Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Penista Agama Merajalela, Bukti Negara Gagal Jaga Agama

    Penista Agama Merajalela, Bukti Negara Gagal Jaga Agama

    Oleh. Renita

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Masih ingatkah dengan Jozeph Paul Zhang? Seorang YouTuber yang beberapa bulan lalu mengaku sebagai nabi ke-26 dan menjadi tersangka penghinaan dan penistaan agama Islam. Hingga kini kasusnya masih mangkrak karena keberadaannya tak terlacak oleh pihak berwajib. Kali ini, jagat maya kembali dihebohkan dengan penodaan agama yang dilakukan oleh seorang YouTuber bernama Muhammad Kece. Ia pun dikecam sejumlah ulama lantaran narasi dan ucapannya yang berpotensi memicu emosi umat Islam.

    Seperti dilansir dari cnbcindonesia.com (21/8/2021), seorang YouTuber bernama Muhammad Kece dianggap telah menistakan ajaran Islam akibat narasinya yang mengandung ujaran kebencian. Ia mengubah ucapan salam dalam Islam menjadi ‘Assalamu’alaikum warrahmatuyesus wabarakatuhu’. Dirinya juga mengungkapkan kitab kuning yang ada di pondok pesantren merupakan ajaran yang menyesatkan dan memicu paham radikal. Ia pun menyebut Muhammad bin Abdullah adalah pengikut jin, ajaran Islam dan Nabi Muhammad tidak benar, sehingga harus ditinggalkan.

    Atas laporan serta desakan dari berbagai pihak untuk segera meringkus Muhammad Kece, Kombes Ahmad Ramadhan selaku Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Polri mengungkapkan pihaknya telah meningkatkan status perkara dari penyidik menjadi penyidikan per selasa (24/8). Sehari setelah itu, Muhammad Kece berhasil diringkus oleh penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri di wilayah Bali dengan status sebagai tersangka. (cnnindonesia.com, 25/8/2021)

    Apa yang dilakukan Muhammad Kece telah mengundang respon sejumlah besar umat Islam di Indonesia. Bagaimana tidak, YouTuber tersebut diketahui telah mengupload video penistaan agama dengan sengaja selama setahun belakangan ini. Yang semakin membuat umat naik pitam yaitu penampilan Muhamad Kece yang layaknya seorang ustaz lengkap dengan peci ketika menyampaikan penghinaan terhadap agama Islam. Sungguh pelecehan yang sangat vulgar dipertontonkan. Lantas, mengapa penistaan agama di negeri ini terus saja berulang?


    Naskah Selengkapnya :https://narasipost.com/2021/09/03/penista-agama-merajalela-bukti-negara-gagal-jaga-agama/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Sabar, Syukur dan Ikhtiar Maksimal dalam Menghadapi Pandemi

    Sabar, Syukur dan Ikhtiar Maksimal dalam Menghadapi Pandemi

    Voice Over Talent : Dewi N

    NarasiPost.Com-Pandemi Covid-19 adalah musibah. Musibah adalah bagian dari qadha’ Allah Swt (QS. al-Hadid [57]: 22). Sikap seorang Muslim terhadap qadha’ Allah Swt adalah rida. Rida terhadap qadha’ akan mendatangkan banyak kebaikan.

    Sebaliknya, kita dilarang membenci qadha’ Allah Swt. Rasul Saw bersabda:

    إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

    “Sungguh besarnya pahala itu seiring dengan besarnya ujian. Sungguh jika Allah mencintai suatu kaum, Dia menguji mereka. Siapa saja yang rida, untuk dia keridaan itu. Siapa yang benci, untuk dia kebencian itu.” (HR at-Tirmidzi, Ibnu Majah dan al-Baihaqi).

    Imam al-Qarafi menyatakan di dalam Ad-Dakhîrah, “As-Sakhthu bi al-qadhâ` harâm[un] ijmâ’[an] (Membenci qadha’ adalah haram berdasarkan Ijmak).”

