
Sign up to save your podcasts
Or


Di atas Sajadah Panjang ini
Oleh: Miladiah al-Qibthiyah
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh dari mereka. Inilah yang dijanjikan kepadamu, yaitu kepada setiap hamba yang selalu kembali kepada Allah lagi memelihara semua peraturan-peraturan-Nya, yaitu orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan olehnya dan dia datang dengan hati yang bertobat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Q.S. Qaf: 31-35)
Sahabat, begitu besar limpahan karunia dan kasih sayang yang telah Allah berikan kepada kita. Kalau saja kita menyadari bahwa dunia ini adalah sebuah ladang bertabur pahala, niscaya kita akan menanaminya dengan segala bentuk kebaikan. Kita pun tahu alam semesta ini berselimutkan rahmat dan ampunan-Nya. Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk mengejar dan memperoleh rida dan cinta-Nya.
Ketahuilah jarak antara kita dengan Rabbul ‘Izzati begitu dekat. Nyaris tidak ada tabir pemisah jika saja kita menjadi sebaik-baik hamba yang senantiasa mengukuhkan iman dan meningkatkan takwa kita pada Allah Swt.
Allah berikan kita kesempatan hidup lebih lama di dunia. Ini seharusnya menjadi momentum bagi kita untuk hanya berserah diri pada-Nya. Momentum agar kita senantiasa hanya bersandar pada-Nya. Hal itu sebagai sarana untuk muhasabah dan mengevaluasi diri.
Ketahuilah sahabat, Allah adalah sebaik-baik ruang untuk berbenah dan melayakkan diri meraih gelar sebaik-baik hamba dengan predikat takwa yang tinggi. Mari bertanya pada diri. Sudahkah kita melakukan kewajiban kita sebagai hamba? Ataukah kita justru mengabaikan hak Allah?
Sahabat, di hadapanmu telah terbentang sajadah tempatmu bermunajat lima kali dalam sehari. Bahkan, Allah mengangkat derajatmu dengan memberi waktu bersimpuh di hadapan-Nya di sepertiga malam. Untuk apa? Allah hanya ingin kau jadikan Dia satu-satunya tempat meluapkan segala kepenatan dunia.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/13/di-atas-sajadah-panjang-ini/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pendidikan Seks Dini, Racun Manis Berbalut Edukasi
Oleh. Misnawati
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Dunia maya dihebohkan oleh pengakuan seorang artis yang menemani buah hatinya menonton video porno, bukannya melarang malah membiarkan dan menemaninya menonton. Mirisnya, ia tak merasa malu dan tabu.
Dikutip dari detiknews.com, (26/06/2021), artis Yuni Shara menyampaikan pendapatnya pada wawancara bersama Venna Melinda yang akhirnya viral. Ia tidak mau menjadi orang tua kolot dan ingin berpikiran terbuka. Apalagi saat ini ada berbagai macam konten porno bisa diakses dan disaksikan anak-anak. Ia juga menilai pendidikan seks dini itu penting, karena sebagai orang tua ia sadar tak bisa 24 jam menjaga mereka.
Tentu pendapat ini mendapat respon pro dan kontra di masyarakat tak terkecuali dari Ketua KPAI, Susanto. Dikutip dari detiknews.com, (26/06/20121), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan,
KPAI mengingatkan, orang tua harus berhati-hati dalam mendidik anak-anaknya, orang tua tetap memperhatikan etika perlindungan anak. Menonton konten porno meskipun ditemani, tetap tidak dibenarkan karena memiliki dampak buruk. Tidak sepatutnya orang tua memfasilitasi, apalagi mendorong orang tua lain meniru cara tersebut.
Pendidikan Seks Liberal ala Barat
Program pendidikan seksual global merupakan agenda Barat. Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB menginginkan setiap negara di dunia menerapkan pendidikan seksual komprehensif termasuk Indonesia. Rekomendasi ini berdasarkan pada kajian terbaru Global Education Monitoring (GEM) Report, UNESCO. Dalam kajian itu GEM Report mendapati 15 juta anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun setiap tahunnya secara global. Sekitar 16 juta anak berusia 15-19 tahun dan satu juta anak perempuan di bawah 15 tahun melahirkan tiap tahunnya di dunia. (cnnindonesia.com, 14/06/19)
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/10/pendidikan-seks-dini-racun-manis-berbalut-edukasi/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pedofilia Beraksi, Islam Beri Solusi
Oleh Ummu Fahri
Voice Over Talent : Ummu Fahri
Dunia pendidikan kembali tercoreng akibat ulah oknum pengasuh pondok pesantren di Kabupaten Solok- Sumatera Barat. Ia di duga telah menyodomi sejumlah santri. Namun belum sempat aparat menyergap. MS sang pelaku terlanjur kabur setelah orangtua korban melaporkan aksi bejatnya. Dilansir dari detikNews.comPerbuatan MS terungkap usai orang tua salah satu korban curiga melihat anaknya sakit, saat buang air besar. Setelah diinterogasi, lalu orangtua korban pun langsung membuat laporan pada pihak berwajib. Selang beberapa minggu sebelumnya, kasus pelecehan anak didik yang dilakukan oleh seorang guru pun terjadi di Kota Padang panjang-Sumatera barat.
Untuk membungkus kelakuan bejatnya. Ia memberikan pemahaman yang salah tentang bagaimana meningkatkan kepercayaan diri pada muridnya. Sebagai modus mendekati korban dan untuk melakukan pelecehan seksual kepada anak belasan tahun tersebut. Beruntung pelaku aksi menjijikan itu terciduk polisi, berkat laporan orangtua korban. Hal ini terungkap setelah pelaku yang diduga gay itu melakukan aksi amoralnya kepada puluhan siswa. Namun, ibarat fenomena gunung es. korban yang melapor bisa dihitung dengan jari. Sedangkan sisanya masih banyak lagi korban yang enggan melaporkan. Kebanyakan dari mereka ada yang mengaku trauma, takut dan malu untuk mengungkap peristiwa ini.
Apabila institusi berbalut pendidikan Islam saja sudah begini? Lalu Kemana lagi para orang tua menitipkan anak-anak mereka, jika para pendidiknya yang seharusnya jadi teladan malah sedemikian bejat perilakunya? Miris memang melihat fenomena kasus pelecehan seksual terhadap anak terjadi disekitar kita. Kemudian Pertanyaannya, bagaimana peran negara ? Guys.. beberapa waktu lalu, pemerintah telah menetapkan kebijakan melalui peraturan pemerintah nomor 70 tahun 2020 tentang sangsi hukuman kebiri kimia.
Namun sayangnya, hal itu tidak memberikan efek jera bagi para pedofilia apalagi menghentikannya malah yang ada predator anak ini semakin merajalela . Jika ditanya seberapa efektifkah sangsi hukuman kebiri kimia ini?
Fakta membuktikan, di beberapa negara Eropa seperti di Inggris, Republik Ceko dan Jerman mengakui kalau kebiri kimia beresiko tinggi terhadap kesehatan dan menganggap praktik tersebut sebagai perlakuan tak manusiawi. Hal ini pun turut diamini oleh para pegiat HAM. Dengan memberi kecaman keras terhadap hukuman kebiri yang dianggap sebagai penyiksaan terhadap manusia.
Lalu bagaimana dengan pandangan Islam? Maraknya kasus pelecehan seksual terhadap anak ini, Tidak terlepas dari penerapan sistem kehidupan yang serba bebas. Kini masyarakat tidak lagi memperhatikan norma-norma, serta agama yang melingkupi kita. Selain itu lemahnya kontrol masyarakat juga semakin membuat para pedofilia leluasa dalam melancarkan aksinya. Inilah yang menjadi penyebab utama Kondisi pelecehan seksual yang semakin menjamur.
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Bijak Bertindak Hadapi Covid yang Melonjak
Oleh: Pahriati, S.Si.
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Sejak akhir Juni lalu, kasus Covid-19 di Indonesia mengalami lonjakan tajam. Rata-rata kasus positif melebihi angka 20.000 orang per hari, bahkan tembus angka 30.000. Pada 5 Juli 2021, Kementerian Kesehatan RI melaporkan ada 31.189 kasus positif baru dengan kematian bertambah 728 orang.
Kondisi ini tentu mengkhawatirkan. Rumah sakit (RS) mulai kewalahan. Kapasitas IGD dan ICU sudah tak mencukupi. Sebagian terpaksa mendirikan tenda darurat di halaman RS. Sebagian lagi terpaksa menolak masuknya pasien baru. Akhirnya beberapa pasien harus isolasi mandiri (isoman) di rumah dengan fasilitas seadanya.
Kelompok pemerhati perkembangan COVID-19 di Indonesia, Lapor Covid-19, menyampaikan sudah ada 269 pasien isoman yang meninggal dunia di luar fasilitas kesehatan (faskes). Baik di rumah ataupun saat di antrean IGD RS. Kematian ini terjadi hanya selama sebulan belakangan, dan mungkin akan terus bertambah. Ini menandakan faskes di Indonesia sudah kolaps menghadapi pandemi. (News.detik.com, 3/7/2021)
Selain kekurangan faskes, kondisi tenaga kesehatan (nakes) juga mengkhawatirkan. Sudah ratusan yang gugur dalam tugas. Angka itu terus bertambah seiring wabah yang mengganas. Apa yang dikhawatirkan kini benar-benar terjadi. Negeri ini tak siap dengan lonjakan kasus yang kian tinggi.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/13/bijak-bertindak-hadapi-covid-yang-melonjak/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Milenial Limited Edition
Oleh : Messy Ikhsan
Voice Over Talent : Fani Ratu
NarasiPost.Com-Guys, maju dan mundur suatu bangsa, terletak pada maju dan mundur karakter generasi mudanya, loh. Bagaimana mungkin, suatu bangsa akan sukses meraih impian, tatkala dipegang oleh milenal yang rapuh dan plin-plan, jauh dari kata bijaksana? Kehidupan milenial yang seperti air mengalir, manut pada mayoritas, padahal belum tentu mereka yang banyak itu benar, tentu tidak bisa diharapkan.
Lihatlah penampakan milenial saat ini! Mereka mengumbar aurat, hura-hura, menari-nari tidak karuan, hidup bebas, pro sistem kufur, dan lain-lain. Sebagian besar mereka sudah terpengaruh virus hedonisme dan liberalisme, tanpa memperhatikan rambu-rambu syariat.
Hanya sebagian kecil milenial yang melek dengan fakta dan kondisi yang ada. Ada yang taat pada Allah dengan melakukan segala perintah-Nya, tetapi hanya lingkup individu saja. Sayangnya, mereka sibuk memperbaiki kondisi diri sendiri, hingga lupa memperbaiki kondisi umat yang kian bobrok. Banyak yang menganggap Islam agama sempurna, tetapi tidak mengambil syariat Allah sebagai solusi kehidupan. Milenial seperti itu juga tak kalah berbahaya, loh, Guys. Kok bisa, ya?
Milenial Religius VS Milenial Ideologis
Dewasa ini, generasi milenial berbondong-bondong untuk hijrah dan berusaha memperbaiki diri. Mereka mengubah bentuk pakaian, perkataan, dan perbuatan, agar sesuai dengan standar Islam. Mereka sibuk melakukan ibadah sunah, setelah yang wajib terpenuhi dengan baik. Sayangnya, mereka hanya menganggap Islam sebagai agama dan ritual belaka, bukan aturan yang sempurna untuk mengurusi kehidupan manusia.
Pemikiran sekuler yang lahir dari rahim kapitalisme adalah biang masalah dalam kehidupan. Mereka memisahkan aturan agama dari aktivitas sehari-hari, menganggap agama hanya seputar ritual dan akhlak semata, sehingga lahirlah fenomena milenial religius ini, yang hanya baik untuk diri sendiri saja. Padahal, baik secara invidu saja tak cukup, kalau tidak didukung dengan sistem yang baik pula (Islam).
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/28/milenial-limited-edition/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Saatnya Pemimpin Dunia Islam Bersatu Tegakkan Syariah dan Khilafah
Oleh: Miladiah al-Qibthiyah
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Karut-marut penanganan pandemi Covid-19 telah menyita perhatian dunia. Wabah coronavirus yang berlangsung kurang dari dua tahun ini rupanya belum memberikan tanda akan berakhir. Penyebaran virus corona kian hari kian bertambah secara global. Hal ini diperparah dengan kondisi 5 negara dengan kasus Covid-19 tertinggi, salah satunya adalah kasus baru di Malaysia pecah rekor selama dua hari berturut-turut.
Berdasarkan data Worldometers hingga Minggu (11/072021) pagi, total kasus Covid-19 di dunia terkonfirmasi sebanyak 187.235.846 (187 juta) kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 171.219.070 (171 juta) pasien telah sembuh, dan 4.042.145 orang meninggal dunia. Selain itu, mengacu pada Pembaruan Epidemiologis Mingguan Tentang Covid-19 yang WHO rilis Selasa (6/7) lalu, kasus baru virus corona global naik 3% di pekan terakhir Juni menjadi 2,68 juta infeksi dibanding minggu sebelumnya.
Demikian parahnya. Kasus Covid-19 di Indonesia rupanya tak kalah mencengangkan. Negeri yang merupakan salah satu mayoritas muslim terbesar ini masuk ke dalam lima besar negara dengan kasus tertinggi di dunia pada periode 28 Juni-4 Juli lalu. Kembali memecah rekor dunia, Indonesia memimpin pertambahan Covid-19 pada Kamis (8/7/2021). Indonesia memiliki kontribusi sekitar 20% dengan 38.391 kasus baru.
Betapa situasi dunia telah berada diambang kehancuran. Seiring dengan meledaknya kasus pertambahan Covid-19 di berbagai penjuru telah memberi sinyal kuat bahwa sebuah peradaban yang menjadi kiblat negara-negara di dunia tak mampu menyelesaikan persoalan pandemi. Bagaimana tidak? Langkah penyelesaian wabah coronavirus bukannya memberi angin segar, tetapi justru perlahan membawa pada matinya nafas kehidupan.
Kemunculan coronavirus sejak awal di Wuhan yang kemudian ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO, hingga merebak di berbagai belahan dunia sepatutnya menjadi jalan menuju aktivitas muhasabah secara global. Sayangnya, situasi pandemi di mata sebagian penduduk bumi dianggap sebagai sebuah konspirasi. Di sinilah urgensitas keberadaan perisai sebagai satu-satunya tempat berlindung dari segala bentuk kejahilan. Akhirnya muncul sebuah pertanyaan, mampukah sang perisai diwujudkan di tengah karut- marutnya situasi dunia?
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/13/saatnya-pemimpin-dunia-islam-bersatu-tegakkan-syariah-dan-khilafah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Kisah Sebelumnya
Oleh: Avissa Marsha
Voice Over Talent : Dewi F & Giriyani
NarasiPost.Com-Sinar ujung dunia menyapa, diiringi semilir angin yang menyapu jalanan. Aspal abu dengan pohon rindang menjadi khas kota ini. Dulu menjadi lautan api sekarang berubah lautan kebahagiaan. Aku berjalan dengan kedua temanku, menggendong tas sambil menyapa teman-teman ramah. Belum banyak mobil yang lalu lalang, padahal matahari sudah mulai berderang.
Si cerewet Eunyi sudah mulai berkhotbah, membahas Anwar yang selalu memakai jaket. Nampak Anwar yang menutupi wajahnya dengan tudung tebal, enggan menyerang Eunyi.
Di ujung jalan Soekarno Hatta, terdapat gedung putih dengan tiang bendera berkarat. Siswa berseragam putih abu segera memasuki kelas sebelum lonceng berbunyi.
Aku berdiri memberi salam lalu kembali duduk di atas kursi tua. Guru di depan mulai menerangkan materi, semuanya terlihat sangat normal sampai pulang sekolah.
Matahari sudah benar benar-benar terik saat aku keluar kelas. Banyak siswa yang menunggu jemputannya di depan pagar. Mobil angkot sudah berjejer paralel, memanggil siswa untuk naik.
Angga tidak terlihat keluar dari kelasnya, padahal ini sudah lewat lima menit.
“Kamana si Angga? Aku kesel kesel banget. Dia telat melulu,” gerutu Eunyi di depan pintu angkot terakhir.
“Neng, jadi naik, gak?” tanya kondektur angkot.
“Maaf, Pak, masih nunggu satu orang lagi,” jawab si Eunyi.
Akhirnya Angga menampakkan batang hidungnya sambil berlari cepat di antara kerumunan siswa. Tanpa sengaja, Angga menabrak kakek tua buta yang memegang tongkat penuntun. Tabrakan itu cukup keras sampai tongkat si kakek terlempar jauh.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/29/kisah-sebelumnya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Ilusi Pembebasan Palestina Tanpa Junnah
Oleh. Rengganis Santika A,STP
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Akhirnya Benyamin Netanyahu lengser setelah 12 tahun berkuasa sebagai Perdana Menteri Israel. Rekam jejak arogansi dan karakter agresornya terhadap Palestina memastikan wajah bengis Israel yang melekat kuat di benak kaum muslimin. Namun jangan bernafas lega dulu. Kekuasaan Netanyahu boleh usai, wajah boleh berubah, namun penggantinya tak kalah bengis dan kontroversial. Naftali Bennet yang resmi menjadi perdana mentri baru merupakan didikan Benyamin Netanyahu, bahkan dia dinilai banyak kalangan akan lebih keras daripada rezim Netanyahu. Dan diprediksi kondisi Palestina tidak akan berubah bahkan mungkin akan lebih buruk.
Seruan kewaspadaan dilontarkan sebuah lembaga atau komunitas bernama Aqsa Working Group (AWG) yang menyampaikan bahwa zionis apartheid baru saja mendapatkan pemimpin baru, sosok yang dikenal kontroversial. Seorang rasis, ekstremis radikal Yahudi dari Partai Yamina, yakni Naftali Bennett yang menggantikan Netanyahu. (IHRAM.CO.ID, JAKARTA).
Bahkan Ketua Presidium AWG, Anshorullah, mengingatkan pendukung Bennet telah menghina agama Islam dan melakukan seruan rasis serta mengancam rakyat Palestina. Aksi provokatif itu dilindungi oleh polisi dan tentara apartheid Israel bahkan difasilitasi. AWG juga menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat yang peduli pada nilai-nilai kemanusiaan untuk memenuhi timeline media sosialnya dengan seruan, “Bebaskan Al Aqsa, Bela Palestina, Allahu Akbar!”
Seruan tersebut patut diapresiasi agar menjadi kewaspadaan bagi seluruh kaum muslimin, sebab masalah Palestina bukan hanya masalah internal Palestina atau bangsa Arab, namun juga masalah kaum muslimin di seluruh dunia. Kemudian muncul pertanyaan, apakah mungkin Palestina dapat dibebaskan secara nyata dan hakiki? Mengingat semua solusi yang ditawarkan demokrasi dan nasionalisme saat ini terbukti gagal. Diplomasi, perjanjian damai, boikot produk Israel, gencatan senjata, peran para pemimpin muslim, OKI (Organisasi Konferensi Islam), apalagi PBB, semua nihil! Donasi kemanusiaan yang terus mengalir memang tak salah, namun tak menyentuh akar masalahnya dan membuat konflik makin berlarut.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/12/ilusi-pembebasan-palestina-tanpa-junnah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Sejuta Manfaat Bunga Rosella
Oleh. Hana Annisa Afriliani, (Tim Redaksi NarasiPost.com)
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Mendengar kata bunga, mungkin yang terbayang adalah keindahan bentuk dan warnanya. Maka, kerap kali bunga dijadikan hiasan di pekarangan rumah bahkan di dalam rumah. Namun, lain halnya dengan bunga Rosella. Bunga yang memiliki nama Latin Hibiscus sabdariffa ini, tak hanya cantik dengan warna merahnya yang memukau, namun juga memiliki sejuta manfaat bagi kesehatan tubuh kita.
Ya, bunga yang berasal dari benua Afrika ini memang dapat dikonsumsi. Kandungan vitamin di dalamnya cukup lengkap, di antaranya vitamin C, vitamin B3 (niasin), dan vitamin B9 (folat). Dengan kandungan vitamin tersebut, bunga Rosella bersifat antiinflamasi dan antibakteri sehingga efektif untuk mengatasi peradangan dan infeksi, serta meningkatkan imunitas tubuh.
Tak hanya itu, kandungan berbagai jenis mineral seperti zat besi, kalsium, seng, natrium, fosfor, magnesium, dan kalium juga terkandung di dalam bunga Rosella. Rosella juga mengandung antioksidan, seperti flavonoid, antosianin, dan polifenol, sehingga dapat mencegah kanker, menangkal radikal bebas, mencegah penuaan. Adapun manfaat Rosella yang paling populer di tengah masyarakat Indonesia adalah sebagai penurun tekanan darah tinggi (hipertensi).
Jika di negara asalnya, Afrika, bunga Rosella kerap diolah menjadi selai. Di Indonesia, Rosella banyak dijual dalam bentuk teh atau masih berupa bunga yang sudah keringkan. Cara mengonsumsinya cukup mudah, tinggal menyeduhnya dengan air panas, Teh Rosella pun siap dinikmati, bisa dicampur dengan madu atau original dengan rasa asamnya.
Dan bagi yang sedang menjalani program diet, mengonsumsi teh Rosella bisa jadi pilihan tepat. Karena teh Rosella juga dapat membantu menurunkan berat badan. Sebabnya Rosella dapat menghambat produksi amilase sehingga dapat menurunkan penyerapan glukosa dan pati. Jika penyerapan glukosa dan pati mengalami penurunan, maka dapat menurunkan asupan kalori pada tubuh dan pada akhirnya bisa mengurangi berat badan.
Dengan sejuta manfaat yang terkandung dalam bunga Rosella, banyak orang yang menjadikannya sebagai konsumsi harian, pengganti teh melati atau teh hijau yang biasa diminum.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/30/sejuta-manfaat-bunga-rosella/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Aroma Kezaliman di Negeri Mati Rasa
Oleh. Uqie Nai
Voice Over Talent : Dewi F
NarasiPost.Com-“Akan datang di akhir zaman nanti para penguasa yang memerintah dengan sewenang-wenang, para pembantunya (menteri-menterinya) fasik, para hakimnya pengkhianat, dan para ahli hukum Islam pendusta. Sehingga, siapa saja di antara kalian yang mendapati zaman itu, maka sungguh kalian jangan menjadi pemungut cukai, tangan kanan penguasa dan polisi.” (HR. At-Thabarani)
Hadis Rasulullah di atas adalah gambaran nyata hari ini. Suatu zaman dimana rasa keadilan semakin mahal, terus tergerus hawa nafsu dalam aturan manusia. Jerat pidana mudah dijatuhkan jika penguasa berkehendak atau sebaliknya, lolos dari hukum pun tak sulit dilakukan sekiranya penguasa meminta. Inilah realita tebang pilih keadilan di negeri ‘mati rasa.’
Kezaliman dalam Wujud Putusan Hukum
Bermula dari tuduhan menyebarkan berita bohong hasil swab Covid-19 dan telah membuat keonaran di tengah masyarakat, vonis 4 tahun penjara akhirnya dijatuhkan pengadilan untuk Habib Riziq Shihab (HRS). Banyak kalangan mengklaim putusan ini tak masuk akal dan telah melukai rasa keadilan. Tokoh intelektual muslim, Ustaz Ismail Yusanto atau yang biasa disapa Ustaz Is, mengatakan putusan tersebut adalah tindakan pemaksaan dan bentuk kezaliman. Menurutnya, seseorang yang mengatakan dirinya sehat tak bisa serta-merta dinyatakan berbohong dan bisa terjerat pidana. Pun dengan adanya aksi damai, karangan bunga serta komentar-komentar netizen di medsos tak bisa pula dikatakan sebagai bentuk keonaran yang berimplikasi kepada hukum.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/04/aroma-kezaliman-di-negeri-mati-rasa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed