Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Rindu Ini

    Rindu Ini

    Oleh : Bedoon Essem

    Voice Over Talent : Mels

    NarasiPost.Com-Hari demi hari berlalu dan pergi

    Bergulirnya waktu menambah kerinduan ini
    Kepadamu yang senantiasa dinanti
    Tak pernah lekang, kau kan tetap di hati

    Tak peduli mereka bilang apa

    Tak peduli mereka lakukan apa
    Untuk menjauhkanmu dari hati
    Untuk mencegahmu datang kembali

    Kau adalah puncak setiap impian

    Kau disebut dalam setiap ratapan
    Karena kau adalah penerap kemuliaan
    Karena kau adalah harapan

    Betapa lama kami menantimu

    Menunggumu dengan segenap rindu
    Berapa lama lagi kau akan kembali
    Sungguh kami sudah tak sabar diri


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/13/rindu-ini/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    5 min
  • Jabatan Komisaris Tanpa Kelayakan, Menuju Kehancuran

    Jabatan Komisaris Tanpa Kelayakan, Menuju Kehancuran

    Oleh. Ita Mumtaz

    Voice Over Talent : Maya Rohmah

    NarasiPost.Com-“Masa musisi Indonesia enggak boleh naik kelas?,” ujar Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir ketika menyikapi pengangkatan musisi Abdi Negara Nurdin atau yang lebih dikenal sebagai Abdee Slank menjadi Komisaris PT.Telkom Indonesia (Persero) Tbk.

    Dia pun memastikan bahwa pemilihan dewan direksi dan komisaris BUMN memiliki tujuan baik bagi perusahaan milik negara itu. “Jadi kita harus beri kesempatan kepada Abdee Slank.”  ungkapnya. (Kompas.com, 02/06/2021)

    Menyedihkan sekali memang, ketika menyaksikan orang-orang yang tidak memiliki kapabilitas diberi amanah dan tanggung jawab yang super penting dan genting, yaitu terkait hidup dan matinya sebuah Badan Usaha Milik Negara. Bahkan sekadar  mencoba-coba dan main-main. Padahal Komisaris adalah jabatan yang membutuhkan keilmuan, wawasan, dan pengalaman yang mumpuni sesuai bidangnya. Untuk menjabat sebagai komisaris di sebuah perusahaan telekomunikasi, mestinya wajib mengantongi ijazah dari Telkom University.

    Jabatan komisaris saat ini sempat menjadi bahan candaan di media sosial. Pasalnya, amanah yang seharusnya tidak diberikan kepada orang sembarangan, di zaman rezim ini malah dibagi-bagi untuk para pendukungnya yang telah berjasa mengantarkan kesusksesan dalam gelanggang Pilpres. Tahun 2014 Abdee menggelar “Konser Akbar Salam 2 Jari” di Gelora Bung Karno, Jakarta. Pada Pilpres 2019, Abdee pun masih setia memberikan dukungannya terhadap rezim ini.

    Sebelumnya juga ada sederetan nama-nama tim sukses Jokowi yang telah mendapatkan kue legit komisaris. Berikut ini sosok-sosok yang mendapat sorotan publik karena duduk di kursi jabatan tanpa memiliki kapabilitas di bidangnya. Said Aqil Siradj (PT Kereta Api Indonesia), Fadjroel Rachman (Waskita Karya), Dyah Kartika Rini (PT Jasa Raharja),   Dini Shanti Purwono (PT Perusahaan Gas Negara), Bambang Brodjonegoro (Telkom Indonesia), Budiman Sujatmiko (PT Perkebunan Nusantara V), Ahmad Erani Yustika (PT Waskita Karya), Zuhairi Misrawi (PT Yodya Karya), Gatot Eddy Pramono (PT Pindad), Wishnutama (Telkom Indonesia), Eko Sulistyo (PT PLN).


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/10/jabatan-komisaris-tanpa-kelayakan-menuju-kehancuran/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah

    Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah

    Judul Buku: Perempuan-perempuan Mulia di Sekitar Rasulullah

    Penulis: Muhammad Ibrahim Saliim
    Penerbit: Gema Insani
    Tebal: 153 hlm
    Peresensi: Minah Mahabbah

    NarasiPost.Com-Islam telah menempatkan posisi perempuan dalam kedudukan yang mulia sesuai fitrahnya dalam segala aspek kehidupan. Bahkan perempuan lebih utama dibandingkan laki-laki. Seperti hadis yang berisikan bahwa ibu harus lebih dihormati dibandingkan ayah.

    Jika kita ingin mencari perempuan yang sempurna keteladannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala, maka mereka adalah para shahabiyah dan perempuan generasi terdahulu. Gagasan dan jasa-jasanya begitu membumi dan menginspirasi. Tidak ada habisnya untuk mengisahkan keunggulan generasi perempuan mulia itu. Siapakah dia?

    Dalam sejarahnya, Islam telah melahirkan suatu generasi terbaik yakni generasi sahabat. Khususnya sahabat perempuan yang hidup di sekitar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Dengan berbagai peran. Baik sebagai ibu, istri, anak, pejuang maupun sebagai pendidik. Dan sejarah Islam telah mencatat perempuan yang berhijrah untuk Allah dan Rasul-Nya. Kisah perjuangan mereka itu masih terkenang dan senantiasa menjadi jalan penerang bagi setiap muslimah untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

    Karena itu, sudah seharusnya kita mengenal lebih dekat perempuan-perempuan mulia itu untuk kita jadikan teladan dalam segala peran mereka karena dari merekalah mata air kemuliaan dapat direguk sehingga jati diri muslimah sejati dapat hidup di tengah zaman yang tidak islami ini.


    Naslah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/24/perempuan-perempuan-mulia-di-sekitar-rasulullah/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    5 min
  • Diskon Vonis, Bukti Bobroknya Peradilan Kapitalisme

    Diskon Vonis, Bukti Bobroknya Peradilan Kapitalisme

    Oleh. Etti Budiyanti

    (Member AMK dan Komunitas Muslimah Rindu Jannah)

    Voice Over Talent : Dewi F

    NarasiPost.Com-Karut-marut penegakkan hukum di negeri ini sungguh memprihatinkan. Seiring pandemi yang tak tahu kapan berakhir, begitu pun kasus-kasus korupsi di negeri ini. Tak ada tanda sedikit pun akan berakhir. Semua akibat hukuman yang tidak memberi efek jera. Kasus Jaksa Pinangki contohnya.

    Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) telah memutuskan hukuman 10 tahun penjara dan denda Rp600 juta bagi Jaksa Pinangki. Hal itu karena Jaksa Pinangki telah terbukti melakukan 3 tindak pidana, yaitu :

    Pertama, menerima uang suap 500.000 dolar Amerika Serikat dari Djoko Tjandra terkait kepengurusan fatwa di MA, yang merupakan upaya agar terpidana kasus korupsi pengalihan hak tagih (cessie) Bank Bali ini dapat kembali ke Indonesia, tanpa harus menjalani hukuman 2 tahun.

    Kedua, terbukti melakukan tindak pidana pencucian uang dengan total 375.229 dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp5,25 miliar.

    Ketiga, Jaksa Pinangki dinyatakan terbukti melakukan permufakatan jahat bersama Djoko Tjandra, Andi Irfan Jaya, dan Anita Kolopaking untuk menjanjikan uang 10 juta dolar Amerika Serikat kepada pejabat Kejagung dan MA demi mendapatkan fatwa.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/26/diskon-vonis-bukti-bobroknya-peradilan-kapitalisme/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Jadilah Lilin Penerang

    Jadilah Lilin Penerang

    Oleh : Andrea Ausie

    Voice Over Talent : Dini P

    NarasiPost.Com-Jika aku ditanya apakah ingin menjadi orang terkenal katakanlah publik figur atau menjadi orang biasa maka akan kupilih menjadi orang biasa dimata manusia tetapi menjadi manusia yang luar biasa di mata Allah swt.

    Aku ingin bisa berbagi rizki yang kumiliki untuk mereka yang membutuhkannya. Berbagi ilmu yang kumiliki untuk mengajak dalam kebaikan dan mempergunakan umurku dalam beristiqomah di jalan_Nya. Impianku tidak muluk cuma ingin berkumpul bersama orang-orang yang  kucintai di janah_Nya kelak.

    Teringat pesan Rosulullah SAW :

    “Tidak akan bergeser dua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya umurnya digunakan untuk apa, bagaimana ilmunya diamalkan, hartanya yang didapat darimana dan digunakan untuk apa, serta tubuhnya digunakan untuk apa”
    (HR.At Tirmidzi no 2416,At Thabrani no 9772)

    Menjadi seorang publik figur harus memiliki mental yang sangat kuat, Nak !

    Pro kontra akan terus bergaung mewarnai hidupmu. Baik fans maupun hatter tanpa disadarinya menuntutmu menjelma menjadi sosok yang sangat sempurna sesuai imajinasi mereka sendiri. Mereka lupa bahwa publik figurpun hanyalah manusia biasa yang tiada luput dari kesalahan.

    Kebebasan dan privasi seolah terbelenggu dengan ego mereka yang tiada segan menguliti sampai sedetil mungkin. Mereka tidak peduli bahwa ada luka dan tangis yang terpaksa harus tersamarkan dengan senyum tawanmu. Terkadang aku sangat miris dengan fans yang terlalu sangat fanatik ke idolanya maupun mereka yang membenci dengan kadar urat yang menjalar.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/01/jadilah-lilin-penerang/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Polemik Tak Berkesudahan dalam Sistem Kapitalisme

    Polemik Tak Berkesudahan dalam Sistem Kapitalisme

    Oleh. Riannisa Riu

    Voice Over Talent : Giriyani SS

    NarasiPost.Com-Pandemi Covid-19 masih belum menampakkan tanda-tanda kepergiannya. Sebaliknya, varian virus yang bercokol di negeri ini kian beragam. Mulai dari varian alpha hingga delta. Tak terhitung nakes yang menjadi korban, apalagi masyarakat umum. Peraturan karantina tak jelas yang putus nyambung seperti PSBB – PPKM pun masih dijalankan oleh penguasa negeri ini, membuat masyarakat makin tak memercayai penguasa. Di tengah krisis kepercayaan ini, hadirlah sebuah pernyataan menggelegar, “Rakyat Indonesia tidak ada yang akan dibiarkan sampai tidak bisa makan.” dari Juru Bicara Kementrian Komunikasi dan Informatika, Dedy Permadi, seperti dilansir merdeka.com Ahad, (11/06/2021)

    Kalimat ini indah sekali, terkesan memberi fantasi perlindungan dari penguasa kepada masyarakat. Bahkan tak lupa disertai dengan bukti-bukti pencitraan, seperti pembagian langsung sembako oleh orang nomor satu di negeri ini kepada masyarakat di Jakarta Utara. Pemerintah mengklaim akan memberikan upaya bantuan dalam bentuk dapur umum dan bansos. Dapur umum akan menyediakan makanan siap saji, sementara bansos akan disalurkan kepada warga dalam bentuk tunai dan nontunai, yakni PKH (Program Keluarga Harapan), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan Bantuan Sosial Tunai (BST). Namun, benarkah semua bantuan ini tersalurkan kepada masyarakat? Kenyataannya masih banyak masyarakat yang berjuang membanting tulang demi mendapatkan sesuap nasi. Beberapa ketua rukun warga di Kabupaten Bandung bahkan menyatakan hanya satu orang saja di setiap RW yang mendapatkan Bantuan Sosial Tunai, sisanya nihil. Banyak pula yang mengaku terdaftar, namun tidak pernah mendapatkan jatah bantuan dari pemerintah. Para pedagang kecil tetap berdagang meski sedang PPKM. Pemulung tetap bekerja agar mendapat upah untuk makan sehari-hari. Bahkan para pengemis di terminal masih sibuk menadahkan tangan demi sekadar mengisi perut.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/18/polemik-tak-berkesudahan-dalam-sistem-kapitalisme/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Karya Terbaik

    Karya Terbaik

    Oleh: Maria Ulfah

    Voice Over Talent : Arien S

    NarasiPost.Com-Alma mencoba menemukan kata-kata untuk menjadikan tulisannya menjadi naskah terbaik. Ia mengulik semua bacaan untuk dijadikan sebuah ide. Namun, pikirannya buntu seakan tidak ada satu kalimat pun, bahkan kata yang masuk dalam kategori terbaik menurutnya.

    Menulis seperti sebuah obat untuknya. Bukan hanya hobi, tetapi candu baginya. Namun, kenapa untuk saat ini, menulis seolah menjadi beban, seakan bukan lagi obat yang membuatnya tenang dan bahagia. Akan tetapi, menjadi obat yang terasa pahit dan getir.

    Terkadang seseorang butuh untuk menyendiri, bukan hanya untuk merenung, tetapi untuk lebih mengenal siapa dirinya. Alma terduduk seorang diri di tepi ruang kafe yang ramai pengunjung, tetapi hening. Tempat itu selalu menjadi tujuan di kala dirinya mencari ide. Biasanya, ide mengalir dengan cepat saat ia sudah berada di sana. Namun, tidak untuk hari ini.

    “Ada apa? Kenapa semuanya terasa stuck?” Alma bertanya di dalam benaknya.

    Bara, seorang barista di kafe tempat Alma duduk, menghampiri. Ia menyediakan secangkir cappucinno hangat untuknya.

    “Terkadang, hitamnya kopi harus mengalah karena paduan warna susu yang menyatu dengannya.“

    Bara membuka percakapan saat dia meletakkan secangkir cappucinno di meja Alma.

    “Maksudnya, aku harus mengalah dengan siapa?” Alma tidak memahami makna dari perkataan Bara, teman baristanya yang ia kenal di kafe itu.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/05/karya-terbaik/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Investasi Laptop Lokal, ke Mana Fokus Pemerintah?

    Investasi Laptop Lokal, ke Mana Fokus Pemerintah?

    Oleh. Dia Dwi Arista

    Voice Over Talent : Dewi Nas

    NarasiPost.Com-Pemerintah telah memutuskan akan membuat gebrakan baru dengan memperkuat produksi barang dalam negeri. Ketergantungan impor yang selama ini menjadi pilihan, dinilai tidak baik bagi perkembangan bangsa ke depannya. Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Bansar Pandjaitan, telah memutuskan untuk memproduksi laptop dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) yang tinggi.

    Tak tanggung-tanggung, biaya yang digelontorkan demi menghidupkan laptop yang akan resmi bernama Merah Putih ini menelan biaya hingga mencapai Rp17 triliun, dengan masa produksi dari tahun 2021 hingga 2024. Kebutuhan laptop untuk tahun ini, yang berjumlah 718.000 unit akan dipasok oleh enam produsen laptop gandengan pemerintah.

    Dengan rincian, PT Zyrexindo Mandiri Buana akan memproduksi sebanyak 317 ribu unit pada bulan November tahun ini, PT Tera Data Indonusa 205 unit, PT Supertone sebanyak 21 ribu unit, PT Evercross Technology Indonesia 55 ribu unit, PT Bangga Teknologi Indonesia senbanyak 20 ribu unit, dan Acer Manufacturing Indonesia 100 ribu unit laptop.

    Luhut mengatakan bahwa momen pandemi harus dimanfaatkan, karena pemakaian barang elektronik, apalagi laptop sangat tinggi, maka peluang ini harus dimanfaatkan. Dan pemerintah harus mendorong produksi dalam negeri agar tidak terus ketergantungan pada impor, padahal negeri ini bisa produksi sendiri. (money.kompas.com, 22/7/2021)


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/08/01/investasi-laptop-lokal-ke-mana-fokus-pemerintah/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Dear Allah, Maafkan Aku! (Part 2)

    Dear Allah, Maafkan Aku! (Part 2)

    Oleh : Messy Ihsan

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Mels

    NarasiPost.Com-“Sabar, dunia ini hanya sebentar, sekejap lagi akan sirna tanpa bersisa. Lantas, untuk apa berlelah-lelah mengejar yang tak pasti, sementara yang pasti diabaikan dan dibiarkan pergi?”

    Kawan, pernah merasa di posisi seperti ini tidak? Bingung, gelisah, galau, resah, dan tidak tahu mau berbuat apa? Otak terasa buntu, seolah mau pecah berkeping-keping. Saking beratnya masalah yang dipikul, seolah sedang memikul gunung. Hihi, sekali-kali dramatis tidak apa-apa, ya!

    Dulu sebelum hijrah, hidup terasa penuh dengan serbuan masalah yang datang bertubi-tubi pada diri. Ingin rasanya berteriak sekuat tenaga, agar seluruh dunia tahu bahwa kita tengah terluka, agar mendulang perhatian, empati, dan simpati dari banyak orang. Ternyata, setelah semua itu ada dalam genggaman tangan, toh, sama sekali tidak memberikan ketenangan fisik dan batin. Apakah ini yang dinamakan kebahagiaan semu?

    Setiap detik, menit, dan jam berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak yang bermakna. Sementara, waktu selalu punya cerita baru untuk diukir. Akan tetapi, tak mungkin diri ini hanya mengukir cerita lama yang sudah usang. Tentu harus ada cerita baru yang merwarnai kehidupan. Namun, cerita seperti apa yang ingin ditulis? Cerita tentang kebaikan atau malah sebaliknya?


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/01/dear-allah-maafkan-aku-part-2/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    6 min
  • Menilik Anggaran RS dan Nakes di Tengah Ledakan Covid-19

    Menilik Anggaran RS dan Nakes di Tengah Ledakan Covid-19

    Oleh. Diyaa Aaisyah Salmaa

    (Mahasiswa MM UMY)

    Voice Over Talent : Yeni M

    NarasiPost.Com-Pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat untuk Pulau Jawa dan Bali selama 3-20 Juli 2021. Presiden Joko Widodo mengatakan, kebijakan itu diambil sebagai respon atas lonjakan Covid-19 di Indonesia beberapa waktu belakangan, akibat penyebaran varian baru virus corona. “Kita ketahui pandemi Covid-19 dalam beberapa hari terakhir ini berkembang sangat cepat karena varian baru yang juga menjadi persoalan serius di banyak negara,” kata Jokowi melalui YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (1/7/2021).

    Epidemiolog Universitas Indonesia, Ede Surya Darmawan, menyebut sudah ada 10 varian Covid – 19 yang ada di Indonesia. Sepuluh varian tersebut adalah varian Alpha, Beta, Gamma, Delta, Epsilon, Zeta, Eta, Theta, Iota, dan Kappa. Tiga di antaranya varian yang sedang heboh saat ini, yakni Delta B.1.617.2, Alpha B.1.1.7 dan Beta B.1.351 diduga paling tinggi tingkat penularnya saat ini. “Virus ini sudah ada di Indonesia, terutama di Jawa semua ada. Bahkan khususnya di Jakarta, varian dunia ini sepuluh-sepuluhnya ada,” katanya, dalam acara Kementerian Perhubungan. Minggu (27/6/2021)

    Anggaran Rumah Sakit dan Tenaga Kesehatan Terkendala

    Di tengah kondisi lonjakan kasus Covid-19, ketersediaan layanan Rumah Sakit (RS) dan tenaga kesehatan (Nakes) berperan sebagai garda terdepan dalam penanganan pandemi. Dalam hal ini pemerintah memberikan anggaran kepada RS untuk penanganan Covid-19 dan insentif pada Nakes yang berjuang menangani masyarakat yang terpapar Covid-19. Sayangnya, anggaran klaim RS dalam penanganan Covid dan insentif Nakes mengalami kendala dalam pembayarannya. Pembayaran tersebut macet dan tak dapat diterima tepat waktu terutama dalam situasi genting seperti saat ini (lonjakan Covid-19).

    Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan sedang berupaya menuntaskan tunggakan klaim rumah sakit rujukan Covid-19. Total tunggakan yang belum dibayarkan pada tahun anggaran 2020 mencapai Rp22,08 triliun.

    “Banyak keluhan yang belum dibayarkan sejak Januari,” ujar Ketua Satgas Covid-19 DPP PPNI, Jajat Sudrajat.
    “Saat ini kondisi rumah sakit banyak yang overload pasien, kekurangan petugas (Nakes) dan kekurangan alat medis/kesehatan diantaranya oksigen dan ventilator,” kata Jajat menambahkan. Tak hanya itu, pemerintah hingga kini masih menunggak pembayaran sejumlah hotel yang digunakan sebagai fasilitas isolasi bagi pasien Covid-19


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/10/menilik-anggaran-rs-dan-nakes-di-tengah-ledakan-covid-19/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com