Narasipostmedia

Narasipostmedia

By NarasipostNewsDaily News
Download on the App Store

Narasipostmedia episodes

  • Kasus Penembakan Eks PM Jepang dan Paradigma Politik Islam

    Kasus Penembakan Eks PM Jepang dan Paradigma Politik Islam

    Oleh. Miladiah al-Qibthiyah

    (Wakil RedPel NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Mimi Muthmainnah

    NarasiPost.com-Kabar duka kini datang dari Negeri Sakura. Mantan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe ditembak saat berkampanye pemilihan parlemen pada hari Jumat, 8 Juli 2022. Polisi setempat menangkap seorang pria berusia 41 tahun yang dicurigai melakukan penembakan di kota Nara, Jepang. Tak berselang lama, Kantor berita TBS Television melaporkan bahwa Abe telah ditembak di sisi kiri dadanya dan juga di leher. Berdasarkan hasil identifikasi kepolisian, tersangka penembak adalah Tetsuya Yamagami, warga Nara dan pernah bertugas di militer Jepang. (dunia.tempo.co, 08/07/2022)

    Sebagaimana yang diberitakan di banyak media, Jepang adalah negara yang mempunyai beberapa Undang-Undang (UU) pengendalian senjata paling ketat di dunia. Saking ketatnya, warga Jepang yang ingin mempunyai senjata api secara legal harus melewati proses yang panjang dan rumit. Selain harus menjalani pemeriksaan polisi secara ketat, warga juga harus mendapatkan rekomendasi dari asosiasi penembakan.

    Sangat jarang terjadi aksi penyerangan terhadap pemimpin politik atau pejabat publik di Jepang. Jika memang Jepang adalah negara dengan peraturan senjata yang ketat, lantas mengapa kasus penembakan eks PM Jepang bisa terjadi?


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/13/kasus-penembakan-eks-pm-jepang-dan-paradigma-politik-islam/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Pencabulan di Pesantren: Buah dari Sekularisme

    Pencabulan di Pesantren: Buah dari Sekularisme

    Oleh. Sri Retno Ningrum

    (Kontributor NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani SS

    NarasiPost.Com-Setelah menjadi buronan selama 6 bulan atas kasus pencabulan terhadap 5 santriwati di pondok pesantren milik ayahnya sendiri yakni Pondok Pesantren Shiddiqiyyah, Ploso, Jombang. Akhirnya, Moch Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Bechi menyerahkan diri pada Kamis, 7 Juli 2022 tengah malam. Atas tindakannya tersebut pelaku dijerat pasal 285 KUHP tentang perkosaan jo pasal 65 KUHP ancaman pidana 12 tahun, atau pasal 289 KUHP jo pasal 65 ancaman pidana 9 tahun, atau pasal 294 ayat 2 P2KP jo pasal 65 KUHK dengan ancaman pidana 7 tahun penjara. (Suara Sumsel 8/7/2022)

    Sebelumnya pernah terjadi pula kasus pencabulan di Pondok Pesantren Madani Boarding School di Cibiru Bandung, Jawa Barat terhadap 13 santriwati yang dilakukan Herry Wiarawan dan akhirnya divonis hukuman mati oleh Pengadilan Tinggi Bandung. (Republika.co.id 8/7/2022)

    Dari berbagai peristiwa kekerasan seksual di pondok pesantren sekarang ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua, khususnya anaknya yang berada di pondok pesantren. Padahal, pondok pesantren menjadi salah satu cara agar anak-anak atau generasi memiliki tsaqofah Islam yang mumpuni di tengah gempuran liberalisme yang terjadi sekarang ini.


    Naskah selengkapnya:https://narasipost.com/2022/07/20/pencabulan-di-pesantren-buah-dari-sekularisme/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Singkatnya Umur

    Singkatnya Umur

    Oleh. Bedoon Essem

    (Kontributor NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Dewi Fitriana

    NarasiPost.com-Halo sobat taat, kita tahu dong bahwa dunia itu singkat, ga lama. Jatah kita di dunia ini juga sedikit, ga banyak. Terus, apakah kita puas dengan yang sedikit dan singkat ini? Padahal kita bisa lho memperoleh sesuatu yang lebih di akhirat nanti, dengan syarat, kita harus banyak menahan diri dan bersabar di dunia yang singkat ini.

    Tentu kita pernah dengar bahwa kita hidup di dunia ini hanya sekitar 1,5 jam dalam hitungan penduduk langit. Dengan perhitungan matematika sebagai berikut, apabila 24 jam sama dengan 1000 tahun, 3 jam di akhirat sama dengan 125 tahun, dan 1,5 jam di akhirat sama dengan 62,5 tahun di dunia, sementara Rasulullah saja hanya hidup 63 tahun, Sob. Artinya umat beliau ya gak jauh-jauh amat dari umur beliau, kalaupun ada yang lebih itu adalah bonus dari Allah.

    Nah, Bestie, jika kita punya masa hidup 63 tahun, kira-kira akan kita habiskan untuk apa hidup kita itu, ya?


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/11/singkatnya-umur/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    9 min
  • Di Mana Letak Keadilan dan Jaminan Kesejahteraan WNI?

    Di Mana Letak Keadilan dan Jaminan Kesejahteraan WNI?

    Oleh. Miladiah al-Qibthiyah

    (Wakil RedPel NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.com-Penyiksaan terhadap TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di luar negeri kembali terjadi khususnya di sektor domestik. Adelina yang merupakan satu dari sekian korban kekerasan yang terus berulang rela meregang nyawa akibat kisah tragis yang dialaminya di negeri Jiran. Berbagai kasus penyiksaan yang dialami oleh buruh migran seyogianya pemerintah meninjau ulang aturan-aturan ketenagakerjaan agar berpihak kepada buruh migran, minimal berkomitmen memberikan perlindungan dan perawatan trauma kepada korban.

    Sebagaimana kasus yang dialami Adelina Lisao, sampai saat ini sang majikan rupanya dibebaskan dari kasus kematian Adelina. Bukankah ini merupakan cermin ketidakadilan?

    Melansir bbc.com, Mahkamah Persekutuan Malaysia, yang setara dengan Mahkamah Agung di Indonesia telah mengesahkan pembebasan majikan Adelina Lisao, pada Kamis (23/06). Ini menunjukkan adanya ketidakseriusan terhadap penanganan kasus kematian Adelina. Secara fakta, Adelina telah meninggal di rumah majikan dengan kondisi luka infeksi yang tak diobati akibat penyiksaan di sekujur tubuhnya. Pun berdasarkan pengakuan di persidangan, alm. tidak pernah dibawa ke dokter. Ini merupakan indikasi kuat bahwa tidak ada pihak yang bertanggung jawab atas kematian Adelina. (bbc.com, 23/06/2022)


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/10/di-mana-letak-keadilan-dan-jaminan-kesejahteraan-wni/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min
  • Luka dalam Karier

    Luka dalam Karier

    Oleh. Irsad Syamsul Ainun

    (Kontributor NarasiPost.Com dan Pegiat Literasi Suara Muslimah Cenderawasih)

    Voice over talent: Sofia Ariyani

    NarasiPost.com-Menjadi wanita karier hampir semua orang menginginkannya. Meski karier yang dimaksudkan lebih banyak dilakukan di luar rumah, namun tidak menjadi penghalang berarti bagi kaum hawa ini. Apalagi bagi penggerak juga pendukung feminisme, wanita menjadi titik sentral yang harus digerakkan untuk terjun ke dunia kerja (pekerjaan).

    Hukum bekerja bagi wanita adalah mubah. Terlebih ketika ia telah menyandang status sebagai istri. Yang mana penafkahan lahir batin menjadi tanggungan suami dan tugas wajib seorang istri adalah sebagai pengatur rumah tangga (ummu warobatul bait), pendidik bagi anak-anaknya (madrasatul ula) dan yang paling urgen adalah dia seorang pendakwah. Belajar sekaligus mengajarkannya. Apa pun profesi setiap orang baik itu wanita ataupun lelaki, dakwah adalah poros hidup mereka. Menyuarakan kebenaran di mana pun dan dalam situasi apa pun.

    Mirisnya ada kemudian pihak yang menjadikan jilbab, kerudung, dan atribut muslimah lainnya sebagai penghalang untuk berkarier. Meski di sini ditegaskan kembali karier di luar rumah bukan menjadi kewajiban bagi wanita. Akan tetapi, di zaman yang serba liberal dan sekuler saat ini membuat wanita baik itu anak-anak, remaja, dewasa, tua bahkan bayi sekalipun dijadikan bahan untuk diperbudak.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/20/luka-dalam-karier/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Sri Lanka, Membawa Pesan Bahaya

    Sri Lanka, Membawa Pesan Bahaya

    Oleh. Dewi Fitratul Hasanah

    (Pegiat Literasi dan Kontributor NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani SS

    NarasiPost.Com-Jagat media riuh memberitakan Sri Lanka. Hari itu rakyat Sri Lanka berbondong-bondong mendatangi istana. Mereka membentuk kerumunan, meneriakkan slogan-slogan dan mengibarkan bendera nasional kemudian menerobos barikade dan memasuki kompleks istana. Mereka mendesak agar Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, mengundurkan diri.

    Unjuk rasa yang luar biasa itu merupakan puncak atas protes damai di Sri Lanka selama berbulan-bulan ini. Beredar pula rekaman yang menampilkan aksi demonstran ketika memasuki istana. Ada yang menguasai kolam pribadi presiden, ada yang tengah membuka laci dan mengambil barang-barang milik presiden serta ada yang menggunakan kamar mandi mewah presiden.

    Apa yang ada di istana benar-benar merupakan gambaran

    yang kontras. Fasilitas dan kemewahan tersaji di dalamnya. Sementara, di luarnya terdapat kesengsaraan dan kepayahan hidup yang menyelimuti rakyat Sri Lanka.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/15/sri-lanka-membawa-pesan-bahaya/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    12 min
  • Karut-Marut Ibadah Haji dalam Asuhan Kapitalisme

    Karut-Marut Ibadah Haji dalam Asuhan Kapitalisme

    Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S

    (RedPel NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Dewi Fitriana

    NarasiPost.Com-Setiap umat Islam pasti rindu menjejakkan kaki di tanah Haram, yakni Makkah dan Madinah. Tak hanya karena keduanya menyimpan sejarah kehidupan Baginda Rasulullah saw dan jejak perjuangan Islam, namun juga ada jaminan kebaikan dari Allah bagi siapa saja yang mengunjungi Baitullah, yakni Ka’bah yang terletak di Kota Makkah. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Imran ayat 96 , “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

    Kemudian Rasulullah saw bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Thabrani:

    “Setiap sehari semalam Allah menurunkan seratus dua puluh rahmat atas Baitullah. Enam puluh rahmat untuk yang melakukan tawaf, empat puluh untuk yang melakukan salat, dan yang dua puluh untuk yang memandang Ka’bah.”

    Oleh karena itu, umat Islam sangat berlomba-lomba untuk dapat beribadah ke Baitullah. Hal tersebut juga merupakan salah satu dari rukun Islam. Namun, faktanya untuk berkunjung ke tanah Haram itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak hal yang harus dipersiapkan, di antaranya fisik dan finansial.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/11/karut-marut-ibadah-haji-dalam-asuhan-kapitalisme/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Ijarah dalam Islam

    Ijarah dalam Islam

    Oleh. Mariyah Zawawi

    (Tim Kontributor Tetap NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Dewi Nasjag

    NarasiPost.Com-Sebagai makhluk, manusia tidak mampu hidup sendiri. Ia selalu membutuhkan yang lainnya. Baik dalam memenuhi kebutuhan fisik maupun nalurinya. Hal ini menunjukkan betapa lemahnya dirinya.

    Di sisi yang lain, manusia mempunyai kedudukan yang berbeda-beda. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada yang pandai dan ada juga yang bodoh. Ada penjual dan ada pembeli. Masing-masing saling membutuhkan. Karena itulah, manusia akan bermuamalah dengan yang lainnya. Salah satunya dengan melakukan akad ijarah.

    Akad Ijarah

    Asal perbuatan manusia adalah terikat dengan hukum syarak. Hal ini sesuai dengan kaidah usul,

    الأصل في الأفعال التقيد بأحكام الشرع

    “Asal perbuatan adalah terikat dengan hukum syarak.”

    Demikian pula dengan ijarah. Ijarah merupakan akad atas manfaat atau jasa dengan imbalan. Sebagaimana perbuatan yang lainnya, ijarah juga terikat dengan hukum syarak. Hukum asal dari ijarah adalah mubah. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam surah Az-Zukhruf [43]: 32,


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/14/ijarah-dalam-islam/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    11 min
  • Tinta Jemari Ayah

    Tinta Jemari Ayah

    Oleh. Irsad Syamsul Ainun

    (Penulis Media Suara Muslimah Cenderawasih dan Kontributor NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Maya Rohmah

    NarasiPost.Com-Pernah mendengar ungkapan ini?

    “Hancurnya seorang putri, sama dengan hancurnya mahkota seorang raja.” (Madani)

    Sahabatku! Muslimah di mana pun berada, keberadaan seorang anak begitu didambakan, oleh mereka yang telah memutuskan menjalin pernikahan. Adakalanya menantikan dua garis yang sempurna cukup menantang adrenalin. Meski di luaran juga ada yang sampai keringat dingin dengan berharap tidak ada garis itu yang muncul pada layar. Bukan, itu bukan alat yang salah, tapi sebagian orang ada yang menunggu dengan was-was disebabkan oleh kelalaiannya dalam menjaga mahkota.

    Kemudian dari dua garis, ada yang berubah menjadi bahagia, tangis, dan haru. Dan di sisi lain ada pula yang merasakan ketakutan.

    Seiring berjalannya waktu, sosok dibalik dua garis berubah jadi rupa yang indah, mungil dan “it’s beautiful”. Jika ia laki-laki, maka berubahlah jadi sosok yang gagah. Dirawat dengan penuh cinta oleh ayah dan ibunya. Dibesarkan dengan penuh kasih sayang, bahkan ada yang sejak lahir diberi dengan fasilitas memadai.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/04/tinta-jemari-ayah/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    8 min
  • Ayumi

    Ayumi

    Oleh. Yuli Juharini

    (Kontributor NarasiPost.Com)

    Voice over talent: Giriyani SS

    NarasiPost.Com-Siang itu begitu teriknya. Matahari seakan berada di atas kepala. Ayumi melangkah gontai menuju rumahnya, melewati gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh dua orang pejalan kaki. Berjalan sambil melamun, beberapa kali kaki Ayumi terantuk batu yang tidak terlalu besar yang ada di gang itu.

    “Baru pulang, Neng?” sapa seorang ibu yang berpapasan dengannya.

    “Iya, Bu,” jawab Ayumi, mencoba tersenyum walaupun terkesan senyum itu dipaksakan.

    Akhirnya beberapa saat kemudian, sampailah Ayumi di rumahnya.

    “Assalamualaikum,” Ayumi memberi salam. Wanita paruh baya membukakan pintu seraya menjawab salam.

    “Waalaikumussalam.” Sambil tersenyum, Ayumi menyalami wanita itu yang ternyata adalah ibunya. Diciumnya telapak tangan ibunya.


    Naskah selengkapnya: https://narasipost.com/2022/07/14/ayumi/

    Terimakasih buat kalian yang sudah mendengarkan podcast ini,

    Follow us on:

    instagram: http://instagram.com/narasipost

    Facebook: https://www.facebook.com/narasi.post.9

    Fanpage: Https://www.facebook.com/pg/narasipostmedia/posts/

    Twitter: Http://twitter.com/narasipost

    10 min

About Narasipostmedia

From the publisher's feed

Audio tentang sastra, opini, surat pembaca motivasi, food dan sebagainya dari karya-karya para penulis ideologis yang naskahnya publish di media www.narasipost.com