
Sign up to save your podcasts
Or


Anak Sulungku, Fatihah
Oleh: Teti Rostika
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-“Ibu, kenapa berkurban harus pakai sapi dan domba?”
Aku hanya senyum sambil berfikir cara menjawabnya. Dia bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Spontan ayahnya yang menjawab dengan candaan.
“Karena di Indonesia tidak ada unta.“
Itulah dialog tadi malam selepas salat Magrib. Setiap hari, dari pagi sampai malam pasti ada banyak pertanyaan yang muncul dari anak sulungku itu. Karena itu, ibunya harus pintar agar bisa menjawab dan harus bersabar agar menjawab dengan ikhlas, bukan dengan kesal, apalagi sampai marah.
Memangnya ada, seorang ibu yang rela memarahi anaknya hanya karena anaknya banyak bertanya? Pasti ada. Apalagi jika ibu tersebut sedang sibuk mengerjakan tugas rumah atau sibuk bisnis membuat olahan makanan siap dijual. Karena sang ibu tidak mau diganggu, maka ibu tersebut berani membentak anak agar pekerjaan selesai.
Alhamdulillah … dari kecil, Fatihah selalu ceria, suka bernyanyi, dan anteng walau bermain sendiri. Bahkan, ia suka berimajinasi. Tiap selesai menonton film anak, pasti dialognya ditirukan lengkap. Misalnya, film Nusa Rara dan Omar Hana. Setiap episode, ia hafal dialognya, bahkan mencari peralatan sendiri supaya persis sama seperti di filmnya. Contoh episode Nusa Rara yang naik kendaraan sepeda kemudian terjatuh karena tidak membaca doa dulu. Fatihah pasti sibuk mengambil helm, sepeda, sarung tangan, tas, dan bonekanya.
Kemampuan dalam hal ini saya manfaatkan untuk menghafal Juz 30. Alhamdulillah, ia cepat hafal. Metodenya bebas. Sambil memasak, menyuapi, memakaikan baju, menyeterika, dan lain-lain, saya selalu melafalkan per ayat secara berulang-ulang, padahal Fatihah sedang main sambil berlari-lari. Akan tetapi, daya dengar dan ingatannya kuat.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/19/anak-sulungku-fatihah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Mengapa Harus Belajar Bahasa Arab?
Oleh. Mariyatul Qibtiyah, S.Pd
Voice Over Talent : Dewi N
NarasiPost.Com-Pengamat intelijen, Susaningtyas Nefo Kertopati, membuat statement yang kontoversial. Ia menyatakan bahwa di Indonesia saat ini mulai banyak sekolah yang menjadikan Taliban sebagai kiblatnya. Padahal menurutnya, Taliban adalah organisasi yang radikal.
Setelah masyarakat mengkritisi ucapannya, Susaningtyas pun melakukan klarifikasi. Ia mengatakan bahwa sebagai anak bangsa yang telah memiliki bahasa nasional, semestinya harus memahami perbedaan konteks kedudukan bahasa Arab, antara sebagai bahasa resmi di PBB dan sebagai alat komunikasi sehari-hari. (republika.com, 08/09/2021)
Klarifikasi itu seolah menyiratkan bahwa tidak seharusnya generasi muda di negeri ini menggunakan bahasa Arab untuk berkomunikasi. Padahal, banyak juga anak muda di negeri ini yang menggunakan bahasa asing lain saat berkomunikasi. Misalnya, bahasa Inggris dan Mandarin. Namun, mereka tidak disebut radikal atau berkiblat pada Barat atau Cina. Lantas, mengapa yang menggunakan bahasa Arab untuk berkomunikasi disebut radikal dan berkiblat pada Taliban?
Padahal bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an dan As-Sunah. Keduanya merupakan sumber hukum syara yang harus dijadikan pedoman oleh umat Islam. Pada keduanya terhimpun berbagai kaidah-kaidah hukum. Dari keduanyalah digali berbagai hukum yang menjadi solusi bagi permasalahan kehidupan manusia.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/15/mengapa-harus-belajar-bahasa-arab/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Naik Taksi Laut ke Pulau Oksigen
Oleh: Maya Rohmah, S.K.M.
Voice Over Talent : Dewi F
NarasiPost.Com-Oksigen merupakan unsur yang sangat vital di dalam tubuh. Selain untuk bernapas, oksigen juga sangat diperlukan untuk metabolisme tubuh, mengganti sel-sel yang mati dengan sel yang baru dan mengatasi berbagai jenis penyakit termasuk Covid-19.
Pasien Covid-19 yang saturasi oksigennya menurun, tidak cukup sekadar menghirup oksigen dari udara bebas sebanyak-banyaknya. Karena oksigen di udara hanya berkisar 20 persen, sisanya adalah 78 persen nitrogen, 0,93 persen argon, dan 0,038 persen karbondioksida. Dari kadar 20 persen oksigen yang ada di udara, 15 persennya diembuskan kembali sehingga hanya 5 persennya saja yang diserap tubuh.
Oleh karena itu, pasien Covid-19 membutuhkan oksigen dalam tabung (oksigen medis) yang memiliki kadar oksigen 100 persen.
Wah, ternyata demikian pentingnya oksigen dalam tubuh, ya. Padahal, sebenarnya Allah telah memberi oksigen yang ada di udara ini dengan gratis. Bahkan di Indonesia sendiri, kita mempunyai sebuah tempat yang dijuluki Pulau Oksigen. Nama sebenarnya adalah Gili Iyang. Pulau ini mendapat predikat sebagai pulau dengan kadar oksigen terbaik ke-2 di dunia menurut World Health Organization atau WHO, yaitu 21,5 persen. Sementara itu, predikat pertama disematkan pada Laut Mati, Yordania.
Mengenal Pulau Oksigen
Pulau Madura terletak di Provinsi Jawa Timur. Pulau ini mempunyai empat kabupaten yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Kabupaten Sumenep terdiri atas wilayah daratan dengan pulau yang tersebar berjumlah 126 pulau. Namun, hanya 48 pulau saja yang berpenghuni sedangkan sisanya yaitu 78 pulau tidak berpenghuni. Salah satu pulau berpenghuni itu adalah Gili Iyang. Gili artinya pulau kecil. Ini mengingatkan saya pada Gili Trawangan di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Bagi kamu yang berada di luar Jawa Timur, untuk menuju Gili Iyang, kamu dapat melakukan perjalanan terlebih dulu ke Kota Surabaya. Lalu teruskan perjalanan selama sekitar empat jam melewati jembatan Suramadu untuk tiba di terminal Sumenep, Madura. Dari sini, perjalanan belumlah berakhir. Kamu masih harus melanjutkan perjalanan dengan angkot, sekitar 40 menit menuju Pelabuhan Dungkek, Sumenep.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/05/naik-taksi-laut-ke-pulau-oksigen/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Kemiskinan, Komorbid di Masa Pandemi
Oleh.Hana Annisa Afriliani,S.S
Voice Over Talent : Titis
NarasiPost.Com-Kaya dan miskin merupakan sunnatullah. Karena Allah telah menakar rizki setiap hamba-Nya sesuai kehendak-Nya. Di setiap masa akan selalu ada orang kaya dan akan selalu ada orang miskin. Namun, sewajarnya kemiskinan yang dialami tak sampai membuat seseorang menderita bahkan mati kelaparan. Berbeda halnya dengan kemiskinan yang muncul hari ini. Kemiskinan itu tercipta secara sistemis. Ya, akibat penerapan sistem kapitalisme di negeri ini, rakyat termiskinkan, bahkan hingga berada dalam titik nadir penderitaan.
Lebih-lebih di masa pandemi yang telah berlangsung selama 18 bulan lamanya di negeri ini, angka kemiskinan kian menanjak signifikan. Ya, hadirnya pandemi memang memberikan efek domino yang sangat dahsyat bagi kehidupan masyarakat yang diatur dengan sistem kapitalisme. Betapa tidak, sistem kapitalisme telah mempertontonkan kegagalan dalam mengatasi pandemi. Sejak awal kemunculannya, negara dalam naungan sistem kapitalisme ini tak tegas mengambil kebijakan lockdown, yakni penguncian wilayah agar virus tak menyebar. Sebaliknya, negeri ini begitu longgar terhadap arus keluar masuk manusia, termasuk mengizinkan para Tenaga Kerja Asing (TKA) menginjakkan kaki di bumi pertiwi. Walhasil, virus Covid-19 menyebar tak terkendali hampir ke seluruh wilayah di negeri ini. Hingga kini, Indonesia pun dinobatkan sebagai episentrum penyebaran Covid-19 di seluruh dunia.
Sungguh prestasi yang tak layak dibanggakan.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) dinyatakan bahwa selama berlansungnya pandemi, angka kemiskinan di negeri ini melesat naik mencapai angka 27,55 juta jiwa. Angka tersebut naik sebanyak 1,13 juta jiwa dari Maret 2020. (Bisnis.com/02-03-2021)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/18/kemiskinan-komorbid-di-masa-pandemi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Para Pemenang Challenge ke-4 NarasiPost.Com
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Hello Sahabat NarasiPost.Com.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/17/para-pemenang-challenge-ke-4-narasipost-com/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Mahasiswa Putus Kuliah dan Cermin Pendidikan dalam Islam
Oleh : Ismawati
Voice Over Talent : Titis
NarasiPost.Com-Pandemi Covid-19 kini sudah memasuki hampir tahun kedua. Sejak Maret 2020 sampai hari ini jumlah kasus positif sudah mencapai lebih dari 4 juta jiwa yang terpapar virus. Tidak ada yang tahu kapan wabah ini akan berakhir. Mengingat, setiap hari yang terpapar justru semakin meningkat. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah belum mampu menekan laju virus yang berasal dari Cina ini.
Pandemi saat ini pun telah mengubah tatanan kehidupan manusia. Semua kehidupan serba digital di rumah. Bukan hanya itu, pandemi ini juga telah membawa dampak serius bagi kehidupan. Bukan hanya krisis kesehatan tapi juga perekonomian. Banyak keluarga yang sulit memenuhi kebutuhan hidup karena semakin sempitnya lapangan pekerjaan. Dampak ekonomi lainnya juga sulitnya membayar biaya pendidikan.
Seperti yang diwartakan pikiranrakyat.com (21/8/2021), menurut survei yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia, sebanyak 72% dari 3.321 mahasiswa mengaku kesulitan membayar biaya kuliah. Selain itu, dilansir dari JawaPos.com (15/8/2021) Kepala Lembaga Beasiswa Baznas Sri Nurhidayah dalam peluncuran Zakat untuk Pendidikan di Jakarta secara virtual pada Senin (15/8), bahwa data dari Kemendikbudristek sepanjang tahun lalu angka putus kuliah di Indonesia sebanyak 602.208 orang.
Berdasarkan informasi yang diterima, rata-rata angka putus kuliah paling banyak ada di perguruan tinggi swasta (PTS). Kondisi ini tidak lepas dari bertambahnya penduduk miskin akibat dampak ekonomi, sosial dan kesehatan dalam pandemi Covid-19. Karena pada tahun sebelumnya angka putus kuliah sekitar 18%, sementara di masa pandemi ini naik mencapai 50%.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/09/mahasiswa-putus-kuliah-dan-cermin-pendidikan-dalam-islam/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Goodbye for Maksiat, Welcome to Taat!
Oleh: Messy Ikhsan
Voice Over Talent : Fani R
NarasiPost.Com-Guys, miris sekali saat melihat fenomena remaja zaman now. Semakin hari, ulahnya kian menggila. Para generasi muda tidak lagi malu berbuat maksiat di depan umum. Eh … malah bangga dengan kemaksiatan yang dilakukan tanpa ada rasa berdosa dan bersalah.
Nah, yang makin menorehkan luka lagi, mereka yang terjaring gaul bebas, justru berasal dari dunia artis, loh. Seharusnya publik figur yang punya segudang harta dan segunung follower memanfaatkan potensi itu untuk hal kebaikan. Akan tetapi, malah sebaliknya, mereka melakukan sesuatu yang Allah haramkan?
Padahal, dunia itu fana dan kebahagiaan di dunia pun hanya bersifat sementara. Jangan sampai hal itu melalaikan kita dari kehidupan yang sebenarnya, yaitu kampung akhirat. Jangan sampai bahagia kita di dunia menjadi wasilah sengsara nanti di neraka. Sebab, kita dengan sengaja mengabaikan perintah dan aturan Allah Taala.
Allah berfirman :
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
“Dan bagi siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha: 124)
Rasulullah bersabda dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi.
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
Artinya :
Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/09/goodbye-for-maksiat-welcome-to-taat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Papua Merana dalam Asuhan Kapitalisme
Oleh: Maman El Hakiem
Voice Over Talent : Dewi N
NarasiPost.Com-Kepulauan besar dengan kekayaan alam yang melimpah, itulah Papua. Provinsi paling timur dari bentangan nusantara tercinta ini, laksana ratna mutu manikam. Namun, nasionalisme telah menjadikan garis imajiner manusia membatasi dirinya, sehingga mereka seperti saudara asing. Adanya perbedaan suku, ras dan warna kulit sering menjadi isu disintegrasi. Padahal, sebenarnya manusia memiliki akar yang sama, terlebih Islam telah menjadikan ikatan akidah sebagai pemersatu manusia untuk berkasih sayang. Hanya saja, catatan sejarah Papua selalu dipolitisasi kekuasaan yang membuatnya seolah terpencil dan terkucilkan.
Banyaknya suku bangsa dan ragam budaya menjadikan bumi cenderawasih tersebut memiliki karakter tersendiri. Luas wilayahnya 785,753 km2, secara geografis merupakan daerah pegunungan yang terkenal dengan hutan hujan tropisnya. Hutan yang menjadi rumah bagi puluhan ribu jenis flora dan ribuan tumbuhan endemik. Berbagai hewan eksotis juga bisa ditemui di pulau ini, di antaranya burung cenderawasih, kasuari, kuskus, dan lainnya.
Kontrak PT Freeport selalu diperpanjang tentu dengan alasan politis , bukan hanya karena potensi emas, tembaga dan bahan tambang lainnya. Berdasarkan analisis tim riset CNBC Indonesia, meskipun telah diteken kesepakatan penguasaan saham 51 persen oleh pemerintah, namun di lapangan potensi kekayaan alam yang dikuasainya ditaksir bernilai Rp2.400 triliun. Terdiri dari kekayaan alam 38,6 miliar pound tembaga, 33,8 juta ounce emas, dan 156,2 juta ounce perak. (CNBC Indonesia, 22/12/2018)
Keadaaan tersebut sangat ironis dengan nasib masyarakat Papuanya sendiri yang masih hidup di bawah jurang kemiskinan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kemiskinan di 16 daerah masih tinggi dan menempatkan Papua di tempat teratas, disusul dengan anak provinsinya, yaitu Papua Barat. “Papua masih memiliki persentase kemiskinan yang tertinggi di mana persentase kemiskinannya 26,55 persen. Disusul oleh Papua Barat (21,51 persen),” ujar Kepala BPS, Suhariyanto, dalam konferensi pers, seperti dilansir CNN Indonesia, 15/01/2020.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/12/papua-merana-dalam-asuhan-kapitalisme/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Puber Dakwah
Oleh : Novida Sari, S.Kom.
Voice Over Talent : Maya R
Narasipost.Com-Dakwah adalah kewajiban yang dibebankan oleh Allah Swt. kepada setiap manusia, tanpa pandang bulu dari mana ia berasal. Sebagaimana firman Allah Swt. di dalam Al-Qur’an Surah Ali-Imran Ayat 104:
Artinya : “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada al-khair (kebajikan), menyuruh (berbuat) kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.”
Besarnya pahala jariah dari dakwah merupakan saham yang senantiasa dibangun oleh orang yang sudah merasakan manisnya dakwah. Bagaimana tidak, tatkala seseorang berubah karena dakwahnya, maka sang dai yang mengajak kepada kebaikan tadi juga akan mendapatkan pahala tanpa mengurangi pahala yang melakukannya. Apalagi kalau dakwah yang dilakukannya merupakan dakwah yang akan merubah sistem tatanan kehidupan mulia yang Allah Swt. janjikan, yakni Khilafah.
Khilafah yang dulu diperjuangkan oleh Rasulullah Saw. dengan para sahabat telah menghasilkan peradaban gemilang Islam yang tidak ada tandingannya. Islam telah diterapkan secara total hingga meniscayakan rahmat bagi sekalian alam. Melalui bisyarah Rasulullah Saw. yang menyebutkan akan ada kekhilafahan kedua, maka tak sedikit manusia yang akhirnya mengambil bagian menjadi pejuangnya. Karena besarnya sharing pahala yang mengalir jika menjadi bagiannya.
Layaknya manusia yang sedang mengalami puberitas. Apa pun dilakukan untuk menunjukkan bahwa ia adalah bagian darinya. Menuntut ilmu dan mendakwahkan kepada masyarakat untuk menuntut diterapkannya di tengah masyarakat. Karena tatanan sistem yang sekarang telah terbukti gagal menurut kacamata Sang Pembuat hukum sesungguhnya, Allah Swt. Rabb Sekalian Alam.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/18/puber-dakwah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Dari Sindiran Donald Trump hingga Paniknya Pemimpin Dunia (Barat)
Oleh: Miladiah al-Qibthiyah
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Saat ini dunia Islam tengah tertuju kepada para penguasa negara-negara besar di seluruh penjuru dunia. Perbincanganya mengerucut pada satu hal yakni terkait kisruh yang terjadi di Afghanistan. Sebuah kewajaran jika akhirnya sebagian pemimpin dunia mempertanyakan aksi Presiden Amerika Serikat, Joe Biden yang menarik mundur pasukan AS dari Afghanistan. Tak ketinggalan mantan presiden AS Donald Trump mengkritik penanganan Joe Biden atas Afghanistan.
Menurut Biden, keamanan Afghanistan adalah tanggung jawab pemerintah Afghanistan, bukan tanggung jawab AS. Presiden asal Delaware itu bahkan kembali menyalahkan pihak militer negara Asia Tengah sebab menyerah dan melarikan diri dari negara itu. Menurutnya, militer Afghanistan menyerah, tanpa berusaha untuk melawan. Biden mengkritik militer Afghanistan menolak untuk berperang sebab mewarisi perjanjian penarikan yang buruk dari Trump pada periode sebelumnya (www.dunia.tempo.co, 23/08/2021).
Melihat situasi ini, Donald Trump menilai kebijakan Joe Biden adalah sebuah aib kebijakan luar negeri terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Donald Trump bahkan berkali-kali menyalahkan Biden atas keberhasilan militan Taliban menjatuhkan Afghanistan ke tangannya. Selain itu, Trump menyindir Biden yang telah gagal sebagai seorang pemimpin negara atas ketidakmampuannya menangani Afghanistan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/29/dari-sindiran-donald-trump-hingga-paniknya-pemimpin-dunia-barat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed