KATA PEMRED #42
PinterPolitik.com
Senja turun pelan di sebuah kantor yang mulai dikosongkan. Para pegawai pulang satu per satu. Sebuah lampu meja di sudut ruangan lupa dimatikan, dan cahayanya yang kuning jatuh ke atas setumpuk kertas. Kertas itu tidak disentuh siapa pun. Ia hanya menunggu.
Ada uang yang dititipkan dan memilih diam. Ia mengendap di satu rekening, tidak berbelanja, tidak membangun apa-apa, hanya menunggu. Saldo itu besar, dan justru karena besar ia terasa seperti air yang ditahan sebuah bendungan: tenang di permukaan, menekan di dasar. Setiap orang yang lewat mengira air itu cadangan. Sedikit yang bertanya untuk siapa pintu air akan dibuka, dan kapan.