
Sign up to save your podcasts
Or


Childfree: Perangkap Jahat Penghancur Umat
Oleh: Chaya Yuliatri, S.S.
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Istilah childfree mendadak viral setelah Youtuber Gita Savitri mengungkapkan pilihannya untuk tidak punya anak (Tribunnews.com, 20/8/2021). Hal senada juga diungkapkan artis Cinta Laura yang lebih memilih mengadopsi anak, daripada memiliki anak sendiri karena kondisi bumi yang sudah over populasi. Cinta dikenal cukup vokal menyuarakan hak-hak perempuan, bahkan pernah ditunjuk sebagai duta antikekerasan terhadap perempuan. Gita sendiri juga diketahui memiliki kepedulian tinggi terhadap hak perempuan. Tetapi, Gita lebih concern pada hak-hak kaum perempuan dan kelompok marjinal seperti kaum non-binary, disabilitas, dan LGBTQIA (suara.com, 20/8/2021).
Sejarah Singkat Childfree
Dilansir dari Wikipedia, childfree adalah pilihan hidup untuk tidak memiliki anak. Istilah ini muncul di akhir abad 20. Di sebagian besar masyarakat dan sejarah manusia, memilih untuk tidak memiliki anak merupakan hal yang sulit dan tidak diinginkan. Ketersediaan kontrasepsi yang andal serta dukungan yang diberikan di hari tua oleh pemerintah, membuat childfree menjadi pilihan bagi sebagian orang, meskipun mereka mungkin dipandang rendah di komunitas tertentu. Menurut Merriam-Webster Dictionary, istilah childfree pertama kali muncul sebelum tahun 1901. Fenomena ini muncul sebagai tren dan penggambaran orang tua dengan skeptisisme.
Pendukung gaya hidup ini, seperti Corinne Maier, penulis asal Perancis dalam bukunya “No Kids: 40 Reasons For Not Having Children“, mengutip beragam alasan atas pandangan mereka dari berbagai sisi baik secara individu, sosial, psikologi, kesehatan, ekonomi, budaya, filosofi, hingga lingkungan. Beberapa hal yang melatarbelakangi antara lain, sudah banyak tanggung jawab sosial dan keluarga, masalah keuangan, masalah kesehatan atau kelainan genetik, ketakutan akan perubahan fisik akibat kehamilan, kesadaran akan ketidakmampuan untuk menjadi orang tua yang sabar dan bertanggung jawab, adanya pemikiran bahwa tidak bijak memiliki anak sementara di luar sana banyak anak terlantar yang membutuhkan kasih sayang, kepedulian akan dampak negatif lingkungan akibat over populasi, lebih mementingkan karier, dan lain sebagainya.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/31/childfree-perangkap-jahat-penghancur-umat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pejabat Publik Melanggar Aturan, Buah Sistem Kufur yang Diterapkan
Oleh. Atien
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Sebagai anggota dewan yang dipercaya menjadi wakil rakyat, seharusnya memberi contoh dan teladan yang baik kepada rakyat. Salah satunya dengan mematuhi peraturan yang sedang berlaku. Namun, hal itu tidak berlaku bagi 5 anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Labuhanbatu Utara (Labura), Asahan, Sumatera Utara. Bukannya turut mengedukasi dan memberikan sosialisasi terkait aturan PPKM, para pejabat ini justru terjaring razia PPKM di sebuah tempat hiburan malam pada Sabtu, (7/8/2021,CNNIndonesia)
Saat ditangkap oleh tim razia, ternyata juga ditemukan adanya narkoba di tempat tersebut. Kasus ini ditangani oleh Sat Narkoba Polres Asahan. Hal itu disampaikan oleh Kasat Narkoba Polres Asahan, AKP Nasri Ginting, Minggu, (8/8/2021).
Di tempat terpisah, Ketua DPRD Labura, Indra Surya Bakti, membenarkan tentang kasus yang menimpa anggotanya. Pihaknya menghormati aturan hukum yang berlaku dan menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian.
Pelanggaran Pejabat Menambah Kekecewaan Publik
Peristiwa di atas semakin menambah kekecewaan publik kepada para pejabatnya. Bagaimana tidak? Di saat rakyat disuruh untuk patuh pada aturan PPKM, pejabatnya justru melanggar aturan tersebut. Kasusnya juga masih dalam proses. Berbeda kalau rakyat yang melanggar. Pasti langsung diproses, langsung didenda, bahkan langsung masuk bui karena tidak mampu membayar denda yang jumlahnya sampai jutaan rupiah.
Pelanggaran lain juga melanda pejabat penegak hukum.Tentu kita masih ingat pada kasus yang melibatkan seorang jaksa berinisial PSM beberapa waktu lalu. Jaksa ini tersandung kasus pencucian uang. Ada pula pejabat yang terbukti melakukan korupsi di intansi yang dipimpinnya. Serta masih banyak lagi pelanggaran yang dilakukan oleh pejabat – pejabat, namun tidak tersentuh oleh hukum di negeri ini.
Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/08/28/pejabat-publik-melanggar-aturan-buah-sistem-kufur-yang-diterapkan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Perubahan Hakiki Jadi Solusi
Oleh. Reni Adelina
Voice Over Talent : Nay Beiskara
NarasiPost.Com-Pada 10 Agustus 2021 atau 1 Muharam 1443 H menandakan peringatan tahun baru Islam. Tahun baru bagi umat Islam bukanlah sebuah perayaan yang disambut secara euforia dengan letusan kembang api. Namun, makna tahun baru bagi umat Islam adalah aktivitas hijrah yang mengubah diri agar menjadi manusia yang lebih taat kepada Sang Pencipta.
Seperti hijrahnya Rasulullah dari Mekah al-Mukarramah ke Madinah al-Munawarah merupakan momentum penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah. Hijrah Rasulullah bukanlah karena ketakutan menghadapi perlawanan, tapi karena tekad meyakini ketaatan. Bukan sebuah kegagalan dalam dakwah, melainkan untuk memantapkan pemikiran menuju perubahan hakiki. Bukan juga karena pelarian dan ancaman tapi karena meneguhkan iman agar mendapat pertolongan Allah.
Penetapan kalender tahun baru Islam ditetapkan ketika ‘Umar bin al-Khaththab menjadi Khalifah pada 13-23 H/634-644M, dengan melakukan musyawarah bersama para sahabat. Hijrah dijadikan sebagai kalender tahun baru Islam, hal ini atas usulan ‘Ali bin Abi Thalib. Alasan beliau, karena itulah hari dimana Rasulullah meninggalkan wilayah syirik. Khalifah ‘Umar pun menyetujuinya. Bahwa makna hijrah itu memisahkan antara yang haq dengan yang batil. Antara Islam dengan kekufuran (Ibn Hajar, Fath al-Bari, Juz VIII/575).
Para sahabat memahami dan menetapkan 1 Muharam sebagai hari pertama di tahun baru yang merupakan hari kemenangan yang mereka dapatkan pada Bai’at Aqabah II. Bai’at yang menandai penyerahan kekuasaan dari kaum Anshar kepada Rasulullah. Dapat disimpulkan bahwa makna tahun baru pada 1 Muharam sebagai hijrah atau perubahan yang di antaranya memisahkan antara haq dan batil, sebagai tonggak berdirinya Daulah Islamiyah (Negara Islam), dan awal kebangkitan umat Islam untuk pertama kalinya.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/17/perubahan-hakiki-jadi-solusi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Perjuangan dengan Dakwah Islam
Judul Buku: Perjuangan dengan Dakwah Islam
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-“Kalau hidup tidak untuk dakwah, lalu untuk apa? Kalau dakwah bukan untuk tegaknya syariah dan Khilafah lalu mau dakwah untuk apa?”
Kutipan di atas bisa dikatakan salah satu amunisi kata dari Ustaz Ismail Yusanto di dalam bukunya yang berjudul “Perjuangan dengan Dakwah Islam.” Sebuah buku yang isinya merupakan kumpulan wawancara media dengan narasumber Ustaz Ismail Yusanto dalam menyikapi perjalanan jagat perpolitikan Indonesia. Dari mulai isu-isu penting nasional, termasuk di dalamnya isu ekonomi, politik, budaya, hingga isu internasional.
Ustaz Ismail Yusanto (UIY) yang dikenal sebagai sosok cendekiawan muslim, juga memberikan banyak kontribusi dalam sepak terjang perjalanan dakwah Islam khususnya pada penerapan syariah Islam secara kafah yang memberi warna pada khazanah perjuangan Islam di Indonesia. Respon beliau dalam menyikapi berbagai problem yang terjadi di negeri ini dipaparkan dalam sudut pandang politik Islam. Banyak pihak yang menilai negeri ini gagal menjalankan fungsi pokoknya. Sebagai seorang pemikir, Ustaz Ismail Yusanto memberikan pandangannya bahwa dua faktor utama yang menyebabkan negeri ini dinilai gagal menjalankan fungsi pokoknya adalah faktor sistem yang buruk serta faktor rezim yang korup.
Menurut UIY, pangkal dari segala problem yang mengakar di negeri ini adalah diterapkannya sistem yang berasal dari warisan penjajah, yang berdiri di atas asas sekularisme yang nyata memberikan pemahaman yang bermasalah terkait dengan urusan kehidupan berbangsa dan bernegara. Paham ini menegaskan bahwa manusia mampu mengatur dunia ini tanpa campur tangan Tuhan, bahkan dilarang mengatur kehidupan manusia di dunia, kecuali dalam ranah ibadah ritual.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/19/perjuangan-dengan-dakwah-islam/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pengen Nikah (part 1)
Oleh: Rita Handayani
Voice Over Talent : Fani R
NarasiPost.Com-Aduh senangnya pengantin baru
Musik pengiring pernikahan ini membuat hati Joko yang duduk di atas pelaminan, semakin berdebar tak menentu.
Malam kian pekat. Tamu undangan berangsur mulai menghilang. Tinggallah keluarga dan tim panitia.
Tiba-tiba saja Joko sudah berada di kamar. Hatinya berdesir kencang kala melihat sesosok wanita yang masih lengkap dengan gaun nikah dan wajah tertutup cadar. Perlahan Joko mengangkat tangan, menuju ke cadar pengantin wanita di depannya.
Tangan Joko gemetar. Lidahnya kelu, tak mampu bersuara sepatah kata pun. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat, tak mampu dikendalikan. Nafas jua tak mengalir sempurna, membuat sesak tak beraturan.
Jemarinya sudah berada di tepi kanan cadar sang pengantin wanita. Pelan-pelan Joko menurunkan cadar si pengantin wanita. Rasa penasarannya semakin membuncah. Saat cadar itu mulai turun perlahan dari wajah pengantin wanita, Joko memejamkan mata, setelah itu membuka mata perlahan.
“Kau, seperti orang yang kukenal,” bisik Joko dengan lembut.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/21/pengen-nikah-part-1/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Gaul ala Islam, Why Not?
Oleh : Messy Ikhsan
Voice Over Talent : Dewi F
NarasiPost.Com-Hello Guys, suka miris lihat fenomena remaja masa kini, terutama dari segi pakaian yang membuat kepala menjadi pusing tujuh keliling. Bagaimana tidak, anggota tubuh yang seharusnya ditutup rapat dan dipersembahkan untuk suami halal saja, eh … malah seperti paha ayam yang mudah dinikmati oleh publik secara gratis. Bahkan yang membuat miris lagi, mereka sangat bangga menunjukkan auratnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Mereka keluar dari rumah dengan baju yang kekurangan bahan, lalu diposting di media sosial untuk medulang like dan mencari follower. Kaki yang seharusnya ditutup rapat, malah dibiarkan bebas terbuka tanpa mengenakan kaus kaki.
“Tubuhnya putih banget seperti kain kafan, Kak.“
“Hei, manis! Kakinya jenjang banget kayak jenjang seribu di Bukittinggi.“
“Jari kakinya lentik banget seperti bulu mata anti badai milik artis papan atas.“
Semua berharap ada bejibun komen biar bisa jadi viral dan beralih profesi jadi selebgram. Cita-cita ingin jadi terkenal, tetapi secara instan dengan menjual harga diri dan memutus urat malu. Bahkan, kita jadi sulit membedakan mana wanita muslimah dengan wanita agama lain karena sudah sama-sama berpakaian mini. Kalaupun ada wanita muslimah yang menutup aurat, malah ketat, jauh dari tutorial syariat, dan kaki masih telanjang.
Padahal Rasulullah sudah mengingatkan dalam hadis riwayat Muslim yang artinya:
“Dua orang dari penghuni neraka yang belum aku pernah melihatnya, satu, seorang kaum yang memegang cambuk seperti ekor sapi dengannya mereka memukuli manusia dan kedua kaum wanita yang berpakaian tetapi telanjang, berjalan berlenggok-lenggok, kepala mereka laksana punuk onta miring.”
Gaus Bebas Buah Sistem Bablas
Guys, sistem kapitalis yang berasaskan sekularisme membuat hidup kita semakin miris. Manusia mengingat aturan agama hanya mengatur ranah privat, sementara aturan ranah lain dibuat sesuka hati dan sesuai hawa nafsu penguasa. Karena itu, lahirlah gaya hidup bebas dan hedonisme di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Mereka bangga mempertontonkan maksiat di depan umum, malah kita merasa risih dengan sikap tersebut. Aduh, entah di mana diletakkan rasa malunya?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/10/gaul-ala-islam-why-not/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Kemerdekaan Peran Ibu Bukan pada Feminisme(Independence of the Mother’s Role Not on Feminism)
Oleh. Desi Ratna Wulan Sari, M.,Si.
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Isu kemerdekaan tengah hangat di tengah-tengah masyarakat. Berbagai definisi kemerdekaan diartikan dalam versinya masing-masing. Selain sebagai tanda negara merdeka yang bebas dari penjajahan negara asing. Salah satunya, menelisik arti kemerdekaan atas peran ibu juga sangat menarik untuk diangkat.
Peran ibu dalam keluarga sangatlah besar. Tugasnya selain sebagai ibu yang melahirkan juga sebagai pendidik, penganyom, pengajar bagi anak-anaknya. Tentu saja peran ibu juga tidak terlepas dari posisinya sebagai pendamping suami dalam rumah tagganya. Seorang ibu juga memiliki peran sebagai jembatan komunikasi bagi keluarganya, baik dalam internal keluarga inti, maupun eksternal keluarga besar. Sebagai seorang perempuan dengan status “ibu”, satu hal yang umum bahwa mereka memiliki peran domestik dan publik yang semestinya saling berdampingan dan harmonis. Namun, hingga negeri ini merdeka di usia ke- 76 tahun, kemerdekaan peran seorang ibu masih dipertanyakan dan disalahartikan, jika digandengkan dengan pemikiran feminisme yang ada.
“Kemerdekaan” Ibu Masa Kini (feminisme)
Menurut Dr. Gadis Arivia, dalam bukunya “Feminisme sebuah Kata Hati,” dimana beliau adalah seorang feminis, Dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya (FIPB), Filsafat, Universitas Indonesia mengatakan bahwa perempuan berada pada posisi tertindas. Sehingga bagi beliau penindasan yang ditentang dan dipersoalkan oleh seorang feminis mencerahkan dan membebaskan kelompok-kelompok tertindas lainnya. Menurutnya, feminis adalah sebagai jalan solusi bagi pembebasan perempuan, misalnya dengan memiliki sikap hidup dalam memilih menikah atau tidak menikah, memiliki anak atau tidak memiliki anak, dan sebagainya.
Keadaan perempuan yang begitu terpuruk membuat marah kaum feminis, sehingga mereka menuntut kemerdekaan, menuntut keadilan agar memiliki peran yang lebih bebas, termasuk dalam peran seorang ibu dalam posisinya di keluarga.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/27/kemerdekaan-peran-ibu-bukan-pada-feminismeindependence-of-the-mothers-role-not-on-feminism/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Lebah, Binatang Penuh Berkah
Oleh. Dia Dwi Arista
Voice Over Talent : Ummu Fahri
NarasiPost.Com-Siapa yang tak kenal dengan lebah? Binatang berdengung ini terkenal seantero dunia. Bukan karena bentuknya yang besar atau larinya yang kencang. Namun binatang ini terkenal karena mempunyai manfaat yang luar biasa. Bahkan Allah pun mengabadikan lebah menjadi salah satu nama surah dalam Al-Qur’an, yaitu An-Nahl (Lebah).
Allah menciptakan sesuatu pasti dengan potensinya masing-masing, tak akan pernah ada ciptaan Allah yang tak berkontribusi dalam kehidupan. Begitu pula dengan lebah, binatang ini mempunyai keistimewaan yang jarang dimiliki binatang lain, yakni semua bagian dari tubuhnya bisa dimanfaatkan oleh manusia dan makhluk lainnya.
Lebah hanya memakan nektar dan polen yang dihasilkan tanaman. Beragamnya bunga yang diisap oleh lebah, akan memengaruhi produksi madu dari segi rasa, dan warna. Makanan baik yang tak tercampur dengan kotoran inilah yang akan menghasilkan produk baik pula. Berbagai produk lebah, bahkan lebah itu sendiri bisa dikonsumsi oleh manusia. Antara lain sarang lebah (honeycomb), madu, propolis, dan royal jelly.
Selain itu, lebah juga termasuk agen penyerbuk buah dan sayur alami. Ia telah membantu ekosistem berjalan dengan lancar. Menurut Profesor Imam Widhiono, Guru Besar Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, 80% tanaman, penyerbukannya berasal dari serangga seperti lebah. Hal ini mampu meningkatkan produksi buah dan sayuran.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/19/lebah-binatang-penuh-berkah-1/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Bagaimana Cara Melindungi Anak dari Racun Moderasi Beragama?
Oleh: Renita
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Saat ini, banyak pemikiran rusak yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sebagai orang tua, kita tentu khawatir jika pemikiran tersebut akan meracuni anak-anak kita. Salah satunya adalah moderasi beragama atau moderasi Islam. Moderasi Islam adalah pemikiran yang dicetuskan oleh kafir Barat untuk menjauhkan umat Islam dari pemahaman Islam kafah.
Gelombang moderasi yang semakin intens diaruskan membuat sebagian umat Islam mengadopsi pemikiran ini dan menganggapnya sebagai ajaran Islam. Padahal, moderasi Islam ini merupakan ajaran kufur yang mengajak umat Islam untuk bersikap moderat, yakni sikap kompromi atau jalan tengah. Sedangkan Islam bukan hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga memiliki seperangkat aturan hidup yang digunakan untuk memecahkan seluruh problematika kehidupan.
Dengan gagasannya ini, umat Islam diharuskan untuk mengakui kebenaran semua agama (pluralisme), memberikan ucapan hari raya kepada pemeluk agama lain, saling mengunjungi tempat ibadah antarumat beragama serta ikut terlibat dalam acara keagamaan pemeluk agama lain. Bahkan, beberapa waktu lalu, para pemangku jabatan di negeri ini melarang sekolah-sekolah negeri untuk menetapkan seragam muslimah bagi para siswinya. Hal ini bertolak belakang ketika ada orang yang tidak mau bersikap moderat, menjalankan ajaran agama dengan benar, bahkan memperjuangkan Islam kafah, maka ia akan dicap sebagai radikalis/ekstremis.
Demikianlah, atas nama moderasi dan toleransi, umat Islam dipaksa untuk berkompromi dengan ajaran kufur. Padahal, ini saja sama dengan mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan. Perbuatan ini jelas dilarang oleh Allah Swt. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Surah Al-Baqarah ayat 42 yang artinya, “Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.”
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/23/bagaimana-cara-melindungi-anak-dari-racun-moderasi-beragama/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Marak Baliho Politisi, Ironi Kepemimpinan dalam Demokrasi
Oleh. Ismawati
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Pesta demokrasi untuk memilih presiden terhitung masih tiga tahun lagi. Hanya saja, kampanye dengan memasang baliho foto para politisi semakin marak terjadi. Mulai dari Menteri, Pimpinan DPR RI hingga pejabat daerah ramai memasang baliho besar atau billboard di jalanan utama kota. Dilansir dari suarasurakarta.id (9/8), pengamat UNS Agus Riewanto mengatakan jika pemasangan-pemasangan baliho tersebut merupakan salah satu persiapan menuju 2021 dan bagian memperkenalkan diri kepada masyarakat. Selain itu, Agus mengatakan bahwa ini bagian dari curi start untuk penguatan publik supaya ingatan publik panjang terhadap para politisi ini.
Sungguh ironis, di tengah kondisi masyarakat yang dilanda pandemi kini para politisi lebih berpikir bertarung memperebutkan kursi RI satu dibandingkan dengan aksi nyata melawan pandemi. Meskipun tak secara langsung di dalam baliho tersebut para politisi memperkenalkan diri sebagai calon presiden atau wakil presiden 2024. Namun, tandanya cukup jelas karena ada tanda tulisan 2024 yang terpampang di baliho tersebut.
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Airlangga (Unair), Irfan Wahyudi, menilai bertebarannya papan reklame berisikan politikus yang berkampanye, telah mencederai perasaan masyarakat yang sedang berjuang dari pandemi Covid-19. Irfan menyebutkan, ada dua cara penyampaian pesan yang digunakan oleh para politikus dalam pemasangan iklan pada baliho, yaitu dengan promosi secara terang-terangan dan promosi melalui jargon. Dirinya menilai kedua cara itu sama-sama sebagai tindakan yang tidak berempati karena sekarang masih dalam kondisi pandemi. (republika.co.id 15/8/2021)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/24/marak-baliho-politisi-ironi-kepemimpinan-dalam-demokrasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed