
Sign up to save your podcasts
Or


Kehidupan Lain
Oleh: Bedoon Essem
Voice Over Talent : Mels
NarasiPost.Com-Diam dalam keputusasaan
Meronta dalam ketidakberdayaan
Dipaksa menenggak racun yang berbeda
Setiap harapan itu datang
Semakin renta tubuh ini
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/08/kehidupan-lain/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Zimbabwe dan Nikah Dini dalam Islam
Oleh: Miladiah al-Qibthiyah
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Hello Guys. Seharian ini ngapain aja? Rebahan, liburan, drakoran, atau jelajahi dunia maya lewat gadget kamu? Daripada bosan, mending jalan-jalan ke website NarasiPost.Com, yuk! Lalu, buka rubrik teenager dan temukan tulisan ini. Hehehe.
Well … kalian pernah dengar Zimbabwe, tidak? Itu lho, negara yang berbatasan dengan Afrika Selatan, yang sedang hangat diperbincangkan di meja internasional PBB. Jika ada kasus yang membuat PBB turun tangan, berarti ada masalah besar yang sedang menggedor pintu dunia untuk meminta perhatian serius dari negara-negara besar di seluruh penjuru.
Ya, benar. Telah terjadi praktik kejahatan terhadap anak remaja di Zimbabwe. PBB merespons hal itu dengan menyerukan pemerintah Zimbabwe untuk mengakhiri praktiknya.
Sungguh malang nasibnya. Memory Machaya adalah anak remaja yang menjadi korban praktik kejahatan pernikahan anak. Dia dilaporkan meninggal dunia di sebuah gereja di Marange, Zimbabwe bagian timur. Setelah diselidiki, kasus ini dinilai sebagai praktik eksploitasi anak di bawah umur. Mirisnya lagi, Machaya dipaksa untuk keluar dari sekolah dan menikah.
Bisa dibayangkan ya, Guys. Anak remaja 14 tahun yang seharusnya fokus belajar untuk masa depan yang cerah, malah menjadi korban praktik kejahatan pernikahan paksa di Zimbabwe. Para orang tua yang telah mengirim anaknya ke gereja untuk menikah secepatnya, bahkan secara paksa, ternyata diiming-imingi mendapat keuntungan finansial.
Memang benar, pandemi Covid-19 melumpuhkan perekonomian di dunia, hingga banyak orang yang jatuh miskin, bahkan terpapar mati karena kelaparan. Akan tetapi Guys, menjadikan anak sebagai korban eksploitasi demi uang adalah perkara yang sangat fatal. Ini tidak bisa diterima dengan akal sehat. Anak remaja justru harus dilindungi dari berbagai macam tindak kejahatan eksploitasi atau kejahatan zaman yang serba hedonis, permisif, dan sekularis.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/22/zimbabwe-dan-nikah-dini-dalam-islam/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Irasional Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen
Oleh. Adibah NF
Voice Over Talent : Dewi N
NarasiPost.Com-Hampir dua tahun pandemi melanda dunia. Seluruh aspek kehidupan berbagai negara di dunia mengalami goncangan. Yang paling terasa dan tampak nyata adalah aspek ekonomi sebagai pondasi sistem kehidupan dunia pengemban kapitalis sekuler. Tak ketinggalan bangsa ini pun, yang sama-sama menerapkan sistem ekonomi kapitalisme, terdampak dari pandemi ini, bahkan lebih buruk dari negara lain.
Tatkala kelesuan ekonomi dirasakan publik, pemerintah mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia naik pada kuartal II (Q2) 2021 mencapai 7,07% dibanding Q2 2020 yang hanya mencapai 5,3%. Pengumuman ini dikritik oleh anggota DPR RI Fraksi PDIP, Darmadi Durianto, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (6/8/2021).
Pengumuman itu dianggap merupakan klaim sepihak pemerintah, yang sama sekali tidak sejalan dengan kondisi riil di lapangan saat ini. Dan pastinya publik pun akan bertanya-tanya karena kondisi riil jauh dari apa yang diklaim pemerintah, dalam hal ini tim ekonomi Jokowi.
Oleh karena itu, Darmadi mengingatkan agar sektor usaha mampu mencermati di balik klaim pemerintah itu dengan cermat, agar tidak terjebak pada fatamorgana pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2020. Selain itu, perusahaan harus berhati-hati menyusun business plan, jangan membuat para pelaku bisnis membuat asumsi yang ambisius terhadap pertumbuhan 7 persen tersebut. (RMOLNETWORK, Sabtu, 7/8/2021)
Terkait pengumuman ini, direspon pula oleh Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) yang menilai bahwa pertumbuhan ini adalah pertumbuhan ekonomi semu karena menggunakan base rendah di tahun 2020. Seperti diketahui bahwa pemerintah di Q2 2020 melakukan PSBB, sementara di Q2 2021 ada pelonggaran PPKM. Dan dengan tegas mengatakan pertumbuhan ekonomi bangsa ini belum normal.
Adapun tanggapan dari Wakil Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira, mengapresiasi langkah pemerintah yang telah mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi lebih dari 7 persen. Dan berharap pemerintah tidak mengabaikan kestabilan ekonomi yang sangat mengkhawatirkan dengan banyaknya utang pemerintah dan pengangguran. (Bisnis.com, 7/8/2021)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/17/irasional-pertumbuhan-ekonomi-7-persen/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Kaca Mata Covid
Oleh : Abdullah Suko
Voice Over Talent : Mels
NarasiPost.Com-Mataku sudah kabur
Aku mencoba memakai kaca mata hitam
Kini aku sadar, bukan mataku yang rusak
Renungan suci pada Sang Ilahi,
Wahai penduduk negeri
Marilah kita instrospeksi diri
Kekuatan alam adalah jawaban kepastian
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/03/kaca-mata-covid/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pertumbuhan Angka, Sesuaikah dengan Realita?
Oleh. Sherly Agustina, M.Ag
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Sistem ekonomi kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya akan terwujud, jika semua pelaku ekonomi terfokus pada akumulasi kapital (modal). Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga perbankan. Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”. (Dwi Condro Triono, Ph. D, Pengamat Ekonomi)
Klaim pertumbuhan ekonomi di balik angka yang sering digaungkan oleh pengemban ekonomi kapitalisme, sering dikorelasikan dengan kemajuan ekonomi suatu negara. Seperti yang terjadi di Indonesia, dilansir dari CNBC Indonesia (7/8/21), tercatat pertumbuhan ekonomi 7,07 % pada kuartal II (Q2) 2021. Hal ini dinilai memuaskan dibanding kuartal II (Q2) 2022 5,3% di tengah pandemi dan krisis yang belum berakhir.
Namun, menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menilai pertumbuhan ini adalah “pertumbuhan ekonomi semu“. Karena menggunakan base rendah di tahun 2020.
Selain itu, Wakil Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), Anggawira, mengatakan pemerintah diharapkan tetap memperhatikan kestabilan ekonomi yang cukup mengkhawatirkan, yaitu utang pemerintah yang semakin tinggi dan angka pengangguran yang meningkat. (m.bisnis.com, 7/8/21)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/18/pertumbuhan-angka-sesuaikah-dengan-realita/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Ketika Cara Berpakaian Muslimah Sudah Jauh dari Aturan Rabbnya
Oleh: Siti Khadijah Sihombing, S.Pd.
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Hari ini kita melihat tingkah laku kaum muslimah sudah sangat jauh dari Islam. Mereka sudah dirusak pemikirannya oleh kafir penjajah melalui 3F (Food, Fun dan Fashion) sehingga membuat mereka sibuk mengikuti budaya para kafir penjajah. Apalagi dalam hal fashion.
Kita lihat saja cara berpakaian kaum muslimah hari ini, di mana sudah sangat jauh dari perintah Allah. Mereka lebih mendahulukan tren berpakaian daripada mengikuti perintah Allah.
Hari ini kita begitu banyak melihat tren pakaian muslimah yang sangat mengejutkan, di mana modelnya sudah sangat tak lazim sebab memakai seperti tank top di bagian luar pakaian. Sehingga ini membuat lekuk tubuh kaum muslimah menjadi terlihat walaupun di dalamnya memakai gamis.
Tak banyak juga kaum muslimah yang keluar rumah memakai pakaian yang menampakkan lekuk tubuh mereka. Mereka memakai jeans, baju lengan panjang yang ketat atau bahkan memakai celana kulot dan lain sebagainya.
Sehingga jelas sudah, cara berpakaian seperti ini merusak aturan berpakaian kaum muslimah ketika di ranah publik. Allah telah memerintahkan menutup aurat di dalam QS. Al-Ahzab Ayat: 59 yang artinya “Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Berdasarkan tulisan Ustaz Shidiq Al-Jawi dalam laman fissilmi-kaffah.com dalam ayat di atas, kita dapat menemukan kata jalabib yang merupakan bentuk jamak (plural) dari kata jilbab. Para mufassir memang berbeda pendapat mengenai arti jilbab ini. Imam Syaukani dalam Fathul Qadir (6/79), misalnya, menjelaskan beberapa penafsiran tentang jilbab. Imam Syaukani sendiri berpendapat jilbab adalah baju yang lebih besar daripada kerudung, dengan mengutip pendapat Al-Jauhari pengarang kamus Ash-Shihaah, bahwa jilbab adalah baju panjang dan longgar (milhafah). Ada yang berpendapat jilbab adalah semacam cadar (al-qinaa’), atau baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan (ats-tsaub alladzi yasturu jami’a badan al-mar`ah). Menurut Imam Qurthubi dalam Tafsir Al-Qurthubi(14/243), dari berbagai pendapat tersebut, yang sahih adalah pendapat terakhir, yakni jilbab adalah baju yang menutupi seluruh tubuh perempuan.
Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/12/ketika-cara-berpakaian-muslimah-sudah-jauh-dari-aturan-rabbnya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Urgensi Ruhiyah dalam Meredam Konflik
Oleh. Dyah Rini
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Kasus Covid-19 belum menunjukkan penurunan, bahkan cenderung terus bertambah. Program PPKM Darurat terlihat jalan di tempat. Tidak ada kemajuan yang signifikan dalam menyelesaikan permasalahan pandemi. Tidak berbeda dengan program- program sebelumnya. Hanya berganti nama atau istilah saja. Menyedihkan, Indonesia bahkan meraih rekor tertinggi kasus Covid-19. Lebih miris lagi ditambah munculnya konflik horizontal di tengah masyarakat. Kepanikan menyebabkan masyarakat mengambil tindakan tanpa berpikir terlebih dahulu.
Dilansir dari Kompas.com. warga Desa Jati sari Kecamatan Pakusari Kabupaten Jember melakukan penganiayaan terhadap tim pemakaman jenazah pasien Covid-19.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Jember, M. Djamil di tempat terpisah menyayangkan kejadian tersebut. Beliau menegaskan bahwa tim itu tugasnya adalah membantu mencegah penularan Covid-19. “Seharusnya mereka mendapat bantuan, bukan tindakan yang tidak menyenangkan.” ujarnya pada Jum’at(23/7/2021)
Lain lagi dengan kisah Salamat Sianipar ( 45). Sebagaimana dilansir Kompas.com, warga Sianipar Bulu Silape Kecamatan Silaen Kabupaten Toba, Sumatera Utara itu gegara positif Covid-19 dan ingin isolasi mandiri di rumah mendapat amuk massa pada hari Kamis(22/7/2021). Menurut pengakuan keponakan korban, Jhosua, bahwa kejadian berawal saat pamannya dinyatakan positif Covid-19 bersama rekan kerjanya. Karena gejalanya ringan, pihak kesehatan meminta melakukan isoman di rumah. Namun aparat desa dan warga tidak terima. Dan meminta korban melakukan isolasi di gubuk dalam hutan. Semula korban mengiyakan tuntutan warga, tetapi karena kondisi tempat isolasi yang tidak layak membuat ia merasa depresi dan tidak betah. Akhirnya korban memutuskan pulang dan melanjutkan isolasi di rumah. Saat itulah amuk massa terjadi. Ibarat “Sudah jatuh, tertimpa tangga” miris sekali nasib yang dialami Salamat, si korban Covid-19 itu.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/10/urgensi-ruhiyah-dalam-meredam-konflik/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Mensyukuri Nikmat Sehat
Oleh: Mariyah Zawawi
Voice Over Talent : Dewi nasjag
NarasiPost.Com-Salah satu kenikmatan yang tiada tara dari Allah adalah nikmat berupa kesehatan. Betapa tidak, saat tubuh kita sehat, kita dapat melakukan berbagai aktivitas. Kita dapat mengerjakan berbagai tugas dan kewajiban kita baik sebagai seorang istri, ibu, ataupun pengemban dakwah. Kita dapat berkhidmat kepada suami, melayaninya serta menyediakan berbagai keperluannya. Begitu pula kita dapat mengasuh dan mendidik anak-anak kita dengan baik. Di samping itu, kita dapat menyebarkan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita.
Bahkan, kita dapat menikmati lezatnya masakan pun di saat kita sehat. Saat kita sakit, kita akan merasakan ketidaknyamanan pada tubuh kita. Mulai dari pusing kepala, mual, hilangnya fungsi indra penciuman (anosmia), rasa pahit di lidah, dan sebagainya. Hal ini sedikit banyak akan memengaruhi selera makan kita. Kalaupun kita makan, mungkin ada rasa terpaksa. Akibatnya, kita tidak dapat merasakan nikmatnya makan.
Karena itu, kita patut mensyukuri nikmat kesehatan yang diberikan oleh Allah kepada kita. Nikmat mata yang sehat, hidung yang sehat, telinga yang sehat, kaki dan tangan, serta organ-organ lainnya yang sehat. Terlebih jika organ-organ dalam kita yang sehat. Sakit di bagian luar tubuh saja akan menciptakan ketidaknyamanan, apalagi jika yang sakit di bagian dalam.
Rasa sakit di tubuh kita juga akan membuat kita harus mengeluarkan dana untuk pengobatan. Bisa jadi, dana itu tidak sedikit. Apalagi saat kita hidup dalam sistem yang serba kapitalistik saat ini, di mana para kapitalis di bidang kesehatan memanfaatkan orang sakit sebagai alat untuk menambah pundi-pundi mereka. Akibatnya, mereka yang miskin tidak mampu berobat. Hingga muncul adagium, orang miskin dilarang sakit.
Karena itu, jika saat ini kita diberi nikmat berupa kesehatan, tentu harus kita syukuri. Sebab, kita tidak perlu mengeluarkan dana untuk berobat. Di samping itu, kita dapat menikmati hidup dengan nyaman.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/12/mensyukuri-nikmat-sehat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Tidak Perlu Kurikulum Industri
Oleh. Qaulan Karima
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Pada beberapa kesempatan, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa para siswa di perguruan tinggi tidak hanya perlu belajar menggunakan kurikulum dosen tetapi juga perlu untuk belajar kurikulum industri. Penerapan kurikulum industri, berkolaborasi dengan pihak swasta, mendatangkan praktisi industri, akan membuat mahasiswa mengetahui pengalaman praktis di dunia industri.
Presiden juga mengatakan bahwa mahasiswa perlu difasilitasi agar dapat bersaing di pasar kerja dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan.
Kurikulum Industri, Tepatkah?
Istilah kurikulum industri yang diungkapkan presiden menjadi istilah yang rancu dan menunjukkan bahwa ada hal yang tidak sinkron dalam proses pengambilan kebijakan oleh pemerintah. Barangkali sudah sering kita dengar, istilah kampus merdeka yang digaungkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di akhir bulan Januari 2020 lalu.
Dilansir dari laman Kompaspedia, kebijakan kampus merdeka tersebut mendorong pembelajaran di perguruan tinggi yang otonom dan fleksibel dalam mengembangkan inovasi, kreativitas, kapasitas, kepribadian, kemandirian, dan kebutuhan mahasiswa. Hal tersebut diharapkan dapat menjawab tantangan yang dihadapi perguruan tinggi untuk menciptakan lulusan yang berdaya saing, dapat mengikuti perkembangan zaman, IPTEK dan sesuai dengan tututan industri, lapangan kerja, dan dinamika masyarakat.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/09/tidak-perlu-kurikulum-industri/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Neraca Logika, Saat Akal Dijadikan Tuhan
Oleh: Ana Nazahah
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Pernah tidak kamu berhadapan dengan orang, yang setiap mengambil keputusan, selalu menjadikan logika sebagai timbangan? Setiap bertemu masalah, logika berpikir selalu menjadi acuan. Baik dan benar semua ditentukan oleh akal. Misalnya, dalam menentukan baik dan buruk, sering kita mendapati sahabat yang kadang berpikir dengan cara pandang yang keliru. Katanya, “Menurut aku nggak apa-apa menjunjung demokrasi, nggak apa-apa jika belum sempurna beragama. Selama masih salat, masih beriman pada Allah, itu cukup.”
Cukup di sini, maksudnya adalah tidak berlebihan dalam agama. Menurut logika, berlebihan dalam agama justru merusak keseimbangan pemahaman yang biasa dilakoni masyarakat. Karena kita memiliki aturan negara, adat, dan budaya. Jika menambah dengan keterikatan agama, maka harus diselaraskan dengan aturan lainnya agar terjadi keseimbangan dan hidup pun dinamis karenanya. Itu menurut mereka.
Entah dari mana asal argumen ini. Yang jelas, penulis yakin argumen ini adalah sesuatu yang dekat dan sering kita dengar dalam keseharian kita. Bahwa timbangan dalam beragama selalu dikaitkan dengan logika berpikir oleh mayoritas masyarakat kita. Masalahnya, sebagai muslim kita wajib menimbang segala masalah dengan syariat Allah. Selain, fakta bahwa problem kehidupan yang kompleks yang kita hadapi saat ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan logika. Dimana Islam menetapkan timbangan sebuah perbuatan benar dan salah wajib menurut syariat-Nya saja.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/13/neraca-logika-saat-akal-dijadikan-tuhan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed