Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Mengawal Perkembangan Psikologi Remaja

    Mengawal Perkembangan Psikologi Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 12 Safar 1445 H / 29 Agustus 2023 M.







    Kajian Tentang Mengawal Perkembangan Psikologi Remaja



    Perkembangan psikologi pada usia remaja tampak pada kemampuan mereka dalam mengungkapkan emosi positif dan negatif, yaitu perasaan gembira dan sedih dengan sangat jelas. Namun, pada anak-anak yang memiliki kelainan seperti autisme, kemampuan ini mungkin tidak terlihat. Beberapa mungkin tidak bisa mengungkapkan perasaan gembira dan sedih, serta tidak bisa membedakan antara keduanya.



    Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan perkembangan anak-anak dalam hal kemampuannya mengungkapkan emosi positif dan negatif.



    Pada usia remaja, anak-anak cenderung menyukai kebebasan karena mereka merasa lebih dewasa. Munculnya kepercayaan diri juga seiring dengan peningkatan kekuatan fisik dan akal. Hal ini terlihat ketika mereka berusaha untuk melakukan aktivitas sendiri, karena mereka merasa sudah cukup besar dan dewasa. Namun, pada saat yang sama, karena remaja masih labil dan sedang mencari jati diri, mereka suka mengabaikan nasihat orang tuanya. Dan terkadang muncul sikap egois karena kepercayaan diri yang berlebihan. Hal ini adalah hal yang wajar terjadi pada manusia, terutama pada usia remaja. Maka kadang-kadang dia merasa punya pendapat dan pandangan sendiri.



    Maka para orang tua tidak perlu terkejut dan merasa ini satu sikap penentangan dan lain sebagainya. Artinya, mereka sampai pada usia mau berargumentasi. Lain halnya anak-anak yang mungkin tidak terfikirkan dalam benak mereka untuk adu argumentasi. Tapi anak remaja sudah mulai berani menyatakan pendapat dan beradu argumentasi. Ini adalah suatu yang wajar pada anak remaja.



    Hanya saja orang tua yang harus mengerti. Ketika dia mengacuhkan kata-kata kita, itu artinya dia perlu argumentasi yang lebih detail, lebih kuat, lebih jelas, sehingga bisa diterima oleh akalnya. Karena dia bukan anak-anak lagi yang diberitahu kemudian terima.



    Maka para orang tua, ketika menghadapi anak-anak remaja, mereka harus siap dengan argumentasi.



    Kata-kata yang paling tidak disukai oleh anak-anak remaja adalah “pokoknya…”. Kadang-kadang, sebagian orang tua tidak mampu berargumentasi kepada anak-anak remajanya. Di sinilah para orang tua harus menyiapkan diri untuk bisa memberikan argumentasi.



    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahkan menyampaikan argumentasi semenjak anak masih kanak-kanak. Misalnya kepada Al-Hasan bin Ali ketika melarang beliau memakan kurma zakat, Nabi menjelaskan argumentasinya, “Karena kita keluarga Muhammad tidak halal memakan harta zakat.” Ini satu contoh dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa ketika menghadapi remaja, kita tidak bisa beranggapan bahwa “Saya ini orang tua, dia anak saya, dia harus terima dan kata-kata saya.”



    Orang tua perlu memberikan argumentasi kepada anak remaja, karena akalnya sudah semakin matang, dia tidak bisa terima begitu saja kata-kata kita. Dan kadang-kadang itu kita nilai sebagai suatu penolakan. Padahal sebenarnya tidak harus kita artikan seperti itu. Sebagian remaja kita lihat tidak langsung menerima perkataan orang tuanya, bukan berarti menolak. Tapi dia butuh diyakinkan dengan argumentasi dan alasan-alasan kita.



    47 min
  • Hadits-Hadits Perbaikan Hati

    Hadits-Hadits Perbaikan Hati adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Hadits-Hadits Perbaikan Hati. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 11 Safar 1445 H / 28 Agustus 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Hadits-Hadits Perbaikan Hati



    Dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (kemudian Nu’man mengarahkan kedua jarinya ke kedua telinganya, yaitu dia ingin menjelaskan bahwasanya dia benar-benar mendengar langsung dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam):



    إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الَحرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى يُوْشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيْهِ أَلاَّ وِإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلاَ وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَ الجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ القَلْبُ – رَوَاهُ البُخَارِي وَمُسْلِمٌ



    “Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas dan perkara yang haram itu jelas dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang syubhat, kebanyakan orang tidak mengetahuinya. Siapa yang menghindarkan dirinya dari perkara-perkara syubhat maka dia akan bersih agamanya dan akan bersih harga dirinya. Siapa yang terjerumus dalam syubhat maka suatu saat dia akan terjerumus dalam perkara yang haram. Sebagaimana penggembala yang menggembalakan hewan gembalaannya di sekitar daerah terlarang, lama-lama hewan gembalaanya tersebut akan masuk di daerah terlarang.



    Ketahuilah bahwasannya setiap raja itu ada daerah larangannya. Dan ketahuilah bahwasannya daerah larangan Allah adalah hal-hal yang diharamkan olehNya. Ketahuilah bahwasanya dalam tubuh itu ada segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh anggota tubuh. Dan jika rusak, maka rusak pula seluruh anggota tubuh. Ketahuilah dia adalah qalbu.” (HR. Bukhari dan Muslim)



    Hadits ini merupakan landasan yang sangat agung tentang bagaimana kita harus memperbaiki qalbu kita. Bahwasanya anggota tubuh yang lainnya mengikuti hati. Kalau hati baik, maka yang lain juga baik. Kalau hati buruk, maka menjadi buruk pula anggota tubuh yang lain.



    Hati adalah Landasan



    Ini telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala. Beliau berkata: kesimpulannya bahwasanya hati adalah landasan. Ini sebagaimana perkataan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu: “Hati adalah raja anggota tubuh, dan anggota tubuh adalah anak buahnya dari raja tersebut. Kalau sang raja baik, maka baik pula pasukannya. Kalau rajanya buruk, maka buruk pula pasukannya.”



    Ini juga sebagaimana yang diisyaratkan adalah hadits yang kita bahas tadi. Oleh karenanya, baiknya hati atau rusaknya hati berkonsekuensi rusaknya anggota tubuh, atau baiknya anggota tubuh yang lain.



    Perhatikan, semua yang Allah wajibkan pada hamba, perintah maupun yang Allah larang untuk ditinggalkan, semuanya kembali kepada hati. Karena hati yang menjadi pusat perhatian.
    55 min
  • Para Nabi dan Rasul Mendapatkan Ujian

    Para Nabi dan Rasul Mendapatkan Ujian adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 11 Safar 1445 H / 28 Agustus 2023 M.







    Kajian Tentang Para Nabi dan Rasul Mendapatkan Ujian



    Pada kajian sebelumnya, telah kita bahas tentang sifat Al-Basyariyah. Artinya para nabi dan rasul itu dari kalangan manusia, bukan dari malaikat atau jin. Tentunya ada beberapa kaitan yang akan dibahas di sini. Jika kita mengetahui bahwa para nabi dan rasul itu dari kalangan manusia, maka mereka:




    * Makan dan minum, juga jalan ke pasar.



    * Menikah, punya keturunan.



    * Bisa sakit.



    * Mendapatkan ujian.




    Para Nabi dan Rasul Mendapatkan Ujian



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ



    “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir berbuat makar terhadapmu untuk menangkapmu dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka berbuat makar dan Allah . Dan Allah sebaik-baik pembalas makar.” (QS. Al-Anfal[8]: 30)



    Oleh karena itu, ketika Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar dari Mekah, hijrah ke Madinah, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda sebagaimana dalam hadits yang shahih diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibnu Majah, dan yang lainnya. Beliau berkata:



    وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ



    “Demi Allah, engkau (wahai Mekah) adalah sebaik-baik tempat di bumi Allah. Dan engkau adalah negeri yang paling Allah cintai. Seandainya aku tidak dikeluarkan dari engkau, aku tidak akan pernah keluar.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)



    Bahkan sebelum Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Nabi Ibrahim yang merupakan bapaknya para nabi-nabi, beliau hijrah dari Iraq ke Syam untuk menjaga agamanya.



    Bahkan para Nabi sampai ada yang dibunuh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا تَهْوَىٰ أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا تَقْتُلُونَ



    “Apakah setiap datang kepada kalian rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak kalian inginkan lalu kalian menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kalian dustakan dan sebagiannya kalian bunuh?” (QS. Al-Baqarah[2]: 87)



    Ini Allah bongkar kelakuan Ahlul Kitab, kaum Yahudi.



    Para Nabi dan Rasul Meninggal



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ



    “Engkau pasti meninggal dan sesungguhnya mereka juga meninggal.” (QS. Az-Zumar[39]: 30)



    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:



    وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ



    “Tidak ada seorang manusia pun yang Kami jadikan kekal sebelum engkau.
    54 min
  • Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi yang tidak mau Menikah

    Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi yang tidak mau Menikah ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 11 Safar 1445 H / 28 Agustus 2023 M.







    Kajian Tentang Talbis Iblis terhadap Kaum Sufi yang tidak mau Menikah



    Salah satu di antara talbis Iblis terhadap kaum sufi adalah mengambil sikap tidak menikah, atau menjalani kehidupan tanpa menikah, atau membujang, bahkan ada yang mengebiri diri.



    Mungkin mereka melakukan ini dengan anggapan bahwa menikah itu dapat menyibukkan, melalaikan, dan memalingkan mereka dari ibadah. Mereka lupa bahwa menikah itu sendiri adalah ibadah.



    Ibnul Jauzi mengatakan bahwa menikah karena takut berbuat zina wajib hukumnya, sementara saat tidak takut berbuat zina maka hukumnya sunnah muakkadah, menurut pendapat mayoritas ahli fiqih. Sedangkan menurut mazhab Abu Hanifah dan Imam Ahmad Ibnu Hanbal, saat dalam kondisi itu hukum menikah lebih baik daripada seluruh amalan nafilah. Alasannya karena menikah merupakan sebab seseorang mendapatkan keturunan. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan di dalam hadits bahwa tujuan terpenting dari menikahi itu adalah mendapatkan keturunan.



    Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyuruh kaum pria untuk mencari wanita yang subur. Tujuannya adalah agar bisa dipastikan dia memiliki keturunan. Walaupun anak itu adalah anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tapi tentunya ada sebabnya. Kalau seorang wanita itu mandul, maka sebabnya hilang. Maka Nabi memerintahkan kita untuk memilih wanita yang subur. Bahkan Nabi melarang menikahi wanita yang mandul jika tujuannya untuk mencari keturunan.



    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:



    تَزَوَّجُوْا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّي مُكَاثِرُ الْأَنْبِيَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ



    “Nikahilah wanita yang penyayang dan subur, karena aku akan berbangga-bangga dengan jumlah kalian di hari kiamat nanti di hadapan semua umat.” (HR. Bukhari)



    Memiliki sifat penyayang, karena dia akan menjadi ibu dan merawat anak-anaknya. Sedangkan merawat dan mendidik anak itu perlu kasih sayang. Maka sifat ini disebutkan oleh Nabi sebagai yang pertama. Karena seorang wanita memiliki tugas lebih dari sekadar melahirkan anak saja –walaupun itu adalah kodrat wanita– tapi lebih dari itu, dia dituntut untuk bisa mendidik anak-anak tersebut.



    Banyak wanita yang bisa punya anak, tapi wanita yang bisa mendidik anak itu lebih sedikit. Oleh karena itu, Nabi mewanti-wanti agar kita memilih wanita yang memang siap untuk mendidik anak, bukan hanya siap untuk melahirkan anak. Maka sifat yang paling penting untuk dimiliki oleh wanita adalah sifat penyayang.



    Kemudian Nabi menyebutkan, “Wanita yang bisa melahirkan (bukan wanita yang mandul).” Maka ini salah satu tujuan mulia dan tujuan agung dari menikah, yaitu menghasilkan keturunan. Maka dia adalah ibadah yang sangat agung. Anehnya, kaum sufi menghindari menikah karena dianggap bisa mengganggu ibadah. Padahal, menikah itu sendiri adalah ibadah yang sangat agung.



    Sa’ad bin Abi Waqqash mengutarakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menolak membujangnya Utsman bin Madz’un. Nabi tidak menerima keinginannya itu. “Jika Nabi mengizinkan,
    35 min
  • Doa Keluar Rumah Agar Tidak Tersesat

    Doa Keluar Rumah Agar Tidak Tersesat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 11 Safar 1445 H / 28 Agustus 2023 M.



    Lihat sebelumnya: Doa Keluar Rumah







    Kajian Tentang Doa Keluar Rumah Agar Tidak Tersesat



    Selain doa keluar rumah yang telah dibahas sebelumnya, ternyata ada juga doa lain yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Doa ini tidak pernah ditinggalkan oleh beliau setiap kali beliau keluar rumah. Namun, sayangnya, banyak di antara kita mungkin belum tahu dan hafal doa ini. Doa tersebut berbunyi:



    اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ



    Dalil Landasan



    Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha menuturkan:



    مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ: «اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ، أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ، أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ، أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ»



    “Setiap kali Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam keluar rumah, pasti beliau selalu mengangkat pandangannya ke langit seraya berdoa, “Allohumma a’udzubika an adhilla au udholla, au azilla au uzalla, au adzlima au udzlama, au ajhala au yujhala ‘alayya (Ya Allah aku memohon perlindungan kepadaMu agar (1) Tidak tersesat atau disesatkan orang lain, (2) Agar tidak tergelincir atau digelincirkan orang lain, (3) Agar tidak berbuat zalim atau dizalimi orang lain, serta (4) Agar tidak berbuat bodoh atau dibodohi orang lain)”. (HR. Abu Dawud dan dinilai hasan oleh Ibn Hajar al-‘Asqalaniy Rahimahullahu Ta’ala)



    Perlu dicermati bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam saat membaca doa ini mengangkat pandangannya ke langit. Mengapa beliau melakukan ini? Hal ini karena Allah berada di atas. Tepatnya di atas Arsy. Tidak seperti yang dipahami oleh sebagian orang bahwa Allah itu ada di mana-mana.



    Sebagian ulama juga menerangkan bahwa kita memandang ke atas untuk menghadirkan perasaan bahwa kita sedang diawasi oleh yang ada di atas, yaitu Allah. Maka ketika keluar rumah, kita sadar bahwa selalu diawasi. Ini mengingatkan kita untuk selalu berhati-hati, karena pengawasan Allah lebih hebat dari pengawasan kamera pengintai atau CCTV.



    Renungan kandungan



    Kenapa kita baca doa ini? Karena setiap kali keluar rumah, mau tidak mau, kita akan berinteraksi dengan orang lain. Kita akan berkomunikasi, bertemu, ngobrol, bersinggungan, naik mobil bersama, berbelanja bersama, semua itu adalah bentuk interaksi. Entah dengan yang kita kenal atau tidak. Bisa jadi mereka baik, atau bisa juga tidak.



    Ketika berhadapan dengan orang lain di luar sana, sangat mungkin kita terjerumus kepada hal-hal negatif. Supaya kita tidak terjatuh pada hal-hal negatif itu, maka kita membutuhkan perlindungan. Perlindungan yang paling hebat adalah dari Allah. Oleh karena itu, kita membaca doa ini: “Ya Allah aku mohon perlindungan kepadaMu.”



    Yang dimaksud “keburukan” di sini adalah bisa kita sebagai pelaku atau menjadi korban dari perbuatan buruk orang lain. Kita tidak ingin menjadi pelaku atau korban, oleh karena itu kita membaca doa ini.
    40 min
  • Qunut dalam Shalat Witir

    Qunut dalam Shalat Witir ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 11 Safar 1445 H / 28 Agustus 2023 M.







    Download kajian sebelumnya: Masalah-Masalah Terkait Shalat Witir



    Kajian Tentang Qunut dalam Shalat Witir



    Qunut dalam shalat witir diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang mengatakan bahwa qunut dalam shalat witir itu wajib. Pendapat ini dipilih oleh Imam Abu Hanifah. Ada pula yang mengatakan bahwa qunut dalam shalat witir itu mustahab. Pendapat ini dipilih oleh jumhur ulama. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa qunut dalam shalat witir itu makruh. Ini adalah pendapat dari Imam Malik Rahimahullahu Ta’ala.



    Pendapat yang paling kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa qunut dalam shalat witir itu sunnah. Hal ini didukung oleh beberapa hadits yang menjelaskan tentang doa untuk qunut witir.



    Terkait waktu pelaksanaannya, para ulama juga berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa qunut witir disunnahkan di sepanjang tahun. Ini adalah pendapat mazhab Hanabilah, yang juga dipilih oleh dua sahabatnya, yaitu Muhammad bin Hasan dan Abu Yusuf.



    Beberapa ulama Syafi’i mengatakan bahwa qunut dalam shalat witir dianjurkan di setengah terakhir bulan Ramadhan. Namun, ada juga sebagian ulama Syafi’i yang mengatakan bahwa qunut witir dapat dilakukan di semua bulan Ramadhan. Tidak ada dalil yang kuat yang menunjunjukkan pengkhususan qunut witir ini di bulan Ramadhan. Sehingga pendapat yang lebih kuat adalah bahwa qunut dalam shalat witir dianjurkan untuk dilakukan sepanjang tahun. Wallahu Ta’ala a’lam.



    Hadits yang menunjukkan bahwa qunut witir disunahkan adalah hadits dari sahabat Al-Hasan ibn Ali Radhiyallahu ‘Anhuma, yang merupakan cucu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang aku baca dalam shalat witir:



    علَّمني رسول الله صلى الله عليه وسلم كلمات أقولهن في الوتر: «اللهم اهدني فيمن هديت، وعافني فيمن عافيت، وتولَّني فيمن تولَّيت وبارك لي فيما أعطيت، وقني شر ما قضيت، فإنك تقضي ولا يُقضى عليك، وإنه لا يذلُّ من واليت، تباركت ربنا وتعاليت»



    Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibnu Majah.



    Dan dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan:



    أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يوتر فيقنت قبل الركوع



    “Bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu shalat witir dan beliau qunut sebelum rukuknya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah)



    Hadits ini menunjukkan bahwa qunut dalam shalat witir disyariatkan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa qunut dalam shalat witir dilakukan sebelum rukuk, bukan setelah rukuk. Ini lebih utama, karena hadits dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu ‘Anhu.



    Adapun qunut nazilah dalam shalat subuh, dhuha, ashar, maghrib, dan isya, maka yang afdhal dilakukan setelah rukuk.



    Shalawat dalam Doa Qunut



    Apakah disunahkan untuk membaca shalawat untuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam doa qunut?
    56 min
  • Masalah-Masalah Terkait Shalat Witir

    Masalah-Masalah Terkait Shalat Witir ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 28 Dzulhijjah 1444 H / 17 Juli 2023 M.







    Download kajian sebelumnya: Shalat Witir



    Kajian Tentang Masalah-Masalah Terkait Shalat Witir



    Masalah yang berkaitan dengan shalat witir di antaranya adalah: bolehkah kita shalat sunnah lagi setelah selesai shalat witir? Apakah kita harus mengulang shalat witirnya kalau kita ingin shalat sunnah setelahnya? Ini permasalahan yang diperselisihkan oleh para ulama.



    Ada yang mengatakan, setelah shalat witir, kita tidak boleh shalat sunnah lagi setelahnya, kecuali apabila kita shalat witir lagi untuk yang kedua kali agar witir yang sebelumnya menjadi genap. Kemudian baru setelah itu shalat sunnah dua rakaat misalnya, 4 rakaat, atau 6 rakaat. Tidak ada batasan rakaat dalam shalat sunnah malam, kemudian setelah itu shalat witir.



    Jadi pendapat pertama ini mengatakan bahwa jika ingin shalat sunnah setelah shalat witir, maka harus ada tiga kali witir. Yaitu witir pertama yang telah dilakukan, witir kedua untuk membatalkan witir pertama agar shalatnya menjadi genap, dan baru setelah itu shalat sunnah 2 rakaat atau lebih sesuai keinginan. Kemudian shalat witir diakhirnya.



    Namun, pendapat pertama ini kurang kuat karena tidak ada dalil kuat yang mendukung pandangan tersebut.



    Pendapat kedua adalah pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bolehnya shalat sunnah setelah shalat witir. Pendapat ini didukung oleh banyak dalil dan merupakan pendapat yang paling kuat dalam masalah ini. Oleh karena itu, tidak perlu membatalkan witir yang pertama.



    Misalnya, ada orang yang pada awal malam shalat witir sebelum tidur, lalu ternyata dia bisa bangun di akhir malam untuk shalat tahajud. Dia bisa langsung shalat tahajud 2 rakaat 2 rakaat tanpa shalat witir lagi. Pendapat ini dibolehkan dan didukung oleh beberapa dalil.



    Salah satu dalilnya adalah hadits dari ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Beliau mengatakan:



    كان يسلم تسليمًا يسمعنا، ثم يصلي ركعتين بعدما يسلِّم وهو قاعد



    “Dahulu Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan salam di akhir shalatnya dengan suara yang kami dengar (ini menunjukkan bahwa beliau menutup shalat malamnya dengan shalat witir). Kemudian, beliau shalat dua rakaat lagi setelah beliau salam dalam keadaan duduk.” (HR. Muslim)



    Ini menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam setelah shalat witir, beliau shalat dua rakaat lagi. Hadits ini kurang begitu jelas karena tidak menyebutkan shalat witir.



    Ada hadits lain yang lebih jelas mengenai hal ini, yaitu hadits dari ibunda Ummu Salamah Radhiyallahu ‘Anha. Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    كان يركع ركعتين بعد الوتر وهو جالس



    “Dahulu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa shalat dua rakaat setelah witir dalam keadaan beliau duduk.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)



    Hadits ini menunjukkan bahwa perintah dalam hadits “Jadikanlah akhir shalat malam kalian adalah shalat witir” adalah perintah yang mensunnahkan, bukan perintah yang mewajibkan.
    57 min
  • Khutbah Jumat: Perniagaan Yang Tidak Akan Pernah Bangkrut

    Perniagaan Yang Tidak Akan Pernah Bangkrut ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 8 Safar 1445 H / 25 Agustus 2023 M.







    Khutbah Jumat: Perniagaan Yang Tidak Akan Pernah Bangkrut



    Perniagaan yang tak akan pernah ada bangkrutnya adalah perniagaan bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perniagaan di dunia mungkin saja pelakunya terkena kebangkrutan, tapi perniagaan dengan Allah tidak mungkin akan pernah ada bangkrutnya. Siapa mereka yang mengharapkan perniagaan yang tidak pernah ada kerugiannya? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ



    “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,”



    “Sesungguhnya orang yang senantiasa membaca ayat-ayat Allah, mendirikan shalat, dan menginfakkan harta mereka baik rahasia maupun terang-terangan, merekalah orang-orang yang mengharapkan perniagaan yang tak ada kerugiannya” (QS. Fatir[35]: 29)



    Ini adalah tiga sifat orang yang mengharapkan jual beli yang tidak ada kerugiannya sama sekali. Apa itu?



    1. Senantiasa membaca Al-Qur’an



    Yang pertama, senantiasa membaca Al-Qur’an. Karena sesungguhnya Al-Qur’an itu bimbingan untuk kehidupan kita, di dalamnya petunjuk untuk hidup kita. Siapapun yang membaca Al-Qur’an, maka penyakit-penyakit yang ada di dalam hatinya akan hilang, biidznillah.



    Siapapun yang mempelajari Al-Qur’an, Allah pasti berikan kepadanya hidayah dan rahmat. Allah berfirman:



    يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ



    “Wahai manusia, telah datang kepada kalian peringatan dari Rabb kalian dan penyembuh terhadap apa yang ada di dalam hati kalian berupa penyakit, dan sebagai hidayah serta rahmat untuk orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus[10]: 57)



    Allah Subhanahu wa Ta’ala mensifati Al-Qur’an dengan 4 sifat yang agung. Yaitu: yang pertama peringatan, kedua obat untuk penyakit-penyakit hati, yang ketiga sebagai hidayah, dan yang keempat sebagai rahmat. Dan semua ini Allah berikan untuk orang-orang yang beriman yang senantiasa membaca dan mentadabburi Al-Qur’an.



    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا 



    “Tidakkah mereka mentadaburi Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah tertutup mati?” (QS. Muhammad[47]: 24)



    Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang hatinya tak ingin lagi mentadabburi Al-Qur’an, hatinya tertutup untuk mempelajari Al-Qur’an. Maka orang seperti ini telah berpaling dari kebaikan untuk hidupnya, ia telah berpaling untuk obat hatinya. Maka siapa yang mencari kesembuhan dari selain Al-Qur’an, hakikatnya tidak akan sembuh penyakitnya. Yang ada adalah bertambah penyakit hatinya.



    Maka jadikan Al-Qur’an sebagai pelipur lara kita,
    13 min
  • Mengawal Perkembangan Bahasa Anak

    Mengawal Perkembangan Bahasa Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 5 Safar 1445 H / 22 Agustus 2023 M.







    Kajian Tentang Mengawal Perkembangan Bahasa Anak



    Mengawal perkembangan bahasa adalah penting untuk kemampuan berkomunikasi pada anak remaja. Tentu yang dimaksud di sini bukan mengajarinya bicara, karena belajar berbicara sudah dimulai sejak kecil. Yang dimaksud di sini adalah kemampuan mereka dalam berbahasa.



    Tingkat intelegensi seseorang bisa tercermin dari caranya bertutur kata. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mendampingi perkembangan bahasa anak-anak remaja, bagaimana mereka berbicara, memilih kata, intonasi, dan sebagainya.



    Perkembangan bahasa pada usia remaja melibatkan kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dan perasaan dengan lebih baik. Mereka seharusnya semakin mampu mengungkapkan pendapat dan perasaan, baik perasaan senang maupun susah. Anak remaja perlu dibimbing untuk mengungkapkan isi hati mereka dalam berbagai kondisi. Selain itu, kemampuan berbicara dan berkomunikasi dengan dirinya sendiri, selain berbicara dengan orang lain. Ini adalah kemampuan penting yang harus dimiliki anak remaja karena mereka tidak lagi berada dalam fase kanak-kanak.



    Hal-hal berikut ini yang harus diperhatikan untuk mengawal perkembangan anak dalam bahasa:



    Pertama, ajarkan anak untuk berbicara dan menyampaikan sesuatu dengan jelas dan lantang. Lantang di sini bukan berteriak-teriak, melainkan berbicara dengan kata-kata yang bisa dipahami dengan jelas. Beberapa orang memiliki kebiasaan berbicara yang membingungkan, membuat kita sulit memahaminya.



    Oleh karena itu, kita perlu merangsang otak anak untuk merangkum informasi dengan efisien, sehingga bisa menyampaikan pesan dengan tepat dan efektif.



    Kedua, jangan menyela atau motong ketika anak sedang berbicara. Kadang-kadang orang tua tidak memberikan kesempatan bagi anak untuk bicara. Ada waktunya anak itu kita persilahkan untuk bicara da kita mendengar. Hal ini untuk mengetahui apakah dia punya kemampuan berbicara dengan baik. Ada orang tua yang tidak memberikan kesempatan anaknya bicara sehingga anaknya tidak bisa bicara, atau ketika berbicara pun nanti akan kacau balau. Hal ini karena memang dia tidak pernah diberikan kesempatan untuk bicara.



    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk bicara, memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengungkapkan pendapat. Nabi kadang-kadang berkomunikasi dan bertanya kepada anak-anak tentang pandangan mereka dan memancing mereka untuk bicara.



    Ketiga, hendaknya orang tua lebih banyak diam dan mendengar daripada bicara. Kalaupun orang tua harus bicara, maka bicara yang memang efektif, artinya sedikit tapi penuh syarat dengan manfaat. Itu menunjukkan ketajaman intuisi ataupun pemahaman. Maka Nabi diistimewakan dengan Al-Jawami’u Al-Kalim (kata-kata yang singkat tapi mengandung makna yang sangat dalam). Ini tidak mudah.



    Maka orang tua seiring dengan kematangan dirinya, seharusnya kemampuan untuk berbicara dengan makna yang dalam ini lebih tinggi. Maka ada kalanya orang tua itu lebih banyak diam, dan sekali berbicara, maka berbicaranya emas.



    Keempat, jangan suka mencari-cari kesalahan ketika berbicara, namun hendaknya lebih kepada memberikan motivasi.
    45 min
  • Doa Mohon Perlindungan dari Akibat Buruk Maksiat

    Doa Mohon Perlindungan dari Akibat Buruk Maksiat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 5 Safar 1445 H / 22 Agustus  2023 M.



    Kajian sebelumnya: Doa Mohon Diperbaiki Agama, Dunia dan Akhirat







    Doa Mohon Perlindungan dari Akibat Buruk Maksiat



    Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau berkata bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu kalau berdoa membaca:



    اللَّهُمَّ إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ ومنْ شَرِّ مَا لَمْ أعْمَلْ



    “Ya Allah sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada Engkau dari keburukan apa yang telah aku kerjakan dan dari keburukan yang belum aku kerjakan.” (HR. Muslim)



    Doa ini menunjukkan rasa khawatir dan takut yang sangat dalam diri Nabi ‘Alaihish Shalatu wa Salam. Beliau juga mengajarkan kepada kita agar kita berlindung dari akibat buruk perbuatan-perbuatan dosa/maksiat/kemungkaran yang telah kita lakukan.



    Kita memohon pada Allah Ta’ala supaya Dia melindungi kita dari akibat buruk perbuatan dosa dan maksiat yang pernah kita lakukan.



    Kemudian kita memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan suatu perbuatan atau dosa yang belum dilakukan. Karena tabiat manusia memiliki nafsu yang selalu mengarahkan kepada yang buruk, dan manusia tidak tahu apa yang akan dilakukan di masa depan. Oleh karena itu, dia berlindung kepada Allah dari akibat buruk perbuatan yang akan dia lakukan.



    Doa yang diajarkan dan dibacakan oleh Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam ini mengandung makna seorang itu hendaknya selalu ada rasa khawatir dalam dirinya. Yang dikhawatirkan adalah akibat buruk dari perbuatan dosa yang dilakukan. Kalau perbuatan baik, kita tidak ragu bahwa selama itu ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka pasti diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Doa yang diajarkan oleh Nabi ‘Alaihish Shalatu wa Salam ini mendidik kita untuk selalu merasa kurang dalam amal perbuatan, khususnya dalam amal kebaikan dan ibadah. Kita tidak boleh merasa paling taat atau paling baik, karena hal ini menunjukkan ujub terhadap diri sendiri. Sebaliknya, kita harus menyadari bahwa diri kita ini hina, memiliki banyak dosa dan maksiat.



    Seorang individu yang memiliki kesadaran akan dosa-dosanya akan bertaubat dan meningkatkan amal kebaikannya. Hal ini karena ia menyadari bahwa ia memiliki banyak dosa.



    Hadits berikutnya:



    Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Termasuk doa yang dibaca oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوالِ نِعْمَتِكَ، وتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وفُجَاءةِ نِقْمَتِكَ، وَجَميعِ سَخَطِكَ



    “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari lenyapnya nikmatMu dariku, dan terjadinya perubahan (sehingga lepas dari keselamatan), dan juga dari bencana/musibah yang datang dengan tiba-tiba, dan juga dari semua kemurkaanMu.” (HR. Muslim)



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak
    1 hr 23 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah