Radio Rodja 756 AM

Radio Rodja 756 AM

By Radio Rodja 756AMReligion & SpiritualityIslam
Download on the App Store

Radio Rodja 756 AM episodes

  • Kelembutan dan Panggilan Kasih Sayang Kepada Anak
    Kelembutan dan Panggilan Kasih Sayang Kepada Anak ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 16 Dzulqa’dah 1444 H / 05 Juni 2023 M.

    Kajian Tentang Kelembutan dan Panggilan Kasih Sayang Kepada Anak
    Belakangan ini, kita banyak menyaksikan tindakan kekerasan dan sikap kasar yang mengkhawatirkan. Yang lebih menyedihkan, pelakunya seringkali adalah anak-anak di bawah umur. Dulu, kekerasan dan kejahatan dilakukan oleh penjahat atau pembunuh berdarah dingin, namun sekarang anak-anaklah yang melakukannya.
    Ada apa dengan kondisi anak-anak kita hari ini? Dimana yg menjadi korban adalah teman mereka sendiri. Mereka bukan hanya melakukan perundungan/bullying (kekerasan psikis) seperti menghina, merendahkan, dan mengolok-olok teman mereka sendiri. Tetapi mereka juga melakukan kekerasan yg sifatnya fisik seperti memukul dan menendang yang membuat korban tidak berdaya. Bahkan, mereka merekam peristiwa kejahatan tersebut sambil tertawa.
    Apakah hati anak-anak kita sudah begitu keras sehingga tidak merasa iba melihat darah tercecer dan mendengar rintihan kesakitan? Ini adalah masalah serius yang harus menjadi perhatian serius pula bagi para orang tua dan pendidik, guru, ustadz, dan ustadzah.
    Bagaimana cara kita menjadikan ini sebagai masalah serius? Yaitu kita perlu mencari akar masalahnya, dari mana sumbernya. Jadi bukan hanya sekedar mengeluh dan marah-marah di media sosial, tetapi berusaha mencari sumber permasalahannya.
    Setelah menemukannya, kita perlu mencari solusinya. Marah-marah di media sosial atau ikut-ikutan mencaci maki tidak akan menyelesaikan masalah ini.
    Identifikasi masalah
    Jangan-jangan salah satu sumber masalahnya adalah kebebasan yang diberikan orang tua kepada anak-anak mereka dalam menggunakan HP, dimana mereka bisa menonton konten yang menyuguhkan kekerasan, baik dalam film maupun game.
    Jadi, setelah berhasil mengidentifikasi sumber masalahnya, kita perlu mencari solusi dan tindakan yang dapat diambil. Apakah karena terlalu banyak main game yang mengandung adegan tembak-menembak dengan skor tertinggi jika berhasil membunuh lawan?
    Setiap hari, anak-anak kita dilatih untuk membunuh tanpa rasa penyesalan, bahkan merasa senang dengan itu. Bisa jadi ini adalah sumber masalahnya.
    Pertanyaannya adalah, apakah tujuan pembuat game ini hanya mencari uang saja? Tidak hanya itu, sangat mungkin salah satu tujuan mereka adalah merusak generasi kita.
    Modal Mendidik Anak
    Perlu dipahami bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kita modal yang membantu dalam mendidik anak-anak kita agar menjadi baik.
    Ketika kita berusaha mendidik anak-anak, kita tidak tanpa modal. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kita modal, tips, trik, dan cara yang diperlukan. Modal itulah yang dikenal sebagai fitrah. Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
    كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ
    “Setiap bayi terlahir itu pasti sudah ditanamkan fitrah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
    Salah satu fitrah bawaan bayi itu adalah menyukai kelembutan dan membenci kekasaran. Artinya, setiap bayi senang saat diperlakukan dengan lembut dan tidak senang saat diperlakukan kasar. Jika Anda tidak percaya, coba perhatikan respons bayi saat Anda tersenyum padanya atau melotot dengan ekspresi serius. Jika bayi disenyumi maka dia ikut senyum. berarti dia senang. Sedangkan ketika dipelototi, dia akan menangis. Padahal, saat sedang hamil, apakah Anda mengajari bayi dalam kandungan Anda untuk merespon dengan wajah cemberut atau menangis? Tentu tidak.
    48 min
  • Bab Berangan-Angan
    Bab Berangan-Angan adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Al-Adabul Mufrad. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A. pada Senin, 16 Dzulqa’dah 1444 H / 05 Juni 2023 M.

    Kajian Islam Tentang Bab Berangan-Angan
    Dari Abu Yazid -atau Ma’an ibnu Yazid- sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda.
    اجتمعوا في مساجدكم وكلما اجتمع قوم فليؤذنوني فأتانا أول من أتى فجلس فتكلم متكلم منا ثم قال ان الحمد لله الذي ليس للحمد دونه مقصد ولا وراءه منفذ فغضب فقام فتلاومنا بيننا فقلنا أتانا أول من أتى فذهب إلى مسجد آخر فجلس فيه فأتيناه فكلمناه فجاء معنا فقعد في مجلسه أو قريبا من مجلسه ثم قال الحمد لله الذي ما شاء جعل بين يديه وما شاء جعل خلفه وان من البيان سحرا ثم أمرنا وعلمنا
    “Berkumpullah kalian di masjid-masjid kalian, dan ketika orang-orung telah berkumpul maka panggillah saya.” Lalu datanglah orang pertama yang kemudian duduk, lalu salah seorang di antara kami ada yang berbicara seraya berkata, ‘Sesungguhnya segala puji bagi Allah yang tiada pujian yang ditujukan kecuali untukNya, yang terjadi dan tidak ada dibaliknya yang menerapkannya.’
    Kemudian Nabi marah dan berdiri, maka kami saling mencela di antara kami. Kami berkata, ‘Telah datang kepada kami orang yang pertama datang, kemudian berangkat ke masjid yang lain dan duduk di sana. Lalu kami mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan meminta maaf kepadanya. Kemudian Nabi datang bersama kami dan duduk di tempatnya atau dekat dari tempat duduknya yang awal, lalu beliau bersabda, ‘Segala puji bagi Allah yang apabila Dia berkehendak, Dia jadikan apa yang di depanNya, dan kalau Dia berkehendak meletakkan di belakangNya. Sesungguhnya sebagian dari Al Bayan (penjelasan/omongan orang) itu sihir.’ Kemudian Nabi memerintahkan dan mengajari kami.” (HR. Bukhari)
    Masjid yang pertama didatangi ternyata ditinggal oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dikarenakan ada orang yang berbicara berlebih-lebihan dan dibuat-buat.
    Bab Berangan-Angan
    Biasanya angan-angan adalah sesuatu yang sulit untuk diwujudkan, tapi orang boleh berangan-angan. Hanya saja jangan sampai angan-anganmu hanya urusan dunia.
    Al-Imam Bukhari menyebutkan di sini, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berangan-angan menginginkan sesuatu.
    Dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha,
    أرق النبي صلى الله عليه وسلم ذات ليلة فقال ليت رجلا صالحا من أصحابي يجيئني فيحرسني الليلة إذ سمعنا صوت السلاح فقال من هذا قيل سعد فقال سعد يا رسول الله جئت أحرسك فنام النبي صلى الله عليه وسلم حتى سمعنا غطيطه
    “Pada suatu malam Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak bisa tidur, lalu beliau berkata, ‘Andaikata ada lelaki yang shalih dari sahabatku yang datang kesini kemudian menjagaku malam ini” Tiba-tiba saya mendengar suara senjata (pedang), maka beliau bertanya, ‘Siapa ini?’ Dia menjawab, ‘Sa’ad Wahai Rasulullah! Saya datang untuk menjagamu.’ Kemudian Nabi tidur, sehingga kami mendengar dengkurannya.” (HR. Bukhari)
    Kejadian ini sebelum firman Allah:
    …وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ…
    “Dan Allah menjagamu dari manusia.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 67)
    Sejak turunnya ayat ini Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak lagi dikawal dan dijaga.
    Dari peritiwa ini para ulama menyimpulkan bahwa boleh seorang pejabat, raja atau siapapun yang dia memerlukan bodyguard untuk dijaga. Karena Nabi berangan-angan dan tidak mungkin angan-angannya sesuatu yang terlarang.
    1 hr 6 min
  • Shalat-Shalat Sunnah
    Shalat-Shalat Sunnah ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Kitab Shahihu Fiqhis Sunnah wa Adillatuhu yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Musyaffa Ad-Dariny, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 16 Dzulqa’dah 1444 H / 05 Juni 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Hukum Qunut Di Semua Shalat Fardhu
    Kajian Tentang Shalat-Shalat Sunnah
    Shalat-shalat sunnah adalah shalat yang selain shalat lima waktu. Yang selain shalat lima waktu dianggap sebagai shalat sunnah (dikecualikan shalat nadzar).
    Shalat sunnah bisa dibagi menjadi:
    Pertama, shalat sunnah rawatib: shalat-shalat sunnah yang ada kaitannya dengan shalat lima waktu (bisa sebelumnya atau setelahnya).
    Kedua, shalat sunnah selain rawatib: ini bisa berupa shalat malam, shalat dhuha, shalat tahiyatul masjid dan yang lainnya.
    Ketiga, shalat sunnah mutlak: shalat sunnah yang tidak dikaitkan dengan sebab atau tempat atau waktu, ataupun shalat wajib. Shalat ini tidak ada batasan bilangannya.
    Seperti misalnya ketika ada orang yang sudah shalat ba’diyah dzuhur, setelah itu dia ingin shalat lagi. Maka dia boleh shalat sunnah mutlak. Niatnya shalat sunnah dua rakaat kemudian shalat.
    Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sering shalat sunnah mutlak ini di atas tunggangan beliau. Orang kalau sedang perjalanan, kemudian dia ingin shalat, maka dia bisa shalat sunnah. Daripada berdzikir atau membaca Al-Qur’an, lebih baik dia shalat. Didalam shalat itu dia bisa berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Maka lebih afdhal shalat sunnah mutlak.
    Inilah pembagian shalat sunnah.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download mp3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Shalat-Shalat Sunnah
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Hukum Qunut Dalam Shalat Fardhu” penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    58 min
  • Tafsir Ali Imran Ayat 80 – Jangan Berbuat Syirik
    Tafsir Ali Imran Ayat 80 – Jangan Berbuat Syirik adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Ayat-Ayat Ahkam. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Kamis, 12 Dzulqa’dah 1444 H / 01 Juni 2023 M.

    Tafsir Ali Imran Ayat 80 – Jangan Berbuat Syirik
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَن تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا ۗ أَيَأْمُرُكُم بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ
    “Dan dia tidak memerintahkan kepada kalian untuk menjadikan para malaikat dan nabi itu sebagai tuhan-tuhan. Apakah dia memerintahkan kekafiran setelah kalian muslim?” (QS. Ali ‘Imran[3]: 80)
    Ayat yang mulia ini ada kaitan dengan ayat yang sebelumnya. Dimana ayat yang sebelumnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ
    “Tidak sekali-kali manusia yang diberikan oleh Allah kitab, hikmah, kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia ‘Jadilah kalian penyembah-penyembahku.’ Akan dia berkata: ‘Jadilah kalian Rabbaniyyin (orang-orang yang taat kepada Allah) karena kalian mengajarkan Al-Kitab dan mempelajarinya.'” (QS. Ali ‘Imran[3]: 79)
    Ini menerangkan bahwa tugas para rasul dan tugas nabi yang Allah Subhanahu wa Ta’ala utus adalah berdakwah yang mendakwahkan tauhid, bukan malah mengajak orang beribadah kepadanya.
    Oleh karena itu kalau ada orang mengaku rasul kemudian memerintahkan orang berbuat syirik, ini berarti palsu.
    Yang benar adalah mereka memerintahkan manusia untuk mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana di ayat yang selanjutnya:
    “Dan dia juga tidak memerintahkan kepada kalian untuk menjadikan para malaikat dan nabi itu sebagai tuhan-tuhan. Apakah dia memerintahkan kekafiran setelah kalian muslim?” (QS. Ali ‘Imran[3]: 80)
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Mari turut membagikan link download kajian “Tafsir Ali Imran Ayat 80 – Jangan Berbuat Syirik” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    33 min
  • Kematangan Berpikir Anak
    Kematangan Berpikir Anak merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Ada Apa dengan Remaja. Kajian ini disampaikan pada Selasa, 10 Dzulqa’dah 1444 H / 30 Mei 2023 M.

    Kajian Tentang Kematangan Berpikir Anak
    Salah satu yang perlu dikawal dan diperhatikan oleh para orang tua terhadap anak-anak mereka adalah kematangan berpikir. Tentunya ada fase-fase yang dijalani oleh anak mulai dari dia bocah sampai remaja dan sampai menjadi orang dewasa.
    Kematangan berpikir ini juga dikenal dengan sebutan kedewasaan. Tentunya ini akan tumbuh sejalan dan sesuai dengan perkembangan fisik dan usianya.
    Maka para orang tua juga harus memperhatikan perkembangan akal anak-anak mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa semua manusia lahir dalam keadaan tidak tahu apa-apa. Ibarat hardisk dia adalah hardisk yang kosong, ibarat lembaran dia lembaran yang putih bersih belum ada isinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:
    وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا…
    “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu…” (QS. An-Nahl[16]: 78)
    Itulah kita dulu. Kita lahir dalam keadaan jahil dan tidak berilmu. Akan tetapi manusia diberikan kecerdasan yang dengan kecerdasan itu ia bisa mempelajari banyak hal yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ajarkan kepada mereka. Berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya, misalnya binatang yang berumur pendek. Binatang hidup dengan naluri. Lebah, laba-laba, semut, itu dilahirkan lengkap dengan kemampuan untuk membuat sarang tanpa harus belajar dari induknya. Karena dia tidak memiliki kecerdasan dan umur yang cukup untuk mempelajari ilmu membuat sarang,
    Berbeda dengan anak manusia yang perlu belajar dari orang lain terutama orang tuanya. Sehingga dia mengetahui hal-hal yang sebelumnya tidak dia ketahui.
    Ini yang disebut dengan perkembangan akal atau kematangan berpikir. Dimulai dari mungkin suatu yang masih sangat mentah (tidak tahu apa-apa), lalu sedikit demi sedikit bisa berkomunikasi. Itu adalah tahapan yang harus diperhatikan oleh para orang tua. Ini berkaitan dengan pertumbuhan akalnya. Kalau tidak normal pasti ada sesuatu yang lain.
    Cara Kerja Otak Manusia
    Manusia tidak bisa tiba-tiba pintar. Ada proses-proses yang harus mereka jalani. Maka kita harus mengetahui bagaimana cara kerja otak manusia yang berbeda dengan otak makhluk-makhluk lain.
    Secara fisik, otak manusia itu lembek seperti buah alpukat yang matang. Dan ternyata otak itu tersusun dari sel-sel yang jumlahnya sangat banyak sekali. Sel-sel ini terdiri dari sel utama yang disebut neuron dan sel-sel pendukung yang disebut neuroglia. Jumlah sel dalam otak manusia yang berusia 18 tahun (puncak usia remaja) diperkirakan berjumlah 100 miliar neuron dan 5 triliun neuroglia. Para ilmuwan juga memperkirakan bahwa sel otak ini terdiri atas sekitar 50 juta jenis yang berbeda. Maka kemampuan otak manusia itu sesuatu yang masih misteri. Yang mana Allah Subhanahu wa Ta’ala penciptanya. Mungkin manusia baru menggunakan maksimal 30% dari kemampuan akalnya. Artinya belum maksimal. Begitulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia.
    Jalur komunikasi antar sel otak dibangun dengan sedemikian rapi dan akurat. Neuron yang jumlahnya ratusan miliar ini saling berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya dengan menggunakan arus listrik yang kecepatannya mencapai 360 km/jam.
    Begitulah kecerdasan yang Allah berikan kepada manusia. Sehingga kadang-kadang kita berpikir sesuatu yang kita tidak duga. Terkadang kita ingat sesuatu, kemudian tidak ingat,
    51 min
  • Keagungan Rububiyahnya Allah – Tafsir Surah Al-Baqarah 285
    Keagungan Rububiyahnya Allah – Tafsir Surah Al-Baqarah 285 adalah kajian tafsir Al-Quran yang disampaikan oleh Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc. Kajian ini beliau sampaikan di Masjid Al-Barkah, komplek studio Radio Rodja dan Rodja TV pada Selasa, 10 Dzulqa’dah 1444 H / 30 Mei 2023 M.

    Download kajian sebelumnya: Semua Milik Allah – Tafsir Surah Al-Baqarah 284
    Keagungan Rububiyahnya Allah – Tafsir Surah Al-Baqarah 285
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ
    “Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, dan kaum mukminin pun beriman. Semua mereka beriman kepada Allah, dan malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya dan rasul-rasulNya. (Mereka mengatakan): ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun dari rasul-rasulNya’, dan mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan kami taat’. (Mereka berdoa): ‘Kami memohon ampunan kepada Engkau wahai Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (QS. Al-Baqarah[2]: 285)
    Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam termasuk yang dibebani untuk beriman kepada apa yang diturunkan kepada beliau. “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beriman”, berarti itu menunjukkan bahwa beliau pun diwajibkan dan dibebani dengan keimanan. Maka semua perintah dan larangan yang dibebankan kepada umatnya pun juga dibebankan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kecuali yang ditunjukkan oleh dalil yang menunjukkan bahwa itu khusus untuk Rasulullah, tidak untuk umatnya.
    Al-Qur’an firman Allah bukan makhluk
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya.” yang diturunkan itu berupa wahyu. Sedangkan berbicara itu sifat yang ada pada yang berbicara dan tidak mungkin berdiri sendiri. Sehingga ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu firman Allah, dan firman Allah bukan makhluk.
    Penetapan akan ketinggian Allah di atas makhluk-makhluknya
    Ayat ini menetapkan akan ketinggian Allah di atas makhluk-makhlukNya. Karena disitu dikatakan: “Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya.” Karena yang namanya turun tidak mungkin dari bawah. Namanya turun tentu dari atas ke bawah.
    Penetapan risalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
    Ayat ini menetapkan beliau adalah seorang Rasul. Karena Allah mengatakan: “Rasul beriman.” Ini menetapkan bahwa beliau adalah seorang Rasul, bukan hanya sebatas Nabi. Dan Ahlus Sunnah meyakini bahwa Rasul kedudukannya lebih tinggi daripada Nabi.
    Keagungan Rububiyahnya Allah
    Allah mengatakan di situ: “Rasul beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya” Dan kekhususan nisbat ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yaitu “dari Rabbnya (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)”.
    Berarti ini menunjukkan bahwa Allah pasti membela Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Karena Allah adalah Rabbnya Rasul, pemilik dan pengaturnya Rasul yang memberikan kepadanya risalah, tidak mungkin Allah akan membiarkannya. Allah pasti akan tolong.
    Demikian pula semua yang kedudukannya seperti rasul (menyampaikan risalah dakwah tauhid), tidak mungkin Allah menyia-nyiakan mereka. Allah pasti akan membela mereka.
    Bagaimana pembahasan lengkapnya?
    42 min
  • Makar Orang Kafir Sia-Sia
    Makar Orang Kafir Sia-Sia adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Al-Furqan Min Qashashil Qur’an. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ya’la Kurnaedi, Lc. pada Senin, 9 Dzulqa’dah 1444 H / 29 Mei 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Kisah Ashabul Fiil

    Kajian Tentang Makar Orang Kafir Sia-Sia
    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ
    “Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?” (QS. Al-Fil[105]: 2)
    Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
    أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ …
    “Bukankah Allah yang memperkenankan doa orang-orang yang dalam kesusahan apabila dia berdoa kepadaNya? Dan Allah menghilangkan kesusahannya, dan Allah menjadikan kalian pemimpin-pemimpin di atas muka bumi. Apakah ada sesembahan bersama Allah? Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran.” (QS. An-Naml[27]: 62)
    Orang-orang kafir Quraisy sangat meyakini bahwa kalau mereka berdoa kepada Allah maka dikabulkan. Ketika Ka’bah ingin dihancurkan, mereka berdoa di depan Ka’bah agar Allah menolong mereka, dan doa mereka dikabulkan. Maka janganlah kita menjadi orang yang paling lemah, yaitu orang yang tidak sanggup berdoa.
    Dengan doa, ketika Allah kabulkan maka yang lemah jadi kuat, sedangkan yang kelihatannya kuat menjadi hancur. Yang miskin menjadi kaya dengan doa. Ini pelajaran besar yang bisa kita ambil dari kisah Ashabul Fiil.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Makar Orang Kafir Sia-Sia
    Mari turut membagikan link download kajian “Makar Orang Kafir Sia-Sia” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
    50 min
  • Bersandar Kepada Takdir Tapi Malas Berikhtiar
    Bersandar Kepada Takdir Tapi Malas Berikhtiar ini adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Talbis Iblis. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary pada Senin, 9 Dzulqa’dah 1444 H / 29 Mei 2023 M.

    Kajian Tentang Bersandar Kepada Takdir Tapi Malas Berikhtiar
    Kita masih berbicara tentang sikap kaum sufi yang meninggalkan ikhtiar dan mengklaim diri mereka adalah orang-orang yang bertawakal. Di antara alasan melakukan apa yang menjadi anggapan benar tersebut adalah rasa malas untuk berusaha. Akhirnya mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban sampai menelantarkan keluarga dan bersandar kepada belas kasih orang lain. Ini tentunya adalah sikap yang salah. Dan sebagian dari mereka justru jatuh dalam perkara yang hina seperti mengemis.
    Sebagaimana dinukil sebelumnya, ada seorang yang ingin menaikkan haji dengan bermodal tawakal. Maka Imam Ahmad mengatakan kepadanya: “Silakan kamu berangkat sendirian, jangan bersama rombongan.” Orang itu menjawab: “Tidak mau, aku ikut rombongan.” Maka Imam Ahmad berkata: “Berarti kamu bertawakal kepada bekal orang lain.”
    Jadi orang-orang seperti ini sebenarnya memperturutkan rasa malasnya. Lalu dia berharap belas kasih orang lain. Sebenarnya dia bertawakal juga dengan tawakal yang lebih buruk, yaitu tawakal kepada manusia. Sementara dia mengklaim tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
    Bersandar Kepada Takdir?
    Di antara alasan lainnya, orang-orang seperti ini tidak mau berikhtiar adalah bersandar kepada takdir. Mereka berpegang dengan alasan yang sangat buruk, yaitu bersandar kepada takdir. Mereka mengatakan “Rezeki pasti akan datang menghampiri kami.” Ini adalah argumentasi yang sangat buruk. Karena jika ada orang yang meninggalkan ketaatan dan berkata: “Aku taat tetap tidak mengubah takdir yang telah ditentukan Allah. Jika aku ditakdirkan sebagai ahli surga aku pasti masuk surga. Namun jika aku ditakdirkan ahli neraka, aku pasti akan masuk neraka.”
    Artinya dia beranggapan bahwa taat atau tidak taat tidak mengubah takdirnya. Tentunya ini adalah alasan yang hanya diucapkan oleh orang bodoh. Makanya ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa setiap orang telah ditentukan tempatnya di surga atau neraka. Sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, kalau begitu untuk apa kami beramal?” Maka kata Nabi:
    اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ
    “Beramallah kamu (jadilah kamu orang yang taat) karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah ditakdirkan atasnya.” (HR. Bukhari)
    Maka usaha untuk meraih itu adalah kamu beramal menjadi orang yang taat. Jangan katakan “taat atau tidak taat sudah mengikuti ketentuan takdir.” Itu kan seolah-olah kita sudah tahu apa yang menjadi takdir kita. Nah, orang yang malas bekerja seolah-olah dia bisa pastikan bahwa itu akan menjadi rezekinya. Padahal dari mana dia tahu bahwa itu akan menjadi rezekinya dan pasti datang menghampirinya?
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download mp3 kajian dan simak pembahasan yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Bersa...
    39 min
  • Doa Saat Mendadak Bangun Tidur Ketakutan
    Doa Saat Mendadak Bangun Tidur Ketakutan merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 9 Dzulqa’dah 1444 H / 29 Mei 2023 M.
    Lihat sebelumnya: Doa Bangun Tidur

    Kajian Tentang Doa Saat Mendadak Bangun Tidur Ketakutan
    Terkadang dalam hidup, tidak selalu tidurnya kita dalam keadaan nyaman dan pulas. Kadang-kadang kita mengalami kondisi sulit untuk tidur atau tidur yang tidak nyenyak. Mungkin sedang banyak pikiran yang lainnya. Ada juga yang sulit tidur karena mimpi buruk atau merasa ketindihan (seolah ada sesuatu yang mencekik). Namun, ketika kita menghadapi kondisi seperti itu, apa yang harus kita baca?
    Apakah kondisi tersebut berbahaya bagi kehidupan dan nasib kita? Jawabannya tergantung apakah kita mengamalkan tuntunan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam situasi tersebut atau tidak? Jika kita mengamalkan doa-doa yang diajarkan, maka kondisi tadi tidak akan membahayakan. Namun, jika kita tidak mengamalkannya atau justru melakukan hal-hal yang tidak dianjurkan atau bahkan dilarang dalam agama kita seperti menggunakan jimat, maka kondisinya bisa semakin parah, Na’udzubillahi min dzalik.
    Doa yang dibaca saat mendadak bangun tidur ketakutan:
    أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ
    Dalil Landasan
    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
    «إِذَا فَزِعَ أَحَدُكُمْ فِي النَّوْمِ فَلْيَقُلْ: “أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ غَضَبِهِ وَعِقَابِهِ وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَنْ يَحْضُرُونِ” فَإِنَّهَا لَنْ تَضُرَّهُ».
    Apabila salah seorang dari kalian mendadak terbangun dari tidur ketakutan, hendaklah ia membaca: “A’ûdzu bikalimâtillâhit tâmmâti min ghadhabihi wa ‘iqâbihi, wa syarri ‘ibâdihi, wa min hamazâtisy syayâthîni wa an yahdhurûn” (Aku memohon perlindungan dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, dari kemarahan-Nya dan hukuman-Nya, juga dari kejahatan para makhluk-Nya. Serta aku memohon perlindungan dengannya dari gangguan para setan dan agar mereka tidak mendatangiku)”. Niscaya pemicu ketakutan itu tidak akan mencelakainya”. HR. Tirmidziy (no. 3528) dan beliau mengatakan hadits ini hasan gharib. Adapun al-Albaniy menyatakan hadits ini hasan.
    Renungan Kandungan
    Doa ini mengajarkan pada kita untuk selalu membangun ketergantungan kepada Allah dalam segala kondisi. Apapun kondisi yang kita alami, biasakanlah untuk senantiasa mengingat Allah, kembali dan bergantung kepadaNya. Sebab hanya Dialah yang menguasai dan mengendalikan secara mutlak segala sesuatu di alam semesta ini. Bukan para makhlukNya yang lemah. Entah itu makhluk yang masih hidup, atau makhluk hidup yang sudah mati, apalagi benda mati. Allah ta’ala mengingatkan,
    “أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ”
    “Siapakah yang mampu mengabulkan permohonan orang-orang yang sedang kepepet dalam kesulitan? Siapakah yang bisa melepaskan seseorang dari kesulitannya? Siapakah yang menjadikan kalian khalifah di muka bumi ini? (Jika bukan Allah). Pantaskah ada sesembahan selain Allah? Sungguh kalian sangat jarang berfikir”. (QS. An-Naml[27]: 62)
    Bagaimana kandungan dan makna dari doa ini? Mari download mp3 kajiannya. Download juga mp3 bacaan dzikir pagi dan
    48 min
  • Bacaan Ketika Akan Tidur
    Bacaan Ketika Akan Tidur adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Riyadhus Shalihin Min Kalam Sayyid Al-Mursalin. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Mubarak Bamualim, Lc., M.H.I. pada Selasa, 3 Dzulqa’dah 1444 H / 23 Mei 2023 M.
    Kajian sebelumnya: Adab Duduk di Majelis Ilmu
    Bacaan Ketika Akan Tidur
    Imam An-Nawawi Rahimahullahu Ta’ala membawakan dalil dari Al-Qur’an, di antaranya adalah:
    إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
    “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memiliki akal pikiran yang sehat.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 190)
    Siapa mereka yang disebut dengan Ulul Albab (orang-orang yang mempunyai akal pikiran yang sehat)? Yaitu:
    الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ…
    “(yaitu) orang-orang yang senantiasa mengingat Allah baik ketika dalam keadaan berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka senantiasa memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi…” (QS. Ali ‘Imran[3]: 191)
    Kaitannya ayat ini dengan bab tentang bacaan yang seyogyanya diucapkan oleh seorang muslim ketika akan tidur adalah firman Allah: “Yaitu orang-orang yang senantiasa berdzikir baik dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring.”
    Adapun di antara dalil dari hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, Imam An-Nawawi membawakan hadits:
    Dari Hudzaifah dan Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhum, mereka berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila beliau hendak tidur dan telah berada di atas tempat tidurnya, maka beliau mengucapkan:
    بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَأموتُ
    ‘Hanya dengan namaMu Ya Allah aku hidup dan aku mati.'” (HR. Bukhari)
    Ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita tentang dzikir ketika akan tidur. Yang mana seorang mukmin senantiasa bersandar kepada Allah. Karena Allah yang menguasai ubun-ubunnya dan ubun-ubun semua makhluk. Allah yang menghidupkan dan mematikan. Maka seorang hamba hanya memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di antara adab yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika beliau akan tidur adalah membaca doa ini.
    Lihat juga: Doa sebelum tidur
    Bagaimana penjelasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian kajian yang penuh manfaat ini.
    Download MP3 Kajian

    Radio Rodja 756AM · Bacaan Ketika Akan Tidur
    Mari turut membagikan link download kajian tentang “Bacaan Ketika Akan Tidur” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala membalas kebaikan Anda. Jazakumullahu Khairan.
    1 hr 21 min

About Radio Rodja 756 AM

From the publisher's feed

Menebar Cahaya Sunnah