(Taiwan, ROC) --- Hubungan bilateral Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan India kembali memanas setelah konflik berdarah antar keduanya terjadi di wilayah perbatasan akhir-akhir ini. Otoritas India berusaha memperlihatkan perlawanan mereka kepada pihak RRT. Perlawanan ini terjadi di berbagai aspek; misal ekonomi, teknologi atau mengkoordinasikan kekuatan dunia internasional.
Di lain pihak, RRT pun tidak tinggal diam. Negeri Tirai Bambu berupaya keras untuk memperluas hubungan kerja sama nya dengan negara-negara tetangga India.
Salah satunya adalah Bangladesh, yang selama ini selalu berseberangan dengan otoritas India perihal Undang-Undang Kewarganegaraan. Otoritas Beijing dinilai ingin menggunakan peluang ini untuk mengimbangi perlawanan India.
Selain memperkuat pengaruhnya atas otoritas Dhaka, pihak Negeri Tirai Bambu seakan-akan menjadikan Bangladesh sebagai medan pertempuran baru bagi geo-politik India dengan Tiongkok.
Kekecewaan Bangladesh Terhadap UU Kewarganegaraan India
Pada bulan Mei silam, konflik berdarah antar Tiongkok dengan India terjadi di wilayah perbatasan yang terpencil di Pegunungan Himalaya. Setelah peristiwa tersebut pecah, hubungan kedua negara pun terus memburuk.
Otoritas India segera mengambil langkah-langkah ekonomi dan diplomatik, termasuk memblokade perusahaan Huawei dan penggunaan aplikasi Tik Tok. Di samping itu, India juga mengkoordinasikan dukungan dunia internasional untuk melawan Tiongkok.
Di lain pihak, otoritas Beijing mulai menjalin hubungan negara-negara tetangga India yang selama ini tidak puas dengan pemerintahan India. Salah satunya adalah Bangladesh, yang kecewa terhadap pengesahan RUU Kewarganegaraan New Delhi.
Langkah Negeri Tirai Bambu tersebut, dinilai seakan-akan hendak menjadikan Bangladesh sebagai medan pertempuran baru bagi situasi geo-politik mereka dengan India.
Jalinan persahabatan antar India dengan Bangladesh sudah terjadi semenjak dahulu kala. Letak geografis yang bersebelahan, membuat rasa ketergantungan antar kedua negara terjalin kian erat.
Meskipun demikian, India dengan Bangladesh terlibat perselisihan serius perihal penggunaan sumber air Tessta. Perselisihan yang sudah terjadi semenjak dahulu ini, menjadi warna tersendiri dalam jalinan persahabatan antar kedua negara.
Namun faktanya, otoritas Dhaka telah menyatakan ketidak-puasan mereka atas perlakukan tidak adil New Delhi saat melangsungkan perjanjian perdagangan.
Apalagi India telah meloloskan RUU Kewarganegaraan pada tahun 2019 silam, membuat hubungan kedua negara kian berada di ujung tanduk.
Menilik laporan yang ditulis oleh media Jerman, DW, Bangladesh yang sebagian besar dihuni oleh penganut Muslim ini, mengecam keras atas dibentuknya UU Kewarganegaraan New Delhi. Mereka menuduh Perdana Menteri India, Narendra Modi berniat untuk memperluas paham nasionalisme Hindu yang merupakan tonggak utama dari politikus sayap kanan tersebut.
Langkah ini dinilai akan membangkitkan ketegangan umat Muslim dan Hindu antar kedua negara.
Seorang pakar di Woodrow Wilson International Center for Scholars, Michael Kugelman mengatakan, "Dengan diberlakukannya UU tersebut, otoritas Dhaka khawatir dengan lonjakan kepulangan warga mereka yang selama ini bekerja di India. Gelombang kepulangan tersebut dicemaskan dapat menimbulkan masalah baru bagi Dhaka pribadi."
"Beijing paham jelas akan keregangan antar India dengan Bangladesh. Mereka cerdik memanfaatkan peluang ini dengan menyediakan kesempatan dagang kepada Bangladesh, yang mana akan mempererat hubungan kepercayaan antar Beijing dengan Dhaka."
Masuknya Tiongkok ke Kawasan Tetangga India
India adalah negara terbesar di wilayah Asia Selatan, yang menganggap Bangladesh adalah wilayah yang sudah seharusnya berada di bawah pengaruh mereka. Kedekatan antar Beijing dengan Bangladesh baru-baru ini, tentu membuat India merasa geram.
Pada bulan April silam, perusahaan Tiongok mengalahkan India dan memenangkan proyek pembangunan terminal bandara Sylhet, dengan nilai yang fantastis, yakni US$ 250 juta. Di samping itu, semenjak bulan Agustus, Tiongkok telah menjual 97% produk asal Bangladesh.
Sebanyak 8.256 produk Bangladesh yang dipasarkan di Negeri Tirai Bambu. Dengan dimulainya hubungan perdagangan ini, Bangladesh dapat menikmati akses bebas pajak di Tiongkok.
Kedekatan antar kedua negara tersebut, secara tidak langsung akan membuat otoritas New Delhi menjadi gerah.
Selain hubungan di sektor ekonomi perdagangan, Bangladesh dengan Tiongkok juga memperkuat kerja sama pertahanan nasional mereka. Menilik dari perjanjian kerja sama yang disetujui oleh kedua negara, Beijing telah membekali Dhaka dengan berbagai perlengkapan militer, seperti tank, jet tempur dan kapal selam.
Situs berita India "The Print" mengutip pernyataan Petinggi India yang bermukim di Bangladesh, Veena Sikri menyampaikan, Tiongkok telah memperkuat pengaruhnya di kawasan Asia Selatan dan mulai mendekat kawasan-kawasan sekitar, guna mengimbangi India. Apalagi pengaruh mereka kini kian berkembang pesat."
The Print juga mengutip pernyataan seorang petinggi India yang tidak ingin disebu namanya. Ia mengatakan, tantangan dari Tiongkok akan selalu ada. Dari Nepal hingga Bangladesh, otoritas Negeri Tirai Bambu menargetkan negara-negara tetangga India.
Dengan cemas pejabat tersebut menambahkan, yang lebih mengkhawatirkan adalah Partai Komunis kini membuka jalan bagi Pakistan untuk memperkuat hubungan bilateral dengan Bangladesh.
Perkembangan hubungan bilateral antar kedua negara kerap kali diwarnai rasa permusuhan. Pihak berwenang Dhaka menuduh Pakistan telah membantai 3 juta warga Bangladesh dalam perang kemerdekaan di era tahun 1970-an.
Bangladesh, Medan Pertempuran Geo-Politik Baru Tiongkok dengan India
Selain itu, seorang peneliti di Universitas of Delhi, Mozammil Ahmad menyampaikan, konflik antara India dengan Tiongkok telah berdampak pada geo-politik di Asia Selatan. Pengaruh Bangladesh yang berada di antara keduanya akan memunculkan hubungan internasional baru di wilayah Asia Selatan.
Kebuntuan hubungan Tiongkok dengan India tidak hanya menimbulkan kekhawatiran akan putusnya hubungan bilateral kedua negara, tetapi juga membuat pemerintah Narendra Modi lebih waspada terhadap pengaruh Presiden Xi Jin-ping yang kian berkembang di Bangladesh.
Ke depannya, persaingan antar Tiongkok dan India di Bangladesh akan membuka babak pertarungan baru antar kedua negara untuk memperebutkan posisi terkuat di kawasan Asia Selatan.