Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Mengingat Keadaan Para Nabi dan Rasul dengan Ibadah Haji

    Mengingat Keadaan Para Nabi dan Rasul dengan Ibadah Haji adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Tujuan-Tujuan Haji. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 27 Muharram 1445 H / 14 Agustus 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Mengingat Keadaan Para Nabi dan Rasul dengan Ibadah Haji



    Di antara salah satu tujuan diwajibkan melaksanakan ibadah haji adalah untuk mengingatkan kita tentang keadaan para Nabi dan Rasul sebelumnya, yaitu bagaimana mereka melakukan perjalanan. Karena ibadah haji penuh dengan momen-momen yang sangat indah dan kandungan luar biasa yang akan mengingatkan seorang mukmin kepada para Nabi Allah.



    Di bumi yang penuh dengan keberkahan ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemuliaan kepada para jamaah haji berpindah dari satu tempat ke tempat lain, karena manasik yang kita lakukan ini tentunya sudah pernah dilakukan oleh para Rasul dan Nabi sebelumnya shalawatullahi ‘alaihim.



    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:



    صَلَّى فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ سَبْعُونَ نَبِيًّ



    “Sesungguhnya telah melakukan shalat di dalam masjid Al-Khaif 70 Nabi sebelumnya.” (HR. Ath-Thabrani)



    Wahai para jamaah haji, sesungguhnya sebelum kalian melakukan ketaatan ini di tanah yang diberkahi oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sudah terlebih dahulu para Nabi dan Rasul beribadah kepadaNya. Mereka menjawab seruan Allah, dan mereka merupakan hamba-hamba pilihan Allah. Sehingga ketika kita beribadah kepada Allah, kita harus merasakan bagaimana hati kita ada ikatan dengan para Nabi dan Rasul Allah. Yang mana dianjurkan bagi kita untuk berjalan diatas manhaj mereka dan mengikuti pedoman-pedoman mereka.



    Dalam sebuah hadits yang disebutkan oleh Abdullah bin Abbas, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melewati sebuah Lembah Azraq. Beliau bertanya kepada para sahabat: “Lembah apakah ini?” Para sahabat menjawab: “Ini merupakan Lembah Azraq.” Maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan:



    كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام هَابِطًا مِنْ الثَّنِيَّةِ وَلَهُ جُؤَارٌ إِلَى اللَّهِ بِالتَّلْبِيَةِ



    “Seolah-olah aku sedang melihat Nabi Musa yang dia sedang turun dari pendakian dan dia mengangkat suaranya mengucapkan talbiyah menjawab seruan Allah Subhanahu wa Ta’ala.”



    Kemudian saat sampai di Lembah Harsya, maka Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: “Lembah apakah ini?” Maka para sahabat menjawab: “Ini adalah Lembah Harsya.” Kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali melanjutkan:



    كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى يُونُسَ بْنِ مَتَّى عَلَيْهِ السَّلَام عَلَى نَاقَةٍ حَمْرَاءَ جَعْدَةٍ عَلَيْهِ جُبَّةٌ مِنْ صُوفٍ خِطَامُ نَاقَتِهِ خُلْبَةٌ وَهُوَ يُلَبِّي



    “Seolah-olah aku sedang melihat Nabi Yunus bin Matta ‘Alaihish Salam sedang menunggang unta gemuk yang berwarna merah dengan pakaian bulu dan tali kekang untanya terbuat dari pelepah daun kurma, sedangkan dia dalam keadaan bertalbiah.” (HR. Muslim)



    Juga dalam hadits yang dibawakan oleh Abu Musa dan ...
    40 min
  • Bab Memberikan Petunjuk Jalan

    Memberikan Petunjuk Jalan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 4 Safar 1445 H / 21 Agustus 2023 M.







    Kajian Islam Tentang Memberikan Petunjuk Jalan



    Sekarang ini, orang mungkin tidak seperti dulu karena adanya peta online seperti Google Maps, Apple Maps, Waze, dan lainnya di perangkat seluler baru. Namun, terkadang aplikasi tersebut tidak mengetahui bahwa jalannya ditutup, menyempit, atau banjir. Sebagai seorang muslim, kita sebaiknya selalu menginginkan kebaikan untuk orang lain. Kita memberikan petunjuk kepada orang yang bertanya. Misalnya, jika ada yang menanyakan tentang jalan menuju ke suatu tempat, dan kita tahu bahwa jalannya berbahaya atau jembatannya tidak bisa digunakan, kita bisa memberi tahu dengan tanda atau tulisan yang baik.



    Al-Imam Bukhari menyebutkan sebuah hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    من منح منيحة أو هدى زقاقا أو قال طريقا كان له عدل عتاق نسمة



    “Barangsiapa yang memberikan pemberian (unta atau kambing betina, yang dipinjamkan untuk diambil manfaatnya seperti susu atau bulunya), atau memberikan petunjuk kepada orang yang tersesat/bertanya, maka dia akan dapat pahala seperti membebaskan budak.” (HR. Bukhari)



    Lihatlah, hartanya tidak berkurang, unta dan kambingnya tetap milik dia, tapi orang lain mendapatkan manfaat. Ini sebuah kedermawanan yang terkadang orang berat mau memberi pinjaman.



    Dan memberikan petunjuk jalan adalah amalan yang ringan tapi pahalanya besar.



    Kemudian Al-Imam Bukhari menyebutkan, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:



    إفراغك من دلوك في دلو أخيك صدقة وأمرك بالمعروف ونهيك عن المنكر صدقة وتبسمك في وجه أخيك صدقة وإماطتك الحجر والشوك والعظم عن طريق الناس لك صدقة وهدايتك الرجل في أرض الضالة صدقة



    “Engkau tuangkan air ke timba saudaramu itu sedekah. Engkau memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran itu sedekah, dan senyummu kepada saudaramu itu sedekah. Engkau menyingkirkan batu, duri, tulang dari jalannya manusia itu sedekah, dan engkau memberikan petunjuk kepada seseorang di jalan yang tidak ada petunjuknya itu sedekah. (HR. Bukhari)



    Dalam memberikan petunjuk, tidak perlu menunggu orang bertanya. Kita bisa berinisiatif memberikan petunjuk kepada orang yang tersesat. Misalnya, kita bisa memberikan tanda dengan menuliskan arah pada sebuah kayu, menunjukkan jalan yang benar.



    Terkadang ada sebagian orang yang membiarkan dan tidak memberi petunjuk. Mereka mungkin berpikir bahwa orang yang tersesat akan bertanya atau menemukan jalan sendiri. Namun, mengapa kita tidak berinisiatif membantu sesama? Apakah kita tidak ingin berlomba-lomba untuk mendapatkan ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala.



    Sebagai seorang muslim, kita seharusnya berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Kebaikan bisa dilakukan dalam berbagai bentuk, seperti membersihkan sampah, ini bisa mendapatkan pahala sedekah tanpa mengeluarkan uang. Ini harus dilakukan semata-mata karena Allah, tanpa mengharapkan pujian atau sanjungan dari orang lain.



    Saat ini, masalah sampah yang menumpuk di sungai dan jalan-jalan sering menjadi masalah besar. Kita harus menjadi bagian dari solusi dengan tidak membuang sampa...
    1 hr 6 min
  • Sifat Basyariyah Para Nabi dan Rasul

    Sifat Basyariyah Para Nabi dan Rasul adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Bayan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 4 Safar 1445 H / 21 Agustus 2023 M.







    Kajian Tentang Sifat Basyariyah Para Nabi dan Rasul



    Al-Basyariyah artinya manusia. Jadi Nabi atau Rasul itu diangkat dari kalangan manusia. Kalau Nabi dan Rasul adalah manusia, maka di antara konsekuensinya kita harus tahu bahwa Nabi dan Rasul itu memiliki kedudukan yang tinggi, tapi ada batasannya. Karena sebagian orang menjadikan Nabi dan Rasul derajatnya sama seperti Tuhan.



    Kaum Muslimin beriman bahwa para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah adalah dari kalangan manusia, artinya bukan dari kalangan Jin, bukan Tuhan, bukan malaikat. Mereka dari kalangan anak keturunan Adam. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi kita yang kita cintai, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ…



    “Katakanlah (wahai Muhammad): ‘Aku adalah manusia biasa seperti kalian yang diwahyukan kepadaku wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahwasanya Ilah kalian adalah Ilah yang satu.'” (QS. Al-Kahfi[18]: 110)



    Kemudian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:



    وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَىٰ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا 



    “Tidak ada yang menghalangi manusia untuk beriman ketika datang kepada mereka petunjuk, melainkan ucapan mereka: ‘Apakah Allah mengutus seorang pengutus Rasul dari kalangan manusia?'” (QS. Al-Isra'[17]: 94)



    Ini menunjukkan bahwa Rasul itu dari kalangan manusia biasa.



    Oleh karena itu, di antara hujjah orang-orang kafir tidak mengikuti Rasul adalah karena para Rasul itu manusia. Allah berfirman:



    وَلَئِنْ أَطَعْتُمْ بَشَرًا مِثْلَكُمْ إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ



    “(Orang-orang kafir berkata): ‘Seandainya kalian menaati manusia biasa seperti kalian ini, maka sungguh kalian rugi.'” (QS. Al-Mu’minun[23]: 34)



    Penulis menurunkan perkataan ‘Aisyah tentang sifat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:



    كَانَ بَشَرًا مِنَ الْبَشَرِ يَفْلِي ثَوْبَهُ ، وَيَحْلُبُ شَاتَهُ ، وَيَخْدُمُ نَفْسَهُ



    “Nabi Muhammad itu manusia biasa, beliau mencuci pakaiannya sendiri, memerah susu kambing sendiri, dan mengurus diri sendiri (seperti manusia biasa).” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban)



    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Simak dan download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.



    Download MP3 Kajian











    Mari turut membagikan link download kajian “Sifat Basyariyah Para Nabi dan Rasul” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


    56 min
  • Hindarilah Mencela Anak
    Hindarilah Mencela Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 4 Safar 1445 H / 21 Agustus 2023 M.

    Kajian Tentang Hindarilah Mencela Anak
    Ketika marah, apalagi emosinya memuncak, kadang-kadang kita tidak bisa mengontrol kata-kata. Akibatnya ucapan yang keluar itu adalah ucapan yang kasar. Bahkan kita merasa semakin kasar semakin puas. Hal ini gara-gara terpancing emosi. Padahal sadarkah kita, bahwa kata-kata yang kasar itu bisa melukai perasaan anak. Dan ketika perasaan anak terluka, bisa jadi itu akan terus teringat, bahkan sampai anak kita nanti tua dan menjadi orang tua.
    Melupakan kata-kata kasar itu kemungkinan lebih susah daripada melupakan hukuman fisik. Misalnya dulu sama orang tua, mungkin kita pernah dicubit atau dijewer, atau bahkan mungkin dipukul. Dari sekian cubitan dan pukulan yang kita alami, mungkin tidak banyak yang kita ingat. Tapi kata-kata kasar yang menyakitkan itu bisa teringat bertahun-tahun, bahkan mungkin sampai kita mati tidak terlupakan. Itulah efek mengerikan dari kata-kata kasar dan cacian.
    Sebagian orang tua biasa mengatakan anaknya nakal, bahkan –maaf– mengatakan anaknya goblok, bodoh, dan kata-kata kasar lainnya. Karena itu sering terucap, dalam sehari bisa berkali-kali. Sehingga dalam setahun, kata-kata kasar tadi didengar oleh anak ratusan kali. Apa yang terjadi? Yang terjadi adalah terpatri di bawah sadar anak bahwa dia memang nakal, bodoh, dan seperti kata-kata kasar yang diucapkan oleh orang tuanya, dan yang lebih mengerikan bisa jadi kata-kata kasar dan cacian itu menjadi doa yang dikabulkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Perkembangan perilaku anak yang tidak ideal tadi ternyata adalah akibat dari perilaku orang tuanya. Maka, apabila kita bermaksud bersikap keras kepada anak, jaga dan kendalikan lisan. Jangan sampai saat kita terpancing emosi itu mengeluarkan kata-kata kasar dan cacian yang akhirnya di kemudian hari kita akan menyesal.
    Mari kita lihat suri tauladan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau adalah orang yang paling lembut dan beliau menghindari cacian, celaan, makian, dan kata-kata kasar kepada anak-anak yang beliau didik.
    Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu menuturkan pengalamannya saat masih kecil:
    “خَدَمْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِينَ، وَاللهِ مَا قَالَ لِي: أُفًّا قَطُّ، وَلَا قَالَ لِي لِشَيْءٍ: لِمَ فَعَلْتَ كَذَا؟ وَهَلَّا فَعَلْتَ كَذَا؟”
    “Aku telah menjadi pembantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama sepuluh tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah sekalipun mengucapkan padaku, “Hus!”. Juga tidak pernah berkata padaku, “Mengapa kau kerjakan ini? Seharusnya kamu lakukan itu!”. (HR. Bukhari no. 6038 dan Muslim no. 2309).
    Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah mencela Anas atas sesuatu yang terlanjur tidak dikerjakan. Sebab masih ada kesempatan untuk dilakukan, jika memang diperlukan. Sehingga lisan Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa terjaga dari kata-kata kasar dan bentakan. Selain itu perasaan dan psikis Anas juga terjaga. Tentunya hal ini berlaku pada urusan dan kepentingan pribadi. Adapun bila terkait kewajiban agama, maka harus dilakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Itupun perlu dilakukan secara bijaksana.
    Apakah Tidak Kontraproduktif?
    Mungkin akan ada yang berkomentar, “Jika kita selalu bersikap lemah lembut dan banyak toleran, nanti anak bakal semakin berani melakukan pelanggaran. Khawatirnya malah kita tidak bisa mengarahkannya!”.
    Jawabannya: “Mengapa hal yang dikhawatirkan tersebut tidak terjadi...
    44 min
  • Keutamaan Muadzin

    Keutamaan Muadzin merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 3 Safar 1445 H / 20 Agustus 2023 M.







    Kajian Hadits Tentang Keutamaan Muadzin


    Keutamaan muadzin ini masyaAllah luar biasa. Bahkan banyak ulama mengatakan bahwa muadzin lebih utama daripada imam.
    Hadits 197:
    عن عيسى بنِ طَلْحَةَ قَالَ كُنْتُ عِنْدَ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ ﵁ فَجَاءَهُ الْمُؤَذِّنُ يَدْعُوهُ إِلَى الصَّلَاةِ فَقَالَ مُعَاوِيَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ الْمُؤَذِّنُونَ أَطْوَلُ النَّاسِ أَعْنَاقًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
    Dari ‘Isa bin Thalhah, ia berkata: “Aku pernah di sisi Muawiyah bin Abi Sufyan -semoga Allah meridhainya-, lalu datanglah muadzin menyeru kepada shalat. Maka kemudian Muawiyah berkata: ‘Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ‘Para muadzin itu adalah manusia yang paling panjang lehernya pada hari kiamat.‘” (HR. Muslim)
    Yang dimaksud dengan “paling panjang lehernya” yaitu kita imani sesuai dengan lahiriyahnya. Artinya bahwa lehernya benar-benar panjang nanti di hari kiamat. Dan itu bukan celaan. Pada hari kiamat, itu keutamaan dan keistimewaan. Ini menunjukkan keistimewaan muadzin.
    Lihat juga: Sunnah-Sunnah Ketika Seseorang Mengumandangkan Adzan
    Di antara keutamaan yang lainnya dari muadzin, bahwa semua yang mendengar suara adzannya kelak nanti pada hari kiamat akan bersaksi. Sebagaimana Imam Bukhari meriwayatkan dalam shahihnya, dari hadits Abu Sa’id Al-Hudhri -semoga Allah meridhainya-, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
    إِنِّي أَرَاكَ تُحِبُّ الْغَنَمَ وَالْبَادِيَةَ فَإِذَا كُنْتَ فِي غَنَمِكَ أَوْ بَادِيَتِكَ فَأَذَّنْتَ بِالصَّلَاةِ فَارْفَعْ صَوْتَكَ بِالنِّدَاءِ فَإِنَّهُ لَا يَسْمَعُ مَدَى صَوْتِ الْمُؤَذِّنِ جِنٌّ وَلَا إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ إِلَّا شَهِدَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
    “Aku melihat kamu suka sekali berada di pedesaan dan menggembalakan kambing. Kalau kamu sedang berada di kambing-kambingmu atau berada di pedesaan sana, lalu masuk waktu shalat, maka adzanlah untuk shalat, maka angkat suaramu saat adzan tersebut. Karena tidak ada yang mendengar panjangnya suara muadzin (artinya sejauh suara muadzin terdengar) baik manusia, jin atau apapun dia, kecuali nanti pada hari kiamat mereka akan bersaksi untuknya.” Kata Abu Sa’id: “Aku mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (HR. Bukhari)
    MasyaAllah, ini luar biasa sekali.
    Lihat juga: Sifat-Sifat Yang Dianjurkan Pada Seorang Muadzin
    Demikian pula muadzin itu diampuni dosanya sejauh suaranya terdengar (tanpa speaker). Ini berdasarkan hadits yang dikeluarkan Imam Ahmad dalam Musnadnya, dari hadits Abdullah bin Umar, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    يُغْفَرُ لِلْمْؤَذِّنِ مُنْتَهَى أََذَانِهِ وَيَسْتَغْفِرُ لَهُ كُلُّ رَطْبٍ وَيَابِسٍ سَمِعَهُ
    “Akan diampuni untuk muadzin sejauh suaranya terdengar, dan akan dimohonkan ampunan oleh setiap yang basah maupun yang kering.” (HR. Ahmad)
    Masya Allah, bayangkan luar biasa sekali keutamaan muadzin.
    Dalam riwayat Imam Ahmad dan juga An-Nasa’i, dari hadits Al-Bara’ bin Azib,
    56 min
  • Khutbah Jumat: Sabar dan Shalat
    Khutbah Jumat: Sabar dan Shalat ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 1 Safar 1445 H / 18 Agustus 2023 M.

    Khutbah Jumat: Sabar dan Shalat
    Al-Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah berkata:
    كثير من أمراض الأبدان والقلوب أصلها من عدم الصبر
    “Banyak penyakit-penyakit badan, demikian pula penyakit hati, berasal daripada ketidak sabaran.”
    Apabila kita perhatikan ucapan beliau ini, akan kita dapatkan kebenarannya. Orang yang tidak sabar, dia mudah stress dalam hidupnya. Orang yang tidak sabar ketika ditimpa musibah, ia bersedih dan sedihnya berkepanjangan, sehingga menimbulkan penyakit-penyakit badan. Orang yang tidak sabar, terkadang ia menjadi pemarah; dia mudah sekali marah, sehingga kemudian menimbulkan penyakit yang ada di badannya. Orang yang tidak sabar menimbulkan penyakit pelit, sehingga pelit itu melilit hatinya; akhirnya menimbulkan penyakit-penyakit badan.
    Demikian pula, penyakit hati akibat dari ketidak sabaran. Ketika seseorang tidak sabar untuk menjalankan perintah Allah, tidak sabar ia untuk menegakkan shalat, sehingga akhirnya hatinya pun terkena penyakit hati. Tidak sabar menghadapi syahwat, sehingga hatinya pun dipenuhi dengan penyakit-penyakit syahwat.
    Saudaraku, untuk meninggalkan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga pada waktu itu hatinya pun berpenyakit. Sehingga akhirnya penyakit itu semakin kronis, lalu kemudian membinasakan pelakunya.
    Oleh karena itulah saudaraku, Allah memerintahkan kita dalam ayat-ayat yang banyak untuk sabar. Allah berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
    “Wahai orang-orang yang beriman, sabarlah, dan kokohkan kesabaran kalian, dan berjagalah di tapal batas. Agar kalian menjadi orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 200)
    Allah berfirman:
    …إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
    “Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 153)
    Allah berfirman:
    … وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
    “Allah mencintai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 146)
    Bahkan, saudaraku, pemberian terbaik yang Allah berikan kepada seorang hamba, pemberian terluas yang Allah berikan kepada seorang hamba adalah kesabaran.
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنْ الصَّبْرِ
    “Tidaklah seseorang diberikan pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari kesabaran.” (HR. Bukhari)
    Kita hidup di dunia butuh kesabaran. Anda sebagai seorang suami wajib sabar menghadapi istri dan anak-anak Anda. Anda sebagai seorang istri pun demikian, wajib sabar menghadapi kekurangan suami dan anak-anak. Anda sebagai siapapun, sebagai pemimpin ataupun sebagai bawahan, kesabaran itu harus ada dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan. Kalau kita tidak sabar, seringkali kita tidak melaksanakan dengan sebaik-baiknya.
    Apalagi ketika menjalankan perintah-perintah Allah, menjalankan agama Allah dalam kehidupan kita, jika kita tidak sabar, iman kita akan rusak.
    Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Ali Bin Abi Thalib berkata:
    إنَّ الصبر من الإيمان بمنزلة الرأس من الجسد
    “Kesabaran dalam keimanan sama dengan kepala dalam badan kita.”
    Sebagaimana seseorang tidak akan hidup tanpa kepala, demikian pula iman pun tidak akan hidup tanpa kesabaran.
    Maka sabarlah di dunia ini. Karena sesungguhnya kesabaran di dunia itulah yang bermanfaat untuk kehidupan kita. Kita tidak ingin sabar dalam api neraka, karena kesabaran dalam api neraka tidak ada guna...
    12 min
  • Mengawal Perkembangan Intelektual Anak
    Mengawal Perkembangan Intelektual Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 28 Muharram 1445 H / 15 Agustus 2023 M.

    Kajian Tentang Mengawal Perkembangan Intelektual Anak
    Salah satu yang harus kita perhatikan pada anak adalah perkembangan intelektualnya (kemampuan dan kekuatan akal dan pikirannya). Itu harus dicermati oleh orang tua. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada manusia tiga kekuatan utama; kekuatan fisik, akal dan hati.
    Pada kekuatan akal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah perintahkan kita untuk menjaga amanah akal. Maka Allah perintahkan kita untuk berpikir, membaca, tadabbur, dan Allah larang kita dari hal-hal yang bisa memudharatkan akal seperti minuman keras, narkotika, dan juga hal-hal yang bisa mengganggu kerja otak seperti pornografi. Nabi juga melarang marah, karena orang yang suka marah itu mengganggu kerja otak dan kejernihan pikirannya.
    Manusia mungkin kalah secara kekuatan fisik dari makhluk-makhluk lainnya. Namun, mereka memiliki kelebihan, yaitu mereka diberi akal sehingga mampu berpikir. Oleh karena itu, kita wajib menjaga dan mengawal itu. Maka, orang itu tidak boleh dengan sengaja merusak akalnya. Termasuk salah satu di antara lima perkara asasi yang harus dijaga, yaitu menjaga akal.
    Demikian pula anak-anak kita. Coba jagalah perkembangan dan kekuatan akal mereka. Dalam hal ini kita mengawal perkembangan intelektualnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menganugerahkan kepada mereka kekuatan tersebut. Hanya saja, tergantung orang tua. Apakah orang tua menjaga amanah tersebut atau menyia-nyiakannya, atau bahkan merusaknya. Banyak kita lihat orang tua yang merusak akal anaknya dengan memberikan tontonan atau hal-hal yang bisa merusaknya.
    Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan:
    وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا…
    “Hendaklah orang-orang itu takut meninggalkan generasi-generasi yang lemah…” (QS. An-Nisa'[4]: 9)
    Mungkin secara fisik dia tidak lemah, tapi mungkin secara intelektual (akal) dia lemah. Maka jangan kerdilkan akal anak itu dengan hal-hal yang bisa mengganggu. Salah satunya adalah dengan tontonan-tontonan yang merusak, biasanya masuk dari situ.
    Oleh karena itu, orang tua harus mengeksplorasi kemampuan intelektual anak. Coba perhatikan anak-anak kita. Sebenarnya mereka punya kekuatan itu, tapi dimentahkan, dipendam oleh orang tua atau pendidik-pendidiknya, sehingga tidak berkembang. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menitipkan kepada setiap insan potensi yang besar. Karena Allah telah memilih manusia sebagai khalifah di atas muka bumi, yang sempat dipertanyakan oleh malaikat: “Kenapa Engkau Ya Allah, menjadikan Adam dan anak keturunannya sebagai khalifah di muka bumi?” Dan salah satu yang Allah berikan kepada Adam adalah kemampuan berpikir.  Malaikat tidak punya kemampuan itu, sedangkan manusia memilikinya.  Maka jaga dan rawatlah kemampuan yang luar biasa itu.
    Maka salah satu tugas orang tua adalah mengawal perkembangan intelektual anak, terutama remaja, karena akan dan intelektual merupakan pintu bagi masa depan.
    Kita tidak tahu seberapa besar kemampuan otak manusia. Itu adalah suatu kekuatan yang masih misteri. Kalau kita lihat perkembangan-perkembangan, kemajuan-kemajuan yang dihasilkan oleh otak manusia membuat kita tercengang. Mungkin seandainya kita hidup 100 tahun kemudian, kita tidak bisa membayangkan bagaimana wajah dunia saat itu yang dihasilkan oleh kekuatan akal manusia dan kemampuan otak mereka. Maka ini merupakan pintu masa depan bagi anak tersebut.
    34 min
  • Hukum Menyebarkan Rahasia
    Hukum Menyebarkan Rahasia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 27 Muharram 1445 H / 14 Agustus 2023 M.

    Kajian Islam Tentang Hukum Menyebarkan Rahasia
    Kita sampai pada bab 393 itu BAB berkaitan dengan menyebarkan rahasia. Kalau menjaga rahasia adalah suatu kewajiban, maka sesungguhnya menyebarkan rahasia adalah perbuatan yang haram. Apalagi kalau itu menghantarkan kepada sesuatu yang membahayakan.
    Berapa banyak suami yang menceraikan istrinya, istri yang menggugat cerai suaminya, atau kawan yang akhirnya bermusuhan dengan sahabatnya, atau keluarga yang akhirnya memutuskan silaturahimnya gara-gara masalah menyebarkan rahasia seseorang.
    Sebelum kita membaca apa yang dibahas oleh Al-Imam Bukhari, saya ingin mengingatkan tentang bahaya menyebarkan rahasia. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan:
    إِذَا حَدَّثَ الرَّجُلُ الْحَدِيثَ ثُمَّ الْتَفَتَ فَهِيَ أَمَانَةٌ
    “Apabila seseorang berkata kepada orang lain dengan satu pembicaraan, kemudian dia menoleh, ingatlah itu adalah amanah (jangan sampai engkau berkhianat)”. (HR. Tirmidzi)
    Orang itu tidak berkata kepadamu, ‘Jangan dikasih tahu orang lain,’ jangan disebarkan kepada siapapun.” Tapi ternyata engkau tidak paham bahasa tubuh yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan kepada umatnya bahwa itu amanah yang kita diperintahkan untuk menjaganya.
    Orang-orang munafik adalah orang-orang yang suka menyebarkan rahasia orang lain. Mereka orang-orang yang tidak menjaga amanah, tidak menepati janji, dan kalau berkata berdusta. Adapun orang mukmin, dia menjaga amanah.
    وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ
    “Dan orang-orang yang memelihara amanah-amanah (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS. Al-Mu’minun[23]: 8)
    Ada darah yang dikucurkan, ada kekacauan yang terjadi gara-gara rahasia yang disebarkan. Maka jadilah orang beriman yang sebenarnya.
    Di bab ini Imam Bukhari menyebutkan sebuah atsar, dari Amr bin Ash Radhiyallahu ‘Anhu, dia berkata:
    عجبت من الرجل يفر من القدر وهو مواقعه…
    “Aku heran dengan seorang yang lari dari takdir sedangkan dia sedang menuju kepada takdirnya. Aku heran kepada orang yang melihat kotoran di mata saudaranya dan dia meninggalkan pokok pohon kurma yang ada di mata dia sendiri. Aku heran dengan orang yang sibuk mengeluarkan kedengkian dari jiwa saudaranya tapi dia sendiri menyimpan iri dengki. Dan tidaklah aku meletakkan rahasiaku kepada seseorang lalu aku mencela dia karena dia menyebarkan. Bagaimana aku mencela dia sedangkan aku pun tidak mampu menyimpan rahasia itu.”
    Amr bin Ash menyinggung orang-orang yang sibuk dengan kesalahan orang lain sedangkan dia lupa bahwa dirinya penuh dengan aib dan kekurangan. Bersihkan hatimu dan selalu berusaha untuk mengevaluasi diri. Karena engkau tahu bahwa engkau adalah makhluk yang penuh dengan kesalahan. Jika orang lain berbuat salah, tugasmu adalah memperbaiki, bukan mengomongkan kesalahan orang lain. Tugasmu memberikan peringatan, bukan menjadikan aib saudaranya sebagai bahan untuk dibicarakan
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    55 min
  • Doa Keluar Rumah
    Doa Keluar Rumah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 27 Muharram 1445 H / 14 Agustus 2023 M.
    Lihat sebelumnya: Doa Saat Mendadak Bangun Tidur Ketakutan

    Kajian Tentang Doa Keluar Rumah
    Salah satu aktivitas yang selalu dialami oleh setiap manusia adalah keluar rumah. Karena mau tidak mau, kita punya banyak kepentingan di luar rumah, baik itu kepentingan duniawi maupun kepentingan ukhrawi. Jadi, mau tidak mau, setiap manusia pasti keluar rumah. Bahkan, dalam sehari, bisa keluar rumah beberapa kali.
    Karena aktivitas ini sering dan rutin kita lakukan, maka dalam agama Islam mendapatkan perhatian khusus. Salah satu bentuk perhatiannya adalah dengan mengajarkan beberapa adab dan etika yang perlu kita perhatikan dan terapkan saat keluar rumah. Salah satu adab keluar rumah adalah membaca doa.
    Mengapa kita diperintahkan untuk membaca doa? Karena kita butuh perlindungan, bantuan, dan petunjuk dari Allah. Tanpa bantuanNya, kita akan kesulitan menyelesaikan urusan-urusan kita. Tanpa petunjuk dari Allah, kita bisa tersesat saat keluar rumah. Dan tanpa penjagaan dari Allah, di luar sana, banyak makhluk jahat yang siap mencelakai kita. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk membaca doa saat keluar rumah.
    Ternyata, ketika kita merujuk pada hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kita akan menemukan beberapa variasi doa keluar rumah. Selama ini, kita mungkin hanya hafal satu redaksi doa yang biasa kita ucapkan:
    بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
    Dalil Landasan Doa Keluar Rumah
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    «إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، قَالَ: يُقَالُ حِينَئِذٍ: هُدِيتَ، وَكُفِيتَ، وَوُقِيتَ، فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ، فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ»
    “Jika seseorang keluar dari rumahnya lalu ia membaca doa “Bismillâhi tawakkaltu ‘alallôhi lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh (Dengan memohon pertolongan Allah aku keluar. Aku bertawakkal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali hanya dari Allah)”; niscaya akan dikatakan untuknya, “Engkau telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan perlindungan”. Lalu para setan bakal menyingkir dan saling berkomentar kepada sesamanya, “Apa yang bisa kau perbuat kepada orang yang telah mendapatkan petunjuk, kecukupan dan perlindungan?”. HR. Abu Dawud (no. 5095) dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.
    Renungan Kandungan Doa Keluar Rumah
    Di dalam doa ini, kita diajarkan bahwa manusia tidak mungkin lepas dari pertolongan Allah. Kapanpun dan dimanapun, dalam kondisi apapun, kita selalu membutuhkan bantuan Allah. Mengapa? Karena manusia adalah makhluk yang lemah, sedangkan Allah adalah Dzat yang Maha Kuat. Tidak mungkin makhluk yang lemah bisa berdiri sendiri tanpa bantuan Allah. Oleh karena itu, di dalam doa ini, kita mengakui bahwa kita bergantung, berserah diri, dan butuh bantuan Allah.
    Doa ini dibuka dengan basmalah. Nama Allah disebut sebagai bentuk permohonan hamba kepadaNya; agar Dia menolong, menjaga dan memberikan pada petunjuk.
    Selanjutnya kita mengikrarkan ketawakalan hanya kepada Allah. Tawakal adalah amalan hati. Maknanya adalah: ketergantungan hati kepada Allah, menyerahkan dan mempercayakan segala urusan kepada Allah semata. Jika hamba merealisasikan tawakal; niscaya kei...
    41 min
  • Talbis Iblis Untuk Berpura-Pura Khusyuk
    Talbis Iblis Untuk Berpura-Pura Khusyuk ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 27 Muharram 1445 H / 14 Agustus 2023 M.

    Kajian Tentang Talbis Iblis Untuk Berpura-Pura Khusyuk
    Talbis iblis terhadap kaum Sufi terkait sikap pura-pura khusyuk seperti menundukkan kepala, tapi sebenarnya menipu ataupun tidak seperti yang terlihat.
    Ibnul Jauzi berkata bahwa ketika rasa takut kepada Allah telah bersemayam di hati seseorang, niscaya hal itu akan melahirkan kekhusyukan pada tampilan lahiriah, dan itu tidak mampu disembunyikannya. Kita akan melihatnya menundukkan kepala, bersikap sopan, rendah hati dan sejenisnya. Demikian itu indikasi yang nampak dari munculnya rasa takut di dalam hati.
    Namun para Salaf berusaha keras menutupi tampilan lahiriah ini yang tentunya bersumber dari jiwa yang bersih, bukan kepura-puraan.
    Muhammad bin Sirin biasa tertawa pada siang hari dan menangis pada malam hari. Dia menunjukkan seolah-olah beliau tidak dikenali dengan itu. Begitulah para Salaf dahulu berusaha untuk menjauhi popularitas, sehingga orang mengenalinya dengan satu sifat tertentu yang menjadi buah bibir ataupun bahan pembicaraan di tengah-tengah manusia. Mereka berusaha untuk menghindari itu seolah-olah tidak menangis.
    Perlu dicamkan meski menukil riwayat Ibnu Sirin ini bukan berarti kita memerintahkan seorang alim untuk bersikap gembira di hadapan khalayak ramai. Karena itu juga bisa menjatuhkan muruah dia juga. Namun ini untuk menjelaskan satu sisi lain, yaitu bagaimana para Salaf dahulu berusaha untuk menyembunyikan sesuatu yang mereka lakukan karena menghindari popularitas. Mereka tidak ingin menjadi buah bibir dan dibicarakan orang. Popularitas itu beban berat yang kadang-kadang menyeret kita memaksakan diri untuk bersikap pura-pura. Ini yang ingin dihindari oleh para Salaf dahulu.
    Diriwayatkan dari Ali Radhiyallahu ‘Anhu: “Saat menyampaikan ilmu, kendalikan diri kamu. Ketika menyampaikannya jangan campuri ia dengan tawa, karena perbuatan ini bisa memuakkan hati orang-orang yang mendengarnya.”
    Sikap seperti ini bukan riya. Tetapi hati orang-orang awam terlalu polos untuk dapat memahami sikap seorang alim, maka ia tidak boleh permisif terhadap hal-hal mubah. Dengan kata lain, selayaknya ulama menghadapi khalayak dengan sikap yang anggun dan santun.
    Terkadang orang tidak melihat apa yang dikatakan seorang alim, tapi mereka merekam apa yang dilakukan kemudian mereka mengambil kesimpulan sendiri. Bahwa berarti hal itu boleh dan dibenarkan. Kemampuan orang awam untuk memahami apa yang disampaikan sangat lemah. Sementara mereka sangat cepat untuk meniru apa yang mereka lihat. Maka dikatakan oleh Imam Ahmad bahwa dari banyak orang-orang yang hadiri majelisnya, hanya segelintir orang yang memahami ilmu dan selebihnya lagi mereka melihat akhlak dan adab. Ini bukan sikap kepura-puraan, tapi untuk satu maslahat agar orang-orang awam itu tidak terfitnah dengan apa yang mereka lihat.
    Yang tercela adalah berpura-pura khusyuk, berpura-pura menangis, berpura-pura menundukkan kepala agar dipandang sebagai orang zuhud oleh manusia hingga mereka berebut untuk berjabat tangan dan mencium tangannya. Ini bisa sampai kepada orang-orang awam itu mengkultuskan orang tersebut. Lebih jauh lagi mungkin ada orang awam yang meminta kepadanya. Misalnya meminta doa, lalu dia mendoakannya seakan-akan doanya pasti dikabulkan.
    Kita tahu beberapa sahabat yang mustajab doa mereka tidak kita dapati riwayat bahwa orang-orang berbaris di depan pintu rumahnya untuk...
    38 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah