
Sign up to save your podcasts
Or


Hibah Pariwisata di Tengah Pandemi yang kian Menggila
Oleh. Sartinah
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Akibat terjangan pandemi selama nyaris dua tahun ini, puluhan ribu nyawa menjadi korban. Tak hanya manusia yang menjadi korban, bahkan nyaris di semua sektor turut terdampak pandemi Covid-19, salah satunya adalah sektor pariwisata.
Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi yang paling kolaps karena terjangan pandemi. Terlebih dengan diberlakukannya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat. Untuk itu, pemerintah terus berupaya menghidupkan kembali sektor pariwisata dengan berbagai kebijakan di tengah upaya penanggulangan wabah.
Salah satu kebijakan yang diambil pemerintah untuk memulihkan kembali sektor pariwisata yakni dengan menggelontorkan dana hibah pariwisata sebesar Rp3,7 triliun. Tahun lalu, dana tersebut hanya menjangkau hotel dan restoran. Tahun ini hibah tersebut akan lebih luas jangkauannya, yakni menjangkau pelaku biro perjalanan wisata, tour guide, pramuwisata, tempat rekreasi, dan beberapa sentra wisata. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno. (liputan6.com, 5/7/2021)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/21/hibah-pariwisata-di-tengah-pandemi-yang-kian-menggila/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Agar Pertolongan Allah Datang
Oleh: Ana Nazahah
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Setiap Muslim pasti mengetahui bahwa sebaik-baiknya penolong dalam hidupnya adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Namun, hanya sedikit yang paham, bagaimana caranya agar bisa mendapatkan pertolongan dari-Nya. Banyak Muslim masih salah arah mewujudkan pinta agar diterima Rabb semesta. Melakukan sesuatu yang justru menjauhkannya dari pertolongan Allah Azza Wa Jalla.
Kita sadari bersama, pandemi Covid-19 yang semakin memakan korban hari ini adalah bala besar yang kini mengancam umat. Musibah ini tidak ada yang mampu menghilangkannya kecuali atas kuasa Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Karenanya kita butuh Allah, memohon pertolongan dari-Nya. Agar Allah segera mengangkat musibah ini, sehingga kita bisa bebas beraktivitas seperti sebelumnya.
Namun, meminta pertolongan Allah tidaklah cukup hanya dengan memanjatkan doa. Sebagaimana saran dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar, untuk menggelar doa bersama. Doa memang ibadah penting demi meraih pertolongan Allah. Namun, doa saja tidak cukup. Jika tidak dibarengi usaha nyata. Bersungguh-sungguh dalam ikhtiar, demi menjemput pertolongan-Nya.
Karenanya, kita harus pahami dulu sebab mengapa Allah turunkan musibah. Salah satunya sebagai bentuk peringatan atas banyaknya kemungkaran yang dilakukan oleh manusia. Kemungkaran karena menyalahi hidup sebagai hamba. Kemungkaran karena berpaling dari ayat-ayat Allah dan bersikap sombong dengan menentang perintah-Nya.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/17/agar-pertolongan-allah-datang/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Mendekap Hampa
Oleh :Afiyah Rasyad
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Sunyi menyergap diri
Dada kian bergemuruh
Mata berkuah
Napas menderu
Hasrat merintih
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/17/mendekap-hampa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Warga Bantu Warga, Negara Bantu Pengusaha?
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S (Tim Redaksi NarasiPost.Com & Aktivis Muslimah dan Penulis Buku)
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Pandemi di negeri ini kian mencekam. Bagaimana tidak, hampir dua tahun negeri ini didekap pandemi, angka kasusnya bukannya melandai malah kian menanjak tak terkendali. Sebagaimana dirilis oleh Menteri Kesehatan pada Kamis sore (15/7/2021) bahwa total kasus positif Covid-19 di Indonesia sebanyak 2.726.803 kasus, dari jumlah tersebut dinyatakan sebanyak 2.176.412 jiwa sembuh, sementara yang meninggal dunia sebanyak 70.192 jiwa.
Adapun yang lebih mencekam di tengah gelombang 2 pandemi ini adalah ancaman kolapsnya dunia kesehatan menghadapi pandemi. Betapa tidak, hampir seluruh rumah sakit rujukan Covid-19 di berbagai daerah penuh sesak oleh pasien. Akibatnya, terpaksa pihak rumah sakit harus menolak beberapa pasien, karena ketidaksediaan tempat tidur serta keterbatasan jumlah dokter dan nakes. Betapa tidak, mereka sebagai garda terdepan penanganan Covid-19 banyak yang akhirnya tumbang, ikut terpapar Covid, kelelahan karena jam kerja yang tanpa jeda, atau bahkan meninggal dunia. Dunia kesehatan juga dihadapkan pada krisis tabung oksigen, sehingga penanganan pasien Covid-19 menjadi terhambat. Tak sedikit yang akhirnya berakhir pada kematian.
Dari situlah akhirnya muncul seruan warga bantu warga, artinya masyarakat diseru untuk saling membantu dengan sesamanya, khususnya mereka yang terpapar Covid-19. Dari spirit itu jugalah, muncul gerakan inisiatif di tengah masyarakat sebagai relawan #WargaBantuWarga. Gerakan ini merupakan gabungan dari beberapa komunitas di tanah air, yang mereka membantu dalam hal pendataan, edukasi warga lewat konten yang meluruskan hoax, dan lain-lain.
Tak hanya itu, di beberapa daerah bahkan warga bahu membahu membuat dapur umum demi membantu para warga yang sedang menjalani isolasi mandiri akibat terpapar Covid-19. Sebagaimana yang dilansir AntaraNews.com (14-07-2021) bahwa di masa PPKM Darurat ini beberapa komunitas warga di Karet, Semanggi, Jaksel berinisiatif membuat Dapur Umum Peduli Covid-19 demi membantu warga yang sedang isoman di wilayah Jabodetabek. Sebanyak 2000 nasi bungkus disiapkan setiap harinya di dapur umum tersebut.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/21/warga-bantu-warga-negara-bantu-pengusaha/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Keniscayaan Penegakan Hukum yang Adil di Dalam Islam
Oleh. Putri Bunda Harisa
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Jagat raya negeri ini kembali dihebohkan oleh pemberitaan tertangkapnya sepasang suami istri publik figur yang terjerat kasus penyalahgunaan narkotika. Pasangan tersebut, sebut saja NR dan AR, terpaksa harus diamankan pihak kepolisian lantaran ditemukan barang bukti penggunaan narkoba berjenis shabu.
Kasus pasangan suami istri publik figur ini menambah daftar panjang publik figur yang menjadi pecandu narkoba dan tertangkap basah oleh pihak berwajib. Sedikitnya sejak awal tahun 2021 terdapat sepuluh publik figur yang tertangkap akibat menyandang gelar pecandu dan pemakai narkoba. Tentu saja fenomena ini begitu memprihatinkan, terlebih mereka adalah sosok yang kini banyak diidolakan dan ditiru gerak-geriknya oleh masyarakat. Dan ulah buruk mereka akan memberian dampak negatif bagi masyarakat.
Publik Figur Papan Atas Terjerat Kasus, Bagaimana Proses Hukum Terhadap Mereka?
Kasus tertangkapnya pasangan suami istri publik figur papan atas tersebut tidak hanya menyita perhatian masyarakat dari sisi dampak negatifnya, tetapi masyarakat pun terfokus pada sanksi yang akan diterima mereka. Apakah mereka akan menjalankan proses hukum yang seadil-adilnya atau justru mendapatkan angin segar berupa perlakuan istimewa dari kasus yang sedang mereka alami?
Seperti yang dilansir dari kompas.com, mengacu kepada Pasal 54 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 yang mengatur bahwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis. Sehingga pengacara NR dan AR berencana akan mengajukan asesmen atau penelitian lebih dalam terkait posisi mereka, sehingga dapat mengajukan permohonan rehabilitasi dalam waktu dekat.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/24/keniscayaan-penegakan-hukum-yang-adil-di-dalam-islam/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Butuh Kepemimpinan Islam dalam Menangani Pandemi
Oleh. Ummu Zhafira
Voice Over Talent : Fani Ratu
NarasiPost.Com-“Ya Allah, siapa yang diberi amanah untuk mengurus urusan umatku sekecil apa pun, lalu memberatkan mereka, maka beratkanlah dia. Dan siapa saja yang diberi amanah mengurus urusan umatku sekecil apa pun, kemudian dia bersikap penuh kasih sayang kepada mereka, maka kasihilah dia.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Sebuah do’a yang dilisankan oleh Rasulullah Saw. ini mestinya cukup untuk membuat para penguasa negeri berpikir ulang dalam mengurus urusan rakyatnya. Ketidakjelasan kebijakan menangani pandemi menjadi bukti kegagalan penguasa dalam mengemban amanah.
Budiman pun memprediksi kemungkinan terburuk masih akan terjadi beberapa waktu ke depan. Ia menyarankan agar PPKM darurat diperpanjang untuk menghindari skenario terburuk, yakni kasus puncak tidak bergeser di akhir Juli. Bahkan jumlah infeksi bisa terjadi lebih dari 100 ribu. (CnbcIndonesia.com, 15/07/2021)
Sejak awal pandemi muncul, pemangku kebijakan negeri ini seolah mengabaikannya. Menganggapnya remeh seakan-akan Indonesia tak akan terdampak oleh wabah yang berasal dari Wuhan, Cina tersebut. Konyolnya beberapa dari mereka membuat lelucon menanggapi persoalan yang pada waktu itu sudah dinyatakan sebagai pandemi. Kegagapan menangani pandemi ini terlihat dengan inkonsistensi kebijakan yang diberlakukan. Penggantian istilah dari PSBB, PPKM Mikro, dan PPKM Darurat nyatanya tak mampu menekan laju kenaikan angka kasus infeksi. Semakin hari, justru semakin tak terkendali. PPKM diberlakukan, tetapi sektor pariwisata dibuka lebar-lebar. Pelanggar prokes dari kaum papa ditegur penuh kekerasan, tapi kaum elit bebas menjalankan prosesi pernikahan dengan berbagai kemegahan. PPKM diberlakukan di dalam negeri, tapi bandara internasional tetap dibuka tanpa peduli. Dimana letak konsistensi?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/19/butuh-kepemimpinan-islam-dalam-menangani-pandemi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Krisis Oksigen Kala Pandemi, Sungguh Mengiris Hati
Oleh Nina Marlina, A.Md
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Pandemi Covid-19 telah melumpuhkan aktivitas ekonomi, juga sistem kesehatan di seluruh dunia. Jumlah pasien terus bertambah. Begitu pula dengan korban meninggal dunia. Terlebih di Indonesia yang jumlah kasus hariannya terus meningkat. Dikutip dari CNN Indonesia (12 Juli 2021) Indonesia mencatat rekor kematian harian Covid-19 tertinggi di dunia dengan 1.007 jiwa pada Minggu (11/7). Jumlah itu menyalip India yang berada di urutan ketiga dengan 720 kasus kematian, kemudian Rusia 749, dan Brasil dengan 597 korban meninggal.
Virus Covid-19 ini menyerang sistem pernafasan manusia. Virus masuk melalui lubang hidung dan mulut, kemudian bersarang di paru-paru. Jika kondisi tubuh kurang imun, maka akan menyebabkan pengentalan bahkan darah membeku dan menyulitkan pernafasan. Akibatnya, penderita akan kekurangan oksigen.
Sebagaimana diketahui, sejumlah rumah sakit mengalami overload. Bahkan ada yang tidak menerima pasien lagi karena semua kamar sudah penuh terisi. Selain itu, rumah sakit kesulitan dalam menerima pasokan obat-obatan dan tabung oksigen. Alhasil, sebagian besar penderita Covid-19 pun melakukan isoman atau isolasi mandiri di rumahnya. Namun, mereka pun sama mengalami kesulitan memperoleh tabung oksigen.
Dikutip dari Pikiranrakyat.com, (6 Juli 2021) Gubernur Jawa Barat (Jabar), Ridwan Kamil, menyampaikan ada 8 daerah di Jabar yang saat ini mengalami krisis ketersediaan oksigen. Daerah tersebut adalah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bogor, Ciamis, Garut, Kota Bandung, Kota Bogor, dan Kota Tasikmalaya. Ridwan Kamil mengimbau masyarakat Jabar yang sedang melakukan isolasi mandiri (isoman) untuk tidak berlomba-lomba menyetok tabung oksigen. Menurutnya, kita harus mendahulukan rumah sakit yang lebih membutuhkan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/18/krisis-oksigen-kala-pandemi-sungguh-mengiris-hati/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Refleksi Setahun Wabah Corona, Urgensi Menegakkan Doa Dan Usaha
Oleh. Iranti Mantasari, BA.IR, M.Si
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Seperti yang dapat dirasakan oleh seantero negeri, pandemi yang sudah melewati “haul” pertamanya kini masih istikamah di tengah masyarakat. Sebagaimana dilansir dari CNN Indonesia, pandemi yang panjang dan melelahkan ini, per 14 Juli 2021 telah merenggut 68.219 nyawa, yang di antaranya termasuk 1.183 tenaga kesehatan serta 580 lebih alim ulama negeri. Data itu tentu bukan sekadar angka statistik, melainkan nyawa-nyawa manusia yang berkonsekuensi pada semakin banyaknya istri yang menjanda, suami yang menduda, anak yang yatim-piatu, hingga murid yang kehilangan guru tempat ilmunya disandarkan.
Masih eksisnya pandemi Covid-19 seharusnya menjadi perhatian serius bagi seluruh elemen negeri, dari hulu hingga ke hilir. Hal ini tentunya menjadi keharusan, mengingat masih banyaknya pihak yang menunjukkan ketidakpedulian untuk mengakhiri pandemi ini. Berbagai upaya sudah berusaha dilakukan untuk menghentikan laju penularan virus ini, salah satunya adalah dengan imbauan untuk melakukan doa bersama keluarga, mulai dari level RT hingga pemerintah pusat. Tentu ini adalah inisiasi yang baik, namun tetap perlu mendapatkan catatan, bila memang benar-benar mengharapkan agar pandemi segera usai.
Pemahaman yang tidak menyeluruh terkait doa akan bisa melahirkan fatalisme, yakni orang-orang yang berpasrah pada keadaan dan enggan menegakkan ikhtiar. Padahal dalam kondisi pandemi seperti hari ini, pemahaman utuh tentang penanganan wabah harus terkristalisasi di benak setiap orang, baik rakyat maupun penguasa. Pemahaman yang benar tentang penanganan wabah ini tentu datangnya dari para ahli dan pakar terkait, bukan serta-merta datang dari siapa pun yang memegang kendali kuasa.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/22/refleksi-setahun-wabah-corona-urgensi-menegakkan-doa-dan-usaha/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Lelah Dakwah Tetap Dakwah
Oleh. Putri Achmad
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Membaca tulisan dari seorang ustaz pejuang Islam kafah tentang seseorang yang terbersit keinginan untuk cuti dakwah, saya teringat suatu peristiwa belasan tahun lalu. Di sebuah masjid besar yang ternama di kota pelajar, saya janjian bertemu dengan seseorang yang hendak menyampaikan sesuatu. Sebenarnya, saya sudah dapat bocoran tentang apa yang akan disampaikan saudari saya itu. Ya, rehat sejenak dari aktivitas dakwah. Ia merasa cukup berat menjalankan peran sebagai mahasiswa, anak, sekaligus pengemban dakwah. Memang, jurusan yang ia masuki adalah jurusan yang banyak praktikum. Namun, apakah hal ini menjadi pemakluman sekaligus pembenaran seorang mukmin meninggalkan kewajiban dakwah?
Terlihat kegundahan di raut wajahnya saat saya mulai bertanya perihal apa yang ingin ia bicarakan. Ia tampak ragu-ragu karena mungkin ia sangat tahu benar bahwa apa yang hendak ia utarakan bukanlah sesuatu yang menyenangkan untuk didengar apalagi enak dibahas. Setelah ia mengutarakan isi hatinya tentang keinginan rehat dari dakwah, tibalah saatnya saya menanggapi. Saya coba tenang, walaupun dada ini bergejolak karena ada rasa kesal mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari lisannya. Saya sampaikan keheranan saya padanya, mengapa ia terpikir untuk menanyakan boleh tidaknya ia rehat dari dakwah kepada saya? Lha, wong status saya itu sama sepertinya. Sama-sama ditaklif kewajiban dakwah dari Allah Swt (Tuhan yang kami yakini bukan hanya sebagai Pencipta, tapi sekaligus Pengatur hidup kami). Jadi, untuk apa saudari saya meminta izin pada saya? Gusti Allah yang memerintahkan kita berdakwah, ya izinlah pada-Nya. Saya tidak punya wewenang memberi izin atau tidak mengizinkan seorang hamba Allah Swt berhenti menjalankan suatu kewajiban, meskipun berhenti sementara.
Saudari saya terdiam setelah mendengar jawaban dari saya. Jelas bingung mau jawab apa. Pertanyaan saya padanya bersifat retorik. Sama sebagaimana pertanyaanya kepada saya. Tidak perlu saya jawab karena sebenarnya ia sudah tahu jawabannya. Pernah pula saya ngobrol dengan teman satu jema’ah dakwah. Kita sama-sama sedang membahas kegiatan dakwah untuk para remaja. Ada satu orang kawan dalam tim kami yang lama merespon saat ditanya kapan bisa rapat guna membahas agenda dakwah dalam waktu dekat ini. Sebut saja, Fulanah. Teman saya berhusnudzon bahwa Fulanah mungkin sibuk, belum bisa rapat. Saya timpali saat itu bahwa dakwah yang kita lakukan ini adalah kewajiban. Posisinya sebagaimana kewajiban lainnya. Coba deh jika kita sudah paham wajibnya salat lima waktu, maka sesibuk apa pun kita pasti akan menyempatkan menunaikan salat. Tidak menunggu kita luang baru kita kerjakan salat. Begitu juga dengan dakwah, jangan dikerjakan saat kita jadi pengagguran, hehe. Yah, semua orang yang masih hidup pastinya sibuk dan paling sering menjadikan alasan ‘sibuk’ sebagai dalih tidak berdakwah. Bagi saya, selama kita hidup pasti sibuk, sibuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, baik berupa pemenuhan terhadap kebutuhan fisik atau jasmani, begitu juga untuk memenuhi kebutuhan naluri. Cuma satu manusia yang tidak sibuk, yaitu manusia yang sudah mati!
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/04/lelah-dakwah-tetap-dakwah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Hukum, Jangan Tebang Pilih!
Oleh. Ana Nazahah
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Masyarakat Indonesia kini ramai dengan berita penangkapan Nia Ramadhani (NR) dan suaminya Ardi Bakrie (AB), yang dikenal sebagai publik figur di tanah air. Pembicaraan warganet terfokus pada bagaimana negara akan memberikan sanksi. Apakah NR dan AB akan disanksi tegas atau malah hanya sebatas direhabilitasi?
Kendati Kapolres Jakarta Pusat, Kombes Hengki Haryadi, mengatakan sekalipun NR dan AB menjalani rehabilitasi, proses hukum tetap berjalan. Namun, rakyat tetap merasa harus mengawal kebijakan hukum di negeri ini agar tidak seperti pisau dapur yang tumpul ke atas, sementara tajam ke bawah.
Kekhawatiran rakyat bukan tanpa alasan, mengingat hukum tebang pilih yang sering terjadi di negeri ini. Sebut saja, seperti kasus Wisma Atlet, Hambalang, Century, dan kasus mafia pajak, serta banyak lagi. Kasus-kasus ini telah mempertontonkan ketidakadilan dan tebang pilih dalam penegakan hukum. Dan hanya mampu menyeret kalangan teri.
Rakyat tentunya berharap agar negara mampu adil dalam penegakan hukum di negeri ini. Sekalipun yang bersalah memiliki privilage atau kedudukan sosial yang lebih tinggi. Tetap saja, hukum seharusnya dihargai dan tidak mudah dibeli.
Jika hukum tak diindahkan, apalagi oleh petinggi negeri. Pun penegak hukum yang kehilangan kepercayaan umat, akibat mempermainkan hukum, maka jangan salahkan umat jika mencurigai dan bersikap apatis terhadap kebijakan yang diterapkan di negeri ini. Jika hukum tidak lagi menyelesaikan masalah, dan malah menimbulkan masalah baru berupa ketidak-adilan, bukankah kita wajib curiga. Bisa saja yang bermasalah bukan hanya penegak hukumnya, namun juga sistem hukum itu sendiri?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/19/hukum-jangan-tebang-pilih/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed