Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Orang Kafir Pasti Kalah – Tafsir Surah Ali Imran 12

    Orang Kafir Pasti Kalah – Tafsir Surah Ali Imran 12 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 26 Safar 1445 H / 12 September 2023 M.







    Download kajian sebelumnya: Tidak Bermanfaat Harta dan Anak-Anak Orang Kafir – Tafsir Surah Ali Imran 10



    Orang Kafir Pasti Kalah – Tafsir Surah Ali Imran 12



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    قُل لِّلَّذِينَ كَفَرُوا سَتُغْلَبُونَ وَتُحْشَرُونَ إِلَىٰ جَهَنَّمَ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ ‎﴿١٢﴾



    “Katakanlah (Hai Muhammad) kepada orang-orang yang kafir itu: ‘Kalian pasti akan kalah dan pasti akan dikumpulkan ke dalam neraka Jahannam. Dan itu merupakan seburuk-buruk tempat tinggal.'” (QS. Ali ‘Imran[3]: 12)



    Dari ayat ini kita ambil faedah, kata Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin Rahimahullahu Ta’ala:



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hamba



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah hamba yang diperintahkan oleh Allah. Karena Allah berfirman pada ayat ini: “Katakanlah…” Maka beliau adalah hamba yang tidak boleh diibadahi, dan beliau adalah Rasul yang tidak boleh didustakan.



    Pentingnya kabar ini



    Allah menyuruh nabiNya untuk menyampaikan ini kepada orang kafir. Bahwa orang kafir itu pasti akan kalah dan akan dikumpulkan ke neraka Jahannam.



    Kekuatan untuk orang-orang yang beriman



    Ini memberikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman. Dimana ketika kita mendengar Allah mengatakan, “Kalian, hai orang-orang kafir, pasti akan kalah. Walaupun di awal-awal menang, kalian tetap akan kalah di dunia ini, dan di akhirat pun kalian tidak mungkin mendapatkan akibat yang baik. Sebab di akhirat kalian akan dikumpulkan kedalam neraka.”



    Makanya Subhanallah, saudaraku, ini kabar bergembira juga buat kita. Kita melihat orang kafir di zaman ini dengan kehebatan dan kecanggihan mereka, tetap pasti suatu ketika akan kalah.



    Menakut-nakuti orang-orang kafir



    Ayat ini dalam rangka menakut-nakuti orang-orang kafir dan mentahdzir mereka. Bahwasanya orang-orang kafir itu pasti akan kalah.



    Dua sanksi untuk orang kafir



    Allah mengumpulkan dua sanksi untuk orang kafir; yaitu sanksi di dunia, dan sanksi di akhirat.



    Adapun sanksi di dunia itu firman Allah Ta’ala: “Kalian pasti kalah.” Walaupun orang-orang kafir menginfakkan harta yang sangat banyak untuk memerangi kaum muslimin, untuk memadamkan cahaya Allah, tidak akan bisa berhasil. Allah berfirman juga:



    إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَسَيُنْفِقُونَهَا ثُمَّ تَكُونُ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً ثُمَّ يُغْلَبُونَ ۗ وَالَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ يُحْشَرُونَ



    “Sesungguhnya orang-orang kafir itu menginfakkan harta-harta mereka untuk menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan mereka kelak akan menginfakkan harta tersebut, kemudian akan menjadi penyesalan buat mereka, kemudian mereka akan dikalahkan. Dan orang-orang kafir itu di dalam neraka jahan...
    44 min
  • Interaksi Positif Dengan Remaja

    Interaksi Positif Dengan Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 26 Safar 1445 H / 12 September 2023 M.







    Kajian Tentang Interaksi Positif Dengan Remaja



    Interaksi positif dengan remaja maksudnya adalah membuka hubungan dengan anak-anak remaja kita. Karena hubungan yang harmonis adalah kebahagiaan bagi para remaja. Maka sebagai orang tua, kita harus berusaha membina hubungan yang kuat dengan mereka. Demikian pula, menjembatani terwujudnya hubungan yang kuat dan harmonis antara sesama anggota keluarga. Sebab hubungan yang kuat dan harmonis dalam keluarga itu akan menjadi momen terindah bagi para remaja. Sebaliknya, hubungan yang tidak harmonis akan menyebabkan ketidaknyamanan, sehingga anak berusaha untuk menjauh dari keluarga, atau bahkan ia melawan orang tuanya.



    Maka, orang tua hendaknya berusaha untuk membuka dan membangun hubungan yang baik dengan anak-anak remaja. Perlu kita ingat bahwa pada usia remaja ini, mereka sedang mencari jati diri atau identitas. Maka, setiap orang yang ikut andil dalam membentuk jati dirinya dan berpartisipasi positif dalam bentuk kepribadiannya, serta menganggapnya sebagai anak yang memiliki nilai, harga diri, dan memperlakukannya sebagai anak yang memiliki arti, maka hubungannya dengan orang tersebut akan menjadi baik dan kuat.



    Jika perkataan dan perilaku seperti ini akan menambah kuatnya hubungan, maka sebaliknya, hal yang berlawanan dengan perbuatan itu akan mengurangi dan melemahkan hubungan. Contohnya adalah menyepelekan, sikap merendahkan, suka mengungkit kesalahan-kesalahan, dan sejenisnya. Hubungan tidak akan bertambah kuat dengan cara seperti itu, dan juga tidak akan bertambah kuat dengan harta atau sesuatu yang bersifat materi lainnya, namun akan bertambah dengan rasa penghargaan dan penghormatan.



    Sebagai orang tua, ayah bunda harus berusaha untuk menciptakan hubungan yang harmonis dengan anak-anak remaja. Lalu, bagaimana caranya membangun hubungan yang baik dengan anak-anak remaja?



    Memahami remaja



    Pahami remaja Anda dengan lebih baik. Memahami remaja yaitu memahami sifat, karakter, dan tabiatnya, kekurangan maupun kelebihannya, sehingga kita mampu berinteraksi dengan secara tepat dengan anak remaja tersebut. Kalau kita ingin mendekati sesuatu, kita harus memahami sifat-sifatnya. Dengan itu, kita akan mudah masuk kepadanya dan dekat dengannya.



    Ada ungkapan di sana, “Tak kenal maka tak sayang.” Untuk bisa mengenali ini tidak mungkin jarak jauh. Kita harus dekat dengan mereka.



    Memahami sesuatu, apalagi memahami sifat dan karakter, atau tabiat, itu adalah sesuatu yang tidak nampak. Itu perlu waktu. Maka dari itu orang tua memang harus menyisihkan dan memberikan waktu untuk bersama dan dekat dengan mereka.



    Jangan terfokus pada hal-hal negatif



    Hal yang negatif itu pasti ada. Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada yang perfect 100%. Maka jangan terlalu fokus pada hal-hal negatif pada dirinya, seolah-olah dia nanti dimata-matai atau disoroti, atau dia menjadi objek pengawasan orang tua. Misalnya dengan mengurusi persoalan sepele, hal-hal yang kadang-kadang kita harus memberikan toleransi. Atau kesalahan-kesalahan yang kadang-kala dilakukan oleh remaja, tapi masih dalam batas yang wajar. Karena kita juga memahami bahwa mereka adalah manusia yang belum seutuhnya sempurna.
    51 min
  • Arti dan Makna Jazakallahu Khairan

    Arti dan Makna Jazakallahu Khairan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 26 Safar 1445 H / 12 September  2023 M.



    Kajian sebelumnya: Doa Agar Dicintai Allah







    Arti dan Makna Jazakallahu Khairan



    Dari Usamah bin Zaid Radhiyallahu ‘Anhuma, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ، فَقَالَ لِفاعِلهِ: جَزَاكَ اللهُ خَيرًا، فَقَدْ أبْلَغَ فِي الثَّنَاءِ



    “Barangsiapa yang dia diperlakukan satu kebaikan kepadanya, kemudian orang yang diperlakukan kebaikan itu mengucapkan: ‘Jazakallahu Khairan (Semoga Allah memberikan balasan kamu dengan suatu kebaikan)’, maka dia betul-betul telah menyampaikan perbuatan terpuji terhadap orang yang berbuat baik tersebut.” (HR. Tirmidzi)



    Pada ucapan “Jazakallahu Khairan” ini terdapat makna bahwa seseorang menampakkan kelemahannya dan mengalihkan kelebihan pada orang tersebut dengan menyebutkan bahwa “Semoga Allah memberikan balasan kepada engkau.” Yakni maksudnya dia mengatakan: “Aku tidak bisa membalas perbuatan baikmu, karena kelemahanku. Tetapi yang membalasnya adalah Dzat yang Maha Kuasa, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala.”



    Ini merupakan salah satu di antara adab-adab yang diajarkan Islam kepada kita. Karena Islam adalah agama yang mengajarkan adab kepada Allah, kepada manusia, kepada binatang, dan seterusnya. Oleh karena itu Syaikh ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Hafidzahullahu Ta’ala mengatakan:



     الدِّين كلهُ خُلق



    “Agama ini semua berkaitan dengan akhlak.”



    Salah satu akhlak yang diajarkan oleh Islam adalah bagaimana sikap kita terhadap orang yang berbuat baik kepada kita. Kalau kita tidak bisa memberikan sesuatu kepadanya karena perbuatan baik yang dikerjakannya, maka minimal kita mengucapkan kalimat atau doa untuknya: “Jazakallahu khairan (Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepadamu).” Yakni engkau telah berbuat baik kepadaku, maka semoga Allah juga memberikan balasan kebaikan kepada engkau.



    Betapa indahnya agama Islam ini, yang mengajarkan kepada kita adab, bagaimana berbuat baik terhadap orang yang berbuat baik kepada kita. Minimal dengan doa. Maka benar bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang mulia.



    Maka dari itu, marilah kaum muslimin, jangan kita gampangkan masalah akhlak. Karena masalah akhlak adalah masalah yang sangat penting, bagian dari aqidah. Sehingga para ulama ketika menulis masalah aqidah dalam kitab-kitab mereka, mereka memasukkan masalah akhlak. Dan cara muamalah seperti yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini adalah muamalah yang amat mulia, menjadikan seseorang senang kepada kita. Dengan akhlak yang demikian baiknya, ketika kita mengatakan: “Jazakallahu khairan (Semoga Allah memberikan balasan kepada engkau).”



    Jadi, apabila kita diperlakukan baik oleh seseorang, maka kita menjawab dengan “Jazakallahu Khairan.”


    1 hr 26 min
  • Hukuman Untuk Orang-Orang Dzalim

    Hukuman Untuk Orang-Orang Dzalim adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 25 Safar 1445 H / 11 September 2023 M.







    Kajian Islam Tentang Hukuman Untuk Orang-Orang Dzalim



    Di sini kita akan berbicara tentang bab hukuman apa yang diberikan kepada orang-orang yang dzalim. Kita melihat di muka bumi ini ada banyak kedzaliman terjadi. Di sekitar kita, mungkin di keluarga, di kampung, di kota, atau mungkin di negeri kita. Kadang-kala kita yang didzalimi atau tetangga, atau manusia lain yang didzalimi.



    Kecintaan kepada harta, tahta, atau wanita membuat sebagian orang lupa tata krama dan hak asasi manusia. Seakan-akan hanya dia yang manusia di muka bumi ini. Dengan kekuatannya dan jabatannya, dia mengambil hak-hak orang lain. Tatkala ambisi dunia telah membara di dalam jiwa, maka yang ada adalah bagaimana dia senang.



    Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan kedzaliman atas diriNya dan mengharamkan kedzaliman di antara hamba-hambaNya.



    Kalau kita membaca Al-Quran, kita akan menemukan banyak ayat yang berkaitan dengan kedudukan kedzaliman ini. Pada pertemuan sebelumnya, kita membaca firman Allah, bahwa Allah memerintahkan agar kita berlaku adil, berbuat baik, dan berbagi dengan kerabat. Allah melarang perbuatan keji dan mungkar, serta perbuatan kedzaliman. Allah memberikan pelajaran dan nasihat agar kita sadar.



    Namun, kadang-kadang kita melihat penjara penuh, bahkan banyak yang tidak masuk penjara karena dia kebal hukum atau dia kabur dan terus melakukan kedzaliman. Tapi kadangkala kita melihat hidupnya nyaman saja. Ada perampok atau pembunuh yang mungkin belum tertangkap dan juga tidak dihukum. Apa akibat kedzaliman yang mereka lakukan?



    Terkadang Allah menunda hukuman untuk orang yang dzalim, tapi kalau sudah Allah hukum, maka dia tidak akan bisa kabur.



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    من عال جاريتين حتى تدركا دخلت أنا وهو في الجنة كهاتين وأشار محمد بن عبد العزيز بالسبابة والوسطى



    “Barangsiapa yang merawat/membiayai/mengasuh dua anak perempuan sampai anak itu baligh, aku masuk surga bersama dia seperti ini (beliau menggabungkan antara jari tengah dan jari telunjuknya).” (HR. Bukhari)



    Ini menunjukkan fadhilah merawat anak. Orang tua ketika punya anak perempuan, kadang-kala dia berpikir, “Ini anak dirawat, disekolahkan, dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang, dengan biaya yang tidak sedikit, dengan energi dan waktu yang banyak. Kemudian, tatkala dia sudah baligh, dilamar oleh laki-laki, dinikahi, dan dibawa.”



    Sebagian orang tua merasa kalau punya anak perempuan itu berarti dibawa sama suaminya. Orang tua tidak bisa nyuruh-nyuruh anaknya. Karena dia sudah punya suami.



    Maka di sini Allah memberikan fadhilah kepada mereka yang merawat anak perempuan. Fadhilah yang tidak diberikan kepada mereka yang punya dan membesarkan anak laki-laki. Karena memang boleh dilihat, tidak ada hasil di dunia untuk orang tua yang punya anak perempuan. Tapi ternyata orang tua mendapatkan jaminan dari Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam, yaitu masuk surga bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Yakni akan berdekatan dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    1 hr 9 min
  • Bersihnya Hati

    Bersihnya Hati adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 25 Safar 1445 H / 11 September 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Bersihnya Hati



    Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:



    اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بكَ مِن فِتْنَةِ النَّارِ وعَذابِ النَّارِ، وفِتْنَةِ القَبْرِ وعَذابِ القَبْرِ، وشَرِّ فِتْنَةِ الغِنَى وشَرِّ فِتْنَةِ الفَقْرِ، اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بكَ مِن شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ قَلْبِي بماءِ الثَّلْجِ والبَرَدِ، ونَقِّ قَلْبِي مِنَ الخَطايا كما نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وباعِدْ بَيْنِي وبيْنَ خَطايايَ كما باعَدْتَ بيْنَ المَشْرِقِ والمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بكَ مِنَ الكَسَلِ، والمَأْثَمِ والمَغْرَمِ.



    “Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari fitnah neraka, adzab neraka, fitnah kubur, dan adzab kubur. Aku juga berlindung kepada Engkau dari keburukan fitnah kekayaan dan keburukan fitnah kemiskinan. Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari keburukan fitnah Dajjal. Ya Allah, cucilah hatiku dengan air salju dan bongkahan-bongkahan es yang turun dari langit. Bersihkanlah hatiku dari dosa-dosa sebagaimana Engkau membersihkan baju putih dari kotoran. Jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku seperti Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, aku berlindung kepada Engkau dari kemalasan, dosa-dosa, dan terlilit hutang. (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)



    Dari Abdullah bin Abi Aufa, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa:



    ‏اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي بِالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَالْمَاءِ الْبَارِدِ اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا طَهَّرْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ ‏ ‏الدَّنَسِ ‏ ‏وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ ذُنُوبِي كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ



    “Ya Allah, sucikanlah aku dengan salju, dengan bongkahan es yang turun dari langit, dan juga dengan air dingin. Ya Allah, sucikanlah hatiku dari dosa-dosa sebagaimana Engkau sucikan baju yang putih dari kotoran. Jauhkanlah antara aku dan antara dosa-dosaku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat.” (HR. Muslim dan Ahmad, dan ini lafal dalam musnad Imam Ahmad)



    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam jika Takbiratul Ihram dalam shalat, beliau diam sejenak sebelum membaca Al-Fatihah. Maka aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, apa yang engkau baca ketika engkau diam sejenak antara Takbiratul Ihram dengan membaca surah Al-Fatihah?’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:



    اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ المَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالبَرَدِ



    “Ya Allah jauhkanlah antara aku dan dosa-dosaku, sebagaimana engkau jauh antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari dosa-dosaku, sebagaimana dibersihkannya baju putih dari kotoran. Ya Allah,
    56 min
  • Talbis Iblis Untuk Tidak Memiliki Anak

    Talbis Iblis Untuk Tidak Memiliki Anak ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 25 Safar 1445 H / 11 September 2023 M.







    Kajian Tentang Talbis Iblis Untuk Tidak Memiliki Anak



    Di antara talbis iblis terhadap kaum Sufi adalah memalingkan mereka dari sebuah ibadah yang mulia, yang dengan ibadah itu seseorang bisa melanjutkan keturunannya, yaitu ibadah menikah. Mereka memilih untuk menjalani hidup membujang, bahkan ada yang mengebiri diri. Sebagai konsekuensi dari sikap tersebut, iblis juga memasukkan syubhat ke dalam hati mereka dalam hal keinginan untuk memiliki anak.



    Ada beberapa penukilan-penuhilan dari tokoh-tokoh mereka atau orang-orang yang kadang-kadang dimanfaatkan namanya untuk dinisbatkan perkataan kepada mereka. Wallahu a’lam, benar atau tidaknya penukilan tersebut. Di antaranya, dari Abu Sulaiman ad-Darani, diklaim dia pernah mengatakan, “Orang yang ingin memiliki anak adalah orang yang bodoh. Tidak bermanfaat untuk dunia dan tidak pula bermanfaat untuk akhirat.”



    Tentunya, mereka memandang dari satu sisi saja, tapi tidak melihat dari sisi-sisi lainnya. Dimana ada keberkahan dan kebaikan yang luar biasa dari memiliki keturunan. Disamping itu memang merupakan suatu naluri yang ada pada makhluk hidup. Semua makhluk hidup punya naluri memiliki keturunan, bahkan hewan.



    Tentunya untuk melanjutkan keberlangsungan spesies anak Adam di muka bumi ini adalah dengan menikah kemudian dari situ memiliki keturunan yang baik dengan melalui lembaga pernikahan.



    Inilah sunnatullah yang dijalani oleh manusia, dan sunnah para nabi dan rasul yang dicontohkan oleh mereka kepada umat manusia. Namun, orang-orang Sufi ini menganggap bahwa keinginan punya anak itu adalah suatu keinginan yang bodoh, tidak bermanfaat untuk dunia dan akhirat.



    Kita tahu bahwa anak itu dalam urusan dunia membantu kita, apalagi ketika kita tidak punya kekuatan lagi. Karena kita tidak selamanya kuat, ada masa-masa lemah, kembali ke ardzalil ‘umur (umur-umur dimana kita tinggal menunggu waktu dalam kondisi lemah). Nah, disitulah kita mungkin berharap dari anak-anak keturunan untuk merawat dan mengasuh kita. Sebagaimana kita melihat pada orang-orang tua renta yang diasuh dan dirawat oleh anak-anak mereka. Siapa lagi yang diharapkan untuk merawat orang-orang tua seperti ini kecuali anak-anak mereka, sebagai bentuk kebaktian anak-anak tersebut kepada orang tuanya.



    Namun, dikatakan oleh mereka bahwa ini tidak bermanfaat untuk dunia. Jelas ini sangat keliru dan tertolak. Berdasarkan realita yang ada, bahwa mempunyai anak itu bermanfaat sekali.



    Adapun untuk urusan akhirat, maka ini lebih bermanfaat lagi. Kita tahu ada hadits, bahwa ada seorang yang dinaikkan derajatnya di dalam surga. Lalu dia bertanya kepada Allah: “Ya Allah, dari mana semua ini aku dapatkan?” Maka Allah berkata kepadanya: ‘Dari istighfar anakmu untuk dirimu.”



    Dan salah satu aset yang terus mengalirkan pahala bagi seorang adalah anak shalih yang senantiasa mendoakannya. Lalu mengapa mereka berkata bahwa memiliki anak itu tidak ada manfaatnya untuk akhirat? Tentu ini bertentangan dengan nash-nash syariat.



    Alasan mereka yang sangat aneh dan lucu adalah bahwa saat ingin makan, tidur atau berhubungan badan,
    36 min
  • Membaca Basmalah Saat Masuk Rumah

    Membaca Basmalah Saat Masuk Rumah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 25 Safar 1445 H / 11 September 2023 M.



    Lihat sebelumnya: Doa Keluar Rumah Agar Tidak Tersesat







    Kajian Tentang Membaca Basmalah Saat Masuk Rumah



    Kenapa kita perlu baca doa masuk rumah? Kalau doa keluar rumah wajar, karena di luar rumah akan bertemu orang banyak yang kita tidak kenal. Kalau masuk rumah akan bertemu dengan orang-orang yang kita kenal, bahkan orang-orang yang kita sayangi? Kenapa kita tetap baca doa? Salah satu alasannya adalah demi mensyukuri nikmat kita bisa tinggal di rumah. Walaupun rumah tersebut adalah rumah kontrakan, atau masih numpang. Apalagi kalau rumah itu milik kita.



    Kenapa banyak di antara kita yang sudah punya rumah sendiri, walaupun sederhana, tapi banyak mengeluh dna kurang bersyukur? Karena kita tidak melihat orang yang di bawah kita.



    Walaupun rumah yang kita tinggali itu adalah kontrakan, atau masih numpang, yakinlah masih ada yang lebih susah dibandingkan kita. Yaitu orang-orang yang tidak bisa ngontrak dan tidak bisa numpang.



    Jadi, walaupun rumah kita masih ngontrak atau numpang, tetap bersyukur. Karena banyak orang yang tinggal di emperan toko, di kolong jembatan, bahkan kemana-mana membawa gerobak.



    Ketika kita merasa bahwa ada kekurangan di dalam tempat tinggal, maka yakinlah bahwa masih banyak yang lebih susah dan sengsara. Kita bisa tinggal di dalam rumah merupakan nikmat, dan setiap nikmat itu wajib disyukuri.



    Salah satu cara untuk mensyukuri nikmat punya tempat tinggal adalah dengan mengamalkan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat masuk rumah. Di antara tuntunan yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila masuk rumah adalah dengan membaca doa:



    بِسْمِ اللهِ



    Ketika kita baca “Basmalah,” maka kita akan mendapatkan keuntungan yang luar biasa. Dan ketika tidak membaca “Basmalah” saat masuk rumah, kita akan mendapatkan kerugian yang luar biasa, padahal sangat mudah untuk mengucapkannya. Hanya dengan kalimat sepotong ini, “Bismillah,” kita akan mendapatkan keistimewaan. Dan keistimewaan ini akan mempengaruhi kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat.



    Dalil landasan



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    «إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ، قَالَ الشَّيْطَانُ: “لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ”، وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ: “أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ” وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ: “أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ»



    “Bila seseorang memasuki rumahnya dan berdzikir kepada Allah (dengan membaca basmalah) saat masuk dan makan; maka setan akan berkata, ‘Kalian tidak mendapatkan tempat menginap dan makanan (di rumah ini).’



    Namun jika ia masuk lalu tidak membaca basmalah, setan akan berkata, ‘Kalian menemukan tempat menginap’. Bila ia tidak membaca basmalah sebelum makan; niscaya setan akan berkata, “Kalian mendapatkan tempat menginap dan makanan”. (HR. Muslim)



    43 min
  • Doa Setelah Adzan

    Doa Setelah Adzan merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 24 Safar 1445 H / 10 September 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Doa Setelah Adzan



    Hadits 200:



    عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ ﵁ عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ.



    Dari Sa’ad bin Abu Waqqash Radhiyallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: “Siapa yang mengucapkan ketika muadzin bersyahadat: ‘Asyhadu alla ilaha illallah wahdahulaa syarikalah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh‘ ia ucapkan: ‘radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa (aku ridha Allah sebagai Rabb, Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama), maka akan diampuni dosa-dosanya.” (HR. Muslim)



    Hadits ini menunjukkan disyariatkannya mengucapkan kata-kata ini. Namun terjadi ikhtilaf para ulama tentang tempatnya kapan. Pendapat yang dirajihkan oleh Syaikh Utsaimin Rahimahullah -dan insyaAllah ini pendapat yang paling kuat- yaitu ketika muadzin telah selesai mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika muadzin telah selesai dari: “Asyhadu alla ilaha illallah asyhadu alla ilaha illallah. Asyhadu ann muhammadarrasulullah.” Ini masing-masing kita jawab, setelah itu baru kita mengucapkan ‘radhitu billahi robbaa wa bi muhammadin rosulaa wa bil islami diinaa.’



    Sebagian ulama ada yang mengatakan bahwa ini diucapkan setelah selesai adzan. Namun berdasarkan riwayat ini -wallahu a’lam- itu diucapkan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat.



    Pahalanya adalah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



     مَنْ قَالَ : رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا ، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا ، وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا ، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ



    “Siapa yang mengucapkan ‘radhitu billahi robbaa wa bil islami diinaa wa bi muhammadin rosulaa‘ wajib masuk surga.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i)



    Imam Ibnul Qayyim menyebutkan tentang makna ucapan ini. Kata beliau bahwa ucapan ini mengandung ridha kepada Allah dari sisi rububiyah dan uluhiyahNya, dan ridha kepada Rasulullah, dan senantiasa tunduk kepadanya, dan ridha terhadap agamanya, dan senantiasa taslim untuknya. Dan siapa yang terkumpul padanya empat perkara tadi, maka ia seorang yang benar-benar siddiq sejati.



    Maka ridha dengan uluhiyahNya Allah mengandung ridha untuk hanya mencintai Allah segala-galanya. Ridha untuk hanya takut kepada Allah melebihi segala sesuatu. Kita senantiasa berharap kepada Allah, senantiasa kembali kepada Allah, senantiasa bertaqarrub kepada Allah, dan kita gunakan kekuatan keinginan kita kepada Allah. Demikian pula cinta kita semua karena Allah. Dan ini mengandung ibadah dan mengikhlaskan ibadah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala saja.



    Ridha dengan rububiyahNya Allah mengandung ridha terhadap semua aturan Allah untuk hamba-hambaNya, mengesakan Allah dalam tawakal kepadaNya. Demikian pula senantiasa meminta pertolongan kepadaNya,
    44 min
  • Sikap Salafus Shalih Terhadap Penentang dan Penghina Sunnah

    Sikap Salafus Shalih Terhadap Penentang dan Penghina Sunnah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Ta’zhimus Sunnah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Sabtu, 23 Safar 1445 H / 9 September 2023 M.







    Kajian Tentang Sikap Salafus Shalih Terhadap Penentang dan Penghina Sunnah



    Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah berkata:



    من سبَّ اللهَ تعالى كَفَر، سواءٌ كان مازحًا أو جادًّا، وكذلك من استهزأ باللهِ تعالى، أو بآياتِه أو برُسُلِه، أو كُتُبِه



    “Siapa saja yang menghina Allah Subhanahu wa Ta’ala, sungguh dia telah kafir, baik menghinanya dengan bercanda atau sungguh-sungguh. Demikian pula bagi siapa yang mengolok-ngolok Allah Subhanahu wa Ta’ala, ayat-ayat Allah, dan RasulNya, dan kitab-kitabNya.”



    Inilah yang mendorong penulis untuk menulis bahasan ini sebagai andil memperingatkan akan kemungkaran yang sangat nyata ini, memperingatkan akan bahayanya, serta menjelaskan sikap seorang muslim terhadap orang-orang yang menghina Allah, Rasulullah, dan termasuk di dalamnya menghina Al-Qur’an dan Sunah Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Penulis menyebutkan beberapa ayat dan hadits serta riwayat-riwayat yang berkenaan dengan pentingnya sunah dan pengagungannya. Inilah Manhaj.



    Manhaj adalah beragama berdasarkan Al-Qur’an dan hadits serta dipahami oleh para Salafush Shalih, para sahabat, dan ulama-ulama dari kalangan tabiin dan tabi’ut tabiin, serta ulama-ulama setelahnya yang mengikuti para sahabat dengan baik. Itulah Manhaj.



    Tentu, berikut teks yang sudah dirapikan dengan tanda baca yang benar:



    Salafush Shalih artinya adalah orang-orang terdahulu yang shalih, dan mereka ini adalah para sahabat, para tabiin, dan para tabi’ut tabiin. Sebagaimana hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ…



    “Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya.” (HR. Bukhari)



    Inilah tiga zaman keemasan. Para ulama sejarah mengatakan bahwa jika dihitung, tabi’ut tabiin yang paling terakhir meninggal adalah pada tahun 257 Hijriah.



    Sahabat yang paling terakhir meninggal adalah Abu Thufail Amru bin Watsilah al-Laitsi Radhiyallahu ‘Anhu. Beliau wafat pada tahun 110 Hijriah di kota Makkah al-Mukarramah. Sedangka akhir tabiin yang meninggal adalah Khalaf bin Khalifah al-Kufi al-Muammar. Beliau wafat di kota Baghdad pada tahun 181 Hijriah. Adapun tabi’ut tabiin yang paling terakhir meninggal adalah al-Hasan bin Arafah al-Abdi al-Baghdadi. Beliau wafat pada tahun 257 Hijriah.



    Maka ketika penulis tadi menyebutkan “Salafush Shalih”, maka yang dimaksud adalah tiga generasi terbaik yang disebutkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.



    Kemudian penulis berkata: “Saya akan ringkas dengan menyebut nash-nash dan beberapa pendapat para ulama saja. Yang demikian sudah cukup InsyaAllah dalam menerangkan yang benar dan menjelaskan petunjuk bagi siapa yang mempunyai hati atau diberikan pendengaran dan dia menyaksikan.“



    Inilah Manhaj dan inilah kitab ilmiah. Yaitu mencukupkan dengan dalil-dalil dan penjelasan dari para ulama, bukan penjelasan dari diri sendiri, apalagi dari hawa nafsu sendiri.
    53 min
  • Bertingkat-Tingkatnya Nilai Tauhid Dalam Diri Manusia

    Bertingkat-Tingkatnya Nilai Tauhid Dalam Diri Manusia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 21 Safar 1445 H / 7 September 2023 M.







    Ceramah Agama Islam Tentang Bertingkat-Tingkatnya Nilai Tauhid Dalam Diri Manusia



    Tauhid identik dengan keimanan, aqidah, dan keyakinan di hati. Bahkan, tauhid adalah inti dari keimanan dan aqidah itu sendiri. Maka, tentu saja, kualitasnya di hati manusia bertingkat-tingkat, sehingga penjagaannya, sebab-sebab yang memurnikannya, atau bahkan sebaliknya (sebab yang bisa merusaknya), juga akan bertingkat-tingkat.



    Makanya, sewaktu kita mendengar, hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang keutamaan tauhid, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    يَا ابْنَ آدَمَ! إِنَّكَ لَو أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَ تُشْرِكُ بِي شَيْئاً لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً



    “Wahai anak manusia! Sesungguhnya jika kamu datang menghadapKu dengan membawa dosa sepenuh bumi, tapi kemudian kamu datang menjumpaiKu dalam keadaan tidak menyekutukan Aku sedikitpun, maka niscaya Aku akan memberikan kepadamu pengampunan yang sepenuh bumi pula.” (HR. Tirmidzi)



    Lihat juga: Hadits Arbain Ke 42 – Tiga Hal Yang Bisa Menghapuskan Dosa



    Itu tentu tauhid yang murni, tauhid yang kuat, dan tauhid tinggi kualitasnya.



    Makanya, inilah sebabnya kenapa kita harus selalu meningkatkan kualitas iman dan tauhid di hati dengan selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, meminta agar kebaikan-kebaikan agama kita disempurnakan, dijadikannya selalu bertambah dan semakin sempurna. Kita selalu harus membaca Al-Qur’an dan merenungkan isinya, karena Al-Qur’an adalah sebaik-baik petunjuk yang akan semakin menguatkan iman dan memantapkan keyakinan di hati kita. Kita selalu melakukan kebaikan-kebaikan, mendengarkan kajian, mendengarkan nasihat, agar keimanan di hati kita semakin kuat dan kokoh. Dengan sebab ini, kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan yang Allah janjikan itu semakin sempurna didapatkan oleh hamba yang seperti ini keadaannya.



    Imam Ibnul Qayyim berkata bahwa tauhid adalah sesuatu yang paling halus, paling bersih, paling suci, paling bening. Maka keburukan yang paling kecil pun akan bisa merusaknya, mengotorinya, atau mempengaruhinya. Perumpamaannya seperti pakaian yang paling putih bersih warnanya. Juga seperti cermin yang paling bening. Sehingga sesuatu yang paling kecil sedikitpun akan mempengaruhinya dan apapun yang kita letakkan akan terlihat bekasnya.



    Oleh karena itu tauhid yang seperti ini keadaannya akan bisa dipengaruhi dengan satu pandangan mata (yang tidak sesuai dengan syariat), satu kalimat (yang melanggar agama), atau syahwat yang tersembunyi.



    Di sinilah bedanya, orang-orang yang imannya sempurna tentu mendapatkan penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka perbuatan dosa yang kecil saja Allah segera ingatkan karena itu mempengaruhi tauhidnya. Sampai bahkan mereka meninggalkan hal-hal yang asalnya tidak berdosa (mubah dikerjakan),
    43 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah