
Sign up to save your podcasts
Or


Sesungguhnya Sabar Itu pada Hentakan Pertama
Oleh : Ummu Najwa
Voice Over Talent : Maya R
NarasiPost.Com-Hari demi hari pandemi semakin menakutkan. Jumlah korban yang tak terhitung dan terus bertambah. Bahkan, seakan pandemi ini sudah tak bisa dihindari. Di setiap udara yang kita hirup sudah mengandung Covid-19. Setiap orang rata-rata sudah pernah terpapar, baik disadari maupun tidak, baik dengan gejala maupun tidak. Nah, ketika kita pertama kali mendapati diri kita terpapar dan terjangkit virus yang menjadi momok pada hari ini yaitu Covid-19, apa yang kita rasakan?
Tentu setiap kita akan merasa down, drop, marah, sedih, kecewa, namun di lain sisi kita pun merasa bingung untuk melampiaskan semua itu kepada siapa. Saat itu, kita pun dihantui dengan bayangan kematian. Semua begitu menakutkan dan bercampur menjadi satu di waktu yang sama. Bisa jadi kita menganggap itu adalah satu momentum terburuk dalam kehidupan kita. Luar biasa berat karena penulis pun tahu persis perasaan itu, karena penulis pun saat menulis naskah ini sedang dalam pemulihan dari detik-detik rasa sakit sebab terjangkit virus ini.
Namun ternyata, sebagai orang yang beriman kita diperintahkan untuk bersabar, walaupun mungkin terasa begitu berat dan sulit. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan terkait sabar yang begitu berat tersebut. Hadis ini diriwayatkan oleh beberapa imam hadis yaitu, Bukhori I/430 no.1223, Muslim II/637 no.926 dan Abu Daud II/210 no.3124.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ مَرَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِامْرَأَةٍ تَبْكِى عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ « اتَّقِى اللَّهَ وَاصْبِرِى » . قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّى ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِى ، وَلَمْ تَعْرِفْهُ . فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَتَتْ بَابَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ . فَقَالَ « إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى » (رواه البخاري ومسلم وابو داوود)
“Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melewati seorang wanita yang sedang menangis di dekat sebuah kubur. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: ‘Bertakwalah kepada Allah, dan bersabarlah.’ Wanita itu menjawab; ‘Menjauhlah dariku, karena sesungguhnya engkau tidak tahu dan tidak bisa merasakan musibah yang menimpaku.’ Kemudian diberitahukan kepada wanita tersebut, bahwa orang yang menegurnya tadi adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Lalu ia mendatangi pintu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihilaihi Wasallam dan ia tidak mendapatkan penjaganya. Kemudian ia berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam; ‘(maaf) aku tadi tidak mengetahui engkau wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.’ Rasulullah pun bersabda: ‘Sesungguhnya sabar itu terdapat pada hentakan pertama”
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/17/sesungguhnya-sabar-itu-pada-hentakan-pertama/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Maraknya Konflik di Tengah Wabah, Siapa Tanggung Jawab?
Oleh. Deny Setyoko Wati, SH
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Pandemi yang tak kunjung mereda, ternyata juga memberi dampak pada psikososial masyarakat. Hal ini tampak pada maraknya kasus kekerasan dan konflik yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kekerasan dan konflik tersebut menimpa antaranggota masyarakat, antara masyarakat dan tenaga kesehatan (nakes) serta petugas pemakaman.
Sebagaimana yang dilansir oleh kompas.com (24/07/2021) aksi kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sianipar Bulu Silape, Silaen, Sumatera Utara terhadap seorang penderita Covid-19. Warga menganiaya penderita tersebut lantaran tidak berkenan, jika penderita melakukan isolasi mandiri di rumahnya. Awalnya, warga dan aparat desa meminta kepada penderita tersebut untuk isolasi mandiri di sebuah gubuk di hutan. Penderita pun menuruti keinginan warga dan aparat desa tersebut. Namun, karena merasa tidak betah dan merasa depresi, si penderita akhirnya pulang dan ingin melanjutkan isolasi mandiri di rumah. Warga yang mengetahui hal itu merasa geram kemudian terjadilah aksi penganiayaan tersebut. Aksi serupa juga dilakukan oleh masyarakat dari Desa Jatian, Pakusari, Jember terhadap tim pemakaman jenazah Covid-19. Masyarakat desa tersebut melakukan penganiayaan, pemukulan, pelemparan batu dan berusaha membanting tim relawan serta ingin merebut peti jenazah Covid-19. (Kompas.com,24/07/2021).
Demikianlah segelintir peristiwa miris yang terekspos media mewarnai kehidupan di tengah wabah hari ini. Kehidupan di masa pandemi yang semestinya menjadikan antarmasyarakat saling berempati, tolong menolong dan bahu membahu, namun sayangnya belum sepenuhnya tercapai. Hal ini menunjukkan masih minimnya pemahaman masyarakat tentang Covid-19. Ditambah lagi masyarakat mengalami tekanan ekonomi sehingga menyebabkan merebaknya stress, mudah tersulut emosi, sikap egois dan saling curiga muncul di kalangan masyarakat. Alhasil, terjadilah peristiwa-peristiwa naas nan menyesakkan dada sebagaimana yang diberitakan di atas.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/09/maraknya-konflik-di-tengah-wabah-siapa-tanggung-jawab/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Cukuplah Allah Bagiku
Oleh : Deena Noor
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Selendang impian terhempas
Kutatap wajah itu
Nada-nada pilu tengah berdenting
Cukuplah Allah bagiku
Dia tetap menerimaku
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/28/cukuplah-allah-bagiku/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Semangka Menjadi Primadona di Saat Musim Panas Tiba
Oleh : Neneng Sri Wahyuningsih
Voice Over Talent : Dewi N
NarasiPost.Com-Buah semangka bukanlah hal yang baru bagi keluarga kami. Sejak di Indonesia, kami sangat menyukainya. Buahnya yang bikin segar, kaya manfaat, dan harganya pun murah meriah, menjadi alasan kuat untuk selalu menghadirkannya di dalam lemari pendingin di rumah. Cara mengonsumsinya pun mudah, bisa dimakan langsung atau dibuat dalam bentuk minuman.
Ngomong-ngomong tentang semangka, di Jepang, buah satu ini menjadi primadona di kala musim panas tiba. Kenapa bisa begitu? Yuk kita telusuri.
Musim panas di Jepang sangat terkenal dengan teriknya panas matahari yang luar biasa. Setelah kami melewati tiga kali musim panas di sana, memang suhunya berbeda-beda. Namun, biasanya kisaran 30°C- 33°C pada siang hari, 24℃ pada pagi dan malam hari. Pernah juga di prefecture lain suhunya mencapai 36°C. Ditambah angin saat summer tidak begitu terasa, akhirnya semakin menambah hawa panas yang dirasakan. Kita mungkin mengenal istilah ‘sumuk’, nah begitulah kondisinya.
Ketika berada di luar, posisi matahari seolah berada di atas kepala, sehingga berada di dalam rumah dengan pendingin ruangan adalah pilihan terbaik. Namun, summer waktu yang cocok juga untuk piknik ataupun berjalan-jalan karena waktu siangnya cukup panjang. Oleh karena itu, jika keluar rumah pun disarankan selalu membawa air minum atau mengunyah permen garam untuk mencegah dehidrasi.
Berkaitan dengan musim panas, buah merah merona ini sangat lekat, seakan tak bisa dipisahkan. Kok bisa? Memang tidak ada buah-buahan segar yang lain? Begini alasannya, semangka merupakan jenis buah yang memiliki berbagai manfaat bagi tubuh yang sedang menghadapi cuaca panas. Di dalamnya terdapat senyawa fenolik seperti flavonoid, karotenoid, dan triterpenoid, yang mampu membantu mengurangi inflamasi pada tubuh. Buah ini juga dapat meningkatkan imunitas dan aliran darah. Sesuai dengan namanya dalam bahasa Inggris yakni watermelon, buah yang mengandung banyak air sekitar 92% dapat mencegah dehidrasi. Maka dari itu, buah ini menjadi pilihan untuk dikonsumsi. Semangka seolah menjadi sajian ‘wajib’ saat musim panas.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/09/07/semangka-menjadi-primadona-di-saat-musim-panas-tiba/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Utang, Instrumen Whatever It Takes Benarkah untuk Rakyat?
Oleh.Ana Nazahah
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Menteri Keuangan, Sri Mulyani, sepertinya tengah mengalami jalan buntu, menyebut utang sebagai instrumen whatever it takes. Dan tentu, ‘whatever’ yang dimaksud di sini adalah dengan menambah utang, yang diklaim sebagai jalan penyelamat rakyat.
Hal ini Sri Mulyani sampaikan pada acara Bedah Buku Mengarungi Badai Pandemi, Sabtu (24/7/2021). Sri Mulyani menyatakan negara saat ini harus menambah utang. Bukan karena menambah utang menjadi tujuan. Tidak lain merupakan “Instrumen whatever it takes,” katanya. Demi menyelamatkan warga negara dan perekonomian bangsa. (CNN Indonesia.com)
Jika ditelaah, utang ini bagaimanapun adalah beban untuk negara, yang pada akhirnya adalah tanggung jawab rakyat. Di tengah kondisi rakyat yang sangat memilukan ini, menghadapi wabah dan ekonomi yang sulit karena efek PPKM dan kebijakan jaga jarak, masuk akalkah jika utang dijadikan instrumen menyelamatkan rakyat? Apakah hanya menambah utang satu-satunya solusi yang bisa diandalkan?
Dalam hal ini, Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah mengatakan negara masih memiliki instrumen kebijakan lain selain menambah utang. Misalnya dengan memangkas anggaran kementerian dan lembaga yang tidak perlu. Menurut Trubus, “Negara seharusnya tidak mengambil jalan pintas, yakni berutang, di saat negara masih bisa melakukan efisiensi pada pengeluaran yang lain, seperti pemotongan anggaran perjalanan dinas kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan lain-lain. Pembangunan infrastruktur yang tidak perlu pun bisa dihentikan sementara, lantas pemerintah meningkatkan ekspor pertanian dan perkebunan,” ujarnya dikutip dari media Asumsi.co.(25/7/2021)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/05/utang-instrumen-whatever-it-takes-benarkah-untuk-rakyat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Agar Tulisanmu Sampai di Surga
Oleh : maman El Hakim
Voice Over Talent : Mels
NarasiPost.Com-Kaidah ushul fikih mengatakan:
الأَصْلُ فِي اْلأَفْعَالِ التَّقَيُّدُ بِحُكْمِ اللهِ
“Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum Allâh.”
Mengenai kaidah tersebut, Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Kitab As-Syakhsiyah Al-Islamiyah Juz 3, memberikan pemahaman, bahwa perbuatan seseorang (mukallaf) itu harus berdasarkan hukum syariat Islam. Hukum syariat yang didefinisikan sebagai seruan dari pembuat hukum itu sendiri, yaitu Allah Swt. terhadap hamba-Nya, berupa perintah atau larangan yang berkaitan dengan amal atau perbuatan manusia di dunia.
Menulis adalah aktifitas atau perbuatan yang secara lahir (nyata) terlihat fisiknya berupa tulisan. Apa yag dituliskan tidak lain buah dari olah pemikiran yang diungkapkan dengan perasaannya. Sebagaimana ungkapan secara lisan, tulisan pun adalah ekspresi atas apa yang ada dalam pikiran yang kelak Allah Swt. akan meminta pertanggugjawabannya.
Tulisan adalah lisan yang terindra, bisa menjadi bukti atau saksi atas adanya hasil pemikiran, sementara lisan itu sendiri adalah lafal yang mudah terlupakan. Sekalipun tulisan itu sendiri hakikatnya adalah pengganti lisan, namun pengaruhnya bisa diwariskan sebagai amal jariah. Maka, tidak mengherankan para alim ulama atau cendekia sangat kental dengan tradisi literasi atau kepenulisan.
Para ulama sangat idetik dengan karya-karya keilmuannya yang ditulis, tidak mengherankan ilmu mereka diturunkan secara bersanad melalui kitab-kitab yang diajarkan atau disampaikan kepada muridnya. Karya tulis harusnya menjadi karakter keulamaan seseorang agar mendapat keberkahan ilmu. Dalam kitab “Ta’lim al Muta’alim thariq at Ta’alum” karya Burhan al-Din al-Islam al-Zarnuji biasa dikenal dengan Syekh Az-Zarnuji, kehadiran kitab dan guru menjadi syarat keberkahan ilmu, tanpa keduanya ilmu tidak mencapai sasarannya.
Menulis adalah aktifitas keilmuan yang tidak bisa berjalan sendiri jika ingin mendapatkan pahala sanadnya. Karena itu, penting untuk belajar menulis dengan benar dan dibimbing oleh seorang mentor (guru) dalam kajian atau majelis ilmu yang bersanad. Menuliskan ilmu yang didapatkan dari kajian dalam sebuah halaqah atau taklim sangat berguna agar ilmu itu tidak mudah lepas dari ingatan. Menulis adalah salah satu cara mengikat ilmu.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/31/agar-tulisanmu-sampai-di-surga/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Manipulasi Data demi Sebuah Pencitraan
Oleh. Uqie Nai
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Awal Juni 2021 lonjakan kasus terpapar Covid-19 hingga dikabarkan meninggal begitu mengejutkan, namun pertengahan Juli beritanya tak lagi santer. Usut punya usut, data harian kasus Covid-19 yang diinformasikan ke tengah masyarakat bukanlah data sebenarnya. Hal ini sontak menuai reaksi dari beberapa pakar epidemiolog dan pemantau Covid-19.
Menurut pakar epidemiologi Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko, mengatakan ada sejumlah pemerintah daerah yang mencoba menyembunyikan kasus kematian akibat terinfeksi corona. Padahal cara ini tak akan bisa menutupi rasio kasus positif dan tingkat kematian harian yang masih tinggi.
Begitu pula inisiator lembaga pemantau wabah, Irma Hidayana, telah sering meminta pemerintah untuk lebih jujur dalam urusan data Covid-19. Pihaknya, melalui LaporCovid-19 berulangkali mengingatkan pemerintah perihal pentingnya transparansi data sejak pandemi muncul pada Maret tahun lalu. (koran.tempo.co, 22/7/2021)
Manipulasi Data adalah Praktik Kegagalan Sistem Kapitalisme
Penuntasan wabah hingga berkurangnya jumlah kasus positif adalah tanggung jawab pemerintah untuk segera merealisasikannya. Sebab, sejauh ini program nyata yang dilakukan hanya berkutat pada kebijakan parsial dengan melindungi kepentingan pengusaha melalui produktivitas di sektor ekonomi nonriil, bukan melindungi nyawa rakyat. Pemerintah enggan menggelontorkan dana secara maksimal untuk kebutuhan warganya, meski dalam kondisi PPKM atau isoman sekalipun.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/05/manipulasi-data-demi-sebuah-pencitraan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
“Mantra” Toleransi ala Demokrasi,Bahaya dan Merugikan Umat Islam
Oleh: Rindyanti Septiana S.H.I
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Susahnya hidup tenang antarsesama umat beragama di negeri dengan corak sistem demokrasi sekuler. Mengapa demikian? Sebab sistem ini selalu menciptakan konflik antaragama, ada saja kelompok yang melontarkan “mantra” toleransi demi memuluskan kepentingan tertentu. Hal itu sebagai upaya memenangkan kelompok minoritas atas mayoritas.
“Mantra” toleransi akan selalu diucapkan jika ada batu sandungan yang menyulitkan berdirinya rumah ibadah dari kaum minoritas dan sulitnya mereka menjalankan ajaran kepercayaannya. Mantra tersebut seolah ampuh dan mampu menyelesaikan segala masalah mereka. Bagi yang menyulitkan urusan mereka atas semua hal tersebut, dengan mudah mereka akan katakan “kelompok intoleran tidak boleh ada di negeri ini”.
Salah satunya mengenai izin mendirikan bangunan (IMB) pembangunan Gereja Kristen atau GKI Yasmi di Colendek Barat Bogor, Jawa Barat yang telah lama menjadi polemik. Akhirnya, kini berujung pada pemberian surat izin IMB tersebut oleh Pemkot Bogor. Bima Arya Sugiarto yang merupakan Wali Kota Bogor menyerahkan dokumen IMB sembari mengatakan bahwa apa yang dilakukan ialah bagian dari simbol kebersamaan. (news.detik.com, 8/8/2021)
Bahkan ia mengatakan hal itu merupakan kerja keras seluruh pihak yang membangun komitmen menjalin keberagamana lewat dialog, proses hukum, mediasi, dan diskusi. GKI Yasmin mendapat IMB setelah keputusan Mahkamah Agung (MA), dianggap sebagai jalan keluar atas kasus toleransi beragama yang telah berlangsung selama 15 tahun. Kembali kaum minoritas harus memberi ruang bebas dan nyaman bagi si minoritas. Inikah bentuk toleransi yang diharapkan umat Islam?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/17/mantra-toleransi-ala-demokrasibahaya-dan-merugikan-umat-islam/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pinangki, Keadilan Hukum Hanya Sebatas Teori
Oleh. Dia Dwi Arista
Voice Over Talent : Dewi F
NarasiPost.Com-“Bahwa Terdakwa adalah seorang ibu dari anaknya yang masih balita (berusia 4 tahun) layak diberi kesempatan untuk mengasuh dan memberi kasih sayang kepada anaknya dalam masa pertumbuhannya. Bahwa terdakwa sebagai wanita harus mendapat perhatian, perlindungan, dan diperlakukan secara adil.” Kalimat tersebut keluar dari Ketua Hakim Pengadilan Tinggi Muhammad Yusuf pada 14 Juni 2021.
Putusan tersebut sontak membuat publik tersakiti. Bagaimana tidak, seorang mantan jaksa yang sudah menjadi terdakwa dalam kasus suap dan pencucian uang bisa dengan mudah mendapat sunatan hukuman lebih dari yang diputuskan hakim. Sebelumnya, Pinangki Mirna Malasari didakwa bersalah telah menerima suap dari Djoko Tjandra, buronan penggelapan dana perbankan.
Pinangki terbukti menerima suap sebesar 450 ribu dolar AS. Tak hanya suap, Pinangki juga terbukti melakukan pencucian uang. Hakim pengadilan Tipikor Jakarta pun memutuskan hukuman kurung selama 10 tahun penjara. Hukuman ini dikarenakan beratnya kasus kejahatan yang dilakukan Pinangki, ia dinyatakan melanggar UU Nomor 31 Pasal 11 Tahun 1999 tentang Tipikor, ia juga didakwa melakukan pelanggaran Pasal 15 jo Pasal 13 UU Tipikor, dan Pasal 3 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencucian uang. (detik.com, 20/6/2021)
Hukum Pincang Sebelah
Rakyat kembali meradang, lagi-lagi tercederai kepercayaan terhadap penegakan hukum di Indonesia. Tikus berdasi yang harusnya diburu dan dibunuh malah diberi keringanan. Mandulnya penegakan hukum di Indonesia terasa lebih parah pada beberapa tahun belakangan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/30/pinangki-keadilan-hukum-hanya-sebatas-teori/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed