KATA PEMRED #22
PinterPolitik.com
Pada malam Sabtu, dua Mei dua ribu dua puluh enam, sebuah ponsel menyala di Jakarta. Notifikasi YouTube. Thumbnail huruf kapital merah, judulnya berhuruf besar tentang istana. Yang mendengarnya malam itu adalah algoritma — algoritma yang menyajikan apa pun di tab sebelah, dan yang tidak peduli kepada kredensial siapa pun.
Di bawah thumbnail, dalam huruf kecil yang nyaris harus diperbesar untuk dibaca, kredensial pengunggah: Profesor Doktor Muhammad Amien Rais. Mantan Ketua MPR. Bapak Reformasi sembilan delapan. Pria yang dua dekade lalu kalimatnya menggetarkan lantai gedung Senayan, dan malam ini kalimat-kalimatnya berkompetisi dengan apa pun yang muncul di feed yang sama.