(Taiwan, ROC) --- Wisatawan yang pernah berkunjung ke Jepang, biasanya akan terkesan dengan kebersihan Negeri Matahari Terbit tersebut. Yang mengesankan adalah, jarang ditemukannya tong-tong sampah yang terletak di jalanan Jepang, namun demikian hampir tidak terlihat 1 sampah yang berjatuhan. Banyak pelancong asing yang bertanya-tanya, bagaimana warga Jepang dapat mempertahankan kebersihan negara mereka?
Meski lonceng sekolah telah berbunyi pertanda jam belajar telah berakhir, namun siswa-siswi masih duduk tenang di bangku mereka, sembari menunggu instruksi guru.
Kemudian, guru pun mengumumkan jadwal pelajaran untuk esok hari, dan mengatur jadwal piket setiap harinya.
Para siswa bertanggung jawab untuk membersihkan ruang kelas mereka. Jadwal ini akan disusun berdasarkan peringkat mereka. Ada beberapa siswa yang bertanggung jawab membersihkan jalan koridor dan tangga di sebelah kelas mereka. Sebagian siswa lagi diwajibkan untuk membersihkan toilet sekolah. Meski beberapa di antara mereka enggan membersihkan toilet sekolah, namun para pelajar tersebut menyadari komitmen mereka untuk menyelesaikan pembagian tugas piket tersebut.
Seluruh perkakas kebersihan tersimpan rapi di lemari yang terletak di sudut belakang masing-masing kelas. Di saat inilah, budaya ‘bersih-bersih’ memainkan peran pentingnya, yakni menanamkan konsep tanggung jawab akan kebersihan di ruang umum, yang harus dimulai semenjak usia dini.
Kesan pertama di benak sebagian besar wisatawan asing saat berkunjung ke Jepang adalah kebersihan dan kerapian yang sangat terjaga di sana.
Herannya, sangat jarang terlihat petugas kebersihan yang berlalu lalang di jalanan kota-kota Jepang.
Sederhananya, warga-warga Jepang memiliki kesadaran yang tinggi akan kebersihan. Dan konsep ini telah ditanam sedari mereka kecil.
Maiko Awane, seorang pejabat pemerintah Prefektur Hiroshima menyampaikan, pemahaman akan pentingnya hidup bersih telah diperkenalkan dan menjadi bagian dalam program pendidikan 12 tahun negara Jepang. Setiap harinya, mereka akan diberitahukan betapa pentingnya untuk hidup bersih.
Maiko Awane menambahkan perlakuan orang tua yang mewajibkan anak-anak harus menjaga kebersihan, juga ditanam sedari kecil. Orang tua di Jepang akan mengharuskan putra-putri mereka untuk merawat kerapian dan kebersihan rumah.
Di saat yang sama, kurikulum sekolah juga mengajarkan konsep kebersihan, yang mencakup kesadaran sosial sebagai bagian dari lingkungan. Institusi pendidikan akan mendoktrin para siswa mereka, bahwa kebersihan merupakan bagian dari kebanggaan sebagai warga negara.
Chika Hayashi, seorang warga Jepang yang menggeluti profesi penerjemah menyampaikan terkadang dirinya ‘malas’ untuk bersih-bersih.
“Tapi, yang saya tahu, kebersihan merupakan bagian yang tidak terlepas kan dari kegiatan belajar mengajar sehari-hari”.
Ia menyampaikan jadwal piket ‘bersih-bersih’ di sekolah menjadi hal yang sangat positif, yang mana membuat siswa memahami betapa pentingnya peran dan tanggung jawab untuk menjaga sanitasi suatu ruangan.
Siswa-siswi Negeri Matahari Terbit harus mengganti sepatu mereka dengan sandal ruangan, sesaat tiba di sekolah setiap harinya.
Sama halnya ketika pulang ke rumah, mereka harus mengganti sepatu yang mereka kenakan di luar. Hal ini juga meliputi kaum pekerja, ketika harus berkunjung ke rumah orang lain, mereka harus melepaskan sepatu dan menepuk kaus kaki, guna menghempaskan debu-debu sebelum menginjakkan kaki ke dalam ruangan.
Bisa terbayangkan, bagaimana anak-anak Jepang yang sedari kecil telah ditanam kebiasaan untuk menjaga kebersihan, kemudian tumbuh dewasa dan terjun ke lingkungan masyarakat.
Ini merupakan salah satu alasan mengapa jalan-jalan kota di Jepang bisa bebas dari hamparan sampah.
Mementingkan Pamor dan Reputasi
Budaya kebersihan warga Jepang juga dibawa oleh para suporter bola mereka.
Misalnya, dalam perhelatan Piala Dunia 2014 dan 2018, para suporter Jepang membersihkan sampah-sampah setelah pertandingan selesai. Aksi warga Negeri Matahari Terbit tersebut sontak saja mencengangkan dunia.
Ruang ganti timnas Jepang pun terorganisasi dan tersusun sangat rapi.
Bahkan, Ketua Koordinator FIFA, Priscilla Janssens, terkagum-kagum dengan kebiasaan timnas Jepang. Ia pun membagikan pengalamannya di akun twitter pribadinya.
Maiko Awane menyampaikan warga Jepang sangat menjaga reputasi dan pandangan orang lain terhadap mereka. Karena, warga Jepang tidak ingin meninggalkan kesan buruk atau tidak berpendidikan, tidak rapi bahkan tidak terawat pada orang lain.
Di negara-negara barat, pemandangan selesainya konser musik dengan sampah berserakan di mana-mana, sudah menjadi hal yang umum. Namun hal tersebut tidak terjadi di Jepang.
Misalnya, pergelaran festival musik terbesar dan tertua di Jepang, yakni Fuji Rock.
Para penggemar musik yang menghadiri festival musik tersebut, akan menyimpan sampah mereka dan tidak membuangnya secara sembarangan.
Bahkan situs Fuji Rock juga menuliskan bagi perokok dapat mempersiapkan asbak sendiri. “Lebih baik tidak merokok saat festival berlangsung, karena hal tersebut dapat mempengaruhi orang lain”.
Staf kantor dan pekerja di sektor jasa juga mempunyai kesadaran yang tinggi akan sanitasi.
Misalnya, setiap pagi jam 8, staf kantor dan penjaga toko akan membersihkan tempat kerja mereka, bahkan menyapu jalan-jalan di sekitar.
Anak-anak akan berpartisipasi dalam kegiatan bersih-bersih periodik, yang digelar di komunitas rumah atau sekolah sekitar.
Kegiatan bersih-bersih juga sering digelar di jalan-jalan. Dan karena sudah sering dibersihkan secara individual, maka kegiatan bersih-bersih berlangsung sangat sederhana dan cepat.
Selain itu, warga Jepang juga gemar mengenakan masker mulut.
Ini dikarenakan, ketika seseorang terkena flu, mereka akan langsung mengenakan masker mulur, dengan alasan tidak ingin menyebarkan virus ke orang lain.
Kebiasaan sederhana ini telah mengurangi kesempatan bagi virus-virus untuk menyebar dan hinggap di tubuh orang lain. Hal tersebut juga berdampak pada minimnya jumlah karyawan yang mengambil cuti sakit.
Kebudayaan yang Mendarah Daging
Bagaimana warga Jepang sangat suka menjaga kebersihan? Dan bagaimana mereka mengembangkan kebiasaan positif ini?
William Adams merupakan orang Inggris pertama yang berkunjung ke Jepang. Pada tahun 1600, dirinya menginjakkan kakinya di Jepang dan ia telah menemukan bahwa kota-kota di Negeri Matahari Terbit telah bebas dari sampah berserakan.
William Adams kemudian menjadi samurai asing pertama, dengan nama Miura Anjin. Seorang penulis asal Britania Raya, Giles Milton, dalam buku biografi ‘Samurai William’ menyampaikan, “Kelompok kelas atas Jepang sangat mencintai kebersihan. Selokan dan toilet mereka sangat bersih”. Warga-warga di sana dapat mandi sauna sembari mencium aroma yang wangi.
Pada saat yang sama, pemandangan “tinja” dapat mudah ditemukan di jalan-jalan kota di Inggris. Warga Jepang sungguh terkejut dengan tidak tingginya kesadaran menjaga kebersihan oleh masyarakat Benua Eropa.
Salah satu alasan mengapa warga Jepang sangat suka ‘bersih-bersih”, adalah karena pertimbangan teknis yang praktis. Misalnya, makanan akan lebih cepat rusak di lingkungan panas dan lembap, dan akhirnya membuat virus bakteri berkembang biak. Dengan menjaga kebersihan, tentu dapat mengurangi kemungkinan virus penyakit berlipat ganda.
Tentu saja, alasan mengapa warga Jepang sangat suka ‘bersih-bersih’, tidak sesederhana itu.
Bagian inti dalam ajaran Buddha adalah pembersihan. Agama Buddha menyebar dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sampai ke kawasan Semenanjung Korea dan Jepang, di era abad 6 hingga 8.
Buddha Zen menekankan ajaran pembersihan. Bersih-bersih merupakan bagian dari praktik spiritual, yang tidak berbeda dengan meditasi.
Murid Kuil Shinshoji, Eriko Kuwagaki mengemukakan membersihkan tubuh dan pikiran dari kotoran merupakan praktik yang nyata dalam ajaran Buddha.
Lalu, mengapa beberapa negara yang menganut agama Buddha tidak sebersih Jepang?
Faktanya, sebelum agama Buddha masuk, warga Jepang telah memiliki agama sendiri, yaitu Shinto. Ajaran Shinto juga menekankan kebersihan dan sanitasi.
Oleh karena itu, masuknya agama Buddha semakin menekankan pentingnya kebersihan dalam konsep pemikiran spiritual warga Jepang.
Dalam ajaran Shinto, hati yang tidak bersih atau dosa, dikenal dengan istilah kegare. Dengan melakukan rutinitas bersih-bersih secara teratur, dapat mengusir kegare itu sendiri.
Ajaran Shinto juga mengajarkan jika seseorang tidak suka dengan kebersihan, maka dapat membahayakan dan mendatangkan malapetaka bagi komunitasnya.
Pakar Jepang menyampaikan menjaga kebersihan sangat-lah penting. Hal itu tidak hanya menguntungkan diri sendiri, namun dapat menjauhkan suatu komunitas dari mara bahaya.
Ini mungkin sebabnya mengapa Jepang menjadi negara terdepan dalam menjaga kebersihan.
Kebiasaan warga Jepang saat hendak masuk ke dalam kuil adalah mencuci tangan dan berkumur. Hal ini juga mencerminkan filosofi kebersihan yang telah berakar di dalam kehidupan warga Negeri Matahari Terbit.
Sama hal-nya dengan kebiasaan warga Jepang ketika membeli mobil baru, yang meminta para tokoh agam untuk menjalankan ritual pemurnian di seluruh bagian mobil.