
Sign up to save your podcasts
Or


Polemik Mantan Narapidana Pedofilia Disambut Publik
Oleh. Rosmita
Voice Over Talent : Titis
NarasiPost.Com-Sungguh aneh tapi nyata. Di negeri mayoritas muslim, pelaku kejahatan pedofilia yang baru bebas dari penjara mendapat sambutan yang luar biasa layaknya orang yang sudah mengharumkan nama bangsa dengan prestasinya. Padahal dia bukan atlit pemenang olimpiade yang mendapat medali emas. Bukan pula pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Justru dia adalah seorang penjahat yang kejahatannya telah merusak masa depan generasi bangsa ini.
Sebut saja SJ, seorang penyanyi dangdut berusia 41 tahun yang resmi bebas dari Lapas Cipinang pada Kamis (2/9/2021). Adapun kasus yang menyebabkan SJ dipenjara adalah pelecehan seksual terhadap seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun berinisial DS. SJ terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman lima tahun penjara.
Namun, ketika SJ bebas malah disambut bak raja dan mendapat kalungan bunga. Tidak hanya itu, bahkan wajahnya kembali wara-wiri di layar kaca dan channel YouTube. Dengan wajah sumringah dan tanpa rasa bersalah pelaku sudah kembali beraktivitas seperti biasa.
Sementara korban masih berjuang untuk bisa mengatasi traumanya. Butuh waktu lama, bahkan seumur hidup bagi korban untuk menghilangkan rasa traumanya. Bahkan bila tidak mendapatkan terapi yang benar, korban kelak bisa menjadi pelaku kejahatan yang sama.
Hal inilah yang membuat banyak orang geram hingga muncul petisi berisi ajakan untuk memboikot SJ yang ditujukan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Bahkan petisi ini telah ditandatangani oleh 268.204 orang secara online. (Kompas.com, 6/9/2021)
KPI sebagai pihak yang berwenang mengatur penyelenggaraan penyiaran di tanah air, justru seolah membiarkan mantan narapidana kasus kekerasan seksual kembali eksis di televisi. Banyak kalangan mempertanyakan kinerja KPI hingga muncul kritikan pedas. Salah satunya datang dari Ernest Prakasa melalui instagramnya, Minggu (5/9/2021). “Mantan narapidana pelecehan seksual di bawah umur disambut bagai pahlawan di televisi. Ke mana KPI?“
Mengapa KPI begitu lunak terhadap pelaku kekerasan seksual? Bahkan saat seorang pegawai KPI yang menjadi korban pelecehan seksual oleh tujuh orang pegawai lainnya melapor ke kantor KPI, pelaku hanya dipindahkan divisi kerja tanpa mendapat hukuman. Kasus ini baru diproses justru setelah muncul desakan kuat dari publik. (Republika.co.id, 2/9/2021)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/12/polemik-mantan-narapidana-pedofilia-disambut-publik/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Sahabat Berkah
Oleh: Aya Ummu Najwa
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Ali bin Abi Thalib, Khalifah yang begitu luar biasa, sahabat sekaligus menantu Rasulullah, pernah mengatakan, “Janganlah kalian bersahabat dengan orang fajir lagi fasik, yang lisannya buruk, karena ia pasti akan memperindah perbuatan-perbuatannya, yang ingin agar kalian menirunya, mengikutinya meninggalkan ibadah, yang meninggalkan salat, makan uang haram, menggibah, dan lainnya.”
Para ulama ketika ditanya siapa orang yang kau dekati dan kau duduk bersamanya? Mereka menjawab: “Saya akan bersahabat dengan orang yang apabila saya melihatnya, akan mengingatkan saya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan apabila dia berbicara, maka akan menambah amal ibadah saya, ibadah mereka membuat saya semakin mencintai akhirat ”
Begitu pentingnya sahabat dalam kehidupan kita. Mereka dapat memengaruhi karakter dan gaya hidup kita. Meskipun terkadang memang kita akan sulit dan bahkan tidak sadar mengenali siapa orang-orang yang berada di sekeliling kita. Sehingga kita ikut terpengaruh dalam kebiasaan mereka, yang tak jarang adalah perbuatan yang buruk dan keji. Maka ketika kita melakukan kesalahan, coba lihat siapa yang berada di tengah-tengah kita? Siapa teman-teman kita? Orang yang bertakwa ataukah yang bermaksiat kepada Allah? Orang-orang yang berhati bersih dan berilmu ataukah para penggibah? Jika mereka adalah orang-orang yang jauh dari ketaatan, apakah kita bisa tenang dengan mereka? Bukankah itu sudah cukup sebagai indikasi besar? Bahwa kita sedang tidak berada di tempat yang benar?
Maka, ini adalah pelajaran besar bahwa manusia bisa melakukan kesalahan dalam menentukan tempat dan lingkungan. Akan tetapi, kita harus punya kesadaran dan kepekaan untuk memperbaiki kesalahan. Apakah keberadaan kita sudah di tempat yang tepat ataukah belum? Jika ternyata mereka yang kita jadikan sahabat adalah orang-orang yang diam dan tidak mengingatkan kita kepada Allah, yang selalu memprovokasi kita untuk selalu membahas dan mencintai dunia sehingga melupakan akhirat, bagaimana mungkin kita sudah berada di tempat yang tepat?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/09/sahabat-berkah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Kemerdekaan sebagai Wujud Keimanan, Apakah Kita Sudah Sepenuhnya Merdeka?
Oleh: Bayu Muhardianto, S.Sos.
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”
Hegemoni perayaan kemerdekaan Republik Indonesia masih kuat terasa sampai saat ini. Momen di mana perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah selalu menjadi pengingat akan besarnya perjuangan di masa lalu yang diusahakan terus dirawat dan ditumbuhkan pada setiap jiwa masyarakat Indonesia. Sebuah perjuangan yang dalam prosesnya memiliki nilai-nilai penting sehingga kemerdekaan bukan hanya sekadar kata tanpa makna.
Perjuangan panjang pra-kemerdekaan yang penuh dengan kesulitan, bahkan tak jarang darah berjatuhan, memunculkan satu rasa-satu asa agar kesulitan yang dialami dapat berakhir. Pengalaman buruk selama masa penjajahan, dimana pengekangan sangat terasa oleh penguasa inilah yang sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dari kondisi tersebut muncul cita-cita besar agar kemerdekaan bisa diraih agar tidak ada lagi penindasan yang tidak mengindahkan nilai-nilai kemanuasiaan.
Aspek keagamaan yang sangat melekat pada Indonesia khususnya agama Islam juga sangat berkaitan erat dengan pembahasan soal kemerdekaan. Selain peran penting sejumlah tokoh agama Islam dalam usaha mencapai kemerdekaan, aspek pelajaran atau nilai-nilai Islam akan bersinggungan dengan kemerdekaan. Apa saja kaitannya Islam dengan kemerdekaan? Bagaimana hakikat kemerdekaan dalam pandangan Islam?
Kemerdekaan sebagai Sesuatu yang Esensial Bagi Seorang Muslim
Secara pemaknaan dasar, mungkin terdengar aneh rasanya kemerdekaan suatu negara dikaitkan dengan aspek keagamaan. Namun, dalam kenyataannya hal ini sangat penting bagi seorang yang beragama, terlebih beriman pada Allah Swt. Hal ini berkaitan dengan regulasi penguasa, dalam hal ini penjajah yang tentu memiliki banyak kepentingan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/05/kemerdekaan-sebagai-wujud-keimanan-apakah-kita-sudah-sepenuhnya-merdeka/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pertarungan Hak dan Batil
Oleh: Ana Nazahah
Voice Over Talent : Dewi F
NarasiPost.Com-Dewasa ini gesekan antara pemikiran liberal dan Islam semakin terlihat nyata. Aktivitas dakwah muhasabah yang semakin gencar dilakukan pengembangan dakwah Islam, telah menghadirkan secercah harapan bagi umat Islam untuk kembali kepada hukum Tuhan. Semakin gencar aktivitas dakwah ini dilakukan, semakin gencar pula hambatan datang. Gesekan antara kebenaran dan kebatilan pun tak bisa dihindarkan.
Karenanya, setiap Muslim wajib cerdas. Melihat setiap persoalan yang berhubungan dengan keyakinannya dan hal-hal yang bertentangan dengan akalnya dari sudut pandang yang khas. Melihat segala sesuatu dengan pemikiran yang dibarengi keyakinan dan kesadaran akan statusnya sebagai hamba. Tidak ada pilihan lain bagi Muslim selain tunduk pada ketentuan syariat Allah. Kita wajib tampil di depan dalam membela yang hak.
Di tengah kehidupan kita saat ini. Banyak kita jumpai pelecehan terhadap syariat Allah. Tuduhan bahwa orang yang taat sebagai kaum yang jumud dan kaku. Tidak mengikuti kemajuan zaman. Berjilbab adalah lambang kemunduran dan ekspresi dari jiwa kardun alias kadal gurun. Ada yang menyamakan para wanita salehah sebagai hewan melata yang hidup di gurun. Stikma buruk ini, kerap kita temukan di masyarakat.
Sebagai seorang Muslim kita memiliki kewajiban membela syariat Allah saat dihina. Menjelaskan Islam dengan cara makruf, jujur dan tegas. Tanpa harus berpura-pura dan menutupi kebenaran Islam demi mencari muka. Terlebih jika yang menentang Islam itu adalah dari kalangan Muslim sendiri. Maka, sebagai sesama saudara sudah sepantasnya kita hadir terdepan untuk saling menasihati.
الدِّين النَّصيحة، قلنا: لمَن؟ قال: لله، ولكتابه، ولرسوله، ولأئمَّة المسلمين وعامَّتهم
“Agama adalah nasihat. Kami bertanya “Untuk siapa wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan untuk para pemimpin kaum muslimin dan kalangan umum.” (HR. Muslim).
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/24/pertarungan-hak-dan-batil/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Menyoroti Polemik Pembukaan Sekolah Tatap Muka di Tengah Pandemi
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Sejak awal masuknya pandemi Covid-19 ke negeri ini, tatanan kehidupan pun berubah drastis, termasuk dunia pendidikan. Proses pembelajaran tak lagi tatap muka, melainkan via online alias daring. Semua peserta didik, termasuk para orang tua siswa, ‘dipaksa’ berlari menuju digitalisasi. Meski praktiknya tak semudah membalikkan telapak tangan, sebab banyak kendala mengemuka di lapangan, misalnya masih banyaknya siswa bahkan orang tua yang gagap teknologi, ketiadaan peralatan yang menunjang pembelajaran daring seperti smartphone atau laptop, kesulitan sinyal, kesulitan membeli kuota internet, dan lain sebagainya.
Belum lagi kendala dalam teknis pembelajaran, banyak guru yang kesulitan menyampaikan materi pembelajaran via daring, sebab keterbatasan kemampuan dalam membuat bahan ajar. Maka, tak heran jika banyak sekolah yang akhirnya kehilangan ruh pembelajaran karena minim efektivitas dalam proses belajar mengajar. Wajar pula, jika para orang tua mengeluh atas pembelajaran daring ini, sebab anak didik sulit menangkap materi dan orang tua harus dibebani untuk mengajar ulang anak-anak mereka di rumah. Akhirnya beberapa orang tua berharap pembelajaran tatap muka (PTM) kembali dibuka, demi efektifitas pembelajaran serta demi meringankan beban orang tua yang terpaksa menjadi ‘guru’ di rumah.
Polemik di Balik PTM
Demi menjawab kegalauan siswa dan para orang tua terkait ketidakefektifan pembelajaran daring, akhirnya Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemenbud Ristek) mengeluarkan kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di sekolah yang berada pada daerah yang menerapkan PPKM level 1-3. Pembukaan PTM tersebut juga sesuai dengan instruksi Mendagri Nomor 35, 36, dan 37 Tahun 2021 terkait pelaksanaan PPKM.
Sejak tanggal 22 Agustus 2021, PTM mulai diberlakukan di 261.040 sekolah yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Menurut, Wiku Adisasmito selaku Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, pelaksanaan PTM di masa pandemi ini dilakukan secara ketat dengan menerapkan protokol kesehatan serta durasi belajar yang terbatas. (Kompas.com/27-08-2021)
Namun, kebijakan tersebut akhirnya menuai kontroversi. Pasalnya, Nadiem mengizinkan PTM terbatas tetap berlangsung meski peserta didik belum seluruhnya melakukan vaksinasi. Sebagaimana diberitakan oleh Radarbogor.id (26-08-2021) bahwa Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) sangat menyayangkan pernyataan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim tersebut. Sebab memang sejauh ini vaksinasi anak usia 12-17 secara nasional dinilai masih lambat. Berdasarkan data Kementrian Kesehatan tercatat bahwa vaksinasi anak baru mencapai 9,34 persen atau 2.494.621 untuk dosis pertama. Sementara vaksin dosis kedua sudah 1.432.264 atau 5,36 persen. Adapu dari jumlah tersebut, sasaran vaksinasi anak usia 12-17 tahun sebanyak 26.705.490 orang.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/09/menyoroti-polemik-pembukaan-sekolah-tatap-muka-di-tengah-pandemi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Aku Harus Menulis
Oleh: Rintarigan
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Aku mengamati lembar surat kabar di tangan. Tak pernah terpikirkan bahwa kejadian yang sama akan aku alami. Namaku tertulis di sebuah surat kabar sebagai penulis cerita pendek, seperti yang pernah aku lihat sebelumnya. Dulu, namaku tertulis di surat kabar yang sama sebagai penulis artikel, puisi, dan cerita pendek. Sudah lama kegiatan menulis itu terhenti. Namun, hanya dengan satu kejadian menarik, aku kembali melanjutkan kegiatan itu.
Sejak SMA, aku memiliki bakat menulis. Banyak tulisan yang telah kubuat, meski semuanya masih berupa cerita pendek dan puisi. Setiap kali ada kejadian menarik, aku ingin mengembangkannya menjadi sebuah cerita yang lebih menarik.
Sekitar tahun 2005, aku bersama tujuh orang rekan mahasiswa se-jurusan membentuk sebuah komunitas penulis yang tergolong kecil. Kami berkeinginan membentuk komunitas penulis tersebut karena masing-masing memiliki bakat menulis yang sama. Bahakan, tiga orang di antaranya merupakan jurnalis di surat kabar kampus. Karena itulah, kami semakin bersemangat untuk memperkenalkan komunitas tersebut kepada komunitas lain yang telah terbentuk sebelumnya.
Tepat tanggal 14 Mei 2005, komunitas kami terbentuk dengan nama Komunitas Penulis Bawah Pohon (KPBP). Kami mengambil nama Bawah Pohon karena setiap mengadakan rapat, kami duduk di bawah pohon rindang di sekitar kampus. Tujuan utama membentuk komunitas tersebut adalah untuk menciptakan penulis baru yang kreatif dan puitis. Ketentuan dalam komunitas, setiap tulisan yang dipublikasikan di majalah atau surat kabar, harus memperkenalkan nama komunitas.
Aku menjabat sebagai sekretaris saat itu. Sejak KPBP terbentuk, kami memulai karya lewat tulisan. Kami juga membentuk suatu kelompok diskusi sastra mingguan bernama Kemisan karena diadakan setiap hari Kamis. Anggota Kemisan di luar anggota KPBP. Namun, pelaksananya adalah pengurus KPBO. Saat itulah, pertama kali tulisanku yang berupa artikel dimuat dalam salah satu surat kabar.
Barangkali hal ini biasa bagi penulis-penulis lain. Namun, bagiku ini hal yang luar biasa. Keinginan untuk menjadi seorang penulis semakin besar di hatiku, terutama karena artikel tersebut membawaku tidak perlu lagi mengikuti ujian salah satu mata kuliah, sesuai janji dosen mata kuliah tersebut. Berkali-kali aku tertawa dan tersenyum menyadari kejadian tersebut. Para mahasiswa dan dosen yang mengetahui kejadian itu, tersenyum bangga melihatku.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/27/aku-harus-menulis/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
“Badai” Putus Kuliah Porak-Porandakan Impian Mahasiswa, Sistem Pendidikan Islam Solusinya
Oleh: Rindyanti Septiana S.H.I
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Putus kuliah tentu lebih menyakitkan dari pada putus cinta karena manusia. Putuh kuliah dapat membuat masa depan suram. Mampu menghilangkan potensi intelektual anak bangsa. Tak hanya itu, generasi kritis, yang merupakan ‘agent of change’ tak lagi bisa diandalkan untuk berperan memajukan negara.
Survei yang dilakukan oleh BEM Universitas Indonesia, 72% dari 3.321 mahasiswa mengalami kesulitan membayar biaya kuliah. (pikiran-rakyat.com, 21/8/2021). Sementara data dari Kemendikbudristek angka putus kuliah telah mencapai 50 %. Berarti setengah juta mahasiswa tak lagi bisa melanjutkan perkuliahan dan harus mengubur impian masa depan.
Bukan hanya masalah putus kuliah yang dihadapi oleh mahasiswa. Tetapi juga selama pendidikan jarak jauh (PJJ) fasilitas kampus tidak dapat mereka nikmati. Padahal itu merupakan kompensasi yang seharusnya didapatkan mahasiswa dengan membayar uang kuliah.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/04/badai-putus-kuliah-porak-porandakan-impian-mahasiswa-sistem-pendidikan-islam-solusinya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Judul Buku: Risalah Jomblo
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Menikah muda telah menjadi tren masa kini. Menikah muda tidak salah, hanya saja harus mempersiapkan bekal ilmu yang mencukupi ketika memutuskan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Sebagai seorang muslim, harus memahami bahwa menikah bukan hanya lahir atas dorongan seksual semata, akan tetapi salah satu jalan untuk menyempurnakan ibadah serta menghindarkan diri dari fitnah.
Ketika seseorang menikah tidak menjadikan akidah Islam sebagai pondasi pernikahan, yang terjadi bukan lagi pernikahan yang sakinah mawaddah warahmah, melainkan pernikahan yang membawa pada keresahan dan kegelisahan. Kaum muslim harus memahami betul tujuan pernikahan sebagai wasilah ketaatan pada Allah Swt. agar visi dan misi pernikahan tercapai di dalam rumah tangga. Di sinilah pentingnya memperbanyak bekal ilmu pernikahan sebelum para jomlo memutuskan untuk menikah.
Buku Risalah Jomlo adalah salah satu bekal ilmu bagi mereka yang ingin memantapkan diri untuk menikah. Di dalamnya memuat pesan dan nasihat agar tidak serta merta menikah tanpa tujuan yang jelas dan bekal ilmu yang cukup. Selain itu, buku ini mengajak para pembaca memahami lika-liku jomlo dengan membagi dua section, yakni Ikhwan’s Section dan Akhwat’s Section.
Di dalam buku ini terdapat nasihat Rasulullah saw. terhadap para jomlo yang dimuat dalam hadis riwayat Abu Dawud, “Karena sesungguhnya serigala hanya akan menerkam domba yang sendirian.” Hadis ini mengandung pesan penting bagi para jomlo agar mulai mencari teman hidup dalam kebaikan. Sebab, ancaman dan godaan setan lebih manjur bekerja terhadap orang-orang yang sendiri, tidak punya teman taat, apalagi tidak aktif dalam komunitas jemaah dakwah.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/21/risalah-jomlo/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pemuda Menyongsong Visi Mulia
Oleh: Weni Anggraeni
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Negeri ini masih diwarnai dengan serba-serbi pandemi. Dari awal kemunculannya, pandemi telah menjamah semua lini. Tak ketinggalan para pemuda-pemudi juga terdampak, baik fisik maupun emosi.
Emosi pemuda hari ini begitu mudah tersulut. Hanya karena adu mulut bisa berakhir dengan baku hantam dengan sesama pemuda lainnya.
Selama pandemi, kita tentu mendengar berita tentang ulah para pemuda. Saat pandemi pun dijumpai terjadinya tawuran, dan diklaim bahwa pandemi membuka peluang meningkatnya kenakalan atau ulah kawula muda. Jika kita telisik lebih dalam, kenakalan yang dilakukan oleh kawula muda adalah akibat dari kekosongan dan kekeliruan visi dan misi hidup para pemuda.
Kekosongan dan kekeliruan visi dan misi hidup mengakibatkan seseorang mudah rapuh, mengalami kebingungan, galau dan sering kehilangan semangat karena tidak memahami untuk apa hidupnya. Kondisi seperti ini harus segera diatasi. Jika dibiarkan, maka segenap potensi yang ada pada pemuda hanya digunakan dalam aktivitas-aktivitas yang nirmanfaat bahkan bisa terjerumus pada hal-hal kerusakan. Bukankah kita melihat, banyaknya pemuda hari ini lebih tertarik dengan joget tiktok, ngeprank, nonton film hingga belasan episode, daripada menambah literasi atau diskusi? Sungguh ironis.
Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/12/pemuda-menyongsong-visi-mulia/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Menyulam Bahagia
Oleh: Afiyah Rasyad
Voice Over Talent : Mels
NarasiPost.Com-Lembut dalam sapa
Sunyi menemani
Seberkas cahaya
Gerbang kebenaran terus dititi
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/21/menyulam-bahagia/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed