
Sign up to save your podcasts
Or


Laa Tahzan, Allah Bersamamu, Kawan
Oleh : Miladiah al Qibthiyah
Voice Over Talent : Fani Ratu
NarasiPost.Com-Hello, Guys. Kita sering kali mendengar kalimat ‘Laa tahzan, Allah bersama kita’, bukan? Kalian tahu tidak, awal mula kalimat itu diucapkan oleh siapa hingga akhirnya viral sampai sekarang?
Kalau kalian pernah mendengar kisah Rasulullah dan sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shidiq, mereka pernah bersama di Gua Hira. Saat itulah, kalimat ‘Laa tahzan innallaha ma’ana’ terucap dari lisan nabi kita, Muhammad saw.
Pada saat itu, orang-orang kafir sedang mengejar dan mengepung untuk membunuh Rasulullah dan Abu Bakar. Lalu, Abu Bakar sangat bersedih dan ketakutan, Guys. Maka, Rasulullah dengan sifat dan pribadinya yang tenang dan penuh keyakinan mengatakan kepada Abu Bakar, “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.“
Ini nasihat dan pelajaran berharga buat kita semua. Kalau ada Allah, kenapa harus takut dan bersedih? Kisah Rasulullah dan Abu Bakar ini mengajarkan pada kita untuk tetap tenang dan tegar ketika menghadapi berbagai macam masalah kehidupan. Kita harus mempunyai keyakinan seratus persen pada Allah bahwa tidak akan ada yang bisa mengalahkan kita, terlebih di hadapan musuh umat Islam. Selain itu, keyakinan yang kuat pada Allah akan membuat kita berada jauh dari jalan yang sesat serta tidak mudah putus asa.
Guys, keimanan dan keyakinan penuh pada Allah akan mengantarkan kita pada kemenangan dan kesuksesan. Lihat saja bagaimana perjuangan Rasulullah dan para sahabat yang memenangkan medan dakwah. Keyakinan mereka menapaki jalan dakwah yang terjal, penuh bebatuan dan kerikil, tidak membuat langkah mereka surut. Akan tetapi, semakin membuat mereka gigih demi menjemput kemenangan Islam yang akan diraih oleh kaum muslimin. Bukan karena mudahnya urusan dakwah ini, lantas membuat Rasulullah dan para sahabat yakin bisa memenangkannya. Akan tetapi, mereka yakin ada Allah bersama mereka. Karena itu, segala urusan dakwah dan kaum muslimin menjadi mudah dikerjakan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/18/laa-tahzan-allah-bersamamu-kawan/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Keadilan dalam Timbangan Kapitalis
Oleh. Dyah Rini
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Salah satu misi peradilan adalah memberi pelayanan hukum yang berkeadilan kepada pencari keadilan. Misi peradilan itu kini teruji kembali. Pasalnya pesakitan yang akan dihadapkan di depan hakim adalah pasangan jetset. Akankah rumor hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas hanya isapan jempol saja, atau benar nyata adanya?
Kasus penyalahgunaan narkoba kali ini membelit artis Nia Ramadani dan suaminya Ardi Bakrie serta sopir pribadinya ZN. (7/7/2021). Banyak pihak meragukan proses hukum yang adil dan transparan, salah satunya datang dari artis Nikita Mirzani(NM)
NM menilai ada kesan mengistimewakan penanganan kasus narkoba yang menimpa pasangan artis dan pengusaha ini. Pasalnya, saat Kabid Humas Polda Metro Jaya, Yusri Yunus menggelar rilis, ketiganya tidak terlihat batang hidungnya. “Lagi tes rambut” ujar Yusri Yunus. Seperti dikutip Grid.id dalam rilis yang digelar di polres Metro Jakarta Pusat(8/7/2021)
Sangkaan NM ditepis oleh Kapolres Jakarta Pusat Kombes Hengki Haryadi. Pihaknya memiliki alasan tak menghadirkan Nia & Ardi saat pertama kali. Menurutnya, penyidik masih mengumpulkan semua bukti dan meminta keterangan kepada para tersangka. ” kami menunggu,karena kami nunggu komplet/lengkap penyidikan. Sehingga kita akan tampilkan para tersangka itu. “ujarnya
Kombes Hengki Haryadi juga menegaskan bahwa proses hukum akan tetap berlanjut,
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/21/keadilan-dalam-timbangan-kapitalis/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Syiar Islam Tercegat PPKM Darurat
Oleh: Nur Jamilah, S.Pd.I.
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Lonjakan kasus positif Covid-19 semakin sporadis, bahkan dalam sehari kasus positif harian bisa mencapai lebih dari 38.000 kasus dan 1000 kasus kematian covid. Kondisi yang semakin tak terkendali ini membuat pemerintah kembali memberlakukan pembatasan dengan istilah PPKM (Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Darurat. Namun keefektifannya kembali dipertanyakan, tersebab inkonsistensi dan kontradiksi aturannya. Sebut saja aturan penutupan tempat ibadah termasuk masjid, sementara kegiatan konstruksi diizinkan berjalan 100 persen. Alih-alih menjadi solusi, justru ini menimbulkan kontroversi dan sentimen beragama serta meningkatkan social distrust masyarakat kepada pemerintah.
Dilansir dari www.pangandaran.pikiran-rakyat.com (01/07/2021) bahwa Luhut Binsar Panjaitan yang menjabat sebagai Menko Kemaritiman dan Investasi sekaligus Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) telah resmi menetapkan kebijakan bahwa Indonesia menerapkan kembali PPKM Darurat selama rentang waktu 3-20 Juli 2021. Salah satu aturannya yakni menutup beberapa sarana publik dan sektor pekerjaan, termasuk penutupan rumah ibadah. Sedangkan kegiatan konstruksi diizinkan tetap beroperasi 100 persen dengan menerapkan prokes yang lebih ketat.
Kementerian Agama (Kemenag) telah menetapkan dan mengeluarkan surat edaran resmi terkait peniadaan salat Iduladha 1442 H di masjid maupun di lapangan terbuka; pelarangan aktivitas takbiran menyambut Iduladha 1442 H, takbiran hanya diperkenankan dilakukan di rumah masing-masing; pembatasan aktivitas penyembelihan hewan kurban di tempat terbuka, hanya menghadirkan pihak yang melakukan kurban sebagai saksi dan daging sembelihan diantar ke rumah masing-masing. Semua itu dilakukan, dengan anggapan berbagai aktivitas itu dapat menimbulkan kerumunan pada zona yang diberlakukan PPKM Darurat. (liputan6.com, 02/07/2021)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/17/syiar-islam-tercegat-ppkm-darurat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
(Jangan) Menyerah!
Oleh : Messy Ikhsan
Voice Over Talent : Fani Ratu
NarasiPost.Com-Hello, Guys! Pasti pusing sekali, ya, dengan segala problem hidup yang datang silih berganti, dari himpitan ekonomi hingga pandemi yang semakin meninggi. Seolah-olah, problem ini tidak pernah berhenti untuk menghampiri diri. Lelah, letih, dan beragam rasa mengeluh membelenggu di dada. Bahkan, tak jarang sebagian orang memilih untuk mengakhiri hidup karena tak sanggup memenuhi tuntutan kehidupan yang menggila. Astagfirullah!
Ada juga yang merasa, kenapa hidupku seperti ini saja, jauh sekali dari ekspetasi dan angan yang diharapkan? Kenapa hidup orang lain bisa bertabur kebahagiaan dan kesenangan? Apa diri ini tak pantas mencicipi kenikmatan duniawi? Ah, Allah sungguh tak adil!
Mungkin hal itu pernah terjadi pada aku, kamu, dan semua orang yang ada di luar sana. Acapkali bibir mungil ini merangkai kalimat mengeluh, membandingkan diri dengan orang lain. Bahkan, tak jarang menganggap Allah tak adil dalam melukis takdir kehidupan. Kenapa terjadi kesenjangan antara manusia satu dengan yang lainnya? Kenapa kebahagiaan dan kesenangan tidak dibagi rata pada semua orang?
Semakin hari, terasa lelah menghadapi problem yang ada. Seolah-olah hidup ini hanya untuk masalah, masalah, dan masalah. Tak ada celah bahagia yang mengudara. Mungkin kita merasa tersesat dan bingung mau mengambil keputusan terhadap beragam pilihan sehingga hanya terbesit satu kalimat, “Ya sudah, aku ingin menyerah saja!”
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/17/jangan-menyerah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Selamatkan Perempuan dari Kejahatan Kapitalisme
Oleh. Miliani Ahmad
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Kondisi mengerikan terus saja dirasakan kaum perempuan dalam peradaban kapitalisme. Tak hanya menjadi objek eksploitasi secara fisik, psikis perempuan pun kerap mengalami gejolak. Saat ini, di tengah kehidupan yang memisahkan agama dari kehidupan, perempuan kerap terintimidasi oleh berbagai tindakan kejahatan. Bayang-bayang hilangnya rasa aman terus saja menghantui kehidupan mereka. Tak hanya bagi mereka, tapi juga menjadi kekhawatiran bagi pihak-pihak yang memiliki amanah untuk menjaga mereka, seperti suami atau pun orang tua.
Setiap saat, pemberitaan media kerap menggambarkan kejahatan yang dialami oleh perempuan, mulai dari kasus pemerkosaan, pelecehan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga kasus pembunuhan. Mirisnya lagi, kasus-kasus kejahatan tersebut menimpa perempuan dari berbagai latar belakang dan tingkatan umur yang berbeda. Tak terkecuali juga menimpa anak-anak perempuan.
Dalam perkembangannya, kasus kejahatan yang dihadapi oleh perempuan saat ini tak lagi dilakukan oleh orang-orang yang tak dikenal. Banyak di antara kasus-kasus yang ada, orang-orang terdekatlah yang melakukan kejahatan tersebut. Misal kasus ayah yang memperkosa anak kandungnya sendiri, suami yang melakukan kekerasan terhadap istri, paman yang mencabuli keponakan dan sebagainya.
Tentu hal ini menjadi kekhawatiran semua pihak. Apalagi kejahatan yang mengintai perempuan saat ini lebih dilatari oleh seksualitas. Data Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) di ranah publik atau komunitas dari mitra layanan pada Catatan Tahunan (Catahu) tahun 2020 lalu menyebutkan kejahatan kekerasan seksual merupakan kasus yang paling menonjol. Dengan total 962 kasus yang terdiri atas kekerasan seksual lain sebanyak 371 kasus, pemerkosaan 229 kasus, lalu pencabulan dengan 166 kasus, pelecehan seksual yang mencapai 181 kasus, dan percobaan perkosaan dengan total 10 kasus. (komnasperempuan.go.id)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/18/selamatkan-perempuan-dari-kejahatan-kapitalisme/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Punya Bekal Apa untuk Pulang?
Oleh: Sherly Agustina, M.Ag.
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Suatu hari Imam Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya, lalu ia bertanya pada mereka,” apa yang paling dekat dengan kita di dunia ini?”. Jawaban murid-muridnya: Orang tua, guru, teman, kerabat. Kemudian sang Imam berkata: Semua jawaban kalian benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah Mati. Sebab janji Allah dalam Al-Qur’an:
“Setiap bernyawa pasti akan mati”. (TQS. Al-Imran:185).
Akhir-akhir ini banyak berita duka, di antaranya orang saleh dan para ulama yang luar biasa. Kesedihan karena musibah pandemi belum usai, ditambah dengan kesedihan kabar duka. Umat Islam sedang diuji dan kondisi ini seharusnya menjadi renungan. Ya, merenung atas apa yang telah kita lakukan di dunia.
Apakah selama di dunia banyak mengerjakan amal saleh atau sebaliknya? Apakah selama di dunia sibuk berdakwah atau tidak? Apakah selama di dunia melaksanakan kewajiban dari Allah atau terlena dengan yang mubah, subhat bahkan keharaman?
Kepergian ulama merupakan musibah yang besar dan tak bisa ditambal, begitu sabda Nabi Saw:
“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tidak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tidak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang ulama” (HR. al-Thabrani dalam Mujam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda’).
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/20/punya-bekal-apa-untuk-pulang/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Vaksin Individual Berbayar, Dilema bagi Rakyat
Oleh. Rahmiani. Tiflen, Skep
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Entah apa yang ada di benak para penguasa. Di tengah badai pandemi saat ini, sebuah keputusan telah dibuat, yakni adanya vaksin berbayar yang lebih dikenal dengan istilah Vaksin Gotong Royong (VGR).
Hal tersebut disampaikan oleh Staf Khusus Menteri BUMN, Arya Sinulingga, melalui laman resmi harian Republika.co.id. Dikatakannya bahwa pemerintah mulai Senin (12/07/21) akan mengadakan program Vaksin berbayar atau yang lebih dikenal dengan istilah Vaksin Gotong Royong (VGR). Pelaksanaan vaksinasi berbayar ini pun didukung oleh Kimia Farma dan Bio Farma. Kegiatan ini merupakan sebuah alternatif lain guna mempercepat pelaksanaan vaksinasi nasional. Demi menciptakan herd immunity atau kekebalan kelompok. Kendati demikian, vaksin gratis tetap didadakan. (Republika.co.id, 12/07/21)
Sementara itu, anggota Komisi IX DPR, Saleh Partaonan Daulay, ikut mengomentari rencana penjualan VGR. Saleh mengatakan, “Komisi IX DPR selama ini belum pernah mendengar secara langsung soal rencana penjualan vaksin melalui Kimia Farma.”
Sebagaimana diketahui bersama bahwa pemberian VGR C-19 berbayar, dibutuhkan dalam dua kali dosis. Oleh karena itu, masyarakat harus merogoh kocek sebesar Rp643.320 untuk suntikan dan Rp235.820 untuk layanan atau totalnya Rp879.140.
Program ini juga sejalan dengan Peraturan Menkes nomor 19 tahun 2021, yang berarti pemerintah memang bertujuan untuk mengomersialisasikan Vaksin C-19. Hal demikian turut dipertegas oleh Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, dan juga Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Katanya, program ini dibuka guna memperluas cakupan vaksinasi. Sasaran utamanya adalah warga negara asing (WNA), namun warga Indonesia pun boleh membeli. (Republika.co.id, 11/07/21)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/17/vaksin-individual-berbayar-dilema-bagi-rakyat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pontang-Panting Atasi Stunting, Islam Memberikan Jawaban
Oleh. Miliani Ahmad
Voice Over Talent : Fani R
NarasiPost.Com-Ibarat benang kusut, permasalahan demi permasalahan yang dihadapi bangsa ini tak pernah terurai dengan baik. Satu masalah belum selesai justru bertambah dengan masalah lainnya. Masalah stunting misalnya. Jauh sebelum pandemi tiba, masalah stunting merupakan problem akut yang tak pernah mendapati solusi. Kini, saat pandemi sudah berjalan belasan purnama masalah stunting kian pelik dirasakan.
Di tengah penanganan situasi Covid-19 yang menyebabkan banyaknya kerunyaman, problem stunting seakan semakin menambah deret panjang permasalahan di sektor kesehatan. Dikhawatirkan dengan kondisi seperti saat ini, penyelesaian masalah stunting kurang menjadi prioritas.
Menyikapi masalah ini, istri Gubernur Jawa Barat yang sekaligus juga sebagai ketua TP PKK Jawa Barat, Atalia Prafatya menuturkan perlunya persiapan yang matang untuk penanganan stunting ini, khususnya di masa pandemi. Hal ini disebabkan karena permasalahan stunting sangat berkaitan erat dengan nasib generasi ke depan. Menurutnya masyarakat perlu diedukasi tentang pentingnya problem ini. Selain itu, optimalisasi pencapaian penyelesaian masalah stunting dengan target 14% di tahun 2023 harus mampu dijalankan (www.liputan6.com, 11/07/2021).
Bukan tanpa alasan target zero new stunting di tahun 2023, sebab di Jawa Barat sendiri angka prevalensi stuntingnya masih cukup tinggi, yakni di kisaran 26,2%. Sedangkan secara nasional angka prevalensi stunting Indonesia masih sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan Global Nutrition Report di tahun 2018 lalu, dari 132 negara, angka prevalensi Indonesia berada di urutan ke-108. Sementara itu untuk kawasan Asia Tenggara, angka prevalensi stunting bangsa ini berada di urutan tertinggi kedua setelah negara Kamboja.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/17/pontang-panting-atasi-stunting-islam-memberikan-jawaban/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Komersialisasi Vaksin, Tunda atau Batal?
Oleh. Ummayyaa
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Angka sebaran Covid 19 hingga saat ini terus menanjak. Dilansir dari situs pemerintah, covid.go.id, angka sebaran di Indonesia hingga 12 juli 2021, tercatat 2.567.630 jiwa tepapar virus Covid 19. Angka ini tentu saja belum termasuk pasien yang tidak terdaftar dan melakukan isoman mandiri. Sedang untuk angka kematian tercatat 67.355 jiwa. Hal ini tentu menyebabkan keresahan di masyaraat, terlebih ketika masuknya varian baru ke Indonesia yang menjadi penyebab melonjaknya penderita Covid 19
Sampai saat ini, pemerintah pun tidak tinggal diam. Berbagai kebijakan dikeluarkan, baik berupa kebijakan teknis maupun praktis. Tercatat pemerintah mengambil kebijakan PSBB, Perpu Covid 19, herd immunity, pembentukan komite penanganan Covid 19 dan kebijakan terkini, yakni PPKM.
Tidak hanya itu, guna memutus rantai penularan dan meningkatkan imunitas warga negaranya, pemerintah pun melakukan vaksinasi dengan target awal adalah para ASN, manula, dan para pekerja. Rupanya pemerintah bersungguh sungguh untuk men-gol-kan agenda ini. Hal ini bisa terlihat dengan adanya target 1 juta vaksin sehari, yang dibantu TNI dan Polri.
Namun, belakangan pemerintah mengeluarkan Permenkes Nomor 19 Tahun 2021 yang merupakan revisi dari Permenkes Nomor 10/2021 yang mengatur adanya vaksinasi gotong royong untuk vaksinasi mandiri dengan beban biaya alias vaksin berbayar. Vaksin berbayar ini bisa diakses di Kimia Farma mulai 12 juli 2021 dengan mendaftar online dan mendatangi gerai klinik Kimia Farma yang telah ditunjuk untuk mendapatkan pelayanan vaksin. Beragam vaksin yang dapat diakses dengan layanan ini adalah Novavax, Sinopharm, Sputnik V, dan Moderna. Sedangkan di lansir dari detik.com, harga untuk vaksin dipatok Rp321.660 per dosis sementara tarif maksimal pelayanan vaksinasi sebesar Rp117.910 per dosis. Total yang harus dikeluarkan masyarakat untuk vaksinasi penuh adalah sekitar Rp879.140.
Bagaimana awal mula adanya vaksin berbayar?Seperti yang diberitakan oleh kontan.com, munculnya vaksin gotong royong ini berawal dari pertemuan antara Presiden RI, Ketua Kadin Perkasa Roeslani, dan para pengusaha dengan ide awal vaksin mandiri yang kemudian disepakati untuk mengadakan vaksin gotong royong dengan melibatkan pengusaha sebagai penanggung biaya vaksin untuk karyawannya. Sedangkan di luar karyawan, akan diarahkan untuk melakukan vaksin mandiri. Langkah ini senada dengan keinginan presiden RI yang menginginkan percepatan Herd Immunity.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/17/komersialisasi-vaksin-tunda-atau-batal/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pajak dan Jalan Panjang Rakyat Menuju Sejahtera
Oleh: Aina Syahidah
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Hidup di zaman kapitalis membuat rakyat harus bersiap dengan sederet kebijakan yang menggigit. Tak ada ruang gratis, semua lini bernilai materi. Rakyat diseret untuk hidup bak the haves tapi faktanya mereka membawa tirani ekonomi yang ganas. Kemiskinan dan ketidaksejahteraan menemani di sepanjang jalan.
Belum lama ini tersebar wacana kebijakan baru dari para pemangku kebijakan, sembako dan pendidikan akan dikenai PPN. Hal ini tertuang dalam draf revisi Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). (cnnindonesia.com, 12/06.2021)
Tak ayal, kebijakan yang konon masih dalam tahap ‘rencana’ ini membuat sejumlah kalangan meradang. Mukhamad Misbakhun seorang Anggota DPR RI mengkritisi kebijakan baru pemerintah ini, pihaknya menyebut, kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan, merupakan pilar penentu kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, keberadaan ketiga komponen ini dijamin oleh konstitusi, dimana negara dengan sekuat tenaga harus mengupayakannya, guna menciptakan kesejahteraan atas segenap rakyatnya. Menarik pajak atasnya tentu akan berpengaruh dengan kualitas pangan juga sumber daya manusia kita ke depan. (antaranews.com, 12/06/2021)
Ya, saat ini saja, negara kita telah masuk dalam salah satu daftar negara dengan index kelaparan tertinggi. Bagaimana jika sektor asassiyah (pokok) masyarakat dikenai biaya tambahan? Tidakkah kondisinya semakin mempersulit?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/29/pajak-dan-jalan-panjang-rakyat-menuju-sejahtera/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed