Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Hukum Berobat dalam Islam
    Hukum Berobat dalam Islam ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 23 Dzulqa’dah 1444 H / 12 Juni 2023 M.

    Kajian Tentang Hukum Berobat dalam Islam
    Talbis iblis terhadap kaum sufi dalam hal meninggalkan pengobatan. Ini salah satu talbis iblis terhadap mereka. Banyak dari mereka tidak memahami makna tawakal yang sebenarnya, sehingga mereka hanya bertawakal tanpa melakukan usaha/ikhtiar.
    Para ulama sepakat bahwa hukum berobat adalah boleh (mubah), namun beberapa dari mereka berpendapat bahwa hukum asal hal ini adalah tidak berobat. Maksudnya di sini apabila adalah apabila berobat hukumnya mubah menurut ijma’ kaum muslimin, bahkan dianjurkan oleh beberapa ulama, maka tidak perlu lagi kita mempedulikan pendapat sejumlah pihak bahwa berobat tersebut bertentangan dengan sikap tawakal.
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan beberapa metode pengobatan, seperti bekam, penggunaan herbal tertentu seperti habbatussauda, susu sapi, dan lain-lain. Jadi ada didalam syariat kita yang disebut thibbun nabawi (pengobatan ala Nabi).
    Artinya bahwa di dalam Islam pengobatan itu ada. Dan pengobatan tidak menafikan tawakal. Kalaulah itu bertentangan dengan tawakal, tentu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak merekomendasikan bentuk-bentuk pengobatan dan memerintahkan kita untuk tawakal saja.
    Dalam kenyataannya, ada penyakit yang kita biarkan saja, hanya dengan modal istirahat bisa sembuh sendiri. Tapi ada juga penyakit yang kalau kita biarkan menjadi bertambah parah. Apabila dibiarkan akan mengarah kepada kematian. Sehingga orang yang punya penyakit seperti itu harus berobat untuk menyelamatkan jiwanya. Kalau dibiarkan sama saja dia melemparkan dirinya kepada kebinasaan.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Hukum Berobat dalam Islam
    Mari turut membagikan link download kajian “Hukum Berobat dalam Islam” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    32 min
  • Shalat Sunnah Muqayyad
    Shalat Sunnah Muqayyad ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 23 Dzulqa’dah 1444 H / 12 Juni 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Shalat-Shalat Sunnah
    Kajian Tentang Shalat Sunnah Muqayyad
    Kemarin kita sudah membahas bahwa shalat sunnah terbagi menjadi dua, yaitu shalat sunnah mutlak dan shalat sunnah muayyad. Shalat sunnah mutlak adalah shalat sunnah yang tidak memiliki sebab tertentu, tidak terikat oleh waktu, tempat, atau sebab tertentu.
    Adapun shalat sunnah muqayyad adalah shalat sunnah yang dijelaskan secara tegas dalam nash syariat. Contohnya adalah shalat sunnah rawatib, shalat sunnah witir, shalat sunnah dhuha, dan lainnya.
    Shalat sunnah muqayyad terbagi menjadi dua; ada yang rawatib dan ada yang bukan rawatib.
    Shalat sunnah muqayyad rawatib
    Shalat sunnah rawatib terikat dengan shalat wajib lima waktu. Ada yang disebut sebagai shalat sunnah rawatib muakkad (ditekankan) dan ada yang disebut sebagai shalat sunnah rawatib ghairu muakkad (tidak ditekankan).
    Shalat sunnah rawatib muakkad sangat ditekankan untuk dilakukan, tetapi tidak sampai pada tingkat wajib. Jika ditinggalkan secara sengaja, maka menjadi makruh. Contohnya adalah shalat sunnah qabliyah subuh yang sangat ditekankan, jika ditinggalkan secara sengaja menjadi makruh. Contoh lain qabliyah dzuhur, ba’diyah dzuhur.
    Ada juga shalat sunnah rawatib yang tidak muakkad, seperti shalat sunnah qabliyah ashar, shalat sunnah qabliyah maghrib, shalat dua rakaat tambahan setelah shalat dzuhur.
    Shalat sunnah muqayyad bukan rawatib
    Shalat sunnah muqayyad bukan rawatib yang muakkad contohnya adalah shalat witir. Kalau ditinggalkan secara sengaja maka makruh. Ada pernyataan dari para ulama terdahulu yang mengatakan bahwa persaksian seseorang yang meninggalkan shalat witir akan ditolak. Bahkan dalam mazhab Hanafi, shalat sunnah witir dianggap wajib dan meninggalkannya berdosa, meskipun pendapat ini kurang kuat.
    Contoh lainnya adalah shalat sunnah tahiyatul masjid yang termasuk muakkad, sedangkan shalat sunnah setelah wudhu tidak muakkad.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Shalat Sunnah Muqayyad
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Shalat Sunnah Muqayyad” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    54 min
  • Jangan Fitnah Dirimu Sendiri
    Jangan Fitnah Dirimu Sendiri merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh: Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah pada Ahad, 22 Dzulqa’dah 1444 H / 11 Juni 2023 M.

    Ceramah Agama Islam Tentang Jangan Fitnah Dirimu Sendiri
    Tema kajian ini diambil dari Surah Al-Hadid ayat 14, yang mengisahkan tentang orang-orang munafik pada hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
    “Orang-orang munafik itu akan menyeru orang-orang yang beriman dan berkata: ‘Bukankah kami dahulu di dunia bersama-sama dengan kalian?’ Mereka orang-orang yang beriman berkata: ‘Benar, akan tetapi kamu memfitnah dirimu sendiri dan menunggu-nunggu kekalahan kami dan kalian merasa ragu serta tertipu oleh angan-angan (dunia) sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu.” (QS. Al-Hadid[57]: 14)
    Di sini Allah mengisahkan bahwa orang-orang munafik itu memfitnah dirinya sendiri. Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa memfitnah diri sendiri berarti memperdaya diri dengan kelezatan, syahwat dan maksiat.
    Subhanllah.. Ayat ini menjadi sebuah renungan. Bahwa memfitnah diri sendiri hakikatnya adalah mengotori hati kita sendiri. Karena hati sangat mudah terpengaruh. Hati itu seperti bejana yang apabila dipenuhi oleh sesuatu, maka dia akan mengeluarkan hal itu. Jika kita terbiasa dengan kelezatan dunia, seperti syahwat dan -na’udzubillah- maksiat, hal itu akan mempengaruhi kesungguhan kita dalam beribadah. Kalau kita selalu mencari kelezatan duniawi, maka ibadah akan terasa berat.
    Badan kita saja kalau dibiasakan dengan yang enak-enak, kerjanya tidur dan makan, ketika lari 500 meter saja sudah pasti ngos-ngosan. Hal ini karena terbiasa dengan santai-santai.
    Membiasakan diri dengan kelezatan dunia dan syahwatnya, dan tidak membiasakan diri dengan ibadah, maka akan terasa berat untuk ibadah. Pun kesabaran kita pun menjadi berkurang. Hal ini akan sangat berpengaruh kepada kekuatan kita dalam keimanan.
    Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita agar menjadi orang-orang yang mempunyai kesungguhan dalam kehidupan. Sungguh-sungguh dalam ketaatan dan ketakwaan.
    Dua Fitnah Yang Menghancurkan Hati
    Fitnah terbesar yang sangat merusak hati kita adalah fitnah syubhat. Ini berhubungan dengan pemikiran dan akidah. Fitnah ini berat dan memiliki pengaruh yang kuat terhadap kekuatan iman kita.
    Dan yang kedua, ini tidak kalah berat, namun lebih ringan dari yang pertama, yaitu fitnah syahwat.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian Jangan Fitnah Dirimu Sendiri

    Radio Rodja 756AM · Jangan Fitnah Dirimu Sendiri
    Mari raih pahala dan kebaikan dengan membagikan tautan ceramah agama “Jangan Fitnah Dirimu Sendiri” ini ke Jejaring Sosial yang Anda miliki seperti Facebook, Twitter, dan yang lainnya. Semoga Allah Ta’ala membalas kebaikan Anda.
    1 hr 39 min
  • Ukuran Air Untuk Mandi Janabat
    Ukuran Air Untuk Mandi Janabat merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Mukhtashar Shahih Muslim yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Ahad, 22 Dzulqa’dah 1444 H / 11 Juni 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Wajibnya Mandi Karena Bertemunya Dua Khitan

    Kajian Hadits Tentang Ukuran Air Untuk Mandi Janabat
    Kajian kali ini membahas tentang Bab ukuran air untuk mandi janabat.
    Hadits 156:
    عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ أَنَا وَأَخُوهَا مِنْ الرَّضَاعَةِ فَسَأَلَهَا عَنْ غُسْلِ رسول الله ﷺ مِنْ الْجَنَابَةِ فَدَعَتْ بِإِنَاءٍ قَدْرِ الصَّاعِ فَاغْتَسَلَتْ وَبَيْنَنَا وَبَيْنَهَا سِتْرٌ وَأَفْرَغَتْ عَلَى رَأْسِهَا ثَلَاثًا قَالَ وَكَانَ أَزْوَاجُ النَّبِيِّ ﷺ يَأْخُذْنَ مِنْ رُءُوسِهِنَّ حَتَّى تَكُونَ كَالْوَفْرَةِ
    Dari Abu Salamah bin Abdurrahman (anak saudari ‘Aisyah sepersusuan), ia berkata: “Aku masuk kepada ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bersama saudara sepersusuannya.” Lalu kemudian dia menanyakan tentang mandi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yaitu mandi janabat). Maka ‘Aisyah meminta sekitar satu sha’ (setara dengan 4 mut = 4 x 650 gram). Maka beliau pun mandilah, di antara kami dan beliau ada penutup. ‘Aisyah mengucurkan kepalanya tiga kali sambil berkata: “Dan adalah istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memotong rambut mereka sehingga seperti wafrah (rambut pendek yang tidak melebihi kupingnya).”
    Dalam hadits ini menunjukkan bahwa ‘Aisyah hanya menampakkan kepalanya saat mandi dan tidak menunjukkan seluruh badannya, karena hal tersebut haram.
    Dari hadits ini kita ambil faedah:
    Saudara sepersusuan adalah mahram
    Saudara sepersusuan dan anaknya adalah mahram. Artinya kalau kita punya saudara sepersusuan dan dia punya anak, maka anaknya pun menjadi mahram untuk kita.
    Ukuran air untuk mandi janabat
    Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menggunakan satu sha’ sampai lima mut air, tetapi kata Al-Hafidz Ibnu Hajar hal ini tidak menjadi batasan. Artinya kalau kita butuh lebih dari itu diperbolehkan. Tentu dengan catatan tidak boleh ada pemborosan atau berlebih-lebihan.
    Bolehnya wanita memotong rambutnya
    Wanita diperbolehkan memotong rambutnya, namun dengan syarat bentuk rambut yang dipotong tidak menyerupai rambut laki-laki. Wanita boleh memotong rambutnya menjadi pendek, namun harus dipastikan tidak menyerupai rambut laki-laki, karena wanita yang menyerupai laki-laki itu terlaknat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَالمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
    “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Ukuran Air Untuk Mandi Janabat
    Mari turut membagikan link download
    56 min
  • Kemana Perginya Orang-Orang Yang Ikhlas
    Kemana Perginya Orang-Orang Yang Ikhlas adalah ceramah agama Islam oleh Ustadz Maududi Abdullah, Lc. yang disampaikan pada Sabtu, 14 Dzulqa’dah 1444 H / 03 Juni 2023 M.

    Kemana Perginya Orang-Orang Yang Ikhlas
    Di antara materi yang disampaikan dalam kajian ini adalah tentang perkataan ulama Salaf yang berkaitan dengan menyembunyikan ketaatan dan keikhlasan.
    Berkata Ibrahim Al-Harbi: “Sesungguhnya ulama Salaf (generasi-generasi terdahulu) adalah orang-orang yang mencintai menyembunyikan amal shalih mereka, sehingga tidak diketahui oleh istrinya dan selain istrinya.”
    Hal yang sama dari sahabat Nabi, Zubair bin Awwam: “Siapa di antara kalian yang bisa membuat sebuah amal shalih yang tersembunyi, maka lakukanlah.”
    Imam Ibnu Jauzi berkata: “Alangkah sedikitnya orang yang beramal ikhlas karena Allah, karena kebanyakan manusia ingin menampilkan ibadah mereka.”
    Apalagi di zaman kita sekarang, di mana media begitu mudah diakses dan media sosial menjadi fitnah dengan menyebarkan ibadah-ibadah tersebut kepada manusia. Ini adalah fitnah dizaman kita sekarang. Ulama Salaf memberikan contoh untuk menyembunyikan ketaatan, bukan menyebarkan ketaatan kepada orang lain.
    Berkata Imam Hasan al-Bashri: “Seorang hamba senantiasa berada dalam kebaikan. Jika dia berbicara, berbicara karena Allah. Jika dia beramal, beramal karena Allah.” 
    Salim bin Abdillah menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz dan berkata, “Ketahuilah wahai Amirul Mukminin (Umar bin Abdul Azizi), sesungguhnya pertolongan Allah bagi seorang hamba bergantung pada niatnya. Apabila niatnya sempurna dalam keikhlasan, maka pertolongan Allah pun akan sempurna baginya.”
    Ini adalah nasihat untuk pemimpin kaum Muslimin untuk menjaga keikhlasan mereka dalam menjalankan tugas-tugas yang diembankan di pundaknya.
    Berkata Rabi’ bin Khutsaim: “Seluruh amalan yang tidak diinginkan dalamnya wajah Allah, maka akan hancur binasa (hilang sia-sia).” 
    Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Ikhlas adalah hakikat Islam yang sebenarnya, itulah inti agama Allah.”
    Berkata muridnya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yaitu Ibnu Qayyim: “Sebuah amal yang dilakukan tanpa keikhlasan dan tidak mengikuti sunnah, itu ibaratkan seorang musafir yang memenuhi bejana dengan pasir, memberatkannya, namun tidak memberikan manfaat apapun baginya.”
    Ini adalah analogi orang yang beramal tanpa ikhlas dan tidak mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Padahal seharusnya seorang musafir itu mengisi bejananya dengan perbekalan seperti makanan atau air.
    Yahya Bin Muadz mengatakan: “Barangsiapa yang membenahi batinnya dengan keikhlasan dan muraqabah, maka Allah akan menghiasi penampilan dzahirnya dengan mengikuti sunnah.”
    Dan sungguh dizaman kita sekarang ini memberitahukan amal kepada kaum muslimin menjadi fitnah yang memang menyebar di tengah manusia. Hendaklah kita berusaha untuk menjaga amal kita. Karena semakin tersembunyi semakin afdhal.
    Simak dan download mp3 ceramah agama: Kemana Perginya Orang-Orang Yang Ikhlas

    Radio Rodja 756AM · Kemana Perginya Orang-Orang Yang Ikhlas
    Jangan lupa untuk turut menyebarkan link download kajian “Kemana Perginya Orang-Orang Yang Ikhlas” ini ke sosial media. Semoga bisa menjadi pintu kebaikan bagi yang lain. Barakallahu fiikum
    1 hr 32 min
  • Ayat-Ayat Allah Yang Tertulis dan Yang Terlihat
    Ayat-Ayat Allah Yang Tertulis dan Yang Terlihat adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Al-Fawaid. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah Taslim, M.A. pada Kamis, 19 Dzulqa’dah 1444 H / 08 Juni 2023 M.
    Ceramah Agama Islam Tentang Ayat-Ayat Allah Yang Tertulis dan Yang Terlihat
    Allah Subhanahu wa Ta’ala memperkenalkan diri-Nya kepada hamba-hamba-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya dengan cara Allah mengajak makhluk-Nya untuk memperhatikan ciptaan-Nya yang besar dan indah untuk kita berdalil tentang kesempurnaan sifat-sifat Allah. Hal ini sebagaimana Allah juga mengajak kita untuk membaca dan merenungkan Al-Qur’an, karena di sinilah Allah menjelaskan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, meskipun manusia secara fitrah dilahirkan dalam keadaan mengenal Allah, ini belum cukup. Manusia juga perlu mendalami pengenalan tentang Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya sebagaimana yang dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an ataupun tanda-tanda kekuasaan Allah pada makhluk-Nya yang bisa kita saksikan.
    Cara Mengenal Allah
    Ada dua cara untuk mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pertama, dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya pada makluk-Nya.
    وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ ‎﴿٢٠﴾‏ وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ‎﴿٢١﴾
    “Dan di permukaan bumi ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin dan juga pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak menyaksikannya?” (QS. Az-Zariyat[51]: 20-21)
    Melihat makhluk (apalagi yang besar) dan makhluk-makhluk yang teratur, dan indah, seperti pergantian siang dan malam, matahari, bulan, dan lainnya. Semua ini menunjukkan bahwa pasti yang menciptakannya adalah Yng Maha sempurna ilmu-Nya, Maha Sempurna kekuasaan-Nya dan Maha Tinggi Hikmah-Nya. Karena Dia menempatkan segala sesuatu tepat pada tempatnya.
    Kedua, dengan cara memikirkan dan merenungkan ayat-ayat Allah yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Maka makhluk Allah itu adalah tanda-tanda yang bisa disaksikan, sedangkan ayat-ayat Al-Qur’an adalah tanda-tanda yang bisa didengarkan dan dipikirkan maknanya serta direnungkan isinya.
    Contohmemperhatikan ayat-ayat Allah berupa makhluknya, disebutkan dalam firman Allah:
    إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ…
    “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, dan juga bahtera yang berlayar di lautan untuk mendatangkan hal-hal yang bermanfaat bagi manusia…” (QS. Al-Baqarah[2]: 164)
    Sampai di akhir ayat ini terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah.
    Kemudian juga firman Allah:
    إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
    “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian siang dalam malam benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 190)
    Dan ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Hal ini adalah untuk memperkuat keyakinan kita dan tunduk di hadapan kemahakuasaan Allah.
    Adapun ayat-ayat yang bisa kita renungkan dan pikirkan maknanya, contohnya adalah dalam firman Allah:
    أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ…
    “Apakah mereka tidak merenungkan (memikirkan makna dan menghayat...
    50 min
  • Makna Doa
    Makna Doa adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 17 Dzulqa’dah 1444 H / 06 Juni 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Bacaan Ketika Akan Tidur
    Makna Doa
    Di antara makna doa yang disebutkan oleh Al-Qur’anul Karim, Ad-Du’a artinya At-Tauhid. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا
    “Katakanlah (Wahai Muhammad): ‘Sesungguhnya aku hanya mentauhidkan Rabbku dan aku tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu apapun.'” (QS. Al-Jinn[72]: 20)
    Di antara makna yang lain dari kata “doa” dalam Al-Qur’an yaitu bermakna ibadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Yunus ayat yang ke-106:
    وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ…
    “Dan janganlah kamu beribadah/menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak memberikan kepada kamu suatu manfaat dan juga tidak mencelakakan kamu…” (QS. Yunus[10]: 106)
    Kemudian, di antara makna doa lainnya yang disebutkan Al-Qur’anul Karim yaitu Al-Isti’anah (meminta pertolongan). Hal ini sebagaimana Allah Ta’ala berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat yang ke-23:
    …وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
    “Dan mintalah pertolongan kepada orang-orang yang menyaksikan kalian kalau kalian memang benar.” (QS. Al-Baqarah[2]: 23)
    Makna lain dari doa adalah artinya meminta dan memohon. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman di dalam surah Ghafir ayat yang ke-60.
    … ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ…
    “Mohonlah kepadaKu, niscaya Aku akan memperkenankan permohonan kamu sekalian.” (QS. Ghafir[40]: 60)
    Jadi, makna doa adalah dalam ayat ini yaitu meminta sesuatu. Allah memerintahkan kepada hamba-hambaNya untuk memohon pada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan meminta kepada selain Allah.
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Makna Doa
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Makna Doa” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 19 min
  • Rahmat Allah kepada hamba-hambaNya – Tafsir Surah Al-Baqarah 286
    Rahmat Allah kepada hamba-hambaNya – Tafsir Surah Al-Baqarah 286 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 17 Dzulqa’dah 1444 H / 06 Juni 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Keagungan Rububiyahnya Allah – Tafsir Surah Al-Baqarah 285
    Rahmat Allah kepada hamba-hambaNya – Tafsir Surah Al-Baqarah 286
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
    “Allah tidak membebani jiwa kecuali dengan kemampuannya. Dia akan mendapat apa yang ia perbuat berupa pahala, dan ia pun akan mendapatkan dosa dari maksiat yang ia lakukan. (Mereka berdoa): ‘Wahai Rabb kami, janganlah Engkau sanksi kami jika kami lupa atau kami salah tak sengaja. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau tanggungkan kepada kami beban-beban yang berat sebagaimana Engkau tanggungkan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau berikan kepada kami beban yang kami tidak mampu untuk melakukannya. Maka maafkanlah kami, ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami atas orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah[2]: 286)
    Dari ayat ini kita ambil faedah:
    Penjelasan Rahmat Allah kepada hamba-hambaNya
    Penjelasan Rahmat Allah kepada hamba-hambaNya di mana Allah tidak memberikan beban kecuali sesuai dengan kemampuan mereka saja. Padahal allah mampu saja memberikan kepada kita beban yang kita tidak mampu. Tapi karena rahmat Allah itu mendahului kemurkaanNya, maka dengan rahmat Allah Allah memberikan kepada kita syariat-syariat sesuai dengan kemampuan kita.
    Tidak ada kewajiban bila disertai dengan ketidakmampuan
    Ayat ini menunjukkan kepada sebuah kaidah yang disebutkan oleh para ahli ilmu para ulama: “Tidak ada kewajiban bila disertai dengan ketidakmampuan, dan tidak ada sesuatu yang diharamkan bila disertai dengan keadaan darurat.”
    Namun kalau kewajiban yang tidak mampu kita lakukan itu mempunyai ganti, maka wajib untuk mengambil gantinya. Contohnya berwudhu dengan air, ketika tidak mampu berwudhu dengan air ada gantinya. Yaitu tayamum.
    Jadi sesuatu yang wajib itu menjadi tidak wajib kalau tidak mampu. Haji kalau tidak mampu maka menjadi tidak wajib. Zakat kalau tidak memiliki nisab (tidak mampu) maka tidak wajib. Puasa Ramadan kalau tidak mampu untuk berpuasa (misalnya dia sakit), maka dia boleh tidak puasa tapi wajib untuk mengganti di hari yang lain. Demikian pula shalat lima waktu yang wajib berdiri. Tapi kalau tidak mampu berdiri boleh duduk, kalau tidak mampu duduk boleh berbaring di atas rusuknya sesuai dengan kemampuan.
    Tidak ada yang haram bila disertai dengan darurat
    Demikian pula tidak ada yang haram bila disertai dengan darurat. Apa itu darurat? Disebut darurat kalau menyebabkan kerusakan pada akal, agama, jiwa, dan harta. Itu disebut dengan darurat. Maka sesuatu yang sifatnya haram menjadi boleh ketika darurat. Walaupun kata para ulama, sesuatu yang diharamkan itu ada dua macam. Ada yang diharamkan karena menjerumuskan. Contohnya melihat wanita yang bukan mahram karena itu bisa menjerumuskan kepada zina,
    45 min
  • Bulan-Bulan Yang Haram
    Bulan-Bulan Yang Haram adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 16 Dzulqa’dah 1444 H / 05 Juni 2023 M.

    Kajian Tentang Bulan-Bulan Yang Haram
    Saat ini kita berada di pertengahan bulan Dzulqa’dah. Bulan-bulan haram adalah bulan yang sangat istimewa. Oleh karena itu kita harus tahu haknya.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
    “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ada dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di hari Allah menciptakan langit dan bumi, di antara dua belas bulan itu ada empat bulan haram (yang diagungkan). Itu merupakan agama yang lurus, maka janganlah kalian mendzalimi diri-diri kalian (secara khusus) di empat bulan tersebut, dan perangilah mereka kaum musrikin semuanya sebagaimana mereka memerangi kalian semuanya, dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” (QS. At-Taubah[9]: 36)
    Dari Abu Bakrah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا , مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ , ثَلاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ : ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ , وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ
    “Setahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan Haram, tiga bulan beturut-turut; (11) Dzulqa’dah, (12) Dzulhijjah dan (1) Muharam serta (7) Rajab Mudhar yang terdapat di antara Jumada Tsani dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Ini sangat penting untuk kita. Ada bulan haram, ada pula bulan musim haji. Di surah Al-Baqarah 197, Allah berfirman:
    الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ…
    “Haji itu bulan-bulan yang maklum…” (QS. Al-Baqarah[2]: 197)
    Bulan haji ada tiga bulan: Syawal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Di bulan haji ada dua bulan yang merupakan bulan haram, yaitu Dulqa’dah dan Dzulhijjah. Ada hikmah yang sangat besar di sini. Orang yang menunaikan ibadah haji sejak dulu merasa aman. Pergi ke Mekah ketika orang-orang tidak mau mulai perang. Hal ini karena mereka mengagungkan bulan-bulan ini. Orang Jahiliyah pun mengagungkan. Mereka takut melanggar aturan ini.
    Kita ketika mengagungkan bulan-bulan ini tidak bermakna mengikuti kaum Jahiliyah. Kita mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah. Mengagungkan empat bulan ini termasuk agama Allah yang lurus. Ini syariat Allah yang sempurna.
    Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan di sini: “Maka janganlah kalian mendzalimi diri-diri kalian di bulan-bulan tersebut.” Imam Qatadah Rahimahullahu Ta’ala berkata: “Sesungguhnya kedzaliman di bulan-bulan haram, kesalahan dan dosanya lebih besar dibandingkan di bulan-bulan selainnya. Walaupun kedzaliman itu di semua bulan dianggap besar. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan sesuatu dengan lebih besar lagi sesuai dengan apa yang dikehendakiNya.”
    Kita harus tahu ini karena menyangkut tentang ibadah yang kita lakukan. Bagaimana pembahasan lengkapnya? Download dan simak mp3 kajian di bawah ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM ·
    50 min
  • Sikap Tidak Mau Berobat
    Sikap Tidak Mau Berobat ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 16 Dzulqa’dah 1444 H / 05 Juni 2023 M.

    Kajian Tentang Sikap Tidak Mau Berobat
    Kita berbicara tentang talbis iblis terhadap kaum Sufi dan sebagian orang awam terkait sikap tidak mau berobat dan melalaikan masalah kesehatan.
    Kita hendaknya menjaga amanah tubuh yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bebankan kepada kita. Karena tubuh ini sebenarnya milik Allah, Allah menitipkannya kepada kita, dan kita harus menjaganya dengan amanah. Maka wajib hukumnya kita menjaga kesehatan. Karena Allah melarang kita memudharatkan diri sendiri. Allah mengatakan dalam Al-Qur’an:
    …وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
    “Dan janganlah kamu membinasakan dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa'[4]: 29)
    Demikian juga Allah mengatakan:
    …وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ…
    “Jangan kamu lemparkan/campakkan dirimu kepada kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah[2]: 195)
    Demikian juga Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ
    “Tidak tidak memudharatkan diri sendiri maupun orang lain.” (HR. Ibnu Majah)
    Lihat: Hadits Arbain 32 – Tidak Boleh Ada Bahaya dan Membahayakan
    Dan masih banyak lagi nash-nash syariat yang semakna dengan itu. Artinya kita harus menjaga amanah tubuh ini, tidak boleh membiarkannya binasa. Dan syariat diturunkan untuk menjaganya. Karena pada dasarnya kita diamanahi untuk merawat dan menjaga alam semesta ini. Dan itu ada di pundak manusia. Maka kita wajib untuk menjaganya.
    Sakit adalah salah satu fenomena yang akan terjadi bagaimanapun kita menjaga kesehatan. Sakit tidak bisa kita hindari. Itu merupakan salah satu sunnatullah dimana ada sehat ada sakit. Kita merasakan nikmat sehat karena kita tahu sakit. Maka sakit ini suatu hal yang tidak bisa kita hindari sebenarnya. Namun bukan berarti kita tidak perlu menjaga kesehatan. Para Nabi pun sakit. Tapi tentunya Nabi tidaklah sengaja melakukan sesuatu yang membahayakan diri atau merusak kesehatan.
    Bagaimana sikap seorang muslim apabila dia jatuh sakit? Tentunya dia akan berobat agar sembuh dari sakit. Karena sakit itu merugikannya dari satu sisi, yaitu menghambatnya dari banyak kegiatan. Kalau dilihat dari sisi yang lain tentunya sakit itu sebagai penebus dosa dan lain-lain sebagainya. Tapi kita lihat dari sisi yang lainnya sakit itu bisa merugikan seseorang karena dia tidak bisa beraktivitas.
    Sebenarnya banyak yang bisa dia lakukan menjadi tidak bisa karena sakit. Maka dia berobat. Nabi juga menyuruh kita untuk berobat:
    يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا! فَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً
    “Wahai hamba-hamba Allah, berobatlah, karena Allah tidaklah menurunkan penyakit melainkan Allah turunkan juga bersamanya penawarnya atau obatnya.” (HR. Bukhari)
    Ibnul Jauzi Rahimahullahu Ta’ala mengatakan bahwa para ulama tidak berbeda pendapat bahwa berobat itu hukumnya mubah. Akan tetapi beberapa dari mereka berpendapat bahwa hukum asal hal ini ialah tidak berobat. Maksud kami di sini, apabila berobat saja hukumnya mubah menurut ijma’ kaum muslimin bahkan dianjurkan oleh beberapa ulama, maka tidak perlu lagi kita menggubris mendapat sejumlah pihak yang mengatakan bahwa berobat terseb...
    37 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah