Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Gerakan “Ayo Sekolah” di Garut, Peluncuran Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi, Amankah?

    Gerakan “Ayo Sekolah” di Garut, Peluncuran Sekolah Tatap Muka di Masa Pandemi, Amankah?

    Oleh. Ade Aisyah A.Md*)

    (Aktivis Dakwah, pendidik dan pemerhati generasi)

    Voice Over Talent : Yeni M

    NarasiPost.Com-Bagai makan buah simalakama. Itulah peribahasa yang sesuai dengan kondisi pendidikan di masa pandemi. Pilihan sekolah tatap muka atau pembelajaraan jarak jauh, dua-duanya memiliki risiko yang tak kalah beratnya. Sudah hampir dua tahun pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda akan berakhir. Dunia pendidikan sudah sangat resah dan gelisah. Masa depan generasi dipertaruhkan. Ketika sekolah daring berlangsung, tak jarang membuat orang tua darting. Anak-anak bukannya belajar tapi malah intens main game dan berselancar ke sana-ke mari. Mereka beralasan tidak mengerti dengan materi pelajaran yang disampaikan.

    Memang belajar daring banyak keterbatasan. Guru tidak bisa langsung merespon murid yang tidak paham dengan materi pelajaran, apalagi murid tidak ada kemauan bertanya. Ditambah tugas-tugas yang menumpuk menjadi beban berat murid padahal ilmu yang seharusnya dipahami tidak kunjung jadi pemahaman. Dilansir oleh hariangarutnews.com (3/5/2021) Pemkab Garut menggelar Upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2021, di lapangan Sekretariat Daerah (Setda) Garut, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut. Dalam sambutannya Bupati Garut, Rudy Gunawan, menyampaikan bahwa Kabupaten Garut memiliki semangat untuk menjadi penggerak dan pioner sekolah tatap muka. Apalagi sudah dinyatakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Riset Teknologi (Kemendikbud Ristek) Garut menjadi bagian pionir atau pelopor sekolah penggerak.

    Rudi Gumawan juga menyatakan kita berharap tetap melaksanakan apa yang menjadi kewajiban kita, yaitu anak-anak bisa belajar, tetapi di masa pandemi kita pun punya kewajiban tentang keselamatan anak supaya terhindar dari virus corona. Kehati-hatian para pemangku kebijakan memang masuk akal. Hanya saja, masyarakat menjadi heran dan geram. Sekian lama sekolah ditutup, tapi pasar-pasar bahkan tempat wisata dibuka. Sebelum mencanangkan gerakan “Ayo Sekolah”, Bupati Garut yang juga sebagai (Ketua) Satgas Covid-19 Garut sudah memberikan izin untuk melakukan simulasi sekolah bagi anak-anak TK, SD dan SMP. Simulasi pembelajaran tatap muka dilaksanakan serentak pada tanggal 19 April 2021. Dalam kegiatan itu, ada beberapa poin yang diutamakan, salah satunya adalah terkait jam belajar yang dibatasi selama 3 jam saja dan kapasitas kelas yang hanya 30-50% saja.(detiknews.com, 19/4/2021)


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/03/gerakan-ayo-sekolah-di-garut-peluncuran-sekolah-tatap-muka-di-masa-pandemi-amankah/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Jangan Gampang Sakit Hati Daring!

    Jangan Gampang Sakit Hati Daring!

    Oleh : Messy Ikhsan

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Dewi F

    NarasiPost.Com-Guys, pernahkah merasakan sakit hati dengan perkataan atau perbuatan orang lain? Dada terasa sesak dan kepala terasa mau pecah berkeping-keping saat diberikan nasihat. Kalau bisa, ingin membalas hal serupa pada orang yang bersangkutan, biar bisa merasakan apa yang kita rasakan juga. Walaupun kadang apa yang dikatakan benar, tetap saja kita ingin mencari pembenaran. Kita tidak mau disalahkan meski terbukti berbuat kesalahan. Ada saja alasan untuk menolak kebenaran dan tak ingin disalahkan. Aduh, jadi pusing kepala barbie!

    Akan tetapi, kali ini kejadiannya malah lebih parah, Guys. Ada yang namanya sakit hati online yang terjadi secara daring, yaitu sakit hati melihat postingan-postingan yang berisi konten nasihat dan kebaikan. Walau tidak ditujukan untuk kita, eh … diri sendiri sudah merasa tersinggung, lalu marah-marah tidak jelas kepada orang yang bersangkutan, berkoar-koar di dunia nyata maupun maya. Padahal, orang itu hanya ingin menyampaikan kebaikan dan nasihat saja, lho.

    Guys, tatkala kita tersinggung dengan postingan kebaikan, hal itu pertanda cahaya hidayah sudah menyapa diri, pertanda Allah sayang. Itu pertanda bahwa hati ini masih lembut dan sudi menerima nasihat. Allah tak ingin kita berlarut-larut dalam kubangan dosa dan maksiat sehingga memberikan kita peringatan cinta lewat postingan tersebut. Hal ini agar kita berhenti berbuat salah dan segera berbenah.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/30/jangan-gampang-sakit-hati-daring/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Ketimpangan Makin Menganga, Kapitalisme Sumber Petaka

    Ketimpangan Makin Menganga, Kapitalisme Sumber Petaka

    Oleh. Renita

    ( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-“Capitalism has always been a failure for the lower classes. It is now beginning to fail for the middle classes.” — Howard Zinn

    (Kapitalisme selalu merupakan kegagalan bagi kelas bawah. Sekarang mulai gagal untuk kelas menengah)

    Pernyataan di atas tampaknya memang terjadi saat ini ketika sistem kapitalisme semakin kokoh menghegemoni dunia. Meskipun di masa pandemi, nyatanya ketimpangan sosial terlihat semakin menganga. Resesi ekonomi yang membayangi dunia malah semakin mengokohkan aset-aset para kapitalis. Nahas, bagi masyarakat kelas bawah dan menengah, pandemi ini justru memorak-porandakan kehidupan ekonomi mereka.

    Sebuah fakta terungkap bahwa orang kaya di Indonesia mengalami peningkatan selama pandemi Covid-19.

    Berdasarkan laporan Credit Suisse, orang Indonesia dengan kekayaan di atas US$ 1 juta atau setara dengan Rp14,49 miliar (kurs dolar Rp14.486) berjumlah 171.740 orang pada tahun 2020. Angka tersebut meningkat sebanyak 61,69 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) yang berjumlah 106.215 orang pada tahun 2019. Selain itu, lembaga tersebut juga mencatat adanya lonjakan terhadap orang sangat kaya di Indonesia, dengan kekayaan tercatat lebih dari US$ 100 juta sebanyak 417 orang pada tahun 2020 atau meningkat 22,29% yoy dari jumlah pada tahun 2019.(kompas.com, 13/7/2021)

    Berbicara mengenai kesenjangan sosial-ekonomi di Indonesia, adanya ungkapan, “Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin” tampaknya telah menjadi kenyataan yang tak bisa terelakkan. Ketika masalah ketimpangan sosial di negeri ini masih bergelayut, pandemi Covid-19 malah membuat situasi semakin buruk. Namun, sebenarnya apa yang menyebabkan ketimpangan sosial semakin melebar? Untuk menjawabnya, tentu kita perlu melihat permasalahan ini lebih dalam lagi, sebab persoalan mengatasi ketimpangan bukan sekadar membutuhkan solusi teknis, tapi juga landasan ideologis yang dapat mengurai masalah hingga ke akarnya.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/29/ketimpangan-makin-menganga-kapitalisme-sumber-petaka/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Remaja Baper, Why Not?

    Remaja Baper, Why Not?

    Oleh: Messy Ikhsan

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Fani Ratu

    NarasiPost.Com-Hello Guys! Bukan jadi rahasia umum lagi bagaimana fenomena remaja zaman now. Banyak remaja terjangkiti virus baper dan bucin sama si doi model on. Baru beberapa detik pesan dibaca dan belum sempat dibalas sama si doi, sudah menangis bombay tingkat langit, terkesan alay sekali. Akan tetapi, itulah fakta yang ada di tengah-tengah kita, Guys.

    Fenomena remaja yang bawa perasaan sama si doi yang bukan mahram ini harus diformat ulang, ya, Guys. Sebab, tidak ada istilah bawa perasaan sebelum ada ikatan yang sah. Apa kamu mau dicampakkan ke neraka karena melakukan aktivitas pacaran yang jelas haram dan mendekati zina?

    Umur saja baru seujung kuku kucing, sok pula panggil ayah dan bunda. Memangnya kamu sanggup memberi makan anak orang dan menanggung semua biaya kehidupannya, sementara tidur aja masih takut sendirian dan ditemani orang tua? Aduh … ada-ada saja ulah remaja zaman now kerena meletakkan kata baper tak sesuai arah hingga maknanya jadi salah kaprah.

    Guys, saatnya mengganti istilah baper dengan sesuatu yang membawa manfaat di tengah umat, yaitu bawa perubahan bukan bawa perasaan. Mari kita membawa perubahan untuk diri sendiri, masyarakat, dan negara. Masa mau stagnan di posisi yang sama? Apa tidak lelah berada dalam lembah kemaksiatan, Guys?


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/16/remaja-baper-why-not/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Bagasi

    Bagasi

    Afiyah Rasyad

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Dewi Na

    NarasiPost.Com-“Pergi dari sini! Aku tak mau melihatmu,” berang Ardi pada wanita paruh baya yang sudah berlinang air mata.

    Wildan memejamkan netra lama. Hatinya teriris mendengar ucapan sahabatnya itu pada Bu Asih. Tatkala membuka mata, netranya menangkap punggung Bu Asih yang kian jauh. Langkah itu sangat gontai. Wildan hanya beristighfar sebanyak-banyaknya. Dia memohon ampun pada Allah karena tak bisa membantu Bu Asih.

    Wildan masuk ke bilik kecil. Ruang lembab berisi satu set meja kursi dan sebuah almari kecil menjadi tempat mewahnya. Netra pemuda itu bisa menyaksikan ombak yang berkejaran dari balik jendela kayu. Di sanalah Wildan banyak menghabiskan waktu bersama dua kawan yang lain. Aktivitasnya menyisir setiap sudut ruang pada bangunan kuno yang kokoh itu. Pemuda delapan belas tahun ini rela menetap di asrama yang dia tinggali sejak usia empat tahun.

    “Assalamu’alaikum.” Wildan mendongak mendengar salam yang begitu akrab di telinganya.

    “Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuhu. MasyaAllah, Ustaz. Ada angin apa ini hingga mengantar Ustaz ke sini? Kaifa haluk?” sambut Wildan hangat.

    “Alhamdulillah, bi khoir,” jawab Ustaz Amir sumringah.

    “Minta tolong gantikan saya mengajar di kelas 11 putra. Saya harus pulang, ibu gerah.”

    “Tapi, Ustaz ….” Wildan ragu untuk melanjutkan.

    “Aku yakin kaubisa.” Ustaz Amir optimis.

    “Semoga ibu lekas sembuh, Ustaz! Syafahallah syifaan ajilan.”


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/14/bagasi/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Ledakan Susulan di Luar Jawa Tak Diprediksi?

    Ledakan Susulan di Luar Jawa Tak Diprediksi?

    Oleh. Fitria Yuniwandari

    Voice Over Talent : Rahmi (Ummu Fahri)

    NarasiPost.Com-Terjadi penambahan kasus Covid di luar Jawa, yakni dari yang sebelumnya berkontribusi sebanyak 34% menjadi 54% ke penambahan kasus nasional. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan ada lima provinsi di luar Pulau Jawa-Bali yang mengalami kenaikan kasus Covid-19 cukup tinggi, yaitu Kalimantan Timur (Kaltim), Sumatera Utara (Sumut), Papua, Sumatera Barat (Sumbar), dan Kepulauan Riau. Kemudian pada Jumat, 6 Agustus 2021 tiga provinsi mengalami kenaikan kasus baru yaitu Sumut naik menjadi 22.892 kasus, Kepulauan Riau 14.993 kasus, dan Sumbar 14.712 kasus.

    Presiden menginstruksikan para mentri, TNI/Polri serta kepala daerah kembali menginjak rem, terutama untuk mengendalikan mobilitas masyarakat, ia meminta seluruh pihak khususnya pemerintah daerah di luar Jawa-Bali untuk menerapkan 3 tiga hal, yaitu penurunan mobilitas masyarakat, testing dan tracing, serta penambahan ruang isolasi terpusat. Hal ini terkesan, pemerintah bergerak ketika terjadi lonjakan kasus.

    Kembali fakta ini menunjukkan betapa buruknya penanganan kasus Covid-19. Saat terjadi lonjakan kasus Covid-19 di Jawa-Bali, harusnya pemerintah mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terjadi di luar Jawa-Bali. Apalagi, secara fakta ketersediaan fasilitas kesehatan tak selengkap di Jawa-Bali, ditambah kesiapan masyarakat yang sudah dipastikan tidak cukup dalam menghadapi lonjakan kasus baru.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/16/ledakan-susulan-di-luar-jawa-tak-diprediksi/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Mantan ‘Pasien’ KPK jadi Pejabat Negara, Demokrasi ‘Surga’ bagi Tikus Berdasi?

    Mantan ‘Pasien’ KPK jadi Pejabat Negara, Demokrasi ‘Surga’ bagi Tikus Berdasi?

    Oleh. Renita

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-“Smiling people and friendly” begitulah kesan wisatawan asing terhadap bangsa Indonesia. Ungkapan tersebut tidak salah, Indonesia memang dikenal sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat. Terlebih ketika kita melihat perilaku ‘ramah’ para pemangku jabatan di negeri ini terhadap para tikus berdasi. Masih terekam dalam ingatan, bagaimana dua tahun ke belakang musim diskon hukuman bagi para koruptor begitu vulgar disajikan. Kini, ‘keramahan’ itu kembali ditunjukan dengan diangkatnya eks koruptor menjadi komisaris anak perusahaan BUMN.

    Sebagaimana diwartakan, PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) menunjuk mantan terpidana kasus korupsi, Emir Moeis, sebagai salah satu komisarisnya. PIM merupakan keturunan dari PT Pupuk Indonesia (BUMN). Para pemegang saham PT PIM menunjuk Emir Moeis sebagai komisaris sejak 18 Februari 2021. Di laman resmi PT PIM pun telah memuat profil mantan anggota DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan itu. Pada tahun 2004, ketika menjadi anggota DPR, Emir Moeis pernah tersandung skandal suap rancangan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Tarahan, Lampung . Ia pun divonis selama 3 tahun kurungan dan denda sebesar Rp150 juta karena terbukti menerima suap sebesar 357.000 dolar AS pada tahun 2014. (kompas.com, 6/8/2021)

    Tak lama setelah berita ini dimuat, warganet pun ramai-ramai memberikan sindiran kepada Menteri BUMN karena dianggap telah mencederai integritas perusahaan pelat merah tersebut. Mengapa negeri ini begitu ‘berbelas kasih’ terhadap para penggondol uang rakyat? Padahal kerugian negara yang diakibatkan oleh ulah para tikus pengerat itu sungguh di luar akal sehat. Apakah negeri ini sudah tak memiliki orang yang kredibel untuk menjabat sebagai komisaris anak usaha BUMN?


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/17/mantan-pasien-kpk-jadi-pejabat-negara-demokrasi-surga-bagi-tikus-berdasi/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    14 min
  • Pemutus Kelezatan

    Pemutus Kelezatan

    Oleh: Bedoon Essem

    Voice Over Talent : Maya R

    NarasiPost.Com-Ketika kesendirian menemani

    Hanya air mata yang menjadi saksi
    Lelah diri mengarungi
    Ujian demi ujian tak bertepi

    Perih terhimpit luka

    Rintihku mengalun tak bersuara
    Hanya terpanjat doa
    Yang kupersembahkan pada Sang Pencipta

    Sebenarnya rindu ini terlalu dalam

    Terpendam dalam hati kelam
    Namun, hati ini pun malu
    Masih layakkah hati ini merindu


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/12/pemutus-kelezatan/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    4 min
  • Memetik Hikmah di Balik Wafatnya Ulama

    Memetik Hikmah di Balik Wafatnya Ulama

    Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

    (Tim Redaksi NarasiPost.Com / aktivis Muslimah & Penulis Buku)

    Voice Over Talent : Dewi F

    NarasiPost.Com-Negeri ini sudah selayaknya berduka. Bukan semata tersebab pandemi yang merenggut ribuan nyawa manusia, melainkan karena diwafatkannya para ulama. Ya, sepanjang pandemi Covid-19 menyelimuti negeri ini, sebanyak 584 ulama di negeri ini telah berpulang kepada Sang Pemilik Jiwa. (Detik.com/05-07-2021)

    Ulama adalah Warosatul Anbiya atau pewaris para nabi, yakni penyambung tersampaikannya risalah Islam kepada seluruh manusia. Maka, keberadaan ulama bagaikan mutiara di tengah-tengah kehidupan, lebih-lebih saat ini ketika kehidupan diliputi fitnah dan kezaliman. Begitu berharganya keberadaan seorang ulama, maka kematiannya menyisakan duka mendalam di dada umat. Sebab umat tak hanya kehilangan sosoknya, namun juga ilmunya.

    Rasulullah Saw bersabda:

    “Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama.” (HR al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’)


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/10/memetik-hikmah-di-balik-wafatnya-ulama/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Kabocha, Menu MPASI bernutrisi

    Kabocha, Menu MPASI bernutrisi

    Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

    (Tim Redaksi Narasipost.com)

    Voice  Over Talent : Arien S

    NarasiPost.Com-Memasuki usia 6 bulan si kecil, setiap ibu pasti mulai merancang menu apa saja yang akan diberikan sebagai makanan pendamping ASI. Tentu saja, sebab mulai usia 6 bulan, kebutuhan gizi dan nutrisi bayi demi menopang pertumbuhan dan perkembangannya bertambah, tak cukup dari air susu ibu saja. Oleh karena itu, ibu harus pandai memilih menu MPASI bagi bayi agar benar-benar mampu memberikan manfaat bagi tumbuh kembang bayi.

    Adapun kabocha atau labu Jepang sekilas mirip dengan labu parang. Namun, ternyata ada perbedaan mencolok di antara keduanya, yakni kabocha memiliki ukuran yang jauh lebih kecil daripada labu parang. Warna kuning pada kabocha pun lebih mencolok daripada labu parang. Selain itu, kabocha memiliki kulit yang tidak sekeras labu parang.

    Kabocha sangat recomended untuk dibuat MPASI karena mengandung banyak nutrisi yang baik bagi bayi. Adapun nutrisi yang terkandung di dalamnya di antaranya betakaroten yang cukup tinggi. Betakaroten merupakan pigmen yang diberikan pada tanaman yang menghasilkan buah kuning atau orange. Di dalam tubuh manusia, betakaroten, akan dikonversi menjadi vitamin A yang baik untuk kesehatan mata.

    Selain itu, betakaroten juga berperan sebagai antioksidan, yakni dapat meningkatkan imunitas dan mencegah radikal bebas. Maka, pemberian kabocha sebagai MPASI pada bayi dapat memperkuat kekebalan tubuh bayi dari serangan penyakit.

    Selain itu, kabocha mengandung serat dan sumber zat besi. Sehingga dapat membantu penyerapan nutrisi dan melancarkan metabolisme tubuh. Dengan begitu, mengonsumsi kabocha dapat melancarkan sistem pencernaan bayi.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/13/kabocha-menu-mpasi-bernutrisi/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost


    5 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com