Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Dampak Beriman kepada Hari Akhir dalam Kehidupan Seorang Muslim
    Dampak Beriman kepada Hari Akhir dalam Kehidupan Seorang Muslim adalah tabligh akbar yang disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. Ibrahim bin ‘Amir Ar-Ruhaili pada Ahad, 5 Muharram 1445 H / 23 Juli 2023 M.
    Tabligh Akbar Tentang Dampak Beriman kepada Hari Akhir dalam Kehidupan Seorang Muslim
    Sudah bisa dimaklumi bahwa setiap cabang-cabang iman yang berkaitan dengan keyakinan memiliki pengaruh terhadap amal seorang hamba. Begitu juga pengaruhnya kepada pribadi, etika, dan akhlak dalam kehidupannya.
    Yang paling agung dari rukun-rukun iman adalah yang menjadi tema pembicaraan kita pada kesempatan ini, yaitu beriman dengan hari akhir. Dampak dan pengaruhnya luar biasa dalam hidup seorang muslim, baik dari sisi ibadah, akhlak, maupun etika.
    Beriman dengan hari akhir memiliki cabang-cabang yang sangat penting, seperti:

    * Beriman dengan tanda-tanda hari kiamat.
    * Beriman dengan alam kubur, nikmat, adzabnya, dan keadaan manusia di alam barzakh.
    * Beriman dengan tegaknya hari kiamat sebagai akhir dari kehidupan manusia di dunia.
    * Mengimani al-Ba’ats (hari berbangkit).
    * Beriman dengan penghisapan.
    * Beriman dengan keadaan manusia di hari kiamat.
    * Beriman dengan adanya surga dan neraka beserta apa-apa yang dijelaskan dalam syariat tentang keadaan dan sifatnya.

    Semua ini menjadi pondasi keimanan kepada hari akhir. Dan dengan mengimani semua itu pasti memberikan dampak dan pengaruh kepada pribadi, ibadah, dan akhlak seorang muslim.
    Dampak beriman dengan tanda-tanda hari kiamat
    Dampak dan pengaruh beriman kepada tanda-tanda kiamat dalam kehidupan seorang muslim, akan tampak darinya beberapa hal.
    Tanda-tanda kiamat terbagi tiga:
    Pertama, tanda-tanda kiamat yang telah terjadi dan hilang tanpa berulang, seperti diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, terbelahnya bulan, dan peperangan dua kelompok besar dari kaum muslimin seperti dalam perang Jamal dan perang Shiffin.
    Di antara dampak mengimani tanda hari kiamat ini adalah seorang muslim akan bertambah yakin bahwa kiamat benar-benar akan terjadi, sebagaimana diberitakan oleh Nabi.
    Kedua, tanda-tanda kiamat yang telah keluar dan tetap terus keluar, seperti munculnya para pendusta yang mengaku sebagai Nabi, dan kaum muslimin menyerupai Yahudi dan Nasrani.
    Dampak beriman kepada tanda-tanda yang sudah muncul dan tetap terus muncul. Hal ini sama seperti dampak beriman pada tanda pertama, yaitu bertambahnya keimanan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada hari kiamat, dan kepada Nabi yang memberitakannya. Setiap kali datang muncul tanda yang ia dapatkan beritanya, maka dia akan semakin bertambah imannya bahwa kiamat itu haq.
    Namun, ada perbedaan dampak dalam mengimani tanda yang kedua karena tanda-tanda tersebut sudah muncul dan tidak berulang. Kita hanya yakin bahwa Nabi telah mengabarkan tanda-tanda tersebut, sementara yang kedua adalah yang masih terjadi dan kita menyaksikannya, tentu pengaruhnya akan semakin menguatkan keyakinan kita akan kebenaran berita dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Hal ini juga akan meningkatkan keyakinan akan kualitas agama kita bahwa ini adalah agama yang haq, dan akan semakin yakin bahwa hari kiamat pasti terjadi tanpa ada keraguan.
    Ketiga, tanda-tanda kiamat yang belum muncul, seperti munculnya Imam Mahdi, keluarnya Dajjal, turunnya Nabi Isa, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, tragedi penghancuran Ka’bah, diangkatnya Al-Qur’an, munculnya Dukhan (asap), terbitnya matahari dari barat, dan munculnya api di Yaman yang menggiring manusia menuju tempat penghimpunan di Syam.
    Mengimani tanda-tanda ini memiliki dampak luar biasa dalam keistiqamahan seorang mukmin, merealisasikan ibadah, dan meningkatkan keyakinannya terhadap kebenaran agama ini.
    1 hr 42 min
  • 10 Perkara Yang Termasuk Fitrah
    10 Perkara Yang Termasuk Fitrah merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 5 Muharram 1445 H / 23 Juli 2023 M.

    Kajian Hadits Tentang 10 Perkara Yang Termasuk Fitrah
    Kita masih di bab عشر من الفطرة (sepuluh perkara yang termasuk fitrah). Hadits 182:
    عَنْ عَائِشَةَ ﵂ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ. قَالَ زَكَرِيَّاءُ قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ. زَادَ قُتَيْبَةُ قَالَ وَكِيعٌ انْتِقَاصُ الْمَاءِ يَعْنِي الِاسْتِنْجَاءَ.
    Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ada sepuluh perkara yang termasuk fitrah; mencukur kumis, memanjangkan janggut, siwak, beristinsyaq (menghirup air ke hidung dalam berwudhu), memotong kuku, mencuci barojim, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, intiqashul ma‘ (istinja’).” Zakariya berkata, Mush’ab berkata, “Aku lupa yang kesepuluh, mungkin ia adalah berkumur.” Qutaibah menambahkan, Waki’ berkata, “Intiqashul ma’ yakni istinja’. (HR. Muslim)
    1. Mencukur kumis
    Yang sunnah itu mencukur, bukan menggundul.
    2. Memanjangkan janggut
    Memanjangkan janggut hukumnya wajib. Karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkannya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ
    “Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot! Selisihilah orang-orang Majusi!” (HR. Muslim)
    Kata-kata “selisihi orang majusi” bukan artinya kalau orang majusi berjenggot kemudian kita malah mencukur janggut. Kenapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan “selisihi orang majusi”? Karena orang majusi pada waktu itu mencukur jenggotnya dan menyelisihi fitrah.
    Kalau sekarang orang majusi berjenggot, berarti mereka sudah sesuai dengan fitrah. Maka kita tetap berjenggot juga.
    Dan kita perhatikan para ulama terdahulu, tidak ada satupun ulama terdahulu yang berpendapat bahwa mencukur jenggot itu hukumnya makruh. Bahkan Ibnu Hazm mengatakan ijma’ seluruh ulama bahwa mencukur jenggot itu hukumnya haram.
    Namun sebagian ulama Syafi’iyah belakangan (bukan yang terdahulunya) mengatakan bahwa mencukur jenggot hanya makruh saja, tidak sampai kepada haram.
    Akan tetapi saudaraku, tentunya yang menjadi hujjah kita adalah perkataan Allah dan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apalagi pendahulu ulama yang mengatakan makhruh itu tidak ada. Para ulama terdahulu tidak ada yang berpendapat bahwa hukumnya makruh.
    Yang diperselisihkan oleh para ulama itu mencukur jenggotnya melebihi segenggam. Pendapat Abdullah bin Umar demikian pula beberapa sahabat yang lain, mereka mengatakan bahwa disunnahkan untuk dipotong (kalau sudah melebihi segenggam). Syaikh Albani mengatakan: “Aku tidak mengetahui adanya sahabat yang menyelisihi pendapat beliau). Sehingga atas dasar itu ini adalah sunnah.
    Sedangkan jumhur berpendapat tidak disyariatkan untuk memotong melebih segenggam. Karena dalil-dalil memutlakkan semuanya “panjangkan jenggot”. Bahkan disebutkan dalam hadits bahwa para sahabat mengetahui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membaca di shalat dzuhur dan ashar dengan bergoyangnya janggut beliau. Itu menunjukkan bahwa berarti Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sal...
    57 min
  • Golongan Yang Selamat Jumlahnya Sedikit dan Banyak Dimusuhi
    Golongan Yang Selamat Jumlahnya Sedikit dan Banyak Dimusuhi adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Sabtu, 4 Muharram 1445 H / 22 Juli 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Golongan Yang Selamat Berjihad dengan Lisan, Pena dan Harta
    Golongan Yang Selamat Jumlahnya Sedikit dan Banyak Dimusuhi
    1. Jumlah mereka sedikit
    Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an memuji mereka dengan berfirman:
    …وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
    “Dan sangat sedikit di antara hamba-hambaKu yang benar-benar bersyukur.” (QS. Saba’[34]: 13)
    Jumlah orang yang berpegang teguh dengan kebenaran sedikit. Bahkan kita tahu, sebagian para ulama menjelaskan bahwa mereka ini sampai pun di kalangan penuntut ilmu jumlahnya sedikit. Karena ketika orang menuntut ilmu dalam jumlah yang banyak, tidak semua di antara mereka itu menghadiri ilmu untuk mengambil faedah dalam hal meningkatkan iman, untuk bisa memahami tauhid lebih dalam, untuk bisa mengamalkan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala RasulNya. Bisa jadi ada yang hadir sekedar mengikuti orang yang sudah banyak hadir. Ini akan terbukti nanti dalam praktek dan pengamalannya, dimana ternyata tidak semua mengamalkan sesuai dengan apa yang mereka sudah pelajari.
    Imam Al-Bukhari Rahimahullahu Ta’ala pernah mengatakan di depan murid-muridnya:
    أفضل المسلمين رجل أحيا سنة من سنن الرسول صلى الله عليه وسلم قد أميتت، فاصبروا يا أصحاب السنن رحمكم الله فإنكم أقل الناس
    “Orang muslim yang paling utama adalah yang menghidupkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang telah ditinggalkan manusia. Maka bersabarlah wahai Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sesungguhnya jumlah kalian paling sedikit.”
    Imam Bukhari mengucapkan pernyataan ini di depan murid-muridnya yang sekian banyak. Beliau menyatakan “Bersabarlah wahai Ahlus Sunnah jumlah kalian paling sedikit.” Pasti Imam Bukhari di sini dimaksudkan sesuatu. Jumlah yang banyak di hadapannya, ribuan yang hadir, kenapa beliau mengatakan jumlah kalian paling sedikit?
    Ternyata Imam Bukhari di sini memaksudkan bahwa jumlah yang banyak ini tidak semua nanti benar-benar akan keluar sebagai Ahlus Sunnah. Yaitu Ahlus Sunnah yang bisa belajar sunnah, mengamalkannya, bersabar berpegang teguh dengannya ketika banyak orang yang memusuhi. Karena banyak orang-orang yang kemudian berguguran kecuali orang-orang yang senantiasa mendapatkan taufik dan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk selalu berpegang teguh dengan agamanya.
    Makanya ini yang menjadikan kita selalu berdoa kepada Allah agar kita dimudahkan istiqamah di atas Islam dan sunnah dalam semua keadaan sampai di akhir hayat.
    Maka benar kalau dikatakan oleh beliau di sini bahwa jumlah mereka selalu sedikit. Dan ingat ini bukan berarti kita menutup pintu untuk orang-orang yang ingin berhijrah kepada sunnah.
    Alhamdulillah ketika ada jumlah yang banyak yang ingin belajar sunnah, kita jelas membuka diri dan membimbing mereka untuk membaca kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Tapi kenyataan yang terjadi di akhir zaman adalah jumlah mereka sangat sedikit. Sampai-sampai Imam Ibnul Qayyim Rahimahullahu Ta’ala pernah mengatakan:
    فتفرد العبد فى طريق طلبه دليل على صدق طلبه
    48 min
  • Golongan Yang Selamat Berjihad dengan Lisan, Pena dan Harta
    Golongan Yang Selamat Berjihad dengan Lisan, Pena dan Harta adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Sabtu, 5 Sya’ban 1444 H / 25 Februari 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Golongan Yang Selamat Mengajak Berpegang Teguh dengan Sunnah
    Golongan Yang Selamat Berjihad dengan Lisan, Pena dan Harta
    Metode beragama dari golongan yang selamat, mereka selalu menyeru kaum muslimin untuk berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pemahaman para sahabat Radhiyallahu Ta’ala ‘Anhum ajma’in. Karena inilah yang dijamin oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan RasulNya sebagai orang-orang yang akan selamat dari fitnah kesesatan di dunia dan selamat dari ancaman adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
    “Barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas petunjuk di hadapannya, kemudian dia mengikuti jalan selain jalan para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum, maka Kami akan palingkan dia ke arah kesesatan yang digandrunginya. Dan Kami akan masukkan dia ke dalam neraka jahanam yang itu merupakan seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa'[4]: 115)
    Karena mereka mengetahui inilah jalan yang benar. Maka mereka senantiasa mengajak kaum muslimin berpegang teguh dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan pemahaman para sahabat. Sebagaimana kita tahu mereka mengamalkan pesan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu ‘Anhu ketika menyebutkan perpecahan umat di akhir zaman, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ المَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
    “Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnahnya para Khulafaur Rasyidin yang selalu mendapatkan petunjuk dari Allah, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah erat-erat dengan gigi gerahammu.”
    Lihat juga: Hadits Arbain 28 – Mendengar dan Taat Kepada Penguasa
    Ini yang mereka senantiasa serukan kepada kaum muslimin. Dalam semua keadaan berpegang teguh dengan sunnah dan pemahaman para sahabat. Baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit, baik dalam keadaan menguntungkan atau tidak menguntungkan, baik ketika banyak kaum muslimin yang ikut berpegang teguh dengan sunnah ataupun mereka semua misalnya berpaling, maka golongan yang selamat ini tidak berubah.
    لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأتِيَ أَمْرُ اللهِ
    “Tidak akan merugikan mereka orang-orang yang berpaling dari petunjuk mereka sampai datangnya keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelang hari kiamat nanti.” (HR. Muslim)
    Sehingga dengan sebab ini Allah menetapkan pertolongan dariNya bagi mereka. Ini sudah kita bahas, bahwa pertolongan dari Allah adalah sejauh mana kaum muslimin berpegang teguh dengan agama mereka. Karena tidak mungkin Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menolong hamba yang tidak meno...
    1 hr 7 min
  • Khutbah Jumat: Bulan Allah Al-Muharram
    Khutbah Jumat: Bulan Allah Al-Muharram ini merupakan rekaman khutbah Jum’at yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. di Masjid Al-Barkah, Komplek Rodja, Kp. Tengah, Cileungsi, Bogor, pada Jum’at, 3 Muharram 1445 H / 21 Juli 2023 M.

    Khutbah Jumat: Bulan Allah Al-Muharram
    Kita berada di bulan Muharram. Ia adalah merupakan bulan Allah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya tentang puasa yang paling utama, maka beliau bersabda:
    أَفْضَلُ الصِّيَام بَعْد رَمَضَان شَهْرُ اللهِ الْمُحَرَّم
    “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Al-Muharram.” (HR. Muslim)
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini menamai bulan Muharram sebagai bulan Allah, itu menunjukkan akan agungnya bulan ini. Bahkan Al-Hasan Al-Basri menyebutkan bahwasanya ia adalah bulan haram yang paling agung di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena bulan-bulan haram ada 4 bulan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, lalu Rajab. Ini adalah merupakan bulan-bulan haram, dimana perbuatan dosa menjadi besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan dari empat bulan haram ini ternyata yang paling agung adalah bulan Muharram, saudaraku.
    Maka kewajiban kita dengan masuknya bulan Muharram ini, kita agungkan bulan ini dengan kita banyak bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, memperbanyak berpuasa. Karena sesungguhnya kata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits yang saya sebutkan tadi, bahwasanya puasa sunnah yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram. Puasa yang dimaksud di sini yaitu puasa-puasa yang disunahkan kata para ulama. Seperti puasa senin kamis, puasa dawud, puasa tiga hari di tengah bulan, demikian pula puasa yang lainnya yang disunnahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
    Di bulan Muharram ini pun kita mengingat bahwasanya umur kita semakin bertambah. Kita mengingat bahwasanya kita semakin dekat menuju ajal. Karena setiap manusia pasti telah ditentukan ajal dan kematiannya. Allah Ta’ala berfirman:
    كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ…
    “Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 185)
    Semakin bertambah tahun, semakin dekat ajal kita. Maka kewajiban kita mempersiapkan menuju kematian itu, saudaraku. Kita berusaha untuk memperkuat keimanan dan memperbanyak amalan. Jangan sampai kita menjadi hamba-hamba dunia yang hanya mencari dunia, yang hanya memikirkan kehidupan dunia belaka. Karena sesungguhnya الدنيا مزرعة الآخرة (kehidupan dunia tiada lain adalah ladang menuju kehidupan akhirat). Siapa yang menanam di hari ini, kelak esok ia akan memetik buahnya. Tapi siapa yang di hari ini ia melakukan kesia-siaan, lebih tertipu dengan kehidupan dunia dan gemerlapnya, lebih tertipu dengan kesenangan dunia, maka ia akan mendapatkan penyesalan. Dan penyesalan di hari kiamat sudah tidak ada manfaatnya.
    Dengan datangnya bulan Muharram, semakin bertambah umur, maka seharusnya semakin bertambah amalan shalih kita, semakin sedikit amal maksiat, semakin kita dekat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semakin kita cerdas mencari kehidupan akhirat, bukan hanya cerdas mencari dunia. Berapa banyak orang yang ketika mencari dunia ia cerdas, ketika berbisnis ia cerdas, akan tetapi ketika mencari akhirat ia tidak cerdas, ia tidak berusaha berpikir dan menggunakan akal pikirannya “Bagaimana saya bisa mendapatkan kehidupan akhirat, sehingga bahagia di akhirat nanti.”
    Adapun kemudian ia hanya memikirkan kebahagiaan dunia, itu menunjukkan akan kurangnya iman dia kepada Allah dan kehidupan akhirat.
    Saudaraku seiman.. Di bulan Muharram ini mari kita memperbanyak amalan shalih.
    11 min
  • Tujuan Haji Merealisasikan Ketakwaan
    Tujuan Haji Merealisasikan Ketakwaan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Tujuan-Tujuan Haji. Pembahasan ini disampaikan oleh Syaikh Prof. Dr. ‘Abdurrazzaq bin ‘Abdil Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr pada Senin, 22 Dzulhijjah 1444 H / 10 Juli 2023 M.

    Kajian Islam Ilmiah Tentang Tujuan Haji Merealisasikan Ketakwaan
    Sesungguhnya di antara salah satu tujuan melaksanakan ibadah haji adalah mewujudkan rasa bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak sekali mengulang di dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan ibadah haji. Walaupun ayat tersebut tidak terlalu banyak, namun di antara fokusnya adalah memberikan wasiat kepada hamba untuk selalu bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala banyak sekali bisa didapatkan ketika melaksanakan ibadah haji dibandingkan seseorang melaksanakan ibadah-ibadah yang lainnya. Yang demikian kalau kita bisa memikirkan dengan pemikiran dengan jernih dan penghayatan yang bagus untuk mewujudkan cita-cita dari ibadah haji dan apa yang tujuan yang sebenarnya.
    Ayat-ayat serta wasiat Allah Subhanahu wa Ta’ala berulang-ulang ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berbicara tentang masalah haji, terutama di dalam surah Al-Baqarah.
    Dalam ayat pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala memulainya dengan FirmanNya:
    …وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
    “Bertakwalah kalian kepada Allah, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki adzab yang sangat pedih.”(QS. Al-Baqarah[2]: 196)
    Kemudian dipertengahan ayat-ayat tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menyebutkan:
    …وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
    “Berbekallah kalian, dan sesungguhnya bekal yang terbagus adalah takwa. Dan takutlah kalian kepadaKu, wahai orang-orang yang memiliki hati.” (QS. Al-Baqarah[2]: 197)
    Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri ayat-ayat haji dengan firmanNya:
    …وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
    “Bertakwalah kalian kepada Allah, dan ketahuilah bahwa kalian akan dikumpulkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (QS. Al-Baqarah[2]: 203)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman dalam surat Al-Hajj:
    ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ
    “Yang demikian, bagi mereka yang mengagungkan syiar-syiar Allah, sesungguhnya itu adalah bagian daripada ketakwaan yang ada di dalam hatinya.” (QS. Al-Hajj[22]: 32)
    Dan juga Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ…
    “Allah tidak menerima dan tidak menginginkan dagingnya atau darahnya, akan tetapi yang diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kalian adalah takwa.” (QS. Al-Hajj[22]: 37)
    Bertakwa Merupakan Wasiat Paling Agung
    Bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan wasiat yang paling agung dan perbekalan yang paling indah untuk bertemu dengan hari kiamat. Yang demikian merupakan wasiat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang-orang terdahulu dan juga kepada orang-orang yang akan datang berikutnya dari hamba-hambaNya. Sebagaimana yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam FirmanNya:
    وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا...
    59 min
  • Memakai Pakaian Indah Untuk Mensyukuri Nikmat Allah
    Memakai Pakaian Indah Untuk Mensyukuri Nikmat Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 26 Dzulqa’dah 1444 H / 15 Juni 2023 M.
    Ceramah Agama Islam Tentang Memakai Pakaian Indah Untuk Mensyukuri Nikmat Allah
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إنَّ اللهَ جميلٌ يُحبُّ الجمالَ
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Indah dan mencintai keindahan.” (HR. Muslim)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai keindahan, maka hal-hal yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti menjadikan indah keadaan seorang hamba. Hal-hal yang dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan menjadi sebab keburukan, kehinaan dan hilangnya kemuliaan pada diri seorang hamba.
    Ketika ada seorang sahabat yang mendengar hadits ini, dia bertanya: “Wahai Rasulullah, masing-masing kami senang memakai pakaian yang indah, sepatu yang indah.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan.”
    Hal-hal ini kalau digunakan dalam rangka mensyukuri nikmat Allah. Pakaian yang indah digunakan dalam rangka memperindah penampilan ketika beribadah, menghadapkan diri kepada Allah, misalnya ketika shalat berjamaah, shalat Jum’at, shalat Ied, ini adalah ketaatan yang dicintai oleh Allah. Tapi tentu kalau digunakan untuk tujuan buruk/maksiat kepada Allah, maka akan menjadi sebab keburukan. Na’udzubillahi min dzalik.
    Itu jawaban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika ditanya tentang ini. Berarti ini meliputi keindahan pakaian yang ditanyakan di dalam hadits ini sendiri. Dan juga masuk ke dalamnya secara umum keindahan dalam segala sesuatu yang disyariatkan di dalam Islam.
    Di dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik-baik.” (HR. Muslim)
    Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena Dia Maha Baik maka Dia tidak menerima sedekah kecuali dari harta yang baik/halal, tidak menerima sumbangan untuk kebaikan kecuali dari harta yang bersih/halal.
    Kemudian di dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ
    “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai melihat bekas-bekas nikmat yang dilimpahkan kepada hambaNya.” (HR. Tirmidzi)
    Yakni kalau orang memakai pakaian ini dalam rangka mensyukuri nikmat Allah, dia gunakan untuk ibadah, untuk menyambut para penuntut ilmu, menghadiri kajian dalam rangka menghargai ilmu, masyaAllah ini dipuji dan dicintai oleh Allah.
    Ingat hadits Jibril ‘Alaihish Shalatu was Salam yang disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim yang diriwayatkan oleh sahabat Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Ketika datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Malaikat Jibril yang menyerupakan diri seperti seorang Arab Badui menghadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakai pakaian yang sangat indah. Pakaiannya sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Beliau menghadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan penampilan yang rapi dan menarik.
    52 min
  • Kesempurnaan Ilmu Allah – Tafsir Surah Ali Imran 5
    Kesempurnaan Ilmu Allah – Tafsir Surah Ali Imran 5 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 22 Dzulhijjah 1444 H / 11 Juli 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Keagungan Rububiyahnya Allah – Tafsir Surah Al-Baqarah 285
    Kesempurnaan Ilmu Allah – Tafsir Surah Ali Imran 5
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ ‎﴿٥﴾
    “Sesungguhnya Allah tidak tersembunyi padanya sesuatu pun di langit tidak pula di bumi.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 5)
    Di sini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan akan kesempurnaan ilmuNya. Bahwa kesempurnaan ilmuNya menunjukkan bahwa tidak ada sesuatupun atau sedikitpun yang tersembunyi dari ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik di langit maupun di bumi. Walaupun sebesar bakteri yang tak terlihat oleh mata, itu tak akan tersembunyi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Dalam ayat ini, Allah mengabarkan bahwa tidak ada yang tersembunyi bagi Allah, baik di langit maupun di bumi. Ayat ini bentuknya meniadakan sifat. Allah mengatakan: “Tidak tersembunyi bagi Allah…” Tapi yang diinginkan adalah untuk menetapkan akan kesempurnaan ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena meniadakan saja tidak menunjukkan kepada kesempurnaan. Tapi ketika meniadakan itu tujuannya untuk menetapkan, maka itu menunjukkan kepada kesempurnaan.
    Makanya dalam Al-Qur’an, semua ayat yang menyebutkan tentang peniadaan dari sifat Allah, tujuannya adalah untuk menetapkan kebalikannya.
    Contoh lain adalah firman Allah:
    لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ
    “Allah tidak ditimpa ngantuk, tidak pula tidur.” (QS. Al-Baqarah[2]: 255)
    Di sini Allah meniadakan dua kekurangan untuk menetapkan kesempurnaan hidupnya Allah. Artinya bahwa hidupnya Allah itu sempurna. Saking sempurnanya Allah tidak ditimpa ngantuk tidak pula tidur. Berbeda dengan manusia yang hidupnya tidak sempurna.
    Contoh lagi firman Allah:
    لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
    “Allah tidak melahirkan dan Allah tidak dilahirkan.” (QS. Al-Ikhlas[112]: 3)
    Di sini Allah meniadakan, tapi dalam rangka untuk menetapkan akan kesempurnaan shamadiyahNya Allah. Karena Allah menyebutkan sebelumnya اللَّهُ الصَّمَدُ (Allah tempat bergantung seluruh makhluk.) Allah tidak melahirkan, karena yang melahirkan berarti butuh kepada anak. Sedangkan Allah tidak butuh kepada anak. Dan tidak dilahirkan, karena sesuatu yang dilahirkan membutuhkan kepada ibu dan bapak, sedangkan Allah tidak membutuhkan itu semua. Maka Allah menyembuhkan sebelumnya: “Allah tempat bergantung seluruh makhluk.”
    Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ
    “Tidak ada sesuatupun yang sebanding dengan Allah.” (QS. Al-Ikhlas[112]: 4)
    Di sini Allah kembali meniadakan, tapi untuk menetapkan kesempurnaan ahadiyahNya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satupun yang sebanding dengan Allah. Karena Allah satu-satunya yang paling kuat, yang paling sempurna, yang paling segala-galanya.
    Oleh karena itu sebatas meniadakan saja tidak menunjukkan pujian, kecuali kalau meniadakan itu untuk menetapkan kebalikan. Maka sebatas meniadakan saja tidak pernah Allah lakukan dalam Al-Qur’an. Yang melakukan peniadaan adalah orang-orang Muktazilah, Jahmiyah, ‘Asyairah, Maturidiyah, mereka banyak meniadakan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menurut akal mereka katanya...
    52 min
  • Shalat Witir
    Shalat Witir ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 21 Dzulhijjah 1444 H / 10 Juli 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Mengqadha Shalat Sunnah Fajar
    Kajian Tentang Shalat Witir
    Witir secara bahasa adalah ganjil. Sehingga witir itu bisa 1, bisa 3, 5, 7, 9, dan bilangan-bilangan ganjil setelahnya. Adapun witir ketika dijadikan nama “shalat witir” maka maksudnya adalah shalat yang dilakukan antara shalat isya sampai terbitnya fajar shadiq yang bilangannya ganjil dan biasanya digunakan untuk menutup shalat malam.
    Para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan shalat witir itu wajib. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Imam Abu Hanifah Rahimahullahu Ta’ala. Beliau mengatakan shalat witir wajib (kalau ditinggalkan berdosa). Tapi beliau tidak mengatakan shalat witir itu fardhu. Karena di dalam madzhab Hanafi ada perbedaan antara fardhu dengan wajib. Fardhu adalah kewajiban yang ada dalil qath’i-nya. Dalil qath’i yaitu dalil yang bisa dipastikan kebenarannya. Mereka mengatakan shalat lima waktu sebagai shalat fardhu karena dalilnya qath’i. Ada hadits mutawatir menjelaskan shalat lima waktu. Ada juga ayat-ayat yang mengisyaratkan shalat lima waktu.
    Adapun “wajib” dalam madzhab Hanafi adalah kewajiban yang ditetapkan dengan dalil yang dzanni. Dalil dzanni adalah dalil yang masih ada kemungkinan salahnya walaupun  kemungkinan salahnya lebih kecil. Misalnya ketika ada suatu ibadah dalilnya adalah hadits yang ahad (bukan hadits yang mutawatir), kalau itu menunjukkan kewajiban, maka dalam madzhab Hanafi ini disebut sebagai wajib, bukan fardhu.
    Shalat witir dalam madzhab Hanafi masuknya wajib. Tapi yang mewajibkannya bukan dalil dzanni, bukan dalil qath’i
    Adapun menurut jumhur ulama tidak ada perbedaan antara fardhu dengan wajib. Ini hanya perbedaan istilah saja. Tapi kita harus memahami istilah-istilah ini agar tidak salah paham. Memahami istilah sangat penting dalam memahami pendapat seseorang.
    Jadi dalam madzhab Hanafi, shalat witir dengan shalat fardhu itu berbeda tingkatan. Shalat fardhu tingkatannya paling tinggi. Shalat witir dibawahnya. Walaupun dua-duanya ketika ditinggalkan berdosa, tapi dosanya berbeda.
    Dalil yang menguatkan pendapat ini di antaranya hadits:
    إِنَّ اللهَ زَادَكُمْ صَلاَةً، وَهِيَ الْوِتْرُ، فَصَلُّوْهَا فِيْمَا بَيْنَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى صَلاَةِ الْفَجْرِ.
    “Sesungguhnya Allah memberikan tambahan untuk kalian satu shalat, dan dia adalah (shalat) witir. Maka shalatlah kalian dengan shalat tersebut (yaitu shalat witir) antara shalat isya sampai terbitnya fajar shadiq.” (HR. Ahmad)
    Ketika dikatakan “tambahan” berarti ini tambahan atas shalat lima waktu. Karena shalat lima waktunya wajib, maka tambahannya juga wajib. Hanya saja tingkatannya berbeda. Karena shalat lima waktu dalilnya qath’i sehingga jadi fardhu, sedangkan shalat witir dalilnya dzanni sehingga jadinya wajib.
    Hadits lain yang menunjukkan bahwa shalat witir itu wajib adalah hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
    أَوْتِرُوا قبل أن تُصبحِوُا
    “Witirlah kalian sebelum subuh.” (HR. Muslim)
    Ini redaksinya perintah, dan pada asalnya perintah itu menunjukkan hukum wajib.
    Hadits lain, dari ibunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau mengatakan:
    كانَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَإِذَا أَوْتَرَ، قالَ: قُومِي ...
    1 hr 1 min
  • Mengqadha Shalat Sunnah Fajar
    Mengqadha Shalat Sunnah Fajar ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 07 Dzulhijjah 1444 H / 26 Juni 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Shalat Sunnah Muqayyad
    Kajian Tentang Mengqadha Shalat Sunnah Fajar
    Pada pertemuan yang lalu kita sudah masuk ke pembahasan shalat sunnah fajar. Tersisa satu masalah yang belum kita singgung di pertemuan yang sebelumnya. Yaitu apabila seseorang ketinggalan shalat sunnah fajar, apakah dia disyariatkan untuk mengqadhanya? Maka jawabannya apabila seseorang tidak sengaja ketinggalan shalat sunnah fajar, dia disyariatkan untuk mengqadhanya. Adapun kalau dia sengaja meninggalkannya padahal ada waktu, maka orang yang seperti ini tidak disyariatkan untuk mengqadha shalat sunnah fajarnya. Berbeda dengan orang yang punya udzur ketinggalan, padahal sebenarnya dia ingin.
    Misalnya seseorang ketiduran dan ketika bangun ternyata masjid sudah iqamah. Akhirnya dia segera berwudhu dan ke masjid. Tentu tidak ada waktu lagi untuk shalat sunnah fajar. Maka orang yang seperti ini disyariatkan untuk mengqadha shalat sunnah fajar.
    Contoh lain ada orang ketiduran sampai terbit matahari, ketika bangun dia ingat belum shalat subuh. Maka bagi orang yang seperti ini dibolehkan untuk shalat sunnah fajar qadha kemudian setelah itu shalat subuh qadha juga.
    Ada hadits-hadits yang menunjukkan hal ini. Di antaranya hadits dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau pernah bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketiduran. Dan tidaklah beliau dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bangun kecuali setelah terbitnya matahari. Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam minta didatangkan air wudhu, kemudian setelah itu beliau shalat sunnah fajar dua rakaat, kemudian setelah itu beliau shalat subuh.
    Dalam hadits di atas kita bisa mengambil kesimpulan bahwa disyariatkan mengqadha shalat sunnah fajar apabila tidak sengaja ketinggalan.
    Dalam hadits lain, Qais bin Amr menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihat salah seorang lelaki shalat setelah shalat subuh. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan kepadanya:
    صلاة الصبح ركعتان
    “Shalat subuh itu hanya dua rakaat (kenapa engkau shalat lagi dua rakaat?)”
    Maka orang ini mengatakan:
    إني لم أكنْ صليتُ الركعتَينِ اللتين قبلَهما فصلَّيتُهما الآنَ
    “Aku tadi belum shalat dua rakaat sebelum dua rakaat subuh. Maka akhirnya aku shalat dua rakaat yang sekarang ini.”
    Disebutkan oleh Qais bin Amr setelah itu: “Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun diam.” Beliau tidak meneruskan pengingkarannya. Ini menunjukkan bahwa beliau membolehkan hal itu.
    Mengqadha shalat sunnah fajar bisa juga setelah terbitnya matahari dan meninggi di waktu dhuha. Silahkan apabila ada yang ingin memilih pilihan ini.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Mengqadha Shalat Sunnah Fajar
    Mari turut membagikan link download
    0 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah