Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Menyaksikan Manfaat-Manfaat Haji yang Sangat Besar

    Menyaksikan Manfaat-Manfaat Haji yang Sangat Besar adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Tujuan-Tujuan Haji. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 27 Muharram 1445 H / 14 Agustus 2023 M.







    Kajian Islam Ilmiah Tentang Menyaksikan Manfaat-Manfaat Haji yang Sangat Besar



    Di antara salah satu tujuan ibadah haji diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah untuk menyaksikan manfaat-manfaat ibadah haji yang sangat luar biasa. Pelajaran-pelajaran yang akan memberikan pengaruh dengan pelajaran-pelajaran yang bermacam-macam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:



    وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ ‎﴿٢٧﴾‏ لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ…



    “Umumkanlah kepada manusia agar mereka melaksanakan ibadah haji. Maka mereka akan datang dengan berjalan kaki dan juga menggunakan unta-unta yang kurus. Mereka akan datang dari setiap penjuru. Di antara tujuannya adalah agar mereka memperhatikan dan menyaksikan manfaat-manfaat yang akan kembali kepada mereka.” (QS. Al-Hajj[22]: 27-28)



    Manfaat melaksanakan ibadah haji adalah sesuatu yang tidak mungkin bagi kita untuk menghitungnya. Pelajaran-pelajaran yang tidak mungkin bagi kita untuk mengambil satu persatu darinya, karena saking banyaknya. Karena sesungguhnya firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam ayat yang barusan kita baca: (مَنَافِعَ) disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam bentuk nakirah untuk memberikan isyarat kepada kita bahwa di dalamnya terkandung berbagai macam manfaat, dan sangat banyak sekali manfaat yang bisa didapatkan oleh para jamaah.



    Dan menyaksikan manfaat ini adalah di antara tujuan ibadah haji diwajibkan dan dimaksudkan untuk melakukannya. Karena kalimat lam (ل) diawal kalimat لِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ adalah lam ta’lil yang dia berkaitan dengan firman Allah sebelumnya. Artinya, Allah memerintahkan untuk mengumumkan ibadah haji sehingga mereka datang dengan berjalan kaki atau menggunakan kendaraan, untuk menyaksikan manfaat-manfaat dari ibadah haji tersebut dan mereka bisa hadir di sana. Ini berarti menghadirkan manfaat yang ada serta memberikan manfaat kepada mereka.



    Oleh karenanya, sudah semestinya bagi mereka yang diberikan kemudahan taufik oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala melakukan ketaatan ini, untuk melaksanakan ibadah dan betul-betul mereka berusaha mendapatkan serta menghasilkan manfaat-manfaat dari ibadah haji, atau mengambil pelajaran-pelajaran dan nasihat-nasihat yang ada di dalamnya. Di samping itu, mereka juga akan mendapatkan pahala yang luar biasa, ganjaran yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, ampunan-ampunan yang akan mereka dapatkan, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala juga akan menghilangkan kesalahan.



    Dan juga pantas bagi mereka yang mendapatkan keuntungan yang luar biasa ini. Mereka akan mendapatkan sesuatu yang sangat indah, ketika nantinya mereka pulang ke kampung halamannya. Mereka akan berada dalam keadaan yang sangat mulia, dengan jiwa yang sangat bagus, dan kehidupan yang baru. Kehidupan yang penuh dengan iman dan taqwa, kehidupan yang diisi dengan kebaikan, berbuat baik, dan istiqamah. Kehidupan yang akan selalu menjaga ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    44 min
  • Bab Mencuci Mani dan Mencuci Darah Haid
    Bab Mencuci Mani dan Mencuci Darah Haid merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 26 Muharram 1445 H / 13 Agustus 2023 M.

    Kajian Hadits Tentang Mencuci Mani
    Hadits 188:
    عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ شِهَابٍ الْخَوْلَانِيِّ قَالَ كُنْتُ نَازِلًا عَلَى عَائِشَةَ ﵂ فَاحْتَلَمْتُ في ثَوْبَيَّ فَغَمَسْتُهُمَا في الْمَاءِ فَرَأَتْنِي جَارِيَةٌ لِعَائِشَةَ فَأَخْبَرَتْهَا فَبَعَثَتْ إِلَيَّ عَائِشَةُ فَقَالَتْ مَا حَمَلَكَ عَلَى مَا صَنَعْتَ بِثَوْبَيْكَ قَالَ قُلْتُ رَأَيْتُ مَا يَرَى النَّائِمُ في مَنَامِهِ قَالَتْ هَلْ رَأَيْتَ فِيهِمَا شَيْئًا قُلْتُ لَا قَالَتْ فَلَوْ رَأَيْتَ شَيْئًا غَسَلْتَهُ لَقَدْ رَأَيْتُنِي وَإِنِّي لَأَحُكُّهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللهِ ﷺ يَابِسًا بِظُفُرِي.
    Dari Abdullah bin Syihab Al-Khaulani, dia berkata: “Aku pernah singgah kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, lalu aku bermimpi (mimpi basah) pada dua bajuku, lalu kemudian aku celupkan dua bajuku itu ke dalam air. Rupanya ada budak wanita milik Aisyah melihat perbuatanku itu. Maka ia pun melaporkan kepada Aisyah Radhiyallahu ‘Anha tentang apa yang aku lakukan.
    Makanya Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengutus budak tersebut kepadaku, ia berkata: ‘Apa yang membuat kamu melakukan perbuatan tersebut dengan memasukkan dua bajumu ke dalam air?’ Maka aku menjawab: ‘Aku bermimpi dalam tidurku itu (yaitu mimpi basah).’
    Kemudian Aisyah bertanya: ‘Apakah kamu melihat di bajumu itu sesuatu?’ Aku berkata: ‘Aku tidak melihat.’ Maka Aisyah berkata: ‘Kalau engkau tidak melihat sesuatu lalu kamu cuci, sungguh aku melihat diriku sendiri di zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam aku mengerik air mani yang kering dengan kukuku di baju Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.'” (HR. Muslim)
    Ketika tidak melihat air mani
    Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang bermimpi basah lalu kemudian ia tidak melihat air mani di baju atau di celananya, maka dia tidak ada kewajiban untuk mandi. Tapi kalau ia melihat, maka dia wajib mandi kalau memang itu air mani. Karena tidak setiap basah saat mimpi itu air mani, terkadang itu air madzi. Kalau ternyata itu hanya air madzi saja, maka tidak ada kewajiban untuk mandi.
    Air mani tidak najis
    Apakah hadits ini menunjukkan bahwa air mani itu najis? Jawabnya tidak. Justru Aisyah Radhiyallahu ‘Anha menegur orang tersebut dan menceritakan bahwa dahulu Aisyah mengerik mani yang kering di baju Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan kukunya. Dan ini dalil yang dijadikan hujjah oleh pendapat yang mengatakan bahwasanya air mani itu tidak najis.
    Ikhtilaf para ulama apakah air mani itu najis atau tidak. Kalau madzhab Imam Malik dan Abu Hanifah mengatakan bahwa air mani itu najis. Adanya dalil yang menunjukkan bahwa Aisyah pernah mencucinya.
    Sementara Imam Syafi’i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa air mani tidak najis. Dan itulah pendapat yang paling kuat. Di antara dalilnya adalah hadits ini. Sebab kalau itu najis, maka tidak cukup untuk dikerik saja. Tapi harus dicuci.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah ketika membahas masalah ini, beliau berkata: Adapun mani, maka yang shahih ia adalah suci. Sebagaimana itu adalah mazhab Imam Syafi’i dan Imam Ahmad yang masyhur darinya. Dan ada lagi yang berpendapat bahwa air mani itu najis, namun boleh untuk dikerik. Yaitu pendapat Imam Abu Hanifah. Ada lagi yang berpendapat bahwa mani itu wajib dicuci, dan itu pendapat Imam Malik. Pendapat yang pertama (yaitu yang mengatakan bahwa mani itu suci) itulah yang benar.
    48 min
  • Sumber Fitnah Syubhat dan Syahwat
    Sumber Fitnah Syubhat dan Syahwat adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Ta’zhimus Sunnah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Sabtu, 25 Muharram 1445 H / 12 Agustus 2023 M.

    Kajian Tentang Sumber Fitnah Syubhat dan Syahwat
    Penulis menyebutkan bahwa zaman ini adalah zaman yang penuh fitnah. Satu dengan yang lainnya saling menutupi. Kami telah melihat berbagai macam keanehan-keanehan dan kemungkaran-kemungkaran yang besar. Kami melihat perkara-perkara yang seseorag tidak boleh berdiam diri dengan keadaan tersebut.
    Fitnah yang dimaksud oleh penulis adalah hal-hal yang bisa menghantarkan kepada penyimpangan agama seperti kekufuran, kesyirikan, kemunafikan akbar, atau dosa besar.
    Kalau kita perhatikan hadits-hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka kita akan dapati hadits-hadits yang berkaitan dengan fitnah. Di antaranya hadits:
    بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِى كَافِرًا أَوْ يُمْسِى مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا
    “Bersegeralah kalian beramal ibadah sebelum datang fitnah-fitnah (hal-hal yang menyebabkan kepada penyimpangan) seperti potongan malam yang gelap. Yang mana ada orang di pagi hari beriman dan di sore hari kafir. Ada pula sore hari beriman dan pagi hari kafir (karena fitnah tadi). Ia menjual agamanya demi mendapatkan bagian dari dunia.” (HR. Muslim)
    Imam Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah pernah menjelaskan tentang fitnah. Kata beliau: Fitnah itu ada dua macam; Yang pertama adalah fitnah syubhat dimana dia adalah fitnah yang paling dahsyat dari dua fitnah. Yang kedua fitnah syahwat (yaitu syahwat perut dan kemaluan). Terkadang dua fitnah ini terkumpul dalam diri seseorang, dan terkadang salah satu dari fitnah ini yang ada di dalam diri seseorang.
    Orang bisa terkena fitnah syubhat akibat sedikitnya ilmu dan lemahnya pengetahuan tentang agama. Dan tidak akan ada yang selamat dari fitnah syubhat kecuali dengan memurnikan pengikutan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, menjadikan beliau pemutus keputusan di dalam perkara-perkara yang kecil atau yang besar dalam agama, yang nampak atau yang tersembunyi dalam agama, berkaitan dengan aqidah atau ibadah, berkaitan dengan hakikat-hakikat atau syariat-syariat. Maka dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sajalah diambil hakikat keimanan dan syariat-syariat dalam Islam. Inilah obat dari fitnah syubhat.
    Fitnah syubhat itu ditahan dengan keyakinan, fitnah syahwat ditahan dengan kesabaran. Adapun sumber fitnah syubhat adalah mendahulukan akal daripada dalil. Misalnya orang yang menolak Al-Qur’an bahwa Allah beristiwa’ di atas Arsy baik dengan syubhat atau memang benar-benar menolak. Hal ini karena tidak masuk akalnya kata mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia di sepertiga malam terakhir, dia tidak terima hadits ini atau minimal bingung terhadap hadits ini. Hal ini karena lebih mendahulukan akal dibandingkan dalil-dalil syariat.
    Contoh-contoh fitnah
    Termasuk dari fitnah yang menghasilkan kemungkaran -dan dari kemungkaran ini terjadi penyimpangan-penyimpangan agama, baik itu bermuara kepada kekufuran, kesyirikan kemunafikan akbar ataupun dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil- kemungkaran tersebut di antaranya adalah penghinaan terhadap sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta penentangannya dengan akal, argumen, hawa nafsu dan adat istiadat.
    Seperti penghinaan dan pencelaan mereka terhadap janggut, pakaian laki-laki di atas dua mata kaki, hijab untuk kaum wanita, siwak dan shalat dengan pembatas di depannya,
    1 hr 19 min
  • Pengagungan Terhadap Sunnah
    Pengagungan Terhadap Sunnah adalah ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Ta’zhimus Sunnah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc. pada Sabtu, 21 Dzulqa’dah 1444 H / 10 Juni 2023 M.

    Kajian Tentang Pengagungan Terhadap Sunnah
    Kita akan mengkaji kitab تعظيم السنة وموقف السلف ممن عارضها أو استهزأ بشيء منها (Pengagungan terhadap sunnah dan sikap para ulama Salaf terhadap orang yang menentangnya atau menghina sesuatu darinya). Buku ini ditulis oleh Abdul Qoyyum bin Muhammad bin Nashir As-Suhaibani Hafidzahullahu Ta’ala. Beliau pengajar di fakultas hadits Universitas Islam Madinah.
    Penulis ingin menyampaikan sebuah pesan kepada kita bahwa tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah:

    * Menjelaskan syariat yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk manusia.
    * Mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya, dari penyimpangan-penyimpangan dalam aqidah, ibadah, muamalah atau adab dan akhlak kepada jalan yang lurus yang ditunjuki oleh Al-Qur’an dan hadits Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    * Menunjuki jalan yang lurus. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Asy-Syura[42]: 52)

    Wajib Menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Allah mewajibkan atas manusia ketaatan mutlak (tanpa alasan) kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan ini yang dipraktekkan oleh para sahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum. Dan semestinya seorang Salafi seperti itu. Taat mutlak kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tanpa bertanya mengapa, kenapa, apa hikmahnya, dan seterusnya.
    Bayangkan, para sahabat Nabi Radhiyallahu ‘Anhum melepas sendal mereka saat melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam shalat, walaupun mereka mengenakan sendal. Mereka meletakkan sendal di samping kiri mereka. Kemudian, Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: “Mengapa kalian tanggalkan sendal-sendal kalian?” Para sahabat menjawab dengan jawaban yang menunjukkan ketaatan mutlak, yaitu: “Kami melihat engkau melepas kedua sendalmu, maka kami pun melepaskan kedua sendal kami.”
    Inilah ketaatan mutlak, tanpa alasan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan banyak ayat di dalam Al-Qur’an yang menyebutkan:
    وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ…
    “Dan taatilah oleh kalian seluruhnya Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 132)
    Begitu juga dalam ayat yang lain:
    … أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ…
    “Taatilah oleh kalian seluruhnya Allah, dan taatilah oleh kalian seluruhnya Rasulullah, dan pemimpin kalian.” (QS. An-Nisa'[4]: 52)
    Di Al-Qur’an ada sekitar 14 ayat yang menunjukkan taat kepada Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka ini perintah dari Allah. Dan asal hukum perintah menunjukkan kepada kewajiban.
    Wajib Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Allah juga mewajibkan atas manusia mencintai, memuliakan, dan menghormati Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Dalam Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 59 terdapat pelajaran wajibnya menaati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan ketaatan yang mutlak (tanpa alasan). Kalau diperintah, maka kita taat. Meskipun tidak tahu apa maksud dan hikmah dari perintah tersebut. Kalau kita tahu maksud dan hikmah perintah,
    1 hr 21 min
  • Doa Mohon Diperbaiki Agama, Dunia dan Akhirat
    Doa Mohon Diperbaiki Agama, Dunia dan Akhirat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 21 Muharram 1445 H / 8 Agustus 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Makna Doa Sapu Jagat
    Doa Mohon Diperbaiki Agama, Dunia dan Akhirat
    Pembahasan kita sebelumnya sampai pada doa yang diperintahkan oleh Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam agar kita berlindung dari segala kesulitan, cobaan, putusan yang buruk terhadap diri kita, dan juga dari kegembiraan musuh atau lawan lantaran musibah yang menimpa diri seseorang.
    Hadits berikutnya:
    وعنه، قَالَ: كَانَ رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: «اللَّهُمَّ أصْلِحْ لِي دِيني الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أمْرِي، وأصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتي فِيهَا مَعَاشِي، وأصْلِحْ لِي آخِرتِي الَّتي فِيهَا مَعَادي، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لِي في كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ». رواه مسلم.
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata: “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengucapkan -dalam doanya yang artinya-: ‘Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang itu adalah pemelihara dalam semua urusanku, dan perbaikilah untukku duniaku yang itu adalah tempat kehidupanku, dan perbaikilah akhiratku yang itu adalah tempat kembaliku. Dan jadikanlah kehidupanku ini sebagai sesuatu yang menambah kebaikanku, dan jadikanlah kematian sebagai peristirahatanku dari segala keburukan.” (Riwayat Muslim)
    Ini adalah doa singkat dan padat yang mencakup kehidupan seorang mukmin baik di dunia maupun di akhirat. Doa ini seyogyanya dihafal, dibaca, dan dipahami maknanya oleh setiap muslim.
    Doa ini termasuk dalam doa-doa yang merangkum berbagai makna, termasuk Jawami’ al-Kalim, yaitu kalimat-kalimat singkat yang diajarkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam namun mengandung makna yang luar biasa.
    Memohon diperbaiki agama
    Doa pertama yang dimohonkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah perbaikan agamanya. Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berdoa: “Ya Allah, perbaikilah aku akan agamaku yang dia merupakan pemelihara bagi urusan-urusanku.”
    Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam adalah pemelihara bagi seorang hamba. Ketika dia mengikuti ajaran dan syariat Islam dengan baik, dia menaati perintah dan menjauhi larangan Allah, maka Islam memelihara seorang hamba dari kesalahan-kesalahan, dari ketergelinciran, dan dari penyimpangan. Baik itu dalam masalah aqidah, ibadah, akhlak, muamalah, dan seterusnya.
    Inilah pentingnya kita belajar Islam. Karena Islam telah mengatur segala aspek kehidupan, dari bangun tidur hingga tidur kembali, bahkan ketika bermimpi pun ada tuntunannya.
    Maka kita bersyukur kepada Allah atas hidayah Islam yang tak ternilai harganya.
    Bagaimana cara memperbaiki agama? Yaitu dengan kita belajar, bertanya kepada ulama, dan mengamalkannya. Yang pertama diperbaiki adakah aqidah (keyakinan) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita memperbaiki hati dengan memasukkan ke dalamnya aqidah yang benar, aqidah yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Kemudian memperbaiki ibadah dan prilaku. Karena aqidah yang benar akan membuahkan prilaku yang benar. Adapun aqidah yang menyimpang maka akan membuahkan prilaku yang menyimpang.
    Maka dari itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memohon kepada Allah ag...
    1 hr 5 min
  • Metode Menangkal Syubhat
    Metode Menangkal Syubhat adalah tabligh akbar yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili pada Ahad, 19 Muharram 1445 H / 6 Agustus 2023 M.
    Tabligh Akbar Tentang Metode Menangkal Syubhat
    Manusia secara umum bisa diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu:

    * Orang yang mengetahui dan memahami dengan baik.
    * Memahami sebagian tapi tidak memahami sebagian yang lain.
    * Paham tapi mengalami syubhat dalam beberapa perkara yang sudah dia pahami.

    Adapun perkara-perkara agama ada tiga macam:

    * Perkara yang halal dan jelas kehalalannya. Seperti halalnya daging binatang ternak, susu, madu dan yang lain.
    * Perkara-perkara yang haram dan jelas keharamannya. Seperti meminum khamr, berzina, riba dan semacamnya.
    * Di antara dua perkara yang sama-sama jelas ini ada perkara-perkara yang rancu dan samar atau yang terjadi syubhat di dalamnya.

    Adanya syubhat ditunjukkan oleh hadits An-Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anhu:
    إِنَّ الحَلاَلَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الَحرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهُنَّ كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ
    “Sungguh yang halal itu jelas, yang haram juga jelas, dan di antara keduanya ada perkara yang syubhat (samar) yang banyak orang tidak mengetahuinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Lihat: Hadits Arbain Ke 6 – Hadits Tentang Syubhat
    Adapun fakta dan kondisinya di lapangan juga menunjukkan bahwasanya ada sebagian orang yang mengalami syubhat. Salah satu contohnya adalah terjadinya perbedaan pendapat di antara para ulama dalam permasalahan-permasalahan yang banyak. Sebagian mereka mengatakan hukumnya halal, sebagian lagi mengatakan hukumnya haram, ada lagi yang mengatakan itu makruh. Dan pendapat yang benar adalah salah satu dari tiga pendapat yang disebutkan ini. Sehingga kita katakan bahwa salah satunya benar. Lantas bagaimana dengan dua yang lain? Dua pendapat yang lain inilah yang dikatakan pemiliknya mengalami syubhat. Dimana mereka tidak bisa membedakan antara dalil yang satu dengan dalil yang lain.
    Hal ini disyaratkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dimana beliau mengatakan: “Kadang-kadang kita mengira ada sesuatu yang mirip dengan sesuatu yang lain, atau A sama dengan B, tapi ternyata faktanya tidak seperti itu.” Karenanya kadang-kadang terjadi kesalahan dalam meng-qiyaskan. Dimana ada orang yang mengatakan bahwasanya permasalahan A adalah cabang dari B, atau permasalahan A mirip dengan permasalahan B. Namun kemudian sebagian ulama yang lebih paham mengatakan bahwa itu adalah peng-qiyasan dengan faktor pembeda yang berpengaruh.
    Maka ini bukti bahwasanya fakta di lapangan menunjukkan adanya orang-orang yang mengalami syubhat di antara umat Islam.
    Pengertian Syubhat
    Syubhat artinya adalah kondisi dimana kita tidak bisa membedakan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Kondisinya samar dan rancu. Penyebabnya adalah karena adanya kemiripan antara dua perkara itu. Maka hal ini menyebabkan sebagian orang tidak bisa membedakan antara keduanya.
    Ketika para peneliti menyebutkan definisi syubhat adalah kondisi dimana kita tidak bisa membedakan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain, ini menunjukkan bahwasanya syubhat adalah kondisi yang terjadi pada orang yang sedang membahas suatu permasalahan.
    Jadi syubhat bukan sifat untuk permasalahan itu sendiri. Bisa jadi permasalahannya gamblang, tapi yang mengalami syubhat adalah sebagian orang yang tidak menguasai permasalahan itu dengan baik. Karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mewariskan Islam yang sempurna untuk kita semuanya. Beliau mengatakan:
    تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا
    2 hr 26 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 84 – Mengimani Semua Kitab Allah
    Tafsir Ali Imran Ayat 84 – Mengimani Semua Kitab Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 16 Muharram 1445 H / 3 Agustus 2023 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 84 – Mengimani Semua Kitab Allah
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا وَمَا أُنزِلَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَالنَّبِيُّونَ مِن رَّبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
    “Katakanlah: ‘Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan antara salah satu dari mereka dan kami tunduk kepadaNya.'” (QS. Ali ‘Imran[3]: 84)
    Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk berkata dan mengumumkan kepada manusia tentang keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Yaitu beriman kepada Allah sebagai Rabb dan sebagai sesembahan yang berhak diibadahi. Ini mencakup beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan seluruh jenis tauhidnya. Masuk di dalamnya tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat. Semuanya masuk dalam firman Allah: “Katakanlah, kami beriman kepada Allah.”
    Beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla merupakan salah satu rukun iman. Rasul kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ, وَمَلاَئِكَتِهِ, وَكُتُبِهِ, وَرُسُلِهِ, وَالْيَوْمِ الآخِرِ, وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ
    “Engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, para RasulNya, hari akhir dan kau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)
    Lihat: Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan
    Al-Qur’an surah Ali Imran Ayat 84 ini menerangkan tentang keimanan terhadap semua kitab yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para RasulNya. Baik yang kita ketahui atau yang belum kita ketahui. Di antara yang kita tahu namanya adalah Taurat, Injil, Zabur, Al-Qur’an, Suhuf Ibrahim dan Musa. Inilah yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Dan kita pun beriman kepada apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak sebutkan namanya dalam kitab-kitabNya.
    Barangsiapa yang beriman kepada sebagian kitab tapi mengkufuri kitab yang lain, maka artinya dia telah kufur kepada semua Kitab. Kaum Yahudi dan Nasrani mengklaim beriman kepada Taurat dan Injil akan tetapi mereka kufur terhadap Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an adalah kitab yang paling agung. Maka maknanya mereka kufur terhadap Taurat dan Injil yang mereka klaim bahwa mereka itu beriman kepada keduanya.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Mari turut membagikan link download kajian “Tafsir Ali Imran Ayat 84 – Mengimani Semua Kitab Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua.
    41 min
  • Mengenal Allah, Antara Orang-Orang Yang Bertauhid dan Yang Melakukan Kesyirikan
    Mengenal Allah, Antara Orang-Orang Yang Bertauhid dan Yang Melakukan Kesyirikan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 16 Muharram 1445 H / 3 Agustus 2023 M.
    Ceramah Agama Islam Tentang Mengenal Allah, Antara Orang-Orang Yang Bertauhid dan Yang Melakukan Kesyirikan
    Mengenal Allah, antara iman orang-orang yang bertauhid dan iman orang-orang yang melakukan perbuatan syirik.
    Ini adalah pembahasan yang sangat penting sekali. Karena bagaimanapun juga iman yang diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah iman orang-orang yang benar-benar mentauhidkanNya, yang ini merupakan buah dari mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala berkata bahwa mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala itu ada dua macam:
    Pertama, mengenal Allah dengan sekedar menetapkan dengan sekedar menetapkan Allah Maha Pencipta, Allah yang mengatur segala sesuatu di alam semesta inilah. Inilah mengenal Allah yang dimiliki oleh semua manusia, baik yang taat maupun yang durhaka, yang selalu mengamalkan ibadah maupun yang selalu berbuat maksiat. Yakni sampai orang musyrik pun mengakui hal ini. Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ…
    “Kalau kamu tanyakan kepada mereka orang-orang musyrik itu: ‘Siapakah yang menciptakan langit-langit dan bumi?’ mereka akan mengatakan: ‘Allah yang menciptakannya.'” (QS. Az-Zumar[39]: 38)
    Yang jelas ini mengenal Allah sekedar fitrah. Ini belumlah menyelamatkan seseorang, belumlah menjadikan dia kemudian menetapkan tauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena ini sesuatu yang harus diperkuat dengan mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menguatkan pengenalan dan keyakinan kita tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Kedua, mengenal Allah yang akan melahirkan rasa malu kepadaNya, mencintaiNya, selalu menyandarkan hati kita kepadaNya, melahirkan rasa rindu untuk bertemu dengan Allah, rasa takut, selalu kembali kepadaNya, selalu damai ketika dekat denganNya, serta berpaling dari semua makhluk untuk hanya menghadapkan diri kepadaNya.
    Tentu inilah mengenal Allah yang dituntut di dalam Islam, inilah yang dipuji. Semakin seorang hamba mengenal Allah maka dia semakin tunduk dan takut kepada Allah. Sebagaimana makna firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
    … إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ…
    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya hanyalah orang-orang yang berilmu.”  (QS. Fathir[35]: 29)
    Kata Imam Ibnu Katsir, ulama yaitu orang yang mengenal dan mengetahui tentang Allah. Orang yang semakin mendalami sifat-sifat kesempurnaanNya, pasti dia akan semakin mencintai Allah, semakin tunduk, semakin hanya berharap, semakin takut kepada Allah. Karena segala sesuatu yang dibutuhkan hamba ada di tanganNya, dan semua yang ditakutkan menimpa hamba hanya Allah yang Maha Kuasa untuk menimpakannya kalau Dia menghendakinya, atau mencegahnya jika Dia juga menghendakinya.
    Inilah pengenalan Allah yang khusus yang selalu disebutkan dalam pernyataan orang-orang yang shalih , ahli zuhud, dan tekun beribadah sebelum kita. Inilah mengenal Allah yang dipuji.
    44 min
  • Penampilan Indah Yang Dipuji
    Penampilan Indah Yang Dipuji adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 2 Muharram 1445 H / 20 Juli 2023 M.
    Ceramah Agama Islam Tentang Penampilan Indah Yang Dipuji
    Kita membahas tentang dua golongan yang menyimpang dari jalan yang lurus dalam hal ini yang berhubungan dengan mengenal keindahan makhluk yang Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan pada makhlukNya. Ada kelompok yang menetapkan semua yang Allah ciptakan itu indah, sampai pun kemungkaran dan keburukan-keburukan mereka anggap indah. Sampai pun perbuatan maksiat mereka anggap indah. Ini adalah orang-orang yang tentu saja telah dihilangkan di hati mereka kecemburuan karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah, mengingkari kemungkaran, kemudian menegakkan jihad di jalan Allah. Ini akibat dari keyakinan mereka yang rusak.
    Ada golongan yang kedua. Mereka berkata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela di dalam Al-Qur’an keindahan rupa, keindahan fisik, kesempurnaan postur dan tubuh manusia. Jadi mereka ini menganggap mutlak semua yang namanya penampilan dan keindahan fisik itu dicela dalam Islam. Mereka berkata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang munafik:
    وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ…
    “Dan jika kamu melihat mereka, kamu akan kagum dengan keindahan fisik mereka.” (QS. Al-Munafiqun[63]: 4)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
    وَكَمْ أَهْلَكْنَا قَبْلَهُمْ مِنْ قَرْنٍ هُمْ أَحْسَنُ أَثَاثًا وَرِئْيًا
    “Dan berapa banyak Kami binasakan sebelum mereka generasi-generasi yang hidup di satu masa yang mereka itu lebih banyak hartanya dan lebih indah penampilan fisiknya.” (QS. Maryam[19]: 74)
    Jadi mereka berdalil dengan ayat-ayat ini untuk mencela keindahan rupa secara mutlak. Artinya mereka itu lebih banyak hartanya lebih indah penampilan fisiknya.
    Inilah kelompok kedua yang mengatakan tercelanya semua keindahan fisik secara mutlak.
    Tambah lagi dalil yang mereka gunakan, hadits dalam riwayat Imam Muslim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ.
    “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada fisik dan harta kalian, akan tetapi Allah hanyalah memandang kepada hati dan amal-amal perbuatanmu.” (HR. Muslim)
    Mereka juga berkata bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengharamkan memakai sutra, emas dan bejana-bejana dari emas dan perak. Yang ini semua adalah termasuk perhiasan dunia yang paling besar. Dan Allah berfirman:
    وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ…
    “Dan janganlah kamu memandang kepada perhiasan yang bermacam-macam yang Kami berikan kepada mereka sebagai perhiasan kehidupan dunia agar Kami menjadikan fitnah bagi mereka dalam hal ini…” (QS. Tha Ha[20]: 131)
    Dalam hadits juga disebutkan:
    إِنَّ الْبَذَاذَة مِن الإِيمَان
    “Kesederhanaan itu adalah termasuk iman.” (HR. Abu Dawud)
    Ini dalil yang mereka gunakan untuk mendukung pendapat mereka, sehingga mereka berkata bahwa semua penampilan fisik yang indah itu dicela secara mutlak. Kata mereka juga bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencela orang-orang yang berlebihan p...
    26 min
  • Mengawal Perkembangan Remaja
    Mengawal Perkembangan Remaja merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 14 Muharram 1445 H / 1 Agustus 2023 M.

    Kajian Tentang Mengawal Perkembangan Remaja
    Manusia melewati fase-fase kehidupan. Allah mengatakan:
    لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ
    “Kamu akan melewati kehidupan ini fase demi fase.” (QS. Al-Insyiqaq[84]: 19)
    Artinya ada perkembangan yang terjadi. Demikian juga, anak-anak kita mengalami fase-fase perkembangan itu, terutama anak-anak yang perkembangannya sangat cepat.
    Para orang tua wajib mengikuti perkembangan ini, karena ini berkaitan dengan bagaimana kita memberikan pendidikan dan perlakuan terhadap mereka. Tentunya, cara menghadapi anak balita berbeda dengan pra baligh. Demikian juga remaja dengan yang menuju pra-dewasa. Ada perbedaan-perbedaan di antara mereka, dan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Nabi juga memperhatikan fase usia anak. Pada usia 7 tahun, perlakuannya bagaimana, ketika dia berumur 10 tahun, bagaimana, dan begitu seterusnya.
    Maksud mengawal dalam kajian kali ini adalah mendampingi. Sehingga orang tua selalu hadir untuk mendampingi dan mengikuti perkembangan anak. Karena jika terluput, ada satu bagian dari kehidupan anak yang hilang. Misalnya anak terluput pendidikan di masa pra-baligh, ini akan berpengaruh.
    Setiap fase kehidupan anak pasti akan diisi. Sedangkan orang tua adalah orang yang wajib mengisi bagian-bagian dari kehidupan anak-anak tersebut. Jika orang tua tida kmengisinya, maka mungkin ada orang lain yang akan mengisinya.
    Fase remaja dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu awal remaja, puncak remaja, dan akhir remaja. Setiap fase ini memiliki karakteristiknya sendiri dan tentu berbeda satu sama lain.
    Masa remaja sangat menentukan dalam kehidupan seseorang. Ini adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa. Oleh karena itu, ini sangat menentukan arah. Orang tua tidak boleh lengah di fase ini.
    Orang tua boleh menjadi teman bagi anaknya di usia 10 tahun kebawah. Namun, ketika anak menginjak remaja, mereka membutuhkan lebih dari sekadar teman. Tapi murni sebagai sosok orang tua.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Mengawal Perkembangan Remaja
    Mari turut membagikan link download kajian “Mengawal Perkembangan Remaja” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    37 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah