Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Islam dalam Eksotisme Liwa

    Islam dalam Eksotisme Liwa

    Oleh: Aya Ummu Najwa

    (Kontributor Tetap NarasiPost.com)

    Voice Over Talent : Dewi N

    NarasiPost.Com-Liwa adalah nama ibu kota Kabupaten Lampung Barat, provinsi Lampung. Kota Liwa berada di pegunungan Bukit Barisan Selatan, meliputi seluruh wilayah Balik Bukit, yang juga dijuluki dengan nama kota hujannya provinsi Lampung. Terletak di pegunungan dengan luas sekitar 3.300 ha, kota ini menyajikan panorama yang indah serta kesejukan udara. Liwa menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta alam.

    Kota Liwa berada tepat di tengah-tengah wilayah Lampung Barat. Posisi ini sangat strategis dalam melakukan pengawasan terhadap seluruh wilayah Lampung Barat. Selain itu, Liwa berada di persimpangan jalur darat dari berbagai arah, yaitu dari arah Sumatera Selatan, Bengkulu, dan dari Lampung sendiri. Liwa dengan bukit-bukitnya nan hijau, meliputi pekon-pekon (sebutan kelurahan dalam bahasa Lampung), serta gunung Pesagi, yaitu gunung tertinggi di Lampung (2.262 m) yang terlihat kebiruan dari kejauhan, menambah eksotisme kota ini.

    Karena keindahan alam serta kesejukan udaranya, sejak dulu Liwa terkenal sebagai pemukiman yang aman dan menyenangkan. Karena alasan inilah, pada masa kolonial Belanda dulu, Liwa dijadikan sebagai tempat beristirahat dan bersantai oleh para menir Belanda.

    Ini dibuktikan dengan adanya beberapa kontruksi bangunan peninggalan Belanda yang masih bisa ditemukan utuh di Liwa sebelum terjadinya gempa tektonik dengan kekuatan 6.5 skala Richter mengguncang wilayah ini pada pertengahan Februari 1994. Kini sisa peninggalan tersebut yang masih bisa kita lihat adalah tangsi ( kini beralih menjadi Kantor Polsek Balik Bukit), dan juga Pesanggrahan ( kini digunakan sebagai Hotel Sindapalai)


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/05/islam-dalam-eksotisme-liwa/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Maraknya Konflik di Tengah Wabah, Siapa Tanggung Jawab?

    Maraknya Konflik di Tengah Wabah, Siapa Tanggung Jawab?

    Oleh. Deny Setyoko Wati, SH

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Pandemi yang tak kunjung mereda, ternyata juga memberi dampak pada psikososial masyarakat. Hal ini tampak pada maraknya kasus kekerasan dan konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kekerasan dan konflik tersebut menimpa antaranggota masyarakat, antara masyarakat dan tenaga kesehatan (nakes) serta petugas pemakaman.

    Sebagaimana yang dilansir oleh kompas.com (24/07/2021) aksi kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sianipar Bulu Silape, Silaen, Sumatera Utara terhadap seorang penderita Covid-19. Warga menganiaya penderita tersebut lantaran tidak berkenan, jika penderita melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Awalnya, warga dan aparat desa meminta kepada penderita tersebut untuk isolasi mandiri di sebuah gubuk di hutan. Penderita pun menuruti keinginan warga dan aparat desa tersebut. Namun, karena merasa tidak betah dan merasa depresi, si penderita akhirnya pulang dan ingin melanjutkan isolasi mandiri di rumah. Warga yang mengetahui hal itu merasa geram kemudian terjadilah aksi penganiayaan tersebut. Aksi serupa juga dilakukan oleh masyarakat dari Desa Jatian, Pakusari, Jember terhadap tim pemakaman jenazah Covid-19. Masyarakat desa tersebut melakukan  penganiayaan, pemukulan, pelemparan batu dan berusaha membanting tim relawan serta ingin merebut peti jenazah Covid-19. (Kompas.com,24/07/2021).

    Demikianlah segelintir peristiwa miris yang terekspos media mewarnai kehidupan di tengah wabah hari ini. Kehidupan di masa pandemi yang semestinya menjadikan antarmasyarakat saling berempati, tolong menolong dan bahu membahu, namun sayangnya belum sepenuhnya tercapai. Hal ini menunjukkan masih minimnya pemahaman masyarakat tentang Covid-19. Ditambah lagi masyarakat mengalami tekanan ekonomi sehingga menyebabkan merebaknya stress, mudah tersulut emosi, sikap egois dan saling curiga muncul di kalangan masyarakat. Alhasil, terjadilah peristiwa-peristiwa naas nan menyesakkan dada sebagaimana yang diberitakan di atas.

    Selain itu, para nakes, pejuang garda terdepan dalam menghadapi pandemi ini pun juga turut menjadi sasaran fitnah dan kekerasan oleh masyarakat. Padahal dari para nakes pun banyak juga yang menjadi korban Covid-19 ini. Mereka bertaruh nyawa menghadapi Covid-19, sementara rakyat yang lain sibuk memfitnah dan tidak menjalankan prokes bahkan masih sibuk berkoar-koar bahwa adanya Covid-19 adalah konspirasi.

    Menyoal kejadian ini memang tak elok juga jika sepenuhnya menyalahkan masyarakat. Sebab sejatinya ada sosok yang lebih bertanggung jawab atas segala hal yang dilakukan dan menimpa masyarakat, yakni penguasa. Dalam hal ini, tampak terdapat kelalaian dari penguasa untuk mengurusi segala hal yang berkaitan dengan rakyat. Terlebih di masa pandemi, sejak awal rakyat membutuhkan peran penguasa untuk menjelaskan dan memahamkan kepada mereka terkait berbagai hal seputar pandemi. Penguasalah yang memiliki perangkat yang efektif dan wewenang untuk mengedukasi masyarakat.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/09/maraknya-konflik-di-tengah-wabah-siapa-tanggung-jawab/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Sedekah Tidak Mengurangi Harta

    Sedekah Tidak Mengurangi Harta

    Oleh: Aya Ummu Najwa

    (Kontributor Tetap NarasiPost.com)

    Voice Over Talent : Dewi F

    NarasiPost.Com-Dalam Islam, menyedekahkan sebagian dari harta yang kita miliki adalah termasuk ibadah yang agung, bahkan dianjurkan dan mempunyai banyak keutamaan. Ibadah tidak hanya dapat dilakukan oleh anggota badan kita saja, namun ibadah juga dapat dilakukan melalui harta. Itulah mengapa zakat ditetapkan sebagai salah satu rukun Islam oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

    Zakat merupakan penyerahan sebagian harta yang kita miliki, untuk dibagikan kepada fakir miskin, baik yang mereka meminta-minta maupun kepada mereka yang menahan diri dari hal itu. Selain sebagai bagian dari rukun Islam zakat pun termasuk ke dalam sedekah. Sedekah pun adalah salah satu kafarat yang Allah wajibkan jika seseorang melanggar larangan yang telah Allah tetapkan sebagai denda. Seperti ketika ada suami istri berjima’ di siang hari di bulan Ramadhan, orang yang melanggar sumpah, orang yang berburu hewan sedang ia dalam keadaan ihram, maupun kepada para suami yang melakukan dzihar, maka untuk beberapa hal tersebut Allah mewajibkan kafarat atau tebusan dengan harta, sedang selainnya merupakan sedekah. Dan sedekah merupakan kesunahan bahkan dikatakan ibadah sunah paling agung.

    Sedekah dengan memberikan sebagian harta kita kepada sesama terutama kepada mereka yang membutuhkan, tak akan mengurangi harta kita. Meskipun secara kasat mata harta kita berkurang, namun sejatinya harta kita tak berkurang sedikit pun karena Allah yang Maha Pemurah akan senantiasa menggantinya baik dengan harta yang lain maupun pahala atau dosa yang diampuni. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda dalam sebuah hadis:

    ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا

    “Tidak akan berkurang harta dengan sedekah. Dan pasti akan Allah tambahkan kewibawaan pada hamba-Nya yang pemaaf.” (HR. Muslim: 2588)

    Imam An Nawawi menjelaskan alam Syarh Shahih Muslim bahwa, harta yang dikeluarkan sedekahnya akan diberkahi dan dihindarkan dari bahaya. Dari sini maka pengurangan harta akan tertutupi oleh berkah yang bisa berbentuk apa saja dan terhitung impas. Dan hal ini hanya bisa dirasakan oleh indera juga kebiasaan. Sedang apabila harta tersebut berkurang secara dzatnya, maka hal tersebut tertutupi pahala dengan yang diperoleh, namun bagaimana dikatakan impas jika pahala ini bahkan dilipatgandakan dengan bilangan yang berlipat-lipat?


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/09/sedekah-tidak-mengurangi-harta/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Ironi 76 Tahun Merdeka, Setengah Juta Lebih Mahasiswa Putus Kuliah

    Ironi 76 Tahun Merdeka, Setengah Juta Lebih Mahasiswa Putus Kuliah

    Oleh. Nina Marlina, A.Md

    (Muslimah Peduli Umat)

    Voice Over Talent : Ummu Fahri

    NarasiPost.Com-Tanggal 17 Agustus 2021 yang lalu, bangsa Indonesia merayakan kembali HUT RI yang ke 76. Meski masih pandemi, tak mengurangi antusias rakyat dalam memperingatinya dengan berbagai kegiatan. Seperti biasa, banyak harapan bangsa Indonesia di tahun ini. Pemerintah pun mengambil tagline atau tema HUT RI tahun ini yaitu “Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh“.

    Di momen ulang tahun kemerdekaan ini, masih banyak pula PR-PR negara yang belum terselesaikan. Salah satunya di sektor pendidikan. Dikutip dari JawaPos.com (16 Agustus 2021) lebih dari setengah juta mahasiswa putus kuliah di masa pandemi Covid-19 ini. Informasi tersebut disampaikan Kepala Lembaga Beasiswa Baznas, Sri Nurhidayah, dalam peluncuran “Zakat untuk Pendidikan” di Jakarta secara virtual Senin (16/8). Mengutip data dari Kemendikbudristek, Sri mengatakan sepanjang tahun lalu angka putus kuliah di Indonesia mencapai 602.208 orang.

    Melihat kondisi demikian, tentu menjadi keprihatinan kita bersama. Maka, ada lembaga yang berupaya membantu para mahasiswa yang kesulitan ekonomi dengan pemberian beasiswa. Selain itu, jurnalis sekaligus presenter sebuah acara televisi Najwa Shihab melakukan kerjasama dalam peluncuran program donasi untuk membantu mahasiswa melanjutkan studi. (Media Jabodetabek.com, 21/08/2021).

    Kondisi ini tentu membuat kita prihatin. Ironi di tengah usia bangsa ke 76 tahun, pendidikan belum dapat diakses dengan mudah. Di antara faktor penyebab putus kuliah setengah juta lebih mahasiswa ini adalah karena kemiskinan, biaya kuliah yang mahal, dan pandemi yang belum kunjung usai. Selain itu, ada pula mahasiswa yang pindah program studi (prodi) di kampus yang berbeda, sehingga kampus asalnya menganggap putus kuliah. Ketiga faktor penyebab di atas memang sangat berkaitan. Pandemi Covid-19 menyebabkan jumlah angka kemiskinan meningkat. Banyak usaha yang gulung tikar, pengangguran, dan pedagang kecil sulit berjualan. Alhasil, rakyat miskin pun tak mampu membayar biaya kuliah yang mahal. Misalnya, biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus dibayar siswa setiap semesternya, baik di Perguruan Tinggi Nasional atau Swasta.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/03/ironi-76-tahun-merdeka-setengah-juta-lebih-mahasiswa-putus-kuliah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Ancaman bagi Para Pencari Ilmu

    Ancaman bagi Para Pencari Ilmu

    Oleh: Nay Beiskara

    ( Tim Redaksi NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Nay Beiskara

    NarasiPost.Com-Rasulullah saw. bersabda, “Siapa saja yang menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari rida Allah, namun ia tidak menuntutnya kecuali untuk mencari dunia, maka pada hari kiamat ia tidak akan mendapatkan bau surga.” (HR. Imam Ibnu Majah, Abu Dawud dan Imam Ahmad)

    Mencari ilmu merupakan aktivitas yang terpuji lagi mulia. Banyak sekali ayat-ayat yang memuji bagi mereka yang melakukan aktivitas ini. Begitu pun dengan hadis-hadis Rasulullah saw. yang menerangkan tentang kewajiban mencarinya, keutamaan para pencarinya, dan ganjaran yang diberikan Allah bagi hamba-Nya yang rela berlelah-lelah menuntut ilmu hanya untuk menggapai rida-Nya.

