Epidemi pneumonia Wuhan telah menyebar luas di berbagai provinsi di Republik Rakyat Tiongkok. Guna menekan angka penularan, otoritas setempat memutuskan untuk mengisolasi (lockdown) kota-kota Negeri Tirai Bambu. Namun pertanyaannya, apakah keputusan ini merupakan langkah yang tepat?
Stasiun kereta api Wuhan biasanya padat dikerumuni para warga yang ingin kembali ke kampung halaman merayakan liburan tahun baru Imlek. Sebenarnya, puluhan juta orang di RRT akan melakukan arus mudik terbesar sepanjang tahun sebelum perayaan Imlek tiba. Namun sayangnya, Wuhan yang merupakan kota ketujuh terbesar di RRT tersebut, dianggap sebagai sumber wabah virus korona "2019 nCoV".
Situasi di Wuhan kian mencekam, setelah otoritas setempat memutuskan untuk menutup akses keluar masuk kota. Pada tanggal 23 Januari 2020, terhitung pukul 10:00 pagi, seluruh akses transportasi dalam kota diberhentikan. Tidak ada 1 angkutan umum yang diizinkan untuk meninggalkan Kota Wuhan, begitu juga dengan akses penerbangan. Seluruh masyarakat Wuhan diimbau untuk tidak meninggalkan Kota Wuhan.
Setelah Wuhan, beberapa kota di Provinsi Hubei satu-persatu melakukan hal yang sama, yakni mengisolasi kota. Sebut saja, Ezhou, Huanggang, Chibi, Xiantao dan lain lain. Kota-kota tersebut mengumumkan untuk menutup seluruh akses transportasi umum mereka.
Namun pertanyaannya, apakah dengan mengisolasi kota saat wabah telah menyebar luas, merupakan keputusan yang tepat? Dan seberapa efektifkah langkah ini?
Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Wuhan merupakan kota terbesar ke 42 di dunia. Membuat seluruh bagian kota terisolasi, bukanlah pekerjaan yang mudah.
Kota Wuhan memiliki 20 jalan protokol, di samping lusinan jalan-jalan besar lainnya. Sekalipun telah melarang transportasi umum beroperasi, menutup seluruh jalan di Kota Wuhan dirasa tidak efisien, jika tidak disokong oleh bantuan militer yang besar.
Seorang pakar kesehatan dari The University of Sydney, Professor Adam Kamradt-Scott mengatakan, "Salah satu cara yang paling memungkinkan adalah mengerahkan Tentara Pembebasan Rakyat RRT untuk mengelilingi Kota Wuhan".
Pertanyaan berikutnya, bagaimana menentukan teritori Kota Wuhan? Layaknya kota modern lainnya, Wuhan kini telah berkembang dan berintegrasi dengan kota-kota kecil lainnya.
"Penyusunan tata kota saat ini tidak sekonvensional zaman dahulu", demikian kata Profesor Mikhail Prokopenko, saat menerima wawancara dari wartawan BBC, Owen Amos.
"Anda tidak mungkin bisa memblokir seluruh akses jalan yang ada. Sampai batas tertentu, Anda mungkin dapat merealisasikannya. Namun itu tidak mudah".
Perwakilan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk RRT, Gauden Galea, mengutarakan pendapat berikutnya.
"Sejauh yang saya tahu, upaya untuk memblokir kota dengan jumlah penduduk yang mencapai 11 juta orang, merupakan hal baru dalam bidang sains teknologi seperti saat ini", demikian tambahnya. Ia menyampaikan, terlalu pagi untuk memutuskan bahwa mengisolasi kota adalah cara yang salah.
Di samping itu, jika isolasi kota terbukti memiliki dampak positif, tetapi bukan tidak mungkin wabah virus telah keluar merambat ke kota bahkan negara lainnya.
Pada tanggal 31 Desember 2019 lalu, wabah epidemi Wuhan sebenarnya telah dilaporkan kepada pihak WHO. Namun, otoritas RRT baru mengumumkan bahwa virus ini dapat ditularkan melalui manusia, pada tanggal 21 Januari 2020.
Pada saat itu, telah ada ribuan warga yang keluar masuk ke Kota Wuhan. Hingga saat ini, penderita epidemi pneumonia Wuhan telah menyebar hingga ke negara tetangga, bahkan benua lain.
Meskipun virus ini telah menyebar ke negara lain, namun kondisi di kawasan RRT ditakutkan akan lebih mengkhawatirkan.
Jika menilik perbandingan jumlah penderita antar negara, angka di RRT jauh lebih mengenaskan. Belum lagi melihat jumlah warga yang harus tewas akibat wabah epidemi ini.
Dari seluruh penderita wabah epidemi "2019 nCoV", sebagian besar atau hampir 90% nya merupakan penduduk yang bermukim di Wuhan.
"Jika virus sudah ada di sana dan masyarakat setempat telah menyebar, maka keputusan isolasi kota Wuhan merupakan hal yang sangat terlambat", demikian kata Profesor Adam Kamradt-Scott.
Profesor Adam Kamradt-Scott menyampaikan, cara penanganan dari berbagai negara, guna menekan wabah ini dapat diapresiasi positif. Misal dengan keputusan untuk memeriksa kesehatan para penumpang yang baru saja mendarat dari Wuhan.
Masalah berikutnya adalah banyak-nya warga yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi virus.
Terinfeksi dengan positif terjangkit merupakan 2 hal yang berbeda", demikian lanjutnya.
"Pihak yang telah terjangkit, biasanya sudah memiliki virus di dalam tubuh mereka, tetapi virus tersebut belum menginfeksi kesehatan tubuhnya. Mereka akan memiliki kondisi fisik layaknya manusia sehat lainnya, selagi tubuh mereka belum memperlihatkan gejala-gejala telah terinfeksi".
Ia melanjutkan masa inkubasi untuk penyakit flu, normalnya adalah 2 hingga 3 hari. Namun, untuk wabah coronavirus, hal ini akan memakan waktu yang lebih lama.
Dengan kata lain, beberapa orang mungkin telah terinfeksi virus, kemudian membawanya ke belahan dunia lain dan menularkan pada manusia berikutnya. Yang lebih memilukan, kebanyakan dari penderita wabah ini tidak mengetahui sedari awal bahwa dirinya telah terkena virus pneumonia Wuhan.
"Apalagi gejala awal dari wabah ini memiliki kemiripan layaknya penyakit flu biasanya", demikian lanjut Profesor Mikhail Prokopenko.
Keputusan otoritas Beijing untuk mengisolasi kota tentu tidak dapat disalahkan sepenuhnya. WHO selaku Organisasi Kesehatan Dunia memuji upaya Negeri Tirai Bambu tersebut. Selain RRT, beberapa negara dunia juga pernah melakukan langkah serupa.
Pada bulan April 2009, pemerintah Mexico City memutuskan untuk menutup semua bar, bioskop, teater, lapangan sepak bola bahkan gereja, guna menekan penyebaran epidemi flu babi. Bahkan kedai makanan hanya mengizinkan warga untuk memesan take out (tidak makan di tempat).
"Hal itu mampu memperlambat penyebaran virus di Mexico City, yang mana akhirnya membantu pihak berwenang untuk mengendalikan situasi", jelas Profesor Mikhail Prokopenko.
Tetapi, apakah langkah di atas mampu menghentikan penyebaran virus sepenuhnya? Tentu saja jawabannya tidak.