Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Menjaga Kesehatan Mental Keluarga Muslim

    Menjaga Kesehatan Mental Keluarga Muslim

    Oleh. Novida Sari, S.Kom

    Voice Over Talent : Titis 

    NarasiPost.Com-Sehat merupakan nikmat besar yang harus disyukuri oleh setiap manusia, khususnya bagi orang yang beriman. Terkadang nikmat sehat ini luput dari pandangan, kecuali jika sakit sudah menyapa. Oleh karenanya, tidak heran mengapa Rasulullah saw. mengatakan bahwa ada dua nikmat manusia yang sering dilupakan, bahkan sering membuat manusia tertipu. Kedua nikmat itu adalah waktu luang dan sehat. Bahkan, Imam Asy Syafi’i menyebutkan bahwa sehat itu bagaikan mahkota di atas kepala manusia yang hanya dapat dilihat oleh orang sakit.

    Rasa syukur tidak sekadar mengucapkan kalimat tahmid, lebih dari itu, keyakinan bahwa segala nikmat berasal dari Allah Swt. Dengan begitu, manusia tidak menyia-nyiakan atas nikmat yang dilimpahkan kepadanya, apalagi jika sampai menyimpang dan melakukan perkara yang Allah Swt. murkai.

    Nikmat sehat tidak selalu bersifat fisik. Sehat mental seharusnya menjadi perhatian. Seseorang yang sakit secara mental, berarti ada gangguan mental pada dirinya. Akan tetapi, gangguan mental tidak sama dengan gangguan jiwa.

    Seseorang yang terkena gangguan mental dapat dikenali dengan gejala: tidak  mampu mengembangkan potensi senang, senantiasa mengalami kesempitan, padahal orang melihat secara zahir (fisiknya) ia seharusnya dalam kondisi lapang, tidak merasa senang sehingga mengakibatkan pada hati dan geliatnya kecemasan, stres, depresi, tekanan sehingga sulit untuk merasa tenang, padahal fisiknya sehat.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/20/menjaga-kesehatan-mental-keluarga-muslim/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Taliban Berkuasa, Islamofobia Menggejala

    Taliban Berkuasa, Islamofobia Menggejala

    Oleh. Dia Dwi Arista

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Yeni M

    NarasiPost.Com-Islam adalah agama rahmatan lil’alamin, namun narasi sesat dan menyudutkan terus diarahkan kepada agama damai ini. Taliban yang berhasil meraih kekuasaan pun dijadikan senjata untuk melakukan framing jahat terhadap penerapan syariat. Kondisi Afghanistan pasca pengambilalihan kekuasaan, masih dalam keadaan kacau. Banyak warga melakukan eksodus, pun Amerika masih mencari celah untuk kembali, meski kekuasaan Taliban telah banyak yang mengakui. Bahkan Amerika dengan ‘rendah hati’ mengamini pemerintahan Taliban di Afghanistan.

    Indonesia, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, tak ketinggalan menyoroti isu yang terjadi di Afghanistan. Kemenangan Taliban, yang selama ini dianggap sebagai teroris dan pelanggar HAM, menjadi momok tersendiri bagi beberapa kalangan di Indonesia. Syariat Islam yang diusung Taliban, membuat ‘gerah’ orang yang punya penyakit Islamofobia.

    Aswin Siregar, Kabag Ban Ops, Densus 88 Mabes Polri mengatakan terdapat dampak dari kemenangan Taliban bagi Indonesia. Kemenangan mereka bisa memicu kelompok radikal untuk menuntut tegaknya Daulah Islam di Indonesia. Sebagaimana banyak diketahui, jika beberapa kejadian bom di Indonesia, pelakunya pernah singgah di Afghanistan. Aswin memaparkan bahwa jihadis dari luar, termasuk Indonesia, menjadi target brainwash atau pencucian otak, membangun strategi, dan pembelokan tujuan yang awalnya untuk berjuang bersama saudara seiman, menjadi pembangunan Daulah Islamiyah. (news.detik.com, 24/8/2021)

    Hal senada juga dikemukakan oleh putri mendiang Gus Dur, Alissa Wahid, yang menjabat sebagai Sekjen Gerakan Suluh Kebangsaan. Ia ingin memastikan bahwa simpatisan Taliban tak berkembang jumlah dan pergerakannya, sekadar simpati dibolehkan, namun jika para simpatisan tersebut ingin membawa ideologi transnasional (Islam) ke Indonesia, jelas tidak diperbolehkan. (story.merdeka.com, 24/8/2021)

    Ketakutan kepada syariat Islam telah menggejala, merebak hingga pada penganutnya. Padahal yang mereka maksud dengan ideologi transnasional adalah ideologi agamanya. Sedangkan ideologi transnasional yang diambil dari penjajah malah dihargai dengan nyawa. Miris!


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/08/taliban-berkuasa-islamofobia-menggejala/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Duhai, Saudariku

    Duhai, Saudariku

    Oleh. Deena Noor

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Mels

    NarasiPost.Com-Duhai, saudariku

    Engkau begitu cantik
    Walau tak bermata lentik
    Bersandangkan akhlak baik

    Duhai, saudariku

    Santunmu berjilbab
    Berkemas rapi dalam hijab
    Menata diri dengan sebaik adab

    Duhai, saudariku

    Engkau sungguh anggun
    Meniti istikamah dengan tekun
    Dan sabar yang tertenun

    Duhai, saudariku

    Engkaulah mulia
    Berbusana sahaja
    Membalut diri dengan takwa

    Duhai, saudariku

    Engkau luar biasa
    Mampu sekokoh baja
    Meski badai tak henti menerpa

    Duhai, saudariku

    Engkau tiada duanya
    Dalam derai air mata
    Melukis senyum bahagia


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/25/duhai-saudariku/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Resolusi Muharram : Memajukan Indonesia dengan Penerapan Syariah Kafah

    Resolusi Muharram : Memajukan Indonesia dengan Penerapan Syariah Kafah

    Oleh. Qisti Pristiwani

    Mahasiswi UMN Al Washliyah Medan

    Voice Over Talent : Arien S

    NarasiPost.Com-Tahun baru Hijriah, 1 Muharram 1443 H sangat tepat dijadikan sebagai momentum muhasabah dan berbenah bagi Indonesia raya. Indonesia hijrah menjadi negara yang lebih baik lagi adalah impian seluruh warga negaranya. Terlebih lagi, adanya prediksi Indonesia akan menjadi negara maju di tahun 2045 mendatang, tepat di usia 100 tahun kemerdekaan.

    Hal ini akan terwujud bila terjadi adanya transformasi ekonomi sebagaimana yang dituturkan oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam webinar CSIS dan Transformasi Ekonomi Menuju Indonesia 2045, ia mengatakan untuk bisa lepas dari jebakan negara pendapatan kelas menengah (middle income trap), pertumbuhan ekonomi Indonesia harus bisa mencapai 6 persen pada 2022 mendatang. Bila itu bisa dicapai, ia yakin Indonesia bisa naik kelas menjadi negara maju pada 2045 (CNN Indonesia, 4/8/2021)

    Rasanya, terlalu lama menunggu untuk melihat Indonesia menjadi negara maju tahun 2045. Pasalnya, untuk menjadi negara maju tidaklah cukup hanya berpatokan pada angka-angka pertumbuhan ekonomi yang dirumuskan negara adikuasa saja. Tapi, harusnya diiringi dengan realita meningkatnya kesejahteraan dan kemakmuran masyarakatnya.

    Namun, hal ini tampaknya hanya akan menjadi ilusi tanpa realisasi yang nyata. Sebab, sudah memasuki usia kemerdekaan 76 tahun, Indonesia belumlah dapat dikatakan baik-baik saja. Malah problematika yang terjadi di negeri ini semakin karut-marut. Dapat kita saksikan bagaimana merebaknya praktik ekonomi ribawi yang menciptakan ketimpangan ekonomi. Yang kaya semakin kaya raya, yang miskin semakin melarat.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/17/resolusi-muharram-memajukan-indonesia-dengan-penerapan-syariah-kafah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Sekolah Perempuan Solusi Absurd ala Feminisme

    Sekolah Perempuan Solusi Absurd ala Feminisme

    Oleh. Sulistiani, S.Pd

    Voice Over Talent : Fani R

    NarasiPost.Com-Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provsu mengadakan kegiatan virtual meeting tentang Tindak Lanjut Pembentukan Sekolah Perempuan Sumatera Utara, Rabu (18/8/21), yang menghadirkan narasumber Leli Zailani dari HAPSARI (Himpunan Serikat Perempuan Indonesia) dan peserta dari Dinas PPPA serta LSM terkait perempuan di Sumatera Utara. Sekolah Perempuan merupakan strategi dan model pembangunan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak yang sistematis dan jangka panjang dan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Salah satu contoh sekolah perempuan adalah sekolah perempuan yang telah dilaksanakan oleh HAPSARI, juga sebagai model pendekatan dan advokasi. Model pendekatan tersebut  berisi program-program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, sedangkan model advokasi berisi advokasi-advokasi penurunan kekerasan terhadap perempuan dan anak, pencegahan pernikahan anak, dan penurunan pekerja anak.

    Melihat tujuan diadakannya sekolah perempuan ini adalah sebagai strategi dan model pembangunan perempuan dan perlindungan anak, apakah program ini solutif untuk mengatasi problematika perempuan atau sekadar program teknis yang sejatinya tidak mampu menyelesaikan hingga akar masalah? Sebab para pegiat gender beranggapan bahwa penyebab berbagai problematika perempuan saat ini seperti kasus kejahatan, kekerasan, dan pelecehan adalah akibat dari lemahnya pendidikan perempuan. Padahal akar masalahnya bukan hanya sebatas itu, melainkan karena sistem kehidupan sekuler-liberal akut yang kini menjadi life style di masyarakat.

    Karena pemahaman yang belum tepat ini hingga akhirnya solusi yang ditawarkan pun menjadi absurd. Maka, hal inilah yang seharusnya butuh pelurusan pemahaman dan penyelesaian agar terwujud perubahan hakiki di tengah-tengah kehidupan perempuan hingga dapat menjadi perempuan yang berkualitas. Inilah kesalahan fatal para pegiat gender dalam mengatasi problematika perempuan. Sebab faktanya hingga hari ini banyak perempuan yang berpendidikan tinggi yang hadir di parlemen, namun belum juga mampu mengubah kehidupan perempuan jadi lebih baik. Itu artinya, jelas bukan pendidikan yang menjadi akar masalahnya. Itulah mengapa masalah perempuan ini tidak dapat diselesaikan jika hanya dengan solusi parsial, melainkan harus dari sistemnya.

    Namun, dalam sistem demokrasi kapitalis, ide-ide feminisme seperti ini mendapatkan dukungan yang besar. Walau sebenarnya jika diamati lebih dalam, ide-ide tersebut juga tak mampu memberikan penyelesaian melainkan hanya kedok semata. Seperti halnya isu kesetaraan gender yang sebenarnya hanyalah kedok kapitalisme global dalam menyerap sebanyak mungkin tenaga kerja perempuan. Inilah bukti busuk dan gagalnya sistem demokrasi kapitalisme dalam mengurusi problematika umat, termasuk masalah perempuan.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/08/sekolah-perempuan-solusi-absurd-ala-feminisme/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Tutupi Keburukan dengan Kebaikan

    Tutupi Keburukan dengan Kebaikan

    Oleh: Armina Ahza

    Voice Over Talent : Dewi N

    NarasiPost.Com-“Bertakwalah kepada Allah di mana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik.”

    Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam yang diriwayatkan oleh Imam Trimidzi.

    Sebagai manusia biasa, tentu kita pernah melakukan kesalahan ataupun berbuat keburukan. Karena seusungguhnya itu tabiat manusia yang tidak sempurna dan mudah melakukan kelalaian. Tersebab sifat manusia yang tidak sempurna itu, Allah memberikan kabar gembira melalui lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam. Bahwa kesalahan-kesalahan, keburukan-keburukan, kelalaian-kelalaian, kemaksiatan-kemaksiatan yang pernah dilakukan akan dapat tertututpi oleh amalan kebaikan.

    Dari sini menunjukkan adanya kemurahan Allah Subhanallahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Bahwa perbuatan buruk tidak lantas menjadikan diri terus terkungkung pada keburukan, karena merasa diri sudah menjadi pendosa seolah tiada ampunan. Namun, dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi di atas memotivasi kita untuk bersegera menutupi kesalahan-kesalahan, keburukan-keburukan, kelalaian-kelalaian, kemaksiatan-kemaksiatan dengan kebaikan. Agar keburukan bisa tertutupi. Insyaallah.

    Hal ini menunjukkan betapa baiknya Allah. Sebab Allah memberikan kabar gembira untuk kita bahwa jika kita melakukan kesalahan maka bergegaslah untuk melakukan kebaikan. Agar diri bersegera mengganti kesibukan dengan mengisinya beramal saleh.

    Ada seseorang yang terlepas berkata kasar, maka iringi dengan tobat dan amalan saleh seperti salat sunnah. Ada orang yang tidak menepati janji, maka meminta maaf dan kemudian tetap beramal saleh dengan berzikir. Mungkin di antara kita ada yang pernah berbohong atau melakukan kemaksiatan-kemaksiatan. Namun, meski begitu bersegeralah menggantinya dengan amalan kebaikan. Karena setiap amal akan dipertanggungjawabkan, setiap perbuatan akan ada nilainya. Bergegas pada amal kebaikan selanjutnya lebih baik daripada terfokus pada kesalahan yang membuat kita tidak bersegera melakukan perbuatan baik. Jika mengingat kesalahan untuk muhasabah dan untuk bertobat kemudian menyesalinya, maka itu tidak mengapa.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/20/tutupi-keburukan-dengan-kebaikan/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Tiada Kata Gratis dalam Sistem Kapitalis

    Tiada Kata Gratis dalam Sistem Kapitalis

    Oleh: Atik Hermawati

    Voice Over Talent : Giriyani 

    NarasiPost.Com-Beli 100 ikat bayam lebih murah daripada 10 ikat saja. Itulah kiasan yang disampaikan dalam cuitan netizen dr.Tompi dalam akun Twitter-nya. “Harga PCR atau swab harus semurah-murahnya!!! Negara harus hadir memastikan ini. Kenapa negara lain bisa lebih murah dari kita saat ini? Bukankah beli bayam 100 selalu lebih murah dari beli bayam 10. Ayolah Bisa! Mohon kendalinya Pak @Jokowi”, tulisnya (11/08/2021).

    Cuitan di atas merupakan salah satu dari banyaknya kritikan masyarakat terhadap mahalnya harga PCR selama ini, meski pada akhirnya pemerintah memutuskan untuk menurunkan harga tes polymerase chain reaction tersebut. Melalui kanal YouTube Setpres, Minggu (15/08/2021), Presiden Joko Widodo memerintahkan agar biaya tes PCR di kisaran Rp450 ribu hingga Rp 550 ribu. Putusan itu disampaikan pada Kementerian Kesehatan, dengan harga awalnya ialah Rp900 ribu.

    Namun di satu sisi, negara juga mengevaluasi atau mengaudit lembaga-lembaga penyelenggara tes agar tetap memberi pemasukan bagi negara. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengeluarkan beleid anyar yang berbentuk Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 104/PMK.02/2021 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Layanan Uji Validitas Rapid Diagnostic Test Antigen yang Berlaku pada Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Tarif yang ditetapkan pada uji validitas rapid diagnostic test antigen ialah sebesar Rp694.000. Selanjutnya tarif atas jenis penerimaan PNPB ditetapkan nol persen atau nol rupiah. Namun, besaran, tata cara, dan persyaratan pengenaan tarif sampai nol rupiah atau nol persen tersebut harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Menteri Keuangan. PMK itu sendiri mulai diterapkan pada 18 Agustus. (Merdeka.com, 13/08/2021)


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/08/tiada-kata-gratis-dalam-sistem-kapitalis/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Jejak Kebaikan Digital

    Jejak Kebaikan Digital

    Oleh: Afiyah Rasyad

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Mels

    NarasiPost.Com-Setiap kebaikan akan mendapat balasan meski sebesar biji zarrah. Tiap keburukan juga akan mendapat balasan meski sebesar biji zarrah. Begitulah makna dari dua ayat terakhir surat Az-Zalzalah. Apa pun aktivitas seorang muslim di muka bumi akan menemui balasannya. Aktivitas di dunia nyata dan dunia maya sama-sama akan mendapat balasan. Balasan di keabadian ini merupakan sesuatu yang pasti (qoth’i).

    Sudah banyak dijumpai, bagaimana status terdahulu mencuat ke permukaan saat ada peristiwa penting. Rekam jejak digital tokoh biasanya akan bermunculan tatkala isu pada sosok tersebut sedang viral dan bertentangan dengan apa yang diuploadnya di masa lalu. Altar jejak kebaikan atau keburukan akan menghiasi akun siapa pun yang aktif dalam sosial media. Bahkan, ketika si pemilik akun wafat, maka jejak tulisan dan statusnyalah yang tertinggal.

    Jika berselancar di media sosial Facebook, tentu setiap akun akan disuguhkan kenangan tahunan ataupun kaleidoskop yang terekam dari status tiap pemilik akun. Itu sebagai salah satu jejak digital pemilik akun. Tak dimungkiri, kenangan itu sesuai atau sama persis dengan apa yang diupload di waktu yang lampau atau tahun-tahun sebelumnya. Jika kenangan itu berisi muatan dakwah, motivasi, nafsiyah, dan hikmah, ya itu yang akan muncul. Begitupun status nyinyir, keluhan, alay, ejekan, hinaan, bahkan hujatan akan muncul juga tanpa diedit.

    Tak ada kamuflase dalam rekam jejak digital. Apalagi, rekam jejak Sang Penggenggam kehidupan tak akan pernah menyalahi proses kehidupan itu sendiri. Seberapa pandai kaum muslim menutupi kelemahan dan keburukannya dengan manipulasi di dunia maya, tak akan memengaruhi catatan amal di hari pembalasan. Ukiran jejak keburukan tetaplah buruk di hadapan Allah meski ditutup-tutupi.

    Sejatinya status yang mengundang ribuan like dan komentar mengandung konsekuensi besar, yakni kebenaran berita atau tulisan. Meski hanya gambar yang dibagikan, hal itu juga memiliki konsekuensi untuk dipertanggungjawabkan kebenarannya kelak. Benar, di sini ialah dilihat dari sisi isi dan kesesuaian dengan syariat Islam. Namun, tak jarang kaum muslim terjerumus dalam kubangan status-status penuh kemaksiatan.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/20/jejak-kebaikan-digital/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Dunia Terbukti Gagal Tangani Covid-19

    Dunia Terbukti Gagal Tangani Covid-19

    Oleh. Riannisa Riu

    Voice  Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Kegagalan menangani pandemi Covid-19 rupanya tidak hanya dialami Indonesia. Sang negara adidaya, Amerika Serikat, disinyalir telah mendistribusikan sekitar 360 juta vaksin kepada warganya. Namun alih-alih menurun, tingkat infeksi virus Covid-19 di negara Paman Sam itu justru semakin meningkat melebihi 1000% dibanding bulan Juni lalu. Pernyataan ini dilansir dari cnbcindonesia.com ( 19/08/2021) dan beritasatu.com (22/08/2021).

    Selama ini, masyarakat Indonesia secara umum menduga bahwa negara maju seperti Amerika Serikat pastilah lebih dari mampu untuk menerapkan sistem kesehatan yang mumpuni. Apalagi dengan kualitas nakes yang kompeten dan peralatan canggih yang belum tentu bisa dimiliki oleh negara berkembang. Namun, ternyata fakta bicara sebaliknya. Terbukti bahwa setelah begitu banyak pemberian vaksin Covid-19, rata-rata infeksi mingguan bukannya semakin berkurang, malah bertambah. Mengapa bisa demikian?

    Tidak seperti Indonesia yang masih bersikukuh dengan penerapan pengaturan karantina tak jelas, AS memiliki pengaturan karantina yang lebih teratur seperti lockdown total di awal kemunculan Pandemi Corona. Namun, saat ini bertepatan dengan pertengahan liburan musim panas, dan sebagian besar masyarakat Amerika menganggap corona telah hilang, sehingga terjadilah pelonggaran-pelonggaran yang membuat publik mengabaikan protokol kesehatan. Umumnya masyarakat menganggap diri mereka aman setelah memperoleh vaksinasi, sehingga kembali beraktivitas seperti biasa. Membentuk kerumunan yang besar tanpa menyadari bahwa virus Covid-19 sebenarnya masih belum pergi.

    Sementara itu, peningkatan infeksi yang signifikan tentunya membuat para tenaga kesehatan semakin kerepotan. Beberapa nakes di Hawaii bahkan telah menyatakan kekhawatiran mereka atas ketidakmampuan menangani pasien Covid-19. Hal ini adalah bukti akan kesombongan ilmu pengetahuan saat ini. Vaksin yang digunakan di Amerika Serikat adalah hasil karya terbaik perusahaan farmasi Amerika, Pfizer Inc. yang bekerjasama dengan perusahaan bioteknologi Jerman BioNTech SE. Tingkat kemanjuran vaksin tersebut diklaim lebih dari 90%. Namun ternyata vaksin tersebut tidak mampu melindungi dari infeksi virus Covid-19.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/05/dunia-terbukti-gagal-tangani-covid-19/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min
  • Yuk, Fastabiqul Khairat!

    Yuk, Fastabiqul Khairat!

    Oleh: Fatimah Azzahra, S.Pd

    Voice Over Talent : Arien S

    NarasiPost.Com-“Mumpung masih hidup, yuk optimal beramal.”

    Itu yang terpikirkan oleh diri ketika hampir setiap hari mendapat kabar duka. Seperti meninggalnya para ulama.

    Kehilangan Teladan Kebaikan

    Ulama adalah pewaris para nabi. Dari merekalah umat meneguk jernihnya ilmu dan cahaya iman. Dari mereka pulalah umat mendapat keberanian menggenggam hidayah yang sudah Allah turunkan dalam Al-Qur’an dan Sunah. Merekalah teladan dalam kebaikan ketika dunia sibuk mempertontonkan kemaksiatan.

    Ada yang begitu vokal menyuarakan kebenaran, memerangi kezaliman, menjelaskan perbedaan yang hak dan batil. Ada yang sangat bijak dalam memberi nasihat. Ada yang sangat dermawan dalam berinfak. Dan masih banyak teladan kebaikan yang dikenang dan semoga bisa diaplikasikan dalam kehidupan.

    Duka mendalam kehilangan para pewaris nabi. Mereka yang kebaikannya akan selalu dikenang umat yang menyayangi. Menyaksikan satu per satu ulama kembali ke pangkuan ilahi, sungguh sangat membuat diri dipenuhi kekhawatiran. Khawatir siapa yang akan menggantikan mereka? Siapkah kita yang ditinggalkan melanjutkan estafet perjuangan?

    Cukupkah dengan merasa diri tak pantas tanpa memantaskan diri? Tentu tidak. Live should go on. Hidup harus terus berlanjut, kita harus terus berubah menjadi lebih baik lagi. Semoga Allah pantaskan pengganti yang lebih baik dari para ulama yang telah dipanggil-Nya. Aamiin.

    Mumpung Masih Hidup

    “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.”

    Kita pun demikian. Hakikatnya diri ini hanya menunggu giliran. Giliran untuk didatangi malaikat pencabut nyawa, malaikat Izrail. Entah kapan waktu pastinya, tapi kita pasti akan menjumpainya. Hanya masalah waktu saja. Bisa jadi esok, minggu depan, bulan depan, tahun depan, wallahua’lam. Maka, bijak bagi kita untuk optimal dalam beramal selama nyawa masih di badan. Jangan sampai menyesal saat napas sudah tersengal karena amal ternyata pas-pasan.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/29/yuk-fastabiqul-khairat/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com