    Di antara hadis-hadis yang menjelaskan anjuran mencari ilmu diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim (hadis tentang Allah Swt. yang akan memberikan kebaikan pada seseorang dengan pemahaman agama), Imam Ibnu Majah (hadis tentang kewajiban mencari ilmu bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan), Imam Ibnu Asakir (hadis tentang malaikat yang membentangkan sayap-sayapnya untuk para pencari ilmu dalam majelis-majelis ilmu) dan Imam Thabrani (hadis tentang jarak antara para Nabi dan para pencari ilmu melainkan hanya satu derajat kenabian).

    Di dalam Kitab Ta’lim Muta’allim karya Syaikh Az Zarnuji dinyatakan ada ilmu yang disebut dengan “Ilmu Haal”. Ilmu Haal ini merupakan ilmu yang dibutuhkan dan seketika itu diamalkan bagi orang-orang yang telah menjadi mukallaf untuk menjalani kehidupannya. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama. Menuntut ilmu agama menjadi kewajiban yang harus diprioritaskan dari mencari ilmu selainnya. Pasalnya, dengan mencari dan belajar ilmu agama, maka seseorang akan memahami apa yang harus dilakukannya sebagai hamba untuk meraih rida Rabbnya. Dengan ilmu itu, ia akan mampu mencegah dirinya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar ketentuan agama atau bermaksiat pada Allah Swt. Sebaliknya, dengan ilmu yang sama ia akan mampu menjalani segala perintah Allah yang telah diwajibkan baginya dan dicontohkan Rasulullah untuknya.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/06/ancaman-bagi-para-pencari-ilmu/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Agar Air Mata Pernikahan Berbuah Surga

    Agar Air Mata Pernikahan Berbuah Surga

    Oleh: Novida Sari, S.Kom

    (Ketua Majelis Taklim Islam Kaffah Mandailing Natal)

    Voice Over Talent : Arien S

    NarasiPost.Com-Tidak ada pernikahan yang tidak mengalami air mata dan kesedihan, termasuk di kalangan manusia-manusia pilihan. Lihat saja bagaimana Asiyah  Binti Muzahim, istri Fir’aun laknatullah. Demi mempertahankan keimanan kepada Allah Swt., ia rela disiksa sang suami hingga ajal menjemputnya. Memiliki suami sekejam dan sezalim Fir’aun tidak lantas membuatnya gentar dan putus asa, hingga Allah Swt. pun memberikan padanya jaminan surga lengkap dengan rumah yang telah dibangun untuknya.

    Pernikahan mulia Nabi Ibrahim as. dengan Ibunda Hajar juga tak luput dari air mata. Bagaimana tidak, di tengah kebahagiaan tengah memenuhi relung jiwa dengan kehadiran sang buah hati, Allah Swt. memerintahkan agar Ibunda Hajar hijrah ke tempat asing yang tidak ada penduduk di tengah padang pasir yang tandus. Beliau hanya berdua dengan putra tercinta, tanpa didampingi sang suami, hingga perbekalan mereka habis.

    Rasa dahaga datang menghampiri, diiringi tangisan dari mulut mungil Ismail kecil. Dengan penuh pengharapan dan air mata, Ibunda Hajar pun berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah. Karena keteguhan hati, kesabaran, dan kekuatan iman yang tetap tertancap di hatinya, maka Allah Swt. pun mengganti air mata beliau dengan mata air yang kita kenal dengan air Zamzam.

    Begitu juga dengan teladan umat Islam sedunia. Pernikahan Nabi Muhammad saw. dengan Ibunda Khadijah binti Khuwailid, sungguh tidak lepas dari air mata pernikahan. Di dalam pernikahannya, Khadijah sering menahan rasa lapar sambil menyusui anaknya sehingga yang keluar bukan lagi air susu, tetapi darah yang masuk ke mulut Fatimah Azzahra.

    Dikisahkan dalam Sirah Sayyidah Khadijah, di suatu waktu, tatkala Rasulullah saw. pulang dari berdakwah dan tidur di pangkuan Ibunda Khadijah, air mata Ibunda Khadijah menetes ke pipi Rasulullah saw. sehingga Rasulullah saw. pun bertanya,

    “Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku? Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan, tetapi hari ini engkau telah dihina orang, semua orang telah menjauh darimu, seluruh harta bendamu habis. Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad?”

    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/04/agar-air-mata-pernikahan-berbuah-surga//

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Isoman Ideal dalam Support System yang Maksimal

    Isoman Ideal dalam Support System yang Maksimal

    Oleh. Rery Kurniawati Danu Iswanto

    (Praktisi Pendidikan)

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Setelah dua tahun masa pandemi, akhirnya virus Covid menghampiri keluarga kami. Berawal dari si bungsu yang mengeluh demam dan sakit kepala, tidak curiga terpapar Covid tentunya, karena anak kecil demam pada umumnya memang di anggap sakit biasa saja. Hingga beberapa hari setelah si bungsu mulai sembuh, berganti saya sebagai ibunya yang sehari-hari mengurusnya mulai merasakan gejala yang sama. Masih belum curiga juga hingga hari ketiga demam, saya mulai kehilangan penciuman. Astagfirullah. Segera saja terpikir, mungkin kami terpapar virus Covid. Segera saya cek kondisi dua kakak beradik anak kami yang pertama dan kedua. Ternyata mereka pun merasakan keluhan sakit badan dan lemas, hanya saja tidak separah yang saya rasakan.

    Berusaha untuk tidak panik, saya harus segera ambil tindakan. Sudah beberapa hari suami sedang di luar kota, sehingga bagaimanapun sebagai ibu saya harus mampu mengurus sendiri anak-anak. Meski badan sudah tidak karuan rasanya, tapi saya masih cukup tenang, berpikir jernih dan segera menghubungi teman-teman untuk mendapatkan bantuan. Saya menghubungi petugas di puskesmas setempat, teman-teman dakwah, dan dua adik saya yang tinggal kota yang berbeda.

    Beruntung saya mempunyai akses ke petugas kesehatan di puskesmas maupun rumah sakit, sehingga obat-obatan segera saya dapatkan pada hari itu juga. Saya pun menghubungi petugas swab mandiri untuk memastikan diagnosis. Benar saja, kami berempat semuanya positif terpapar virus Covid. Kami sekeluarga akhirnya melakukan isolasi mandiri di rumah. Bersyukur kami tinggal di rumah yang cukup luas. Halaman belakang rumah kami melimpah sinar matahari. Teras terbuka cukup luas untuk kami berjemur menyerap sinar matahari. Di masa sebelum pandemi, teras ini sering menjadi tempat pertemuan atau kajian para pengemban dakwah. Di sekeliling halaman belakang juga tertutup pagar yang cukup tinggi, sehingga kami terlindung dari pandangan orang di luar pagar. Yah, alhamdulillah kami mempunyai tempat tinggal yang ideal untuk isoman.

    Selama 3 hari kami hanya mampu tiduran, sore sampai malam kami tiduran di kamar masing-masing. Sedangkan waktu pagi sampai siang kami bergeletakan di teras belakang membiarkan sinar matahari menerpa tubuh kami.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/04/isoman-ideal-dalam-support-system-yang-maksimal/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Abu Lahab dan Keagungan Kalamullah

    Abu Lahab dan Keagungan Kalamullah

    Oleh : Novida Sari, S.Kom.

    (Majelis Taklim Islam Kaffah Mandailing Natal)

    Voice Over Talent : Yeni M

    Narasipost.com-Sama-sama buah hati Abdul Muthalib, berwajah cerah, bermata juling dan rambut dikepang, paman Rasul Saw. yang di kemudian hari dipanggil Abu Lahab ini memiliki nama Abdul Uzza. Pada awalnya Abdul Uzza sangat menyayangi Muhammad, sang keponakan yang telah menjadi yatim piatu sejak kecil. Bahkan, ia meminta kepada sang ayah agar pengasuhan Muhammad diberikan kepadanya, bukan kepada saudaranya Abu Thalib. Karena ia lebih mampu dari segi finansial. Akan tetapi, Abdul Muthalib memberikan pengasuhan kepada saudara seibu dari ayahnya Muhammad, yakni Abu Thalib.

    Di dalam perjalanan hidupnya, karakter Muhammad Saw. telah tampak kemuliaannya sejak kecil. Terbukti kaumnya memberinya gelar Al-Amin, yang dapat dipercaya. Gelar yang tidak muncul secara instan. Karena di tengah rusaknya peradaban Makkah yang menjadi tempat ibadah haji sejak zaman Nabi Ibrahim alaihi salam, kaumnya justru percaya kepada Muhammad. Mereka melihat kejujurannya tatkala menjadi pedagang, mereka percaya menitipkan barang-barangnya tatkala keluar dari kota dan yang paling penting mereka rida akan keputusan Muhammad Saw. tatkala menyelesaikan pertikaian dalam peristiwa peletakan kembali Hajar Aswad ke tempatnya.

    Hingga di satu waktu, tatkala Muhammad Saw. telah diangkat menjadi nabi dan rasul yang terakhir. Kemudian ia mengumpulkan kaumnya sebagaimana yang telah diceritakan kepada kami. Abu Mu’awiyah telah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy, dari Amr Ibnu Murrah, dari Sa’id Ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Saw. keluar menuju lembah Batha, lalu ia menaiki bukit yang ada padanya dan berseru, “Awas! Ada musuh di pagi hari ini!”

    Maka kaum Quraisy berkumpul kepadanya, kemudian Muhammad Saw. bersabda: “Bagaimanakah pendapat kalian, jika aku menyampaikan berita kepada kalian bahwa ada musuh yang akan datang menyerang kalian pada pagi atau petang hari, apakah kalian akan percaya?”

    Mereka pun menjawab, “Ya, kami percaya.”

    Kemudian Muhammad Saw. bersabda, “Maka sungguh aku memperingatkan kepada kalian akan datangnya azab yang keras.”


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/26/abu-lahab-dan-keagungan-kalamullah/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    12 min
  • Penghapusan Mural, Bentuk Pembungkaman Kritik (?)

    Penghapusan Mural, Bentuk Pembungkaman Kritik (?)

    Oleh. Dianita

    (Mahasiswi di Malang)

    Voice Over Talent : Fani R

    NarasiPost.Com-Sempat viral mural dengan gambar wajah yang diduga mirip Presiden Joko Widodo dengan mata tertutup tanda merah bertulis “404: Not Found”. Konon mural ini berada di dinding terowongan inspeksi Tol Kunciran-Bandara Soekarno Hatta di Batuceper, Kota Tangerang, Banten. Namun, kini gambarnya sudah tidak jelas lagi bentuknya. Adapula mural di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur bergambar dua karakter kartun dengan tulisan “Dipaksa Sehat di Negara yang Sakit” yang kini juga tergantikan dengan tembok polos bercat kuning.

    Penghapusan juga terjadi pada mural yang bertuliskan “Tuhan Aku Lapar!” di Tangerang, Banten. Kini di mural tersebut diblok dengan warna hitam, dan tulisannya menjadi tidak terbaca.

    Karya seni seperti mural ini harusnya bukan sesuatu yang tergolong membahayakan. Ini adalah salah satu bentuk penyaluran aspirasi masyarakat. Dimana mungkin ini juga bentuk penyaluran kebuntuan teriakan masyarakat yang tidak didengar oleh penguasa. Alih-alih mendengarkan, memahami keluh kesah raknyatnya, dan mengoreksi diri, pemerintah malah menghapus mural-mural ini dan mencari si pembuat mural. Hal ini malah mencitrakan pemerintahan yang paranoid terhadap kritik. Pakar sosiologi politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Ubedilah Badrun, menyebut respons pemerintah dan aparat berlebihan. “Aparat berlebihan atau paranoid terhadap kritik. Apalagi kritiknya sekadar lukisan, kata-kata, melalui mural.” (bbc.com, 16/08/2021)

    Respon pemerintah dan aparat yang seperti ini justru memberikan citra akan pemerintahan yang otoriter. Penghapusan mural menunjukan adanya upaya pembungkaman kritik publik terhadap kekuasaan yang sedang berdiri. Selain itu, tindakan ini juga menunjukan ketakutan pemerintah bahwa apa yang disuarakan adalah fakta yang berusaha untuk ditutupi.


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/05/penghapusan-mural-bentuk-pembungkaman-kritik/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Tunjuk Bintang Petunjukmu Dari Bumi

    Tunjuk Bintang Petunjukmu Dari Bumi

    Oleh. Novida Sari, S.Kom

    Voice Over Talent : Maya R

    NarasiPost.Com-Sungguh Rasulullah saw. adalah sebaik-baik figur pencetak generasi terbaik di sepanjang sejarah peradaban manusia. Di tangannya telah tercipta generasi sahabat yang kemilau bintangnya sangat terang, mengalahkan sinar temaram bintang di langit.

    Generasi sahabat ibarat gemintang di langit yang menjadi petunjuk manusia yang melakukan perjalanan di padang pasir. Tidak ada yang dapat dipercaya di bumi karena yang nampak hanya padang pasir yang membentang, sementara gunung yang terlihat pun bisa saja menipu, karena pengaruh dari badai padang pasir.

    Begitu juga hidup di zaman sekarang, zaman penuh fitnah, tipu daya, hingga sulit untuk percaya pada seseorang. Ketika ingin selamat, justru khawatir tidak ada contoh patokan di dunia. Semua orang hampir terkecoh dengan keadaan zaman, yang baik dikira salah, begitu juga yang salah dikira benar. Karena itu, dibutuhkan bintang petunjuk yang sangat terang dari golongan sahabat sebagai generasi terbaik umat.

    Mungkin kita akan menunjuk sahabat Umar bin Al Khattab, yang dengan kecerdasannya, ia dikenal sebagai Al Faruq, pemisah antara yang hak dengan yang batil. Beliau berlemah lembut dengan kaum muslimin, tetapi keras terkait akidah dengan orang kafir. Saking hebatnya, Al Faruq ditakuti oleh golongan setan. Jika setan berpapasan dengan Umar di jalan, maka setan pun akan mengambil jalan lain.

    Atau bisa dengan menunjuk Al Khansa, ibunya para syuhada. Beliau memiliki ruhul dakwah dan jihad yang tinggi. Ia tetap berdiri kokoh dan bangga setelah mengantarkan suami dan anak-anaknya syahid pada perang Al Qadisiyyah, sebuah peperangan antara kaum muslimin dengan bangsa Persia di masa Umar Bin Al Khattab. Ia tidak merasa sedih ditinggal mati anak dan suaminya, malah sebaliknya, Al Khansa mengucapkan syukur di haribaan Allah Swt. atas syahidnya mereka.

    Atau kita bisa menunjuk keteguhan hati sahabat Sumayyah dan Yasir, suaminya. Mereka rela disiksa hingga meregang nyawa demi menjaga akidah yang sudah melekat pada diri mereka. Mereka tetap teguh, meskipun masyarakat pada waktu itu tengah ramai dalam kekufuran.

    Atau dengan menunjuk bersinarnya bintang Bilal Bin Rabah yang memiliki pemikiran merdeka. Tuannya bisa menyiksa fisiknya dengan cara yang sangat kejam, terus-menerus, tanpa ada rasa kasihan, tetapi tidak dengan akalnya yang telah diselimuti oleh kebenaran Islam.

    Atau dengan menunjuk bersinarnya pengusaha sukses Abdurrahman Bin Auf yang mampu meninggalkan semua kekayaan di Mekkah demi hijrah ke Madinah. Tidak ada satu pun harta yang ia bawa, kecuali hanya baju yang melekat pada tubuhnya. Namun, Allah Swt. mengganti hal demikian karena urusan rezeki bukanlah ranah perhitungan manusia yang terbatas.

    Atau dengan menunjuk bersinarnya bintang sahabat Abu Dzar Al Ghifari yang memiliki kezuhudan yang tinggi. Saking tingginya kezuhudan Abu Dzar, ia mampu hidup di pinggiran kota Madinah dan meninggalkan semua yang bersifat dunia karena khawatir terlalaikan karenanya.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/04/tunjuk-bintang-petunjukmu-dari-bumi/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com