
Sign up to save your podcasts
Or


Memasuki bagian ketiga alias bagian terakhir bersama Patresia Kirnandita, penulis buku Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa, seperti biasa kami meminta penulis untuk merekomendasikan buku-buku yang ia baca. Kali ini Patres merekomendasikan lima buku yang semuanya bisa membantu kita untuk mengembangkan dan memulihkan diri dari trauma dan luka masa lalu. Apa saja buku-bukunya? Langsung saja yuk dengerin!
-
Follow Podluck Podcast di Instagram | Subscribe channel Youtube Podluck Podcast Collective
Kamu suka baca buku dan tertarik berbagi cerita tentang buku? Yuk, ikutan Kompetisi Podcast Resensi Buku 3! Ceritain satu buku pilihanmu dalam format audio dan raih kesempatan untuk memenangkan puluhan hadiah menarik, mulai dari microphone, headphone, lavalier microphone, saldo e-wallet, voucher buku, dan paket buku.
Kompetisi Podcast Resensi Buku 3 merupakan program dari Podluck Podcast yang bekerja sama dengan PT Inti Megah Swara dan 7 penerbit di Indonesia, yaitu Gramedia Pustaka Utama, Kepustakaan Populer Gramedia, Penerbit Mizan, Bentang Pustaka, Penerbit Haru, Buku Mojok, dan GagasMedia.
Tonton video ini untuk informasi semua syarat, ketentuan, dan mekanisme berpartisipasi: https://www.bit.ly/podcastresensibuku3.
Jika sudah siap, silakan daftarkan dirimu dan unggah audio ulasan bukumu dengan mengisi form di: https://www.bit.ly/kompetisiresensi3.
-
Dengarkan resensi teman-teman pembaca di Spotify Podcast Resensi Buku | follow @podcastresensibuku di Instagram biar kamu enggak ketinggalan update terbaru seputar kompetisi
Sadar enggak sadar, banyak pola tingkah laku dan perbuatan kita saat ini yang sebenarnya berakar ke bagaimana kita dulu dibesarkan dalam keluarga. Di buku Si Kecil yang Terluka dalam Tubuh Orang Dewasa, penulis Patresia Kirnandita menceritakan pengalamannya merasakan toxic parenting yang berdampak ke cara dia bersikap terhadap pasangan, seperti kenapa dia mengalami rasa cemas berlebihan ketika pasangan enggak ada di sampingnya. Setelah ia sadari ternyata kecemasan berlebih ini berasal dari sikap orang tua yang diteruskan kepadanya, dan kemudian ia teruskan ke pasangan.
Enggak ada manusia yang bisa memilih mau dibesarkan seperti apa. Yang bisa dilakukan adalah menyadari terlebih dahulu jika kita mempunyai luka masa lalu, supaya bisa memulihkan inner child trauma dan enggak meneruskan kebiasaan buruk ke orang-orang terdekat lainnya. Perjalanan yang enggak mudah, tapi mungkin dilakukan, meskipun harus dijalani seumur hidup. Di bab Podcast Main Mata ini, host tamu Idha Umamah mengobrol dengan Patres soal ciri-ciri toxic parenting yang mungkin dialami oleh seorang anak dan cara-cara menghindari luka masa lalu agar enggak terulang kembali di kemudian hari.
Selamat mendengarkan.
-
PS: Bagian ini merupakan bagian pertama dari rangkaian tiga obrolan dengan Patresia Kirnandita. Nantikan obrolan bagian berikutnya!
-
Follow Podluck Podcast di Instagram | Subscribe channel Youtube Podluck Podcast Collective
Ada kesegaran dan kepolosan yang berbeda dalam sebuah cerita jika dinarasikan dari sudut pandang anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa, dan hal itu juga yang ditangkap oleh penulis Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie dan ia tuangkan ke dalam setiap ceritanya. Bagi Ziggy, pola pikir anak-anak selalu menarik, karena cara pandang orang dewasa terlihat terlalu seragam dan sulit untuk keluar dari norma dan aturan tak tertulis yang berlaku di masyarakat, seolah kita semua yang sudah dan akan mendewasa pada saatnya harus menjalani hal tersebut. Di bagian kedua ini, Ziggy bercerita tentang proses pembuatan novel Kita Pergi Hari Ini yang banyak terinspirasi dari hasil residensinya di Essex, Inggris, serta bagaimana ia akhirnya memilih untuk melakukan hanya hal-hal yang ia sukai dan membuat hatinya penuh meskipun dianggap tidak lazim oleh masyarakat ketimbang mencoba memuaskan pandangan umum tapi tidak membuat dirinya bahagia.
Langsung saja dengerin obrolan lengkap Patty bersama Ziggy di bab ini.
PS: Bagian ini merupakan bagian pertama dari rangkaian tiga obrolan dengan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Nantikan obrolan bagian berikutnya!
-
Follow Podluck Podcast di Instagram | Subscribe channel Youtube Podluck Podcast Collective
Biasanya, seseorang yang ingin belajar menulis disarankan untuk mengambil kuliah sastra. Tapi tidak dengan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie, seorang penulis yang sejak 2009 telah menerbitkan lebih dari 30 judul buku dan akhir tahun 2021 lalu baru menerbitkan novel berjudul Kita Pergi Hari Ini. Oleh ayahnya, Ziggy disarankan untuk mengambil kuliah Hukum agar ia bisa menulis. Apa hubungannya antara kuliah Hukum dengan menulis? Bagaimana mempelajari teks undang-undang bisa memengaruhi gaya penulisan Ziggy? Kalau kamu tahu cara Ziggy menulis dan mendengar ceritanya di sini, ternyata semuanya menjadi masuk akal. Ziggy juga merupakan salah satu penulis yang bekerja penuh waktu sebagai penulis novel. Lalu, bagaimana penghasilan sebagai penulis novel bisa menghidupi dirinya? Kombinasi antara ikatan keluarga yang erat dan gaya hidup adalah kuncinya buat Ziggy.
Langsung saja dengerin obrolan lengkap Patty bersama Ziggy di bab ini.
PS: Bagian ini merupakan bagian pertama dari rangkaian tiga obrolan dengan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Nantikan obrolan bagian berikutnya!
-
Follow Podluck Podcast di Instagram | Subscribe channel Youtube Podluck Podcast Collective
Di bagian ketiga dan terakhir obrolan Hestia Istiviani bersama penulis buku Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam, Dian Purnomo, ia merekomendasikan beberapa buku all time favorite, juga buku yang memengaruhinya dalam berproses menulis, seperti Tuesdays with Morrie, Animal Farm, buku-buku Paulo Coelho, Little Prince, dan Cerita Cinta Enrico. Selamat mendengarkan!
PS: Bagian ini merupakan bagian terakhir dari rangkaian tiga obrolan dengan Dian Purnomo.
-
Follow Podluck Podcast di Instagram | Subscribe channel Youtube Podluck Podcast Collective
Berawal dari mendaftar residensi ke Belanda dan ditolak, Dian Purnomo akhirnya mendarat di Sumba dan menerbitkan buku Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam, sebuah novel yang mengambil latar cerita tentang tradisi kawin tangkap di Sumba yang merenggut hak dasar para perempuan. Di bab Podcast Main Mata ini, Dian bercerita kepada Hestia mengenai proses penulisan novel tersebut, mulai dari pengumpulan data di Sumba yang ternyata gagal dilakukan dan akhirnya mampu dirampungkan justru ketika sudah kembali ke ibu kota, sampai alasan di balik penulisan tema yang terbilang getir, untuk sebenarnya menguatkan sesama perempuan.
PS: Bagian ini merupakan bagian kedua dari rangkaian tiga obrolan dengan Dian Purnomo. Nantikan obrolan bagian berikutnya!
-
Follow Podluck Podcast di Instagram | Subscribe channel Youtube Podluck Podcast Collective
Bisakah seseorang hidup layak dari penghasilannya sebagai penulis? Menurut Dian Purnomo, penulis novel Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam, jawabannya tentu saja bisa. Yang harus dicari tahu, ingin menjadi penulis yang seperti apakah kita? Di bab Podcast Main Mata kali ini, Dian Purnomo kepada Hestia Istiviani mengenai kehidupannya sebagai penulis penuh waktu, dan cara-cara yang ia lakukan untuk bisa menghidupi dirinya secara utuh dari pekerjaannya menulis. Ingin mengikuti jejak yang sama? Pastikan kamu dengerin bab ini ya.
PS: Bagian ini merupakan bagian pertama dari rangkaian tiga obrolan dengan Dian Purnomo. Nantikan obrolan bagian berikutnya!
-
Follow Podluck Podcast di Instagram | Subscribe channel Youtube Podluck Podcast Collective
From the publisher's feed