali

    Oleh. Astuti Rahayu Putri, S.PSi

    (Pemerhati Sosial)

    Voice Over Talent : Dewi F

    NarasiPost.Com-Pandemi kian tak terkendali. Sebagai bukti, jumlah kasus dalam sehari mencapai rekor tertinggi. Data terbaru yang dirilis covid19.go.id menunjukkan bahwa pada Kamis (24/6/2021) kasus bertambah 20.574 dalam 24 jam. Sedangkan total kasus positif mencapai 2.053.995, sembuh 1.826.504, dan meninggal 55.949 jiwa.

    Kita ketahui bersama, bahwa sistem kesehatan adalah garda terdepan dalam perang melawan virus corona. Sehingga jalan keluar dari pandemi ini bergantung padanya. Namun tiap kali kasus corona membara, nasib sistem kesehatan malah merana. Tenaga kesehatan kelelahan, fasilitas pun mengkhawatirkan. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi), Lia Gardenia Partakusuma, mengatakan keterisian rumah sakit (RS) Covid-19 di Jakarta dan Jawa Barat misalnya, sudah masuk kategori merah. Tingkat keterisian RS Covid-19 di dua daerah tersebut mencapai 80 persen lebih. (cnnindonesia.com, 20/06/2021)

    Sayangnya, tiap kali sistem kesehatan ambruk diterjang badai Covid-19. Perhatian terbesar selalu tertuju pada ketidakpatuhan protokol kesehatan di tengah-tengah masyarakat. Seakan melonjaknya kasus akibat ulah kelalaian masyarakat semata. Padahal ini adalah PR bersama, bukan hanya pada masyarakat, namun juga pemerintah. Bahkan andil pemerintah seharusnya lebih besar karena merekalah yang menentukan kebijakan-kebijakan yang diterapkan terkait Covid. Misalnya terkait kebijakan lockdown maupun PSBB, tentu itu semua ada di tangan pemangku kebijakan, yaitu pemerintah.

    Akan tetapi, selama ini kebijakan kerap kali mengundang rasa ambigu. Bagaimana tidak, implementasi suatu kebijakan sering tidak konsisten. Misalnya saja, ketika kebijakan mudik dilarang, akan tetapi wisatawan asing diizinkan masuk. Atau, saat sekolah ditutup, tempat ibadah dibatasi, namun tempat-tempat perbelanjaan malah ramai. Semua dilakukan demi tetap berjalannya roda perekonomian.

    Hal ini semakin memperjelas gambaran bagaimana sebuah sistem jika sudah diwarnai unsur-unsur kepentingan. Apalagi kepentingan para kapitalis. Kebijakan yang lurus, bisa menjadi menyimpang hanya karena berbenturan dengan kepentingan para pemilik modal. Kebijakan jadi tak pasti, sehingga bagaimana mau memberikan solusi yang hakiki?


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/28/menyoal-sistem-kesehatan-agar-pandemi-dapat-terkendali/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Deadlock

    Deadlock

    Oleh : Deena Noor

    ( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Mels

    NarasiPost.Com-Terpojok

    Bentrok mogok
    Tertohok terperosok
    Rontok kedok

    Dinding tak lagi tuli

    Setiap sudut siap bersaksi
    Atas sekongkol keji
    Kuasa tirani

    Bayang menghitam

    Selegam dosa jahanam
    Mengharap malam
    Samarkan haram

    Menghasut terang

    Sucikan siasat jalang
    Tiada kepayang
    Putih itu kian gemilang menjulang

    Petuah bukan tabu

    Syair risalah usah berlalu
    Menyambut hangat kalbu
    Barisan penyeru menyatu


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/15/deadlock/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    4 min
  • Angin Perubahan

    Angin Perubahan

    Oleh :Afiyah Rasyad

    ( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Arien S

    NarasiPost.Com-Desiran angin menderu

    Desah nafas memburu
    Hati-hati agar tak keliru
    Melafalkan ucap yang lebih tajam dari peluru

    Kalimat indah

    Tersebar dan terus merekah
    Menihilkan rasa gundah
    Berharap kehidupan diliputi berkah

    Meski remuk redam

    Tak ingin terperosok dalam jurang yang dalam
    Puluhan tahun diselimuti kelam
    Jalan dakwah tuk hapuskan segala dendam

    Angin perubahan telah tertiup kencang

    Opini umum mengangkasa dan terus terbentang
    Islam kafah telah terkembang
    Menjadi buah bibir dalam diskusi panjang

    Angin perubahan telah menyelimuti

    Kalimat tauhid bersarang di lubuk hati
    Tak cukup sekadar mengamati
    Tindakan nyata dengan dakwah sebagai tanda bukti


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/09/angin-perubahan/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    3 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com