Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Islam Melindungi Generasi Muslim dari Paparan Liberalisme

    Islam Melindungi Generasi Muslim dari Paparan Liberalisme

    Oleh. Putri Bunda Harisa

    Voice Over Talent : Yeni M

    NarasiPost.Com-Beberapa waktu lalu masyarakat dihebohkan dengan pernyataan salah satu publik figur papan atas di negeri ini. Bagaimana tidak? Ia menyampaikan pandangannya terkait gaya asuh terhadap anak-anaknya, dengan dalih tidak ingin dikatakan sebagai orang tua yang kolot dan ingin memberikan pembelajaran seks bagi buah hatinya, maka publik figur tersebut membolehkan anak-anaknya untuk mengakses konten-konten porno.

    Sontak saja pernyataannya mendapat reaksi beragam dari masyarakat. Salah satunya dari Susanto, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Seperti yang dilansir detik.com, Susanto mengatakan bahwa konten porno adalah konten berbahaya dan memiliki dampak negatif yang serius bagi tumbuh kembang anak. Masih kata Susanto, bahwa konten porno juga tidak boleh ditonton oleh anak-anak, meskipun diawasi atau ditemani orang tua, karena konten porno memiliki dampak buruk bagi anak.

    Adapun dampak buruk yang akan dialami anak-anak saat ia terbiasa mengakses konten porno adalah adanya kecanduan, berusaha mencoba dan meniru, merusak mental, hingga menyebabkan kerusakan otak pada anak sehingga dapat berakibat fatal pada masa depannya. Na’udzubillahi mindzalik


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/09/islam-melindungi-generasi-muslim-dari-paparan-liberalisme/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Menulis karena Terbiasa

    Menulis karena Terbiasa

    Oleh. Mila Sari

    (Penulis, Pendidik Generasi dan Member Akademi Kreatif)

    Voice Over Talent : Fani Ratu

    NarasiPost.Com-Aktivitas menulis tidak bisa dikatakan aktivitas yang mudah, namun tidak pula bisa dikatakan sebagai aktivitas yang sukar. Namun pada dasarnya, setiap kita bisa melakukannya dan bahkan secara berkesinambungan. Terlepas apakah bermula dari menulis di buku harian, memo, ringkasan pelajaran, alur suatu pembahasan, skripsi, tesis, jurnal, opini, puisi, cerpen, novel dan lain sebagainya. Intinya tak ada di antara kita yang tidak pernah melakukan aktivitas menulis sama sekali. Lalu, apakah aktivitas menulis yang kita lakukan itu sulit?

    Terkadang, bukan aktifitas menulis yang sulit bila tulisan tersebut adalah tulisan yang penting yang akan disidangkan di meja persidangan, seperti tulisan hasil penelitian atau tulisan opini yang membutuhkan fakta yang mendalam, analisa tepat dan solusi yang solutif, tapi yang sulit dari semua ragam tulisan itu adalah memulai untuk melakukan aktivitas menulis itu sendiri. Itu faktor kesukaran yang pertama.

    Adapun faktor kesukaran yang kedua dalam aktivitas menulis adalah adanya tuntutan untuk utuhnya pemahaman kita terkait tulisan yang kita angkat. Sehingga tulisan itu dapat kita pertanggungjawabkan, karena tidak mungkin kita sendiri tidak paham dengan apa yang kita tulis. Terlebih bila tulisan ini adalah jenis tulisan yang butuh kepada pembuktian kebenaran, seperti jenis tulisan riset atau penelitian ilmiah lainnya, termasuk tulisan opini salah satunya.

    Dalam tulisan opini pun demikian, ada alur tulisan yang saling terkait antara satu unsur dengan unsur yang lainnya. Dimana tidak boleh ada satu unsur pun yang terlewat, seperti fakta, analisa, dan solusi. Seorang penulis hendaknya mengangkat fakta yang benar-benar ia pahami secara utuh, seperti keabsahan sebuah fakta, kredibel, up date, viral dan segala unsur lainnya yang dibutuhkan dalam sebuah fakta. Semata agar penyajian fakta yang disajikan oleh penulis dapat pula sampai kepada pembaca dengan baik dan benar.

    Sebab analisa yang tepat hanya akan dapat diperoleh dari ketepatan fakta yang disajikan pula, sehingga kritik dan saran yang membangun terhadap suatu fakta dapat pula diraih. Dengan begini, kita tidak hanya menyampaikan permasalahan kepada pembaca, namun juga dapat memberikan gambaran seperti apa yang harus dilakukan dalam menyikapi fakta tersebut.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/09/menulis-karena-terbiasa/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Panic Buying Mencuat (lagi), Dimanakah Peran Negara?

    Panic Buying Mencuat (lagi), Dimanakah Peran Negara?

    Oleh: Nur Jamilah, S.Pd.I.

    (Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice Over Talent : Dewi F

    NarasiPost.Com-Melonjaknya kasus Covid-19 membuat fasilitas kesehatan kolaps. Pasien yang semakin membludak setiap harinya tidak berbanding lurus dengan fasilitas kesehatan yang justru menurun, bahkan nyaris langka. Bila sebelumnya masker dan APD stoknya nyaris hilang di pasaran, bila pun ada harganya selangit, sekarang giliran oksigen menjadi the most wanted item. Hal tersebut menimbulkan panic buying, anggota masyarakat saling berebut mendapatkan komoditas yang diinginkan. Para produsen dan kartel ikut bermain harga dari barang yang diproduksinya. Mengapa hal ini terus berulang? Lantas dimanakah peran negara dalam mengatasi hal ini?

    Sejumlah rumah sakit di Indonesia melaporkan mulai kesulitan pasokan oksigen saat pasien Covid-19 terus bertambah. Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, meminta masyarakat yang menjalani isolasi mandiri tidak berbondong-bondong membeli tabung oksigen untuk persediaan. Dia mengingatkan saat ini pasien Covid-19 yang bergejala sedang dan berat di rumah sakit lebih membutuhkan tabung oksigen. Sebelumnya, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan selama ini produksi oksigen sebanyak 75 persen untuk industri, sementara 25 persen untuk medis. Saat ini, ia telah mengimbau kepada produsen oksigen agar ada konversi oksigen medis menjadi 90 persen dari total produksi. Selain itu, ada masalah lain yakni distribusi oksigen yang lambat dan belum merata. Untuk mengantisipasi kelangkaan gas oksigen, pemerintah pun berencana untuk melakukan impor. Sudah ada empat perusahaan asing telah dibidik pemerintah. (www.liputan6.com, 05/07/2021)

    Indonesia kembali memberikan 2.000 unit tabung oksigen ke India untuk membantu korban Covid-19 di sana. Ini merupakan pengiriman tahap ketiga melengkapi komitmen hibah kemanusiaan Indonesia kepada India di tengah pandemi Covid-19. Indonesia sebelumnya mengirim 1.400 unit tabung oksigen yang diterima oleh IRCS Mumbai pada 8 Juni dan 200 konsentrator oksigen yang tiba di New Delhi pada 12 Mei lalu. (www.cnnindonesia.com, 28/06/2021)


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/12/panic-buying-mencuat-lagi-dimanakah-peran-negara/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Liberalisasi Seksual: Arus Global Racuni Muslim

    Liberalisasi Seksual: Arus Global Racuni Muslim

    Oleh. Udia Salsa

    Voice Over Talent : Yeni M

    NarasiPost.Com-Liberalisasi seksual sedang gencar-gencarnya diadaptasi oleh negeri ini. Mengapa? Tentu saja karena luasnya konten media sosial yang mempromosikan hal tersebut. Pendidikan seksual dibuat menjadi dalih untuk meliberalisasi diri dengan cara menonton konten porno, menyelami pergaulan bebas dan bahkan bertoleransi pada LGBT.

    Kata liberalisasi menurut KBBI adalah proses untuk menerapkan paham liberal dalam kehidupan (tata negara dan ekonomi). Liberasasi seksual adalah paham liberal tentang edukasi seksual. Istilah ini banyak disalahartikan dengan menerapkan pendidikan tentang seksual ke anak sejak dini. Penerapan pendidikan seksual ini banyak dihadirkan melalui tontonan film, sinetron anak dengan dibumbui hal-hal yang belum semestinya dicerna oleh anak seusia mereka. Selain itu, media sosial yang minim filter bagi anak di bawah umur dan imbasnya bisa dilihat di sekitar kita dimana banyak anak-anak yang sudah melakukan aktivitas percintaan seperti pacaran layaknya orang dewasa.

    Dilansir dari CNN Indonesia (14/06/2021), pendidikan seksual ini sudah diumumkan oleh UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa) untuk diterapkan secara komperehensif. Dengan ini, pendidikan seksual akan dimulai sejak anak berusia 5 tahun, yakni dengan mempelajari bagian tubuh yang tidak disentuh orang lain, hubungan sosial, serta perilaku yang baik. Sayangnya, hal ini banyak yang disalahartikan oleh masyarakat.

    Liberalisasi Seksual, Apakah Solusi?

    Dengan diterapkannya pendidikan seksual di seluruh dunia, muncullah liberalisasi seksual sebagai solusinya. Liberalisasi seksual ini memiliki penyimpangan besar yang terbungkus dengan rapi. Masyarakat saat ini mengagungkan liberalisasi seksual karena menurut mereka cara inilah yang bisa mengedukasi putra putrinya untuk tidak terjebak pada hal-hal yang tidak diingankan ketika berhubungan dengan penyimpangan seksual. Dengan kata lain, liberalisasi seksual membuat generasi muda memiliki pemikiran yang menyimpang, contohnya pemahaman LGBT, pemahaman kesetaraan gender dan pergaulan bebas lainnya.

    Pergaulan bebas di zaman sekarang sudah menjadi hal yang sangat biasa. Bahkan mirisnya, bila seseorang enggan mengikuti tren ini maka dia dianggap orang yang tidak kekinian (modern). Banyak orang tua yang memperbolehkan anaknya melihat hal-hal porno yang tidak semestinya dilihat, bahkan sampai ada orang tua yang menemani anaknya menonton hal tersebut. Hal ini tentu saja didasarkan pada pendidikan seksual yang liberal. Sungguh lucu negeri ini.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/08/liberalisasi-seksual-arus-global-racuni-muslim/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Masih Muda, Belum Waktunya Tobat?

    Masih Muda, Belum Waktunya Tobat?

    Oleh: Bedoon Essem

    Voice Over Talent  : Fani Ratu

    NarasiPost.Com-Hey gaes, yang masih merasa muda. Apa kabar imanmu hari ini? Apakah kamu masih merasa akan hidup lama, hingga kamu merasa belum waktunya mendekat kepada Pencipta? Kamu merasa mati itu bagi yang tua, hingga kamu merasa aman-aman saja?

    Hey kamu, iya kamu generasi millenial yang merasa masih unyu-unyu, yang masih menganggap cinta adalah segalanya. Kamu yang masih bucin pada idolamu. Yang dengan suka rela jadi Army para idol Korea. Yang sampai rela merogoh kocek yang fantastis, hanya demi bisa beli foto mereka yang ada dibungkus makanan. Masihkah dirimu merasa itu bukan hal yang sia-sia? Bagimu itukah bukti cinta dan sah-sah saja?

    Sob, tahukah kamu, bahwa dunia ini tak lama? Masa mudamu juga tak lama bahkan hanya sekejap mata. Semua yang ada di dunia ini akan sirna. Maka akan sangat rugi jika kamu habiskan untuk hal yang sia-sia. Lihatlah teman, betapa banyak orang muda mati tak berdaya. Pasti kamu juga pernah mengalami orang terdekatmu meninggal bukan?

    Padahal dia masih muda, teman sekelasmu, teman kongkowmu, teman berantemmu, mereka masih muda tapi mati juga. Ada yang meninggal karena sakit, karena pandemi ini, ada yang lagi tawuran, atau ada yang lagi nge- fly terus kebablasan tak balik lagi. Tak jarang juga itu terjadi di depan mata kita, mereka pergi di dalam pelukan kita.

    Sob, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, pernah bersabda, “Cukuplah kematian itu sebagai nasihat.” (HR al-Thabrani, al-Baihaqi).

    Dengan melihat kematian di depan mata, dengan seringnya kita mendengar kabar duka, seharusnya itu sudah cukup buat kita untuk berbalik arah dari jalan hidup kita yang jauh dari aturan agama, menuju ketaatan. Nah ini penting banget nih sob, apalagi dalam masa pandemi seperti sekarang ini harusnya menjadi timing yang tepat untuk kita mendekat kepada-Nya.

    Mulai deh kita jauhi tuh hura-hura, kongkow kita bersama teman-teman.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/07/masih-muda-belum-waktunya-tobat/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    4 min
  • Sengkarut Dana dalam Sistem Semaput

    Sengkarut Dana dalam Sistem Semaput

    Oleh: Uqie Nai

    (Alumni Branding for Writer)

    Voice Over Talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Di tengah hiruk-pikuk penanganan wabah yang tak kunjung usai, masyarakat ketar-ketir dengan kehidupan yang semakin getir. Terungkap fakta mencengangkan terkait dana untuk masyarakat terdampak Covid-19 ternyata salah sasaran. Fakta ini ditemukan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) dan Program Indonesia Pintar (PIP).

    Dikutip dari laman tirto.id (25/6/2021), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyatakan penyaluran Bantuan Produktif Usaha Mikro (BPUM) yang dilaksanakan Kementerian Koperasi dan UKM dalam rangka penanganan dampak Covid-19 tidak tepat sasaran. Laporan Iktisar Hasil Pemeriksaan Semester (IHPS) II Tahun 2020 BPK mencatat Rp1,18 triliun terdistribusi untuk 414.590 penerima bermasalah.
    Penyaluran dana yang tidak tepat sasaran ditemukan dalam rincian berikut: 56 penerima BPUM berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN), TNI, dan Polri; 2.413 penerima BPUM dengan NIK yang sama menerima bantuan lebih dari satu kali; 29.060 penerima BPUM bukan usaha mikro; 144.802 penerima BPUM yang sedang menerima kredit atau pinjaman perbankan; 25.912 penerima BPUM sedang menerima kredit atau pinjaman KUR; 207.771 penerima memiliki NIK yang tidak sesuai dengan database Dukcapil; dan 8.933 penerima sudah meninggal dunia.

    Tak kalah menggeramkan, BPK pun mengungkap dana tak tepat sasaran ditemukan pada pelaksanaan PIP, dan meminta Kemendikbud untuk mempertanggungjawabkannya. Menurut catatan BPK, dana bantuan PIP sebesar Rp2,86 triliun yang diberikan kepada sebanyak 5.364.986 siswa tidak tepat sasaran, karena diberikan kepada siswa yang tidak layak atau tidak diusulkan untuk menerima.

    Selain itu, ada sebanyak 2.455.174 siswa pemilik KIP dan/atau yang berasal dari keluarga peserta PKH atau KKS kehilangan kesempatan karena tidak diusulkan dalam SK penerimaan bantuan PIP. (cnbcindonesia.com, 22/6/2021)


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/10/sengkarut-dana-dalam-sistem-semaput/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • PPKM Darurat Setengah Hati, WNA Masuk Tak Terkendali

    PPKM Darurat Setengah Hati, WNA Masuk Tak Terkendali

    Oleh. Dia Dwi Arista

    Voice Over talent : Giriyani

    NarasiPost.Com-Melonjaknya kasus Covid-19 di Indonesia, menjadi indikasi bahwa gelombang kedua sudah di depan mata. Dimulai dari setelah libur lebaran, dan ditambah masifnya warga negara asing yang masuk, ditengarai menjadi sebab terbukanya gelombang kedua di Indonesia.

    Sebagaimana yang lalu, ketika terjadi lonjakan signifikan, pemerintah segera mengeluarkan jurus-jurus andalan dengan berbagai istilah. Kali ini PPKM darurat menjadi pilihan. Program baru ini mulai berlaku pada tanggal 3-20 Juli 2021 di Jawa dan Bali. Program-program yang terdapat di PPKM mikro sebelumnya di perketat pada PPKM darurat ini. Namun, di tengah usaha rakyat mematuhi aturan baru, rakyat terhianati dengan masuknya puluhan WNA asal Cina. Sebanyak 20 TKA (Tenaga Kerja Asing) dari Cina mendarat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 3 Juli 2021, tepat pada hari pertama diberlakukannya PPKM darurat dan di tengah gelombang naiknya Covid-19. (cnnindonesia.com, 4/7/2021)

    Bukan hanya kali ini, namun berkali-kali banyak warga yang menyayangkan kebijakan pemerintah. Seolah aturan yang mereka buat tak bertaji jika dibandingkan dengan kepentingan kapitalis. Semua hal bisa dinegosiasikan jika berhubungan dengan para pemodal. Negeri ini seperti tunduk di bawah kaki kapitalis.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/08/ppkm-darurat-setengah-hati-wna-masuk-tak-terkendali/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Tak Senikmat Merah Jambu

    Tak Senikmat Merah Jambu

    Oleh: Choirin Fitri

    Voice Over Talent : Arien S

    NarasiPost.Com-“Maaf Na, ayah tak bisa menjadi wali dalam pernikahanmu.”

    Seraut kegusaran tergambar jelas di wajah pria setengah abad itu. Sebuah beban berat akan pertanggungjawaban sebagai seorang ayah membuat sebaris kalimat yang diucapkannya terdengar bergetar. Ada nada sesal yang tak bisa digambarkan.

    “Kenapa Ayah?” Aina menatap ayahnya penuh tanya.

    Ayah yang dikenalnya  amat bertanggung jawab dan penuh cinta kasih, kini menghantamnya dengan sebuah fakta pilu, fakta yang tak pernah ia sangka, fakta yang meruntuhkan impiannya.

    Mata Aina tak berhenti menetes kala cerita demi cerita kedua orang tuanya di masa lalu terdengar pilu. Wanita perkasa yang rela meregang nyawa agar ia bisa melihat dunia dan mendidiknya itu memeluk Aina erat sambil berlinang air mata. Suaranya bergetar.

    “Maafkan kami, Nak! Nafsu atas nama cinta sesaat telah membutakan mata dan hati kami. Maafkan kami, Nak, atas kesalahan dan dosa besar yang telah kami lakukan.”

    Mulut Aina terkunci. Tak ada kata yang sanggup ia ucapkan. Bahkan, kata maaf yang amat ringan  diucapkan pun tak dapat ia sampaikan. Hanya mata gadis itu yang bicara. Suara isak tangis kedua wanita itu terdengar memilukan.

    Matahari sudah jauh tertelan malam. Namun, mata Aina tak bisa terpejam. Ingatannya berkelindan pada seorang laki-laki saleh yang telah meminangnya awal tahun ini. Akhir bulan ini adalah hari H yang telah ditentukan sebagai hari bahagia untuk keduanya. Akan tetapi, fakta yang terpampang di hadapannya saat ini membuat impian untuk mendampingi lelaki saleh itu seakan pudar.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/28/tak-senikmat-merah-jambu/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Kasus Pinangki, Bukti Pemberantasan Korupsi Kian Tak Bertaji

    Kasus Pinangki, Bukti Pemberantasan Korupsi Kian Tak Bertaji

    Oleh. Miliani Ahmad

    ( Kontributor Tetap NarasiPost.Com )

    Voice Over Talent : Yeni M

    NarasiPost.Com-Keadilan makin sulit dicari. Hukum semakin tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. Siapa berkuasa maka ia menentukan segalanya, sedangkan yang lemah selamanya akan menderita. Tak lagi ditemukan kepastian dalam hukum. Hukum seolah hanya milik segelintir pihak, sementara segelintir pihak lainnya kerap dijadikan korban ketidakadilan hukum. Mirisnya lagi, hukum kerap dipermainkan oleh penegak keadilan itu sendiri. Lalu, ke manakah masyarakat harus mencari keadilan jika penegak keadilan justru menjadi pelaku kezaliman?

    Kasus putusan hakim terhadap Jaksa Pinangki semakin membuktikan kenyataan tersebut. Vonis yang awalnya dijatuhkan selama 10 tahun mendadak disunat menjadi 4 tahun. Padahal Pinangki sendiri telah banyak melakukan penyelewengan terhadap kewenangannya. Namun sayang, putusan hakim berkata lain. Pinangki justru mendapatkan keistimewaan dalam amar putusan.

    Pada jejak rekamnya, setidaknya ada beberapa kejahatan yang dilakukan Pinangki selama menduduki posisi jaksa. Yaitu melakukan pencucian uang, menerima gratifikasi 500.000 USD dan melakukan pemufakatan jahat.

    Atas putusan hakim tersebut Indonesia Corruption Watch (ICW) angkat bicara. ICW menganggap alasan putusan hakim yang menyunat vonis hukuman dari 10 tahun menjadi 4 tahun penjara sebagai sebuah hal yang mengada-ada. Menurut Kurnia Ramadhana, Peneliti ICW, kejahatan yang dilakukan Pinangki jauh melampaui argumentasi majelis hakim. Dalam amar putusan, salah satu alasan mengapa hakim melakukan pemotongan vonis lebih disebabkan karena Pinangki berstatus seorang ibu dengan anak yang masih balita.

    Setali tiga uang, Riawan Tjandra, selaku Pengajar Hukum Administrasi Negara Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) juga ikut berkomentar. Ia menilai putusan hakim yang memangkas vonis Pinangki telah menjadikan posisi negara tak lagi menganggap tindak pidana korupsi sebagai kejahatan yang luar biasa (extraordinary crime). Menurutnya, negara tak lagi menganggap korupsi sebagai tindakan yang membahayakan yang dapat memunculkan kerugian sistemik dan kerugian pada hak asasi masyarakat, tuturnya pada Kompas.com, (17/06/2021).


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/04/kasus-pinangki-bukti-pemberantasan-korupsi-kian-tak-bertaji/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    13 min
  • Pajak Jadi Pendapatan Utama: Rakyat Membiayai Negara, Bukan Sebaliknya

    Pajak Jadi Pendapatan Utama: Rakyat Membiayai Negara, Bukan Sebaliknya

    Oleh: Merli Ummu Khila

    (Pemerhati Kebijakan Publik)

    Voice Over Talent : Fani Ratu

    NarasiPost.Com-“Di antara tanda sebuah negara akan hancur, semakin besar dan beragamnya pajak yang dipungut dari rakyatnya. (Ibnu Khaldun 732-808H/1332-1406M)”

    Ibarat hendak tenggelam, negara ini sedang megap-megap dan berusaha meraih apa saja demi menyelamatkan diri. Utang yang sudah menggunung, justru ditambah dengan utang baru. Belum cukup dari utang, pemerintah makin gencar memalak rakyat dengan beragam pajak dan pungutan.

    Seperti diketahui, seantero nusantara dibuat heboh oleh rencana pemerintah mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi bahan-bahan pokok atau sembako dan pendidikan.

    Rencana pengenaan tarif PPN untuk sembako tertuang dalam draf Rancangan Undang-Undang Perubahan Kelima Atas Undang-Undang Nomor 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP). Draf PPN sembako dan pendidikan ini bocor ke publik dan bergulir tak terkendali bak bola salju. Situasi makin memanas dan pemerintah terlihat kikuk untuk mengklarifikasi.

    Negara Dibiayai Rakyat Bukan Rakyat Dibiayai Negara

    Adalah sebuah kenyataan jika dalam setiap apa yang dipakai, dikonsumsi, dan dimiliki oleh rakyat tidak ada yang luput dari pungutan pajak. Setiap produk yang dikonsumsi sehari-hari, kendaraan yang dimiliki, rumah dan tanah yang ditinggali pun kena pajak. Jadi, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa saat ini faktanya negara yang dibiayai rakyat, bukan rakyat yang dibiayai negara.


    Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/30/pajak-jadi-pendapatan-utama-rakyat-membiayai-negara-bukan-sebaliknya/


    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on :

    instagram : http://instagram.com/narasipost

    Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter : Http://twitter.com/narasipost

    7 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com