
Sign up to save your podcasts
Or


Bahagia Dalam Dakwah, Sudahkah?
Oleh: Inna Ziqraini
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Para pengemban dakwah haruslah terwujud rasa bahagia dalam menjalankan hidupnya, terutama dalam aktivitas pentingnya yaitu dakwah. Bahagia saat melaksanakan dakwah disebabkan kesadarannya bahwa dakwah adalah sebuah perintah dari Rabb yang telah menciptakan dan mencintainya dengan cara mengatur serta mengurus kehidupan setiap hamba yang diciptakan-Nya, sehingga ini salah satu kewajiban yang harus dilaksanakan. Maka, hamba-Nya yang sadar terhadap bagaimana Rabbnya sangat mencintai makhluk yang diciptakan, sudah seharusnya mematuhi segala perintah-Nya sebagai wujud nyata membalas cinta Rabb semesta.
Jika seorang pengemban dakwah ditanya tentang bahagiakah perasaannya saat melakukan ativitas dakwah? namun masih terasa ragu dalam menjawab kata “Ya” atau mungkin masih terasa ada hal yang mengganjal dalam hatinya, maka pribadi tersebut teridentifikasi sebagai orang yang menyimpan luka dalam hidupnya. Luka yang telah lama disimpan tersebut akan mengganggu aktivitas dakwahnya, maka bagaimana mungkin seorang pengemban dakwah akan dapat mengobati luka seseorang yang didakwahinya jika yang menyampaikan masih menyimpan luka lama?
Bentuk luka tersebut seperti munculnya perasaan sensitif terhadap respon negatif dari objek dakwah yang sebenarnya mereka belum memiliki pemahaman utuh. Bentuk lainnya seperti rasa tidak sabar terhadap objek yang didakwahi karena belum bisa memahami atau melakukan isi dari dakwah.
Berbeda halnya dengan orang yang bahagia dalam melaksanakan aktivitas dakwah. Respon negatif yang didapat dari objek yang didakwahi akan dijadikan sebagai celah untuk mengambil pelajaran maupun hikmah, berusaha berpikir positif dan berusaha sabar melakukan semampunya.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/05/bahagia-dalam-dakwah-sudahkah/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pilih Kasih Hukuman Pinangki
Oleh: Azra Syafiya
Voice Over Talent : Yeni M
NarasiPost.Com-Indonesia selalu diklaim sebagai negara hukum. Sebagai konsekuensinya, setiap pelanggaran yang terjadi akan ditindak sesuai hukum yang telah ditetapkan. Kita semua pun tentunya hapal sila kelima yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Adil sendiri bermakna berpihak pada kebenaran dan tidak sewenang-wenang. Perlakuan adil seharusnya dipraktikkan pada semua aspek kehidupan dan pada seluruh masyarakat tanpa dibeda-bedakan. Salah satunya adalah masalah penegakkan hukum.
Kemudian jika kita berkaca kembali, apakah keadilan sosial benar sudah terwujud di negeri kita? Dari banyak berita belakangan ini semakin menguatkan anggapan bahwa “hukum tumpul ke atas dan tajam ke bawah”. Hukuman berlaku tegas pada rakyat kecil, namun sangat minim menyentuh para pemilik kekuasaan. Miris dan mengiris hati melihatnya.
Dalam beberapa pekan ini, kita pun dibuat geram lagi dengan adanya kasus Jaksa Pinangki. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi memvonis 10 tahun penjara dan denda Rp600 juta subsider 6 bulan kurungan. Namun, pengadilan Tinggi DKI Jakarta memangkas hukuman Pinangki dari 10 tahun menjadi 4 tahun. (Kompas, 24/06/2021)
Faktanya Pinangki terbukti melakukan tiga perbuatan pidana. Pertama, ia menerima suap sebesar US$500 ribu dari terpidana kasus cessie Bank Bali Djoko Tjandra. Kedua, terbukti melakukan pencucian uang senilai 375.279 dolar AS atau setara Rp5.253.905.036,00. Ketiga, terlibat permufakatan jahat dengan Djoko Tjandra. (Tempo, 25/06/21)
Menurut dosen hukum pidana Universitas Pharahyangan, Nefa Claudia Meliala, ia menuturkan bahwa seharusnya Pinangki diperberat hukumannya. Berdasarkan ketentuan pasal 52 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), jika seorang pejabat publik terbukti melakukan tindak pidana melalui jabatannya, maka hukumannya dapat ditambah sepertiga. Oleh karena itu, pertimbangan diskon hukuman karena Pinangki seorang ibu yang memiliki balita merupakan pertimbangan yang parsial, tidak memperhitungkan posisi perempuan lain sebagai korban dari tindak korupsi ini. Sangat berbeda dengan penegakkan hukum kasus Baiq Nuril, Angelina Sondakh, dan yang lainnya. Pertimbangan semacam ini bukan lagi soal gender, melainkan berpihak pada siapa yang lebih punya posisi atau jabatan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/04/pilih-kasih-hukuman-pinangki/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Bukan Cokelat
Oleh: Ana Mujianah
Voice Over Talent : Fani Ratu
NarasiPost.Com-Kantin sekolah penuh sesak. Suara siswa riuh bersahutan. Teriakan mereka cukup membuat Mang Jaja dan Bik Lastri, istrinya, kewalahan melayani. Jam istirahat yang singkat, membuat remaja berseragam putih abu-abu itu tak sabar mengantre. Belum lagi cacing-cacing di perut yang terus meronta, meminta jatah siangnya.
“Rey, gue bakso, ya!” teriak Irul.
“Gue mie ayam, Rey!” tambah Wildan dengan telunjuk teracung.
Dari bangku kantin, Reynaldi mengangkat jempol kanannya tanda setuju. Dua mangkok bakso dan mie ayam gratis buat Irul dan Wildan adalah perkara kecil. Tak ada seujung kuku uang saku Reynaldi, apalagi ditukar dengan ide mereka, kiat sukses merayakan Valentine bersama Asma. Ide yang sebenarnya pasaran. Apalagi kalau bukan setangkai mawar dan sepotong cokelat.
Jam istirahat hampir usai. Namun, Asma tak juga nampak batang hidungnya. Reynaldi mulai resah.
“Rul, mana si Asma? Dari tadi gue nggak liat dia,” tanya Reynaldi celingukan mencari gadis idaman.
“Mungkin dia bawa bekal, makan di kelas,” jawab Irul sekenanya.
“Cck … trus gimana dong?” desaknya kesal.
“Nggak sabar banget, sih, pengen ketemu Asma. Nyantai aja, Bro! Ntar pulang sekolah kita samperi di Masjid. Asma biasanya ikut kegiatan Rohis sepulang sekolah,” sahut Wildan sok bijak.
Namun, sukses membuat Reynaldi mengembangkan senyum, lega.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/29/bukan-cokelat/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pandemi Corona: Alarm Penghambaan Total pada Sang Maha Kuasa
Oleh. Miladiah al-Qibthiyah
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Wabah Covid-19 terus menyebar hingga memporak-porandakan sebagian besar wilayah dunia. Kabar berita yang sempat menggetarkan dunia adalah tsunami covid yang menerjang negara India, sehingga menyebabkan ratusan ribu kasus positif covid dalam waktu singkat.
Memang kondisi wabah kian hari kian mengerikan, tak terkecuali di Indonesia. Bagaimana tidak? Upaya masyarakat dalam melakukan 5M (Memakai masker, Mencuci tangan,Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, Membatasi interaksi) serta upaya 3T (Testing, Tracing, Treatment) oleh pemerintah, nyatanya tidak memberi perubahan signifikan dalam menekan laju penyebaran Covid-19.
Nahasnya, kabar duka datang dari sistem kesehatan Indonesia. Penanganan Covid yang terkesan lamban dan ketidakkonsistenan pemerintah dalam mengunci area wabah membuat rumah sakit kolaps, hingga tumbangnya para nakes (tenaga kesehatan).
Selain angka pertambahan kasus, dampak krisis pun kian dirasakan. Pandemi Coronavirus membawa masuk lebih dalam pada krisis multidimensi. Yang lebih parah saat ini adalah krisis pelayanan kesehatan hingga krisis kemanusiaan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/06/pandemi-corona-alarm-penghambaan-total-pada-sang-maha-kuasa/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Pendidikan Seks ala Barat : Ancaman bagi Keluarga
Oleh. Novianti
Voice Over Talent : Mels
NarasiPost.Com-Penyanyi Yuni Shara menjadi sorotan setelah wawancaranya di salah satu channel YouTube menjadi viral. Penyebabnya, terkait sikapnya yang bertentangan dengan prinsip agama karena tidak mempermasalahkan anaknya menonton video porno, bahkan justru ia ikut mendampingi.
Alasannya sulit anak-anak sekarang terhindar dari film berkonten porno. Lebih baik diizinkan dan nonton bareng daripada nonton sembunyi-sembunyi. Ini salah satu cara pendidikan seks kepada anaknya.
Pernyataan sangat mengejutkan, karena banyak para ahli sudah menyampaikan bahaya tontonan pornografi bagi perkembangan anak. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Ketua KPAI Susanto, “Konten porno itu konten berbahaya. Dampak negatifnya serius bagi tumbuh kembang anak. (solopos.com, 01/07/2021)
Pendidikan seks memang makin kerap diperbincangkan termasuk di kalangan akademisi. Seiring dengan maraknya kekerasan seksual pada remaja dan anak-anak. Berkembang pendapat, mencari formulasi tepat bagi pengajaran pendidikan seks di Indonesia.
Beberapa akademisi dan penggiat hak asasi manusia, memberikan rekomendasi merujuk pada pedoman pendidikan seks dari World Health Organisation (WHO). Pedoman yang menawarkan pendekatan berbasis hak asasi manusia. Di antaranya materi tentang persetujuan hubungan yang umumnya disebut sexual consent.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/06/pendidikan-seks-ala-barat-ancaman-bagi-keluarga/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Kezaliman Membawa Kehancuran
Voice Over Talent : Mels
NarasiPost.Com-Saat ini ketidakadilan alias kezaliman makin nyata terasa. Terjadi di mana-mana. Terjadi hampir dalam semua perkara. Dari mulai ketidakadilan/kezaliman di bidang ekonomi hingga ketidakadilan/kezaliman di bidang hukum.
Di bidang ekonomi, misalnya, selama ini sebagian besar sumber daya alam milik rakyat dikuasai oleh segelintir orang. Terutama aseng dan asing. Tentu karena dilegalkan oleh UU yang dibuat oleh rezim berkuasa. Sebaliknya, sebagian besar rakyat hanya menikmati sebagian kecilnya.
Orang-orang kaya diberi pengampunan pajak. Sebaliknya, orang-orang kecil terus dikejar-kejar tagihan pajak. Orang-orang kaya diistimewakan dengan pembebasan pajak atas mobil mewah. Sebaliknya, orang-orang kecil malah makin dibebani oleh ragam dan jenis pungutan pajak. Termasuk rencana pajak sembako. Padahal jelas, sembako adalah kebutuhan dasar rakyat. Saat ini saja, ketika daya beli masyarakat makin menurun, banyak yang kesulitan membeli sembako. Apalagi jika harga sembako naik sebagai konsekuensi pemberlakuan pajak sembako.
Yang paling kasat mata adalah ketidakadilan atau kezaliman di bidang hukum. Di dalam sistem sekular yang menerapkan hukum-hukum buatan manusia, termasuk di negeri ini, keadilan hukum menjadi semacam barang mewah. Sulit dirasakan oleh rakyat kecil dan lemah. Keadilan hukum seolah hanya milik para pejabat dan mereka yang punya duit.
Di negeri ini rakyat kecil yang mencuri benda senilai beberapa rupiah saja bisa dijerat hukuman berat. Sebaliknya, para pejabat yang punya kuasa atau mereka yang punya duit, meski mengkorupsi miliaran hingga triliunan uang rakyat, bisa bebas melenggang dari jeratan hukuman.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/02/kezaliman-membawa-kehancuran/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Ketika Anakku Bertanya
Oleh : Titin Kartini
Voice Over Talent : Arien S
NarasiPost.Com-Minggu, 13 Desember 2020 pukul 07.30, masih lekat dalam ingatan, laki-laki yang selama enam belas tahun menemaniku hanya terbujur kaku. Tangisku dan dua anakku pecah. Dada ini sesak. Dunia terasa gelap. Astagfirullah!
Kuraih ponsel untuk menghubungi salah satu ustazah pengurus pondok tempat anak sulungku menimba ilmu, memintanya untuk segera membawa anak gadisku pulang.
Berakhir sudah semua. Hampir satu bulan kami berdoa dan berikhtiar mencari kesembuhan untuk suami yang didiagnosa sakit lambung akut dan TB Meningitis, dari rumah sakit swasta ke rumah sakit pemerintah. Hal ini menyisakan kepedihan dan sakit hati. Memang bukan hal mudah mencari pengobatan di sistem kapitalis bagi rakyat yang tak beruang.
Dokter sempat mengatakan bahwa kemungkinan suami sembuh itu hanya lima puluh persen. Ia bisa sembuh, bisa meninggal, tergantung daya tahan tubuh suami. Namun, sebagai orang yang beriman, tentu kita harus berusaha semaksimal mungkin dan menyerahkan hasilnya pada Sang Pemilik hidup, Allah Swt.
Ternyata Allah Swt. mencukupkan penderitaan suami di dunia ini. Kutegarkan jiwa dan raga demi ketiga anakku. Hidup harus tetap berjalan.
Hampir satu bulan kurasakan masih seperti mimpi, berjalan seperti melayang, air mata masih terus mengalir, apalagi anak-anak masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah tiada.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/04/ketika-anakku-bertanya/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Haruskah Menikah dengan Sekufu?
Oleh : Armina Ahza
Voice Over Talent : Fani Ratu
NarasiPost.Com-Pernikahan adalah salah satu sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam. Sebagaimana yang beliau sabdakan,
“Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (di hari kiamat).” (HR. Ibnu Majah)
Oleh karenanya, yang mengaku menjadi umat Rasulullah Shallallahu’alaihi wassalam, mereka berusaha menjalankan sunnah beliau dengan menikah dan tidak berencana untuk membujang.
Menikah adalah salah satu momen indah dan penting dalam hidup. Maka tidak jarang banyak hal yang mengatur tentang prosesi pernikahan, termasuk adat istiadat daerah. Selain itu, juga mengenai kriteria pasangan yang ditetapkan. Banyak sekali opini yang berkembang, bahwa menikah harus dengan sekufu. Sekufu artinya harus setara, baik mengenai kekayaan, nasab, pendidikan, paras, dan lain sebagainya.
Lalu, bagaimanakah dengan pandangan Islam? Haruskah menikah dengan sekufu? Dalam artian, lelaki kaya harus menikah dengan perempaun kaya, lelaki anak pejabat harus menikah dengan perempuan anak pejabat pula, lelaki berpendidikan harus dengan perempuan berpendidikan, sama-sama sarjana misalnya, lelaki berparas tampan harus menikah dengan wanita cantik, langsing semampai. Benarkah demikian? Bagaimana islam memandangnya?
Mengenai kafa’ah ( sekufu, sederajat dan setara), hal ini ternyata tidak ada di dalam Islam. Selagi keduanya adalah saling rida satu sama lain, tanpa harus memandang mengenai kesekufuan, maka keduanya boleh menikah. Hal ini sesuai pendapat Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani dalam kitab Nidzomul Ijtima’y Bab Pernikahan.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/04/haruskah-menikah-dengan-sekufu/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Haruskah Menjadi Intelektual Harapan Presiden?
Oleh. Intifada Birul Umaroh
Voice Over Talent : Giriyani
NarasiPost.Com-Intelektual dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah seseorang yang memiliki kecerdasan tinggi, memiliki kesadaran terutama menyangkut pemikiran dan pemahaman. Intelektual merupakan kaum dambaan masyarakat yang sangat dinantikan masukannya dalam menyelesaikan problematika kehidupan. Namun sayangnya, penantian itu masih belum terealisasi. Kaum intelektual tampaknya akan disibukkan dengan persembahan untuk presiden dan jajarannya.
Dilansir dari mediablitar.pemikiran-rakyat.com, disampaikan langsung oleh Presiden Jokowi dalam perbincangannya bersama Mendikbudristek, terdapat lima harapan besar untuk lulusan perguruan tinggi, salah satunya adalah berdedikasi kuat untuk kemanusiaan dan kemajuan bangsa serta toleransi dalam kebinekaan. Jum’at (18/06).
Apabila bicara tentang berdedikasi kuat untuk kemanusiaan dan kemajuan bangsa, tentu menjadi harapan bagi kita semua. Tapi, ada satu watak yang butuh kita telisik lebih dalam yaitu toleransi. Karena faktanya multitafsir. Toleransi sering dijadikan dalih untuk mencampuradukkan agama satu dengan agama lain. Misalnya, atas dasar toleransi di Gereja Katedral Jakarta pada Jum’at (1/6) terdapat puluhan umat Islam berkeliling di aula gereja dan melakukan buka bersama. Adapun pada bulan Mei 2021, terdapat kelompok paduan suara nonmuslim di Masjid Istiqlal, belum lagi dengan proyek pemerintah pembangunan terowongan silaturahmi yang menghubungkan antara Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral. (merdeka.com,21/06)
Karena itu, mari kita dudukkan toleransi seperti apa yang diharapkan oleh Presiden Jokowi. Dikutip dari Kompas.com, ternyata toleransi yang dimaksud adalah sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan, termasuk keyakinan untuk tercapainya kesamaan, perdamaian dalam keberagaman. Tidak boleh ada praktik sikap keras, tertutup, eksklusif dalam beragama, melainkan harus menunaikan sesuai dengan Bhineka Tunggal Ika. Oleh karenanya, harus senantiasa ada upaya untuk mendorong moderasi beragama.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/07/04/haruskah-menjadi-intelektual-harapan-presiden/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
Jakaba, Jamur Paling Dicari Petani
Oleh. Dia Dwi Arista
Voice Over Talent : Dewi F
NarasiPost.Com-Mungkin seumur hidup, kita hanya mengenal beberapa jenis jamur. Padahal jamur mempunyai ribuan jenis di seluruh dunia. Beberapa jamur yang sering kita jumpai, bahkan dikonsumsi oleh banyak orang, misalnya jamur tiram, jamur kancing, jamur kuping dll. Namun, pernahkah mendengar Jakaba?
Jakaba adalah singkatan dari jamur keberuntungan abadi. Mungkin terdengar lucu dan hiperbola, namun untuk memeroleh jamur ini memang tergantung keberuntungan. Jamur ini terkenal di kalangan para petani organik, namun memang tidak semua petani mengenal Jakaba, apalagi yang tak berkecimpung dalam dunia pertanaman.
Jakaba termasuk bintang pendatang baru di dunia perpupukan. Jakaba ditemukan tanpa sengaja oleh petani asal Situbondo, yaitu Aba Junaidi Sahidj. Awalnya, beliau akan membuat POC (Pupuk Organik Cair) dari air bekas cucian beras. Namun, tak sengaja beliau lupa dengan air tersebut. Hingga beberapa hari kemudian, keberuntungan ia dapatkan dari hasil melupakan cairan POCnya.
Sebuah bongkahan seperti batu karang mengambang di permukaan POCnya. Pada waktu itu, Aba Junaidi mengira jamur tersebut adalah jamur patogen yang dapat merusak tanaman. Alhasil, jamur serupa batu karang tersebut ia buang. Namun air dari jamur tersebut beliau aplikasikan kepada tanaman. Tanpa diduga, tanaman yang berpenyakit tersebut berangsur pulih dan tumbuh dengan baik.
Naskah Selengkapnya : https://narasipost.com/2021/06/27/jakaba-jamur-paling-dicari-petani/
Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,
Follow us on :
instagram : http://instagram.com/narasipost
Facebook : https://www.facebook.com/narasi.post.9
Fanpage : Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/
Twitter : Http://twitter.com/narasipost
From the publisher's feed