    Sabar dan Syukur

    Karena merupakan qadha’, musibah itu tak terhindarkan sehingga, mau tidak mau, harus dihadapi dengan kesabaran. Apalagi Allah Swt pasti menguji hamba-Nya dengan ragam musibah. Namun demikian, Allah Swt pun memberikan kabar gembira kepada orang yang sabar dalam menghadapi musibah. (QS al-Baqarah [2]: 155-157).

    Dalam menghadapi musibah, Rasul Saw pun mengajari kita agar melakukan istirja’ (mengembalikan segalanya kepada Allah Swt) dan berdoa.

    Dalam menghadapi musibah, hendaknya juga kita banyak berzikir. Zikir akan dapat menenteramkan hati (QS ar-Ra’du [13]: 28).

    Hendaknya juga kita memperbanyak ibadah dan taqarrub kepada Allah Swt baik dengan shalat, sedekah, tilawah al-Qur’an, shalat-shalat sunah dan taqarrub lainnya.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/05/sabar-syukur-dan-ikhtiar-maksimal-dalam-menghadapi-pandemi/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    12 min
  • Kapitalisme, Biang Kerok Naiknya Harga Bahan Pokok

    Kapitalisme, Biang Kerok Naiknya Harga Bahan Pokok

    Oleh: Ana Nazahah

    (Kontributor Tetap narasipost.com)

    Voice Over Talent : Yeni M

    NarasiPost.Com-Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan Indonesia kini tengah mengalami inflasi 0,08 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,54 pada Juli 2021. Dan hal ini disinyalir akibat kelangkaan pasokan pangan selama PPKM yang menyebabkan kenaikan harga. (Merdeka.com, 2/8/2021)

    Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga bahan pangan yang naik di antaranya bawang merah naik 7,69 persen, bawang putih naik 6,85 persen, cabai rawit merah naik 4,52. Selain itu bahan pokok seperti gula pasir (1,9 persen), beras (1,98 persen), daging sapi (1,29 persen), telur ayam (3,05 persen), dan minyak goreng (3,4 persen). (CNNIndonesia, 2/8/2021)

    Kenaikan harga barang pokok, ada atau tidak adanya pandemi bukanlah fenomena baru di negeri ini. Setiap pergantian tahun atau menjelang hari besar agama, kenaikan harga pangan selalu saja terjadi. Seharusnya masalah yang terus berulang ini membuat negara siap mengantisipasi, yakni dengan menciptakan ketahanan pangan dan distribusi yang merata. Sayangnya, setiap pergantian tahun kenaikan harga pangan selalu saja terjadi. Membuktikan negara telah gagal mewujudkan ketahanan pangan dan memenuhi kebutuhan rakyatnya.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/08/kapitalisme-biang-kerok-naiknya-harga-bahan-pokok/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Kebijakan PPKM Darurat di Tengah Mengganasnya Pandemi, Solutifkah?

    Kebijakan PPKM Darurat di Tengah Mengganasnya Pandemi, Solutifkah?

    Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

    (Tim Redaksi Narasipost.com)

    Voice Over Talent : Dewi F

    NarasiPost.Com-Akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan PPKM Darurat yang diterapkan mulai 3 Juli sampai 20 Juli 2020 khusus wilayah Jawa dan Bali. Kebijakan ini muncul berdasarkan instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, Nomor 15 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Adapun perbedaan antara PPKM Darurat dan PPKM Mikro yang telah diterapkan sebelumnya adalah PPKM darurat diwacanakan akan lebih ketat dalam membatasi kegiatan masyarakat, misalnya menutup total tempat wisata, mall, tempat ibadah, dan restoran hanya boleh pesan antar. Semua kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring, perkantoran pun ditutup dan dianjurkan WFH 100 persen.

    Sebetulnya, pengetatan ini sudah sejak Mei silam diusulkan oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, namun ditolak oleh pemerintahan pusat. Kini, kebijakan PPKM Darurat diambil oleh pemerintah pasca adanya hantaman gelombang kedua Covid-19 di negeri ini pada dua pekan terakhir. Dilaporkan bahwa angka kasus positif Covid- 19 kian meningkat tajam. Bahkan angka kematian pun kian bertambah secara signifikan. Hingga tanggal 5 Juli 2021, angka positif Covid-19 di negeri ini telah mencapai 2.313.829 kasus, sementara yang meninggal dunia mencapai 61.140 kasus. Adapun kasus baru tertinggi diraih oleh lima provinsi di Indonesia, di antaranya DKI Jakarta 10.903 kasus baru, Jawa Barat 6.971 kasus baru, Jawa Tengah 3.447 kasus baru, Jawa Timur 1.543 kasus baru, dan Yogyakarta 1.465 kasus baru. (Kompas.com/05-07-2021)



    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/06/kebijakan-ppkm-darurat-di-tengah-mengganasnya-pandemi-solutifkah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Benalu dalam Keikhlasan

    Benalu dalam Keikhlasan

    Oleh: Rindyanti Septiana S.H.I.

    (Founder KFN & Pengurus Majelis Darun Nawawi)

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Ketika amal saleh tak berarti apa-apa di hadapan Allah Swt., bisa jadi amal tersebut memang tidak tertuju untuk-Nya. Melainkan untuk mendapatkan sekeping dunia dan juga pujian dari manusia. Akhirnya sia-sia segala amal bahkan merusak amal akhirat kita.

    Ada 2 benalu yang harus kita waspadai dalam keikhlasan. Benalu tersebut merusak amal-amal kita. Pertama, hubbud dunya (cinta dunia). Beribadah semata-mata untuk mendapatkan sekeping dunia. Menjadikan ibadahnya tidak diterima Allah Swt.

    Salah seorang shahabat Rasul saw. pernah berkata, setiap aku melihat para shahabat membaca Al-Qur’an, maka aku sering menemukan mereka menangis saat membaca 2 ayat dari Al-Qur’an. Ketika mereka membaca surat Hud ayat 15-16. “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.”

    Terkait ayat di atas Imam Qatadah menjelaskan, “Barang siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan, niat dan sesuatu yang hendak dicapai, maka Allah akan memberi balasan dunia atas kebaikannya yang telah ia lakukan, hingga saat menuju akhirat, tidak ada lagi kebaikan baginya yang dapat diberikan sebagai balasan. Sementara seorang mukmin, ia akan diberikan balasan di dunia atas kebaikan yang dilakukannya dan diberikan pula pahala kelak di akhirat.”

    Jika seorang manusia beramal dengan amal yang demikian, maka sia-sia ia melakukannya. Batal pula atas apa yang telah ia usahakan. Karena meniatkan segala amal tersebab materi. Betapa hinanya seseorang meniatkan urusan akhirat dengan dunia. Padahal dunia ini tempat kita meninggal bukan untuk tinggal.

    Maka sudah seharusnya kita menyibukkan diri dengan amal akhirat. Karena dunia kita sudah dijamin oleh Allah Swt. sementara akhirat belum dijamin oleh Allah Swt. Tiada berguna beribadah dengan cita rasa dunia. Karena tak akan mendapatkan apa-apa di sisi Allah selain rusaknya amal ibadah.

    Kedua, tidak menginginkan pujian manusia melainkan berharap rida Allah Swt. Manusia yang seperti ini memiliki beberapa sifat. Pertama, ia menyembunyikan apa yang ia kerjakan. Amalan tersembunyinya lebih banyak daripada yang terlihat. Sebagaimana yang dikatakan oleh Malik bin Dinar ra, “Tutup amal baikmu sebagaimana engkau menutup amal burukmu.”


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/11/benalu-dalam-keikhlasan/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Negara Minim Solusi, Vaksinasi di Tempat Rekreasi

    Negara Minim Solusi, Vaksinasi di Tempat Rekreasi

    Oleh: Uqie Nai

    (Member AMK4)

    Voice Over Talent : Maya R

    NarasiPost.Com-Demi mendukung program satu juta vaksin per hari yang dicanangkan Presiden Joko Widodo, baru-baru ini area wisata menjadi target vaksinasi. Di Cicalengka, Kabupaten Bandung, misalnya. Forum komunikasi di wilayah ini menginisiasi sebuah program bertajuk “Vaksi” atau Vaksinasi Asyik di tempat piknik. Upaya ini dimaksudkan untuk menarik warga mengikuti vaksin Covid-19 tanpa harus lelah mengantre. Sambil menunggu giliran, warga bisa menikmati objek wisata di alam terbuka. Untuk kelancaran program tersebut, pemerintah Kabupaten Bandung menyiapkan 122 tempat wisata sebagai sentra vaksinasi Covid-19. Sayangnya, pelaksanaan di lapangan tak semulus yang diharapkan. Bupati Bandung, yang akrab disapa Kang DS mengaku stok vaksin saat ini telah habis, padahal baru 11 persen dari warganya yang sudah vaksinasi secara penuh dan 39 persen lainnya baru mendapat dosis pertama.

    Tak hanya menyiapkan tempat wisata, Kang DS juga mengaku telah menambah 800 tenaga kesehatan sebagai vaksinator. Tahap pertama, vaksinasi digelar di Cicalengka Dreamland dengan target 600 pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif. Upaya ini menurut Kang DS salah satu solusi positif bagi mereka yang berkecimpung di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. (liputan6.com, 29/7/2021)

    Kapitalisme hanya Menyasar Manfaat, Tak Peduli Rakyat Sekarat

    Pemerintah sepertinya tak bisa konsisten dengan aturannya menutup akses wisata, aturan yang disinyalir mampu memutus rantai penularan Covid-19, kini dibuka kembali. Alasan mendasarnya tentu bukan karena mempermudah vaksinasi, tapi mempermudah jalan pengusaha. Karena sebetulnya yang diperlukan adalah koordinasi secara terpusat, kebijakan serentak, direspon cepat, tanpa harus keluar dari lingkungan rumah. Bukankah pemilu dengan pilpres dan pilkadanya bisa dilakukan serentak?

    Tak dipungkiri, wabah telah membawa perekonomian negeri ini kian aterpuruk. Banyak perusahaan gulung tikar, merumahkan hingga mem-PHK karyawannya, muncul orang miskin baru, kelaparan, dan kematian datang silih berganti. Bahkan saat diberlakukannya PPKM pun kondisi ini tak berubah, rakyat kecil dilarang berjualan, toko dan restoran dibatasi, tempat wisata ditutup, dan tak sedikit sikap arogan Satpol-PP merusak barang penjual saat didapati masih berdagang. Padahal, kondisi tersebut adalah ulah dari pemerintah sendiri, membuat aturan tapi tak diiringi pemenuhan kebutuhan masyarakat.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/07/negara-minim-solusi-vaksinasi-di-tempat-rekreasi/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Keberkahan Al-Qur’an

    Keberkahan Al-Qur’an

    Oleh : Mak Ayu

    Voice Over  Talent : Mels

    NarasiPost.Com-Jika setiap orang ditanya, “Apakah ingin hidup penuh keberkahan?”

    Pasti semua akan menjawab, “Iya!”

    Hal ini karena makna keberkahan memiliki cakupan yang sangat luas, tidak hanya kondisi bahagia yang dapat dirasakan individu, tetapi juga meliputi orang banyak (masyarakat), tidak hanya pada muslim, tetapi juga nonmuslim, tidak hanya pada manusia, tetapi semua makluk hidup juga akan merasakannya.

    Keberkahan adalah suasana yang benar-benar memberikan ketenangan dalam hidup dan terpenuhi semua kebutuhan hidupnya. Istilahnya, “Gemah ripah loh jinawi”, atau kehidupan yang aman, nyaman, dan serba berkecukupan, bahkan berlebihan, tidak kekurangan suatu apa pun. Masyaallah, siapa yang tidak merindukan keadaan yang digambarkan oleh para wali Allah di tanah Indonesia ini.

    Al-Qur’an menjelaskan dalam firman Allah Swt,

    “Sungguh bagi kaum Saba’ ada tanda (kebesaran Rabb) di kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri. (Kepada mereka dikatakan): Makanlah dari rezeki yang dianugerahkan Tuhan kalian dan bersyukurlah kepada-Nya! (Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun.” (QS. As Saba’ : 15)

    Negeri Saba’ adalah gambaran negeri yang penuh keberkahan. Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan bahwa Saba’ adalah negeri yang penuh kenikmatan dan kebahagian (yang meliputi) negerinya, kehidupannya, kelapangan rezekinya, ragam tanaman, dan buahnya, semua disediakan Allah agar penduduk negerinya bersyukur atas nikmat-Nya.

    Itulah gambaran bentuk keberkahan Allah. Akan tetapi, jika dilihat dari kehidupan saat ini, keberkahan itu belum bisa dirasakan oleh sebagian besar masyarakat. Justru kesulitan hidup terus melilit di tengah masyarakat.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/05/keberkahan-al-quran/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Kebiadaban Korupsi Diganjar Remisi Koruptor, Suramnya Masa Depan Pemberantasan Korupsi

    Kebiadaban Korupsi Diganjar Remisi Koruptor, Suramnya Masa Depan Pemberantasan Korupsi

    Oleh: Nurjamilah, S.Pd.I.

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Nay Beiskara

    NarasiPost.Com-“Korupsi adalah suatu penyakit ganas yang telah menggerogoti kesehatan masyarakat seperti halnya penyakit kanker yang setapak demi setapak menghabisi daya hidup manusia” (Selo Sumardjan)

    Pemberian remisi kepada koruptor kelas kakap, Djoko Chandra, yang sempat buron selama 11 tahun telah mengonfirmasi bahwa negeri ini tak serius dalam pemberantasan korupsi. Hukum kini tak lagi bertaji di bawah cagak para koruptor keji. Tak aneh, sudah sejak lama Indonesia dikenal sebagai surganya para koruptor.

    Sebagaimana diwartakan dari www.cnnindonesia.com, (20/08/2021) bahwa dalam rangka HUT RI ke-76 tahun, sejumlah remisi terhadap 214 narapidana kasus korupsi telah diberikan oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Remisi pengurangan masa tahanan 210 orang, sedangkan remisi bebas 4 orang.

    Publik patut mempertanyakan mengapa negara terus memberikan keringanan dan kelonggaran hukum kepada para koruptor? Alih-alih menimbulkan efek jera, yang ada justru mereka semakin kawakan mengerat uang rakyat. Lantas, hukuman apa yang mampu membuat jera para koruptor dan mencegah orang lain menjejaki profesi haram ini?


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/01/kebiadaban-korupsi-diganjar-remisi-koruptor-suramnya-masa-depan-pemberantasan-korupsi/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Agar Toxic People Tidak Mewabah, Dunia Mesti Berbenah

    Agar Toxic People Tidak Mewabah, Dunia Mesti Berbenah

    Oleh: Nurjamilah, S.Pd.I.

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Yeni M

    NarasiPost.com-Kecanggihan dunia yang ditopang deru liberalisasi dalam setiap jengkal kehidupan manusia menghasilkan toxic. Racun ini menjalar ke seluruh aliran darah masyarakat. Toxic system menyihir manusia menjadi toxic people. Hal ini meniscayakan bermunculannya toxic parents, toxic friends, toxic children, bahkan toxic leader.

    Inilah dampak dari penyakit yang tak kunjung diobati ketika telah muncul gejalanya. Dibiarkan merajai dan menjadi pandemi tak berkesudahan. Lantas, apakah kamu, orang-orang di sekitar kamu atau bahkan kita semua pernah terpapar toxic people?

    Mengenali Toxic dan Gejalanya

    Arti toxic adalah racun. Jika dipadankan dalam konteks sosial kemasyarakatan maka toxic people bermakna orang yang menebar racun bagi orang-orang di sekitarnya, baik secara emosional maupun psikologis. Sehingga perilakunya ini acap kali mengganggu orang lain. Hati-hati, siapa pun bisa terserang gangguan jiwa ini!

    Nah, sekarang bagaimana cara kita mengidentifikasi seseorang atau bahkan diri kita, apakah terbebas atau malah terbelenggu oleh toxic people ini. Berikut gejalanya:

    Pertama, kerap kali melakukan self-affirmation yakni memberikan penegasan pada diri sendiri, dengan mengungkit kebaikan dan sikap positif yang telah dilakukan, walau hanya setitik. Semisal, mempromosikan diri sebagai sosok yang baik hati, jujur, berintegritas tinggi, berakhlakul karimah dan lain sebagainya. Padahal, itu semua jauh panggang dari api.

    Kedua, selalu merasa paling benar. Anti kritik, sebisa mungkin mengambinghitamkan orang lain agar tak tampak segala kesalahannya. Bahkan ia lihai memosisikan dirinya sebagai korban (playing victim).


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/17/agar-toxic-people-tidak-mewabah-dunia-mesti-berbenah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    12 min
  • Bonus Demografi Melimpah: Berubah Jadi Beban Demografi dalam Sistem Payah

    Bonus Demografi Melimpah: Berubah Jadi Beban Demografi dalam Sistem Payah

    Oleh: Qisti Pristiwani

    (Mahasiswi UMN Al Washliyah Medan)

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia” -Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia-

    Potensi berlimpah, semangat membara, kritis dalam berpikir, energik, penggerak perubahan, begitulah ungkapan yang tepat saat berbicara tentang generasi muda. Generasi muda adalah ujung tonggak sebuah peradaban. Di tangannyalah nasib suatu bangsa dipertaruhkan.

    Kabar gembira bagi Indonesia. Indonesia disebut-sebut sedang mengalami bonus demografi, dimana penduduk usia produktif mengalami peningkatan. Dikutip dari hasil sensus penduduk 2020 pada Jum’at (22/01/2021), jumlah generasi Z mencapai 75,49 juta atau setara dengan 27,94% dari total seluruh populasi di Indonesia. Sedangkan, generasi millenial mencapai 69,38 juta jiwa atau 25,87%.(Jakarta, Kompas.com 22/01/2021)

    Fenomena ini sangat berpeluang menjadikan Indonesia tampil sebagai negara yang memiliki peradaban unggul bila mampu mengelola potensi anak muda secara maksimal. Namun, di tengah banyaknya permasalahan anak muda saat ini, apakah mungkin cita-cita mulia tersebut tercapai?

    Liberalisme Sekuler Penghambat Terbentuknya Generasi Unggul

    Sejak 2011 sampai 2019, jumlah kasus anak berhadapan dengan hukum yang dilaporkan ke KPAI mencapai 11.492 kasus, jauh lebih tinggi dari pada laporan kasus anak terjerat masalah kesehatan dan narkotika (2.820 kasus), pornografi dan cyber crime (3.323 kasus), serta trafficking dan eksploitasi (2.156 kasus). (gresnews.com 18/01/2020)


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/24/bonus-demografi-melimpah-berubah-jadi-beban-demografi-dalam-sistem-payah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    11 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com