
Sign up to save your podcasts
Or


Warna Warni Muslimah
Judul Buku : Warna Warni Muslimah
Voice Over Talent : Fani R
NarasiPost.Com-“Sosok perempuan tak habis dibicarakan. Banyak sisi diulik untuk mengokohkan eksistensinya. Nah, ajaran sekuler liberal yang kebanyakan diadopsi perempuan saat ini, justru menjauhkan dari nilai-nilai fitrahya”
Salah satu kutipan di dalam buku berjudul “Warna Warni Muslimah” karya Kholda Najiyah menarik untuk dijadikan rujukan dalam melakukan riset tentang profil perempuan masa kini.
Banyak yang memandang bahwa seorang perempuan yang memiliki keahlian dan bakat menjadi sosok publik figur adalah perempuan pemberani, mandiri, bahkan menyaingi posisi laki-laki di ranah publik. Namun, bagi sebagian yang lain, perempuan yang menjaga iffah dan izzahnya dengan tidak eksis di hadapan publik di era kapitalisme saat ini adalah bukanlah perempuan biasa, melainkan dia adalah sosok perempuan mulia dan memuliakan orang di sekitarnya.
Inilah bentuk perbedaan sosok perempuan yang dilahirkan oleh sebuah peradaban. Peradaban sekuler akan melahirkan perempuan-perempuan dengan misi mengejar peran sama persis dengan laki-laki, bahkan kalau bisa melampaui. Sosok perempuan sekuler saat ini hampir setara dengan perempuan di Barat yang meyakini ide liberalisme. Mereka berhak menuntut apa saja yang dikehendakinya, termasuk terbelok jauh dari fitrahnya.
Sedangkan peradaban Islam akan melahirkan perempuan muslimah yang sadar dan menjalani hidupnya dengan nilai-nilai Islam. Mereka bangga menjalani profesi ibu rumah tangga, melahirkan banyak generasi penerus, serta menyibukkan diri mendidiknya menjadi anak saleh. Mereka menjadikan Islam pandangan hidupnya. Sejarah mencatat, perempuan di masa Islam (Khilafah) mengalami kemajuan luar biasa, meski tanpa harus menyetarakan perannya. Bahkan banyak perempuan nonmuslim (kafir) masuk Islam karena terpesona dengan perlindungan Islam terhadap harkat dan martabatnya.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/16/warna-warni-muslimah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Stres Akibat Pandemi, Islam Tawarkan Solusi
Oleh. Ismawati
Voice Over Talent : Mels
NarasiPost.Com-Di Indonesia, pandemi Covid-19 telah ada selama lebih dari satu tahun. Dari awal hingga hari ini (14/8/2021) sudah tembus sebanyak 3,8 juta kasus orang yang terpapar virus ini. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menekan laju penyebaran virus, mulai dari PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) hingga PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat). Namun sayang, angka penyebarannya tidak kunjung melandai, justru mengalami kenaikan hingga bertambah ribuan kasus per hari.
Meski sudah berlangsung sekian lama, namun terpapar virus covid seolah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat. Saat awal penyebarannya, seseorang yang terpapar bagaikan aib yang harus ditutupi. Pun dengan hari ini, masih ada warga yang ‘stres’ akibat mengetahui dirinya terpapar Covid-19. Yakni Suwarto (51) warga Desa Sukajaya, Kecamatan Sumberharta, Kabupaten Musi Rawas (Mura) nekat terjun ke dalam sumur sedalam 10 meter.
Kejadian ini bermula saat Suwarto menderita sakit dengan gejala seperti Covid-19. Setelah sepekan di rumah, keluarga mengantarkan korban berobat ke Puskesmas Sumberharta. Setelah dirawat selama dua hari, korban memaksakan diri untuk pulang. Namun, keesokan harinya dengan disaksikan keluarga, korban nekat bunuh diri dengan terjun ke dalam sumur pada pukul 06.30 WIB. Tidak ada yang bisa menghalanginya, sebab korban membawa sabit, mengancam orang yang berusaha menghalanginya. Berbagai upaya dilakukan untuk menolong korban. Namun, lamanya proses evakuasi karena dalamnya sumur membuat nyawa korban akhirnya tak tertolong. (okezone.com 03/8/2021)
Suwarto tidaklah sendiri, telah banyak dijumpai kasus bunuh diri akibat stres karena terpapar Covid-19. Bukan hanya Indonesia, negara-negara lain di dunia pun banyak dijumpai kasus bunuh diri akibat depresi terpapar Covid. Diwartakan CNBC Indonesia.com (22/1/2021) menurut Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Jepang terdapat 20.919 orang yang meninggal karena bunuh diri. Belum lagi India, Thailand dan Malaysia, kasus bunuh diri akibat terpapar Covid-19 juga mengalami peningkatan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/19/stres-akibat-pandemi-islam-tawarkan-solusi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Harga dari Sebuah Pilihan
Oleh: Ana Nazahah
Voice Over Talent : Dewi Nasjag
NarasiPost.Com-Setiap kita pasti sering bercermin. Melihat pantulan diri kita di kaca. Sosok yang seperti apa, hanya kita sendiri yang bisa mendefenisikannya. Tergantung sudut pandang mana yang kita pilih. Apa kita melihat diri kita sebagai hamba, sebagai pribadi yang penuh percaya diri, atau sebagai diri yang diperbudak oleh dunia. Mungkin kita bisa menemukan jawabannya di balik kaca itu. Kita yang mana?
Lihatlah wajah kita. Lihat tampilan kita dari atas sampai ke bawah. Apa sosok itu telah menjadi sebaik hamba-Nya? Atau malah belum, karena terlalu percaya diri, sehingga berpikir masih ada waktu bertobat? Atau yang dipantulkan kaca itu adalah dia yang tidak memiliki kepercayaan diri sama sekali, sehingga tidak punya jati diri. Hidup mengikuti arus. Terbang ke sana kemari mengikuti angin berhembus. Tidak memiliki komitmen hidup.
Hanya kita yang tahu jawabannya. Kita itu yang mana. Kitalah yang paling tahu, alasan kenapa sampai detik ini kita belum juga menjadi pribadi baik sebagai hamba-Nya. Di saat ada orang-orang yang berjuang siang dan malam demi memperjuangkan Islam. Hanya kita yang tahu, kenapa sampai detik ini, jangankan membela agama Allah, menaati perintah-Nya yang sejatinya itu wajib, kita masih pilih-pilih. Layaknya prasmanan. Yang suka kita ambil, yang tak suka dibuang. Semudah itu agama bagi kita.
Wahai saudaraku! Percayalah, hidupmu bukanlah milik orang lain. Wajah dan tampilan yang kamu lihat di cermin adalah wajahmu sendiri. Bukan wajah perwakilan orang lain. Maka hanya kamu yang berhak atas wajah itu dan mengatur tampilanmu. Dan hanya kamu pula yang berhak memutuskan mengatur hidupmu dengan Islam atau justru dengan mengambil hukum lain yang bertentangan dengan Islam. Ingin memakai pakaian takwa, berhiaskan keimanan. Atau memilih memakai pakaian jahiliyah dan mendandani tingkah laku dengan melanggar perintah Allah. Hanya dirimu yang bisa memilih dan memutuskan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/06/harga-dari-sebuah-pilihan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Baha’i Ditoleransi, Moderasi Kian Dipupuki
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Kebebasan di negeri demokrasi merupakan hal yang lazim adanya. Mengingat demokrasi memang menjadi payung atas eksistensi liberalisme yang mengatasnamakan jaminan hak asasi manusia. Namun bahayanya, kebebasan yang diimplementasikan justru tak sedikit yang malah menabrak rambu-rambu norma di tengah masyarakat, termasuk rambu-rambu syariat. Salah satunya adalah kebebasan beragama yang diakui dalam sistem demokrasi, menjadikan setiap orang bebas mengimplentasikan kepercayaannya meski terang-terangan melenceng dari kebenaran.
Sebagaimana yang belakangan ramai mencuat ke publik, ‘agama’ Baha’i dibela setengah mati oleh para pengusung liberalisme. Bermula dengan viralnya video ucapan selamat hari raya Naw Ruz dari Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, terhadap Baha’i. Adapun hari raya Naw Ruz merupakan tahun baru Baha’i. Sebelum merayakan Naw Ruz, para penganut Baha’i terlebih dulu melakukan puasa selama 19 hari.
Kontan saja video ucapan selamat dari Pak Menag tersebut menuai beragam kontroversi. Betapa tidak, Baha’i merupakan sebuah aliran menyimpang yang tak layak diakui. Pun Baha’i tidak termasuk ke dalam enam agama yang diakui di negeri ini. Baha’i juga tidak dapat dikatakan sebagai bagian dari aliran agama Islam. Sebab beberapa ajarannya tampak tidak sejalan dengan Islam.
Dilansir dari Wikipedia.com, ajaran Baha’i di antaranya menyatakan bahwa agama Tuhan itu harus sesuai dengan ilmu pengetahuan. Adapun kepercayaan yang tidak sesuai dengan ilmu pengetahuan, maka bukanlah iman tetapi ketakhayulan belaka.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/12/bahai-ditoleransi-moderasi-kian-dipupuki/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Kampus Kurikulum Industri, Untungkan Korporasi dan Hancurkan Impian Negeri
Oleh. Nurjamilah, S.Pd.I.
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Perkembangan teknologi melesat jauh ke depan hingga mengubah berbagai lini kehidupan manusia. Setiap insan dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Jika tidak, dia akan tergerus zaman. Pendidikan menjadi salah satu sektor yang rentan terdisrupsi teknologi. Perguruan tinggi dianggap level pendidikan yang harus fast respon dalam mendeteksi perubahan itu, sehingga butuh gebrakan kurikulum dan metode pembelajaran yang kekinian dalam menyiapkan lulusan yang berkualitas dan kompetitif. Industri didaulat menjadi penggerak ekonomi terbesar suatu negara, termasuk Indonesia. Oleh karena itu,nmengawinkan dunia pendidikan dengan sektor industri menjadi suatu solusi yang digagas pemimpin negeri ini.
Dilansir dari www.kompas.com (27/07/2021) bahwa Presiden Jokowi menyerukan perguruan tinggi agar berkolaborasi dengan praktisi dan pelaku industri dalam mendidik mahasiswa. Bahkan mengganti kurikulum dosen dengan kurikulum industri. Pengetahuan dan keterampilan mahasiswa harus mengikuti perkembangan terkini dan masa depan. Nantinya mereka akan diarahkan untuk menjadi industriawan yang bisa membuka lapangan pekerjaan.
Komitmen perguruan tinggi untuk mengembangkan kurikulum berbasis industri sudah menjadi kebutuhan, tak bisa ditawar lagi. Brand Communications Manager Kalbis Institute, Raymond Christianto mengatakan, inilah saatnya menjadikan perguruan tinggi sebagai rumah bagi mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan, baik akademik maupun nonakademik. Harapannya setelah lulus, mahasiswa siap untuk terjun di dunia industri dan usaha (www.medco.com, 22/01/2021)
Sekilas, seruan itu seakan menjadi solusi canggih di masa kini, yaitu membentuk lulusan perguruan tinggi yang cepat diserap lahan kerja. Namun, apakah hal itu berarti mengalihkan orientasi kampus dari intelektual inovatif kepada profit? Bagaimana posisi penguasa dalam laju sistem pendidikan di negeri ini?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/07/kampus-kurikulum-industri-untungkan-korporasi-dan-hancurkan-impian-negeri/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Malu Aku Teriak Merdeka
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Suasana peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia hampir dua tahun ini begitu berbeda. Tak ada keriuhan seperti tahun-tahun sebelum adanya pandemi Covid-19. Tawa riang anak-anak yang menyemangati temannya yang sedang mengikuti lomba 17an kini tak terdengar lagi. Pun tepuk tangan dari para bocah mungil tatkala namanya disebut sebagai pemenang lomba makan kerupuk, memasukkan pensil ke botol, membawa kelereng dengan sendok yang digigit, serta lomba-lomba lainnya, tak lagi ada. Semuanya terkubur oleh mencekamnya pandemi di negeri ini.
Ya, aku masih ingat sekitar dua tahun lalu, anak-anak di sekitar tempat tinggalku begitu antusias mengikuti perlombaan yang diadakan oleh ketua RT masing-masing. Maka, yang terekam olehku adalah setiap 17an pasti ramai. Ya, memori itu sudah terekam erat dalam benakku bahkan sejak aku masih anak-anak. Bagiku yang saat itu masih bocah, perayaan 17 Agustus itu sangat dinantikan, seru, dan menyenangkan. Selain bertabur banyak hadiah, juga banyak hiburan yang disajikan di lingkungan tempat tinggalku. Setiap momen 17an, aku suka mengikuti lomba menari bersama teman-temanku di lingkungan tempat tinggalku. Kami juga ikut lomba sepeda hias dan lomba-lomba lainnya yang diadakan. Rasanya menyenangkan sekali!
Namun, seiring bertambahnya usia dan pemahaman, aku semakin menyadari bahwa euforia kemerdekaan sebetulnya menyimpan makna semu akan makna kemerdekaan itu sendiri. Kemudian sejenak aku berpikir, tawa anak-anak dalam perlombaan itu begitu tulus memancar dari hatinya yang bahagia. Namun, mereka belum memahami bahwa perayaan yang mereka ikuti hanyalah sebuah seremonial. Karena kenyataannya, negeri ini belumlah merdeka.
Ya, 76 tahun Indonesia mengklaim diri sebagai bangsa yang merdeka, namun nyatanya penduduknya masih dicengkeram oleh derita. Lantas, aku kembali mengingat wajah-wajah penuh duka yang satu dua berlalu-lalang di tengah keriuhan perayaan kemerdekaan itu. Dengan wajah memelas dan pakaian kumal penuh tambalan, mereka menengadahkan tangan mengharap belas kasihan. Inikah yang dinamakan bangsa merdeka? Rakyat jelata masih banyak yang berkubang dalam kelaparan, sementara para borjuis sibuk menghitung asetnya. Luar biasa. Ah, malu aku teriak merdeka!
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/18/malu-aku-teriak-merdeka/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Hijrah Diri dan Negeri Menuju Perubahan Hakiki
Oleh. Nina Marlina, A.Md
Voice Over Talent : Ummu Fahri
NarasiPost.Com-Dikutip dari CNN Indonesia (4 Agustus 2021), Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 harus mencapai 6 persen agar bisa lepas dari jebakan negara pendapatan kelas menengah (middle income trap). Bila itu bisa dicapai, ia yakin Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju pada 2045. Menurutnya pandemi Covid-19 berdampak pada perencanaan pembangunan nasional, sehingga target Indonesia maju pada 2036 harus bergeser menjadi tahun 2045.
Setiap individu atau negara pasti menginginkan perubahan yang lebih baik. Ingin maju, tak mau berdiam diri atau bahkan terpuruk. Namun, perubahan seperti apa dan bagaimana yang seharusnya dilakukan? Jangan sampai salah memahami dan salah mengambil langkah.
Tak cukup hanya maju dalam bidang ekonomi, sementara bidang atau aspek lainnya buruk. Maju mundurnya sebuah bangsa tentu dipengaruhi berbagai aspek. Jangan pula terpedaya dengan perubahan atau kebangkitan yang semu.
Momen hijrah adalah momen perubahan. Momen ini menginspirasi kita untuk selalu berupaya berubah lebih baik dan dapat istikamah menjalaninya. Sebagaimana kita ketahui, banyak individu yang sadar akan pentingnya hijrah dan mereka pun melakukannya. Khususnya para selebriti dan kaum milenial. Tentu hal ini patut disyukuri dan terus didukung. Namun, hijrah tak boleh berhenti pada tataran individu saja. Hijrah pun harus dilakukan oleh negara dengan perubahan sistemnya.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/19/hijrah-diri-dan-negeri-menuju-perubahan-hakiki/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Ancaman dalam Mencetak Generasi Terbaik
Oleh. Ummu Wildan
Voice Over Talent : Dewi Fitriana
NarasiPost.Com-Berguna bagi agama, nusa, bangsa, dan negara adalah harapan yang sering diucapkan oleh para orang tua tentang masa depan anak-anak mereka. Namun, seiring perkembangan zaman sebagian orang tua seperti kehilangan petunjuk arah untuk mencapai tujuan tersebut. Beberapa waktu yang lalu viral berita seorang tokoh publik yang menemani kedua putranya menonton video porno. Menurutnya, anak-anaknya tidak bisa terhindar dari menonton konten porno, baik itu dari anime atau media lainnya. Baginya ini adalah bagian dari perannya dalam memberi pendidikan seks untuk anak-anaknya.
Menanggapi hal tersebut KPAI justru menyayangkan sikap tersebut, Susanto, Ketua KPAI menyebut menonton konten porno memiliki dampak negatif yang serius bagi tumbuh kembang anak. Orang tua hendaknya memperhatikan etika perlindungan anak. (detik.com, 26/06/2021)
Di dunia internasional pun kontradiksi pun terjadi dalam menentukan arah generasi penerus. Pada awal Juni, Hungaria meresmikan Undang-Undang yang melarang lini pendidikan mengajarkan terkait homoseksual dan perubahan gender. Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban membela pengesahan UU ini karena baginya undang-undang ini terkait pembelaan hak-hak anak dan orang tua bukan terkait LGBTQ. Sebaliknya Presiden Komisi Eropa, Ursula Von Der Leyen, mengecam pengesahan tersebut dan menyebut undang-undang tersebut mendiskriminasikan warga berdasarkan orientasi seksual.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/13/ancaman-dalam-mencetak-generasi-terbaik/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Oleh. Miladiah al-Qibthiyah
Voice Over Talent : Ummu Fahri
NarasiPost.Com-Kasus baru penambahan coronavirus di Indonesia masih terbilang tinggi. Merujuk pada data Satgas Covid-19, tambahan kasus baru yang terinfeksi corona di Indonesia sebanyak 30.625. Sehingga, total kasus positif corona hingga Rabu (11/8) menjadi 3.749.446.
Beberapa pihak mengimbau agar masyarakat bekerja secara kolektif dan memiliki tanggung jawab yang tinggi untuk mematuhi protokol kesehatan. Sebab, satu-satunya cara menekan wabah Covid-19 diawali dengan menekan laju penularan. Sungguh aneh tapi nyata. Satu sisi pemerintah meminta masyarakat bekerja sama dalam menekan angka penyebaran virus Covid-19. Namun, di sisi lain beberapa pihak malah menampilkan sejumlah billboard (baliho)
Prosesi pemilihan tak lebih sekadar ritual demokrasi. Bercermin pada pilkada serentak tahun 2020 lalu, dengan memaksakan menggelar kampanye politik di tengah pandemi, justru semakin banyak warga yang mengalami himpitan ekonomi.
Mengamati kasus penularan Covid-19 yang mengalami lonjakan masif di berbagai wilayah, khususnya yang menyelenggarakan kontestasi politik, akankah mengubah nasib rakyat pasca pemilu 2024 atau rakyat justru semakin hilang harapan?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/17/pemilu-2024-tunda-kampanye-politik-demi-keselamatan-publik/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Mantra Menyesatkan Nasionalisme
Oleh: Wening Cahyani
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Gemuruh kerasnya perjuanganmu
Tiada lelah tiada pasrah
Batas wilayah ilusi semata tercipta
Air mata pun hanya bisa mengalir
Bertebaran kecaman dan kutukan
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/05/mantra-menyesatkan-nasionalisme/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed