Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Karamah Orang-Orang Shalih

    Karamah Orang-Orang Shalih adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 11 Rabi’ul Awal 1445 H / 26 September 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Bab Karamah dan Keutamaan Para Wali







    Karamah Orang-Orang Shalih



    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala berkata:



    وعن عروة بن الزبير: أنَّ سعيد بن زيد بن عمرو بن نُفَيلٍ – رضي الله عنه – خَاصَمَتْهُ أَرْوَى بِنْتُ أوْسٍ إِلَى مَرْوَانَ بْنِ الحَكَمِ، وادَّعَتْ أنَّهُ أخَذَ شَيْئًا مِنْ أرْضِهَا، فَقَالَ سعيدٌ: أنا كُنْتُ آخُذُ شَيئًا مِنْ أرْضِهَا بَعْدَ الَّذِي سَمِعْتُ مِنْ رسول الله – صلى الله عليه وسلم!؟ قَالَ: مَاذَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ الله – صلى الله عليه وسلم؟ قَالَ: سَمِعْتُ رسولَ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: «مَنْ أخَذَ شِبْرًا مِنَ الأرْضِ ظُلْمًا، طُوِّقَهُ إِلَى سَبْعِ أرْضِينَ» فَقَالَ لَهُ مَرْوَانُ: لا أسْألُكَ بَيِّنَةً بَعْدَ هَذَا، فَقَالَ سعيد: اللَّهُمَّ إنْ كَانَتْ كاذِبَةً، فَأعْمِ بَصَرَها، وَاقْتُلْهَا في أرْضِها، قَالَ: فَما ماتَتْ حَتَّى ذَهَبَ بَصَرُهَا، وَبَيْنَما هِيَ تَمْشِي في أرْضِهَا إذ وَقَعَتْ في حُفْرَةٍ فَماتَتْ. متفق عَلَيْهِ.



    Dari ‘Urwah bin Zubair bahwasanya Said bin ‘Amr bin Nufail digugat oleh Arwa binti Uwais kepada Marwan bin al-Hakam -yang waktu itu sebagai gubernur-. Wanita itu menuntut bahwa Said telah mengambil sebagian tanahnya. Said lalu berkata: “Apakah aku mengambil tanah wanita ini setelah aku mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan sabdanya?” Marwan bertanya: “Apa yang kamu dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?” Ia menjawab: “Saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengambil sejengkal tanah dengan cara yang dzalim, maka akan dikalungkan di lehernya pada hari kiamat kelak dengan tujuh lapis tanah.”



    Marwan lalu berkata: “Saya tidak akan meminta bukti darimu setelah mendengar ini.” Said lalu berdoa: “Ya Allah, seandainya wanita itu dusta, maka butakanlah matanya dan binasakanlah dia di tanahnya sendiri.” ‘Urwah berkata; “Tidaklah wanita itu meninggal kecuali setelah dia buta, dan ketika ia sedang berjalan di tanahnya, dia jatuh, kemudian meninggal di situ.” (Muttafaqun ‘alaih)



    Dalam riwayat Imam Muslim dari Muhammad bin Zaid bin Abdullah bin Umar, yang isinya semakna dengan hadits di atas, bahwasanya ia melihat wanita tadi dalam keadaan buta memegang tembok ketika berjalan sambil berkata: “Aku ini tertimpa doanya Sa’id.” Selanjutnya ketika wanita melalui sumur di tanah yang dia gugat, kemudian ia terjatuh di sumur tersebut, dan dia meninggal.



    Ini di antara contoh tentang doa seorang yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka hati-hati terhadap doa seorang yang terdzalimi, apalagi orang-orang yang shalih. Kita harus waspada. Jangan sampai berbuat sesuatu yang akan bedampak buruk kepada diri kita.



    Hadits ini menjelaskan kepada kita keutamaan Said bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhu dan karamah yang Allah berikan kepada beliau, yaitu doanya dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Disebutkan bahwa beliau adalah seorang yang All...
    1 hr 20 min
  • Perilaku yang Dapat Menjauhkan Orang Tua dari Anak Remaja

    Perilaku yang Dapat Menjauhkan Orang Tua dari Anak Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 11 Rabi’ul Awal 1445 H / 26 September 2023 M.







    Kajian Tentang Perilaku yang Dapat Menjauhkan Orang Tua dari Anak Remaja



    Tidak mudah mendekati anak remaja, terutama sebagai orang tua. Pendekatan harus hati-hati karena sensitivitas mereka seperti anak-anak pada umumnya. Mereka sedang mengalami masa transisi yang sangat sensitif, dengan perasaan dan pikiran yang sangat kritis. Mereka ingin tahu tentang banyak hal, bahkan terkadang hal-hal yang di luar pemikiran orang tua.



    Remaja adalah makhluk yang dinamis, terus mencari, dan belum menjadi dewasa. Beberapa perilaku yang dapat menjauhkan orang tua dari anak remaja:



    Tidak berbicara dengan remaja



    Orang tua tidak berbicara dengan mereka dan cenderung meninggalkan mereka untuk waktu yang lama. Maka sebagai orang tua hendaklah menyisihkan waktu bicara dengan anak-anak remaja, ngobrol. Buat obrolan kita dengan mereka adalah obrolan yang mereka antusias untuk mengikutinya, dan jangan terlalu lama meninggalkan mereka tanpa berinteraksi. Ada momen-momen di mana kita bisa mendekatinya.



    Tidak mengikuti kegiatan keseharian anak-anak remaja



    Ada dua kemungkinan di sini; ada remaja yang kurang kegiatan, cenderung pasif atau malas, dan ada yang sangat sibuk dengan banyak kegiatan. Orang tua harus memperhatikan hal ini. Jika anak kurang kegiatan, cobalah untuk mengarahkannya kepada kegiatan-kegiatan yang positif. Jika dia memiliki banyak kegiatan, orang tua sebaiknya juga ikut serta dalam kegiatan anak-anak remaja mereka, bahkan bersaham dalam hal-hal yang positif dan mendidik.



    Hal penting lainnya adalah orang tua harus menempel pada anak remaja mereka. Ini akan membantu menciptakan hubungan yang kuat dan memungkinkan kegiatan-kegiatan ini menjadi investasi positif dalam masa depan anak. Anak remaja perlu membangun pengalaman mereka, karena masa remaja adalah waktu yang paling seru, penuh semangat, dan penuh potensi. Mendorong mereka untuk aktif dan mencari pengalaman yang berharga selama masa remaja dapat membantu mereka membangun keterampilan dan modal hidup yang berharga.



    Tidak bertanya ketika mereka meninggalkan rumah



    Orang tua tidak bertanya tentang anak-anak remaja mereka ketika mereka meninggalkan rumah, misalnya ketika anak berkegiatan di luar rumah. Ada orang tua yang cuek dan hanya membiarkan anak pergi begitu saja. Di masa lalu, orang tua selalu bertanya kepada kita ke mana kita akan pergi dan dengan siapa. Pertanyaan tersebut tidak bermaksud mencurigai, tetapi lebih sebagai cara untuk memastikan keberadaan dan kondisi anak.



    Anak remaja juga tahu apakah pertanyaan tersebut menyelidiki atau bagian dari perhatian orang tua terhadap mereka. Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk tetap bertanya tentang kegiatan-kegiatan mereka di luar rumah. Ketika anak pergi, tanyakan kemana mereka akan pergi, naik apa, bagaimana mereka sampai di sana, dan apa yang akan mereka lakukan.



    Tidak bertanya tentang kegiatan belajar anak-anak



    Semakin tinggi tingkat pendidikan, maka semakin sulit. Kita perlu memahami bahwa mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menjalani pelajaran di sekolah. Orang tua perlu mendampingi mereka dengan bertanya,
    45 min
  • Dzikir Mutlak

    Dzikir Mutlak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Burhanuddin, M.A. dalam pembahasan Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 7 Muharram 1445 H / 25 Juli 2023 M.



    Sebelumnya: Dzikir Muqayyad







    Kajian Tentang Dzikir Mutlak



    Dzikir mutlak adalah dzikir yang tidak terkait dengan waktu dan amalan tertentu. Mengenai dzikir yang ketiga, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullahu Ta’ala mengatakan bahwa dzikir yang mutlak, yang tidak terikat dengan waktu dan amalan, hendaknya senantiasa dijaga oleh seorang muslim. Bibirnya dan lisannya senantiasa bergemuruh dan sibuk dengan berdzikir dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Ini merupakan wasiat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada seorang sahabat yang bertanya tentang amalan yang bisa dipegang sehingga amalan-amalan lainnya bisa ikut terpegang. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:



    لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ اللهِ



    “Hendaknya lidahmu senantiasa basah dengan dzikir memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Tirmidzi)



    Lihat juga: Khutbah Jum’at: Tiga Harta Simpanan Yang Paling Utama



    Ini adalah salah satu amal shalih yang utama.



    Ada banyak dzikir yang bisa kita ucapkan yang tidak terikat dengan amalan atau waktu tertentu. Di antaranya adalah membaca Al-Qur’an, mengucapkan سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم, mengucapkan سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر. Dzikir apa saja yang tidak terikat dengan waktu dan amalan disebut sebagai dzikir mutlak.



    Dan yang paling afdhal dari dzikir-dzikir yang mutlak ini adalah لا إلهَ إلاَّ اللَّه (Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala). Ini adalah dzikir tentang pengesaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalimat tauhid yang merupakan intisari ajaran agama Islam, bahkan ajaran semua ajaran para nabi. Kandungannya yang paling tinggi dan maknanya yang paling dalam dan paling penting. Ditambah lagi ada hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ اِلَهَ إلاَّ اللهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ اَلْحَمْدُ لِلهِ



    “Dzikir yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah, dan doa yang paling utama adalah Alhamdulillah.” (HR. Al-Hakim)



    Lihat juga: Laa Ilaa ha Illallah Adalah Dzikir Yang Paling Utama



    Hadits ini tegas menunjukkan bahwasanya dzikir terbaik adalah Laa Ilaaha Illallah. Maka hendaknya seorang muslim memperbanyak dzikir berupa Laa Ilaaha Illallah. Dan masyaAllah, dzikir Laa Ilaaha Illallah bisa kita ucapkan tanpa kelihatan bibir kita bergerak. Jadi kita bisa mengucapkannya dengan lebih ikhlas tanpa dilihat oleh orang lain, tanpa berusaha menunjukkannya kepada orang lain.



    Ditambah hadits yang masyhur dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menjelaskan doa terbaik pada hari Arafah. Kata beliau:



    (خَيْرُ الدُّعَاء دُعَاءُ يَومَ عَرَفَةَ، وخَيْرَ مَا قُلْتُ أَنَا والنَّبيُّون مِنْ قَبْلِي: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيئٍ قَدِيْ...
    1 hr 7 min
  • Hidup Mengembara Seorang Diri

    Hidup Mengembara Seorang Diri ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 10 Rabi’ul Awal 1445 H / 25 September 2023 M.







    Kajian Tentang Talbis Iblis Untuk Hidup Mengembara Seorang Diri



    Berkaitan dengan pengembaraan yang biasa dilakukan oleh kaum Sufi, yang sering melakukannya seorang diri, sebenarnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang seseorang melakukan pengembaraan seorang diri. Hal ini didasarkan pada riwayat dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    الرَّاكِبُ شَيطانٌ، والرَّاكِبانِ شَيطانانِ، والثَّلاثةُ رَكبٌ. 



    “Orang yang bepergian sendirian adalah setan. Orang yang berpergian berdua adalah dua setan, sedangkan tiga orang yang berpergian itu adalah rombongan.” (HR. Abu Daud)



    Penyematan sifat setan di sini maksudnya adalah perbuatan yang tidak baik, tercela, dan sebaiknya dihindari.



    Para ulama mengatakan bahwa hukumnya makruh seseorang berjalan seorang diri. Mereka sepakat bahwa ini adalah perbuatan yang sebaiknya dihindari, meskipun tidak sampai jatuh menjadi haram. Hendaknya dia mencari teman perjalanan yang bisa mendampingi atau bepergian bersamanya.



    Berjalan sendirian bisa membawa banyak ancaman dan bahaya. Orang yang berjalan seorang diri tidak memiliki orang lain yang dapat memberitahu atau menolongnya jika terjadi sesuatu. Misalnya, jika dia mengalami kecelakaan, tidak ada orang lain yang mengetahuinya atau dapat membantu.



    Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:



    لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي الْوَحْدَةِ، مَا سَارَ أَحَدٌ وَحْدَهُ بِلَيْلٍ أَبَدًا



    “Seandainya orang-orang tahu bahaya yang ada pada bepergian seorang diri, maka tidak ada seorang pun yang akan berjalan seorang diri pada malam hari selamanya.” (HR. Bukhari)



    Berapa banyak orang-orang yang tidak diketahui beritanya, ketika berjalan sendirian dia mendapatkan musibah. Kalau ada orang bersamanya, mungkin dia bisa menghindari petaka itu.



    Oleh karena itu, ketika bepergian, kita sebaiknya bukan hanya menyiapkan bekal, tapi juga menyiapkan teman perjalanan sehingga tidak berjalan sendirian. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu membawa salah satu istri beliau dengan mengundi mereka. Siapa yang keluar undiannya maka dialah yang akan menyertai beliau dalam perjalanan. Bahkan terkadang beliau membawa lebih dari satu istri dalam perjalanan.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.



    Download MP3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Hidup Mengembara Seorang Diri” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


    36 min
  • Mengucapkan Salam Saat Masuk Rumah

    Mengucapkan Salam Saat Masuk Rumah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 9 Rabi’ul Awal 1445 H / 25 September 2023 M.



    Lihat sebelumnya: Membaca Basmalah Saat Masuk Rumah







    Kajian Tentang Mengucapkan Salam Saat Masuk Rumah



    Pada pertemuan yang lalu, kita sudah membahas doa masuk rumah bagian pertama. Yaitu dengan membaca “Bismillah.”



    Yang akan kita pelajari pada kajian kali ini pun, insyaAllah sudah pada hafal. Yaitu mengucapkan “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Ini adalah salah satu doa yang diajarkan dalam agama kita untuk dibaca saat masuk rumah.



    Dalil landasan



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    فَإِذا ‌دَخَلْتُمْ ‌بُيُوتاً فَسَلِّمُوا عَلى أَنْفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُبارَكَةً طَيِّبَةً



    “Jika kalian masuk rumah-rumah, maka ucapkanlah salam kepada sesama diri kalian, dengan salam yang diajarkan Allah, yaitu yang penuh berkah dan sangat baik.” (QS. An-Nur[24]: 61)



    Syaikh As-Si’dy Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa yang dimaksud dengan “rumah-rumah” di sini adalah mencakup semua rumah, baik itu rumah milik sendiri atau rumah milik orang lain. Baik itu rumah yang ada penghuninya, maupun rumah yang tidak ada penghuninya.



    Teks tersebut telah dirapikan agar lebih mudah dibaca:



    Bedanya, kalau kita masuk rumah sendiri, kita ucapkan salam, kemudian bisa langsung masuk. Kalau mau ke rumah orang lain, setelah mengucapkan salam tidak boleh langsung masuk, kalau belum mendapatkan izin dari pemilik rumah. Walaupun pintu rumah orang lain itu terbuka, tetap kita tidak boleh langsung masuk, kalau belum diizinkan.



    Bahkan, jangankan kita masuk, berdiri di depan pintu persis saja tidak boleh. Jadi kalau kita mau bertamu ke rumah orang, hendaklah kita berdiri di sampingnya. Karena kalau kita berdiri persis di depan pintu, kemudian pintu itu dibuka, maka kita dengan bebas akan bisa melihat isi rumah. Padahal belum tentu tuan rumahnya rela kita melihat isi rumahnya. Walaupun kita tidak sengaja, ketika tuan rumahnya itu tidak suka, maka itu tidak baik.



    Kalau si tuan rumah ini mengizinkan kita untuk masuk, berarti dia sudah rela agar kita melihat isi dalam rumahnya. Itu pun kita diajarkan saat bertamu, jangan banyak melihat kesana-kemari (celingak-celinguk). Itu tidak sopan.



    Bagaimana kalau, misalnya, sama tuan rumahnya tidak dipersilahkan masuk? Jawabannya jangan masuk. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    وَإِن قِيلَ لَكُمُ ارْجِعُوا فَارْجِعُوا ۖ هُوَ أَزْكَىٰ لَكُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ 



    “Dan jika dikatakan kepadamu: ‘Kembali (saja)lah,’ maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nur[24]: 28)



    Dan ketika pulang tidak boleh dongkol, karena itu perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan kemudian kita katakan: “Tidak menghormati tamu.” Karena ini perintah Allah.



    Dan kita diperintahkan mengucapkan salam walaupun rumah itu tidak ada orangnya.



    46 min
  • Melakukan Shalat Subuh Saat Masih Gelap

    Melakukan Shalat Subuh Saat Masih Gelap merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 8 Rabi’ul Awal 1445 H / 24 September 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Melakukan Shalat Subuh Saat Masih Gelap



    Kita masuk pada bab taghlish (melakukan shalat subuh saat masih gelap). Disebut غلس karena masih gelap yang ini merupakan awal waktu shalat subuh.



    Hadits 207:



    عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو قَالَ لَمَّا قَدِمَ الْحَجَّاجُ الْمَدِينَةَ فَسَأَلْنَا جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يُصَلِّي الظُّهْرَ بِالْهَاجِرَةِ وَالْعَصْرَ وَالشَّمْسُ نَقِيَّةٌ وَالْمَغْرِبَ إِذَا وَجَبَتْ وَالْعِشَاءَ أَحْيَانًا يُؤَخِّرُهَا وَأَحْيَانًا يُعَجِّلُ كَانَ إِذَا رَآهُمْ قَدْ اجْتَمَعُوا عَجَّلَ وَإِذَا رَآهُمْ قَدْ أَبْطَؤوا أَخَّرَ وَالصُّبْحَ كَانُوا أَوْ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُصَلِّيهَا بِغَلَسٍ.



    Dari Muhammad bin ‘Amr bin Al-Hasan bin ‘Ali, beliau berkata: “Ketika Al-Hajjaj datang ke Madinah, kami bertanya kepada Jabir bin Abdillah, maka Jabir berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam shalat dzuhur saat matahari telah tergelincir. Dan melakukan shalat ashar pada saat matahari masih putih (belum kuning), dan shalat maghrib apabila telah tenggelam.



    Adapun shalat isya beliau mengakhirkannya, dan terkadang beliau mempercepatnya sesuai keadaan para sahabat; apabila beliau melihat mereka telah berkumpul (diawal waktu isya) maka beliau mempercepat shalat isya, apabila beliau melihat mereka terlambat datangnya, maka beliau mengakhirkannya. Dan beliau melakukan shalat subuh disaat ghalas (masih gelap).” (HR. Muslim)



    Kemarin sudah kita sebutkan tentang perselisihan para ulama mengenai hadits:



    أسفروا بالفجر فإنه أعظم للأجر



    “Berterang-teranganlah dengan shalat subuh, karena itu lebih besar pahalanya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.”



    Maksud “berterang-terangan” artinya bahwa dimulainya shalat itu saat masih gelap (diawal waktu) dan selesai shalat Subuh sudah mulai terang dimana seseorang sudah mengenal teman duduknya. Hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasanya membaca di shalat subuh itu 60 sampai 100 ayat. Ini menunjukkan bahwa kebiasaan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanjangkan shalat subuh.



    Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa maksud hadits itu artinya kita mulai shalat subuh saat sudah mulai terang. Akan tetapi ini pendapat lemah. Sebab banyak hadits-hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai shalat subuh saat masih gelap.



    Oleh karena itu jumhur ulama mengkompromikan antara hadits ini dengan hadits yang tadi. Kesimpulannya adalah bahwa yang dimaksud dengan “terang-terangan shalat subuh” artinya dimulai shalat subuh itu diawal waktu. Kemudian bacaannya dipanjangkan sehingga berakhirnya shalat subuh ketika sudah mulai terang.



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download mp3 Kajian











    Mari turut membagikan link download
    53 min
  • Golongan Yang Selamat Fanatik Kepada Al-Qur’an dan Hadits

    Golongan Yang Selamat Fanatik Kepada Al-Qur’an dan Hadits adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Sabtu, 7 Rabi’ul Awal 1445 H / 23 September 2023 M.



    Kajian sebelumnya: Golongan Yang Selamat Jumlahnya Sedikit dan Banyak Dimusuhi







    Golongan Yang Selamat Fanatik Kepada Al-Qur’an dan Hadits



    Di pertemuan yang lalu, telah kita nukilkan beberapa pernyataan dari para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, mulai dari Imam Abdullah Ibnu Mubarak Al-Marwazi, Imam Bukhari, Imam Ahmad, dan yang lainnya. Semua mereka sepakat bahwa yang dimaksud dengan Ath-Tha’ifah Al-Manshurah adalah Ahlul Hadits. Yaitu orang-orang yang selalu setia mempelajari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereka selalu belajar dan mengkasi ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdasarkan pemahaman para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in.



    Wajar kalau diartikan demikian, karena mereka itulah yang paling sesuai dengan makna sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menyebutkan tentang golongan yang selamat dari perpecahan, yaitu:



    هُمْ مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ اليَوْمَ وَأَصْحابِي



    “Mereka adalah orang-orang yang mengikuti petunjukku dan petunjuk para sahabatku Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum Ajma’in.”



    Karena siapa yang akan mempelajari dan membahas hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, membedakan mana hadits yang shahih dan mana hadits yang tidak shahih, siapa yang akan mengkaji atsar-atsar para sahabat ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an, kemudian ketika menjelaskan makna hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Tentu mereka adalah orang-orang yang mengkhususkan diri, yang selalu disibukkan dirinya dengan mempelajari kitab-kitab hadits yang memuat hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan nukilan dari pernyataan para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum Ajma’in. Mereka adalah orang-orang yang paling paham tentang bagaimana ibadah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat, bagaimana keyakinan mereka dalam agama, bagaimana akhlak mereka, bagaimana cara dakwah mereka, bagaimana cara mereka beramar ma’ruf dan nahi munkar. Tentu mereka adalah orang-orang yang paling paham dan paling kuat dalam melaksanakan semua ini.



    Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Rahimahullah Ta’ala berkata, Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu Ta’ala, imam besar Ahlul Hadits yang terkenal, berkata kepada murid utamanya, Al-Imam Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu Hambal Asy-Syaibani Rahimahullah:



    أنتم أعلم بالحديث مني ، فإذا جاءكم الحديث صحيحا فأعلموني به حتى أذهب إليه سواء كان حجازيا أم كوفيا أم بصريا



    “Engkau lebih mengetahui tentang hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dibandingkan aku. Maka jika datang kepadamu sebuah hadits yang shahih, maka sampaikanlah kepadaku,
    50 min
  • Khutbah Jumat: Beramal Shalih Untuk Menghadapi Fitnah

    Khutbah Jumat: Beramal Shalih Untuk Menghadapi Fitnah ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 6 Rabi’ul Awal 1445 H / 22 September 2023 M.







    Khutbah Jumat: Beramal Shalih Untuk Menghadapi Fitnah



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    بادروا بالأعمالِ فتَنًا كقطعِ اللَّيلِ المظلمِ ، يصبحُ الرَّجلُ مؤمنًا ويمسي كافرًا ، ويمسي مؤمنًا ويصبحُ كافرًا يبيعُ أحدُهم دينَهُ بعرضٍ منَ الدُّنيا



    “Bersegeralah kalian beramal, sebelum munculnya fitnah-fitnah bagaikan bagian malam yang kelam. Di waktu pagi seseorang masih mukmin, di waktu sore dia sudah kafir, di waktu sore ia masih mukmin, di waktu pagi ia sudah kafir. Ia jual agamanya hanya untuk mendapatkan sedikit dari keuntungan dunia.” (HR. Muslim)



    Fitnahnya, saudaraku.. sesuatu yang bisa merusak keimanan seorang hamba. Fitnah syubhat berupa pemikiran yang menyesatkan, fitnah syahwat sangat identik dengan kemaksiatan, menjadikan agama seorang hamba luluh lantak, menjadikan keimanan seorang hamba menjadi hancur dan rusak, menjadikan kita semakin jauh dari Allah ‘Azza wa Jalla.



    Berapa banyak fitnah itu, kita lihat di zaman ini. Bahkan, inilah zaman yang penuh dengan fitnah. Terkadang kita lihat seseorang, dia diatas keimanan, lalu ia terhempas dengan fitnah itu, kemudian ia pun berubah. Terkadang, seorang yang kita lihat masyaAllah, dia istiqamah diatas iman dan Islam, ternyata terhempas oleh syubhat-syubhat, sehingga kemudian berubahlah akal pikirannya dan manhajnya.



    Maka sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kepada kita bimbingan dalam hadits ini. Beliau bersabda, “Bersegeralah beramal shalih.” Ini menunjukkan bahwa dimasa yang penuh fitnah, hendaknya kita sibukkan diri kita untuk beramal shalih.



    Dalam hadits lain, suatu malam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bangun dari tidurnya, lalu Beliau bersabda:



    سُبْحَانَ اللهِ، مَاذَا أُنْزِلَ اللَّيْلَةَ مِنَ الْفِتْنَةِ، مَاذَا أُنْزِلَ مِنَ الْخَزَائِنِ، مَنْ يُوْقِظُ صَوَاحِبَ الْحُجُـرَاتِ، يَا رُبَّ كَاسِيَةٍ فِي الدُّنْيَا عَارِيَةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.



    “Subhanallaah, fitnah apa yang Allah turunkan di malam ini dan perbendaharaan apa yang Allah turunkan di malam ini? Siapakah yang mau membangunkan pemilik-pemilik kamar itu? Wahai kaum, berapa banyak orang yang berpakaian di dunia ternyata ia telanjang pada hari Kiamat kelak.” (HR. Bukhari)



    Al-Hafidz Ibnu Hajar ketika mensyarah hadits ini mengambil sebuah faidah, bahwa dimasa fitnah hendaknya kita sibukkan untuk banyak bertaqarrub kepada Allah, banyak beribadah kepada Allah, mendekatkan diri kepada Allah, karena amalan itu menguatkan hati-hati kita. Taqarrub kita kepada Allah berupa dzikir, shalat, puasa, dan yang lainnya, menguatkan hati, sehingga hati kita –bi’idznillah– selamat dari fitnah.



    Adapun kemudian, kita sibukkan hati kita dengan memikirkan dunia, dengan mengikuti berita-berita viral, dan yang lainnya, sungguh tidak aman hati kita dari fitnah. Apalagi kita sibukkan dengan melihat media sosial, melihat berita-berita, atau mengikuti YouTube, dan yang lainnya. Di sana, ternyata banyak sekali fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Kita buka hati kita untuk setiap syubhat yang masuk, sehingga hati kita bagaikan tong sampah, semua masuk dari sampah-sampah yang bisa merusak hati kita. Seorang mukmin,
    12 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 86 – Adzab Bagi Yang Murtad dari Islam

    Tafsir Ali Imran Ayat 86 – Adzab Bagi Yang Murtad dari Islam adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 5 Rabi’ul Awal 1445 H / 21 September 2023 M.







    Tafsir Tafsir Ali Imran Ayat 86 – Adzab Bagi Yang Murtad dari Islam



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ



    “Bagaimana Allah akan memberikan petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul (Muhammad) adalah benar-benar rasul, dan setelah bukti-bukti yang benar sampai kepada mereka? Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang dzalim.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 86)



    Dalam ayat yang mulia ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwa bagaimana Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman? Ini merupakan pernyataan yang menunjukkan jauh. Artinya jauh bagi mereka yang kafir setelah beriman mendapatkan hidayah dan mengenal Al-Haq (kebenaran), akan tetapi mereka tidak mengikuti Al-Haq tersebut. Maka mereka diberikan sanksi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dijauhkan dan diharamkan dari mengikuti kebenaran. Ini adalah siksaan Allah kepada mereka.



    Ini mirip dengan firman Allah Ta’ala dalam Surah Al-An’am ayat 110:



    وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ



    “Kami palingkan hati dan penglihatan mereka seakan-akan mereka tidak beriman seperti pertama kali. Dan Kami biarkan mereka bingung dalam kesesatan.” (QS. Al-An’am[6]: 110)



    Ini juga semakna dengan firman Allah Ta’ala:



    …فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ



    “Ketika mereka tersesat, maka sekalian Allah sesatkan hati mereka, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. As-Saff[61]: 5)



    Di Surah Ali Imran ayat 86 ini, Allah berfirman, “Bagaimana Allah akan memberikan petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah keimanan mereka?” Artinya, mereka mengetahui kebenaran, mereka membenarkan bahwa ia datang dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun mereka kafir setelahnya. Mereka kafir karena hasad terhadap Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mereja juga sombong.



    Orang-orang Yahudi mengetahui bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada di atas kebenaran. Mereka mengetahui bahwa ia adalah Rasulullah. Akan tetapi, karena hasad, mereka tidak beriman mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena Nabi Muhammad itu dari kaum Arab, sedangkan mereka menginginkan kenabian itu dari Bani Israil.



    Ada tiga hukum yang bisa kita baca dari ayat yang mulia ini:



    Adzab Bagi Yang Murtad dari Islam



    Orang yang keluar dari Islam diberikan hukuman oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia bisa jadi terkadang tidak kembali lagi ke Islam. Makanya bisa dilihat, orang yang mencari kebahagiaan dunia dengan cara ...
    38 min
  • Hak dan Tingkatan-Tingkatan Penghambaan Diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

    Hak dan Tingkatan-Tingkatan Penghambaan Diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 5 Rabi’ul Awal 1445 H / 21 September 2023 M.







    Ceramah Agama Islam Tentang Hak dan Tingkatan-Tingkatan Penghambaan Diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala



    Tentu saja, seseorang yang bertauhid, orang yang beriman dengan benar, kita ketahui bersama, mestinya mereka adalah orang yang paling benar dalam bersikap di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang paling sempurna dalam menunaikan segala perintah dan larangan Allah, yang paling benar dalam menyikapi semua ketentuan yang Allah berlakukan bagi mereka. Bukankah dengan iman mereka, mereka meraih kedudukan -dengan taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala- tingkatan yang sangat tinggi dalam Islam. Ini merupakan ciri seseorang hamba yang sempurna imannya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim:



    ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولً



    “Akan merasakan kenikmatan iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya (sebagai sembahan satu-satunya, sebagai tempat dia mengembalikan segala urusannya, tempat dia bersandar dalam semua hajat dan kebutuhannya), ridha kepada Islam sebagai agamanya dan ridha kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai RasulNya.” (HR. Muslim)



    Maka dia ridha terhadap segala perintah dan larangan Allah, ridha terhadap segala ketentuan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berlakukan dalam takdirnya, karena dia yakin semua yang Allah pilihkan pasti itu yang terbaik dan untuk kemaslahatan bagi hamba-hambaNya. Sementara dia ridha dalam keadaan ketika diuji, maka bersabar. Sedangkan ketika mendapatkan nikmat selalu mensyukuri nikmat tersebut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah keadaan seorang hamba yang menunaikan semua tingkatan-tingkatan penghambaan diri kepada Allah, inilah hamba yang paling sempurna imannya.



    Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberlakukan bagi hambaNya perintah yang Allah perintahkan kepadanya, ketentuan takdir yang Allah takdirkan bagi hamba tersebut, serta nikmat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala limpahkan baginya, maka seorang hamba dalam kehidupannya tidak bisa lepas dari tiga hal ini.



    Ketentuan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala ada itu ada dua macam; yaitu ada musibah-musibah yang Allah timpakan baginya, ada juga celaan-celaaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan hamba ini akan melakukannya. Dan hamba ini wajib untuk menunaikan ubudiyah (penghambaan diri kepada Allah) dalam semua tingkatan-tingkatan ini.



    Kita tahu bahwa kalau seandainya Allah Subhanahu wa Ta’ala berlakukan untuk seseorang satu keadaan, maka ini menjadikan dia tidak teruji dalam penghambaan dirinya kepada Allah. Misalnya seseorang yang hidupnya diberikan nikmat terus, maka mungkin dia akan bersyukur dan menggunakan nikmat tersebut di jalan-jalan kebaikan. Tapi dia hanya bisa melaksanakan ibadah dalam satu keadaan, yaitu ketika senang saja. Bagaimana ketika dalam keadaan susah, mendapatkan musibah, rezekinya sempit,
    48 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah